Anda di halaman 1dari 20

Toggle navigation

Indoprogress.Com

Ekonomi, Filsafat, PendapatFilsafat dan Ekonomi: Ikhtiar Membongkar Nalar dan Upaya Mencari Titik
Temu[1]

Filsafat dan Ekonomi: Ikhtiar Membongkar Nalar dan Upaya Mencari Titik Temu[1]

15 February 2013

Justinus Prastowo

Harian IndoPROGRESS

Print Friendly, PDF & Email

KRISIS finansial yang mendera Amerika Serikat dan berbagai belahan negara, baru saja mereda. Sebuah
gejala yang sering disebut sebagai ekonomi gelembung (buble economy) itu telah meletus dan
menyisakan kegamangan. Dalam suasana gamang dan penuh ketidakpastian inilah John Cassidy, editor
ekonomi majalah The New Yorker, bertandang ke Universitas Chicago di Amerika Serikat untuk merekam
situasi di sana.[2] Sebagaimana diketahui, Universitas Chicago adalah pilar penting penggagas apa yang
disebut aliran monetarisme yang dikenal luas menggantikan Keynesianisme di akhir 1970-an. Adalah
Eugene Fama, seorang profesor di universitas itu yang kemudian lirih berujar:

Saya tidak paham apa yang disebut gelembung kredit. Kata ini sedemikian populer tapi karenanya juga
tak berarti apa-apa. Orang-orang sudah telanjur menimpakan kesalahan pada pasar finansial. Saya dapat
menceritakan dengan mudah bahwa pasar finansial hanyalah korban dari resesi, dan bukan
penyebabnya.[3]

Pendapat Profesor Fama ini tentu saja terdengar mencengangkan, namun tidak untuk sebuah keyakinan
yang telah mendarah daging mengenai keutamaan pasar (market virtue). Sebagaimana ditegaskan
koleganya Profesor John Cochrane, pemicu krisis adalah pidato Presiden Obama di televisi yang
menyatakan bahwa pasar finansial mendekati kebangkrutan. Kekeliruan pemerintah ini mengikuti
kesalahan sebelumnya ketika dua perusahaan milik pemerintah AS diumumkan bangkrut, Freddie Mac
dan Fannie Mae. Di sisi lain, seorang tokoh penting Universitas Chicago yang juga ahli ekonomi dan ahli
hukum, Richard Posner, mengumumkan dirinya kini menjadi seorang Keynesian dan mengakui bahwa
Depresi Besar sudah di depan mata. Bahkan Gary Becker, ekonom Universitas Chicago lainnya yang
sangat berpengaruh dan pada tahun 1970 mengatakan bahwa ekonomi menyediakan semesta
pendekatan untuk memahami semua perilaku manusia,[4] kini berujar
Ada banyak hal terjadi. Bahwa banyak orang melakukan kesalahan, saya melakukan kesalahan, dan
Chicago pun melakukannya. Anda membeli surat-surat derivatif dan tidak sepenuhnya memahami
bagaimana risiko agregat dari transaksi derivatif ini bekerja. Risiko sistemik: saya tidak yakin kita
mengerti termasuk di Chicago dan tempat lainnya. Barangkali beberapa akan menyalahkan deregulasi
sektor finansial yang terlampau jauh, dan kita sebaiknya menetapkan prasyarat-prasyarat yang lebih
banyak. Meskipun demikian, kesalahan tidak hanya dilakukan Chicago, tapi juga oleh Larry Summers –
ekonom Harvard yang menjadi penasehat Presiden Obama.[5]

Tegangan semacam itu muncul akibat dominannya ortodoksi ekonomi neoklasik yang dicirikan dengan
situasi ilmu ekonomi kontemporer yang mengemuka dalam metode analisis ekonomi maupun dalam
model pengajaran ilmu ekonomi di perguruan tinggi. Ada lima karakter umum yang melandasi situasi
tersebut:[6]

Pergeseran dari deskripsi spesifik atas situasi partikular ke penjelasan yang memiliki dakuan universal. Ini
berkaitan dengan status ilmu ekonomi sebagai sains.

Pergeseran dari pendekatan holistik ke individualisme metodologis. Analisis dalam ilmu ekonomi
kontemporer berangkat dari analisis tentang individu untuk lalu secara agregatif menganalisis
masyarakat.

Pergeseran dari teori nilai substantif (labour theory of value) ke teori nilai subjektif (utility theory of
value). Sementara ekonomi Klasik melihat asal-muasal nilai pada ranah produksi (berdasarkan ongkos
produksi), ekonomi Neoklasik mencarinya pada ranah sirkulasi (berdasarkan evaluasi konsumen).

Pergeseran dari analisis normatif ke analisis non-normatif. Ilmu ekonomi kontemporer memisahkan
pertanyaan soal ekonomi dari pertanyaan soal moralitas.

Idealisasi ilmu ekonomi sebagai sains matematiko-deduktif. Ilmu ekonomi kontemporer menggunakan
model matematis yang berangkat dari sederet aksioma yang kebenarannya sudah diandaikan. Semua
kesimpulan dalam ilmu ekonomi merupakan hasil deduksi dari aksioma-aksioma tersebut.

Kelima karakter ini menjadi ciri penentu dari ilmu ekonomi yang disebut ortodoks, mainstream atau
Neoklasik. Kelimanya adalah topik utama yang menjadi perdebatan besar pada awal abad ke-20.
Perdebatan itu adalah Methodenstreit (Debat tentang Metode) yang mengemuka antara Mazhab
Historis (dengan tokoh kuncinya Gustav von Schmoller) dan tiga pendiri ekonomi Neoklasik (Carl Menger,
Léon Walras, William Stanley Jevons). Perbedaan posisi tersebut dapat diringkaskan sebagai berikut:
sementara Schmoller melihat ekonomi sebagai kajian historis-normatif yang berangkat dari asumsi
holisme metodologis, para pendiri Neoklasik melihat ekonomi sebagai kajian matematis-netral yang
berangkat dari asumsi individualisme metodologis.
Dalam setting tegangan ideologis dan intelektual sebagaimana tergambar di atas, tulisan sederhana ini
akan memotret dinamika internal kapitalisme dari pemikiran Karl Polanyi [1886-1964] – sejarawan dan
antropolog ekonomi – dan mengiris sebagian kecil sejarah kapitalisme untuk memahami akar persoalan
dan mencari jalan keluar dari jebakan sejarah yang berulang.

Mencari Akar Tegangan

Demikianlah, perdebatan mencari penyebab terjadinya krisis telah digelar dan akhirnya berujung pada
dua kutub. Pertama, mereka yang meyakini bahwa sistem ekonomi yang dominan pada saat ini terbukti
tidak mampu bekerja dengan baik. Apa yang disebut keyakinan pasar dan upaya melepaskan dari kontrol
diyakini telah kebablasan dan mendorong perekonomian masuk ke jurang kehancuran.[7] Pihak lain
berpendapat bahwa apa yang terjadi saat ini dikarenakan pemerintah yang masih campur tangan dan
terlibat aktif dalam kinerja pasar. Jika ditilik dari sisi sejarah, apa yang kini menjadi tema perdebatan
sebenarnya tidak pernah beranjak dari persoalan klasik yang muncul menyertai Depresi Besar di tahun
1920-1930 an yang mempertanyakan efektivitas kinerja sistem pasar dan merosotnya Mazhab
Keyensianisme (welfare-state school) pada akhir 1970-an.

Namun secara umum diakui, membiaknya pasar finansial yang berujung pada kredit beracun yang
menyebabkan keruntuhan tata keuangan global, tak lepas dari gejala semakin tercerabutnya kinerja
sektor finansial dari kinerja sektor riil. Ekonomi yang dulu secara harfiah dipahami sebagai urusan
pemenuhan kebutuhan rumah tangga (oikonomia), kini menjadi ranah yang lebih dekat dengan
persoalan harga, indikator, dan kalkulasi matematis sebagaimana dituturkan Giovanni Arrighi, ‘para
ekonom tidak berurusan dengan ekonomi; mereka berurusan dengan model-model matematis yang
tidak ada kaitannya dengan ekonomi.’[8] Data juga mendukung penilaian bahwa sektor finansial melaju
kencang meninggalkan kinerja sektor riil.[9] Keutamaan pasar (market virtue) telah telanjur menjadi
jargon dalam ranah ekonomi politik, khususnya pasca runtuhnya negara komunis Uni Soviet dan negara-
negara di belahan Eropa Tengah dan Eropa Timur. Ujung perdebatan diakhiri dengan dua pilihan: sistem
pasar atau perencanaan terpusat, bahkan segera diikuti dengan labelisasi ‘pro’ dan ‘anti’ pasar, tanpa
upaya reflektif memikirkan kemungkinan di luar itu. Sistem ekonomi pasar swatata (self-regulating
market) hadir bersamaan dengan dominasi diskursus ekonomi politik kontemporer yang dikuasai oleh
kapitalisme sebagai sebuah kekuatan hegemonik.[10] Dengan demikian mengurai nalar kapitalisme dan
membongkar cara berpikir yang melambarinya merupakan proyek yang niscaya.

Membongkar Nalar Pasar: Modus Ketercerabutan


Polanyi tidak mengabaikan bahwa dalam semua tipe masyarakat faktor ekonomi senantiasa berperan.
Sepanjang sejarah peradaban manusia – entah komunitas relijius atau non relijius, materialis ataupun
spiritualis – eksistensi mereka selalu dipengaruhi dan dibatasi kondisi-kondisi material. Namun secara
alamiah tidak pernah ada peradaban yang secara prinsipiil dikendalikan pasar meski institusi ini sudah
ada sejak zaman Batu. Baru pada peradaban abad ke-19 sajalah ekonomi ditempatkan sebagai sesuatu
yang berbeda dibandingkan era sebelumnya. Sistem pasar melahirkan sistem pasar swatata. Ekonomi
pasar adalah sistem ekonomi yang dikendalikan, diatur, dan diarahkan oleh pasar semata. Tata produksi
dan distribusi dipercayakan pada mekanisme swatata. Yang diasumsikan oleh sistem ini adalah pasokan
barang (dan jasa) dan permintaan akan barang (dan jasa) berada pada tingkat harga yang setara.
Produksi dan distribusi dikendalikan oleh harga.

Polanyi merumuskan beberapa pokok asumsi dari sistem pasar swatata. Pertama, mengenai eksistensi
pasar itu sendiri. Dengan mengatakan bahwa sistem ekonomi dikendalikan dan diatur oleh pasar saja,
berarti terjadi identifikasi antara ekonomi dan pasar. Ekonomi tidak lain adalah sistem pasar itu sendiri.
Implikasinya adalah modus-modus ekonomi di luar pasar dianggap tidak ada. Kedua, ekonomi kini
dipahami melalui pola menjelaskan dirinya sendiri (self explanatory). Ini berarti eksistensi pasar berikut
keseluruhan asumsi dan mekanisme yang menyertai adalah alamiah kecuali muncul campur tangan yang
menjadikannya tidak dapat bekerja. Ciri menjelaskan diri sendiri (self explanatory) pada gilirannya juga
menunjukkan corak sistem ekonomi pasar yang mengacu pada dirinya sendiri (self-referential). Ekonomi
tidak lagi mengacu pada sesuatu di luar dirinya (non-ekonomi), melainkan mengacu pada hukum
permintaan dan pasokan yang merupakan bagian dari ekonomi. Untuk memperjelas watak acu-diri ini
dapat disajikan ilustrasi. Misalnya terhadap kasus konversi penggunaan minyak tanah ke pemakaian
elpiji. Alasan yang selalu dikemukakan adalah permintaan akan minyak tanah yang tetap tinggi
sedangkan pasokan akan semakin turun, sehingga akibatnya pemerintah tidak sanggup lagi menanggung
biaya subsidi. Tapi ketika kebijakan ini diambil, tidak pernah diperhitungkan atau dikaji sejauh mana pola
hidup dan keyakinan masyarakat yang telanjur bergantung pada pemakaian minyak tanah (tata kultural,
disebut institusi B), bagaimana pemerintah memainkan peran membuat regulasi dan pengawasan (tata
pemerintahan, disebut institusi C), dan sejauh mana secara sosiologis kebijakan ini akan berdampak
pada penurunan daya beli atau bahkan gejolak sosial (tata masyarakat, disebut institusi D).

Ketiga, implikasi dari identifikasi ekonomi dan pasar adalah kolonisasi terhadap ranah di luar pasar dan
modus-modus ekonomi non-pasar. Sistem ekonomi swatata melakukannya melalui mekanisme harga.
Harga dibentuk oleh kesetimbangan yang terjadi karena pertemuan permintaan dan pasokan di pasar. Di
sini lalu terjadi penghematan konseptual yang menyimpan daya rusak tinggi. Pertemuan antara
permintaan dan pasokan mengandaikan informasi sempurna yang dimiliki baik oleh penjual maupun
pembeli. Yang menjadi persoalan selanjutnya adalah, apakah asimetri informasi ini justru tidak
dikondisikan untuk menciptakan manipulasi harga? Pasokan dapat membanjiri pasar bukan karena
tingginya permintaan. Permintaan dapat diciptakan dan bukan pertama-tama karena terkait dengan
kebutuhan. Harga tidak lagi secara acu-diri dapat dipahami dalam konteks informasi sempurna dan
merupakan titik equilibrium alamiah yang mempertemukan pasokan dan permintaan. Pada titik ini
terletak kekhawatiran akan ketercerabutan antara kinerja ekonomi pasar dengan kebutuhan nyata di
masyarakat. Ini dapat dipandang sebagai persoalan ketercerabutan sosiologis/ontologis (sociological
/ontological disembedding).

Agar sistem ekonomi pasar swatata dapat bekerja, seluruh barang dan jasa harus dijual di pasar. Ini
berarti seluruh hasil produksi dimaksudkan untuk dijual di pasar dan seluruh pendapatan diturunkan dari
penjualan. Dengan kata lain terdapat pasar-pasar untuk seluruh elemen industri, bukan hanya barang
dan jasa melainkan juga bagi tenaga kerja, tanah, dan uang. Singkatnya, semua harus dijadikan
komoditas. Faktanya tidak semua yang ada di dunia ini adalah komoditas. Tapi demi kepentingan tata
kerja pasar swatata, apa yang selama ini tidak pernah dianggap komoditas dan sejatinya memang bukan
komoditas, harus dijadikan komoditas.

Faktor pendorong orang melakukan tindakan ekonomi pun didasarkan pada sesuatu yang baru. Hanya
ada dua faktor pendorong bagi kinerja ekonomi yaitu ketakutan akan kelaparan dan hasrat memperoleh
keuntungan. Mengapa takut akan kelaparan? Karena ketika semua barang dan jasa sudah menjadi
komoditas di pasar, daya belilah yang kemudian menjadi penentu apakah manusia dapat memenuhi
kebutuhannya. Ketika mekanisme harga menjadi penentu bagi tenaga kerja, manusia harus masuk ke
pasar untuk menjadi tenaga kerja untuk mendapatkan upah atas kerjanya, maka daya belinya ditentukan
oleh adanya upah. Laku tidaknya tenaga kerja di pasar tentu sangat bergantung pada prospek laba. Maka
urusan eksistensial manusia yaitu perihal hidup-mati kini hanya menjadi urusan dua motif, yaitu motif
takut akan kelaparan dan motif laba. Pada titik ini muncul persoalan antropologis yang besar. Hal yang
bersifat mendasar dalam sistem pasar swatata adalah secara ontologis manusia digerakkan oleh dua
hasrat itu. Ini tentu tidak berarti bahwa hanya ada dua motif itu dalam hidup konkret. Persoalannya
adalah tata laksana ekonomi pasar swatata mensyaratkan manusia hanya mengikuti dua motif itu.
Artinya motif lain yang beraneka ragam dalam dunia kehidupan ini harus disisihkan dan dianggap tidak
relevan. Pada titik ini terjadi ketercerabutan antropologis (antrophological disembbeding).

Makna Formal dan Substantif Ekonomi

Polanyi membedakan dua pengertian terkait istilah ‘ekonomi,’ yaitu formal dan substantif. Arti formal
dari ekonomi diturunkan dari watak logis hubungan sarana-tujuan, sebagaimana tampak dalam istilah
‘ekonomis’ (economic) dan ‘ekonomisasi’ (economizing). Pengertian ini mengacu pada situasi khas soal
pilihan, yaitu memilih pemakaian sarana yang berbeda dikarenakan keterbatasan sarana yang tersedia.
Pengertian formalistik berakar pada logika atau kalkulasi matematis. Implikasi dari pengertian formal ini
adalah serangkaian aturan yang menunjuk pada pilihan antara berbagai alternatif pemakaian dari
sarana-sarana yang terbatas. Di sisi lain pengertian substantif dari ekonomi diturunkan dari
ketergantungan hidup manusia pada alam dan sesamanya. Ini menunjuk pada hubungan timbal balik
dengan alam dan lingkungan sosial yang menyediakannya dengan sarana-sarana untuk memenuhi
kebutuhan material.[11]

Kritik Polanyi terhadap aliran formalis dan upayanya membela makna substantif ekonomi difokuskan
pada dua persoalan penting yaitu pilihan (choice) dan kelangkaan (scarcity). Kaum formalis berpendapat
bahwa pilihan disebabkan ketidakcukupan sarana (insufficiency of means), sebuah situasi yang disebut
kelangkaan sarana (scarcity situation). Polanyi lantas menyodorkan pandangan bahwa pilihan dapat
tetap ada, baik ada atau tidak ada sarana yang memadai. Pilihan moral misalnya, diindikasikan dengan
niat dari pelaku untuk melakukan apa yang benar. Relasi tujuan-sarana bahkan menjadi urusan
nonekonomi. Polanyi mengungkapkannya dalam perbandingan yang menarik:

Seorang jenderal yang menugaskan pasukannya untuk berperang, pecatur yang sedang berhitung
mengorbankan bidaknya, pengacara yang menyampaikan bukti-bukti untuk membela kliennya, seorang
seniman yang mengerahkan efek pada karyanya, orang beriman yang menandai buku doa dan amalnya
untuk mencapai keselamatan, ataupun….seorang istri yang hemat sedang merencanakan daftar belanja
mingguan. Entah bidak, bukti, efek artistik, tindakan saleh, atau bayaran mingguan, sarana-sarana yang
tak mencukupi dapat terjadi pada yang lain: juga para pemilih memiliki lebih dari satu tujuan yang
diperlukan untuk mendapatkan sarana guna mencapai tujuan yang paling dikehendaki.

Persimpangan baik-buruk misalnya, adalah subjek dari etika. Ketika Badu dihadapkan pada pilihan
mencuri atau tidak mencuri, ia berada dalam sebuah persimpangan dan harus menentukan pilihan yang
tidak mengandaikan kelangkaan. Badu harus memilih salah satu sebagai keputusan moral. Contoh lain
misalnya persimpangan di sebuah jalan di mana seorang pejalan kaki menemui dua percabangan jalan
yang memandu ke arah yang berbeda. Dengan mengasumsikan tidak ada faktor lain untuk mengambil
keputusan, si pejalan kaki tetap harus memilih satu dari kedua jalan itu, atau bahkan memilih keduanya.
Pada kedua contoh ini – baik persoalan moral maupun persimpangan jalan – tidak mempostulatkan
ketidakcukupan sarana. Bahkan sangat boleh jadi semakin banyak sarana justru akan mempersulit
penentuan pilihan. Jadi ada fakta lain bahwa melimpahnya sarana – dan bukan langkanya sarana – yang
justru menjadikan tindakan memilih harus dilakukan.[12] Dengan demikian pilihan tidak niscaya
menyatakan ketidakcukupan sarana, dan sebaliknya ketidakcukupan sarana tidak niscaya menunjukkan
adanya pilihan atau kelangkaan.

Sebagai contoh mungkin dapat diberikan gambaran perburuan ikan paus di Lamalera Nusa Tenggara
Timur. Para pemburu ikan paus tidak pernah memiliki target berapa ikan paus harus ditangkap. Mereka
melakukan kerjasama antara nelayan, pemilik perahu, pemilik alat, dan petugas penanågkap ikan. Meski
jumlah ikan paus yang tersedia cukup banyak, berdasarkan kesekapatan dan intuisi mereka tahu kapan
harus berhenti berburu. Ini disebabkan kuatnya tradisi dan kebiasaan yang dihayati penduduk setempat.
Pilihan secara sengaja dibatasi oleh tradisi dan bukan karena kelangkaan sarana. Contoh sebaliknya
adalah praktik pertanian Subak di Bali. Mengikuti tekstur lahan pertanian yang berbentuk terasiring, air
dialirkan dari bagian atas (hulu) ke bagian bawah (hilir). Jika sumber air yang terbatas ini dimiliki oleh
individu yang sekedar memenuhi kebutuhan sendiri, tentu saja areal persawahan yang lebih rendah akan
kekurangan air. Nyatanya keterbatasan sarana (air) tidak mengakibatkan para petani harus melakukan
pilihan rasional. Sebagaimana diketahui pada lahan pertanian tersebut juga menyebar hama. Dan
penyebaran hama pada umumnya diawali dari bawah ke atas. Jika petani di bagian bawah membiarkan
penjalaran hama dan hanya membersihkan hama di lahannya, maka areal persawahan di atasnya akan
dirugikan. Dalam praktiknya mekanisme koordinasi tetap dapat dijalankan melalui kesepakatan adat.
Sarana yang terbatas (air) tidak mengharuskan adanya pilihan-pilihan yang diambil sebagai maksimisasi
kepentingan individual tetapi pilihan yang diambil secara kolektif dana konteks berbagi.

Cukup pasti bahwa kelangkaan bukan merupakan kondisi atau situasi nyata, tetapi dipostulatkan. Jelas
bahwa air dan udara tidak terbatas, juga sumber daya alam tidak terbatas dan tidak langka. Tetapi sistem
pasar swatata menghendaki adanya kelangkaan maka terhadap sumber daya alam yang tidak langka itu
dijadikan komoditas dan kepadanya dilabelkan harga (price making). Pemberian harga berarti kini
pemerolehan sumber daya alam bergantung pada daya beli (purchasing power), meskipun pada
kenyataannya sumber daya alam ini melimpah. Yang dapat memiliki barang itu hanya mereka yang
memiliki daya beli. Pada level ini terjadi ketercerabutan epistemik (epistemic disembedding) yaitu makna
ekonomi tercerabut dari asal usulnya. Dari pemenuhan kebutuhan manusia dan terkait dengan mata
pencaharian menjadi kalkulasi rasional terkait hubungan sarana-tujuan.

Makna substantif ekonomi ini menjadi kerangka metodologis yang penting. Pengertian ekonomi sebagai
pemenuhan kebutuhan individu dalam relasinya dengan sesama dan lingkungannya membuka ruang
untuk memikirkan alternatif bagi konsep ekonomi pasar. Artinya ketika ekonomi adalah penyediaan dan
pemenuhan kebutuhan material dan mengandaikan hubungan dengan lingkungan atau alam, tak
terelakkan lagi bahwa proses ini adalah proses kelembagaan (kelembagaan). Polanyi berkontribusi
mengintegrasikan antropologi ekonomi ke dalam analisis perbandingan sistem ekonomi secara
komprehensif. Ekonomi formal yang bersekutu dengan paham liberal mengenai titik tolak ontologi yang
bercorak individualistik mendapatkan tantangan karena ketika ekonomi adalah bagian dari relasi dengan
struktur sosial yang lebih luas, ekonomi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ekonomi hanyalah salah
satu cara mengada manusia dan bukan sesuatu yang secara soliter dan berdiri sendiri dengan klaim
universalnya. Justru makna substantif berhasil mengintegrasikan fakta bahwa sistem ekonomi pra-
kapitalis berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis. Dan di bawah pengertian ekonomi sebagai
pemenuhan kebutuhan hidup manusia dalam relasi sosialnya dengan sesama dan alam, semua sistem
ekonomi yang merentang dalam sejarah dapat dipahami.
Ekonomi sebagai proses terlembaga

Makna substantif ekonomi memberikan dasar pemahaman bagi ekonomi sebagai proses terlembaga
(economy as instituted process). Proses terlembaga ini menghubungkan realitas masyarakat dan
reproduksinya di satu sisi, dan organisasi ekonomi dan letaknya dalam masyarakat di sisi lain.[13] Aspek
kelembagaan yang ditekankan dalam ekonomi substantif menunjukkan aspek budaya manusia – bahwa
proses sosial adalah jaringan hubungan antara manusia sebagai entitas biologis dan struktur unik dari
simbol-simbol dan teknik-teknik yang menghasilkan pemeliharaan eksistensinya.[14] Jejaring hubungan
manusia yang memungkinkan ekonomi dipraktikkan dalam komunitas adalah adanya bentuk-bentuk
integrasi dalam masyarakat yang menopang berbagai corak atau model tindakan ekonomi dalam
masyarakat. Bentuk-bentuk integrasi itu adalah rumah tangga, ketimbalbalikan, redistribusi, dan
pertukaran pasar. Sejarah menunjukkan bahwa keempat bentuk integrasi sudah selalu ada dan pasar
tidak pernah mendominasi ketiga bentuk lainnya. Ekonomi adalah proses yang dilakukan individu tetapi
tidak individualis-egois, melainkan terkait dengan konteks yang lebih luas (sosial). Dengan demikian
model pemahaman ekonomi sebagai kalkulasi rasional yang mengacu pada mekanisme harga ditolak.
Sebaliknya, modus mengada (mode of being) manusia dalam sistem ekonomi terlembaga adalah
manusia yang kooperatif dan koordinatif dengan kapasitas melakukan kerjasama, bukan manusia yang
menjadi serigala bagi sesamanya.

Komodifikasi, Gerakan Ganda, dan Ketertanaman

Sistem pasar swatata memiliki prinsip memproduksi barang dan jasa untuk dijual di pasar dan
menjadikan harga pasar sebagai satu-satunya patokan. Konsekuensi dari prinsip ini adalah semua
elemen industri dijadikan komoditas, termasuk terhadap tenaga kerja, tanah, dan uang. Meskipun tidak
memenuhi kriteria sebagai komoditas, tetapi ketiganya harus dianggap seolah-olah komoditas
(komoditas semu). Prinsip ini berimplikasi pada kehancuran masyarakat karena untuk dapat mewujudkan
komodifikasi terhadap tenaga kerja, tanah, dan uang, harus dilakukan pemisahan manusia dari alam dan
masyarakatnya. Terjadi pemisahan antara ranah ekonomi dan ranah politik. Implikasinya ekonomi pasar
(market economy) mengandaikan masyarakat pasar (market society).

Jika komodifikasi adalah dehumanisasi, maka masyarakat sebagai keseluruhan melakukan tindak
perlindungan-diri untuk menghindarkan diri dari kehancuran masyarakat. Di sinilah terletak konsep
penting untuk memahami sistem pasar swatata, yaitu gerakan ganda.
Sejarah sosial abad ke-19 adalah hasil dari gerakan ganda (double movement): perluasan dari organisasi
pasar terkait dengan komoditas asli yang disertai dengan penghambatan terhadap komoditas semu.
Ketika di satu sisi pasar meluas ke seluruh permukaan bumi dan jumlah barang yang diperdagangkan
melonjak hingga tak terkira, di sisi lain jejaring aturan dan kebijakan terintegrasi dalam lembaga yang
berkuasa yang dirancang untuk mengecek tindakan pasar terkait dengan tenaga kerja, tanah, dan uang.
Saat organisasi pasar komoditas dunia, pasar modal dunia, dan pasar uang dunia di bawah perlindungan
standar emas memberi momentum yang tidak bersamaan kepada mekanisme pasar, pergerakan
mengakar muncul untuk melawan dampak merusak yang melekat pada sistem pasar swatata – ini adalah
wajah utuh dari sejarah abad ke-19.

Upaya perlindungan-diri ini berarti perusakan sistem pasar swatata itu sendiri, karena menggeroti
asumsi-asumsi yang diandaikan dalam membangun sistem ini, yakni komodifikasi terhadap manusia,
alam, dan uang. Perlindungan-diri oleh masyarakat bekerja dalam dua tataran. Pertama, tataran kelas
yaitu kelas sosial, khususnya kelas pekerja yang berperan penting dalam melawan komodifikasi terhadap
tenaga kerja. Kedua, tataran kelembagaan, yang bersumber pada pemisahan antara wilayah politik
dengan wilayah ekonomi.

Ide Polanyi tentang gerakan ganda menyediakan kerangka konseptual yang penting untuk memahami
masyarakat kapitalis dan watak kontradiktifnya. Pertama, masyarakat kapitalistik – yang dicirikan oleh
pemisahan kelembagaan antara ranah ekonomi dan ranah politik – mengidap penyakit tidak stabil yang
inheren karena pemisahan ini menciptakan tegangan antar kelas sosial dalam masyarakat. Kedua,
gerakan ganda menunjukkan perspektif ‘societal’ (kemasyarakatan), karena menggambarkan dinamika
antarkelas yang terjadi dalam masyarakat.[15] ‘Kelas’ menurut Polanyi tidak dapat dipahami sekedar
sebagai kelas yang didasarkan pada kepentingan ekonomi. Konsepsi kelas seperti itu tidak memadai dan
bersifat reduktif. Polanyi menolak esensialisme kelas dan mendorong gerakan ganda sebagai gerakan
tandingan melawan hegemoni kelas berkuasa (kapitalis) melalui perluasan spektum sosial dan politik
yang mencerminkan kepentingan bersama. Bagi Polanyi kerjasama antarkelas merupakan keniscayaan,
karena menurutnya:

Konsepsi kepentingan kelas yang terlampau sempit berakibat berbeloknya visi sejarah sosial dan politik,
dan tidak ada definisi kepentingan moneter yang murni dapat meninggalkan ruang bagi kebutuhan-
kebutuhan penting akan proteksi sosial; contohnya adalah jatuhnya kepentingan komunitas kepada
beberapa orang sebagai ciri pemerintahan modern. Nyatanya bukanlah kepentingan ekonomi melainkan
kepentingan sosial dari berbagai matra yang berbeda yang terancam oleh pasar, dan orang dengan
tingkat ekonomi yang berbeda secara tak sadar bersama-sama bergerak menuju marabahaya.[16]

Gerakan ganda ditilik dari perspektif lingkup masyarakat (societal) adalah pertarungan antara kekuatan
yang mencerminkan ekonomi ‘tercerabut’ (disembedded) dan mereka yang mewakili masyarakat yang
mencoba ‘menanam kembali’ (reembedding) ekonomi dalam masyarakat. Di sini Polanyi dipengaruhi
Ferdinand Tönnies mengenai pembedaan antara gemeinschaft (paguyuban) dan gesellschaft
(patembayan), di mana Gemeinschaft identik dengan Wesenwille (terkait dengan insting, perasaan, dan
kebiasaan) sedangkan Gesellschaft mendasarkan pada keputusan rasional (Kurtwille). Kari Polanyi-Levitt
– putri tunggal Karl Polanyi – menegaskan bahwa perspektif yang luas terhadap konsep gerakan ganda
menunjukkan bahwa konsep ini bukanlah mekanisme swa-koreksi untuk memoderasi sistem pasar
swatata atau fundamentalisme pasar. Gerakan ganda adalah upaya menunjukkan kontradiksi eksistensial
antara kebutuhan sistem pasar swatata akan ekspansi tak-terbatas dengan kebutuhan umat manusia
untuk hidup dalam relasi saling-dukung dan saling-menguntungkan dalam masyarakat.[17] Dalam
kaitannya dengan komoditas semu, gerakan ganda bertujuan menggantikan komodifikasi atas manusia,
alam, dan uang (modal) yang dilakukan sistem pasar swatata dengan komoditas sesungguhnya (genuine
commodities). Artinya pasar swatata (self-regulating market) digantikan oleh pasar yang terkendali
(regulated market).[18]

Bob Jessop lalu melakukan konseptualisasi embeddedness ke dalam beberapa level.[19]

(i) Ketertanaman sosial (Social embeddedness), sebagaimana dipahami dalam sosiologi ekonomi. Yang
dimaksud dengan ketertanaman sosial di sini adalah relasi ekonomi antarpribadi yang terpilin dalam
jejaring seperti identitas, kepentingan, kemampuan, dan praktik. Ini misalnya tampak dalam persoalan
kepercayaan (trust) dalam praktik ketimbalbalikan.

(ii) Ketertanaman kelembagaan (Institutional embeddedness), yaitu ketertanaman kelembagaan yang


terjadi dalam relasi antarorganisasi. Di sini hal yang sentral adalah negosiasi yang berfungsi sebagai
penengah berbagai kepentingan yang saling bertentangan dan bagaimana upaya mengatasinya melalui
kerjasama. Runutan Polanyi mengenai haute finance sebagai organisasi nonformal yang justru memiliki
peran besar untuk urusan negosiasi dan menyelesaikan berbagai konflik bisnis di abad ke-19 adalah
contoh nyata.

(iii) Ketertanaman lingkup masyarakat (Societal embeddedness), yaitu corak ketertanaman institusi-
institusi yang terbedakan secara fungsional dalam tata hubungan yang kompleks dalam sebuah
masyarakat yang decentered. Dan level ketiga inilah yang sangat relevan dengan pemikiran Polanyi
tentang embeddedness. Polanyi memberikan kerangka analisis untuk memahami ketercerabutan
ekonomi dari sistem sosial yang lebih luas sekaligus membuka ruang bagi upaya untuk tak membiarkan
masyarakat jatuh dalam keadaan anarkhi akibat sistem ekonomi pasar. Polanyi menyajikan mekanisme
untuk mengikatkan kembali sistem ekonomi dalam masyarakat. Ketergantungan sosial dan material tidak
dapat diserahkan pada mekanisme pasar begitu saja.
Dari pendapat Jessop dapat disimpulkan bahwa dengan membedakan level embeddedness kita dapat
memahami bahwa ekonomi tercerabut dalam pengertian ketiga yakni ekonomi pasar sebagai institusi
terpisah atau meloloskan diri dari institusi lainnya dalam masyarakat. Skema pemikiran Polanyi menurut
Jessop dapat ditunjukkan sebagai berikut.

skema1-filsafat-dan-ekonomi

Proyek Menanam Kembali Ekonomi

Gagasan Polanyi tentang ketertanaman (embeddedness) memberikan kerangka teoretik untuk


memahami letak ekonomi dalam masyarakat. Bahwa prinsip dasar sistem pasar swatata tidak bersifat
alamiah dan merupakan sebuah konstruksi yang melawan fakta sejarah. Sejarah abad ke-19 yang
diwarnai upaya meloloskan ekonomi dari relasinya dengan institusi-institusi sosial yang lebih luas pada
akhirnya runtuh. Motif pengejaran keuntungan dan corak ekspansif sistem pasar swatata pada saat yang
bersamaan mendapatkan reaksi spontan dari masyarakat secara keseluruhan. Ini adalah bentuk proteksi
terhadap ancaman kerusakan masyarakat akibat sistem pasar swatata yang melakukan komodifikasi
terhadap manusia, alam, dan uang. Proses ini menunjukkan kodrat dari ketertanaman ekonomi pada
struktur sosial yang lebih luas.

Ketertanaman adalah hakekat ontologi yang memperkuat pengertian bahwa institusi mendahului
individu, atau dalam pengertian Aristotelian, ‘yang keseluruhan’ lebih utama dibanding ‘yang sebagian,’
dan dalam bahasa Polanyi sendiri itu adalah kesatuan dan stabilitas (unity and stability). Dan untuk
memahami kompleksitas dalam masyarakat dibutuhkan epistemologi yang mampu menjelaskan
hubungan-hubungan yang ada secara rasional, yaitu konsep ekonomi sebagai proses terlembaga
(economy as instituted process). Jika konsep embeddedness berhasil menunjukkan bahwa cara berpikir
mengacu diri (self-referential) itu keliru, maka konsep ekonomi sebagai proses terlembaga menyediakan
landasan pemahaman terhadap bagaimana ekonomi harus mengacu pada sesuatu di luar dirinya (other-
referential), dalam hal ini institusi-institusi nonekonomi.
Ekonomi sebagai proses terlembaga menunjukkan pendekatan lingkup masyarakat (societal) Polanyi
terhadap ilmu-ilmu sosial, di mana ia tidak berangkat dari individu melainkan dari masyarakat.
Struktur/lembaga adalah titik masuk ontologis yang dibingkai oleh kodrat ontologis bahwa ekonomi
tertanam (embedded) dalam relasi sosial. Metodologi pemahaman terhadap ekonomi sebagai proses
terlembaga yang ditopang oleh bentuk-bentuk integrasi tertentu dapat menjelaskan mengapa satu
sistem ekonomi tertanam sedangkan sistem ekonomi lainnya cenderung tercerabut dari struktur sosial
yang lebih luas. Dalam konteks ini, sistem pasar swatata dapat dikatakan disembedding dalam arti
mengabaikan eksistensi bentuk integrasi lain yang mendasarkan keberadaannya pada nilai nonekonomi.
Dengan demikian, upaya mengkonstruksi kaitan embeddedness dengan ‘ekonomi sebagai proses
kelembagaan’, pelembagaan kembali proses ekonomi berarti pula proses menanamkan kembali
(reembeding) ekonomi ke dalam institusi-institusi sosial. Dan kita kembali pada apa yang telah dijelaskan
sebelumnya, bahwa pertanyaan pokok dari seluruh pencarian adalah letak ekonomi dalam masyarakat.
Jika hakekat ekonomi itu tertanam dalam relasi kelembagaan dengan lembaga-lembaga non-ekonomi,
maka persoalannya adalah pada modus ketertanaman (mode of embeddedness). Ringkasnya, modus
ketertanaman seperti apa yang memungkinkan kinerja ekonomi kembali terkait dengan makna
substantif, yaitu subsistensi atau mata pencaharian? Proses itu dapat digambarkan sebagai berikut.[20]

skema2-filsafat-dan-ekonomi

Keterangan:

Hubungan organik ( organic link )

Kontrol sosial ( social control )

Mediasi kesadaran ( conscious mediation )

Penutup: Masa Depan (Ekonomi) Kapitalisme

Paparan ringkas ini berusaha memaparkan pemikiran Karl Polanyi yang sangat kaya dan kompleks. Ia
dapat memandu kita menyusuri pengapnya situasi dan sempitnya ruang berpikir alternatif. Melalui
proyek membongkar nalar kapitalisme, Polanyi menunjukkan pada generasi sekarang bahwa kapitalisme
kontemporer sangat mungkin dikritik. Masa depan kapitalisme tak lain adalah proyek menanam kembali
ekonomi, yaitu mengembalikan kinerja ekonomi substantif. Disembedded economy, yakni makna formal
ekonomi di mana kinerja ekonomi sama sekali tidak terkait atau lolos dari relasinya dengan struktur
sosial lain dalam masyarakat harus ditolak.

Polanyi menyediakan piranti analisis yang tajam dengan membongkar klaim alamiah sistem ekonomi
pasar swatata sekaligus memberikan senjata untuk memulihkan kehidupan sosial dan kemanusiaan
melalui dekomodifikasi. Implikasinya, kehadiran institusi non-pasar adalah sebuah keniscayaan. Karena
statusnya niscaya, perdebatan kemudian bukan pada apakah institusi non-pasar harus ada atau tidak,
melainkan kapan, apa, dan bagaimana institusi ini hadir bersamaan dengan sistem pasar. Ini tidak berarti
memberikan prioritas terhadap sistem pasar tetapi dalam keserentakan pula sistem pasar mengandaikan
hadirnya sistem lain di luarnya. Secara konkret Polanyi mengharuskan diperhitungkannya lembaga
seperti keluarga, komunitas, lembaga agama (gereja dalam kasus Polanyi), serikat dagang, serikat
pekerja, asosiasi profesi, hingga negara. Secara integratif, Polanyi menunjukkan bahwa ketimbalbalikan
dan redistribusi adalah dua model integrasi yang ampuh menopang kehidupan dan penghidupan umat
manusia. Karenanya, gerakan Occupy Wall Street, Forum Sosial Dunia, gerakan kredit mikro di dunia
ketiga, kesadaran menuntut keadilan pajak, regionalisme, dan sebagainya harus dipandang sebagai
bentuk aktualisasi manusia yang ingin menyelamatkan kemanusiaan yang dihancurkan nalar kapitalisme
rakus. Dan melalui Polanyi kita paham bahwa berguru pada masa lalu bukanlah ajakan ke primitivisme,
melainkan kejernihan bahwa dengan membentang sungai waktu hingga ke masa silam, kita akan
menemukan cara hidup dan cara berpikir yang jika kita rentang ke masa kini akan menunjukkan benang
merah yang merupakan arus sejarah yang bersabda tentang arti sebuah pencarian akan kebenaran. Atau
jika meminjam strategi Bapak ekonomi modern – Adam Smith, bahwa “untuk tujuan apa The Theory of
Moral Sentiments ditulis? Atas segala jerih payah dan hiruk pikuk dunia, apa akhir dari keserakahan dan
ambisi, pengejaran kekayaan, kekuasaan, dan kejayaan? The Wealth of Nations menyediakan jawaban:
seluruh pencarian kumuh atas kesejahteraan dan kejayaan memiliki puncak pembenarannya dalam
kesejahteraan umat manusia.[21]

Smith mencoba menyuntikkan ‘yang seharusnya’ dan ‘yang mungkin’ ke dalam ‘apa yang ada’. Melalui
cara ini tampaknya Smith ditempatkan sebagaimana mestinya dan keseluruhan kompeksitas yang ada
tidak dikaburkan begitu saja demi sebuah klaim yang kadang dirumuskan untuk diwujudkan
kebenarannya ketimbang diandaikan secara inheren menjadi prinsip yang memandu keseluruhan
perjalanan sejarah individu, termasuk pengasalan secara serampangan bahwa Smith adalah pembela
utama kapitalisme dan sistem ekonomi pasar tapi mengabaikan muatan pesan moralnya yang adiluhung.

Justinus Prastowo, Alumnus Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta.


Daftar Pustaka

Kepustakaan Primer:

Polanyi, Karl, John Lewis, and Donald K. Kitchin,eds., Christianity and the Social Revolution , New
York,1936

Polanyi, Karl, The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Times, Beacon
Press,2001 (asli,1944)

Polanyi,Karl, Conrad Arensberg, and Harry Pearson, eds., Trade and Market in The Early Empires,
Glencoe,IL:Free Press,1957

Polanyi, Karl (G.Dalton, ed.), Primitive Archaic and Modern Economies: Essay of Karl Polanyi.
Anchor.1968

Polanyi, Karl, Dahomey and the Slave Trade, The University of Washington Press, USA, 1966

Polanyi, Karl, Livehood of Man, (ed. Harry W. Pearson ), Academic Press, New York, 1977

Kepustakaan Sekunder:

Adaman, Fikret and Yahya M. Madra, ‘Theorizing the ‘Third Sphere’: a Critique of the Persistence of the
‘Economistic Fallacy’’, Journal of Economic Issue, Vol. 36 No.4 , 2002

Arrighi, Giovanni, ‘The Social and Political Economy of Global Turbulence’, New Left Review, No.20, Mar-
Apr 2003, hlm. 4-71.
Baum, Gregory, Karl Polanyi on Ethics and Economics, McGill-Queen’s University Press, Montreal, 1996.

Berthoud, Gerald, “Toward a Comparative Approach: The Contribution of Karl Polanyi”, dalam The Life
and Work of Karl Polanyi, (ed. Kari-Polanyi Levitt), Black Rose Books:1990.

Block, Fred, ‘Karl Polanyi and the writing of The Great Transformation’, Theory and Society, Vol. 32,2003,
hlm. 275-306.

Bugra,Asye and Kaan Agartan, Reading Karl Polanyi for the Twenty-First Century Market Economy as a
Political Project, Palgrave Macmillan, NY, 2007.

Cassidy, John, “Letter From Chicago: After The Blowup”, The New Yorker, Januari 11,2010, hlm.1-6.

Dale, Gareth, Karl Polanyi The Limit of Market, Polity Press, London, 2010a.

Duménil, Gérard and Lévy, Dominique, Capital Resurgence; Roots of the Neoliberal Revolution, Harvard,
2004

Fleischacker, Samuel F. On Adam Smith’s Wealth of Nations: A Philosophical Companion, Princeton:


Princeton University Press,2004

Gemici, Kurtuluş, ‘Karl Polanyi and The Antinomies of Embeddedness’, Socio-Economic Review, 2008,
hlm. 5-33.

Granovetter, Mark dan Richard Swedberg (eds.), The Sociology of Economic Life, Westview Press, 2001.

Göçmen, Dogan, The Adam Smith Problem, tauris Academic Studies, London, 2007
Heilbroner, Robert. The Worldly Philosophers: The Lives, Times and Ideas of the Great Economics
Thinkers. London: Penguin Books, [1952] 2000.

Herry-Priyono,B. “Homo Oeconomicus: Dari Pengandaian ke Kenyataan” Dalam I. Wibowo & B. Herry-
Priyono (eds), Sesudah Filsafat: Esai-esai untuk Franz Magnis-Suseno. Yogyakarta: Kanisius.2006, hlm. 87-
132

Herry-Priyono,B. “Adam Smith dan Munculnya Ekonomi: Dari Filsafat Moral ke Ilmu Sosial. Dalam Jurnal
Diskursus Vol. 6, No.1, April 2007, hlm. 1-40

Hann, Chris and Keith Hart ( eds. ), Market and Society: the Great Transformation Today, Cambridge
University Press, UK, 2009.

Harvey, M. , Ramlogan, Ronnie., and Randles, Sally, Karl Polanyi New Perspective on the place of the
economy in society, Manchester University Press, 2007.

Jessop, Bob, ‘Regulationist and Autopoieticist Reflections on Polanyi’s Account of Market Economies and
the Market Societies’, Departement of Sociology, Lancaster University, diunduh dari
http://www.comp.lancs.ac.uk/sociology/papers/Jessop-Regulationist-and-Autopoieticist-Reflections.pdf

Levitt, Kari Polanyi dan Kenneth McRobbie, eds., Karl Polanyi in Vienna: the Contemporary Significance of
The Great Transformation, Black Rose Books, 2004.

Levitt, Kari Polanyi, ed., The Life and Work of Karl Polanyi, Black Rose Books, 1990.

Muller, Jerry Z., The Mind and The Market Capitalism in Western Thought, Anchor Books, 2002
Priyono, B.Herry, Karl Polanyi Menanam Ekonomi, Orasi Ilmiah disampaikan pada Colloquium Studi Etika
tentang Ekonomi dan Relasi Sosial: Pemikiran Karl Polanyi, disampaikan pada 28 Oktober 2010 di Unika
Atma Jaya, Jakarta

Priyono, B.Herry, Amartya Sen Membongkar Rasionalitas, Makalah Wxtension Course Filsafat, Sekolah
Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, 6 Desember 2010, tidak dipublikasikan.

Sen, Amartya, “Rational Fools: A Critique of the Behavoral Foundations of Economic Theory”, Philosophy
and Public Affairs, Vol. 6, No.4, 1977, hlm. 317-344.

Stanfield, James Ronald, The Economic Thought of Karl Polanyi, MacMillan, 1986.

[1] Pernah dimuat di buku ‘Merajut Kembali Nusantara” terbitan Kalimasadha Nusantara Institute.

[2] John Cassidy, “Letter From Chicago: After The Blowup”, The New Yorker, Januari 11,2010, hlm.1-6.

[3] Ibid., hlm. 3. Fama mengatakan:”I dont know what a credit bubble means. These word have become
very popular. I don’t think they have a meaning. People have jump on the bandwagon of blaming
financial markets. I can tell a story very easily in which the financial market were a casualty of the
reccession, not cause of it.”

[4] Gary Becker, The Economic Approach to Human Behavior, Chicago: The University of Chicago Press,
1976, hlm. 14.

[5] Ibid., hlm. 6.

[6] Martin Suryajaya, Kapitalisme dan Filsafatnya, 2012.


[7] Bandingkan Paul Krugman, The Return of Depressions Economics and the crisis of 2008, W.W. Norton
& Company, 2009, John Bellamy Foster dan Fred Magdoff, The Great Financial Crisis: cause and
consequence, Monthly Review Press,2009.

[8] Giovanni Arrighi, dalam Greta Krippner, ‘Polanyi Symposium: a Conversation on embeddedness’,
Socio-Economic Review, 2004, hlm. 125.

[9] Gérard Duménil dan Dominique Lévy, Capital Resurgence; Roots of the Neoliberal Revolution,
Harvard, 2004 dan Robert Brenner, The Economics of Global Turbulence, Verso,2006.

[10] Polanyi sendiri menghindari pemakaian istilah kapitalisme dalam karyanya. Pemakaian istilah
“masyarakat pasar” (market society) dan bukan “kapitalisme” (capitalism) dalam pemikiran Polanyi
adalah upayanya untuk menjaga jarak dengan Marxisme dan mazhab yang menjadi turunannya yaitu
“ragam kapitalisme” (varieties of capitalism). Bbandingkan Fred Block, ‘Karl Polanyi and the writing of
The Great Transformation’, Theory and Society, No.32, 2003, hlm. 297

[11] Polanyi, Karl (G.Dalton, ed.), Primitive Archaic and Modern Economies: Essay of Karl Polanyi. (PAME),
Anchor.1968., hlm. 139.

[12] Polanyi, Karl, Livehood of Man (LM), (ed. Harry W. Pearson ), Academic Press, New York, 1977,
hlm.25-26.

[13] Stanfield, The Economic Thought of Karl Polanyi, MacMillan, 1986,hlm. 56.

[14] PAME, hlm. 116.

[15] Polanyi, Karl, The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Times (GT),
Beacon Press,2001 (asli,1944), hlm. 139.
[16] GT., hlm. 162.

[17] Kari Polanyi-Levitt ‘Tracing Polanyi’s Institutional Political Economy’, dalam Karl Polanyi in Vienna,
hlm. 385.

[18] Fikret Adaman and Yahya M. Madra, “Theorizing the “Third Sphere”: A Critique of the Persistence of
the “Economistic Fallacy”, Journal of Economic Issues, Vol. 36, No. 4 (Dec., 2002), hlm. 1049-1050.

[19] Bob Jessop, Regulationist and Autopoieticist Reflections on Polanyi’s Account of Market Economies
and the Market Societies, Departement of Sociology, Lancaster University, diunduh dari
http://www.comp.lancs.ac.uk/sociology/papers/Jessop-Regulationist-and-Autopoieticist-Reflections.pdf.

[20] Fikret Adaman, Pat Devine, dan Begum Ozkaynak, ‘Reinstituting the economic process:
(re)embedding the economy in society and nature’, dalam Harvey, M. , Ramlogan, Ronnie., and Randles,
Sally, Karl Polanyi New Perspective on the place of the economy in society, Manchester University Press,
2007, hlm. 98.

[21] Heilbroner, hlm.73

Share the knowledge!

Shares

comments powered by Disqus

Tentang IndoPROGRESS
IndoPROGRESS adalah media pemikiran progresif yang menawarkan ruang untuk bertukar gagasan dan
pengalaman politik praktis...» Selengkapnya

Kirim Donasi

Dukung kami menyajikan konten situs yang lebih baik lagi bagi publik. Salurkan donasi dan support
sebagai bukti dukungan...» Selengkapnya

Kirim Tulisan

Jadilah bagian dari perubahan dengan ikut berdiskusi dan berdebat di IndoPROGRESS. Kirim tulisan,
podcast dan video karya...» Selengkapnya

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami

Ketik alamat email...

Subscribe!

Redaksi - Tentang - Donasi - Kontak - Kontribusi - IP Press - Laporan Keuangan

Konten dikelola oleh IndoPROGRESS @ 2006 - 2018