Anda di halaman 1dari 2

Menganalisis diksi Pembohong dan Pembangkang seorang Pimpinan

Lembaga Terhormat dari perspektif Bahasa Arab.


Seorang pimpinan pada satu lembaga mengatakan anak buahnya PEMBOHONG dan
PEMBANGKANG saat di minta pandangannya mengenai anak buah tersebut. Diksi Pembohong

dalam Bahasa Arab di ucapkan dengan َ‫كَاذَب‬ .Ini artinya anda mengatakan orang yang

dibicarakan itu selalu berbohong dan kata-katanya selalu tidak bisa di percaya, dan oleh sebab itu
ia harus di jauhi dan tak perlu didengar kata-katanya. Berbeda dengan anda mengatakan ia

berbohong, dalam Bahasa Arab di sebut dengan َ‫كَذب‬. Diksi Ini berarti anda mengatakan orang
yang anda bicarakan itu pernah berbohong, sifatnya temporal, pernah atau bisa saja ia berbohong
dalam hal tertentu, dan tidak pada hal lainnya. Begitu juga kata Pembangkang. Dalam bahasa

Arab di sebut dengan istilah َ َ‫ جَاحد‬atau َ‫عَاند‬. Ini sama artinya orang yang anda bicarakan itu
selalu membangkang dan tak pernah taat dalam hal apa pun yang anda perintahkan. Berbeda jika

menggunakan kata ‫ جحد‬atau َ‫ َعـــند‬. Ini berarti anda mengatakan bahwa orang yang anda

maksudkan itu pernah membangkang dan tidak taat pada apa yang anda perintahkan padanya pada

hal tertentu tapi buka pada hal lainnya. Kecuali jika kata َ‫ كذب‬dan َ‫ جحد‬atau َ ‫ عند‬anda tambah

dengan kata ,‫ دائما‬Itu sama saja anda mengataknya embohong dan pembangkang dalam diksi

‫كاذب‬. atau kata َ‫كذب‬ anda tasydidkan huruf dzalnya, menjadi َ‫َكذَب‬itu artinya anda mengatakan

dulu ia selalu berbohong dan kata-katanya tidak pernah jujur.

Maka menggunakan kata pembohong ataupun pembangkan serta diksi sejenisnya dalam
Bahasa Arab di sebut dengan ismun Fa’il, yang artinya orang tersebut memiliki profesi atau
krakteristik apa yang anda bicarakan pada orang tersebut, secara jelas anda mengatakan bahwa
orang itu profesinya berbohong dan profesinya pembangkang atau apapun diksi-diksi sejenis

seperti َ‫ ( كاتب‬sekretaris)َ‫ ( ََحاسب‬kurator) dll, yang merupakan profesinya atau krakternya.


Jadi jika orang yang anda bicarakan itu merasa tersinggung dan ia mengadukan anda
kepihak penegak hukum, anda harus menghadapinya dengan bukti-bukti, kapan saja ia bohong,
sama siapa dan dimana tempatnya, atau disksi-diksi semacam itu, dan tentunya itu bukan satu kali
saja, tetapi berkali-kali ia melakukan apa yang anda bicarakan, karena anda menggunkan diksi
ismu fa’il dalam Bahasa Arab, akan tetapi memaafkan lebih baik dan lebih elegan. Oleh sebab itu
berhati-hatilah menggunkan diksi yang mengandung unsur orang lain merasa tertuduh karena itu

akan memunculkan permusuhan, ada satu kaedah yang harus kita pegang ََ ‫( نحنَدعاةَالَقضاة‬

kita adalah penyeru atau dai bukan pemberi vonis atau penghukum ), jika memang anda bukan
pemberi hukuman atau hakim yang ditugasi mengadili orang lain. Dalam sejarah Islam kita pernah

dengar dan baca ada orang yang di juluki َ‫ الكذاب‬ism mubalagoh dari dari ism fa’il ‫ كاذب‬yaitu

musailamah al kadzzab, sang nabi palsu.

Analisis kata dalam Bahasa Arab ini tidak berlaku dalam menafsirkan al-Quran sebab kata
kerja dalam al-Quran bersifat terus menerus berlaku bukan hanya untuk waktu dulu saja tapi juga
saat ini dan masa akan datang. Oleh sebab itu tidak boleh menafsirkan ayat-ayat al-Quran hanya
dengan pendekatan Bahasa Arab saja, sekalipun begitu dalam menafsirkan al-Quran harus faham
Bahasa Arab dengan segala aspeknya.Wallohu a’lam bi al showab.