Anda di halaman 1dari 7

Pendekar Cisadane

Hari itu, ketika zaman sedang dilikupi rasa ketakutan. Tangerang adalah kota yang
dialiri sungai yang membentang dan melingkari kota tersebut. Aliran sungai itu berasal
dari pegunungan di daerah Bogor yang jernih. Sungai yang perkasa dan tidak ada yang
berani melewati dan beraktivitas di sana. Hal itu disebabkan karena sungai tersebut
terdapat banyak sekali buaya, diantara buaya-buaya tersebut salah satunya merupakan
Ratu Siluman Buaya.
Ratu siluman buaya adalah jin yang menyerupai seekor buaya. Siluman ini sering
mengganggu warga sekitar, bahkan warga yang baru tinggal di daerah bantaran sungai
pun tak lepas dari gangguannya. Apalagi terhadap warga yang bersikap tidak sopan dan
tidak baik. Bukan hanya itu, perbuatan menyimpang yang dilakukan manusia terhadap
kelestarian sungai Cisadane membuat penghuni sungai itu yakni Ratu siluman buaya
merasa terganggu dan jengah atas tindakan dan perilaku tersebut. Setiap warga yang
melewati sungai itu harus selalu berhati-hati. Begitupula penduduk yang sering mandi,
mencuci, dan memancing di tepi sungai itu.

Pada suatu hari, kejadian yang mengerikan itu terjadi. Seorang lelaki tampan yang
bernama Sarif tiba-tiba hilang saat memancing di tepi sungai itu. Sarif adalah anak dari
Pak Sanusi yang merupakan seorang Kepala Dusun. Anehnya, walaupun warga sudah
berhari-hari mencarinya dengan menyusuri tepi sungai, tapi tidak juga menemukannya.
Lelaki itu hilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Dia sirna bagaikan ditelan bumi.
Warga pun berhenti melakukan pencarian, karena menganggap bahwa Sarif telah mati
dimakan Ratu siluman buaya.

Setelah kejadian itu, warga pun terus diteror dan dibayangi rasa ketakutan yang
terus berkelanjutan. Warga menjadi resah dan tertekan.
“Apa yang telah kami lakukan, sehingga musibah ini harus menimpa dan menghantui
kami. Gerak kami seolah-olah selalu terseret rasa takut untuk menjadi korban selanjutnya,
kami sangat takut.” kecemasan warga yang takut akan teror Ratu siluman buaya.
Begitulah selama lima tahun, desa sekeliling bantaran sungai itu selalu dibayangi
ketakutan dan kegelisahan akan Ratu siluman buaya. Selama itu pula kabar burung
tersebut sampai kepada seorang pemuda yang baik dan mempunyai kekuatan yang luar
biasa. Pemuda itu datang dengan karisma seorang ksatria. Ia memakai kain yang diikat di
kepala dengan warna ungu. Pemuda itu bernama Aby.
“Permisi Pak, benarkah di sungai ini terdapat banyak buaya?” tanya Aby kepada salah
seorang warga.
“Benar, di sungai Cisadane ini banyak sekali buaya, diantara buaya tersebut ada Ratu
siluman buaya. Ia selalu meneror warga dengan berbagai cara, memang Kisanat ada perlu
apa?” tegur warga kepada Aby.
“Oh, saya hanya ingin memastikan kabar yang saya dengar dari orang-orang tentang
kejadian yang sering meresahkan warga disini.” jawab Aby dengan sangat bijak.
“Sebenarnya Kisanat siapa dan dari mana, perkenalkan saya adalah kepala Dusun disini,
nama saya Sanusi.” ucap Kepala Dusun yang bingung dengan pemuda misterius itu.
“Saya dari Desa seberang yang berjarak sekitar lima Desa dari sini, nama saya Aby.”
jawab Aby dengan menorehkan senyuman.
“Lalu Kisanat akan berbuat apa? Apakah Kisanat bisa membantu? Kami semua berharap
agar Kisanat atau siapapun bisa membantu menyelesaikan masalah yang ada di Desa ini.
Sudah bertahun-tahun desa kami dilanda masalah yang tak kunjung henti. Banyak pula
warga yang hilang dan keberadaannya tidak diketahui, termasuk anak saya yang bernama
Sarif hilang ketika memancing disungai itu, tetapi sebelum Sarif menghilang ada salah
seorang warga yang melihat Sarif sedang bersama perempuan nan ayu dengan pakaian
yang lusuh.” ujar Pak Sanusi menceritakan kejadian yang menimpa desa tersebut dengan
kesedihan yang mendalam.
“Insya Allah Pak. Kita sama-sama berusaha dan berdoa kepada Tuhan YME agar apa
yang terjadi di Desa ini cepat terselesaikan dan warga di Desa ini bisa hidup dengan
tenang, tentram, dan damai kembali.” jawab Aby dengan kerendahan hati yang sangat
percaya diri.

Dengan semangat dan tekad yang kuat, setelah mendengar cerita Pak Sanusi tadi,
Aby langsung menuju ke tepian sungai, kemudian tanpa sengaja ia bertemu dengan
seorang perempuan yang cantik nan ayu. Perempuan itu sedang duduk di pinggiran sungai
dengan perasaan sedih yang terlihat dari raut wajahnya. Bahkan pakaian yang digunakan
oleh perempuan itu sangat lusuh hingga membuat Aby merasa iba kepadanya, padahal
perempuan itu adalah jelemaan Ratu siluman buaya yang mengubah dirinya menjadi
seorang perempuan karena telah mengetahui keberadaan Aby yang akan membantu
warga. Aby pun menghampiri perempuan itu dengan rasa penasaran dan keingintahuan
yang tinggi mengenai siapa perempuan itu. Aby merasakan aura yang sangat berbeda dari
perempuan itu. Aura yang terpancar dari perempuan itu membuat Aby berpikir bahwa
perempuan itu bukan manusia biasa melainkan jelmaan Ratu siluman buaya. Kemudian
Aby berpura-pura tidak mengetahui bahwa peremuan itu adalah Ratu siluman buaya dan
ia mengikuti permainan yang dilakukan siluman itu, karena Aby telah mengetahui tentang
keberadaan seorang perempuan lusuh itu dari Pak Sanusi.
”Maaf, dari kejauhan saya melihat kau sedang duduk sendiri dan termangu. Kalau saya
boleh tahu apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Aby kepada perempuan itu.
“Saya baru saja kehilangan orang yang sangat saya cintai yaitu anak saya.” jawab
perempuan itu.
“Memangnya apa yang terjadi dengan anakmu?” tanya Aby
“Anakku tenggelam ketika sedang bermain di tepian sungai ini.” jawab perempuan itu.
“Apa jasad anakmu sudah ditemukan?” tanya Aby
“Belum, apakah Anda mau menolongku untuk menemukan jasad anakku yang tenggelam
di dasar sungai ini?” ujar perempuan itu sambil mengeluarkan air mata.

Aby pun berhati-hati dalam menghadapi siluman itu, ia terus berpikir dan mencari
cara agar dapat mengetahui tempat persembunyiaannya. Sedangkan perempuan itu terus
membujuk rayu Aby agar dapat menyelam ke dasar sungai. Dengan rasa percaya akan
sesuatu yang melindunginya, Aby menyelam dan tiba-tiba ia tak sadarkan diri.

Di sebuah tempat di dasar sungai tampak seorang lelaki tergolek lemas. Ia adalah
Aby. Ia baru saja tersadar dari pingsannya.
“Aku ada di mana?” gumam Aby setengah sadar.

Dengan sekuat tenaga, Aby bangkit dari tidurnya kemudian betapa terkejutnya ia
ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam sebuah penjara. Penjara itu berada pada
sebuah gua. Yang lebih mengejutkannya lagi, ketika ia melihat sekelilingnya, dinding-
dinding gua itu dipenuhi oleh harta benda yang tak ternilai harganya. Ada permata, emas,
intan, maupun pakaian indah yang memancarkan sinar berkilauan karena terkena cahaya
obor yang menempel di dinding-dinding gua tersebut. Dalam penjara, Aby tidak sendiri.
Di penjara itu ada Sarif dan orang-orang yang menjadi korban siluman buaya itu.
“Kalian siapa?” tanya Aby.
“Maaf, seharusnya kami yang bertanya seperti itu. Kau siapa?” tegas para tawanan.
“Ya, nama saya Aby. Saya sengaja datang kesini untuk menolong warga desa ini yang
sedang dilanda masalah. Pasti kalian adalah korban dari siluman buaya yang hilang di
tepian sungai.” ujar Aby.
“Ya, benar. Kami adalah korban yang dijadikan tawanan Ratu siluman buaya yang
kemudian akan dijadikan tumbal olehnya. Pada malam Jum’at keliwon, satu per satu dari
kami dijadikan tumbal olehnya untuk menjadikan siluman itu tetap hidup abadi. Kami
sangat ingin bebas dari tempat ini. Bagaimanakah kami bisa keluar dari tempat ini?
Apakah kau bisa menolong kami?” ujar tawanan.
“Justru itu, saya kesini untuk menolong kalian, saya sengaja masuk dalam perangkap
siluman itu agar saya bisa mengetahui tempat persembunyiannya. Ini semua saya lakukan
karena mendengar hal ini dari warga dan salah satunya yaitu Pak Sanusi Kepala Dusun.”
ujar Aby dengan ketenangannya.
“Haa..Itu adalah ayahku! Bagaimana kabarnya?” tanya Sarif.
“Dia sehat dan baik-baik saja. Kalau tidak salah apakah kau yang bernama Sarif? Putra
dari Bapak Sanusi yang tak ditemukan selama beberapa tahun itu?” ujar Aby yang begitu
serius menatap paras Sarif.
“Bagaimana kau bisa sampai di sini? Apakah Anda ke sini karena sebelumnya ingin
menolong seorang perempuan dan akhirnya tidak sadar hingga sampai disini?”
“Ya, begitu sama seperti yang lainya.” ujar Aby. “Namun saya sengaja untuk datang.”

Suara hentakan langkah kaki terdengar dari jauh secara samar-samar ditelinga, begitu
terus hingga lambat laun suara itu semakin mendekat dan terlihat perempuan anggun
yang menggunakan kebaya indah. Ia tersenyum seketika Aby menatap wajahnya. Dengan
tersendu dan menahan malu perempuan itu berujar kepada Aby.
“Akang maukah engkau menemaniku berkeliling?”

Dengan lesung pipit dan raut wajah kemerah-merahan perempuan itu mengulurkan
tangannya, sebelum Aby sempat menjawab, Ratu Siluman Buaya langsung menarik
tangan Aby, akhirnya Aby ikut serta dengan Ratu Siluman Buaya.

Sambil berjalan mengelilingi gua, Aby berpikir bahwa kesempatan ini bisa
dimanfaatkannya untuk mendapatkan informasi lebih dalam mengenai kerajaan yang ada
di gua itu. Karena Ratu buaya memiliki ketertarikan terhadap sosok Aby , maka ia dengan
senang hati menjawab seluruh pertanyaan darinya. Dimulai dari menanyakan identitas
Ratu buaya, sampai kepada sejarah keberadaan gua itu.
“Begini Aby, sebenarnya ini bukan gua biasa, ini adalah kerajaan saya. Saya adalah ratu
di kerajaan ini, kerajaan ini merupakan sebuah alam ghaib, yang berhubungan langsung
dengan alam nyata. Tapi, hanya sayalah yang berkuasa untuk mengajak orang yang saya
kehendaki untuk masuk.” ujar Ratu buaya.

Sedikit demi sedikit Aby mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Sambil sibuk
mendengarkan jawaban dari Ratu buaya, Aby pun membayangkan rencananya untuk
membebaskan tawanan. Lalu, sontak Aby bertanya.
“ Kalau bisa masuk, lalu bagaimana caranya untuk keluar dari Singgasanamu yang Maha
Indah ini? Jujur, aku sangat kagum meihatnya.” ujar Aby.

Dengan wajah tersipu-sipu dan senyum manis yang merekah, Ratu buaya pun menjawab
pertanyaan Aby, yang sebenarnya itu hanyalah taktik Aby untuk menjalankan misi
utamanya, yaitu mebebaskan tawanan Ratu buaya di guanya.
“Sebenarnya mudah untuk keluar dari gua ini, yaitu hanya dengan menyusuri jalan sampai
ke ujung istanaku ini, dengan jalan sedikit menunduk, karena disana terdapat banyak Jin
yang sangat berkuasa dan sedikit jahil. Jika kau menghormatinya, maka jalanmu akan
mudah untuk keluar dari sini. Mudah bukan?” ujar Ratu buaya.

Alhasil ia menjadi tahu seluk-beluk tentang situasi gua Ratu buaya ini. Aby mulai
merencanakan dan mengatur waktu yang tepat untuk membebaskan semua tawanan yang
selama ini ditahan oleh Ratu siluman buaya.

Aby terus mengamati apa yang dilakukan Ratu buaya. Akhirnya ia menemukan
waktu yang tepat. Ia merencanakan untuk membebaskan para tawanan saat bulan
purnama datang. Waktu itu adalah saat siluman buaya melakukan ritualnya. Aby
mengetahui itu karena selama berada di gua ini, sosok perempuan itu selalu berada di
sampingnya, ia selalu menceritakan apa yang akan ia lakukan. Aby pun telah mengetahui
bahwa Ratu Siluman Buaya memiliki sebuah mustika sebagai kekuatan lain yang dapat
membuatnya hidup kekal abadi selain dengan tumbal-tumbal dari tawanannya itu, dan
Aby pun berencana untuk mengambilnya pula agar Ratu Siluman Buaya dan kerajaannya
itu musnah.

Waktu itu pun tiba, Ratu Siluman Buaya kembali melakukan ritualnya di bulan
purnama. Dengan hati-hati Aby mengambil mustika milik Ratu Siluman Buaya tersebut
dan bersama para tawanan lain menyusuri jalan hingga ke ujung gua sambil
menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada Jin penghuni gua tersebut seperti yang
dikatakan Ratu Buaya.

Aby dan para tawanan lain pun berhasil keluar dari gua Siluman itu. Masyarakat
desa di tepian sungai Cisadane pun menyambut gembira karena Aby dapat membebaskan
para warga yang menghilang di sungai itu.Setelah berhasil menyelelamatkan para warga,
Aby menitipkan pesan kepada warga yang tinggal di sekitar sungai Cisadane.

“Kalian jagalah selalu kelestarian sungai ini, karena sungai ini adalah sumber kehidupan
bagi semua makhluk !”

Setelah peristiwa itu keresahan warga dengan adanya Ratu Siluman Buaya pun
sirna, karena Aby telah berhasil mengambil sebuah mustika sakti yang selama ini
membuat Ratu Siluman Buaya beserta kerajaannya itu kekal. Tetapi saat ini, semua itu
telah lenyap. Ratu Siluman Buaya beserta kerajaannya telah mati, dan warga pun dapat
hidup tenang tanpa dibayang-bayangi oleh Siluman tersebut. Setelah itu, sebagai tanda
terimakasih dari para warga, Aby pun diberi julukan Pendekar Cisadane, karena ia adalah
lelaki pemberani yang mampu menghadapidan mengalahkan Ratu Siluman
Buaya. Suasana desa pun kembali tentram sedia kala tak ada lagi teror yang menghantui
warga yang tinggal di pesisir sungai Cisadane.

Seiring berlalunya waktu, Pendekar Cisadane hingga saat ini masih dikenang oleh
masyarakat. Julukan Pendekar Cisadane saat ini diberikan kepada Tim sepak bola
Kabupaten Tangerang yaitu Persita. Julukan itu diberikan karena masyarakat melihat
kehebatan para pemain andalan Tim Persita yaitu Ilham Jaya Kusuma yang dahulu
membela tim ini. Ia begitu perkasa ketika berada dilapangan, ia seperti menumpas dan
melewati musuh-musuhnya dengan kehebatannya dan mengeluarkan kekuatannya untuk
menjebol gawang lawan sama dengan Pendekar Cisadane yang begitu perkasa melawan
Ratu Siluman Buaya ketika itu. Sepeninggal Ilham Jaya Kusuma julukan itu tetap
tersemat pada tim ini hingga sekarang. Menurut cerita pula sisa-sisa dari benteng Ratu
Siluman Buaya masih terlihat, ketika sungai surut pada musim kemarau ada yang
mengatakan bahwa terdapat bentuk batu di tengah sepanjang sungai yang menyerupai
benteng.

“Selesai”