Anda di halaman 1dari 3

 Pemanfaatan Biji Kelor (Moringa oleifera)

Biji kelor merupakan alternatif koagulan organik. Biji kelor sebagai koagulan dapat
digunakan dengan dua cara yaitu biji kering dengan kulitnya dan biji kering tanpa kulitnya
(Ndabigengesere dkk, 1995). Hasil analisis elemen pada biji kelor untuk biji dengan kulit
adalah 6,1% N; 54,8% C; dan 8,5% H, sedangkan untuk biji tanpa kulit adalah 5,0% N,
53,3% C, dan 7,7% H (dalam % berat) sedang sisanya terdiri atas oksigen (Ndabigengesere
dkk, 1995).

Pohon kelor (Moringa oleifera) diketahui mengandung polielektrolit kationik dan flokulan
alamiah dengan komposisi kimia berbasis polipeptida yang mempunyai berat molekul mulai
dari 6000 sampai 16000 dalton, mengandung hingga 6 asam-asam amino terutama asam
glutamat, mentionin, dan arginin (Jahn, 1986). Sebagai bioflokulan, biji kelor kering dapat
digunakan untuk mengkoagulasi-flokulasi kekeruhan air (Jahn, 1986; Sani, 1990; Bina, 1991
dalam Muyibi dan Evison, 1995; Narasiah dkk, 2002).

Efektivitas koagulasi oleh biji kelor ditentukan oleh kandungan protein kationik bertegangan
rapat dengan berat molekul sekitar 6,5 kdalton. Zat aktif (active agent) yang terkandung
dalam biji kelor yaitu 4α L-rhamnosyloxy-benzyl-isothiocyanate (Sutherland dkk, 1990;
Muyibi dan Evison, 1995). Prinsip utama mekanisme koagulasinya adalah adsorpsi dan
netralisasi tegangan protein tersebut (Ndabigengesere dkk, 1995). Dalam proses
koagulasinya, biji kelor memberikan pengaruh yang kecil terhadap derajat keasaman dan
konduktivitas. Jumlah lumpur yang diproduksi biji kelor lebih sedikit dari jumlah lumpur
yang diproduksi oleh ferro sulfat sebagai koagulan (Chandra, 1998).

Bahan koagulan dalam biji kelor adalah protein kationik yang larut dalam air. Potensial zeta
larutan 5% biji kelor tanpa kulit adalah sekitar +6 mV (Ndabigengesere dkk, 1995). Hal ini
menunjukkan bahwa larutan ini didominasi oleh tegangan positif, meskipun merupakan
campuran heterogen yang kompleks. Potensial zeta air sintetik adalah sekitar -46 mV. Hal ini
menunjukkan bahwa pada pH netral, partikel-partikel bermuatan negatif. Akibatnya,
koagulasi partikel tersuspensi dengan biji kelor dipengaruhi oleh proses destabilisasi
tegangan negatif koloid oleh polielektrolit kationik.

Mekanisme yang paling mungkin terjadi dalam proses koagulasi adalah adsorpsi dan
netralisasi tegangan atau adsorpsi dan ikatan antar partikel yang tidak stabil. Dari kedua
mekanisme tersebut, untuk menentukan mekanisme mana yang terjadi merupakan suatu hal
yang sangat sukar karena kedua mekanisme tersebut mungkin terjadi secara simultan. Tapi,
umumnya mekanisme koagulasi dengan biji kelor adalah adsorpsi dan netralisasi tegangan
(Sutherland dkk, 1990).

KEUNTUNGAN

1. Caranya sangat mudah


2. Tidak berbahaya bagi kesehatan
3. Dapat menjernihkan air lumpur maupun air keruh
4. Kualitas air lebih baik karena:

 Mikroorganisme berkurang
 Zat organik berkurang sehingga pencemaran kembali berkurang
 Air lebih cepat mendidih

KERUGIAN

1. Kelor tidak terdapat di semua daerah


2. Air hasil penjernihan dengan kelor harus segera digunakan dan tidak dapat disimpan
untuk hari berikutnya
3. Penjernihan dengan cara ini hanya untuk skala kecil

 Pemanfaatan Chitin dan Chitosan dari Limbah Udang

Limbah udang yang berupa kulit, kepala, dan ekor yang dengan mudah didapatkan
mengandung senyawa kimia berupa chitin dan chitosan. Senyawa ini dapat diolah dan
dimanfaatkan sebagai bahan penyerap logam-logam berat yang dihasilkan oleh limbah
industri. Hal ini dimungkinkan karena senyawa chitin dan chitosan mempunyai sifat sebagai
bahan pengemulsi koagulasi, reaktivitas kimia yang tinggi, dan menyebabkan sifat
polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai penukar ion (ion exchanger) dan dapat
berpungsi sebagai absorben terhadap logam berat dalam air limbah. Kulit udang yang
mengandung senyawa kimia chitin dan chitosan merupakan limbah yang mudah didapat dan
tersedia dalam jumlah yang banyak, yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal.

Chitosan merupakan bahan kimia multiguna berbentuk serat dan merupakan ko-polimer
berbentuk lembaran tipis, berwarna putih atau kuning, tidak berbau. Kitosan merupakan
produk diasetilasi kitin melalui proses kimia menggunakan enzim kitin diacetilase (Rismana,
2001).

Chitosan (CS), derivat deasetilasi dari chitin terdiri atas satuan-satuan glukosamine yang
terpolimerisasi oleh rantai ß-1,4-glikosidic (Simunek et al, 2006).

Chitosan (poli-ß-1,4-glucosamine) disiapkan secara komersial dengan deasetilase basa chitin


yang didapat dari eksoskeleton crustacea laut, chitosan mempunyai nilai pKa kira-kira 6,3
pada nilai pH lebih rendah, molekulnya bersifat kation karena protonasi dari grup amino.
Dengan adanya sifat-sifat chitin dan chitosan yang dihubungkan dengan gugus amino dan
hidroksil yang terikat, maka menyebabkan chitin dan chitosan mempunyai reaktivitas kimia
yang tinggi dan menyebabkan sifat polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai
penukar ion (ion exchanger) dan dapat berperan sebagai absorben terhadap logam berat
dalam air limbah ( Hirano, 1986). Karena berperan sebagai penukar ion dan sebagai
absorben, maka chitin dan chitosan dari limbah udang berpotensi dalam memecahkan
masalah pencemaran lingkungan perairan dengan penyerapan yang lebih murah dan
bahannya mudah didapatkan.

Chitin termasuk golongan polisakarida yang mempunyai berat molekul tinggi dan merupakan
melekul polimer berantai lurus dengan nama lain β-(1-4)-2-asetamida-2-dioksi-D-glukosa (N-
asetil-D-Glukosamin) (Hirano, 1986; Tokura, 1995). Struktur chitin sama dengan selulosa
dimana ikatan yang terjadi antara monomernya terangkai dengan ikatan glikosida pada posisi
β-(1-4). Perbedaannya dengan selulosa adalah gugus hidroksil yang terikat pada atom karbon
yang kedua pada chitin diganti oleh gugus asetamida (NHCOCH2) sehingga chitin menjadi
sebuah polimer berunit Nasetilglukosamin (The Merck Indek, 1976). Chitin mempunyai
rumus molekul C18H26N2O10 (Hirano, 1976), merupakan zat padat yang tak berbentuk
(amorphous), tak larut dalam air, asam anorganik encer, alkali encer dan pekat, alkohol, dan
pelarut organik lainnya tetapi larut dalam asam-asam mineral yang pekat. Chitin kurang larut
dibandingkan dengan selulosa dan merupakan N-glukosamin yang terdeasetilasi sedikit,
sedangkan chitosan adalah chitin yang terdeasetilasi sebanyak mungkin.

Chitosan yang disebut juga dengan β-1,4-2 amino-2-dioksi-D-glukosa merupakan turunan


dari chitin melalui proses deasetilasi. Chitosan juga merupakan suatu polimer multifungsi
karena mengandung tiga jenis gugus fungsi yaitu asam amino, gugus hidroksil primer, dan
skunder. Adanya gugus fungsi ini menyebabkan chitosan mempunyai kreatifitas kimia yang
tinggi (Tokura, 1995). Chitosan merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, larutan basa
kuat, sedikit larut dalam HCl dan HNO3, dan H3 PO4, dan tidak larut dalam H2SO4.
Chitosan tidak beracun, mudah mengalami biodegradasi, dan bersifat polielektrolitik (Hirano,
1986). Di samping itu, chitosan dapat dengan mudah berinteraksi dengan zat-zat organik
lainnya seperti protein. Oleh karena itu, chitosan relatif lebih banyak digunakan
pada berbagai bidang industri terapan dan induistri kesehatan (Muzzarelli, 1986).

Chitin dan chitosan yang diperoleh dari limbah kulit udang digunakan sebagai absorben
untuk menyerap ion kadmium, tembaga, dan timbal dengan cara dinamis dengan mengatur
kondisi penyerapan sehingga air yang dibuang ke lingkungan menjadi air yang bebas dari
ion-ion logam berat.

https://duniawarnaku.wordpress.com/2012/10/01/koagulan-alami/