Anda di halaman 1dari 33

SISTEM NEUROBEHAVIOR II

ASUHAN KEPERAWATAN AUTISME GANGGUAN


SOSIALISASI

Dosen Pembimbing :
H. Pawiono SST.,MPH

Disusun oleh :
Kelompok 3

1. Ahmad Sobha R.A (151001003)


2. Alifia Rahma Nadlifah (151001004)
3. Fitri Fajarwati. Z (151001016)
4. Mahda Faninda W. (151001022)
5. Nur Aini (151001033)
6. Nuratri Harmiani (151001034)
7. Puji Rahayu Ningsih (151001036)
8. Tiflatul Amin Hidayah (151001040)
9. Tita Heni Febriani (151001041)
10. Verra Shintya Putri (151001043)
11. Vina Ismawati (151001044)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PEMKAB JOMBANG
2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia dan
hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Autisme Gangguan Sosialisasi”. Tidak lupa penyusun mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusun dalam
menyelesaikan makalah ini.

Penyusun menyadari adanya banyak kekurangan dalam penulisan makalah


ini. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik pembaca yang
membangun demi kesempurnaan dalam makalah ini.

Harapan penyusun agar makalah ini berguna dan dapat dimanfaatkan


sebagaimana mestinya, serta dapat menambah ilmu pengetahuan di bidang
perencanaan pembelajaran.

Jombang, 11 November 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGATAR ............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................1
1.3 Tujuan ......................................................................................................... 2

BAB II. TINJUAN TEORI


2.1 Definisi Autisme .........................................................................................3
2.2 Etiologi Autisme .........................................................................................3
2.3 Patofisiologis Autisme .................................................................................5
2.4 Manifestasi Autisme ....................................................................................8
2.5 Klasifikasi Autisme ...................................................................................10
2.6 Karakteristik Penyandang Autisme ............................................................11
2.7 Penatalaksaan Penyandang Austisme ........................................................10

BAB III. ASUHAN KEPEREWATAN KASUS


3.1 Pengkajian ..................................................................................................15
3.2 Diagnosa Keperawatan ..............................................................................22
3.3 Intervensi Keperawatan .............................................................................23
3.4 Implementasi Keperawatan .......................................................................24
3.5 Evaluasi .....................................................................................................27

BAB VI. PENUTUP


5.1 Kesimpulan ................................................................................................29
5.2 Kritik dan Saran ........................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................30

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Autis atau autisme adalah suatu gangguan fungsi susunan saraf pusat
kelainan struktur otak, yang terjadi pada janin dalam usia dibawah tiga
bulan (SLA Fredofios, 2011). Gangguan tersebut menyebabkan
terhambatnya tumbuh kembang anak autis dalam hal komunikasi, interaksi,
dan pola perilaku. Seperti dalam hal komunikasi, perkembangan bahasa
anak autis dapat dikatakan lambat atau sedikit sekali, kaitannya dengan
keterbatasan jumlah kosakata dan ketidaksesuaian pengucapan. Dalam hal
interaksi sosial, anak autis memiliki kelemahan dalam hal berinteraksi.
Mereka lebih senang menyendiri dan cenderung menghindari kontak
mata dengan orang lain, tidak senang bergaul atau bermain bersama
teman-temannya, dan mereka memiliki kesenangan serta caranya sendiri
dalam bermain atau memainkan suatu benda, yang berbeda dengan anak-
anak normal pada umumnya.
Umumnya, anak yang mengalami gejala autisme menunjukkan sikap
menarik diri dari lingkungan dan asyik dengan dunianya sendiri. Kata autis
berasal dari bahasa Yunani yakni “autos” yang berarti „sendiri‟. Pada tahun
1943 seorang psikiater anak, Leo Kanner menjabarkan secara rinci gejala-
gejala „aneh‟ yang ditemukan pada 11 pasiennya, Kanner melihat banyak
persamaan gejala
pada anak-anak ini dan yang sangat menonjol adalah mereka sangat asyik
dengan dirinya sendiri, seolah-olah mereka hanya hidup dalam dunianya
sendiri, kemudian Kanner menggunakan istilah “autisme” yang artinya
hidup dalam dunianya sendiri (Nugraheni, 2008)
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana definisi autisme ?
2. Bagaimana etiologi dari autisme?
3. Bagaimana patofisiologi dari autisme ?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari autisme ?

1
5. Bagaimana klasifikasi autisme ?
6. Bagaimana karakteristik dari autisme ?
7. Bagaimana penatalaksanaan terapi autisme?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari autisme
2. Untuk mengetahui etiologi autisme
3. Untuk mengetahui patofisiologi autisme
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari autisme
5. Untuk mengetahui klasifikasi autisme
6. Untuk mengetahui karakteristik autisme
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan terapi autisme

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Autisme bukan suatu penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan gejala)
terjadi penyimpangan perkembangan sosial, gangguan kemampuan
berbahasa dan kepedulian terhadap sekelilingnya sehingga anak seperti
hidup dalam dunianya sendiri. Dengan kata lain pada anak autisme terjadi
kelainan emosi, perilaku, intelektual, dan kemauan (Yatim, 2007).
Menurut Huzaemah (2010), autisme adalah gangguan perkembangan
kompleks yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak, sehingga
mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku,
kemampuan sosialis, sensoris, dan belajar. Biasanya gejala sudah mulai
tampak sebelum usia anak 3 tahun.
Gulo (1982), menyebutkan autisme berarti preokupasi terhadap pikiran
dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada
pikiran subjektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme disebut orang yang
hidup di “alamnya” sendiri (Muhammad, 2008).
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa autisme
merupakan gejala kelainan perkembangan pada anak yang disebabkan
karena kerusakan otak, sehingga menimbulkan gangguan dalam interaksi
sosial, gangguan bicara dan berbahasa, komunikasi nonverbal, kognisi, dan
gangguan perilaku yang cenderung stereotip. Gangguan ini sudah tampak
pada anak di bawah usia 3 tahun.

2.2 Etiologi
1. Faktor neurobiologis
Gangguan neurobiologis pada susunan saraf pusat (otak). Biasanya
gangguan ini terjadi dalam tiga bulan pertama masa kehamilan, bila
pertumbuhan sel – sel otak di beberapa tempat tidak sempurna
(Maulana, 2007 :19)

3
2. Masalah Genetik
Menurut Maulana (2007:19), faktor genetic juga memegang peranan
kuat, dan ini terus teliti. Pasanya, banyak manusia mengalami mutasi
genetik yang bisa terajdi karena cara hidup yang semakin modern
(penggunaan zat kimia dalam kehidupan sehari – hari, faktor udara
yang semakin terpolusi). Beberapa faktor yang terkait adalah usia ibu
saat hamil, usia ayah saat istri hamil, serta masalah yang terjadi saat
hamil dan prose kelahiran (Ginanjar, 2008)
3. Masalah selama kehamilan dan kelahiran
Masalah pada masa kehamilan dan proses melahirkan resiko autism
berhubungan dengan masalah – masalah yang terjadi pada masa 8
minggu pertama kehamilan. Ibu yang mengkonsumsi alcohol, terkena
virus rubella, menderita infeksi kronis atau mengkonsumsi obat –
obatan terlarang diduga mempertinggi resiko autism. Proses
melahirkan yang sulit sehingga bayi kekurangan oksigen juga diduga
berperan penting. Bayi yang lahir premature atau punya berat badan
dibawah normal lebih besar kemungkinannya untuk mengalami
gangguan pada otak dibandingkan bayi normal (Ginanjar, 2008)
Menurut Hadis (2006:45), komplikasi prenatal, perinatal dan
neonatal yang meningkat juga ditemukan pada anak autistik.
Komplikasi yang sering terjadi ialah adanya pendarahan setelah
trimester pertama dan adanya kotoran janin pada cairan amnion yang
merupakan tanda bahaya dari janin.Penggunaan obat – obatan tertentu
pada ibu yang sedang mengandung juga diduga dapat menyebabkan
timbulnya gangguan autism. Komplikasi gejala saat bersalin berupa
bayi terlambat menangis, bayi mengalami gangguan pernpasan, bayi
mengalami kekurangan darah diduga dapat menimbulkan autism
4. Keracunan logam berat
Keracunan logam berat merupakan kondisi yang sering dijumpai
ketika dalam kandungan.Keracuan logam seperti timbal, merukri,
cadmium spasma infantile, rubella kongenital, sclerosis tuberosa,

4
lipidosis serebral, dan anomaly kromosom X rapuh.Racun dan logam
berat dari lingkungan, berbagai racun yang berasal dari pestisida,
polusi udara dan cat tembok dapat mempengaruhi kesehatan janin.
Penelitian terhadap sejumlah anak autis menunjukkan bahwa kadar
logam berat (merkuri, timbal, timah) dalam darah mereka lebih tinggi
dibandingkan anak – anak normal (Veskariyanti. 2008 :17)
5. Terinveksi virus
Lahirnya anak autistik diduga dapat disebabkan oleh virus seperti
rubella, toxoplasmosis, herpes, jamur, nutrisi yang buruk, perdarahan
dan keracunan makanan pada masa kehamilan yang dapat menghambat
pertumbuhan sel otak yang menyebabkan fungsi otak bayi yang
dikandung terganggu terutama fungsi pemahaman, komunikasi dan
interaksi.Efek virus dan keracunan tersebut dapat berlangsung terus
setelah anak lahir dan terus merusak pembentukan sel otak, sehingga
anak kelihatn tidak memperoleh kemajuan dan gejala makin parah.
Gangguan metabolism, pendengaran dan penglihatan juga diperkirakan
dapat menjadi penyebab lahirnya anak autistic (Maulana. 2007 :19)
6. Cidera otak, kerentanan utama, aphasia, defisit pengaktif
retikulum, keadaantidak menguntungkan antara faktor
psikogenik dan perkembangan syaraf,perubahan struktur
serebellum, lesi hipokompus otak depan.
7. Penyakit otak organik dengan adanya gangguan komunikasi
dan gangguansensori serta kejang epilepsi.

2.3 Patofisiologi
Sel saraf otak (neuron) terdiri dari badan sel dan serabut untuk
mengalirkan implus listrik (akson) serta serabut untuk menerima implus
listrik (dendrite).Sel saraf terdapat pada lapisan luar otak yang berwarna
kelabu (korteks).akson di bungkus selaput bernama myelin terletak di
bagian otak berwarna putih.Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat
sinaps.Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan.pada

5
trimester ketiga,pembentukan sel saraf berhenti dan di mulai pembentukan
akson,dendrite dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua
tahun.Setelah anak lahir,terjadi proses pertumbuhan otak berupa bertambah
dan berkurangnya struktur akson,dendrite dan sinaps.proses ini di pengaruhi
secara genetic melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brai growth
faktor dan proses belajar anak - anak
Makin banyak sinaps terbentuk,anak makin cerdas,pembentukan
akson,dendrite dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari
lingkungan.Bagian otak yang digunakan dalam belajarmenunjukan
pertamabahan akson,dendrite dan sinaps,sedangkan bagian otak yang tak
digunakan menunjukan kematian sel,berkurangnya akson,dendrite dan
sinaps.Kelainan genetis,keracunan logam berat,dan nutrisi yang tidak
adekuat dapat menyebabkan gangguan proses-proses tersebut.Sehingga akan
menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf

6
Pathway autis

Pemakaian
Partus Genetik Keracunan Logam RESTI
antibiotik
Lama INFEKSI berlebihan

>>>neutropin dan Infeksi Jamur


Gangguan nutrisi
dan Oksigenasi neuropeptida

Kebocoran usus dan


tidak sempurna
Kerusakan pada pencernaan kasein dan
Gangguan pada glutein
otak sel purkinye dan
hippocampus
Protein terpecah
Abnormalitas Gangguan sampai
keseimbangan polipeptida
pertumbuhan
serotonin dan
sel saraf dopamin

Kasein dan
Peningkatan Gangguan otak gluten terserap
neurokimia kecil kedalam darah
secara abnormal

Reaksi atensi Menimbulkan efek


Growth without lebih lambat morfin pada otak
guidance

PERUBAHAN
PERSEPSI
AUTIS SENSORI

Gangguan Persepsi
PERUBAHAN Sensori

Gangguan Gangguan INTERAKSI SOSIAL Gangguan


Komunikasi Interaksi Sosial Perilaku
penglihatan
dan
Keterlambatan Acuh tak Hiperaktif pendengaran
Bicara monoton Mengabaikan
dalam berbahasa dan tidak dan acuh terhadap
dimengerti menghindari lingkungan
oranglain dan oranglain Sangat agresif
oranglain
terhadap
Sensitif
oranglain dan
dirinya
terhadap
GANGGUAN cahaya
KOMUNIKASI Perilaku
yang Menutup
VERBAL DAN
aneh telinga bila
NON VERBAL
mendengar
suara

7
2.4 Manifestasi Klinis
Secara umum karakteristik klinik yang ditemukan pada anak autisme menurut
Yatim (2007), meliputi:
1. Sangat lambat dalam perkembangan bahasa, kurang menggunakan
bahasa, pola berbicara yang khas atau penggunaan kata-kata tidak
disertai arti yang normal.
2. Sangat lambat dalam mengerti hubungan sosial, sering menghindari
kontak mata, sering menyendiri, dan kurang berinteraksi dengan
lingkungan sekitarnya.
3. Ditandai dengan pembatasan aktivitas dan minat, anak autisme sering
memperlihatkan gerakan tubuh berulang, seperti bertepuk-tepuk
tangan, berputar-putar, memelintir atau memandang suatu objek secara
terus menerus.
4. Pola yang tidak seimbang pada fungsi mental dan intelektual, anak
autisme sangat peka terhadap perubahan lingkungan, dan bereaksi
secara emosional. Kemampuan intelektual sebagian besar mengalami
kemunduran atau inteligensia yang rendah dan sekitar 20 persen
mempunyai inteligensia di atas rata-rata.
5. Sebagian kecil anak autisme menunjukan masalah perilaku yang
sangat menyimpang seperti melukai diri sendiri atau menyerang orang
lain.
Ada 3 kelompok gejala yang harus diperhatikan untuk dapat
mendiagnosis autisme, yaitu dalam interaksi sosial, dalam komunikasi
verbal, dan nonverbal serta bermain dan dalam berbagai aktivitas serta
minat. Namun demikian, anak-anak autisme kemungkinan sangat berbeda
satu dengan yang lain, tergantung pada derajat kemampuan intelektual serta
bahasanya. Baik anak yang mutisme (membisu) dan suka menyendiri
maupun anak yang mampu bertanya dengan tata bahasa yang benar tapi
tidak sesuai dengan situasi yang ada, keduanya mempunyai diagnosis yang
sama, yaitu autisme. Dapat pula terjadi salah diagnosis pada keadaan fungsi
intelektual yang ekstrem (sangat tinggi atau sangat rendah). Hilangnya

8
tingkah laku yang khas autisme bersamaan dengan meningkatnya usia,
membuat diagnosis autisme yang dibuat setelah masa kanak-kanak lewat,
menjadi kurang dapat dipercaya (Masra, 2002).
Sedangkan untuk diagnostik anak autisme yaitu berdasarkan kriteria
diagnostik menurut ICD – 10 1993 (International Classification of Disease)
dari WHO maupun DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994, dari
grup Psikiatri Amerika (dalam Kaplan dan Sadock, 2010), keduanya
menetapkan kriteria yang sama untuk anak autisme. Kriteria DSM-IV untuk
Autisme:
A. Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2) dan (3), dengan minimal
2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala (2) dan (3).
(1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbul balik.
Minimal harus ada 2 gejala dari gejala-gejala ini:
a. Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup
memadai: kontak mata sangat kurang, ekspresi muka
kurang hidup, gerak-gerik yang kurang setuju.
b. Tidak bisa main dengan teman sebaya.
c. Tidak bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain.
d. Kurangnya hubungan sosial dan emosional timbal balik.
(2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi seperti, minimal
1 dari gejala-gejala di bawah ini:
a. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tidak
berkembang (dan tidak ada usaha untuk mengimbangi
komunikasi dengan cara lain tanpa bicara).
b. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk
komunikasi.
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-
ulang.
d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan
kurang bisa meniru.

9
(3) Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dari
perilaku, minat dan kegiatan, sedikitnya harus ada satu gejala
dibawah ini:
a. Mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara
yang sangat khas dan berlebih-lebihan.
b. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik dan rutinitas
yang tidak ada gunanya.
c. Ada gerakan-gerakan yang aneh, khas dan diulang-ulang.
d. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.
B. Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau
gangguan dalam bidang:
a. Interaksi sosial.
b. Bicara dan berbahasa.
c. Cara bermain yang kurang variatif.
C. Bukan disebabkan oleh Sindrom Rett atau Gangguan Disintegratif
masa kanak.
2.5 Klasifikasi Autisme
Yatim (2002) mengemukakan anak yang mengalami gangguan autis dapat
dikelompokkan menjadi tiga (3) , yaitu :
1. Autisme persepsi
Autisme persepsi dianggap autisme asli karena kelainan sudah timbul
sebelum lahir. Autisme ini terjadi karena berbagai faktor baik itu
berupa pengaruh dari keluarga, maupun pengaruh lingkungan,
makanan,rangsangan maupun faktor lainnya. Ketidakmampuan anak
berbahasa termasuk pada penyimpangan reaksi terhadap rangsangan
dari luar, begitu juga ketidakmampuan anak bekerja sama dengan
orang lain, sehingga anak akan bersikap masa bodoh. Gejala yanga
dapat diamati antara lain :
a. Rangsangan dari luar baik yang kecil maupun kuat akan
menimbulkan kecemasan, tubuh akan mengadakan mekanisme

10
dan reaksi pertahanan hingga telihat timbul pengembangan
masalah
b. Banyaknya pengaruh dari orang tua, tidak bisa ditentukan.
Orang tua tidak ingin peduli terhadap keinginan dan
kesengsaraan anaknya, kebingungan anaknya bertahan berubah
menjadi kekecewaan, lama – kelamaan rangangan ditolak atau
anak bersikap masa bodoh.
2. Autisme Reaksi
Terjadi karena beberapa permasalahan yang ditimbulkan kecemasan
seperti orang tua meninggal, sakit berat, pindah rumah/sekolah dan
sebagainya. Autisme ini akan memunculkan gerakan – gerakan
tertentu berulang –ulang, kadang – kadang disertai kejang. Gejala
autisme reaksi muncul pada usia lebih besar 6-7 tahun sebelum anak
memasuki tahapan berpikir logis
3. Autisme yang timbul kemudian
Terjadi setelah anak agak besar, dikarenakan kelainan jaringan otak
yang terjadi setelah anak lahir. Hal ini akan mempersulit dalam hal
pemberian pelatihan dan pelayanan pendidikan untuk mengubah
perilakunya yang sudah melekat.
2.6 Karakteristik Penyandang Autis
Berikut klasifikasi karakteristik penyandang autis untuk memudahkan
dalam mendefinisikan autis itu sendiri. Karakteristik dari masing-masing
masalah atau gangguan dideskripsikan sebagai berikut (Hadis, 2006):
1. Masalah di bidang komunikasi
Mereka seringkali berperilaku nampak seperti orang tuli, selain itu
mereka juga mengalami kesulitan dalam berbicara, ada anak yang sama
sekali tidak jelas dalam berbicara namun ada juga anak yang lancar
dalam berbicara, akan tetapi keduanya sama-sama mengalami
keterbatasan dalam jumlah kosakata, serta terkadang kata yang
digunakan tidak sesuai dengan artinya. Mereka juga tidak mengerti
kalimat panjang. Namun disisi lain mereka memiliki daya ingat yang

11
kuat. Selain itu, ciri yang mudah dikenali dari anak autis adalah sifat
repetitif atau pengulangan kata. Mereka senang meniru apa yang baru
saja didengarnya atau yang orang lain tanyakan padanya, atau sering
dikatakan “membeo”.
2. Masalah di bidang interaksi sosial
Penyandang autis lebih senang menyendiri, mereka cenderung
menghindari kontak mata dengan orang lain. Penyandang autis adalah
mereka yang memiliki dunianya sendiri, mereka tidak senang bergaul
meski dengan teman sebayanya sekalipun. Bahkan untuk bermain,
mereka memiliki caranya sendiri dalam memainkan suatu benda,
misalkan mereka senang bermain sobekan kertas, karet atau sedotan.
Hal tersebut dapat mereka lakukan secara terus-menerus, jika tidak
dihentikan.
3. Masalah di bidang sensoris
Dapat dikatakan mereka sensitif terhadap sentuhan, mereka dapat tiba-
tiba terkejut atau merasa tidak nyaman ketika tiba-tiba disentuh, tidak
jarang mereka juga enggan dipeluk. Selain itu mereka juga sensitif
terhadap suara sehingga mereka lebih senang menyendiri dan ketika ada
suara yang dirasa mengganggu maka mereka akan menutup telinga dan
bergumam sendiri. Namun, mereka tidak sensitif atau tidak peka
terhadap rasa sakit misalnya saja ketika mereka dipukul maka mereka
akan acuh seperti tidak terjadi apa-apa berbeda dengan anak normal
yang akan langsung merespon atau menangis.
4. Masalah di bidang perilaku
Perilaku yang cukup melekat pada diri penyandang autis adalah sifat
stereotip, yang mana tiap anak berbeda-beda, misalnya berlari sambil
tepuk tangan, menggerakkan badan kedepan dan kebelakang ketika
duduk di kursi secara cepat, bersuara dengan irama yang sama, dan lain
sebagainya yang mereka lakukan secara berulang-ulang, dimana
stereotip disini berarti pengulangan perilaku secara monoton. Serta
yang seringdikenali masyarakat adalah sifat penyandang autis yang

12
hiperaktif (berperilaku berlebihan atau aktif), meskipun ada juga dari
mereka yang hipoaktif (berperilaku berkekurangan).
5. Masalah di bidang emosi
Sifat anak autis yang lebih senang menyendiri dapat membuat kita
terkejut dengan sikap mereka yang dapat secara tiba-tiba marah,
mengamuk, menangis, atau tertawa bahkan senyum-senyum
sendiri.Ketidakmampuanmenyampaikan alasan membuat kita mau tidak
mau harus memperhatikan mereka secara kontinyu, untuk mengetahui
penyebab perubahan emosi para penyandang autis ini. kaitannya adalah
untuk memperbaiki emosi mereka agar lebih stabil.
2.7 Penatalaksanaan Terapi
Tujuan terapi pada anak dengan gangguan autisme menurut Kaplan dan
Sadock (2010), adalah mengurangi masalah perilaku serta meningkatkan
kemampuan belajar dan perkembangannya, terutama dalam keterampilan
bahasa. Tujuan ini dapat tercapai dengan baik melalui suatu program terapi
yang komprehensif dan bersifat individual, dimana pendidikan khusus dan
terapi wicara merupakan komponen yang paling utama. Adapun program
terapi meliputi: 1) pendekatan edukatif berupa pendidikan khusus dan
latihan terstruktur; 2) Terapi perilaku dengan menggunakan prosedur
modifikasi perilaku yang spesifik; 3) Psikoterapi secara individual, baik
dengan atau tanpa obat; 4) Terapi dengan obat-obatan, khususnya bagi anak
autisme dengan gejala-gejala seperti: tempertantrum, agresif, melukai diri
sendiri, hiperaktifitas, dan stereotip.
Menurut Danuatmaja (2003), penatalaksanaan terapi anak autisme ada 5
jenis, diantaranya:
1. Terapi medikamentosa
Terapi dengan obat-obatan yang bertujuan memperbaiki komunikasi,
respon terhadap lingkungan, dan menghilangkan perilaku aneh serta
diulang-ulang.
2. Terapi biomedis

13
Terapi ini bertujuan memperbaiki metabolisme tubuh melalui diet dan
pemberian suplemen. Terapi ini didasarkan banyaknya gangguan
fungsi tubuh, seperti gangguan pencernaan, alergi, daya tahan tubuh
rentan, dan keracunan logam berat.
3. Terapi wicara
Terapi ini umumnya menjadi keharusan bagi anak autisme karena
mereka mengalami gangguan bicara dan kesulitan berbahasa.
4. Terapi perilaku
Terapi ini bertujuan agar anak autisme dapat mengurangi perilaku
tidak wajar dan menggantinya dengan perilaku yang diterima oleh
masyarakat.
5. Terapi okupasi
Terapi ini diberikan pada anak yang memiliki gangguan
perkembangan motorik kurang baik. Bertujuan untuk menguatkan,
memperbaiki koordinasi, dan keterampilan motorik halus. Suatu tim
kerja terpadu yang terdiri dari tenaga pendidik, tenaga medis
(psikiater, dokter anak), psikolog, ahli terapi wicara, pekerja sosial,
dan perawat sangat diperlukan agar dapat mendeteksi dini serta
memberi penanganan yang sesuai dan tepat waktu. Semakin dini
terdeteksi dan mendapat penanganan yang tepat, akan dapat tercapai
hasil yang optimal (Masra, 2002).

14
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS
Kasus Semu
Seorang An.E berusia 7 tahun dibawa oleh kedua orangtuanya datang ke
Rumah Sakit untuk berkonsultasi tentang perilaku anaknya yang berbeda
dengan teman yang lainya yaitu tidak dapat bergaul dengan baik, sulit untuk
berkomunikasi, cenderung menutup diri dan apatis (acuh tak acuh terhadap
lingkungan) dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan Nadi : 65 x/menit, TD :
90 / 60 mmHg, RR : 22 x/menit, TB / BB (cm) : 100 cm/32kg, Lingkar
kepala : 35 cm

3.1 Pengkajian
I. Identitas Klien
Nama : An E No. Reg : ……
Umur : 7 Tahun Tgl. MRS :08 November
(08.00)
Jenis Kelamin : Laki-laki Diagnosis medis :
Autisme
Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia Tgl Pengkajian:08 November
2017 (08.00)
Agama : Islam
Pekerjaan : -
Pendidikan : SD
Alamat : Kayen Bandarkedungmulyo Jombang

II. RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)


1. Keluhan utama :
Sulit berkomunikasi
2. Riwayat Penyakit Sekarang

15
Ibu klien mengatakan mengatakan saat ini klien sulit
berkomunikasi sehingga tidak bergaul dengan temanya dan
bersikap acuh tak acuh
3. Riwayat kehamilan dan kelahiran
a. Prenatal : Ibu klien mengatakan tidak mengalami penyakit
atau gangguan yang dapat menyebabkan kelainan pada
kehamilanya.
b. Intranatal : Ibu klien mengatakan tidak terjadi kelainan yang
dapat menyebabkan gangguan pada kehamilannya.
c. Postnatal : Ibu Klien mengatakan kehamilanya normal dan
tidak terjadi gangguan
4. Riwayat Kesehatan Terdahulu
Ibu klien mengatakan bahwa dalam keluarganya belum pernah
menderita penyakit seperti ini
5. Riwayat tumbuh kembang
a. Kemandirian dan bergaul : Ibu klien mengatakan bahwa klien
tergantung dengan keluarga
b. Motorik kasar : Ibu klien mengatakan bahwa klien dapat
berdiri dengan tegak namun terlambat dari
usianya
c. Motorik halus : Ibu klien mengatakan bahwa klien dapat
memegang mainan dengan menggunakan
tangannya namun juga terlambat dari
usianya
6. Riwayat sosial
a. Mengasuh klien : Keluarga
b. Hubungan dengan anggota keluarga : Ibu klien
mengatakan bahwa hubungan dengan keluarga baik
c. Hubungan dengan teman sebaya : Ibu klien mengatakan
bahwa klien tidak dapat bergaul dengan teman sebayanya
dengan baik

16
d. Lingkungan rumah : Ibu klien mengatakan bahwa
lingkungan rumahnya bersih

III. PEMERIKSAAN FISIK


1. Keadaan Umum : Apatis
2. Tanda-tanda vital
Nadi : 65 x/menit
TD : 90 / 60 mmHg
RR : 22 x/menit
TB / BB (cm) : 100 cm/32kg
Lingkar kepala : 35 cm
3. Pemeriksaan Fisik Persistem
A. Sistem Pernapasan
Hidung:
Inspeksi: tidak ada nafas cuping hidung, tidak ada secret,
tidak ada odem
Palpasi: tidak ada nyeri tekan
Mulut
Inspeksi : tidak ada sianosis, dan mulut bersih
Sinus paranasalis
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Leher
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak adanya massa
Faring :
Inspeksi : tidak ada kemerahan, tidak ada oedem / tanda-
tanda infeksi
Area dada:
Inspeksi: tidak menggunakan otot bantu pernafasan, dada
simetris
Palpasi: tidak ada nyeri tekan

17
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler

B. Cardiovaskuler Dan Limfe


Anamnesa: tidak ada nyeri dada, tidak ada sesak nafas
Wajah
Inspeksi : tidak sembab, tidak pucat dan tidak ada sianosis
Leher
Inspeksi : tidak ada bendungan vena jugularis
Dada
Inspeksi : simetris
Palpasi : tidak ada benjolan atau pembengkakan
Ekstrimitas Atas
Inspeksi : tidak ada sianosis dan clubbing finger
Palpasi : suhu akral hangat
Ekstrimitas Bawah
Inspeksi : tidak ada varises, tidak ada sianosis, tidak ada
clubbing finger
Palpasi : suhu akral hangat
C. Persyarafan
Anamnesis : terdapat perubahan berbicara.
1) Nervus I olfaktorius (pembau)
Baik dapat mencium bau antara balsam dan minyak
kayu putih
2) Nervus II opticus (Penglihatan)
Lapang pandang normal, pandangan tidak ada yang
kabur dan jelas dalam membedakan warna
3) Nervus III,IV,VI (Oculomotorius, Toklearis dan
Abdusen)
Gerakan bola mata simetris, pupil normal, dapat
menggerakan mata dari dalam keluar

18
4) Nervus V trigeminus (Sensasi kulit wajah)
Dapat merasakan tissue yang disentuhkan pada
kening, temporal, pipi, dagu, dan reflek berkedip
simetris dapat menutup mulut secara spontan setelah
dilakukan pemeriksaan reflek hammer.
5) Nervus VII facialis
Klien dapat merengut,dapat menggembungkan pipi,
dan alis simetris
6) Nervus VIII vestibocochlearis
Kemampuan mendengarkan kata-kata baik
7) Nervus IX glosoparingeal dan Nervus X vagus
Rangsangan menelan baik dan keadaan palatum dan
faring baik
8) Nervus XI aksesorius
Klien dapat menggelengkan kepala kanan dan kiri,
dapat menggerakan bahu keatas dan kebawah.
9) Nervus XII hypoglossal / hipoglosum
Klien dapat menggerakan lidah kesamping kanan dan
kiri.
D. Perkemihan-Eliminasi Uri
Anamnesa : BAK: 5-6 kali perhari,warna kuning jernih,
BAB: 2x/hari, konsistensi lunak, warna kuning
Genetalia eksterna :
Laki laki
Genetalia eksterna
Inspeksi : normal, tidak ada kelainan
Palpasi : tidak ada benjolan
Kandung kemih:
Inspeksi :normal
Palpasi :tidak adanya nyeri tekan
E. Sistem Pencernaan-Eliminasi Alvi

19
Anamnesa : Tidak mengalami hematemesis, tidak
mengalami konstipasi dan nafsu makan baik
Mulut:
Inspeksi : simetris, bersih tidak ada stomatitis
Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada rongga mulut
Lidah
Inspeksi : normal
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Faring - Esofagus :
Inspeksi : normal
Palpasi : normal
Abdomen (dibagi menjadi 4 kuadran)
Inspeksi: tidak ada benjolan abnormal
Auskultasi :bising usus (+)10x/ mnt
Perkusi : tymphani
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Kuadran I:
Hepar hepatomegali (-)
Kuadran II:
Gaster Nyeri tekan (-)
Kuadran III:
Tidak terdapat massa
Kuadran IV:
Tidak ada nyeri tekan pada titik Mc Burney
F. Sistem Muskuloskeletal & Integumen
Anamnese : Tidak ada nyeri, tonus otot baik, kekuatan
otot baik, Turgor normal, kulit elastis, tidak ada bintik
merah kehitaman di seluruh permukaan kulit
Warna kulit
Normal, warna sawo matang , bersih , turgor baik / elastis,
< 2 detik

20
Kekuatan otot : 5 5
5 5

Keterangan:

0: Tidak ada kontraksi

1: Kontaksi (gerakan minimal)

2: Gerakan aktif namun tidak dapat melawan gravitasi

3: Gerakan aktif, dapat melawan gravitasi

4: Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu


menahan tahanan ringan

G. Sistem Endokrin dan Eksokrin


Kepala :
Inspeksi : bentuk simetris, bersih, tidak ada lesi , benjolan
tidak ada
Leher
Inspeksi : Distensi vena jugularis (-),
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Ekstremitas bawah
Palpasi : tidak ada odem
H. Sistem Reproduksi
Laki-laki :
Anamnesa : tidak ada nyeri
Genetalia :
Inspeksi : bersih, tidak ada nyeri tekan, tidak odem, tidak
ada
Palpasi: tidak ada benjolan
I. Persepsi sensori :

21
Anamnesa :
Tidak ada nyeri yang dirasakan pada mata, tidak ada
Keluhan penurunan tajam penglihatan, pendengaran
normal, tidak ada sengau pada hidung
Mata
Inspeksi :
Mata simetris bentuk bulat
Kornea : Berkilau
pupil : ukuran 4-5 mm, isokor
Lensa : Jernih
Sclera : ikterik
Penciuman (Hidung) :
Palpasi; tidak ada nyeri tekan, tidakada odem
3.2 Diagnosa Keperawatan
1. Resistensi Infeksi berhubungan dengan pemakaian antibiotic berlebihan
2. Perubahan interaksi sosial berhubungan dengan gangguan interaksi social
3. Gangguan komunikasi verbal dan non verbal berhubungan dengan
keterlambatan dalam berbahasa
4. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan efek morfin pada otak
Gangguan Komunikasi Verbal
NS. DIAGNOSIS : Kategori : Relasional
(NANDA-I) Subkategori : Interaksi Sosial
D.0119
Penurunan, perlambatan atau ketiadaan kemampuan
DEFINITION: untuk menerima, memproses, mengirim, dan / atau
menggunakan system symbol.

DEFINING
CHARACTERISTICS

22
 Gejala dan tanda Mayor
 Tidak mampu berbicara atau mendengar
 Menunjukkan respon tidak sesuai
 Gejala dan tanda Minor
 Tidak ada kontak mata
 Sulit memahami komunikasi
RELATED FACTORS:
 Sulit mempertahankan komunikasi
 Sulit menggunakan ekspresi wajah atau
tubuh
 Sulit mengungkapkan kata-kata
 Verbalisasi tidak tepat

Subjective data entry Objective data entry

 Klien kesulitan berbicara Nadi : 65 x/menit,


 Cenderung menutup diri TD : 90 / 60 mmHg
AS

 Tidak bisa bergaul dengan baik RR : 22 x/menit,

 Apatis (Acuh tak acuh terhadap TB / BB (cm) : 100 cm/32kg,

lingkungan) Lingkar kepala : 35 cm

Ns. Diagnosis (Specify):


Gangguan Komunikasi Verbal
DIAGNOSIS

Client
Diagnostic
Related to:
Statement:
Autisme

3.3 Intervensi Keperawatan

NIC NOC
Intervensi Aktivitas Outcome Indikator
Peningkatan Observasi: Komunikasi :  Menggunakan

23
Komunikasi :  Monitor proses kognitif, Mengekspresikan bahasa lisan :
Kurang anatomis dan fisiologis Def : ekspresi yag vocal (3)
Bicara terkait dengan bermakna  Kejelasan
Def : kemampuan berbicara mengenai pesan berbicara (3)
penggunaan (misalnya., memori, verbal dan/ atau  Mengarahkan
strategi pendengaran, dan bahasa) non-verbal pesan pada
peningkatan  Monitor terkait dengan penerima yang
kemampuan perasaan frustasi,  tepat (4)
komunikasi kemarahan, depresi, atau
bagi orang respon-respon lain yang
yang memiliki disebabkan adanya
gangguan gangguan kemampuan
bicara berbicara
Action:
 Modifikasi lingkungan
untuk bisa meminimalkan
kebisingan yang
berlebihan dan
menurunkan distress
emosi (misalnya.,
pembatasan kunjungan
dan membatasi suara
darialat yang berlebihan)
 Kenali emosi dan perilaku
fisik (pasien) sebagai
bentuk komunikasi
(mereka)
Kolaborasi:
 kolaborasi bersama
keluarga dan ahli terapis
bahasa patologis untuk

24
mengembangkan rencana
agar bisa berkomunikasi
secara efektif.
 Sediakan rujukan pada
terapis bicara patologis
Health Education:
 Instruksikan pasien atau
keluarga untuk
menggunakan proses
kognitif yang terlibat
dalam kemampuan
berbicara
 Instruksikan pasien
ataukeluarga untuk
menggunakan alat bantu

3.4 Implementasi Keperawatan

No. diagnose
masalah / Tgl/jam Tindakan Paraf
kolaboratif
Gangguan 09-10- Observasi:
Komunikasi 2017  Memonitor proses kognitif,
Verbal 08.00 anatomis dan fisiologis terkait
dengan kemampuan berbicara
(misalnya., memori,
pendengaran, dan bahasa)
Respon : Terdapat gangguan
terhadap komunikasi
 Memonitor terkait dengan
08.15
perasaan frustasi, kemarahan,

25
depresi, atau respon-respon lain
yang disebabkan adanya
gangguan kemampuan berbicara
Respon : Klien menutup diri
karna depresi
Action:
09.00  Memodifikasi lingkungan untuk
bisa meminimalkan kebisingan
yang berlebihan dan
menurunkan distress emosi
(misalnya., pembatasan
kunjungan dan membatasi suara
darialat yang berlebihan)
Respon : Perawat telah
memberikan batasan untuk
kunjungan kepada pasien
 Mengenali emosi dan perilaku
11.30
fisik (pasien) sebagai bentuk
komunikasi (mereka)
Respon : Perawat dapat
mengenali komunikasi klien dari
emosi dan perilaku klien
10-10- Kolaborasi:
2017
 Mengkolaborasi bersama
09.00
keluarga dan ahli terapis bahasa
patologis untuk
mengembangkan rencana agar
bisa berkomunikasi secara
efektif
Respon : Klien mendapatkan

26
terapi bahasa tiap satu minggu
2x, Klien dapat mulai
berkomunikasi sedikit demi
sedikit dan mulai ada sedikit
respon terhadap lingkungan
Health Education:
10.30  Menginstruksikan pasien atau
keluarga untuk menggunakan
proses kognitif yang terlibat
dalam kemampuan berbicara
Respon : Pasien dan keluarga
mengikuti instruksi dari perawat

3.5 Evaluasi Keperawatan

No. Masalah Tanggal/Jam Catatan Perkembangan Paraf


keperawatan /
kolaburasi
1. Gangguan 09-10-2017 S:
Komunikasi 14.00  Ibu klien mengatakan
Verbal jika klien sudah dapat
sedikit merespon
terhadap lingkungan
 Ibu klien mengatakan
jika klien belum bisa
membuka diri untuk
bergaul dengan
temannya
O:
 Klien sudah dapat
berbicara sedikit namun

27
belum dapat berbicara
dengan jelas
 A : Masalah teratasi sebagian
 P : Rencana tindakan
keperawatan dilanjutkan
Gangguan 10-10-2017 S:
Komunikasi 14.00  Ibu klien mengatakan
Verbal jika klien sudah mulai
ada keinginan untuk
bergaul dengan
temannya
O:
 Klien sudah dapat
berbicara sedikit namun
belum dapat berbicara
dengan jelas
A : Masalah teratasi sebagian
P : Rencana tindakan
keperawatan dilanjutkan

28
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pada klien dengan autisme terjadi kelainan emosi, perilaku, intelektual,
dan kemauan. Faktor penyebab autisme antara lain : faktor neurobiologis,
masalah genetic, masalah selama kehamilan dan kelahiran, keracunan logam
berat, terinveksi virus dan cidera otak. Faktor-faktor tersebutlah yang
mempengaruhi tidak terbentuknya sel-sel saraf pada otak secara sempurna
hingga menyebabkan terjadinya autisme. Ada 3 kelompok gejala yang harus
diperhatikan untuk dapat mendiagnosis autisme, yaitu dalam interaksi sosial,
dalam komunikasi verbal, dan nonverbal serta bermain dan dalam berbagai
aktivitas serta minat. Terdapat beberapa klasifikasi dari autisme yaitu :
autisme persepsi, autisme reaksi dan auutisme yang timbul kemudian.
Penatalaksaan yang dapat dilakukan untuk klien dengan autisme antara
lain : terapi medikamentosa, terapi biomedis, terapi wicara, terapi perilaku
dan terapi okupasi

4.2 Saran
Dengan adanya makalah ini kelompok berharap kita sebagai tenaga
kesehatan mampu melakukan penatalaksaan yang tepat terhadap klien dengan
masalah autisme dan mampu memberikan atau membagi wawasan kepada
lingkungan dan keluarga tentang cara menangani klien dengan masalah
autisme.

29
DAFTAR PUSTAKA

http://e-journal.uajy.ac.id/1225/2/1TA12867.pdf
http://etheses.uin-malang.ac.id/2273/6/08410062_Bab_2.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/41174/Chapter%20II.pdf?s
equence=4&isAllowed=y

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=82607&val=970

http://sir.stikom.edu/134/5/BAB%20II.pdf

30