Anda di halaman 1dari 7

Analisis masalah

1. she is G6P4A1 and 32 weeks gestational age.

a. apakah pengaruh riwayat kehamilan yang banyak dengan kesehatan fetus saat ini ? etak ahadi

Kejadian abortus diduga mempunyai efek terhadap kehamilan berikutnya, baik pada
timbulnya penyulit kehamilan maupun pada hasil kehamilan itu sendiri. Wanita dengan riwayat
abortus mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya persalinan prematur, abortus
berulang, dan meningkatkan resiko berat badan lahir rendah (BBLR), (Cunningham, 2005).

b. apa saja faktor resiko terjadi abortus ? malina etak

Beberapa faktor resiko diduga merupakan faktor resiko dari kejadian abortus yaitu
(Cunningham et al 2006, Prawirohardjo, 2010).

1)Usia ibu
Usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun merupakan usia resiko untuk

hamil dan melahirkan. Wanita hamil kurang dari 20 tahun dapat merugikan kesehatan ibu
maupun pertumbuhan dan perkembangan janin karena belum matangnya alat reproduksi untuk
hamil. Penyulit pada kehamilan remaja (<20 tahun) lebih tinggi dibandingkan kurun waktu
reproduksi sehat antara 20-35 tahun. Keadaan tersebut akan makin menyulitkan bila ditambah
dengan tekanan (stress) psikologis, sosial, ekonomi, sehingga memudahkan terjadinya abortus
(Manuaba,1998).

Menurut Catanzarite (1999, health categories, 2009, ¶ 3) usia >30 tahun sering kali
mengalami kondisi kesehatan yang kronik (resiko tinggi). Tentu saja hal itu akan sangat
berpengaruh jika wanita tersebut hamil.

Menurut Samsulhadi (2003, health categories, 2009, ¶ 4) semakin lanjut umur wanita,
semakin tipis cadangan telur yang ada, indung telur juga semakin kurang peka terhadap
rangsangan gonadotropin. Makin lanjut usia wanita, maka resiko terjadi abortus makin
meningkat karena menurunnya kualitas sel telur atau ovum dan meningkatnya resiko kejadian
kelainan kromosom.

Menurut Dr.Nyol (2008, health categories, 2009, ¶ 9) semakin tua umur ibu berpengaruh
terhadap fungsi ovarium, dimana sel telur yang berkualitas akan semakin sedikit, yang berakibat
abnormalitas kromosom hasil konsepsi yang selanjutnya akan sulit berkembang.
Resiko terjadinya abortus spontan meningkat bersamaan dengan peningkatan jumlah
paritas, usia ibu, jarak persalinan dengan kehamilan berikutnya. Abortus meningkat sebesar 12%
pada wanita usia kurang dari 20 tahun dan meningkat sebesar 26% pada usia lebih dari 40 tahun.
Insiden terjadinya abortus meningkat jika jarak persalinan dengan kehamilan berikutnya 3 bulan
(Cunningham et al, 2006).

Menurut Prawirohardjo (2010) risiko ibu terkena aneoploidi adalah 1:80, pada usia di
atas 35 tahun karena angka kejadian kelainan kromosom/trisomi akan meningkat setelah usia 35
tahun.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mulyati (2003, dalam Firman 2011) di Lima Rumah
Sakit di Jakarta mendapatkan bahwa terdapat hubungan bermakna (p=0,004) antara usia ibu
dengan kejadian abortus serta ibu dengan kelompok usia <20 dan >35 tahun memiliki resiko 1,9
kali lebih besar dibanding kelompok usia 20-35 tahun.

Penelitian lainnya oleh Nurjaya, Muliaty dan Saniah (2006) di RSIA Siti Fatimah
Makassar tahun 2006 menyatakan bahwa ibu hamil dengan usia <20 tahun dan >35 tahun
mempunyai resiko abortus 3,808 kali lebih besar dibanding ibu hamil dengan usia 20-35 tahun,
dan terdapat hubungan bermakna usia terhadap kejadian abortus

2) Paritas Ibu

Menurut Wikjasastro (1999, dalam Taharuddin, 2012, ¶ 6) setiap kehamilan yang disusul
dengan persalinan akan menyebabkan kelainan- kelainan pada uterus, dalam hal ini kehamilan
yang berulang-ulang menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah dinding uterus yang
mempengaruhi sirkulasi nutrisi kejanin dimana jumlah nutrisi akan semakin berkurang dibanding
kehamilan sebelumnya.

Menurut Prawirohardjo (1999, dalam Taharuddin, 2012, ¶ 8) paritas <1 dan paritas >3
memiliki kompilikasi persalinan. Kehamilan yang berulang (paritas tinggi) akan membuat uterus
menjadi renggang, sehingga dapat menyebabkan kelainan letak janin dan plasenta yang akhirnya
akan berpengaruh buruk pada kesehatan janin dan pada proses persalinan. Hal–hal tersebut dapat
menimbulkan komplikasi yang dapat menjadi penyulit dalam persalinan dan menjadi indikasi
dilakukannya operasi caesar. Paritas 2 –3 merupakan paritas paling aman di tinjau dari sudut
kesehatan dan kematian maternal, tetapi ini akan berkurang tingkat keamanannya apabila
persalinan sebelumnya telah melalui bedah caesar sehingga masih perlu untuk tetap
memperhatikan kondisi kesehatan ibu selama kehamilan dan saat persalinan.

Menurut Mulyati (2003, dalam Firman, 2011) semakin banyak jumlah kelahiran yang
dialami seorang ibu semakin tinggi resikonya untuk mengalami komplikasi kehamilan,
persalinan dan nifas. Persalinan kedua dan ketiga merupakan persalinan yang aman, sedangkan
risiko terjadinya komplikasi meningkat pada kehamilan, persalinan, dan nifas setelah yang ketiga
dan seterusnya. Demikian juga dengan paritas 0 dan lebih dari 4 merupakan kehamilan risiko
tinggi.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mulyati (2003, dalam firman 2011) di Lima Rumah
Sakit di Jakarta mendapatkan ibu hamil yang paritasnya <1 dan >3 mempunyai resiko abortus
1,2 kali dibanding ibu hamil yang paritasnya 1-3 kali, tetapi secara statistik tidak bermakna
(p=0,447).

Hasil penelitian lainnya oleh Nurjaya, et al. (2006) di RSIA Siti Fatimah Makassar
menyatakan bahwa ibu hamil yang paritasnya >3 mempunyai resiko abortus 5,534 kali lebih
besar dibanding ibu hamil yang paritasnya <3 kali, dan terdapat hubungan bermakna paritas
terhadap kejadian abortus.

2 Obstetric examination :

External examination : cephalic presentation,FHR 140x/m , no uterine contraction

Laboratory examination : Hb 8,6 g/dl ; WBC 9.600 /mm ; Ht 25,8% ;MCV = 70 fl ; MCH = 23
PG ; MCHC = 29 g/dl; Ferritin : 7 ng /mL , TIBC : 400UG/dL, SI : 260 UG/L

Peripheral blood smear : hypochromic microcytic anemia

a. Bagaimana cara pemeriksaan FHR? Etak ahadi

Alat yang dapat digunakan dalam pemeriksaan detak jantung janin adalah sebagai
berikut:
 Stetoskop Laennec
Salah satu alat yang dirancang khusus untuk mendengarkan detak jantung secara
manual, hanya saja baru dapat digunakan pada usia kehamilan 17-22 minggu.Cara
pemeriksaan dengan menggunakan ini memiliki kekurangan yaitu baru dapat bekerja
pada usia kehamilan memasuki 4 bulan.
Adapun cara pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop leanec yaitu ibu hamil
dapat berbaring dengan posisi telentang kemydian pemeriksaaan dengan menggunakan
leopold untuk menentukan posisi punggung janin. Sedangkan untuk meletakan stetoskop
sendiri pada daerah sekitar punggung janin dan mulai menghitung detak jantung janin,
hasilnya dicatat untuk mengetahui gambaran kondisi janin.
 Ultrasonografi
Selanjutnya adalah dengan menggunakan USG yang memberikan manfaat untuk
dunia kedokteran dengan menggunakan gelombang ultrasonik yang menggunakan
gelombang suara kemudian hasilnya akan ditampilkan dalam bentuk gambar di dalam
monitor.
Jenis pemeriksaan USG dapat dibagi menjadi empat bagian.Pertama adalah USG dengan
menggunakan 2 dimensi, dengan menghasilkan gambar dua bidang yaitu melintang dan
memanjang. Kualitas gambar yang baik dan juha memberikan kondisi gambaran janin
dilayar.Sedangkan pemeriksaan USG 3 dimensi mendapatkan tambahan dari USG
sebelumnya,yaitu adanya gambar tampilan yang mirip dengan aslinya.Permukaan suatu
benda dapat dilihat dengan jelas dan posisi janin berada.Hal ini karena hasil dapat
memperlihatkan posisi janin dalam beberapa sisi.
Selanjutnya adalah USG dengan menggunakan 4 dimensi. Kondisi ini sama
dengan USG 3 dimensi hanya saja dapat menghasilkan gambar bergerak ,sehingga
gambar statis dan sementara pada USG 4 dimensi dapat bergerak jadi lebih jelas dan
dapat membayangkan dengan langsung kondisi janin di dalam rahim anda. Terakhir
adalah USG doppler yaitu mengutamakan pengukuran aliran darah yang terutama dari
aliran tali pusat.Dengan menggunakan alat ini dapat diketahui keadaan dan pertumbuhan
janin yang sesua dengan usia janin. Penilaian dengan alat ini dapat meliputi gerakan
janin, tonus, cairan ketuban,reaktivitas denyut jantung janin dan juga saat tepat ketika
dilakukan pemeriksaan.
Pemeriksaan denyut jantung dengan menggunakan alat ultrasonografi dapat dilakukan
pada trimester pertama, trimester kedua dan trimester ketiga dengan fungsi dan manfaat
yang berbeda.Pada trimester pertama dapat memastikan tanda pasti kehamilan,
mengetahui keadaan janin, jumlah janin,lokasi hamil dan juga tanda kehamilan. Bahkan
dapat mengetahui keadaan rahim dan juga organ disekitarnya. Melakukan penapisan awal
dengan mengukur ketebalan selaput lendir dan sebagainya.
Sedangkan pada trimester kedua dapat mengetahui penapisan secara menyerluruh,
mengukur panjang serviks dan menentukan lokasi plasenta. Terakhir pada trimester akhir
yang dapat menilai kesejahteraan janin, mengukur biometri janin dan melihat serta
menentukan posisi janin dan tali pusat serta menilai posisi plasenta.
 Deteksi Jantung Menggunakan NST
Untuk mengetahui denyut jantung selanjutnya adalah dengan pemeriksaan janin
dengan menggunakan kardiotokografi pada usia kehamilan kurang lebih 32 minggu.
Pemeriksaan ini juga berhubungan dengan perubahan pada denyut jantung dan juga
gerakan janin yang mampu membantu dalam persiapan persalinan.
Tujuan dari pemeriksaan ini adalah dengan menilai gambaran detak jantung janin dan
aktivitas janin. Bahkan dapat membantu dalam menilai gerakan aktivitas normal sesuai
respon.Adapun cara menilai dan melakukan persiapan test ini adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan dilakukan pada saat pagi hari setelah sarapan.Sedangkan prosedurnya
sendiri dimana ibu hamil tidur santai dalam kondisi miring 45 derajat kekiri. Kemudian
tekanan darah diukur dalam 10 menit sekali,dipasang kardio dan juga
tokodinamometer.Kemudian frekuensi jantung dicatat dan pemantauan dilakukan selama
30 menit.Pemeriksaan ini dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan hasil NST secara
individual. Hasil akan dibagi berdasarkan dari catatan pengamatan yang dilakukan yaitu
reaktif, tidak reaktif dan juga sinusoidal.Sedangkan untuk hasil pemeriksaan NST yang
abnormal apabila ditemukan terjadinya bradikardi atau deselerasi 40 atau baseline dimana
detak jantung janin 90 dpm yang lamanya 60 detik bahkan lebih.
 Pemeriksaan Menggunakan Alat Doppler
Detak jantung janin juga dapat diketahui berdasarkan fetal doppler yaitu alat yang
digunakan dalam menentukan detak jantung janin pada ibu hamil dengan menggunakan
sensor ultrasound dengan frekunsi yang dapat mendeteksi detak jantung janin dan
memberikan manfaat sesuai dengan yang dipancarkan oleh sensor ultrasound.
Alat yang digunakan dalam pemeriksaan doppler diantaranya adalah doppler dan jelly.
Sedangkan untuk langkah-langkah pemeriksaan diantaranya adalah dengan
membaringkan ibu hamil dengan posisi telentang dan memberikan jelly pada doppler
yang digunakan. Bahkan dapat menempelkan doppler pada perut ibu hamil di daerah
punggung janin. Kemudian meletakan jantung janin dengan mendengar detak jantung
janin kurang lebih selama satu menit.Selanjutnya dilanjutkan dengan mengetahui detak
jantun janin dan memberikan hasil dari pemeriksaan.
Apabila ditemukan hasil dalam detak jantung janin yang terdengar atau tidak
adanya pergerakan bayi maka pasien dapat dirujuk ke rumah sakit untuk dapat
mendapatkan keteranngan penyebab dari kondisi yang dialami oleh pasien.
Dengan demikian pemeriksaan detak jantung janin sangat penting untuk mengetahui
kondisi kesehatan janin di dalam kandungan.Hanya saja untuk menentukan usia
kehamilan dengan metode detak jantung janin mengalami kesulitan karena detak jantung
janin baru dapat terdeteksi pada kehamilan memasuki usia 4 bulan bahkan lebih setiap
individu mengalami perbedaan.

Hipotesis : mrs siti 34 tahun hamil 32 minggu dengan keluhan lemas dan pusing diduga
menderita anemia defisiensi besi ec kekurangan asupan nutrisi

a. Patofisiologi etak latnud


Salah satu penyebab yang dapat mempercepat terjadinya anemia pada wanita
adalah jarak kelahiran pendek. Menurut Kramer (1987) hal ini disebabkan kekurangan
nutrisi yang merupakan mekanisme biologis dan pemulihan factor hormonal dan adanya
kecendrungan bahwa semakin dekat jarak kehamilan, maka akan semakin tinggi angka
kejadian anemia.
Jarak kehamilan yang terlalu dekat menyebabkan ibu mempunyai waktu singkat
untuk memulihkan kondisi rahimnya agar bisa kembali ke kondisi sebelumnya. Pada ibu
hamil dengan jarak yang terlalu dekat beresiko terjadi anemia dalam kehamilan. Karena
cadangan zat besi ibu hamil pulih. Akhirnya terkuras untuk keperluan janin yang
dikandungnya.
Menurut Ammarudin (2004) resiko untuk menderita anemia berat dengan ibu
hamil dengan jarak kurang dari 24 bulan dan 24 - 35 bulan sebesar 1,5 kali dibandingkan
ibu hamil dengan jarak kehamilan lebih dari 36 bulan. Hal ini dikarenakan terlalu dekat
jarak kehamilan sangat berpengaruh terhadap kesiapan organ reproduksi ibu.

b. Manifestasi klinis ipeh etak


Manifestasi klinis dari anemia defisiensi besi sangat bervariasi, bisa hampir tanpa
gejala, bisa juga gejala-gejala penyakit dasarnya yang menonjol, ataupun bisa ditemukan
gejala anemia bersama-sama dengan gejala penyakit dasarnya. Gejala-gejala dapat berupa
kepala pusing, palpitasi, berkunang-kunang, perubahan jaringan epitel kuku, gangguan
sistem neurumuskular, lesu, lemah, lelah, disphagia dan pembesaran kelenjar limpa.
Berkurangnya hemoglobin menyebabkan gejala-gejala umum seperti keletihan,
palpitasi, pucat, tinitus, dan mata berkunang-kunang disamping itu juga dijurnpai gejala
tambahan yang diduga disebabkan oleh kekurangan enzim sitokrom, sitikrom C oksidase
dan hemeritin dalam jaringan-jaringan, yang bersifat khas seperti pusing kepala,
parastesia, ujung jari dingin, atropi papil lidah.