Anda di halaman 1dari 11

I.

TUJUAN PRAKTIKUM
Adapun tujuan praktikum yang kami lakukan adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan memahami respon hewan coba terhadap efek obat
diuretik
2. Untuk mengetahui onset dan durasi obat spironolakton terhadap hewan coba

II. DASAR TEORI

Diuretik merupakan golongan obat yang berfungsi untuk mendorong produksi

air seni (KBBI.web.id). Diuretik merupakan obat-obatan yang dapat meningkatkan

laju aliran urin. Golongan obat ini menghambat penyerapan ion natrium pada

bagianbagian tertentu dari ginjal. Oleh karena itu, terdapat perbedaan tekanan osmotik

yang menyebabkan air ikut tertarik, sehingga produksi urin semakin bertambah

(Satyadharma, 2014). Diuretik juga bisa diartikan sebagai obat-obat yang

menyebabkan suatu keadaan meningkatnya aliran urin. Obat-obat ini menghambat

transport ion yang menurunkan reabsorpsi Na+ pada bagian-bagian nefron yang

berbeda. Akibatnya Na+ dan ion lain seperti Cl- memasuki urin dalam jumlah lebih

banyak dibandingkan bila keadaan normal bersama-sama air yang mengangkut secara

pasif untuk mempertahankan keseimbangan osmotik (Pamela dkk., 1995).

Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan edema yang berarti

mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel

kembali menjadi normal (Farmakologi dan terapi, 2012)

2.1 Faktor yang Mempengaruhi Respon Diuretik

Terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi respon diuretik. Pertama,

tempat kerja diuretik di ginjal. Diuretik yang bekerja pada daerah yang reabsorbsi

natrium sedikit, akan memberi efek yang lebih kecil bila dibandingkan dengan
diuretik yang bekerja pada daerah yang reabsorbsi natrium banyak. Kedua, status

fisiologi dari organ. Misalnya dekompensasi jantung, sirosis hati, gagal ginjal.

Dalam keadaan ini akan memberikan respon yang berbeda terhadap diuretik. Ketiga,

interaksi antara obat dengan reseptor (Siregar, P., W.P., R. Oesman, R.P. Sidabutar ,

2008).

2.2 Mekanisme Kerja Diuretik

Diuretik menghasilkan peningkatan aliran urin (diuresis) dengan menghambat

reabsorpsi natrium dan air dari tubulus ginjal. Kebanyakan reabsorpsi natrium dan

air terjadi di sepanjang segmen-segmen tubulus ginjal (proksimal, ansa henle dan

distal) (Kee dan Hayes, 1996)

1) Tubuli proksimal

Garam direabsorpsi secara aktif (70%), antara lain Na+ dan air, begitu

pula glukosa dan ureum. Karena reabsorpsi berlangsung proporsional,

maka susunan filtrat tidak berubah dan tetap isotonis terhadap plasma.

Diuretika osmosis (manitol, sorbitol) bekerja disini dengan merintangi

reabsorpsi air dan natrium (Tjay dan Rahardja, 2002).

2) Lengkungan Henle

Di bagian menaik lengkungan Henle ini, 25 % dari semua Cl- yang

telah difiltrasi direabsorpsi secara aktif, disusul dengan reabsorpsi pasif

dari Na+ dan K+, tetapi tanpa air, hingga filtrat menjadi hipotonis.

Diuretika lengkungan (furosemida, bumetamida, etakrinat) bekerja dengan

merintangi transport Cl-, dan demikian reabsorpsi Na+, pengeluaran K+,

dan air diperbanyak (Tjay dan Rahardja, 2002).

3) Tubuli distal
Di bagian pertama segmen ini, Na+ direabsorpsi secara aktif tanpa air

hingga filtrat menjadi lebih cair dan hipotonis. Senyawa thiazida dan

klortalidon bekerja di tempat ini (Tjay dan Rahardja, 2002). Di bagian

kedua segmen ini, ion Na+ ditukarkan dengan ion K+ atau, proses ini

dikendalikan oleh hormon anak ginjal aldosteron. Antagonis aldosteron

(spironolakton) dan zat-zat penghemat kalium (amilorida, triamteren)

bekerja disini (Tjay dan Rahardja, 2002).

4) Saluran pengumpul

Hormon antidiuretik vasopresin dari hipofise bekerja di saluran

pengumpul dengan jalan mempengaruhi permeabilitas bagi air dan sel-sel

saluran ini (Tjay dan Rahardja, 2002).

2.3 Frekuensi Volume Urin Normal

Volume urin tergantung pada jumlah air diekskresikan oleh ginjal. Air adalah

komposisi utama. Oleh karena itu, banyaknya eskresi oleh tubuh tergantung dari

hidrasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi volume urin meliputi asupan cairan,

kehilangan cairan yang bukan bersumber dari ginjal, variasi yang tergantung dari

antidiuretik hormon (ADH), dan kebutuhan untuk mengeluarkan jumlah

peningkatan zat terlarut seperti glukosa atau garam.

Volume urin normal pada manusia yaitu pada anak-anak volumenya adalah

500-1400 mL / hari, sedangkan pada orang dewasa volumenya adalah 800-2500 mL

/ hari.

2.4 Penggolongan Diuretik

Secara umum dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu

penghambat mekanisme transport elektrolit dalam tubuli ginjal dan diuretik osmosis.

2.4.1 Diuretik Penghambat Mekanisme Transport Elektrolit dalam Tubuli Ginjal.


Golongan obat diuretik ini , digolongkan kedalam beberapa golongan ,

yaitu :

1. Benzotiazid

Bezotiazid merupakan diuretik turunan tiazida adalah saluretik,

yang dapat menekan absorpsi kembali ion-ion Na+, Cl- dan air.

Turunan ini juga meningkatkan ekskresi ion-ion K+, Mg++ dan

HCO3- dan menurunkan eksresi asam urat (Siswandono dan

Soekardjo, 2000).

Diuretik turunan tiazida terutama digunakan untuk pengobatan

udem pada keadaan dekompensasi jantung dan sebagai penunjang

pada pengobatan hipertensi karena dapat mengurangi volume darah

dan secara langsung menyebabkan relaksasi otot polos arteriola.

Turunan ini dalam sediaan sering dikombinasi dengan obat-obat

antihipertensi, seperti reserpin dan hidralazin, untuk pengobatan

hipertensi karena menimbulkan efek potensiasi (Siswandono dan

Soekardjo, 2000).

Diuretik turunan tiazida menimbulkan efek samping

hipokalemi, gangguan keseimbangan elektrolit dan menimbulkan

penyakit pirai yang akut (Siswandono dan Soekardjo, 2000).

Diuretik turunan tiazida mengandung gugus sulfanil sehingga

menghambat enzim karbonik anhidrase. Juga diketahui bahwa efek

saluretik terjadi karena adanya pemblokkan proses pengangkutan

aktif ion klorida dan absorpsi kembali ion yang menyertainya pada

lengkungan Henle, dengan mekanisme yang belum jelas

kemungkinan karena peran dari prostaglandin. Turunan tiazida juga

menghambat enzim karbonik anhidrase di tubulus distalis tetapi


efeknya relatif lemah. Contohnya adalah Hidroklorotiazid (HCT),

bendroflumetiazid (naturetin), xipamid (diurexan), indapamid

(natrilix), klopamid, klortalidon (Siswandono dan Soekardjo, 2000).

2. Diuretik Kuat

Diuretik kuat mencakup sekelompok diuretic yang efeknya

sangat kuat dibandingkan dengan diuretic lain. Tempat kerja

utamanya dibagian epitel tebal lengkung henlebagian asenden, oleh

karena itu golongan obat ini disebut juga sebagai loop diuretic. Obat

yang termasuk dalam golongan ini adalah furosemid, toremid, asam

etakrinat, dan bumetanid (Farmakologi dan terapi, 2012)

Diuretik lengkung Henle merupakan senyawa saluretik yang

sangat kuat, aktivitasnya jauh lebih besar dibanding turunan tiazida

dan senyawa saluretik lain. Turunan ini dapat memblok

pengangkutan aktif NaCl pada lengkung Henle sehingga

menurunkan absorpsi kembali NaCl dan meningkatkan ekskresi

NaCl lebih dari 25% (Siswandono dan Soekardjo, 2000). Diuretik

lengkung Henle menimbulkan efek samping yang cukup serius,

seperti hiperurisemi, hiperglikemi, hipotensi, hipokalemi,

hipokloremik alkalosis, kelainan hematologis dan dehidrasi.

Biasanya digunakan untuk pengobatan udem paru yang akut, udem

karena kelainan jantung, ginjal atau hati, udem karena keracunan

kehamilan, udem otak dan untuk pengobatan hipertensi ringan.

Untuk pengobatan hipertensi yang sedang dan berat biasanya

dikombinasikan dengan obat antihipertensi (Siswandono dan

Soekardjo, 2000).

3. Diuretik Hemat Kalium


Diuretik hemat kalium adalah senyawa yang mempunyai

aktivitas natriuretik ringan dan dapat menurunkan sekresi ion H+

dan K+. Senyawa tersebut bekerja pada tubulus distalis dengan cara

memblok penukaran ion Na+ dengan ion H+ dan K+, menyebabkan

retensi ion K+ dan meningkatkan sekresi ion Na+ dan air

(Siswandono dan Soekardjo, 2000). Aktivitas diuretiknya relatif

lemah, biasanya diberikan bersama-sama dengan diuretik tiazida.

Kombinasi ini menguntungkan karena dapat mengurangi sekresi ion

K+ sehingga menurunkan terjadinya hipokalemi dan menimbulkan

efek aditif. Obat golongan ini menimbulkan efek samping

hiperkalemi, dapat memperberat penyakit diabetes dan pirai, serta

menyebabkan gangguan pada saluran cerna (Siswandono dan

Soekardjo, 2000).

Diuretik hemat kalium bekerja pada saluran pengumpul,

dengan mengubah kekuatan pasif yang mengontrol pergerakan ion-

ion, memblok absorpsi kembali ion Na+ dan ekskresi ion K+

sehingga meningkatkan ekskresi ion Na+ dan Cl dalam urin.

Diuretik hemat kalium dibagi menjadi dua kelompok, yaitu

diuretika dengan efek langsung, contohnya adalah amilorid dan

triamteren, dan diuretika antagonis aldosteron, contohnya adalah

spironolakton (Siswandono dan Soekardjo, 2000).

4. Penghambat Karbonik Anhidrase

Senyawa penghambat karbonik anhidrase adalah saluretik,

digunakan secara luas untuk pengobatan sembab yang ringan dan

moderat, sebelum diketemukan diuretik turunan tiazida. Efek

samping yang ditimbulkan golongan ini antara lain adalah gangguan


saluran cerna, menurunnya nafsu makan, parestisia, asidosis

sistemik, alkalinisasi urin dan hipokalemi. Adanya efek asidosis

sistemik dan alkalinisasi urin dapat mengubah secara bermakna

perbandingan bentuk terionisasi dan yang tak terionisasi dari obat-

obat lain dalam cairan tubuh, sehingga mempengaruhi

pengangkutan, penyimpanan, metabolisme, ekskresi dan aktivitas

obat-obat tersebut (Siswandono dan Soekardjo, 2000).

Penggunaan diuretik penghambat karbonik anhidrase terbatas

karena cepat menimbulkan toleransi. Sekarang diuretik penghambat

karbonik anhidrase lebih banyak digunakan sebagai obat penunjang

pada pengobatan glaukoma, dikombinasikan dengan miotik, seperti

pilokarpin, karena dapat menekan pembentukanaqueus humour dan

menurunkan tekanan dalam mata. Contoh diuretik penghambat

karbonik anhidrase adalah asetazolamid, metazolamid, etokzolamid,

diklorfenamid (Siswandono dan Soekardjo, 2000).

2.4.2 Diuretik Osmosis

Diuretik osmosis adalah senyawa yang dapat meningkatkan ekskresi

urin dengan mekanisme kerja berdasarkan perbedaan tekanan osmosa.

Diuretik osmosis mempunyai berat molekul yang rendah, dalam tubuh

tidak mengalami metabolisme, secara pasif disaring melalui

kapsula Bowman ginjal, dan tidak dapat direabsorpsi kembali oleh tubulus

renalis. Bila diberikan dalam dosis besar atau larutan pekat akan menarik

air dan elektrolit ke tubulus renalis yang disebabkan oleh adanya perbedaan

tekanan osmosa sehingga terjadi dieresis (Siswandono dan Sukardjo, 1995).

Diuretik osmotik adalah natriuretik, dapat meningkatkan ekskresi

natrium dan air. Efek samping diuretika osmotik antara lain adalah
gangguan keseimbangan elektrolit, dehidrasi, mata kabur, nyeri kepala dan

takikardia. Contoh diuretik osmosis: manitol, gliserin, isosorbid, dan urea

(Siswandono dan Sukardjo, 2000).

2.5 Spironolakton

Spironolakton merupakan obat diuretik yang termasuk golongan diuretika

penghemat kalium. Obat ini memiliki efektivitas yang rendah dan lambat tetapi

karena dalam dosis 100mg menyebabkan frekuensi diuretik yang lebih besar, namun

bila obat ini dalam dosis rendah, sebaiknya dikombinasikan dengan golongan

derivate thiazida agar efektivitasnya meningkat. Dimana spironolakton praktis tidak

larut dalam air, larut dalam 80 bagian etanol (95%) P, dalam 3 bagian kloroform P

dan dalam 100 bagian eter P.

Farmakodinamik Spironolakton yaitu 70% spironolakton oral diserap

disaluran cerna, mengalami sirkulasi enterohepatik dan metabolisme lintas pertama.

Ikatan dengan protein cukup tinggi. Metabolit utamanya, kanrenon, memperlihatkan

aktivitas antagonis aldosteron dan turut berperan dalam aktivitas biologik

spironolakton (Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 2007).

Farmakokinetik spironolakton dimana penghambat kompetetif terhadap

aldosteron. Obat ini hanya efektif bila terdapat aldosteron baik endogen maupun

eksogen dalam tubuh dan efeknya dapat dihilangkan dengan meninggikan kadar

aldosteron. Jadi dengan pemberian antagonis aldosteron, reabsorpsi Na+ dan K+

dihilir tubuli distal dan duktus koligentes dikurangi, dengan demikian ekskresi K+

juga berkurang.

III. METODELOGI
3.1 Tempat dan Waktu Praktikum
Tempat : Laboratorium Akademi Farmasi Saraswati Denpasar
Tanggal : Rabu, 28 Maret 2018
Waktu : 09.10 – 10.50 WITA
3.2 Alat dan Bahan
a. Alat
Adapun alat yang digunakan selama praktikum farmakologi ini yaitu,
sebagai berikut :
1. Alat suntik disposible
2. Stopwatch
3. Sangkar dan kandang marmut
4. Timbangan
5. Gelas ukur
6. Corong kaca
b. Bahan
Adapun bahan – bahan yang digunakan selama praktikum farmakologi ini
yaitu, sebagai berikut :
1. Spironolakton (100mg/tablet)
2. Aquadest
3.3 Cara Kerja
Adapun cara kerja praktikum farmakologi ini adalah, sebagai berikut :
1. Hewan coba diperlakukan dengan baik dan dilakukan pengamatan prilaku
respirasi, denyut nadi, salivasi, dan diameter pupil, kemudian dicatat
hasilnya.
2. Dilakukan pemberian obat melalui jalur oral dengan konsentrasi obat yang
telah ditentukan.
3. Kemudian dicatat pada menit keberapa hewan coba menunjukkan reaksi
diuretik.
4. Setelah hewan coba berhenti mengeluarkan urine diamati kembali prilaku,
respirasi, denyut nadi, salivasiserta diameter pupil, kemudian dicatat.

IV. Perhitungan Dosis


Berat badan hewan coba = 1,684 kg
Spironolakton = 100 mg/tablet
Dosis Teoritis = 1,684 kg x 100 mg/kg BB = 168,4 mg
Dosis Praktikum = 3 mg/kg BB x 1,684 kg
= 5,052 mg ≈ 5 mg
Pengenceran :
½ tablet spironolakton (50mg) diencerkan dengan aquadest hingga 10mL. Kandungan
50 𝑚𝑔
spironolakton = = 5 mg/mL diambil 1 mL
10 𝑚𝐿

V. Hasil Pengamatan

Perlakuan Sebelum diinjeksi Setelah diinjeksi


obat obat
Respirasi 97 kali/menit 75 kali/ menit

Sikap Tidak begitu aktif atau Tidak begitu aktif atau


lincah lincah
Denyut Nadi 116 kali/menit 109 kali/menit

Salivasi Tidak ada salivasi Tidak ada salivasi

Diameter pupil 0,7 cm 0,8 cm


Vertikal
Diameter pupil 0,7 cm 0,8 cm
Horizontal
Jumlah Urine (cc) - Tidak mengeluarkan
urine

Waktu Teoritis Praktikum


Onset 2 sampai 4 jam -
Durasi 2 sampai 3 hari -