Anda di halaman 1dari 31

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Bimbingan dan Konseling

1. Pengertian Bimbingan

Bimbingan dapat diartikan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk

dapat memilih, mempersiapkan diri, memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan

dalam jabatan yang dipilihnya itu (Frank Parson, dalam jones dalam Prayitno, 2015:93).

Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematik guna

membantu pertumbuhan anak muda atas kekuatannya dalam menentukan dan

mengarahkanhidupnya sendiri, yang pada akhirnya ia dapat memperoleh pengalaman-

pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat (Levever

dalam Prayitno, 2015:94).

Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, laki-laki atau perempuan,

yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu

setiap usai untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan

pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri

(Crow dan Crow 1960 dalam Prayitno, 2015:94)

Jadi, bimbingan menurut para ahli dapat disimpulkan bimbingan adalah proses

pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang
6
individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa: agar orang yang dibimbing dapat

mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri: dengan memanfaatkan kekuatan

individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan; berdasarkan norma-norma yang

berlaku (Prayitno, 2015:99)

2. Pengertian Konseling
Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara

seorang individu yang terganggu oleh karena masalah-masalah yang tidak dapat diatasinya

sendiri dengan seorang pekerja yang profesional, yaitu orang yang telah terlatih dan

berpengala man dan membantu orang lain mencapai pemecahan terhadap berbagai jenis

kesulitan pribadi (Maclean dalam Sherzer dan Stone dalam Prayitno, 2015:100).

Konseling merupakan bimbingan suatu proses dimana konselor membantu konseling

membuat interpretasi-interpretasi tentang fakta yang berhubungan dengan pilihan, rencana,

atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuatnya (Smith dalam Prayitno, 2015:100).

Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan

kebutuhan-kebutuhan, motivasi, dan potensi-potensi yang unik dari individu dan membantu

individu yang bersangkutan untuk mengapresiasi ketiga hal tersebut (Bernad dan Fullmer,

1969 dalam Prayitno, 2015:101).

Berdasarkan pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa konseling adalah proses

pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor)

kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah (klien) yang bermuara pada

teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien (Prayitno, 2015:101).

3. Tujuan Bimbingan Konseling

a. Tujuan Umum

Menurut (Hamrin dan Clifford, dalam Jones, 1951 dalam Prayitno, 2015:112) tujuan

Bimbingan dan Konseling secara umum yaitu untuk membantu individu membuat pilihan-

pilihan, penyesuaian-penyesuaian dan interpretasi-interpretasi dalam hubungannya dengan

situasi-situasi tertentu (Hamrin & Clifford, dalam Jones, 1951). Sedangkan menurut

(Bradshow dalam McDaniel, 1956 dalam Prayitno, 2015:112) tujuan bimbingan dan
konseling yaitu untuk memperkuat fungsi-fungsi pendidikan dan menurut (Tiedeman dalam

Bernard & Fullmer, 1969 dalam Prayitno, 2015:112) untuk membantu orang-orang menjadi

insan yang berguna, tidak hanya sekadar mengikuti kegiatan-kegiatas yang berguna saja.

b. Tujuan Khusus

Tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut

yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang

bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu. Tujuan bimbingan konseling

untuk seorang individu berbeda dari (dan tidak boleh disamakan) tujuan bimbingan dan

konseling untuk individu lainnya.

4. Hubungan bimbingan dan konseling dengan pendidikan

Tujuan pendidikan adalah perkembangan yang optimal dari setiap individu sesuai

dengan nilai-nilai yang dianutnya amsing-masing. Selanjutnya tujuan ini tidak akan tercapai,

jika kepada siswa diberikan sejumlah mata pelajaran saja apalagi tanpa administrasi dan

supervisi yang baik. Disekolah banyak ditemui mahasiswa dengan masalah-masalah yang

tidak hanya program pendidikan tetapi berkenaan dengan masalah lain seperti penyesuaian

sosial, emosional, pemilihan jurusan dan pemilihan lapangan kerja. Hal ini tidak akan dapat

disesuaikan dengan bidang administrasi dan supervisi saja tetapi terkait dengan bimbingan,

oleh karena itu erat hubungan antara kegiatan bimbingan dan konseling disekolah dengan

pendidikan pada umunya.

5. Azas-azas bimbingan konseling

Azas-azas Bimbingan dan Konseling adalah ketentuan-ketentuan yang harus

diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan itu. Apabila asas-asas itu diikuti dan

terselenggara dengan baik sangat dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada
pencapaian tujuan yang diharapkan; sebaliknya asas-asas itu diabaikan atau dilanggar sangat

dikhawatirkan kegiatan yang terlaksana itu justru berlawanan dengan tujuan bimbingan dan

konseling, bahkan akan dapat merugikan orang-orang yang terlibat didalam pelayanan, serta

profesi bimbingan dan konseling itu sendiri. Macam-macam Azas Bimbingan Dan Konseling

(Prayitno, 2015:115).

Azas-azas Bimbingan dan Konseling yang dimaksud dalam Dasar-dasar Bimbingan

dan Konseling (Hartono dan Soedarmadji, 2012:39-45), yaitu :

a. Azas Kerahasiaan

Segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disampaikan

kepada orang lain atau lebih-lebih hal atau keterangan yang tidak boleh atau tidak layak

diketahui orang lain. Azas kerahasiaan dapat tercapai apabila memenuhi syarat, sebagai

berikut:

1) Tempat harus terbatas dari kemungkinan yang berkaitan didengar orang lain selama

proses wawancara.

2) Data yang didapat tidak boleh diinformasikan lagi kepada pihak lain tanpa sepengetahuan

klien.

b. Azas Kesukarelaan

Bimbingan dan konseling terselenggara atas dasar kesukarelaan dan ketulusan dari kedua

belah pihak (klien dan konselor). Seorang konselor rela membantu mengidentifikasi

masalah dan seorang klien rela mengikuti bimbingan dari konselor.

c. Azas Keterbukaan

Bimbingan dan konseling diselenggarakan dalam suasana saling terbuka antara klien dan

pembimbing. Klien secara terus terang mengungkapkan segala informasi yang terkait

dengan masalah yang dihadapi begitu pula pembimbing harus secara terbuka melakukan

bimbingan.
d. Azas Kekinian

Masalah yang ditangani oleh pembimbing adalah yang sedang dialami atau dirasakan

oleh klien pada saat sekarang. Mengambil prinsip atau teori Gestau (hear and now) atau

disini dan sekarang dan hanya bisa atau boleh mengerjakan kasus mahasiswa pada saat

itu, dapat membahas masalah masa lalu dan masalah yang akan datang tetapi harus ada

kaitannya dengan masalah inti. Azas kekinian juga mengandung pengertian bahwa

konselor tidak boleh, menunda-nunda pemberian bantuan.

e. Azas kemandirian

Merupakan tujuan dari bimbingan dan konselling yaitu tercapainya kemandirian didalam

menghadapi dan memecahkan masalah yang dihadapinya, sehingga bimbingan dan

konseling mengarahkan untuk terjadinya kemandirian. Pelayanan bimbingan dan

konseling bertujuan menjadikan si terbimbing dapat berdiri sendiri, tidak tergantung pada

orang lain atau tergantung pada konselor. Individu yang dibimbing setelah dibantu

diharapkan dapat mandiri dengan ciri-ciri pokok mampu:

1) Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya

2) Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis

3) Mengambil keputusan untuk dan oleh sendiri

4) Mengarahkan diri sesuai dengan keputusan itu

5) Mewujudkan diri secara optimal dengan potensi, minat dan kemampuan-kemampuan

yang dimilikinya.

f. Azaz kegiatan

Didalam bimbingan konselilng klien dan atau konselor harus melakukan aktifitas-aktifitas

kegiatan tertentu jika menginginkan masalahnya terpecahkan. Azaz kegiatan ini harus

ditanamkan pada klien yang menjadi bimbingan dalam bimbingan harus ada kegiatan atau

aktifitas nyata dari mahasiswa.


g. Azas keterpaduan

Didalam pelayanan bimbingan dari konseling hendaknya pembimbing dapat memadukan

berbagai aspek kepribadian mahasiswa yang meliputi cita-cita, bakat, minat, dan potensi-

potensi.

h. Azas kedinamisan

Pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan tingkah laku

klien. Perubahan itu menuju kearah yang lebih baik yaitu perubahan yang menuju sesuatu

yang lebih baru, kreatif, dan lebih maju. Didalam bimbingan dan konseling diharapkan

terjadi kedinamisan selama wawancara. Dalam proses konseling yang baik perlu

menerapkan demokratis.

i. Azas kenormatifan

Upaya bimbingan dan konseling dilakukan dengan memperhatikan dan berpegang pada

norma-norma yang ada di masyarakat tersebut.

j. Azas alih tangan (referal)

Pelayanan bimbingan dan konseling dibatasi oleh keterbatasan-keterbatasanya

pembimbing, jika masalah sudah diluar jangkauanya, maka harus dilakukan alih tangan

dengan persetujuan klien selain itu tindakan referal dilakukan tidak hanya pada masalah

diluar jangkauan tetapi juga ketika teranferensi yang negatif dari klien pada konselor.

k. Azas keahlian

Pelayanan bimbingan dan konseling diberikan secara teratur dan sestimatis dengan

melakukan teknik serta peralatan yang memadai

l. Azas tut wuri handayani

Azas ini menunjuk pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan

keseluruhan antara konselor dan klien. Lebih-lebih dilingkungan di Perguruan Tinggi,

azas ini makin dirasakan keperluanya dan bahkan perlu dilengkapi dengan “ ing ngarso
sung tulodo. Ing madya mangun karso“. Azas ini menuntut agar pelayanan bimbingan

dan konseling tidak hanya dirasakan pada waktu klien mengalami masalah dan

menghadap kepada konselor saja, namun diluar hubungan proses bantuan bimbingan dan

konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya pelayanan bimbingan dan

konseling itu. Hakekat tut wuri handayani yaitu “pembimbing mengikuti apa-apa yang

diinginkanya oleh klien, sehingga kllien merasa aman, senang, dan nyaman (karena

diikuti pembimbingnya).”

6. Jenis-jenis masalah dan jenis bimbingan

a. Jenis-jenis masalah

Untuk mengtahui jenis-jenis bimbingan, perlu dipelajari lebih dahulu

tentang masalah-masalah yang dihadapi individu. Sehingga dengan mengenal

masalah-masalah yang menghadapi individu, akan memudahkan untuk menetukan

jenis bimbingan mana yang tepat untuk mencegahkan masalah-masalah tersebut.

Pada umumnta jenis-jenis masalah yang dihadapi individu, terutama yang

dihadapi meurid sekolah, dapat digolongkan menjadi beberapa jenis masalah

sebagai berikut :

1) Masalah pengajaran atau belajar

Dalam pembuatan belajar dapat timbul berbagai masalah baik bagi

pelajar iru sendiri maupun bagi pelajar. Beberapa masalah belajar mengajar,

misalnya bagaimana menciptakan kondisi yang baik agar perbuatan belajar

berhasil memilih metode dan alat0alat yang tepat sesuai dengan jenis dan

situasi belajar dan sebagainya. Bagi murid sendiri sering mengalami berbagai

kesulitan dalam menghadapi kegiatan pelajaran misalnya, dalam cara

membagi waktu belajar, memilih materi yang sesuai, belajar kelompok,


menyusun catatan, mengerjakan tugas-tugas, cara menggunakan buku-buku

pelajaran dan sebagainya.

2) Masalah pendidikan

Dalam hubungan ini individu mengalamai berbagai kesulitan yang

berhubungan dengan kegiatan pendidikan pada umumnya. Ketika anak

memasuki situasi sekolah yang baru ia dihadapkan pada beberapa masalah,

misalnya : menyesuaikan sekolah baru, pelajaran baru, tata tertib sekolah,

guru-guru, dsb. Dalam keseluruhan program pendidikan di sekolah, murid-

murid akan menghadapi masalah-masalah, seperti memillih kegiatan ekstra

kulikuler, memilih program studi yang cocok, mencar teman belajar yang

cocok, dsb. Pada akhir pendidikn murid-murid akan berhadapan dengan

berbagai masalah, misalnya memilihnstudi lanjut, memilih jenis-jenis latihan

tertentu, untuk kegiatan tertentu dan memilih pendidikan tertentu untuk

pekerjaan tertentu. Demikian masalah kelambatan belajar yang dialami murid-

murid yang tergolong lambat dan terlampau cepat dalam belajarnya.

Semuanya termasuk masalah-masalah pendidikan. Masalah ini banyak dialami

oleh murid-murid sekolah pada umumnya.

3) Masalah pekerjaan

Masalah-masalh ini berhubungan dengan memilih pekerjaan. Misalnya

dalam memilih latihan-latihan tertentu untuk pekerjaan tertentu, memilih

jenis-jenis pekerjaan yang cocok dengan dirinya, mendapatkan penjelasan

tentang jenis pekerjaan, penempatan dalam pekerjaan tertentu dan

memperoleh penyesuainan yang baik dalam lingkungan pekerjaan tertentu.

Pada umumnya masalah pekerjaan ini dirasakan oleh murid-murid sekolah,

terutama murid-murid di Sekolah Mengengah Atas dan Perguruan Tinggi.


Tetepi murid-murid sekolah menengah pertama pun tidak sedikit yang

menghadapi pasalah pekerjaan ini. Bahkan murid-murid Sekolah Dasar juga

banyak yang tidak lepas dari masalah ini, terutama murid-murid yang tidak

melanjutkan pendidikan mereka.

4) Masalah penggunaan waktu senggang

Masalah ini dirasakan oleh murid dalam menghadapi waktu-waktu

luang yang tidak terisi oleh suatu kegiatan tertentu. Yang menjadi persoalan

adalah bagaimana cara mengisi waktu-waktu tersebut dengan kegiatan-

kegiatan yang bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat

di lingkungannya. Ketidakmampuan menggunakan waktu senggang kadang-

kadang dapat menimbulkan masalah-masalah yang lebih besar lagi, misalnya

kenakalan anak, melamun dan sebagainya. Masalah penggunaan waktu

senggang misalnya bagaimana merencanakan suatu kegiatan dalam waktu

luang, mengisi waktu luang dan memilih kegiatan yang cocok. Murid-murid di

sekolah pada umumnya banyak menghadapi masalah ini, terutama pada waktu

hari libur dan di luar jam pelajaran.

5) Masalah sosial

Kadang-kadang murid menghadapi kesulitan dalam hubungannya

dengan individu lain atau dengan lingkungan sosialnya. Masalah ini timbul

karena kekurangan kemapuan murid berhubungan dengan lingkungan

sosialnya atau lingkungan sosial itu sendiri kurang sesuai dengan keadaan

dirinya. Misalnya kesulitan dalam mencari teman belajar, teman bermain,

merasa terasingkan dalam pekerjaan-pekerjaan kelompok dan sebagainya. Kita

serng menjumpai murid-murid yang sebetulnya pandai dalam pelajaran,

teteapi kurang mampu untuk berhubungan dengan teman-temannya. Ia kurang


disenangi dalam pergaulan. Masalah-masalah tersebut disebut masalah sosial

dan merupakan salah satu jenis masalah yang sering dihadapi murid-murid.

6) Masalah pribadi

Dalam situasi tertentu murid diharapkan pada suatu kesulitan yang

bersumber dari dalam dirinya. Masalah-masalah itu timbul karena individu

merasa kurang berhasil dalam menghadapi dan menyesuaikan diri dengan hal-

hal dari dalam menghadapi dan menyesuaikan diri dengan hal-hal dari dalam

dirinya sendiri. Misalnya konflik berlarut-larut dan gejala-gejala frustasi

merupakan sumber timbulnya masalah-masalah pribadi lain. Masalah-masalah

ini sering dialami para pemuda pada waktu menjelang masa adolesensi yang

ditandai dengan perubahan-perubahan yang cepat baik fisik maupun mental.

Pada umumnya masalah pribadi ini timbul karena individu tidak berhasil

dalam mempertemukan antara aspek-aspek pribadi di satu pihak dan keadaan

lingkungan di pihak lain.

b. Jenis bimbingan

Jenis bimbingan dibedakan menjadi 3 yaitu :

1) Bimbingan pendidikan (Education Guidance)

Dalam hal ini bantuan yang dapat diberikan kepada anak dalam

bimbingan pendidikan berupa informasi pendidikan, cara belajar yang efektif,

pemilihan jurusan, lanjutan sekolah, mengatasi masalah belajar,

mengambangkan kemampuan dan kesanggupan secara optimal dalam

pendidikan atau membantu agar para siswa dapat sukses dalam belajar dan

mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan sekolah.


2) Bimbingan pekerjaan

Bimbingan pekerjaan merupakan kegiatan bimbingan yang pertama,

yang dimuali oleh Frank Parson pada tahun 1908 di Boston, Amerika Serikat.

Departemen tenaga kerja di negara ini telah mempelopori bimbingan

pekerjaan bagi kaum muda agar mereka memiliki bekal untuk terjun ke

masyarakat.

3) Bimbingan pribadi

Bimbingan pribadi merupakan batuan yang diberikan kepada siswa

untuk membangun hidup pribadinya, seperti motivasi, persepsi tentang diri,

gaya hidup, perkembangan nilai-nilai moral/ adama dan sosial dalam diri,

kemampuan mengerti dan menerima diri orang lain, serta membantunya untuk

memecahkan masalah pribadi yang ditemuinya. Ketepatan bimbingan ini lebih

terfokus pada pengembangan pribadi, yaitu membantu para siswa sebagai diri

untuk belajar mengenalkan dirinya, belajar mengenalkan dirinya dan belajar

menerapkan dirinya dalam proses penyesuaian yang produktif terhadap

lingkungannya.

Dalam bimbingan pribadi ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok berikut:

a) Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawancara dalam

beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME.

b) Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangan untuk

kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif, baik dalam kehidupan

sendiri-diri maupun untuk peranya masa depan.

c) Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan usaha

penanggulanganya.

d) Pemantapan kemampuan mengambi keputusan.


e) Pemantapan kemampuan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang

diambilnya.

f) Pemantapan kemampuan berkomunikasi, baik melalui lisan maupun

tulisan secara efektif.

g) Pemantapan kemampuan menerima dan menyampaikan pendapat serta

beragumentasi secara dinamis, kreatif dan produktif.

7. Kode etik bimbingan dan konseling

Etika adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang masalah yang baik dan

tidak baik. Tingkah laku manusia sesuai dengan norma maka tingkah laku itu disebut baik

sebaliknya jika tingkah laku tidak sesuai dengan norma maka tingkah laku itu disebut

tidak baik. Etika dalam hal ini mengandung arti moral, kejujuran, kehormatan, sikap yang

baik, sopan santun dan sebagainya. Berikut ini merupakan kode etik bimbingan dan

konseling yang dirumuskan oleh Ikatan Petugas Bimbingan dan Konseling (IPBI) :

a. Konselor menghormati harkat pribadi, integritas dan keyakinan klien.

b. Konselor menempatkan kepentingan klien diatas kepentingan pribadi konselor

sendiri.

c. Konselor tidak membedakan klien atas dasar suku, bangsa, warna kulit dan

kepercayaan atau status sosial ekonomi.

d. Konselor dapat menguasai dirinya dalam arti kata berusaha untuk mengerti

kekurangan-kekurangannya dan prasangka-rasangka yang ada pada dirinya yang

dapat mengakibatkan rendahnya mutu pelayanan yang akan diberikan seta merugikan

klien.

e. Konselor mempunyai serta memperlihatkan sifat rendah hati, sederhana, sabar, tertib,

terpecaya pada paham hidup sehat.


f. Konselor terbuka terhadap saran atau pandangan yang diberikan kepadanya, dalam

hubungannya dengankekuatan0kekuatan tingkah laku profesional sebagaimana

dikemukakkan dalam kode etik bimbingan dan konseling.

g. Konselor memiliki sifat tanggung jawab baik terhadap lembaga dan orang-orang

yang dilayani, maupun terhadap profesinya.

h. Konselor mengusahakan mutu kerjanya setinggi mungkin.

i. Konselor menguasai pengetahuan dasar yang memadai tentang hakekat dan tingkah

laku orang serta teknik dan prosedur layanan yang digunakan.

j. Semua catatan tentang klien merupakan informasi bersifat rahasia dan konselor harus

menjada kerahasiaannya.

k. Semua test hanya boleh diberikan oleh petugas yang berwenang menggunakan dan

menafsirkan hasinya.

l. Testing psikologi baru boleh diberikan dalam penanganan kasus dan keperluan lain

yang membutuhkan data tentang sifat atau diri kepribadian seperti taraf intelegensi,

minat, bakat dan kecendrungan-kecendrungan dalam diri pribadi pribadi seseorang.

m. Data hasil test psikologi diintegrasikan daengan informasi lainnya yang diperoleh dar

sumber lain serta harus memperlakukannya serta dengan informasi lainnya itu.

n. Konselor memberikan orientasi yang tepat kepada klien mengenai alasan

digunakannya test psikologis dengan apa bungangnnya dengan masalah klien.

o. Hasil test psikologi baru dikasih tahu kepada klien yang disertai dengan alasan-alasan

tentang kegiatan dan hasil test tersebut dapat diberi tahu kepada pihak lain, sejauh

pihak lain yang diberitahu itu tidak ada hubungannya dengan usaha bantuan kepada

klien dan tidak merugikan klien sendiri.


8. Fungsi bimbingan dan konseling

Pelayanan bimbingan dan konseling melaksanakan beberapa fungsi sebagai berikut

menurut Wardati (2011: 20) :

a. Fungsi pengungkapan

Fungsi untuk memperoleh data tentang seseorang dan berdasarkan data itulah

pembimbing dapat membuat sesuatu sesuai tugasnya.

b. Fungsi pencegahan

Apa yang diketahui pembimbing dapat digunakan untuk memperkirakan hambatan klien

dan dapat dicegah sehingga tidak mengalami potensi yang terdapat pada diri klien.

c. Fungsi penyaluran

Fungsi untuk membantu klien memilih sesuatu dan apakah sesuatu sesuai dengan apa

yang ada pada diri klien.

d. Fungsi pengembangan

Potensi yang terdapat pada diri klien yang perlu dikembangkan dengan bantuan dan

dorongan dari orang lain (konselor).

e. Fungsi penyesuaian

Fungsi ini membantu klien untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.

f. Fungsi pengarahan

Dalam perkembangan kehidupan sehari-hari perkembangan seseorang memiliki arah yang

berbeda-beda, disinilah fungsi pembimbing hendaknya mengetahui arah yang akan dituju

oleh klien.

g. Fungsi informatif

Individu yang sedang berkembang memerlukan informasi baik tentang dirinya atau

lingkungan maka pembimbing perlu memberikan informasi yang mendukung bakat atau

pun minat klien.


h. Fungsi pemecahan

Hal ini merupakan memberikan bantuan kearah pemecahan masalah yang sedang dialami

klien setelah mengetahui tentang diri klien.

i. Fungsi perbaikan

Hal ini ditujukan kepada si klien pada usaha agar diri klien timbul suatu perubahan

dimana bentuk perbaikan terhadap sesuatu yang kurang tepat.

j. Fungsi pemeliharaan

Dalam hal ini pembimbing berfungsi agar apa yang telah ada itudapat dijaga dengan baik

sehingga memberi manfaat bagi klien yang bersangkutan maupun bagi lingkungannya.

k. Fungsi peningkatan

Diharapkan bagaimana bantuan yang diberikan pada klien selalu ditingkatkan sehingga

klien tersebut menguasai hal-hal tersebut.

9. Prinsip-prinsip bimbingan belajar dan konseling

Menurut Hariadi (2003), prinsip bimbingan dan konseling adalah :

a. Prinsip yang berkenaan dengan pelayanan (subjek/ individu yang dilayani) :

1) Bimbingan untuk semua individu tanpa mengenal status sosial, ekonomi, jenis

kelamin, suku bangsa dsb.

2) Bimbingan berkaitan dengan sikap dn tingkah laku individu yang unik.

3) Terdapat perbedaan-perbedaan individu yang harus dipertimbangkan dalam

pemberian bimbingan.

b. Prinsip yang berhubungan dengan masalah individu

1) Masalah individu yang dikerjakan bimbingan dan konseling adalah pengaruh kondisi

mental dan fisik terhadap penyesuaian dirinya dengan lingkungan dan sebaliknya.

2) Keadaan sosial, ekonomi, politik, dll ikut diperhatikan jika hal itu ikut dipengaruhi

terhadap masalalah individu.


c. Prinsip yang berhubungan dengan program layanan

1) Bimbingan konseling merupakan bagian intergral dari proses pendidikan sehingga

program bimbingan dan konseling harus menunjang bagian-bagian lain seperti bagian

kepemimpinan dan pengajaran.

2) Program bimingan harus fleksibel dengan kondisi sekolah, kebutuhan siswa-guru dan

dengan tingkat pendidikan dan jenis pendidikan.

3) Program bimbingan disusun dan direncanakan secara kontinue.

4) Pelaksanaan program hendaknya selalu dievaluasi baik proses maupun hasil.

d. Prinsip yang berkenaan dengan pelaksanaan diarahkan untuk tujuan :

1) Kemandirian

2) Keputusan tentang sesuatu yang akan dilakukan.

3) Permasalahan klien harus ditangi ahli dalam bidangnya.

4) Guru dan orang tua harus bekerja sama secara aktif dengan konselor

5) Mau melakukan kegiatan tertentu untuk mencari jalan keluar.

B. Belajar

1. Belajar
Belajar dalam pengertian luas dapat diartikan sebagai kegiatan psikofisik menuju ke

perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai

usaha penguasaan meteri ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju

terbentuknya kepribadian seutuhnya (Sardiman, 2011: 22). Banyak ahli mengemukakan

mengenai belajar. Pandangan beberapa ahli tentang belajar dalam Syaiful Bahri Djamarah

(2002: 12-13), yakni sebagai berikut:

a. Belajar menurut James O. Whittaker adalah merumuskan belajar sebagai proses dimana

tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.


b. Belajar menurut Cronbach adalah Learning is shown by change in behavior as a result of

experience. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukan oleh perubahan tingkah laku

sebagai hasil dari pengalaman.

c. Belajar menurut Howard L. Kingskey adalah bahwa Learning is the process by which

behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training.

Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah

melalui praktek atau latihan.

d. Slameto merumuskan pengertian belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan

imdividu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,

sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Dari beberapa definisi di atas, belajar merupakan perubahan tingkah laku yang

terbentuk karena pengalaman maupun ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh sesorang.

Pengalaman tersebut diperoleh dari interaksi dengan lingkungannya maupun melalui ilmu

pengetahuan yang diperolehnya.

Dari penjelasan di atas, belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku. Ciri-ciri

perubahan tingkah laku tersebut adalah sebagai berikut (Slameto, 2003: 3-5) :

a. Perubahan terjadi secara sadar

Ini berarti seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-

kurangnya ia merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan pada dirinya.

b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara

berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan

perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar

berikutnya.

c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif


Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk

memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

Dengan demikian semakin banyak usaha belajar itu dilakukan maka semakin banyak

dan baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan

itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha sendiri. Dalam proses belajar pasti

ada suatu tujuan yang ingin dicapai, ada beberapa hal yang menjadi tujuan dalam belajar.

Klasifikasi hasil belajar menurut Benyamin Bloom (Nana Sudjana, 2010: 22-23), yaitu:

a. Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajara intelektual yang terdiri dari enam aspek

yang meliputi pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisi, sintesis, dan evaluasi.

b. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yang meliputi

penerimaan, jawaban, penilaian, organisasi, dan internalisasi.

c. Ranah psikomotorik, berkenaan dengan hasil belajar yang berupa ketrampilan dan

kemampuan bertindak, meliputi enam aspek yakni gerakan refleks, keterampilan gerak

dasar, kemampuan perceptual,ketepatan, keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif

dan interpretatif.

Dengan demikian tujuan belajar adalah ingin mendapatkan pengetahuan, ketrampilan

dan menanamkan sikap mental. Dengan mencapai tujuan belajar maka akan diperoleh hasil

dari belajar itu sendiri

C. Motivasi Belajar

Motivasi berasal dari bahasa latin yaitu motivum, yang artinya alasan sesuatu

terjadi, alasan tentang sesuatu hal itu bergerak atau berpindah. Kata motivum

diartikan dalam bahasa Inggris yaitu motivation (Djiwandono, 2006). Motivasi

merupakan sesuatu yang membuat individu bergerak, memunculkan tingkah laku untuk

berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan (Sobur, 2003).

Pada dasarnya motivasi itu terjadi karena adanya keinginan untuk memenuhi faktor-
faktor yang belum terpenuhi (Schiffman, 2007). Motivasi adalah salah satu fasilitas atau

kecenderungan individu untuk mencapai tujuan. Individu yang memiliki motivasi, akan

memiliki kegigihan dan semangat dalam melakukan aktifitasnya (Chernis dan

Goleman, 2001). Chernis dan Goleman (2001) juga menjelaskan bahwa individu yang

memiliki motivasi merupakan individu yang memiliki 4 aspek seperti adanya dorongan

mencapai sesuatu, memiliki komitmen, memiliki inisiatif, dan memiliki sikap optimis

terhadap aktifitas yang dilakukan. Menurut teori motivasi belajar yang diungkapkan

Uno (dalam Sagala, 2009) juga menjelaskan bahwa individu dikatakan memiliki

motivasi belajar, apabila individu memiliki adanya suatu tujuan yang diharapkan

dalam kegiatan belajarnya, selain itu adanya sikap ulet, gigih, tidak putus

asa dalam memiliki sikap tidak jenuh dalam pelajaran, dan selalu mencari cara

untuk menemukan ide-ide dalam belajar turut serta dikatakan sebagai individu yang

memiliki motivasi belajar yang kuat.

Menurut pandangan perspektif kognitif, pemikiran siswa yang mengarahkan siswa

menuju ke arah yang diinginkan dan akan diwujudkan disebut motivasi. Motivasi

belajar yaitu sesuatu hal yang membuat individu ingin melakukan hal yang ingin

dicapai, sesuatu yang membuat individu tersebut tetap ingin melakukannya dan

membantu individu dalam menyelesaikan tugas-tugas akademiknya. Adanya

pandangan perspektif kognitif, yaitu suatu pandangan mengenai minat yang

menekankan pada ide-ide dari motivasi internal untuk mencapai sesuatu. Pandangan

perspektif kognitif ini menjelaskan pentingnya penentuan tujuan, perencanaan dan

monitoring untuk menentukan suatu tujuan (Santrock, 2008).

1. Hal-hal yang mempengaruhi motivasi belajar

e. Motivasi ekstrinsik
Sesuatu yang terjadi disebabkan oleh faktor-faktor eksternal individu, biasa

disebut dengan motivasi ekstrinsik (Omrod, 2009). Motivasi ini terjadi apabila siswa

mengharapkan sesuatu dari hasil belajarnya, misalnya pujian. Perspektif behavioral

menekankan suatu perilaku yang dilakukan akan diulangi kembali apabila perilaku

tersebut diberikan suatu respon (Santrock, 2008). Ketika siswa merasa putus asa,

merasa sesuatu hal yang telah dilakukan, namun tidak dianggap berarti atau

penting oleh orang menjadi turun dan menjadi malas. Peranan motivasi ekstrinsik

menjadi penting sebagai penguat dan pendorong, dengan banyak cara, seperti pujian

ketika mendapat nilai bagus kepada siswa, memiliki arti bahwa siswa itu dipandang

memiliki kemampuan, adanya rasa kepuasan dan tidak merasa sia-sia dengan usaha

belajarnya (Slavin, 1994)

Suatu imbalan atau hukuman sebagai konsekuensi dari faktor eksternal yang

disebut motivasi ekstrinsik ini berkemungkinan untuk mengontrol perilaku atau

memberikan pemahaman informasi kepada siswa SMA sebagai remaja. Imbalan

atau hukuman dapat diberikan sebagai pengarahan karena siswa tersebut mampu

menyelesaikan tugas akhirnya dan berkompeten sehingga menjadi penyemangat,

namun tidak menjadi suatu ketergantungan (Santrock, 2008).

b. Motivasi intrinsik

Motivasi intrinsik yaitu dorongan yang berasal dari dalam diri. Dorongan ini

dilakukan demi untuk mencapai sesuatu tujuan itu sendiri (Santrock, 2008). Motivasi

instrinsik menekankan bahwa siswa yang melakukan suatu usaha tertentu, karena

kemauan siswa tersebut. Motivasi intrinsik mengarahkan siswa-siswi mempunyai

pilihan dan peluang untuk mengambil tanggung jawab pribadi atas pembelajaran siswa

tersebut. Salah satu contoh motivasi intrinsik yaitu pada mata pelajaran Sains,

ketika siswa mengenal kelompoknya, mengerjakan tugas karena merasa memiliki


tanggung jawab, dan mengembangkan tugas sebagai hasil yang terbaik dibanding

kelompok lain.

Motivasi intrinsik biasanya ditingkatkan dengan banyak cara, salah satunya dengan

membuat siswa merasa tertarik dan tidak jenuh untuk melakukan proses belajar. Salah

satu contohnya bisa dilakukan dengan guru sebagai pembimbing dan pendidik untuk

mengajar dengan metode yang bervariasi, menarik, mengambil contoh kehidupan

sehari-hari sesuai perkembangan belajar siswa. Adanya hal ini, siswa merasa selalu

ingin tahu variasi belajar yang akan diberikan selanjutnya. Permainan- permainan

seperti games di kelas juga akan menarik rasa ingin tahu dan menimbulkan motivasi

intrinsik dari dalam diri siswa (Djiwandono, 2006). Pada hakikatnya motivasi yang

berasal dari dalam diri individu, akan berkembang dengan baik, apabila dapat

diterapkan dengan banyak metode dan variasi. Ketika belajar keterampilan guru dan

siswa sangat dibutuhkan untuk menciptakan dukungan belajar, seperti: nonton video

sejarah 17

Agustus, bercerita, membuat tugas dengan bentuk kliping koran. Keterampilan ini

akan memunculkan dorongan belajar dari dalam diri siswa, agar siswa merasa pelajaran

tidak kaku, menyenangkan dan akan terus mengembangkan kreativitas siswa

(Boekaerts, 2002)

tujuan dan mencapai tujuan tersebut. Motivasi ini sangat didukung oleh pendekatan

kognitif, karena individu akan lebih ingin melakukan sesuatu yang menjadi

tujuannya sendiri (Santrock, 2008).

2. Aspek-aspek dalam motivasi belajar

Motivasi belajar yang baik, memiliki aspek-aspek (Chernis dan Goleman, 2001),

sebagai berikut :
1. Dorongan mencapai sesuatu

Suatu kondisi yang mana individu berjuang terhadap sesuatu untuk meningkatkan dan

memenuhi standart atau kriteria yang ingin dicapai dalam belajar.

2. Komitmen

Salah satu aspek yang cukup penting dalam proses belajar ini, adanya komitmen di

kelas. Siswa yang memiliki komitmen dalam belajar, mengerjakan tugas pribadi dan

kelompoknya tentunya mampu menyeimbangkan tugas yang harus didahulukan

terlebih dahulu. Siswa yang memiliki komitmen juga merupakan siswa yang

merasa bahwa Ia memiliki tugas dan kewajiban sebagai seorang siswa, harus belajar.

Tidak hanya itu, dengan kelompoknya juga, siswa yang memiliki komitmen memiliki

kesadaran untuk mengerjakan tugas bersama-sama

3. Inisiatif

Kesiapan untuk bertindak atau melakukan sesuatu atas peluang atau kesempatan

yang ada. Inisiatif merupakan salah satu proses siswa dapat dilihat kemampuannya,

apabila siswa tersebut memiliki pemikiran dari dalam diri untuk melakukan tugas

dengan disuruh orang tua atau siswa sudah memiliki pemahaman untuk

menyelesaikan tugas pekerjaan rumah tanpa di suruh orang tua. Siswa yang

memiliki inisiatif, merupakan siswa yang sudah memiliki pemikiran dan pemahaman

sendiri dan melakukan sesuatu berdasarkan kesempatan yang ada. Ketika siswa

menyelesaikan tugas, belajar untuk ujian, maka siswa memiliki kesempatan untuk

memperluas pengetahuan serta dapat menyelesaikan hal lain yang lebih bermanfaat

lagi.

4. Optimis

Suatu sikap yang gigih dalam mengejar tujuan tanpa perduli adanya kegagalan dan

kemunduran. Siswa yang memiliki sikap optimis, tidak akan menyerah ketika belajar
ulangan, meskipun mendapat nilai yang jelek, tetapi siswa yang memiliki rasa optimis

tentunya akan terus belajar giat untuk mendapat nilai yang lebih baik. Optimis

merupakan sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap siswa, agar siswa belajar bahwa

kegagalan dalam belajar bukanlah suatu akhir belajar dan bukan berarti siswa itu

merupakan siswa yang “bodoh”.

D. Kepercayaan Diri

1. Pengertian Kepercayaan Diri

Enung Fatimah (dalam Khusnia, S., & Rahayu, S. A, 2010) mengartikan kepercayaan

diri sebagai sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan

penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan atau situasi yang dihadapinya.

Rasa percaya diri adalah dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri. Rasa percaya diri

memang tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan berkaitan dengan kepribadian

seseorang (Loekmono, 1983). Secara definitif, Hasan (dalam Khusnia, S., & Rahayu, S. A,

2010) menjelaskan bahwa kepercayaan diri adalah keyakinan akan kemampuan diri sendiri

secara adekuat dan menyadari kemampuan-kemampuan yang dimiliki serta dapat

memanfaatkannya secara tepat.

Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan

segala sesuatu seorang diri, tetapi rasa percaya diri hanya merujuk pada adanya perasaan

yakin mampu, memiliki kompetensi dan percaya bahwa dia bisa karena didukung oleh

pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri.

Dalam penelitian ini, kepercayaan diri yang penulis maksud yaitu keyakinan akan

kemampuan diri dalam mengembangkan sikap positif dan dapat memanfaatkannya dengan

tepat.

2. Meningkatkan Rasa Percaya Diri Remaja


Menurut Harter (dalam Santrock, 2003) ada empat cara untuk meningkatkan rasa percaya diri

remaja yaitu

f. Mengidentifikasikan kelebihan dan kelemahan diri

Berdasarkan risetnya, Harter berpendapat bahwa yang harus diperhatikan ketika ingin

meningkatkan rasa percaya diri remaja yaitu mengenai penyebab dari rendahnya rasa

percaya diri. Kemudian diikuti dengan mengidentifikasikan kelebihan dan kelemahan.

Kelebihan remaja diapresiasikan, sementara kelemahan dibantu untuk diatasi. Remaja

memiliki tingkat rasa percaya diri yang paling tinggi ketika mereka berhasil pada aspek

dalam diri yang penting. Maka dari itu, remaja harus didukung untuk mengidentifikasikan

dan menghargai kompetensi-kompetensi mereka.

g. Dukungan emosional dan penerimaan sosial

Dukungan emosional dan persetujuan sosial dari orang lain merupakan pengaruh yang

penting bagi rasa percaya diri remaja (Harter dalam Santrock, 2003). Sumber dukungan

alternatif dapat diterima secara informal seperti dukungan dari guru, pelatih, atau orang

dewasa lainnya yang berpengaruh terhadap dirinya, dan sumber dukungan secara formal

melalui program-program. Dukungan orang dewasa dan teman sebaya menjadi faktor

yang berpengaruh terhadap rasa percaya diri remaja. Salah satu penelitian menunjukkan

bahwa dukungan orangtua dan teman sebaya sama-sama berhubungan dengan harga diri

remaja secara keseluruhan.

h. Prestasi

Prestasi merupakan salah satu faktor untuk dapat memperbaiki tingkat rasa percaya diri

remaja (Bednar, Wells, & Peterson, 1989). Rasa percaya diri remaja meningkat lebih

tinggi karena mereka tahu tugas-tugas penting untuk mencapai tujuan dan telah

menyelesaikan tugas yang serupa. Penekanan dari pentingnya prestasi dalam

meningkatkan rasa percaya diri remaja memiliki banyak kesamaan dengan konsep teori
belajar sosial kognitif Bandura mengenai kualitas diri yang merupakan keyakinan

individu bahwa dirinya dapat menguasai suatu situasi dan menghasilkan sesuatu yang

positif.

i. Mengatasi masalah (coping) Rasa percaya diri juga dapat meningkat ketika remaja

menghadapi masalah dan berusaha untuk mengatasinya, bukan menghindarinya (Bednar,

Wells, & Peterson; Lazarus dalam Santrock, 2003). Ketika remaja memilih mengatasi

masalah dan bukan menghindari, remaja menjadi lebih mampu menghadapi masalah

secara nyata, jujur, dan tidak menjauhinya. Perilaku ini menghasilkan suatu evaluasi diri

yang menyenangkan yang dapat mendorong terjadinya persetujuan terhadap diri sendiri

yang bisa meningkatkan rasa percaya diri dan perilaku sebaliknya dapat menyebabkan

rendahnya rasa percaya diri.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Diri

Faktor-faktor yang mempengaruhi rasa percaya diri pada seseorang menurut Hakim

(2002:121) sebagai berikut:

a. Lingkungan keluarga

Keadaan keluarga merupakan lingkungan hidup yang pertama dan utama dalam

kehidupan setiap manusia, lingkungan sangat mempengaruhi pembentukan awal rasa

percaya diri pada seseorang. Rasa percaya diri merupakan suatu keyakinan seseorang

terhadap segala aspek kelebihan yang ada pada dirinya dan diwujudkan dalam tingkah

laku sehari-hari. Berdasarkan pengertian di atas, rasa percaya diri baru bisa tumbuh

dan berkembang baik sejak kecil, jika seseorang berada di dalam lingkungan keluarga

yang baik, namun sebaliknya jika lingkungan tidak memadai menjadikan individu

tersebut untuk percaya diri maka individu tersebut akan kehilangan proses

pembelajaran untuk percaya pada dirinya sendiri. Pendidikan keluarga merupakan


pendidikan pertama dan utama yang sangat menentukan baik buruknya kepribadian

seseorang. Hakim (2002:121) menjelaskan bahwa pola pendidikan keluarga yang bisa

diterapkan dalam membangun rasa percaya diri anak adalah sebagai berikut :

1) Menerapkan pola pendidikan yang demokratis

2) Melatih anak untuk berani berbicara tentang banyak hal

3) Menumbuhkan sikap mandiri pada anak

4) Memperluas lingkungan pergaulan anak

5) Jangan terlalu sering memberikan kemudahan pada anak

6) Menumbuhkan sikap bertanggung jawab pada anak

7) Setiap permintaan anak jangan terlalu dituruti

8) Memberikan anak penghargaan jika berbuat baik

9) Memberikan hukuman jika berbuat salah

10) Mengembangkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki anak

11) Menganjurkan anak agar mengikuti kegiatan kelompok di lingkungan rumah

12) Mengembangkan hobi yang positif

13) Memberikan pendidikan agama sejak dini

b. Pendidikan formal

Sekolah bisa dikatakan sebagai lingkungan kedua bagi anak, dimana sekolah

merupakan lingkungan yang paling berperan bagi anak setelah lingkungan keluarga di

rumah. Sekolah memberikan ruang pada anak untuk mengekspresikan rasa percaya

dirinya terhadap teman-teman sebayanya. Hakim (2002:122) menjelaskan bahwa rasa

percaya diri siswa di sekolah bisa dibangun melalui berbagai macam bentuk kegiatan

sebagai berikut :
1) Memupuk keberanian untuk bertanya

2) Peran guru/pendidik yang aktif bertanya pada siswa

3) Melatih berdiskusi dan berdebat

4) Mengerjakan soal di depan kelas

5) Bersaing dalam mencapai prestasi belajar

6) Aktif dalam kegiatan pertandingan olah raga

7) Belajar berpidato

8) Mengikuti kegiatan ekstrakulikuler

9) Penerapan disiplin yang konsisten

10) Memperluas pergaulan yang sehat dan lain-lain

c. Pendidikan non formal

Salah satu modal utama untuk bisa menjadi seseorang dengan kepribadian yang penuh

rasa percaya diri adalah memiliki kelebihan tertentu yang berarti bagi diri sendiri dan

orang lain. Rasa percaya diri akan menjadi lebih mantap jika seseorang memiliki

suatu kelebihan yang membuat orang lain merasa kagum. Kemampuan atau

keterampilan dalam bidang tertentu bisa didapatkan melalui pendidikan non formal

misalnya : mengikuti kursus bahasa asing, jurnalistik, bermain alat musik, seni vokal,

keterampilan memasuki dunia kerja (BLK), pendidikan keagamaan dan lain

sebagainya. Sebagai penunjang timbulnya rasa percaya diri pada diri individu yang

bersangkutan. Faktor-faktor yang mempengaruhi rasa percaya diri yang lain menurut

Angelis (2003:4) adalah sebagai berikut:

1) Kemampuan pribadi: Rasa percaya diri hanya timbul pada saat seseorang

mengerjakan sesuatu yang memang mampu dilakukan.


2) Keberhasilan seseorang: Keberhasilan seseorang ketika mendapatkan apa yang

selama ini diharapkan dan cita-citakan akan memperkuat timbulnya rasa percaya

diri.

3) Keinginan: Ketika seseorang menghendaki sesuatu maka orang tersebut akan

belajar dari kesalahan yang telah diperbuat untuk mendapatkannya.

4) Tekat yang kuat: Rasa percaya diri yang datang ketika seseorang memiliki tekat

yang kuat untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi

rasa percaya diri ada tiga, yaitu pertama faktor internal dan eksternal. Faktor internal

yaitu kemampuan yang dimiliki individu dalam mengerjakan sesuatu yang mampu

dilakukannya, keberhasilan individu untuk mendapatkan sesuatu yang mampu dilakukan

dan dicita-citakan, keinginan dan tekat yang kuat untuk memperoleh sesuatu yang

diinginkan hingga terwujud. Faktor eksternal yaitu lingkungan keluarga di mana

lingkungan keluarga akan memberikan pembentukan awal terhadap pola kepribadian

seseorang. Kedua, lingkungan formal atau sekolah, dimana sekolah adalah tempat kedua

untuk senantiasa mempraktikkan rasa percaya diri individu atau siswa yang telah didapat

dari lingkungan keluarga kepada teman-temannya dan kelompok bermainnya. Ketiga,

lingkungan pendidikan non formal tempat individu menimba ilmu secara tidak langsung

belajar ketrampilan-keterampilan sehingga tercapailah keterampilan sebagai salah satu

faktor pendukung guna mencapa rasa percaya diri pada individu yang bersangkutan.

4. Aspek-Aspek Kepercayaan Diri

Menurut Lauster (1997), ada beberapa aspek dari rasa percaya diri sebagai berikut:
1. Keyakinan akan kemampuan diri yaitu sikap positif seseorang tentang dirinya

bahwa dia mengerti sungguh sungguh akan apa yang dilakukannya.

2. Optimis yaitu sikap positif seseorang yang selalu berpandangan baik dalam

menghadapi segala hal tentang diri, harapan dan kemampuan.

3. Obyektif yaitu orang yang percaya diri memandang permasalahan atau segala

sesuatu sesuai dengan kebenaran semestinya, bukan menurut kebenaran pribadi

atau menurut dirinya sendiri.

4. Bertanggung jawab yaitu kesediaan seseorang untuk menanggung segala sesuatu yang

telah menjadi konsekuensinya.

5. Rasional dan realistis yaitu analisa terhadap suatu masalah, suatu hal, sesuatu kejadian

dengan mengunakan pemikiran yang diterima oleh akal dan sesuai dengan kenyataan.

E. Penanganan Mahasiswa

1. Penanganan mahasiswa yang mengalami motivasi belajar rendah

Dalam beberapa kasus pada mahasiswa memiliki karakter sendiri-sendiri, sehingga

pendekatan motivasi yang dilakukan adalah menggunakan pendekatan bimbingan

konseling kelompok realitas Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan

pembagian Jumlah anggota yang disertakan sebanyak 4-8 (empat sampai delapan)

mahasiwa yang diperoleh berdasarkan hasil pretest menggunakan skala motivasi

belajar. Dalam pelaksanaannya, konselor berperan sebagai pemimpin kelompok yang

memiliki tanggung jawab untuk mengambil peran aktif dan direktif dalam

memfasilitasi kelompok untuk mencapai tujuan konseling. Sedangkan anggota

kelompok atau konseli dituntut untuk terlibat aktif dalam seluruh proses konseling

dan mengambil tanggung jawab untuk membuat perubahan dalam dirinya sendiri

maupun perubahan dalam diri anggota kelompok lain. Oleh karena itu, sebagai
pendukung pelaksanaan konseling ini, seluruh anggota kelompok diformasikan dalam

bentuk melingkar (lingkaran) untuk memungkinkan setiap anggota dapat berhadapan

secara langsung.

2. Penanganan mahasiswa yang mengalami kurang kepercayaan diri

Salah satu pendekatan yang diasumsikan efektif untuk mengatasi kepercayaan diri

rendah kelayan tersebut adalah pendekatan perseorangan konseling realita, karena

pendekatan realita berfokus pada tingkah laku sekarang terutama mengenai perasaan-

perasaan dan sikap-sikap individu. Hal inipun diperkuat dari beberapa penelitian

bahwa konseling realita dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri

individu. Melalui pendekatan realita konselor melibatkan diri dengan konseli dan

membuatnya mengadapi kenyataan. Melalui kegiatan konseling realita ini kelayan

akan mampu untuk dapat memahami dan menentukan berbagai kebutuhan dasar yang

harus mereka penuhi sesuai dengan tingkat perkembangan yang ada pada dirinya

sendiri secara nyata dan realistis. Caranya adalah dengan memberikan kepercayaan

penuh terhadap kelayan dalam menjalani kehidupannya. Namun hal ini konselor perlu

memonitoring yang kelayan lakukan, untuk mengetahui apakah kelayan konsekuen

dalam menjalani hal yang telah diputuskan oleh dirinya.

Pada dasarnya konseling realita seara perseorangan membantu individu dalam

meraih identitas sukses. Dengan menggunakan pendekatan konseling realita yang

mengarah pada pembentukan dan perubahan perilaku ke arah yang nyata yang

diwujudkan dalam berbagai perencanaan perubahan perilaku yang bersifat realistis,

akan dapat membantu kelayan dalam mengatasi persoalan yang muncul pada dirinya

termasuk dalam hal ini yaitu permasalahan yang berhubungan dengan aspek

kepercayaan diri kelayan yang rendah.


Melalui kegiatan konseling realita dengan mengedepankan ketiga prinsip dasar

right, responsibility dan reality serta dengan dukungan berbagai teknik dalam

kegiatan konseling ini dimungkinkan akan dapat membantu masalah kelayan yang

berkaitan dengan kepercayaan dirinya yang kurang. Right merupakan nilai atau norma

patokan sebagai pembanding untuk menentukan apakah suatu perilaku benar atau

salah. Responsibility merupakan kemampuan seseorang untuk memenuhi

kebutuhannya tanpa mengganggu hak-hak orang lain. Reality merupakan kesediaan

individu untuk menerima konsekuensi logis dan alamiah dari suatu perilaku.