Anda di halaman 1dari 13

Daftar Pahlawan Nasional Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


(Dialihkan dari Pahlawan nasional Indonesia)

Daftar Pahlawan Nasional Indonesia (per 2011)

Pahlawan Nasional adalah gelar penghargaan tingkat tertinggi di Indonesia.[1] Gelar


anumerta ini diberikan oleh Pemerintahan Indonesiaatas tindakan yang dianggap heroik –
didefinisikan sebagai "perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa
bagi warga masyarakat lainnya." – atau "berjasa sangat luar biasa bagi kepentingan bangsa
dan negara."[2] Kementerian Sosial Indonesia memberikan tujuh kriteria yang harus dimiliki
oleh seorang individu, yakni:[2]

 Warga Negara Indonesia[a] yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya:
 Telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik/
perjuangan dalam bidang lain mencapai/merebut/mempertahankan/mengisi
kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
 Telah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang
pembangunan bangsa dan negara.
 Telah menghasilkan karya besar yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan
masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.
 Pengabdian dan Perjuangan yang dilakukannya berlangsung hampir sepanjang
hidupnya (tidak sesaat) dan melebihi tugas yang diembannya.
 Perjuangan yang dilakukan mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
 Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan/nasionalisme yang tinggi.
 Memiliki akhlak dan moral yang tinggi.
 Tidak menyerah pada lawan/musuh dalam perjuangannya.
 Dalam riwayat hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak
nilai perjuangannya.
Pemilihan dijalankan dalam empat langkah dan harus mendapatkan persetujuan pada setiap
tingkatan. Sebuah proposal dibuat oleh masyarakat di kota atau kabupaten kepada walikota
atau bupati, yang kemudian harus membuat permohonan kepada gubernur di provinsi
tersebut. Gubernur kemudian membuat rekomendasi kepada Kementerian Sosial, yang
kemudian diteruskan kepada Presiden, yang diwakili oleh Dewan Gelar;[2] dewan tersebut
terdiri dari dua akademisi, dua orang dari latar belakang militer, dan tiga orang yang
sebelumnya telah menerima sebuah penghargaan atau gelar.[1] Pada langkah terakhir,
pemilihan dilakukan oleh Presiden, yang diwakili oleh Dewan, yang menganugerahi gelar
tersebut pada sebuah upacara di ibukota Indonesia Jakarta.[2] Sejak 2000, upacara
diselenggarakan setiap Hari Pahlawan pada tanggal 10 November.[3]
Kerangka undang-undang untuk gelar tersebut awalnya menggunakan nama Pahlawan
Kemerdekaan Nasional yang dibuat pada saat dikeluarkannya Dekret Presiden No. 241
Tahun 1958. Gelar pertama dianugerahi pada 30 Agustus 1959 kepada politisi yang menjadi
penulis bernama Abdul Muis, yang wafat pada bulan sebelumnya.[4][5][6] Gelar ini digunakan
saat pemerintahan Sukarno. Ketika Suharto berkuasa pada pertengahan 1960an, gelar
terbut berganti nama menjadi Pahlawan Nasional. Gelar khusus pada tingkat Pahlawan
Nasional juga dianugerahkan. Pahlawan Revolusi diberikan pada tahun 1965 kepada
sepuluh korban kudeta Gerakan 30 September yang gagal, sementara Sukarno dan mantan
wakil presiden Mohammad Hatta diberikan gelar Pahlawan Proklamator pada 1988 karena
peran mereka dalam membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia[3][4][6]
156 pria dan 12 wanita telah diangkat sebagai pahlawan nasional, yang paling terbaru
adalah Bernard Wilhelm Lapian, Mas Isman, I Gusti Ngurah Made Agung, Ki Bagus
Hadikusumo dan Mohammad Yasin pada tahun 2015.[7] Pahlawan-pahlawan tersebut
berasal dari seluruh wilayah di kepulauan Indonesia, dari Aceh di bagian barat
sampai Papua di bagian timur. Mereka berasal dari berbagai etnis, meliputi pribumi
Indonesia, etnis Tionghoa, dan Eurasia. Mereka meliputi perdana menteri, gerilyawan,
menteri-menteri pemerintahan, prajurit, bangsawan, jurnalis, Ulama, dan seorang uskup.
Daftar berikut ini disajikan dalam urutan abjad; karena perbedaan konvensi budaya
penamaan, tidak semua entri diurutkan menurut nama belakang. Daftar ini lebih melakukan
penyortiran menurut tahun kelahiran, wafat, dan penetapan. Nama-nama distandarisasikan
menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan dan tidak menggunakan ejaan aslinya.[b]
Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak
tentara Indonesia dan pasukan Britania Raya. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10
November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama
pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan
satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang
menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.[2]

Daftar isi
[sembunyikan]

 1Kronologi penyebab peristiwa


o 1.1Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia
o 1.2Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
o 1.3Kedatangan Tentara Inggris & Belanda
o 1.4Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya
o 1.5Kematian Brigadir Jenderal Mallaby
 1.5.1Perdebatan tentang pihak penyebab baku tembak
 210 November 1945
 3Referensi
 4Pranala luar

Kronologi penyebab peristiwa[sunting | sunting sumber]


Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia[sunting | sunting sumber]
Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian
tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang
berdasarkan Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat tersebut, Indonesia secara
resmi diduduki oleh Jepang.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia[sunting | sunting sumber]


Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah
dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu
terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing
tersebut, Soekarno kemudian memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17
Agustus 1945.

Kedatangan Tentara Inggris & Belanda[sunting | sunting sumber]


Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata
para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di
banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar,
tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di
Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung
dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok
Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang
yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu
tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada
administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia
Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama
rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia
dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara
AFNEI dan pemerintahan NICA.

Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya[sunting | sunting


sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Insiden Hotel Yamato

Hotel Oranye di Surabaya tahun 1911.

Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang


menetapkan bahwa mulai 1 September 1945bendera nasional Sang Saka Merah
Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut
makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di
Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel
Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang
bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.
Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada malam hari
tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-
Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas
Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan
menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia,
hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan
pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
Pengibaran bendera Indonesia setelah bendera belanda berhasil disobek warna birunya di hotel
Yamato

Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang
dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang
masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah
Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato
dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan
kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel
Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda
dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas,
Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan.
Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang
berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono
melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk
menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke
dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno
Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya
ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.
Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah
pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil
tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban
jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C.
Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.

Kematian Brigadir Jenderal Mallaby[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Aubertin Mallaby

Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani
pada tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap
saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya.
Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya
Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30
Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby
berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah.
Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan
tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang
sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena
ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini
menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan
pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan
ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan
dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.
Perdebatan tentang pihak penyebab baku tembak[sunting | sunting sumber]

Mobil Buick Brigadir Jenderal Mallaby yang meledak di dekat Gedung Internatio dan Jembatan
Merah Surabaya

Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (Labour Party).
Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen Inggris (House of Commons)
meragukan bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia. Dia
menyampaikan bahwa peristiwa baku tembak ini disinyalir kuat timbul karena
kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak
tersebut tidak mengetahui bahwa gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus
dari kontak dan telekomunikasi. Berikut kutipan dari Tom Driberg:
"... Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun,
telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata.
Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari
diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar,
dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh
kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak lagi.
Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan serdadu India untuk
menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar
dan lari untuk berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas
bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi,
perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh
menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya-
meskipun (kita) tidak benar-benar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang
mendekati mobilnya; yang meledak bersamaan dengan serangan terhadap dirinya (Mallaby).
Saya pikir ini tidak dapat dituduh sebagai pembunuhan licik... karena informasi saya dapat
secepatnya dari saksi mata, yaitu seorang perwira Inggris yang benar-benar ada di tempat
kejadian pada saat itu, yang niat jujurnya saya tak punya alasan untuk pertanyakan ..."[4]

10 November 1945[sunting | sunting sumber]


Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert
Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang
Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang
ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum
adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat
yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak
oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan
TKR (Tentara Keamanan Rakyat) juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu,
banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di
kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali
pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang
diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan
kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal
perang.
Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat.
Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan
bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini
mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik
meninggal maupun terluka.

Bung Tomo di Surabaya, salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati. Foto
terkenal ini bagi banyak orang yang terlibat dalam Revolusi Nasional Indonesia mewakili jiwa
perjuangan revolusi utama Indonesia saat itu.[5]

Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan
dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang
berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-
pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar
Inggris.
Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti
KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga
mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada
waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan
taat kepada para kyai) sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke
hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya
dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran
skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya
akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.
Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil
mengungsi dari Surabaya.[2] Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 -
2000 tentara.[3] Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa
tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir
penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat
sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari
Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

umpulan Kata Mutiara Ucapan Selamat “Hari


Pahlawan” 10 November 2016 : INDONESIA
KEREN
Posted by Sugiyanto

Date: November 09, 2016

Leave a comment

Advertisement
Radarindo.com – Kumpulan Kata Mutiara Ucapan Selamat “Hari Pahlawan” 10
November 2016 : INDONESIA KEREN. Tepat di tanggal 10 November bulan ini kita akan
kembali mengenang sebuah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Khususnya bagi
pejuang yang telah berkorban untuk memerdekakan negri kita tercinta NKRI. Ya, pada 10
November mendatang kita akan peringati jatuhnya hari Pahlawan tahun 2016.

Jika kita mengulas balik sejarah. Peringatan 10 November jadikan juga sebagai Hari
Pahlawan karena pada jaman dulu terdapat satu momen hebat dimana terjadi suatu
konfrontasi di Surabaya antara arek arek Suroboyo (anak anak Surabaya) melawan serdadu
NICA. Sumarsono selaku mantan dari gerakan PRI (Pemuda Republik Indonesia) pun ikut
andil dalam momen tersebut . Sumarsono lah yang memberi usul kepada Presiden
Soekarno untuk merealisasikan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Peristiwa peperangan yang berlangsung di kota Pahlawan itu jadi legitimasi peran prajurit
dalam usaha memerdekakan Indonesia. Menjadikan nilai kepahlawanan tercanang pada
sebuah perjuangan untuk menghadapi agresi militer, dan guna memobilisasi kepahlawanan
dengan militeristik. Maka dari itulah tanggal 10 November dijadikan sebagai hari Pahlawan.

Sebagai generasi penerus bangsa, kita patut bangga dengan perjangan para pahlawan yang
rela berkorban demi merdekanya negri tercinta ini.Maka dari itu, kita wajib menghargai,
mengapresiasi dan tentunya meneruskan perjuangan para pahlawan di masa selanjutnya.
Agar tetap terjaganya keutuhan NKRI.

Advertisement

Dalam memeriahkan hari Pahlawan tahun ini, berikut kami berikan kumpulan kata-kata
mutiara ucapan selamat hari pahlawan yang dapat anda unduh sevara gratis. Dan jangan
lupa anda bagikan pada rekan-rekan agar hari Pahlawan tahun ini makin meriah.

“Perjuangan melawan penjajah memang sulit, namun perjuangan menghadapi dirimu sendiri
adalah lebih sulit.”

“Darahmu tumpah di Tanah Pusaka, jiwamu mengawal tegaknya Indonesia, Engkau


pahlawanku, engkau kusuma negaraku!”

“Jika rasa takut dalam kebaikan tidak hilang, maka yakinlah bahwa kemajuan hanyalah
angan semata.”

“Selamat Hari Pahlawan” Terimakasih Para Pahlawanku, Kami Selalu Siap Untuk
Melanjutkan Perjuanganmu
Perjuanganmu Akan Kami Lanjutkan. Penjajah Asing memang Sudah Hilang, Tapi Kini
Penjajah Semakin Banyak, Yakni Penjajah Dari Negeri Sendiri

Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya.


Selamat Hari Pahlawan 2016 !

Kobarkan semangat berjuang di setiap jengkal langkah kita.


Selamat Hari Pahlawan 2016 !

Selamat hari pahlawan tahun 2016 ! junjung tinggi semangat nasionalisme untuk memajukan
bangsa ini.

AWAS!!! Jangan kotori perjuangan para pahlawan dengan korupsi.


Selamat Hari Pahlawan 2016 !

Selamat hari pahlawan indonesiaku.


Semoga arwah para pahlawan kita diterima di sisiNya.. Amin

Selamat Hari Pahlawan tahun 2016 !


Terimakasih pahlawanku, kami siap melanjutkan perjuanganmu.

Semangatmu Selalu Menggelora Di Dadaku

Era Nyaman Berkat Pahlawan, Selamat Hari Pahlawan

Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya

Jangan Pernah Melupakan Sejarah. Ingatlah Jasa dan Perjuangannya

Advertisement
Menimbang Makna Hari Pahlawan Di Era
Modern
Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran,
atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Hari ini, selasa 10 November 2015 semua masyarakat memperingati Hari
Pahlawan yang ke-70 . Yang mana bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-
jasa para pahlawannya. Yaitu dimana sejatinya para pahlawan dulu telah susah payah melawan
para penjajah dengan taruhannya harta, keluarga dan nyawa.
Pantas kalau para pahlawan dulu telah susah payah, kemudian kita sebagai penerus perjuangan
mereka, kita kini memperingati sebagai momentum mengenang jasa-jasa mereka yang telah
gugur di medan perjuangan.

Makna Pahlawan di Era Penjajah


Para Pahlawan adalah mereka yang telah mempersiapkan dirinya untuk mengumpulkan bakti,
kiprah dan budinya agar senantiasa mendapatkan pahala kelak ketika mereka tiada. Sehingga
pantas kalau pahlawan itu orang yang banyak pahalanya.

Pahlawan atau pahalawan yaitu orang yang pekerjaanya ingin senantiasa mendapat pahala. Hal
itu sepanjang dalam bakti, kiprah dan budinya senantiasa ikhlas untuk mengharapkan ridha Allah
SWT.
Makna Pahlawan di Era Modern
Pahlawan pasca kemerdekaan, atau di era modern sekarang ini tentu tidak begitu berat seperti
para pahlawan dulu yang selalu membawa senjata untuk melawan dan mengusir para penjajah.

Namun hakikat, esensi dan substansi makna pahlawan di era modern sekarang ini adalah orang-
orang yang senantiasa bisa melawan hawa nafsu dari perbuatan mungkar. Perbuatan mungkar
dalam arti disini adalah sangat luas yaitu korupsi, mencuri, merampok, mengedarkan dan
konsumsi narkoba, berperilaku sewenang-wenang, tidak menghormati orang lain meras hebat
sendiri, merasa kaya sendiri,merasa pintar sendiri, berkhianat, tidak amanah, bergaya
hedonisme, lebih cinta produk luar negeri dan lain sebagainya.
Dengan kata lain, salah satu makna pahlawan di era modern adalah orang-orang yang
senantiasa bisa melawan hawa nafsunya dari perbuatan korupsi, dimana korupsi sangat
menyengsarakan masyarakat banyak dan membuat negara bangrut.

Oleh karena itu, pergeseran nilai dan makna pahlawan senantiasa untuk mengikuti
perkembangan zaman yang ada agar senantiasa generasi muda sekarang ini lebih ke dalama
mengimplementasikan nilai-nilai perjuangan yang ada, sehingga tidak kehilangan jati diri dan
pijakan dalam setiap langkah dan geraknya.

Di samping itu, keteladanan para pemimpin kita juga sangat perlu ditonjolkan dan ditularkan ke
generasi sekarang. Sehingga para generasi kita punya sosok dan figur yang senantiasa dapat
menjadi inspirasi dalam bergerak dan berkarya.

Hikmah Hari Pahlawan


1. Senantiasa mengenang perjuangan para pejuang dulu yang telah gigih untuk merebut
kemerdekaan dari para penjajah.

2. Menjadi motivasi bagi kaum muda agar tetap berjuang di jalan yang benar.

3. Menjadi landasan dalam perpijak bahwa perjuangan butuh pengorbanan.

4. Menjadi pelajaran bahwa sebuah impian agar meraih kesuksesan yang gemilang, semuanya
butuh proses dan proses butuh waktu, tidak instan (ujug-ujug). Sehingga orang yang ingin
sukses adalah orang yang mau untuk berproses diri.
5. Dapat mempertebal keimanan kita, dimana orang yang senantiasa berjuang denga ikhlas dan
mengharap ridha Allah SWT akan mendapat balasan pahala yang setimpal dengan jerih
payahnya yang ia perjuangan.

Semoga di Hari Pahlawan yang ke-70, bangsa Indonesia akan lebih dewasa dalam melangkah
dan bertindak untuk menyejahterakan masyarakat. (hadi/dakwatuna)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/11/10/76702/menimbang-makna-hari-pahlawan-di-era-
modern/#ixzz4PVSnEVlB
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook