Anda di halaman 1dari 9

MODUL-5

ANALISIS STEREOGRAFI (SCHMIDT NET)

1. Pendahuluan
Proyeksi stereografi merupakan suatu proyeksi yang didasarkan pada perpotongan bidang
atau garis dengan suatu bidang proyeksi yang berupa bidang horizontal yang melalui sebuah
bola. Bidang ini akan berbentuk lingkaran yang disebut sebagai lingkaran primitif.
Lingkaran primitif merupakan proyeksi yang kedudukannya (dip = 0). Oleh karena itu,
penentuan proyeksi dip untuk bidang dimulai pada lingkaran luar dan dip 900 terletak pada
pusat lingkaran. Untuk menentukan kemiringan bidang yang dipnya antara 00-900, maka
proyeksinya akan berbentuk busur yang jari-jarinya lebih besar dari jari-jari lingkaran
primitif, sehingga disebut sebagai lingkaran besar (great cycle) atau stereogram. Untuk
struktur bidang yang vertikal maka proyeksinya akan berupa garis lurus yang melalui pusat
lingkaran primitif.
Dalam pengaplikasiannya dan praktiknya, proyeksi dilakukan dengan bantuan komputer
melalui aplikasi ataupun secara manual dengan tangan dan bantuan kertas kalkir dengan
menggunakan jenis khusus dari kertas grafik yang disebut dengan stereonet atau wulf net
atau schmidt net.
Pada dasarnya, proyeksi stereografi terdiri dari atas :

 Equal Angle Projection


 Equal Area Projection
 Orthogonal Projection
 Polar Projection
Pada proyeksi stereografi dengan menggunakan jaring wulf-net, terlihat bahwa distribusi
bidang ataupun garis tidak merata pada keseluruhan luas jaring. Bidang-bidang atau garis-
garis dengan kecondongan kecil akan tersebar lebih renggang di bagian tepi lingkaran,
sedangkan yang mempunyai kecondongan besar akan tersebar lebih rapat pada bagian pusat
jaring. Hal ini disebabkan karena pembuatan jaring tersebut didasarkan pada sudut yang
sama yang ditarik dari zenith, sehingga pada bidang equator tidak merata.
Untuk kepentingan ini diperlukan jaring stereografi yang dibuat berdasarkan proyeksi sama
luas yang disebut sebagai proyeksi sama-luas (Lambert).
Dua tipe proyeksi stereografis yang mungkin digunakan yaitu wulf net atau jaring sama
sudut (equal angle net) dan schmidt net atau jaring sama luas (equal area net). Wulf net
digunakan untuk memecahkan hubungan menyudut, khususnya dimana konstruksi geometri
di jejaring. Sedangkan schmidt net digunakan untuk memecahkan hubungan menyudut dan
evaluasi orientasi data secara statistik menggunakan proyeksi kontur struktur. Dimana
banyak data struktur cocok untuk dievaluasi secara statistik dengan pengkonturan. Di
lapangan ini mudah dilakukan oleh counting net, the kalsbeek net untuk teknik perhitungan
dan pengkonturan lebih detail.
2. Prinsip Dasar Proyeksi Sama Luas/ Schmidt Net (Equal-area projection)
Proyeksi ini lebih umum digunakan dalam analisis data statistik karena kerapatan hasil
plotting menunjukan keadaan yang sebenarnya. Proyeksi equal area projection merupakan
proyeksi yang akan menghasilkan jarak titik pada bidang proyeksi yang sama dan sebanding
dengan sebenarnya. Hasil dari equal area projection adalah suatu stereogram yang disebut
dengan schmidt net.
Cara untuk menggambarkan dan menggunakan data pada jaring ini identik dengan cara yang
dipakai pada jaring wulf net. Perbedaannya adalah lingkaran besar dan kecil pada schmidt
net tidak diproyeksikan sebagai garis lengkung busur.
Dasar geometri dari proyeksi ini ditunjukan pada gambar 1. Suatu bidang diametral vertikal
dibatasi dalam kerangka permukaan bola dengan jari-jari R. Garis ZO adalah diameter
vertikal, dan OP adalah garis miring pada bidang diametral. Titik P’ adalah proyeksi dari P
pada bidang proyeksi. Jarak d dari lengkung pusat proyeksi O’ ke P’ adalah :
d = O’P’ = O’P’= 2R/√2
dimana p adalah kecondongan garis, dan Ɵ = 900 – p. Dengan cara yang sama, jari-jari dari
lengkung proyeksi adalah :
r = 2R sin (900/2) = 2R/√2
Besaran jari-jari ini dan jari-jari lingkaran kerangka dibuat sama dengan memisalkan d –
2R, bilamana p = 00. Ini diselesaikan dengan membagi persamaan *) dengan 2/√2,
didapatkan :
d = R/√2 sin (Ɵ / 2)
Dengan hasil ini, suatu seri lengkungan dapat digambarkan, yang identik lingkaran besar
dan lingkaran kecil pada jaring Wulf. Hasilnya merupakan jaring sama luas atau jaring
schmidt.
Gambar 1. Proyeksi sama luas Lambert (Modul Geologi Struktur ITB), (a) metode proyeksi
(penampang vertikal), (b) jaring sama luas atau schmidt net, (c) proyeksi dari suatu area.

3. Kutub Suatu Bidang


Pada suatu bidang terdapat suatu garis normal (garis tegak lurus) pada bidang, yang disebut
sebagai kutub dari bidang tersebut. Di dalam proyeksi stereografi, suatu bidang dapat
direpresentasikan sebagai titik, yang merupakan proyeksi dari kutubnya. Pada dasarnya,
garis ini adalah garis yang tegak lurus pada suatu bidang atau mempunyai sudut 900 terhadap
bidangnya.

Gambar 2. Proyeksi stereografi bidang dan kutubnya dengan jaring wulf net (Modul Geologi
Struktur ITB). (a) gambaran perspektif, (b) posisi stereogram dan kutubnya pada jaring,
(c) gambaran hasil proyeksi.
Untuk mendapatkan kutun dari suatu bidang, cukup dengan menggambarkan titik proyeksi
pada jaring sebesar 900 dari kemiringan bidangnya. Demikian pula sebaliknya, stereogram
bidang dapat digambarkan dari proyeksi titik kutubnya.
Perlu diketahui bahwa untuk penggunaan umum, proyeksi bidang atau kutun dari suatu
bidang dapat digunakan kedua jaring, baik Wulf ataupun Schmidt. Akan tetapi untuk
kepentingan analisa struktur lebih lanjut, akan lebih baik digunakan jaring schmidt
mengingat distribusinya yang lebih merata pada keseluruhan luas permukaan jaring.
Untuk menggambarkan suatu bidang pada jaring stereografi secara langsung, perlu
diperhatikan arah jurunya apakah N-E atau N-W. Secara praktis, untuk arah N-E, kertas
transpran diputar sebesar jurus berlawanan arah jarum jam, sebaliknya untuk arah N-W,
kertas transparan diputar sebesar jurus searah jarum jam. Untuk menentukan
kemiringannya, kembalikan dengan cara penggambaran stereogramnya, dihitung pada sisi
berlawanan dengan arah kemiringannya, yaitu pada sisi E bila arah kemiringannya NW,
SW, W, dan S, pada sisi W bila arah kemiringannya NE, SE, E, dan S. Besaran
kemiringannya diukur dengan 00 pada saat pusat jaring dan 900 dipinggir jaring.
Hal yang agak menyulitkan dan perlu diperhatikan di dalam pengeplotan letak
kemiringannya, baik stereogram ataupun kutubnya, bahwa dengan pemakaian kompas
berskala 00-3600, harga jurus dapat mencapai antara 900-2700 yang sebenarnya sudah berada
pada arah NW atau NE. Dalam hal ini, walaupun penentuan arah tetap disesuaikan dengan
N-E, akan tetapi ketentuan untuk menetapkan kemiringan menjadi terbalik, misalnya bidang
dengan kedudukan N 160 E/ 30 SW, setelah arah N nya diputar berlawanan jarum jam
sebesar 1600, stereogramnya akan diperhitungkan pada sisi E, dan kutubnya akan
diperhitungkan pada sisi W dari jaring, demikian pula bidang N 220 E/ 30 SE,
stereogramnya akan diperhitungkan pada sisi W, dan kutubnya akan diperhitungkan pada
sisi E. Beberapa contoh cara pengeplotan ditunjukan pada gambar 3.

Gambar 3. Cara memplot kutub suatu bdiang secara langsung pada jaring schmidt. Bidang N 750W/
300 SW (atas) (Modul Geologi Struktur ITB):
1. Putar transparan searah jarum jam sebesar jurus
2. Plot kemiringan 300 pada sisi E
3. Kembalikan pada posisi semula

Garis 300, S500E (bawah)

1. Putar transparan searah jarum jam sebesar jurus


2. Plot kemiringan 300 pada posisi semula

a. Jaring Polar Net/ Kutub


Ketika melakukan pengeplotan manual dengan tangan untuk data yang banyak, jaring (sama
luas) polar akan sangat membantu. Pengeplotan dengan menggunakan polar jaring ini
dilakukan tanpa memutar net/transparan. Cara penggunaannya adalah dengan memplot
struktur garis langsung berdasarkan arah penunjaman dari Utara dan besar penunjaman dari
sisi luar jaring. Sebagai contoh untuk kedudukan garis 20, N1500E maka yang dilakukan
adalah hitung sebesar 1500 ke timur dari utara, kemudian hitung 200 dari bagian luar
lingkaran jaring. Untuk struktur bidang, yang di plot adalah garis normal (tegak lurus) dari
bidang tersebut.

Gambar 4. Jaring sama luas polar (Marshak dan Mitra, 1988)

4. Cara Penyelesaian Geometri Struktur dengan Proyeksi Bidang

Penentuan Kedudukan Perpotongan Dua Bidang


PROBLEM 5.1. Suatu bidang 1 dengan kedudukan N125°E/30°SW berpotongan dengan
bidang lainnya (bidang 2) dengan kedudukan N200°E/50°NW. Tentukan kedudukan garis
perpotongannya!

Gambar 5. Penentuan garis perpotongan dua bidang, terdapat dua cara :


(kiri) Dengan penggambaran kedua bidang, garis perpotongannya lalu diukur
kedudukannya
(kanan) Penentuan garis kutub dua bidang. Kedua garis kutub kemudian disebidangkan,
lalu dicari garis kutub dari bidang tersebut, ukur kedudukannya.

Penentuan Sudut antara Dua Bidang


PROBLEM 5.2. Dua bidang memiliki kedudukan N20°E/40°SE dan N340°E/25°NE tentukan
besar sudut antara kedua bidang tersebut!

N
N

Gambar 6. Penentuan sudut antara dua bidang


(a) Tentukan garis polar dari kedua bidang
(b) Sebidangkan kedua garis polar membentuk kurva pda stereonet
(c) ukur sudut antara polar 1 dan polar 2 melalui bidang tersebut.

Penentuan Sudut antara Garis dan Bidang


PROBLEM 5.3. Tentukan besar sudut antara bidang N80°E/40°SE dengan garis 60°, N20°E!
Gambar 7. Penentuan sudut antara bidang dengan garis
(a) Gambarkan bidang dan garis pada Schmidt Net, tentukan polar bidang tersebut.
(b) Sebidangkan garis polar dengan struktur garis pada soal.
(c) Besar sudut antara struktur bidang dan garis tersebut adalah besar sudut dari
perpotongan bidang ke garis.

Penentuan Garis Bagi Sudut antara Dua Garis


PROBLEM 5.4. Tentukan garis bagi dari dua struktur garis dengan kedudukan 35°, N45°E dan
50°, N190°E !

Gambar 8. Penentuan garis bagi sudut dua garis


(a) Gambarkan kedua garis pada Schmidt Net, sebidangkan kedua garis tersebut.
(b) Ukur besar sudut antara dua garis tersebut melalui bidang, setengah dari besar sudut
antara dua garis tersebut merupakan garis bagi. Terdapat dua garis bagi diantara garis 1
dan 2.
Penentuan Bidang Bagi Sudut antara Dua Bidang

PROBLEM 5.5. Dua bidang dengan kedudukan N280°E/35°NE dan N60°E/60°, tentukan bidang
bagi kedua bidang tersebut!
Gambar 9. Penentuan bidang bagi
(a) Gambarkan kedua bidang pada Schmidt Net, gambarkan dua garis polar nya. Tandai
garis perpotongan kedua bidang.
(b) Sebidangkan dua garis polar tersebut, tandai garis bagi antara dua polar bidang
tersebut.
(c) Sebidangkan garis bagi dengan garis perpotongan dua bidang, bidang yang dibentuk
merupakan bidang bagi.

LATIHAN SCHMIDT NET


1. Gambarkan struktur-struktur bidang berikut dan gambarkan juga garis polarnya ! (gunakan Schmidt
Net dan Jaring Polar)
a .N45°E/75°SE
b. N190°E/40°NW
c. N285°E/20°NE
2. Gambarkan garis-garis polar dan bidangnya dari data garis polar dibawah ini !
a. 35°, N340°E
b. 55°, N160°E
c. 80°, N20°E
3. Pada suatu daerah perlipatan, ditemui antiklin dengan kedudukan sayap-sayap lipatan adalah
sayap A (N290°E/35°NE); dan sayap B (N35°E/50°SE). Ditemui pula urat kuarsa yang
memotong perlipatan tersebut pada kedudukan N170°E/60°SW. Tentukan :
a. Kedudukan garis perpotongan sayap A dan B (sumbu lipatan)
b. Kedudukan bidang bagi lipatan (bidang sumbu lipatan)
c. Kedudukan garis perpotongan urat kuarsa dan sayap A
d. Sudut antara sayap lipatan A dan B
e. Sudut antara garis perpotongan urat kuarsa dengan sayap A dengan bidang sayap B.
f. Pitch garis perpotongan urat kuarsa dan sayap A terhadap bidang urat kuarsa.
g. Garis bagi antara garis perpotongan vein dan sayap A terhadap garis perpotongan urat
dan sayap B.