Anda di halaman 1dari 24

METODE KUANTITATIF: METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

Dibuat Untuk Memenuhi Mata Kuliah Metode Penelitian

Disusun oleh

Keke Meitri Pangestika 3115150055

Mufida Auliya Citra 3115150151

Noviantika 3115150750

Nurul Abidah 3115150891

Pendidikan Matematika A 2015

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA

2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa karena berkah nikmat dan rahmatnya tugas

kelompok ini telah kami selesaikan dengan baik. Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas mata

kuliah “Metode Penelitian” pendidikan matematika yang di ampu oleh dosen kami Ibu “Dr.

Pinta D.Sampoerno, M.Si”

Tugas ini kami buat dengan mencari dari berbagai sumber referensi, baik dari buku

maupun dari sumber internet. Kami mencari sumber-sumber dari buku sebanyak lebih dari tiga

buku dan juga berasal dari beberapa blog internet. Tugas ini juga dibuat dengan bantuan

bimbingan dari dosen kami dan masukan dari teman-teman kami.

Terima kasih atas segala bantuan dan bimbingan dari semua pihak sehingga kami dapat

menyelasaikan tugas “Metode Kuantitatif : Metode Penelitian Eksperimen”. Kami mohon maaf

apabila ada kekurangan pada tugasi ini, tiada gading yang tak retak. Terima kasih dan semoga

dapat bermanfaat untuk dunia pendidikan.

Jakarta, 16 Maret 2018

Tim penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ ii


DAFTAR ISI........................................................................................................................................... 1
PEMBAHASAN : PENELITIAN EKSPERIMEN................................................................................. 2
A. PENGERTIAN PENELITIAN EKSPERIMEN .................................................................... 2
B. KARAKTERISTIK PENELITIAN EKSPERIMEN ............................................................. 3
C. FUNGSI DAN TUJUAN ........................................................................................................... 5
D. SUBYEK PENELITIAN .......................................................................................................... 6
E. LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN EKSPERIMEN .................................................... 8
F. KEKELIRUAN DALAM EKSPERIMEN ........................................................................... 10
G. JENIS-JENIS MASALAH YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK METODE
EKSPERIMEN................................................................................................................................ 12
H. LANGKAH OPERASIONAL PENELITIAN ...................................................................... 12
J. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN OLEH PENELITI .................................... 14
K. BEBERAPA BENTUK DESAIN PENELITIAN EKSPERIMENTAL ............................. 15
1. Pre-experimental Design ..................................................................................................... 15
2. True Experimental Design................................................................................................... 17
3. Factorial Design ................................................................................................................... 18
4. Quasi experimental design ( nonequivalent control group design ) .................................. 19
L. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN .................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 22

1
PEMBAHASAN : PENELITIAN EKSPERIMEN

A. PENGERTIAN PENELITIAN EKSPERIMEN

Penelitian eksperimen (Experimental Research) yaitu suatu penelitian yang

berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel yang lain dalam kondisi

yang terkontrol secaraketat (Tuckman, 1982 : 128-156)

Menurut Latipun (2002) Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang

dilakukan dengan melakukan manipulasi yang bertujuan untuk mengetahui akibat

manipulasi terhadap perilaku individu yang diamati.

Selain itu, Hadi (1985) mendefinisikan penelitian eksperimen sebagai penelitian

yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang

diberikan secara sengaja oleh peneliti. Jadi, Penelitian eksperimen adalah penelitian yang

dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian suatu treatment atau perlakuan terhadap

subjek penelitian. Atau dapat dikatakan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat antara

satu dan lain variabel, tetapi juga untuk menjelaskan dan memprediksi gerak atau arah

kecenderungan suatu variabel di masa depan. Ini adalah eksperimen yang bertujuan untuk

memprediksi.

Metode penelitian eksperimental merupakan metode penelitian yang dapat menguji

secara benar hipotesis menyangkut hubungan kausal (sebab akibat). Dalam studi

eksperimen peneliti memanipulasi paling sedikit satu variabel, mengontrol variabel lain

yang relevan, dan mengobservasi efek/pengaruhnya terhadap satu atau lebih variabel

terikat. Peneliti menentukan “siapa memperoleh apa”, kelompok mana dari subjek yang

memperoleh perlakuan mana.

Penelitian eksperimental (eksperimental research), merupakan pendekatan

penelitian kualitatif yang paling penuh, dalam arti memenuhi semua persyaratan untuk

2
menguji hubungan sebab-akibat. Penelitian eksperimen memiliki khas, yaitu menguji

secara langsung pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain dan menguji hipotesis

hubungan sebab-akibat.

Eksperimentasi dimulai dengan mengembangkan hipotesis hubungan sebab akibat

antara variabel terikat dan variabel bebasnya. Selanjutnya dilakukan berturut-turut:

pengukuran nilai (kualitas) variabel terikatnya (pretest), mengenakan perlakuan (kondisi

pengubah nilai) terhadap variabel bebasnya, dan mengukur kembali nilai variabel

terikatnya (posttest) untuk melihat ada tidaknya perubahan nilai (kualitas).

Masalah pokok dalam melaksanakan eksperimen adalah menjaga kondisi

eksperimen sedemikian sehingga tidak ada faktor lain yang sempat menyertai jalannya

eksperimen yang dapat mengacaukan atau mengaburkan pengukuran hasil penelitian

(posttest).

Dalam penelitian pendidikan variable yang bisa dimanipulasi termasuk metode

pengajaran, jenis penguatan, pengaturan lingkungan belajar, jenis materi belajar dan ukuran

kelompok belajar. Variable terikat juga diacu sebagai variable keriteria atau variable

pengaruh dari hasil studi. Perubahan atau perbedaan dalam kelompok dipercaya sebagai

suatu hasil manipulasi variable bebas.

B. KARAKTERISTIK PENELITIAN EKSPERIMEN

Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimen, yaitu :

a. Variabel-variabel penelitian dan kondisi eksperimen diatur secara tertib ketat (rigorous

management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun

random (acak).

b. Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan

kelompok eksperimen.

3
c. Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan

variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi

variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak

menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi

kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan

penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan

secara acak.

d. Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian

eksperimen, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimen yang dilakukan pada

saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.

e. Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana

kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan menggeneralisasikan

pada kondisi yang sama.

f. Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara

sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

Selain itu, dalam penelitian eksperimen ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan

dalam melakukan penelitian ini, yaitu:

a. Variabel kontrol,

Variabel kontrol adalah inti dari metode eksperimen, karena variabel kontrol inilah

yang akan menjadi standar dalam melihat apakah ada perubahan, maupun perbedaan

yang terjadi akibat perbedaan perlakuan yang diberikan.

b. Manipulasi

Dalam penelitian ini, yang dimanipulasi adalah variabel independent dengan

melibatkan kelompok-kelompok perlakuan yang kondisinya berbeda.

4
c. Pengamatan.

Setelah peneliti menerapkan perlakuan eksperimen, ia harus mengamati untuk

menentukan apakah hipotesis perubahan telah terjadi (Observasi).

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik

penelitian eksperimen adalah antara lain (Sandu dan Ali : 2015 ):

a. Menggunakan kelompok kontrol sebagai garis dasar untuk dibandingkan dengan

kelompok yang dikenai perlakuan eksperimental.

b. Menggunakan sedikitnya dua kelompok.

c. Harus mempertimbangkan kesahihan ke dalam (internal validity).

d. Harus mempertimbangkan kesahihan keluar (external validity).

C. FUNGSI DAN TUJUAN

Penelitian eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian yang

bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/tindakan/treatment pendidikan terhadap

tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu bila

dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian

eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala

suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan

yang berbeda. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat

(cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok

eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen.Hasilnya dibandingkan dengan satu

atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan.

Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, yaitu semua tindakan, semua

variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya. Penelitian

5
eksperimen berfungsi untuk menilai tidak terbatas, yaitu mengukur atau melakukan

deskripsi atas pengaruh treatment yang diujicobakan sekaligus untuk menguji sampai

seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh

tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang

berbeda.

D. SUBYEK PENELITIAN

Suatu penelitian, termasuk eksperimen, perlu menetapkan target populasi. Untuk

penelitian eksperimen dibutuhkan keadaan populasi yang relatif homogen. Homogenitas

populasi ini berguna bagi kemudahan dalam pengambilan sampel dan perlakuan yang

hendak diberikan. Jika upaya homogenitas ini dicapai secara maksimal, maka sangat

membantu peningkatan validitas penelitian. Homogentias subyek penelitian dapat dicapai

dengan membatasi ciri populasi, diantaranya :

1. Aspek tempat atau geografis, merupakan tempat tinggal subjek (provinsi, kabupaten,

sekolah).

2. Aspek subjek sendiri, seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, dll.

3. Aspek sosial, yang mencakup kelas sosial, keluarga, dan lingkungan sosial.

Penelitian biasanya dilakukan terhadap sampel, yaitu sebagian dari populasi. Subjek

penelitian yang menjadi sampel seharusnya representatif populasinya. Kerepresantatifan

sampel dipengaruhi oleh beberap faktor. Diantaranya :

1. Jumlah sampel

Jumlah sampel merupakan banyaknya kelompok sampel yang dibutuhkan dalam

suatu eksperimen. Jumlah sampel ini ditentukan oleh desain eksperimennya.

Contohnya, jika suatu eksperimen dilakukan untuk melakukan komparasi dua

macam perlakuan misalnya pemberian pelatihan keterampilan sosial pada satu

6
kelompok, dan tidak ada perlakuan pada kelompok lain, maka jumlah sampel yang

dibutuhkan ada dua (kelompok perlakuan dan kelompok kontrol). Dalam suatu

eksperimental yang lain, dapat saja komparasi dua macam perlakuan itu dilakukan

terhadap satu sampel. Dengan demikian jumlah sampel sangat bergantung pada

desain penelitian.

2. Besar anggota sampel

Besar anggota sampel dalam eksperimen tidak ditentukan oleh besarnya populasi,

tetapi ditentukan oleh kekkuatan pengaruh perlakuan dari studi-studi sebelumnya.

Suatu perlakuan yang memiliki pengaruh yang kuat pada perubahan variabel terikat

(perilaku) berdasarkan studi atau peneltian terdahulu diperlukan anggota sampel

yang relatif lebih sedikit, dan semakin lemah pengaruh suatu perlakuan pada variabel

terikat dibutuhkan anggota sampel yang relatif lebih banyak.

3. Teknik pengambilan sampel

Pengambilan sampel dalam penelitian eksperimen dapat dilakukan dua teknik, yaitu

sebagai berikut :

a. Random

Random merupakan teknik pengambilan sampel yang didasarkan atas

probabilitas bahwa setiap unit sampling memiliki kesempatan yang sama untuk

terpilih sebagai sampel. Ada beberapa teknik random yang dapat digunakan dalam

menetapkan anggota sampel sebagai berikut :

 Random sederhana (simple random), dilakukan dengan memilih setiap individu

yang menjadi sampel secara random. Biasanya dilakukan dengan undian.

 Pemilihan urutan nomor (random ordering) yaitu pemilihan anggota sampel atas

dasar urutan nomor unit sampling. Yang dipilih sebagai sampel dapat ditetapkan

7
atas dasar nomor genap saja atau nomor ganjil saja atau kelipatan angka tertentu

sehingga jumlah anggota sampel yang dibutuhkan terpenuhi.

 Random berdasarkan tabel. Random berdasarkan tabel yaitu penentuan anggota

sampel secara sistematis yang dilakukan dengan hanya memilih individu pertama

saja yang dipilih secara random sementara invidu berikutnya terpilih menurut

aturan yang ditetapkan berdasarkan tabel random.

 Seleksi komputer, yaitu penentuan anggota sampel berdasarkan nomor random

yang diprogram di komputer.

b. Non random

Non random disebut juga sampel non probabilitas. Teknik pengambilan sampel

tidak dengan random tetapi dengan pertimbangan tertentu. Jika dalam pemilihan

anggota sampel dilakukan dengan tidak cermat, cara non random ini tidak dapat

memperoleh sampel yang representatif.

Sesuai dengan sifatnya, penentuan sampel non random memiliki banyak

kesulitan dalam mencapai keadaan yang representatif karena dimungkinkan banyak

bias yang terjadi secara sistematis yaitu dimungkinkan ada unsur kesengajaan dari

peneliti. Jika teknin ini terpaksa dilakukan dalam penelitian eksperimen maka

peneliti haruslah melakukannya secara hati-hati.

E. LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN EKSPERIMEN

Menurut Sukardi, (2003) pada umumnya, penelitian eksperirnen dilakukan dengan

menempuh langkah-langkah seperti berikut :

1. Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak

dipecahkan.

2. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.

8
3. Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan

hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan

definisi istilah.

4. Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:

a. Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan

terjadinya kontaminasi proses eksperimen.

b. Menentukan cara mengontrol.

c. Memilih rancangan penelitian yang tepat.Menentukan populasi, memilih sampel

(contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian.

d. Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.

e. Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan

agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang

diperlukan.

f. Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.

5. Melaksanakan eksperimen.

6. Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.

7. Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah

ditentukan.

8. Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan

untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.

9. Menginterpretasikan hasil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan

laporan.

Atau dalam garis besarnya langkah-langkah metode eksperimen adalah:

1. Memilih dan merumuskan masalah, termasuk akan menguji-cobakan perlakuan apa,

dampak dampak apa yang ingin dilihat.

9
2. Memilih subyek yang akan dikenai perlakuan dan subyek yang tidak dikenai perlakuan.

3. Memilih disain penelitian eksperimen.

4. Mengembangkan instrumen pengukuran (instrumen untuk mengumpulkan data)

5. Melaksanakan prosedur penelitian dan pengumpulan data.

6. Menganalisis data

7. Perumusan kesimpulan

F. KEKELIRUAN DALAM EKSPERIMEN

Kesalahan dalam Metode Eksperimen, Hal-hal yang mempengaruhi validitas internal

dan eksternal dalam penelitian eksperimen, disebut “Extraneous Variables” adalah variabel

selain variabel-variabel utama yang diteliti, yang mempengaruhi hasil akhir penelitian

(kesimpulan) jika tidak dikontrol. Adapun extraneous antara lain:

1. History, yaitu kejadian-kejadian tertentu yang terjadi antara pengukuran pertama

(pretest) dan kedua (post-test), selain variabel-variabel yang dieksperimenkan

(treatment).

2. Maturation (kematangan), yaitu: proses perubahan (kematangan) di dalam diri subyek

yang terjadi selama berlangsungnya eksperimen (misal: makin trampil, makin

lelah/jenuh dsb). Untuk mengatasi hal ini adalah dengan mendisain eksperimen yang

tidak terlalu lama.

3. Efek Testing, yaitu efek yang ditimbulkan hasil pengukuran pertama (pretest) terhadap

hasil pengukuran kedua (post-test). Cara mengatasinya adalah dengan tidak

memberikan pre-test.

4. Instrumentation, yaitu efek yang ditimbulkan akibat perubahan cara pengukuran,

perubahan pengamat, yang dapat membuat perubahan hasil pengukuran.

10
5. Statistical regression, yaitu bahwa kelompok yang dipilih berdasarkan skor yang

ekstrim cenderung akan meregres ke rerata populasi.

6. Mortality, yaitu kehilangan subyek, baik pada kelompok eksperimen maupun

kelompok pembading, yaitu adanya pengurangan subyek ketika dilakukan pengukuran

terhadap dampak eksperimen/perlakuan.

7. The John Henry Effect. Ini terjadi ketika kelompok kontrol (tidak diberi treatment)

berperilaku lebih giat, lebih rajin, dan sebagainya, daripada kelompok eksperimen

(kelompok yang diberi treatment). Hal ini mungkin terjadi karena, misalnya, kelompok

kontrol merasa bahwa nantinya mereka akan “kalah” dibandingkan dengan kelompok

eksperimen. Perasaan “kalah” semacam ini bisa memacu kelompok kontrol belajar dan

bekerja lebih giat dari biasanya, katakanlah untuk membuktikan bahwa mereka sama

baiknya dengan kelompok eksperimen.

8. Experimental Treatment Diffusion. Ini terjadi ketika kelompok kontrol “belajar” dari

kelompok eksperimen, baik sengaja maupun tidak, Jadi, terjadi “perembesan”

pembelajaran dari kelompok eksperimen ke kelompok kontrol. Semua variabel yang

berhubungan dengan fenomena

9. Differential selection. Dalam studi eksperimen yang membandingkan dua kelompok

(kelompok A dan B), peneliti harus “mengatur” sedemikian rupa sehingga kelompok A

sama dengan kelompok B sehingga perbandingan bisa dilakukan secara baik. Tetapi

kadang-kadang karena satu dan lain hal, yang masuk ke kelompok A, misalnya, rata-

rata lebih baik daripada yang dikelompok B. Maka, ketika dua kelompok ini

dibandingkan di akhir penelitian, jelas sekali kelompok A lebih baik dari kelompok B.

Ini bukan karena treatment, tetapi karena kesalahan pengelompokan.

10. Selection-maturation interaction. Ini sama dengan nomor enam, tetapi satu kelompok

menjalani “pendewasaan” yang lebih cepat daripada kelompok lainnya.

11
G. JENIS-JENIS MASALAH YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK METODE

EKSPERIMEN

Berikut ini adalah beberapa contoh tema penelitian dengan menggunakan metode

eksperimen:

1. Apakah terdapat perbedaan dalam hal tingkat pemahaman siswa antara siswa yang

diajar dengan metode instruksionis dengan siswa yang diajar dengan metode

konstruktivis?

2. Perbedaan efektivitas dan efisiensi metode iqro dengan metode tradisional (dalam

mempelajari bahasa Arab)

3. Pengaruh pendekatan focused group discussion terhadap proses pengambilan

keputusan.

Perlu pula diingat kembali, eksperimen di dalam penelitian ilmu-ilmu sosial sering

bersifat “kuasi” (semu). Artinya, pengontrolan terhadap variabel-variabel yang diteliti

sering kali tidak mungkin dilakukan secara ketat seperti dalam eksperimen ilmu-ilmu

eksakta (yang tidak menggunakan unsur “manusia” sebagai objek penelitian). Dalam ilmu

sosial, eksperimen semu adalah eksperimen yang tidak menggunakan “random” untuk

membagi kelompok Eksperimen dan kelompok Kontrol. Pada model-model

di atas, semua model yang tanpa “R” adalah Eksperimen semu.

H. LANGKAH OPERASIONAL PENELITIAN

Sebelum peneliti mulai “on action” maka peneliti perlu melakukan:

1. Membentuk atau memilih kelompok-kelompok (kelompok yang dikenai perlakuan dan

kelompok pembanding/kelompok kontrol).

2. Memperkirakan apa yang akan terjadi pada setiap kelompok.

3. Mencoba mengontrol semua faktor lain di luar perubahan yang direncanakan.

12
4. Mengamati atau mengukur efek pada kelompok-kelompok setelah perlakuan berakhir.

5. Penelitian eksperimen adalah penelitian untuk menguji hipotesis. Setidaktidaknya

dengan 1 hipotesis→hubungan sebab-akibat dari 2 variabel, yaitu variabel perlakuan

dan variabel dampak Penelitian eksperimen yang paling sederhana biasanya melibatkan

2 kelompok, yaitu: (1) Kelompok eksperimen, yaitu kelompok yang dikenai perlakuan

tertentu, dan (2) Kelompok kontrol atau kelompok pembanding,yaitu kelompok yang

tidak dikenai perlakuan.

6. Kelompok eksperimen menerima treatmen yang baru, suatu treatmen yang sedang

diselidiki, sedangkan Kelompok kontrol menerima treatmen yang berbeda atau diberi

treatmen seperti biasa.

7. Dua kelompok yang akan dibandingkan, yaitu kelompok yang menerima treatmen dan

kelompok yang tidak dikenai treatmen harus disetarakan terlebih dahulu, agar dapat

dipastikan bahwa adanya perbedaan pada variabel terikat semata-mata karena pengaruh

perlakuan yang diberikan bukan karena memang sejak awalnya sudah berbeda.

8. Cara Penyetaraan yang dapat dilakukan:

a. Membuat berpasang-pasangan (matching), misal: siswa yang nilai awalnya sama

dikelompokkan berpasang-pasangan pada kelompok yang berbeda.

b. Penugasan secara random (random assignment), yaitu menempatkan subyek baik

pada kelompok eksperimen maupun kelompok pembanding dengan cara diundi

(dirandom), atau tidak dipilih-pilih.

c. Kesulitan yang terjadi adalah tidak memungkinkan (sulit) mengelompokkan siswa

secara bebas, dan terpisah dari rombelnya, karena akan merusak sistem yang telah

berjalan. Sehingga sampelnya apa adanya, atau disebut intax sampel.

13
I. Ruang Lingkup Penelitian Eksperimen:

1. Sebagian besar eksperimen dalam bidang pendidikan pada umumnya dilakukan dalam

rangka melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena

itu, biasanya berkaitan dengan usaha untuk menguji pengaruh materi, media, metode,

atau praktik pendidikan yang baru terhadap hasil belajar siswa.

2. Rancangan penelitian eksperimen pada umumnya, menggunakan variabel tunggal:

a. Satu variabel perlakuan dimanipulasikan (dibuat kondisinya berbeda), selanjutnya

diamati akibat/dampak dari perlakuan tersebut terhadap 1 atau lebih variabel

tergantung.

b. Variabel yang dimanipulasikan disebut: variabel perlakuan, variabel treatment,

variabel eksperimen, atau variabel independen.

c. Variabel yang merupakan akibat/dampak disebut: variabel tergantung, variabel

dependen, atau variabel dampak.

d. Masalah pokok: menentukan kelompok kontrol (pembanding) yang sebanding

(komparabel); dan membuat konstan (mengontrol/mengendalikan) variabel-

variabel non-eksperimental yang dapat mempengaruhi variabel dampak.

J. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN OLEH PENELITI

Wilhelm Wundt (dalam Alsa, 2004) mengemukakan syarat-syarat yang harus

dipenuhi oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian eksperimental, yaitu:

1. Peneliti harus dapat menentukan secara sengaja kapan dan di mana ia akan

melakukan penelitian.

2. Penelitian terhadap hal yang sama harus dapat diulang dalam kondisi yang sama.

3. Peneliti harus dapat memanipulasi (mengubah, mengontrol) variabel yang diteliti sesuai

dengan yang dikehendakinya.

14
4. Diperlukan kelompok pembanding (control group) selain kelompok yang diberi

perlakukan (experimental group).

K. BEBERAPA BENTUK DESAIN PENELITIAN EKSPERIMENTAL

Hubungan sebab-akibat atau pengaruh dalam eksperimen dirancang dalam suatu

desian yang disebut sebagai desian eksperimen.

Desain penelitian eksperimental dapat dibedakan menjadi:

1. Pre-experimental Design

Dikatakan pre-eksperimental design karena desain ini belum merupakan

eksperimen sungguhan. Dalam desain ini, masih terdapat variabel luar yang ikut

berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Sehingga hasil dari eksperimen

yang merupakan variabel dependen itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel

independen. Hal ini dapat terjadi karena tidak adanya variabel control dan sampel tidak

dipilih secara random.

Pre-Experimental Design masih dibagi lagi menjadi beberapa bentuk, yaitu:

a) One – Shot Case Study

Di dalam one shot case study terdapat satu kelompok yang diberi treatment lalu

dievaluasi hasilnya. Treatment sebagai variabel independen dan hasil sebagai variabel

independen.

XO

X= treatment yang diberikan (variable independen)

O = Observasi (variable dependen)

Contoh:

15
Pengaruh penggunaan komputer (X) terhadap produktivitas karyawan (O).

Terdapat sekelompok pegawai yang diberi alat kerja baru yaitu komputer lalu

diukur produktivitas kerjanya. Misalnya untuk membuat satu KTP sebelum

menggunakan komputer 45 menit setelah menggunakan komputer pembuatan KTP

diselesaikan 30 menit. Jadi ada peningkatan produktivitas sebesar 15 menit tiap

pembuatan satu KTP.

b) One-Group Pretest-Postest Design

Desain pretes-postes satu kelompok juga termasuk pre-eksperimen. Pada desain ini

dilakukan pretes untuk mengetahui keadaan awal subjek sebelum diberi perlakuan

sehingga peneliti dapat mengetahui kondisi subjek yang diteliti sebelum atau sesudah

diberi perlakuan yang hasilnya dapat dibandingkan atau dilihat perubahannya (Sukardi,

2010:180-181).

𝑂1 = nilai pretest

𝑂1 X 𝑂2 𝑂2= nilai posttest

𝑂1
Contoh:
XO
Pengaruh diklat terhadap prestasi pegawai

c) Intact – Group Comparison

Di dalam intact –group comparison satu kelompok ini dibagi menjadi 2. Setengah

sebagai kelompok eksperimen yaitu kelompok yang diberi treatmen dan setengahnya

sebagai kelompok yang diberi treatment dan setengahnya sebagi kelompok kontrol atau

kelompok tanpa treatment. Lalu pengukuran efektivitas treatment adalah hasil penilaian

kelompok eksperimen dibandingkan dengan penilaian kelompok kontrol. Pengukuran

efektivitas program bisa dianalisis dengan menggunakan alat analisa komparatif

misalnya chisquare atau t test.

16
Contoh:

Karyawan dibagian kepegawaian suatu organisasi di bagi menjadi 2 kelompok.

Setengah kelompok dilatih pengembangan SDM sebagai kelompok eksperimen dan

kelompok tanpa pelatihan sebgai kelompok kontrol. Setelah kelompok eksperimen

selesai mengikuti pelatihan, kedua kelompok tersebut dievaluasi dengan tes. Kemudian

hasil tes kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dibandingkan. Untuk mengetahui

apakah pelatihan pengembangan SDM benar-benar bermanfaat maka nilai rata-rata

kedua kelompok tersebut dapat dianalisis dengan menggunakan alat analisa t-test.

Apabila nilai rata-rata keduanya berbeda secara statistik maka dapat dikatakan bahwa

pelatihan memang bermanfaat.

Jadi dapat kita perhatikan pada intact-group ini sampel penelitian berasal dari satu

kelompok yang sama, namun bisa dilihat apakah ada perbedaan antara yang ditreatment

dengan yang tidak.

2. True Experimental Design

Dalam True experimental Design ada proses pemilihan sampel secara acak (

randomisasi) kelompok yang ditreatment (experiment group) maupun yang dijadikan

sebagai kelompok kontrol (control group). Sehingga yang menjadi ciri utama true

experimental design adalah pengambilan sampel secara random baik untuk kelompok

experimental maupun kelompok kontrol. Ada dua bentuk true experimental design, yaitu:

a) Posttest-only Control Design

Didalam Posttest-only Control terdapat dua kelompok yang dipilih secara random.

Kelompok pertama yang diberi treatment sebagai kelompok eksperimen. Kelompok

kedua tidak diberi treatment disebut kelompok kontrol. Untuk melakukan evaluasi

terhadap manfaat suatu treatment maka dapat dilakukan dengan alat statistik yaitu uji

beda, misalnya chi-square, t test, anova. Uji beda ini dimaksudkan untuk

17
membandingkan nilai rata–rata kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.

Apabila hasil dari uji beda terhadap kedua kelompok tersebut menunjukkan signifikan

maka dapat dikatakan bahwa treatment memiliki pengaruh.

b) Pretest-posttes Control Group Design

Terdapat dua kelompok sampel yang dipilih secara random. Perbedaannya jika pada

posttest-only control design tidak ada pretest. Tetapi pada pretest-posttest control

group design, kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol diberi pretest.

Kemudian kelompok eksperimen diberi treatment. Setelahnya maka dilakukan posttest

terhadap kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.

3. Factorial Design

Desain faktorial sebenarnya adalah modifikasi dari design true experimental yang

mempertimbangkan kemungkinan adanya variabel intervening/moderator yang

mempengaruhi perlakuan (variabel independen) terhadap hasil (variabel dependen). Pada

design ini semua kelompok dipilih secara random, kemudian masing-masing diberi pretest.

Kelompok untuk penelitian dinyatakan baik, apabila setiap kelompok nilai prestasinya

sama.

Paradigma dari penelitian factorial desain dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

R O1 X Y1 O2
R O3 Y1 O4
R O5 X Y2 O6
R O7 Y2 O8
Penelitian eksperimen dengan desain ini cara melakukannya adalah dengan

memilih semua kelompok secara random kemudian diberikan pretest. Kelompok yang baik

untuk dijadikan penelitian adalah ketika memiliki hasil pretest yang sama yaitu antara

18
O1 = O3 = O5 = O7. Sesuai paradigma penelitian yang seperti ada di atas, variabel

moderatornya adalah Y1 dan Y2.

Sebagai gambaran dari penelitian dengan desain ini adalah penelitian untuk

mengukur pengaruh pelayanan akademik baru di suatu sekolah terhadap kepuasan siswa.

Untuk itu, peneliti kemudian memilih empat kelompok yang diambil secara random dan

diberiken pretest Peneliti menggunakan jenis kelamin sebagai variabel moderator yaitu

laki-laki (Y1) dan perempuan (Y2).

Perlakuan pelayanan akademik baru dicobakan pada kelompok eksperimen

pertama yang sebelumnya telah diberikan pretest (O1 = kelompok laki-laki), Kelompok

eksperimen kedua (05 = kelompok perempuan) yang sebelumnya telah diberikan pretest

juga mendapat perlakuan yaitu pelayanan akademik baru.

Untuk mengetahui besarnya pengaruh perlakuan terhadap kepuasan siswa di suatu

sekolah untuk kelompok laki-laki dapat diperoleh dengan cara = (O2 - O1) - (O4 - O3).

Sedangkan untuk mengetahui besarnya pengaruh perlakuan terhadap kepuasan siswa untuk

kelompok perempuan dapat diperoleh dengan cara = (O6 - O5) - (O8 - O7).

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, bila terdapat perbedaan pengaruh pelayanan

akademik baru terhadap kepuasan siswa antara kelompok aki-laki dan perempuan. Maka

penyebab utama kepuasan siswa bukan pada perlakuan yaitu pelayanan akademik baru,

melainkan adalah jenis kelamin yang berperan sebagai variabel moderator. Hal ini dapat

diketahui karena treatment yang diberikan sama, yaitu dengan cara yang sama, di tempat

yang sama, pada kondisi yang sama, hanya yang membedakan adalah pihak-pihak yang

memberikan pelayanan akademik baru berbeda yaitu antara kelompok laki-laki dan

kelompok perempuan. Dengan menggunakann desain penelitian ini, peneliti menjadi tahu

bahwa ada variabel moderator yang memiliki pengaruh besar terhadap kepuasan siswa.

4. Quasi experimental design ( nonequivalent control group design )

19
Desain penelitian evaluasi jenis ini mirip dengan design true experimental yaitu sama–

sama memiliki kelompok kontrol. Hanya saja sampel yang dipilih baik bagi kelompok

eksperiment maupun kontrol tidak diambil secara random melainkan dipilih secara sengaja

oleh peneliti sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang akan

diperbandingkan. Quasi-Exsperimental Design digunakan apabila sulit mendapatkan

kelompok kontrol.

Bentuk Quasi-Exsperimental Design ada dua, yaitu:

a) Time series design

Hanya ada satu kelompok dan tidak ada kelompok kontrol. Sebelum diberi

treatment program, kelompok ini diberi beberapa kali pre-test. Pre-test yang dilakukan

beberapa kali ini bertujuan untuk memperoleh kestabilan nilai. Setelah didapat nilai

yang stabil, maka kelompok ini baru dapat diberikan suatu treatment atau program.

b) Non Equivalent Control Group Design

Non Equivalent Control Group Design mirip dengan Pretest-Posttest Control

Group. Bedanya pada desain Non Equivalent Control Group, kelompok eksperimen

maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random.

L. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Dalam penelitian eksperimen terdapat keunggulan jika dibandingkan dengan

penelitian lainnya.

1. Ekperimen didesain untuk dapat mengendalikan secara ketat pada variabel-variabel

ekstra yang tidak beruhubungan dengan variabel yang sedang di amati.

20
2. Penelitian eksperimen memiliki efisiensi yang tinggi. Penelitian eksperimen dapat

dilakukan pada populasi yang terbatas, sehingga tidak membutuhkan banyak subyek

untuk terlibat dalam proses eksperimen. Suatu eksperimen yang diketahui memiliki

pengaruh yang kuat membutuhkan partisipan yang tidak terlalu besar, sehingga akan

meringankan kerja eksperimen.

Sekalipun eksperimen memiliki sejumlah keunggulan dibanding dengan jenis

penelitian lainnya, sejumlah kritik juga dialamatkan ke peneltian eksperimen. Kritik

dan sekaligus keterbatasan penelitian eksperimen adalah sebagai berikut :

1. Hasil penelitian eksperimen (khususnya laboraturium) dipandang tidak selalu

sejalan dengan lapangan.

2. Beberapa varibel secara moral atau hukum tidak dapat dimanupalasi, misalnya

manipulasi dalam bentuk menghilangkan interaksi sosial secara permanen,

merangsang timbulnya perilaku seksual. Contoh-contoh tersebut secara moral tidak

dibenarkan dilakukan eksperimen.

3. Sekalipun secara moral atau legal dapat dilakukan, tetapi secara ekonomi atau teknik

pengetahuan tidak memiliki sumber yang memadai. Misalnya efek pemilikan mobil

baru pada minat membaca iklan mobil. Tidak mungkin peneliti melakukan random

kepada sejumlah subjek dan memberi mobil baru pada penelitian.

21
DAFTAR PUSTAKA

Latipun. 2002. Psikologi Eksperimen, Universitas Muhammadiyah Malang. Pres:Malang

Sukmadinata, N. S. 2010.Metode Penelitian Pendidikan. UPI. PT Remaja Rosdakarya:

Bandung

Sugiyono. 20101. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan

R&D). Alfabeta: Bandung

Siyoto, Sandu dan Sodik, Ali. 2015. Dasar metodelogi penelitian. Literasi Media Publishi ng:

Yogyakarta.

http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/454/jbptunikompp-gdl-adesiskawi-22657-8-(10)bab-i.pdf,

diakses pada 14 Maret 2017

http://www.docstoc.com/docs/39266264/penelitian-eksperimen, diakses pada 15 Maret 2017

http://navelmangelep.wordpress.com/2012/02/27/metode-penelitan-eksperimen/#more-680,

diakses pada 15 Maret 2017

http://pascaunesa2011.blogspot.com/2011/11/desain-penelitian-eksperimen.html.

diakses pada 15 Maret 2017

http://bukusugiyono.blogspot.co.id/2015/05/metode-penelitian-eksperimen-factorial.html

diakses pada 18 Maret 2018

22