Anda di halaman 1dari 25

BAB V

GAMBARAN UMUM RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR

V.1Rumah Sakit Umum Labuang Baji


V.1.1Riwayat Singkat Rumah Sakit Labuang Baji
Rumah Sakit Umum Labuang Baji Makassar didirikan pada tahun 1938
oleh Zending Gereja Geroforma Surabaya, Malang dan Semarang sebagai rumah
sakit Zending yang diresmikan pada tanggal 12 Juni 1938 dengan kapasitas
tempat tidur yang tersedia pada saat itu adalah 25 tempat tidur.Pada masa Perang
Dunia II, Rumah Sakit ini digunakan oleh Pemerintah Kotapraja Makassar untuk
menampung penderita korban perang.
Tahun 1964 – 1948 Rumah Sakit Umum Labuang Baji mendapat bantuan
dari Pemerintah Indonesia Timur (NIT) dengan merehabilitasi gedung-gedung
yang hancur akibat perang dan digunakan dan digunakan untuk menampung
korban akibat perang tersebut. Pada tahun 1949 – 1951 Zending mendirikan
bangunan permanen sehingga kapasitas tempat tidur mencapai 170 buah.
Pada tahun 1952 – 1955 oleh Pemerintah Daerah Kotapraja Makassar
diberikan tambahan beberapa bangunan ruang sehingga kapasitas tempat tidur
mencapai 190 buah.Sejak tahun 1955 Rumah Sakit Labuang Baji dibiayai oleh
Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan. Pada tahun 1960 oleh Zending Rumah Sakit
ini diserahkan kepada pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dan
dikelolah oleh Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan
dengan klafikasi rumah sakit kelas C. Terhitung mulai tanggal 16 Januari 1966
melalui Peraturan Pemerintah Daerah Propinsi Dati I Sulawesi Selatan No. 2
tahun 1966, kelas rumah sakit ditingkatkan dari Rumah Sakit Kelas C menjadi
Rumah Sakit Kelas B non pendidikan. Peraturan Daerah tersebut disahkan oleh
Menteri Dalam Negeri pada tanggal 7 Agustus 1966.
Berdasarkan peraturan Daerah No. 9 Tahun 2008 tanggal 21 Juli 2008
tentang organisasi Daerah kerja Inspektorat, Bappeda, Lembaga Teknis Daerah
dan Lembaga Lain, telah dilakukan perubahan status badan pengelola RSUD LB
sebagai lembaga teknis Menjadi RSUD Labuang Baji yang menacu pada PP No.

64
65

41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, kemudian ditindaklanjuti


dengan keputusan Gubernur No. 821.2-14/2009 tanggal 1 Oktober 2009 mengenai
pengangkatan dr. Bambang Arya, M.Kes sebagai direktur RSUD Labuang Baji
Struktur kelas B non pendidikan tersebut Direktur sebagai Pimpinan
Rumah Sakit dilantik dan dikukuhkan pada tanggal 12 Maret 1999. Sejak
berdirinya pada tanggal 12 Juni 1938 Rumah Sakit Labuang Baji telah
mengalami beberapa kali pergantian direktur yaitu :
1. Dr.Ong Yang Hang
2. Prof.Dr. Warouw
3. dr.G.J.Hoc Kartra
4. dr. Hiberlein
5. dr.A.W.F.Rulgrep
6. dr.P.Roott
7. dr.R.A. Tini Iswary, sampai tahun 1967
8. dr. Ny.Th. Sumantri Tulong, pada tahun 1967-1987
9. dr.B.Tjahjadi, pada tahun 1978 – 1981
10. dr. A.Wahid Baelang, deri tahun 1981 – 1991
11. dr.H. Mustafa Djide,SKM, dari tahun 1991 – 30 Desember 1995
12. dr. H. Jasmine Abu Mattimu, dari 30 Desember 1995–17 Januari 1997
13. dr. H. Nurfiah A. Patiroi,MHA, dari 17 Januari 1997 – 13 Juni 1998
14. dr. H. Muh. Basir Palu, Sp A, MHA, 13 Juni 1998 – 13 Agustus 2001
15. dr. H. Sofyan Muhammad, Msi., 13 Agustus 2001 – 14 Agustus 2006
16. dr. H. Muh. Talib Suyuti,M.Kes, 5 Oktober 2006 – 21 Agustus 2008
17. dr. H. Bambang Arya, M.Kes, 21 Agustus 2008-17 Juni 2011.
18. Dr.H.Azikin Solthan,M.Si, 18 Juli 2011-12 September 2011
19. Dr.Enrico Merentek,Sp.PD, 12 September 2011 – sekarang

V.1.2 Visi, Misi, Falsafah, Tujuan dan Motto


1. Visi :
Rumah Sakit Unggulan Se-Sulawesi Selatan
66

2. Misi:
- Mewujudkan Profesionalisme SDM
- Meningkatkan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit
- Memberikan Pelayanan Prima
- Efisiensi Biaya Rumah Sakit
- Meningkatkan Kesejahteraan Karyawan
3. Falsafah :
Bahwa kesehatan jasmani maupun rohani merupakan hak setiap orang, oleh
karena itu rumah sakit berusaha untuk memberikan pelayanan kesehatan yang
terbaik kepada masyarakat, baik bersifat penyembuhan, pemulihan,
pencegahan maupun peningkatan serta ditunjang oleh kualitas sumber daya
manusia yang memadai.
4. Tujuan :
Memberikan kepuasan kepada semua pelanggan agar tercipta citra baik
Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji.
5. Motto :
Motto Rumah Sakit Umum Labuan Baji adalah “SIPAKABAJI” yang
mempunyai arti siap dengan pelayanan komunikatif, bermutu, aman dan
ikhlas.
6. Nilai
- Kejujuran
- Kerjasama
- Tanggung Jawab
- Kesetiaan
- Disiplin
V.1.3Struktur Organisasi dan Tata Kerja
1. Kedudukan
RSUD Labuang Baji adalah lembaga teknis daerah yang dipimping oleh
seorang Direktur, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Gubernur melalui Sekretaris daerah.
2. Tugas Pokok
67

RSUD Labuang Baji mempunyai tugas:


- Melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna
dengan mengutamakan upaya penyembuhan, pemulihan yang
dilaksanakan secara terpadu dengan upaya peningkatan serta pencegahan
dan melaksanakan upaya rujukan.
- Melaksanakan pelayanan yang bermutu sesuai standar pelayanan Rumah
Sakit.
3. Susunan Organisasi Badan Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji
a. Direktur
b. Wakil Direktur Medik dan Keperawatan
c. Wakil Direktur Umum, Sumber Daya Manusia, dan Pendidikan.
d. Wakil Direktur Keuangan
e. Bidang Pelayanan Medik
f. Bidang Pelayana Keperawatan
g. Bidang Fasilitas Medik dan Keperawatan
h. Bagian Umum
i. Bagian Sumber Daya Manusia
j. Bagian Pendidikan dan Penelitian
k. Bagian Penyelenggaraan dan anggaran
l. Bagian Perbendaharaan dan Mobilitas Dana
m. Bagian Akuntansi
n. Sub.Bagian
o. Seksi

V.1.4Fasilitas Rumah Sakit Umum Labuang Baji


1. Fisik Bangunan
Rumah Sakit Umum Labuang Baji berlokasi di tengah kota Makassar, mudah
dicapai dengan transportasi umum.
Alamat : Jln. Dr. Ratulangi No. 81, Makassar
Telepon : 0411-873836; 873482; 8732120
Fax : 0411 830454
68

Luas Tanah : 20.442 m2(hasil pengukuran BPN, tanggal 1


Desember 2004 sesuai sertifikat)
Luas Bangunan : 12.022,23 m2
Luas Lahan Parkir : 1.980 m2
Pengembangan gedung Rumah Sakit dilaksanakan melalui master plan yang
disusun oleh Dinas Kesehatan Propinsi Dati I Sulawesi Selatran dengan tujuh
tahap. Master Plan disusun pada tahun 1991.
Perincian tahapan pembangunan tersebut :
a. Tahap I
Gedung perkantoran dan Poliklinik (Gedung A, 2 lantai) pada tahun
1990/1991
b. Tahap II
Instalasi rawat darurat dan parawatan VIP (Gedung B, 2 laintai) pada tahun
1991/1992.
c. Tahap III
Instalasi gizi dan perawatan anak (Gedung C, 2 lantai) pada tahun
1992/1993.
d. Tahap IV
Gedung perawatan (Gedung D, 4 lantai) pada tahun 1993/1994.
e. Tahap lanjutan
Gedung perawatan sayap dan ruang pertemuan (Gedung E, 4 lantai dan
gedung F) pada tahun 1994/1995.
f. Tahap V
Gedung bedah sentral (Gedung H, 3 lantai) pada tahun 1998/1999.
g. Tahap VI
Gedung instalasi radiologi dan ICU (Gedung G, 3 lantai) pada tahun
1999/2000.
h. Tahap VII
Gedung instalasi rekam medic (1 lantai) pada tahun 2003.
i. Tahap VIII
69

Gedung instalasi penunjang medik dan ruang perawatan Baji Dakka III pada
tahun 2004.
j. Tahap IX
Gedung instalasi pemeliharaan sarana dan kantin (1 lantai) pada tahun 2005.
k. Tahap X
Gedung instalasi rawat darurat (1 lantai) pada tahun 2007.

l. Tahap XI
Gedung ruang poliklinik (2 lantai) pada tahun 2008.
m. Tahap XII
Gedung ruang perawatan HD (1 lantai) pada tahun 2009.
n. Tahap XIII
Gedung ruang perawatan dan poliklinik TB MDR (1 lantai) pada tahun
2010.
o. Tahap XIV
Pembangunan rehabilitasi ruang perawatan pada tahun 2012
p. Tahap XV
Rencana pembangunan tower (7 lantai) pada tahun 2014
2. Daya Tampung
Instalasi – Instalasi Perawatan :
 Instalasi Rawat Darurat (IRD)
 Instalasi Rawat Intensive
 Instalasi Rehabilitasi Medik
 Instalasi Bedah Sentral
3. Fasilitas Pelayanan
Pelayanan Medik :
 Instalasi Rawat Jalan
 Poliklinik Mata
 Poliklinik Bedah
 Poliklinik Paru, TB dan DOTS
 Poliklinik Kebidanan dan Kandungan/KB
70

 Poliklinik KIA dan Laktasi


 Poliklinik Penyakit Dalam
 Poliklinik Saraf
 Poliklinik Kardiologi
 Poliklinik Gigi dan Mulut
 Poliklinik Fisioterapi
 Poliklinik Endokrin
 Poliklinik THT
 Poliklinik Kulit dan Kelamin
 Poliklinik Konsultasi Gizi
 Poliklinik Jiwa
 Poliklinik Anak
 Poliklinik Perjanjian
 Poliklinik Bedah Saraf
 Poliklinik General Chack Up
 Poliklinik Jantung
 Poliklinik Bedah Ortopedi
 Poliklinik Bedah Urologi
Pelayanan Penunjang Medik :
 Instalasi Radiologi
 Instalasi Patologi Klinik
 Instalasi Patologi Anatomi
 Instalasi Rawat Intensif
 Instalasi Farmasi
Pelayanan Penunjang Non Medik :
 Instalasi Gizi
 Instalasi Pemeliharaan Sarana RS
 Instalasi Sanitasi Lingkungan
 Instalasi forensik & pemulasaran jenazah
 Instalasi Rekam Medik
71

Ruang Rawat Inap


 14 ruang perawatan umum
 6 (enam) ruang perawatan khusus (Ruang Bedah Sentral, Bedah
Kebidanan/Kandungan, Perawatan Khusus/RPK, Rawat Intensif,
Hemodialisa, Kamar Bersalin, Rawat Infeksi), dan Perawatan CVCU
(Cardio Vaskuler Care Unit)
Fasilitas Tempat Tidur
Kelas VVIP : 4 tempat tidur
Kelas I : 44 tempat tidur
Kelas II : 86 tempat tidur
Kelas III : 204 tempat tidur
Kapasitas tempat tidur sebanyak 345 buah terbagi atas pavilliun,
super VIP, VIP, bagian bedah, penyakit dalam, penyakit anak, penyakit
THT, kamar bersalin dan kamar bayi, penyakit intensif, an penyakit
infeksi.
4. Unit Spesialis
Unit Spesialis terdiri atas :
a. Unit Rawat Jalan
b. Unit Pelayanan Darurat Medik
c. Unit Radiologi
d. Unit Kebidanan dan Penyakit Kandungan
e. Unit Penyakit Syaraf
f. Unit Penyakit Dalam.
g. Unit Penyakit Anak
h. Unit Penyakit Mata
i. Unit Penyakit Kulit dan Kelamin
j. Unit Penyakit Gigi dan Mulut
k. Unit Rehabilitasi Medik
l. Unit Bedah
5. Tenaga Dokter dan Apoteker
Jumlah tenaga dokter dan apoteker sebanyak 93 orang yang terdiri atas :
72

a. Dokter Spesialis Anak : 4 Orang


b. Dokter SpesialisObgyn : 4 Orang
c. Dokter SpesialisRadiologi : 3 Orang
d. Dokter SpesialisAnasthesi : 2Orang
e. Dokter SpesialisPatologi Klinik : 4Orang
f. Dokter SpesialisJiwa : 1 Orang
g. Dokter SpesialisMata : 2 Orang
h. Dokter SpesialisTHT : 4Orang
i. Dokter SpesialisKulit dan Kelamin : 3 Orang
j. Dokter Spesialis Saraf : 2 Orang
k. Dokter SpesialisJantung : 2 Orang
l. Dokter SpesialisParu : 1 Orang
m. Dokter SpesialisBedah Orthopedi : 1 Orang
n. DokterSpesialisPatologi Anatomi : 1 Orang
o. Dokter Gigi SpesialisProstodonsia : 1 Orang
p. Dokter SpesialisGizi Medik : 1 Orang
q. Dokter Gigi : 9 Orang
r. Dokter/Dokter Gigi S2/S3 Kes Mas : 29Orang
s. Dokter Spesialis Urologi (part.time) : 1 Orang
t. Dokter Konsultan Peny. Dalam : 4 Orang
u. Dokter Spesialis Bedah Saraf : 1 orang
v. Apoteker : 13 orang

V.1.5UNIT PENDAPATAN RUMAH SAKIT LABUANG BAJI


Rawat Jalan (TP2RJ)
 Loket pendaftaran berdasarkan jaminan (dipilah) BPJS, Jamkesda, umum dan
tagihan untuk mendapatkan kartu registrasi pasien untuk kepoliklinik , instalasi
laboratorium, radiologi dan rehabilitasi medik.
 Setelah menerima pelayanan kesehatan sesuai jenis penyakit diberikan recu
(tanda registrasi pembayaran) bagi pasien umum dan pasien jaminan hanya
menggunakan kartu registrasi sebagai bahan untuk penagihan penjamin.
73

 Untuk pasien BPJS diberikan kartu registrasi dan resep yang sudah disetujui
oleh pihak BPJS (untuk obat-obat pemberian 1 bulan). Pasien dengan
Jamkesda harus menyertai kartu registrasi, fotokopi kartu keluarga, dan
fotokopi KTP.
 Untuk pasien yang mendapat resep dapat ditebus pada apotik rawat jalan
dengan mendapat obat dan recu (bukti pembayaran obat), sedangkan pasien
yang dijamin oleh Jamkesda tagihan langsung mendapatkan obat dan copy
resep sebagai bahan penagihan.
Rawat Inap
 Sentral opname menerima pasien rawat inap dari poliklinik, IGD dapat
mendapat registrasi pasien rawat inap sebagai status pasien ruang rawat inap
sesuai jenis penyakitnya.
 Dalam pengelolaan pendapatan rs permasalahan atau kendala yang dihadapi :
-. Verifikasi Data
-. Keterlambatan pembayaran klaim.
 Dasar UU No 44 Tahun 2009, pasal 51 adalah sangat setuju dan perlu
penyesuaian dengan peraturan-peraturan yang telah berjalan.
 Program jaminan kesehatan yang dikelola oleh RS antara lain, Jamkesda,
BPJS, In Health dan Pabrik Gula Takalar.
74

V.2 INSTALASI FARMASI RSUD LABUANG BAJI


V.2.1 Visi, Misi Dan Falsafah Instalasi Farmasi RSUD Labuang Baji
Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah instalasi yang mempunyai tugas
menyediakan, mengelola, memberikan penerangan dan melaksanakan penelitian
tentang obat-obatan. Instalasi ini berkewajiban membuat prosedur perencanaan,
pengadaan, penyimpanan, pendistribusian dan pemantauan obat yang digunakan
di rumah sakit. Setiap unit pelayanan termasuk instalasi farmasi mempunyai visi
dan misi yang diharapkan menjadi acuan terselenggaranya kegiatan kefarmasian.
Adapun visi, misi, dan falsafah instalasi farmasi RSUD Labuang Baji adalah
sebagai berikut :
1. Visi
Memberikan pelayanan kefarmasian berstandar Nasional dengan tanpa
komplain.
2. Misi
Misi instalasi farmasi RSUD Labuang Baji Makassar yaitu :
a. Melaksanakan pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical care) yang
berorientasi pada tercapainya hasil pengobatan yang maksimal bagi pasien.
b. Melaksanakan pelayanan farmasi yang bertanggungjawab dengan
berpedoman pada kode etik Apoteker.
c. Menciptakan suasana aman dan nyaman bagi petugas instalasi farmasi,
petugas kesehatan lain di Rumah Sakit, pasien dan keluarganya.
d. Menata unit pelayanan instalasi farmasi menjadi lebih mandiri, kredibel,
efektif, dan efisien.
e. Meningkatkan kesejahteraan karyawan instalasi farmasi.
Nilai-Nilai :
 Jujur
 Tanggung Jawab
 Visioner
 Disiplin
 Kerjasama
 Peduli
75

 Ikhlas
3. Falsafah
Pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical care) adalah pengelolaan dan
penggunaan obat secara rasional yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari seluruh sistem pelayanan kesehatan secara menyeluruh,
dilaksanakan secara langsung dan bertanggung jawab demi tercapainya
peningkatan kualitas hidup manusia.
4. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai oleh instalasi farmasi RSUD Labuang Baji
yaitu:
a. Terselenggaranya pelayanan kefarmasian dengan mutu cakupan dan
eflsiensi yang tinggi yang selanjutnya dapat meningkatkan pelayanan
kefarmasian bagi pengguna jasa di rumah sakit serta masyarakat yang
memerlukannya.
b. Berfungsinya organisasi farmasi rumah sakit yang didukung oleh tata
laksana organisasi yang mantap dan SDM yang profesional.
c. Terlaksananya proses manajemen.
d. Mantapnya sistem informasi yang didukung oleh data yang akurat, lengkap,
sahih, relevan, dan mutakhir.
V.2.2 Struktur Organisasi Instalasi Farmasi RSUD Labuang Baji
Instalasi Farmasi Rumah Sakit dapat dijabarkan sebagai suatu departemen
atau unit atau bagian di suatu rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker
dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan kompeten secara profesional, tempat atau
fasilitas penyelenggaraan yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta
pelayanan kefarmasian, yang mencakup perencanaan, pengadaan, produksi,
penyimpanan, perbekalan kesehatan atau sediaan farmasi, dispensing obat
berdasarkan resep bagi penderita rawat inap dan rawat jalan, pengendalian mutu,
dan pengendaliaan distribusi, dan penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di
rumah sakit, pelayanan farmasi klinik umum dan spesialis. Unit yang berwenang
dalam mengelola obat di rumah sakit adalah Instalasi Farmasi Rumah Sakit.
76

Struktur organisasi adalah bagan yang menggambarkan pembagian tugas,


koordinasi dan kewenangan serta fungsi. Kerangka organisasi minimal
mengakomodasi penyelenggaraan pengelolaan, perbekalan, pelayanan farmasi
klinik dan manajemen mutu, dan harus selalu dinamis sesuai perubahan yang
dilakukan yang tetap menjaga mutu sesuai harapan pelanggan. Disesuaikan
dengan situasi dan kondisi rumah sakit.
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Instalasi Farmasi RSUD Labuang
Baji Makassar No. 01/IFRS-LB/IV/2015 tentang Struktur Organisasi dan Tata
Kerja Instalasi Farmasi RSUD Labuang Baji Makassar, IFRS dipimpin oleh
seorang Kepala instalasi. Dalam melaksanakan kegiatan IFRS, kepala instalasi
dibantu oleh koordinator Farmasi Manajerial dan Gudang, sub bagian
perencanaan, coordinator farmasi klinik dan mutu, serta 4 koordinator depo (Depo
Rawat Inap, Depo Rawat Jalan, Depo OK, dan Depo Instalasi Rawat Darurat)
V.2.2.1 Struktur Organisasi dan Tata Kerja Instalasi Farmasi RSUD
Labuang Baji Makassar
Instalasi Farmasi RSUD Labuang Baji Makassar dipimpin oleh seorang
apoteker yang berada dan bertanggungjawab langsung kepada Direktur Utama dan
Operasional. Kepala Instalasi farmasi dibawah koordinasi Komite Farmasi
bertanggung jawab terhadap segala aspek hukum dan peraturan-peraturan farmasi
baik terhadap pengawasan distribusi maupun administrasi perbekalan farmasi.
I. Tugas dan Kewenangan
Uraian tugas dan kewenangan Instalasi Farmasi RSUD Labuang Baji Makassar
adalah :
a. Kepala Instalasi Farmasi
Tugas :
1. Membantu tugas-tugas Direktur RSUD Labuang Baji Makassar dalam hal
pengelolaan pelayanan kefarmasian di rumah sakit
2. Mengkoordinir dan mengawasi operasionalisasi pelayanan di instalasi
farmasi
3. Mengkoordinir dan memantau pelayanan kefarmasian pada unit rawat jalan,
rawat inap dan instalasi penunjang lainnya
77

4. Memberikan bimbingan, konsultasi dan melaksanakan penelitian dan


pengembangan Sumber Daya Manusia pada Instalasi Farmasi
5. Menetapkan jadwal pertemuan dengan kepala unit pelayanan dalam
lingkungan Instalasi Farmasi
6. Menjadi sekretaris dalam Komite Farmasi dan Terapi Rumah Sakit
7. Membantu menyelesaikan masalh yang timbul di Instalasi Farmasi
Wewenang :
Kepala Instalasi Farmasi RSUD Labuang Baji untuk dapat melaksanakan tugas
mempunyai wewenang sebagai berikut :
1. Berwenang merumuskan arah pengembangan Instalasi Farmasi Rumah
Sakit
2. Berwenang mengoreksi staf instalasi farmasi yang pelaksanaan tugasnya
menyimpang dari arah yang telah ditetapkan
3. Berwenang mengundang rapat unit kerja yang terkait untuk menyelesaikan
masalah-masalah yang timbul dengan izin Direktur Rumah Sakit
4. Berwenang memutuskan masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan
tugas di antara sub instalasi
5. Bersama unit terkait Kepala Instalasi Farmasi berwenang menentukan
spesifikasi perbekalan farmasi
6. Berwenang menentukan volume perbekalan farmasi
7. Berwenang memperkirakan harga perbekalan farmasi
8. Berwenang mengusulkan jumlah anggaran yang dibutuhkan untuk
perbekalan farmasi
9. Kepala Instalasi Farmasi atas izin Direktur Rumah Sakit berwenang
melakukan studi kerja keluar rumah sakit untuk memperluas wawasan
dalam rangka merumuskan arah pengembangan instalasi farmasi rumah
sakit
10. Berwenang menentukan kapan realisasi perbekalan farmasi
11. Dalam keadaan tertentu, Kepala Instalasi Farmasi dengan seizin Direktur
Rumah Sakit berwenang melakukan perubahan spesifikasi, harga, volume
yang telah diteteapkan sebelumnya
78

12. Berwenang mengusulkan Apoteker menjadi anggota sekretaris Komite


Farmasi dan Terapi yang ditetapkan oleh Direktur Rumah Sakit
13. Berwenang menentukan supplier dalam pengadaan perbekalan farmasi
14. Berwenang mengusulkan Apoteker yang akan ditetapkan sebagai anggota
P3U (Panitia Pengadaan Perbekalan Unit)
15. Berwenang mengusulkan Apoteker yang akan ditetapkan sebagai anggota
tim Pemeriksaan Barang Rumah Sakit
16. Berwenang menentukan berapa kali stok opname dalam setahun
17. Berwenang menentukan metode penyaluran perbekalan farmasi
18. Berwenang menentukan obat-obat yang sudah tidak dapat digunakan lagi
19. Berwenang menilai setiap tahap criteria proses / kegiatan kefarmasian
dengan mennetukan standar penilaian
20. Berwenang menentukan bentuk / ruangan ayang digunakan di Instalasi
Farmasi
21. Berwenang untuk memutuskan segala sesuatu yang berisfat administratif
atau teknis demi kelancaran pelayanan
22. Berwenang menetapkan program orientasi kepada staf instalasi farmasi
23. Berwenang menentukan program pelatihan
24. Berwenang menugaskan stafnya untuk mengerjakan pekerjaan tertentu
25. Berwenang untuk menentukan program evaluasi pekerjaan untuk setiap
stafnya
26. Berwenang menentukan program pengembangan karir stafnya sampai
mencapai pensiun
b. Koordinator Farmasi Manajerial dan Gudang
Tugas :
1. Membantu tugas Kepala Instalasi di bidang administrasi pengelolaan
instalasi farmasi rumah sakit
2. Membantu kepala instalasi farmasi menata, mengatur penyelenggaraan dan
operasionalisasi instalasi farmasi rumah sakit
3. Membantu kepala instalasi farmasi menyelenggarakan administrasi
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi kegiatan instalasi farmasi
79

4. Membantu tugas kepala instalasi farmasi memantau, menilai realisasi


pendapatan dalam penyelenggaraan pelayanan barang farmasi
5. Menyusun laporan hasil kegiatan instalasi farmasi rumah sakit

Fungsi :
Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut di atas, Koordinator farmasi
manajerial dan gudang instalasi farmasi mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Perencanaan, pelaksanaan dan pengembangan ketatalaksanaan organisasi di
instalasi farmasi
2. Pengkoordinasian pelaksanaan administrasi kegiatan pelaporan di instalasi
farmasi
3. Evaluasi terhadap penyelenggaraan administrasi di instalasi farmasi
4. Pelaporan terhadap penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di RSUD
Labuang Baji
Tanggung jawab :
1. Bertanggung jawab atas tertibnya proses surat masuk, surat keluar dan
pengarsipannya
2. Bertanggung jawab atas pengarsipan resep instalasi farmasi
3. Bertanggung jawab atas tersedianya laporan kegiatan di instalasi farmasi
c. Sub BagianPerencanaan
Merencanakan dan mengevaluasi kebutuhan tenaga, bahan dan alat dalam
menunjang kegiatan pelayanan farmasi.
1. Mengumpulkan kebutuhan barang farmasi dari penerimaan, sisa/stok akhir
dan pengeluaran barang sesuai dengan logistik/depo farmasi
2. Memberikan satuan harga berdasarkan keputusan pimpinan rumah sakit
3. Merencankan pengadaan kebutuhan barang farmasi berdasarkan jumlah,
jenis dan harga barang farmasi
4. Menghitung harga kebutuhan berdasarkan usulan pelaksanaan perencanaan
pengadaan barang farmasi
80

5. Menyesuaikan usulan pengadaan barang farmasi dengan dana/anggaran


pengadaan batang farmasi yang bersumber dari anggaran APBD, APBN dan
sumber anggaran lainnya
6. Mengajukan usulan perencanaan barang farmasi berdasarkan pembagian
waktu pengadaan (tahunan, triwulan, bulanan, mingguan dan sewaktu-
waktu)
d. Koordinator Farmasi Klinik& Mutu
1. Merencanakan dan mengevaluasi kebutuhan tenaga, bahan dan alat dalam
menunjang kegiatan pelayanan farmasi
2. Menerima dan memeriksa kelengkapan administrasi permintaan barang
farmasi dari ruangan dan poliklinik
3. Mencatat dan merekapitulasi daftar permintaan yang dilayani dari ruangan
poliklinik
4. Merencanakan dan mengajukan permintaan barang farmasi untuk
distribusi
5. Menyiapkan barang farmasi sesuai permintaan ruangan dan poliklinik
6. Mendistribusikan barang farmasi sesuai permintaan ruangan dan poliklinik
7. Membuat laporan hasil kegiatan pelayanan barang farmasi
8. Melaksanakan pelayanan infromasi obat oleh apoteker kepada pasien dan
tenaga kesehatan di lingkungan RS
9. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan-kebijakan yang
berhubungan dengan obat, terutama bagi panitia/komite farmasi dan terapi
10. Memberikan dan menyebarkan infromasi kepada konsumen secara katif
dan pasif
11. Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui
telepon, surat atau tatap muka
12. Membuat leaflet / brosur obat dan poster
13. Bersama dengan PKMRS melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien
rawat jalan dan rawat inap
81

14. Melaksanakan visite mandiri dengan melakukan kegiatan kunjungan ke


pasien rawat inap dengan tujuan melakukan pemilihan obat, menilai
kemajuan passion, memonitoring efek samping obat.
15. Melaksanakan kegiatan PIO, konseling, visite mandiri terhadap pasien RS
16. Memantau penggunaan dan penelitian efek samping obat (ESO)
17. Memantau penggunaan obat pada penderita Diabetes Mellitus dan
Hipertensi
18. Memantau penerapan protap pelayanan instalasi farmasi RS
19. Melaksanakan evaluasi terhadap penggunaan obat generik di RS
20. Melaksanakan kegiatan pengawasan terhadap kelengkapan administrasi
pelayanan farmasi
21. Melaksanakan pemantauan mutu tenaga, sarana, bahan dalam pelaksaan
kegiatan farmasi
22. Meningkatkan pengetahuan SDM melalui pelatihan atau seminar
23. Melaksanakan dan meminta perbaikan, penggantian suku cadang dan
kalibrasi peralatan instalasi farmasi
e. Koordinator Depo Rawat Inap
Depo rawat inap dipimpin oleh seorang apoteker kepala yang berada di bawah
danbertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUD
Labuang Baji, mempunyai tugasmembantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal
mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan,
penyimpanan, menjamin ketersediaan, keamanan dan mutu sediaan farmasi,
alkes dan bahan medis habis pakai, melakukan skrining administrasi atas
permintaan tiap unit rawat inap dalam meminimalkan pemborosan dan
penyalahgunaan obat, mengendalikan harga sesuai bentuk tanggungan peserta
jaminan kesehatan yang berlaku secara system peresepan individual, system
floor stock dan One Day Dose Disspensing (ODDD) serta melaksanakan
pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan
Depo Rawat Inap rumah sakit.
82

f. Koordinator Depo Rawat Jalan


Depo rawat jalan dipimpin oleh seorang apoteker kepala yang berada di bawah
danbertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUD
Labuang Baji, mempunyai tugasmembantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal
mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan,
penyimpanan, menjamin keamanan, mutu dan ketersediaan sediaan farmasi,
melakukan pengendalian, pemantauan penggunaan obat rasional, melakukan
skrining administrasi atas permintaan sesuai resep pasien poliklinik dan
penerapan pelayanan farmasi klinik secara langsung serta meminimalkan
pemborosan dan penyalahgunaan obat, serta melaksanakan pencatatan,
pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan Depo
Rawat Jalan rumah sakit.
g. Koordinator Depo Rawat Darurat
Depo rawat darurat dipimpin oleh seorang apoteker kepala yang berada di
bawah danbertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUD
Labuang Baji, mempunyai tugasmembantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal
mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan,
penyimpanan, menjamin ketersediaan, keamanan dan mutu sediaan farmasi,
alat kesehatan maupun bahan medis habis pakai, meminimalkan pemborosan
dan penyalahgunaan obat, memantau penggunaan obat rasional dan melakukan
skrining resep sehubungan kelengkapan administrasi sesuai bentuk tanggungan
perserta jaminan kesehatan, serta melaksanakan pencatatan, pelaporan dan
evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan Depo Rawat Darurat
rumah sakit.
h. Koordinator Depo OK
Depo OK dipimpin oleh seorang apoteker kepala yang berada di bawah
danbertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUD
Labuang Baji, mempunyai tugasmembantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal
mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan,
penyimpanan, menjamin ketersediaan, keamanan dan mutu sediaan farmasi
terutama sediaan injeksi obat bius dan alat kesehatan medis habis pakai yang
83

digunakan dalam operasi, mencatat penggunaan paket operasi yang digunakan


setiap hari yang meliputi paket anastesi dan paket operasi, mengawasi
penggunaan sediaan narkotika, serta melaksanakan, pelaporan dan evaluasi dari
setiap pelaksanaan tugas di lingkungan Depo OK rumah sakit.
II. Cakupan Pelayanan
a. Mengelola kebutuhan dan kegiatan pelayanan farmasi
b. Melaksanakan penilaian dan pemilihan barang farmasi meliputi : obat, alat
kesehatan dan bahan pakai habis, bahan laboratorium, bahan radiologi dan
barang farmasi lainnya
c. Melaksanakan pengdaan, penyimpanan, peracikan dan pendistribusian
obat/bahan dan alat kesehatan pakai habis serta barang farmasi lainnya
d. Melaksanakan pengawasan mutu barang farmasi yang diterima, disimpan,
disistribusikan dan digunakan
e. Melaksanakan penyuluhan, bimbingan dan konsultan penggunaan obat dan
pengobatan
f. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan bagi calon farmasis, paramedik dan
tenaga kesehatan lainnya
III. Kualifikasi Tenaga
a. Pimpinan
Pimpinan instalasi farmasi RSUD Labuang Baji adalah apoteker yang
mempunyai surat izin kerja, SK Penempatan, pengalaman di Rumah Sakit
lebih dari 3 tahun dan terdaftar di asosiasi profesi
b. Staf
Jumlah tenaga kefarmasian cukup, kualifikasi memenuhi, berpengalaman
dan sebagian sudah mengikuti pelatihan
Tabel V.1. Jenis dan Jumlah Tenaga
No. Jenis Tenaga Jumlah Keterangan
1 Apoteker (farmasis) 13 orang PNS
2 S1 Farmasi 8 orang PNS
3 D4 Farmasi 1 orang PNS
4 D3 Farmasi 3 orang PNS
84

Tabel V.1. Jenis dan Jumlah Tenaga (lanjutan)


No. Jenis Tenaga Jumlah Keterangan
5 Asisten Apoteker 3 orang PNS
6 Administrasi Farmasi 2 orang PNS
7 Tenaga Lain-lain 10 orang Swakelola
Jumlah 37 orang

V.3 Gambaran Umum CSSD di RSUD Labuang Baji


V.3.1 Struktur Organisasi
Di Rumah sakit, Unit Sterilisasi merupakan suatu unit kerja penunjang
medis yang tidak menjadi bagian dari Instalasi Farmasi, sama halnya di Rumah
Sakit Labuang Baji. Instalasi CSSD memiliki 2 bagian yaitu Instalasi sterilisasi
dan Laundry (Bagian teknis pencucian dan penjahitan linen).Instalasi pusat
sterilisai merupakan salah satu insttalai yang berada dibawah dan
bertanggungjawab langsung kepada Direktur/Wakil Direktur Rumah Sakit.
Instalasi Sterilisasi sendiridipimpin oleh seorang koordinator pelayanan dan
bertanggung jawab langsung kepada kepala instalasi sterilisasi dan binatu.
Struktur organisasi Instalasi Sterilisasi dapat dilihat pada Lampiran.
Unit Sterilisasi mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam pelaksanaan
pengelolaan (sterilisasi dan inventarisasi) set instrumendanlinen untuk tindakan
pembedahan di IRD, OK, OK THT, OK Mata, OK CYTO, Poliklinik Bedah, Poli
Mata, Poli Kandungan, Poli THTdan instalasi lain yang membutuhkan. Ruang
lingkup atau jangkauan pelayanan Unit Sterilisasi mencakup seluruh ruangan atau
unit yang membutuhkan pelayanan sterilisasi, terutama kamar bedah.
V.3.2Waktu, Jenis dan Volume Pelayanan
Pelayanan yang diberikan oleh Instalasi Sterilisasi RSUD Labuang Baji
Makassar khususnya distribusi alat dan bahan steril dimulai pukul 07.30 hingga
14.00 tiap hari senin-jum’at dan 08.00 hingga 13.00 pada hari sabtu. Central
Sterilization Supply Department merupakan unit pelayanan penunjang bagi
asuhan keperawatan dan pelayanan medis di rumah sakit.
85

V.3.3 Alur Kerja CSSD Secara Umum(1)


a. Collect/pengumpulan
b. Clean/pencucian
c. Desinfection/desinfeksi
d. Dry/pengeringan
e. Sort/pemilihan
f. Pack/pengemasan
g. Sterilize/sterilisasi
h. Store – distribute
Pelaksanaan kerja di Instalasi Sterilisasi RSUD Labuang Baji Makassar
diawali dengan penerimaan barang yang akan disterilisasi yang mana dibawa
langsung oleh tenaga medis dari masing-masing instalasi dalam keadaan dipisah-
pisahkan berdasarkan jenis barang dan instalasi yang mengirim dan dalam
keadaan sudah bersih.
A. Alur pelayanan dekontaminasi dan Setting Packaging Alat Kesehatan atau
Instrumen yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Penerimaan bahan dan alat yang belum steril (bersih) namun sebelumnya
telah dilakukan pencucian / laundry (bagian dari sterilisasi) yang meliputi:
a. Jas operasi
b. Duk lubang kecil
c. Duk lubang besar
d. Duk setengah lebar
e. Sarung meja
f. Alas meja
g. Kain kasa
h. Instrumen operasi
i. hanchoen
2. Pencatatan dalam buku register bahan dan alat:
a. Laporan penerimaan linen bersih
b. Laporan masuk dan keluar bahan dan alat
86

3. Pemisahan linen bersih (terutama yang tidak ada bekas operasi, seperti
darah):
a. Pengelompokkan sesuai jenis linen
b. Jas operasi
c. Duk lubang kecil
d. Duk lubang besar
e. Duk setengah lebar
f. Sarung meja
g. Alas meja
4. Prosesing linen:
a. Tempat untuk melipat linen bersih
b. Melipat jas operasi dengan cara digulung dan diberi steam indicator
tapes (S.I.T)
c. Melipat duk lubang kecil dengan cara empat persegi panjang, diikat
lima dengan menggunakan S.I.T
d. Melipat duk lubang besar dengan digulung dan diberi steam indicator
tapes
e. Melipat duk setengah lebar dengan caraempat persegi panjang, diikat
lima dan menggunakan S.I.T
f. Melipat sarung meja dengan cara empat persegi dan diberi steam
indicator tapes
g. Melipat alas meja dengan cara empat persegi panjang, disusun lima dan
menggunakan S.I.T
5. Memasukkan linen bersih kedalam tromol:
a. Tromol besar digunakan untuk memasukkan jas operasi
b. Tromol sedang digunakan untuk memasukkan duk lubang besar, duk
lubang kecil, dan duk setengah lebar
c. Tromol kecil digunakan untuk memasukkan sarung meja dan alas meja
6. Memasukan tromol kedalam chamber autoclave:
a. Temperatur chamber 121oC
b. Power usage 9 KW / 9000 watt
87

c. Operating pressure 2 kg/cm2


d. Dioperasikan selama 45 – 60 menit dalam keadaan dingin (start awal)
e. Jika autoclave dalam posisi panas (start kedua) proses sterilisasi
membutuhkan waktu relative singkat intervalnya 15 – 30 menit
7. Mengeluarkan tromol yang sudah mengalami proses sterilisasi:
a. Penyusunan kembali tromol yang telah steril
b. Pengaturan tromol antara IBS dan IRD, CYTO atau poliklinik/bangsal
8. Menyimpan tromol di tempat steril:
a. Penyimpanan tromol di tempat yang disediakan
b. Menunggu petugas dari ruangan masing-masing untuk mengambil
tromol
9. Pengambilan bahan dan alat steril oleh petuga smasing-masing ruangan
a. Dari kamar operasi
a. OK
b. OK THT
c. OK Mata
d. OK CYTO
b. Dari poliklinik
1) Poli Bedah
2) Poli Mata
3) Poli THT
4) Poli Kandungan
5) Dari ruang perawatan
B. Kebijakan Distribusi Alat dan Bahan Steril
1. Bahan atau alat steril diantar dan diserahkan kepada petugas ruangan
sterilisasi
2. Proses serah terima dan pengambilan alat dan bahan steril dicatat dalam
buku register
3. Jadwal serah terima alat dan bahan steril dicatat dalam buku register
a. Hari Senin – Jumat : Jam 07.30 – 14.00
b. Hari Sabtu : Jam 08.00 – 13.00
88

C. Kebijakan Sterilisasi Linen


1. Semua linen yang akan disterilkan diantar ke instalasi sterilisasi oleh
petugas laundry
2. Semua linen yang akan disterilkan dipasang steam indicator tapes
3. Setiap saat disiapkan linen steril yang siap pakai
4. Semua linen yang rusak akibat proses sterilisasi langsung dilaporkan kepada
pimpinan
D. Kebijakan Sterilisasi Instrumen
1. Alat pra steril diantar ke instalasi sterilisasi oleh petugas ruangan
2. Alat yang akan disterilkan dipasang steam indicator tapes
3. Alat dan bahan yang sudah disterilkan dan tidak diambil di instalasi
sterilisasi selama 3 hari harus disterilkan ulang
4. Instalasi sterilisasi siap setiap saat, bahkan hari minggu/ hari raya bekerja
E. Kebijakan Penerimaan Bahan/Alat Pra Steril
1. Bahan atau alat pra steril diantar dan diserahkan kepada petugas sterilisasi
2. Proses serah terima dicatat dalam buku register
F. Kebijakan Pengorganisasian
1. Tersedia struktur organisasi instalasi sterilisasi
2. Penempatan pimpinan dan staf
3. Tersedianya uraian tugas kepala instalasi unit sterilisasi dan staf
G. Kebijakan Administrasi
1. Seluruh kegiatan operasional di unit instalasi sterilisasi tercatat secara
administrasi
2. Tersedianya perangkat administratif
3. Buku penerimaan linen bersih
4. Buku penerimaan dan pengeluaran barang steril
5. Buku permintaan barang
6. Daftar inventaris terlampir

Beri Nilai