Anda di halaman 1dari 12

TEORI SEDIAAN APT ITB OKT 2012-2013

SALEP
(edited by Virgi-revised, recheck by Annisa azalia)

I. DEFINISI SEDIAAN
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput
lendir. Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam empat kelompok yaitu dasar
salep senyawa hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan dasar
salep larut dalam air. Salep obat menggunakan salah satu dari dasar salep tersebut (FI IV, hal. 18).

II. TEORI UMUM


a. TUJUAN PEMBUATAN SALEP
 Pengobatan lokal pada kulit
 Melindungi kulit (pada luka agar tidak terinfeksi)
 Melembabkan kulit

b. ATURAN UMUM/PERSYARATAN/KARAKTERISTIK
Persyaratan salep (Repetitorium Teknologi Sediaan Steril, Benny Logawa, 46):
 Bersifat plastis mudah berubah bentuk dengan adanya energi mekanis, seperti
penggosokan pada saat penggunaannya, sehingga mudah menyesuaikan dengan profil
permukaan tubuh tempat salep digunakan.
 Memiliki struktur gel yang memungkinkan bentuknya stabil saat penyimpanan dan setelah
digosokkan pada kulit
 Ikatan pembentukan struktur gel berupa ikatan van der walls yang bersifat reversibel
secara teknis, sehingga viskositas salep akan menurun dengan meningginya suhu. Hal ini
diharapkan terjadi pada saat salep digosokkan pada kulit.
 Harus memiliki aliran tiksotropik agar setelah digosokkan pada kulit dapat membentuk
kembali viskositas semula, hal ini menx cegah mengalirnya salep setelah digososkkan
pada kulit.
Aturan umum salep, ( Ilmu Meracik Obat, hal. 55):
1. Zat yang dilarutkan dalam dasar salep dilarutkan bila perlu dengan pemanasan rendah.
Pada umumnya kelarutan obat yang ditambahkan dalam salep lebih besar dalam minyak
lemak daripada dalam vaselin misalnya kamfora, mentol, fenolum, timolum dan guayakolum
dilarutkan dengan cara digerus dalam mortir dengan minyak lemak. Bila dasar salep
mengandung vaselin, zat-zat digerus halus, dan ditambahkan sebagian (kira-kira sama
banyak) vaselin sampai homogen, baru ditambahkan sisa vaselin dan dasar salep yang lain.
Kamfora dilarutkan dalam spritus fortior secukupnya sampai larut baru ditambah dasar salep
sedikit demi sedikit.
2. Zat yang mudah larut dalam air dan stabil, serta dasar salep mampu mendukung/menyerap
air tersebut, dilarutkan dulu dalam air yang tersedia, setelah itu ditambahkan bagian dasar
salep yang lain.
Contoh zat yang melarut dalam air adalah kalium iodida, tanin, natrium penisilin. Dasar salep
yang menyerap air adalah adeps lanae, unguentum simplex, dan dasar salep hidrofilik. Dasar
salep yang sudah mengandung air adalah lanolin (25% air), unguentum liniens (25%),
unguentum cetylicum hydrosum (40%).
3. Zat yang tidak cukup larut dalam dasar salep, lebih dulu diserbuk dan diayak dengan derajat
ayakan 100.
Contohnya : ZnO dan Acidum boricum. Zat yang telah diserbuk dicampur dengan dasar salep
(sama banyak), bila perlu dasar salep dilelehkan dahulu (dalam mortir dan stamper panas),
setelah itu ditambahkan bahan-bahan lain sedikit demi sedikit sambil digerus, untuk
mencegah pengkristalan pada waktu pendinginan seperti Cera flava, Cera alba,
Cetylalcoholum dan Parafinum solidum tidak tersisa dari dasar salep yang cair dan lunak.
Asam borat tidak boleh dengan pemanasan.

1
TEORI SEDIAAN APT ITB OKT 2012-2013

4. Bila dasar salep dibuat dengan peleburan, maka campuran tersebut harus diaduk sampai
dingin. Bila bahan-bahan dari salep mengandung kotoran, maka masa salep yang meleleh
perlu dikolir (disaring dengan kain kasa). Masa kolatur ditampung dalam mortar panas dan
diaduk sampai dingin. Pada pengkoliran ini terjadi masa yang hilang, maka bahan-bahannya
harus dilebihkan 10-20%.

c. PENGGOLONGAN
1. Berdasarkan kerja farmakologi
Menurut Art of Compounding, hal 217-218, ada 3 golongan salep:
a. Salep Epidermik
Salep ini dimaksudkan hanya bekerja dipermukaan kulit untuk menghasilkan efek lokal.
Diharapkan tidak diserap dan hanya digunakan sebagai pelindung, antiseptik, astringen
melawan rangsangan (yaitu sebagai anti radang) dan parasitida.
Dasar salep yang sering dipakai adalah vaselin.
b. Salep Endodermik
Dimaksudkan untuk melepaskan obat ke kulit tetapi tidak menembus kulit, diserap
sebagian saja.
Salep ini dapat digunakan sebagai emolien, anodyne, resolvent, sedatif, stimulan dan
lokal iritan.
Dasar salep terbaik yang digunakan adalah minyak tumbuhan dan minyak alami.
c. Salep Diadermik
 Salep ini dimaksudkan untuk melepaskan obat menembus kulit dan menimbulkan
efek konstitusi (efek terapi yang diinginkan). Namun hal ini tidak lazim digunakan
dan termasuk pemakaian khusus obat-obat seperti senyawa raksa, iodida dan
belladona.
 Dasar salep yang terbaik digunakan adalah lanolin, adeps lanae dan oleum cacao.

2. Berdasarkan penetrasi
Menurut RPS 16, 1518-1519, salep dikelompokkan menjadi 3: (edisi terbaru udh RPS 22, tapi
ga nemu ebooknya)
a. Mempunyai efek permukaan
Mempunyai efek permukaan, memiliki aktivitas membentuk lapisan film yang bertujuan untuk
mencegah hilangnya kelembaban (sebagai protektif), efek membersihkan ataupun sebagai
antibakteri. Pembawa (basis) harus dapat memudahkan kontak dengan permukaan dan
melepaskan zat aktif ke sasaran.
b. Mempunyai efek pada stratum korneum
Contoh salep dengan efek ini adalah sediaan sunscreen yang mengandung asam p-amino
benzoat yang berpenetrasi ke stratum korneum.
c. Mempunyai efek epidermal
Pada salep ini obat/zat aktif dapat penetrasi ke lapisan kulit yang paling dalam.

Notes:
Analisis pertimbangan pemilihan basis bisa dilihat dari tujuan tempat kerja obat atau efek
farmakologi yang diinginkan. (Jadi dasar penting pengembangan formula)

III. FORMULA
a. FORMULA BAKU
R/ Zat aktif
Basis
Zat tambahan

b. CONTOH FORMULA DI BUKU


1. Ilmu meracik obat, 2000 (hlm. 52-53)
• Hydrophilic petrolatum  termasuk dasar salep serap (dapat menyerap air):
R/ Vaselin album 86

2
TEORI SEDIAAN APT ITB OKT 2012-2013

Cera alba 8
Stearyl alcoholi 3
Cholesteroli 3
 Dasar salep emulsi tipe M/A (Vanishing Cream)  termasuk dasar salep yang dapat
dicuci dengan air
R/ Lanolini 2
Cetylalcoholi 1
Paraffini Liquidi 5
Acidi Stearinici 9
Kalii Hydroxidi 0,5
Propylene gylcoli 5
Aquadest 77,5
 Emulsifying ointment B.P  termasuk dasar salep yang dapat dicuci dengan air
R/ Emulsifying wax 300
Vaselini albi 500
Paraffini Liquidi 200
 Emulsifying wax  termasuk dasar salep yang dapat dicuci dengan air
R/ Cetostearylalcoholi 90
Natriilaurysulfat 10
Aquadest 4 ml

 Hydrophilic ointment  termasuk dasar salep yang dapat dicuci dengan air
Dibuat dari minyak mineral, Stearylalkohol, Myrj 52 (emulgator tipe m/a), Aquadest.
 PEG ointment USP  dasar salep yang dapat larut dalam air, terdiri dari antara lain PEG
atau campuran PEG
R/ PEG 4000 40%
PEG 400 60%

2. Fornas 1978, hlm. 334


a. Salep Dasar I
Campuran : Malam putih 50 bg
Vaselin putih 950 bg
Campuran : Malam kuning 50 bg
Vaselin kuning 950 bg
Dapat juga digunakan salep dasar lemak lain seperti lemak nabati, hewan/campuran
keduanya atau digunakan campuran parafin cair dan padat. Salep dasar I sangat lengket,
sukar dicuci, agar mudah dicuci ditambahkan surfaktan dalam jumlah sesuai.

b. Salep Dasar II
Zat utama : lemak bulu domba terutama kolesterol.
Campuran : Kolesterol 30 bg
Stearilalkohol 30 bg
Malam putih 80 bg
Vaselin putih 860 bg
Dapat juga diganti salep dasar lain yang cocok. Salep dasar II menyerap air.

c. Salep Dasar III


Campuran : Metil paraben 0,25 bg
Propil paraben 0,15 bg
Na Laurilsulfat 10 bg
Propilenglikol 120 bg
Stearilalkohol 250 bg
Vaselin putih 250 bg
3
TEORI SEDIAAN APT ITB OKT 2012-2013

Air ad 1000
Air dapat diganti salep dasar emulsi lain. Salep dasar III mudah dicuci.

d. Salep Dasar IV
Campuran: Poliglikol 1500 25 bg
Poliglikol 4000 40 bg
Propilenglikol/gliserol ad 100
Propilenglikol dapat diganti salep dasar larut lain.

Oculentum simplex (Fornas 1978 Halaman 65)


R/ Setilalkohol 2,5
Lemak bulu domba 6
Parafin cair 40
Vaselin kuning ad100
Dibuat dengan cara teknik aseptik, disterilkan dengan sterilisasi D.
Keterangan :
 bg = bagian
 Cara Sterilisasi D (FII, Hal 18), pemanasan kering
Sediaan yang akan disterilkan dimasukkan ke dalam wadah kemudian ditutup kedap atau
penutupan ini dapat bersifat sementara untuk mencegah cemaran. Jika volume tiap wadah
tidak lebih dari 30 ml, panaskan pada suhu 150 0C selama 1 jam. Jika tiap wadah mencapai
suhu 1500, wadah yang tertutup sementara, kemudian ditutup kedap menurut teknik
aseptik.

3. BP, 2001 (hlm. 1819-1820)


a. Emulsifying Ointment
R/ Emulsifying wax 300
White soft parafin 500
Liquid parafin 200
Lelehkan bahan, campur dan aduk hingga dingin.

b. Hydrous Ointment/Oily Cream


R/ Wool alcohols ointment 500
Phenoxyethanol 10
Dried magnesium sulfat 5
Purified water ad 1000
Untuk membuat salep putih, gunakan wool alcohol O. yang dibuat dengan white soft
parafin, dan untuk membuat salep kuning, gunakan wool alcohol O. yang dibuat dengan
yellow soft parafin.
Cara pembuatan : larutkan phenoxyethanol dan Mg sulfat kering dalam air hangat
hingga membentuk masa 500 g. Lelehkan wool alcohol ointment dan panaskan 60°C,
sambil diaduk hingga diperoleh krim yang halus. Aduk terus hingga dingin, campurkan
dengan campuran phenoxehanol dan Mg sulfat, tambahkan air hingga diperoleh massa
1000 g.

c. Simple Ointment
R/ Wool fat 50
Hard paraffin 50
Cetostearilalcohol 50
White/yellow soft paraffin 850
Campurkan bahan, panaskan sambil diaduk hingga homogen, kemudian angkat dan
aduk hingga dingin.
IV. PENJELASAN FORMULA
4
TEORI SEDIAAN APT ITB OKT 2012-2013

1. Zat aktif
ZA untuk sediaan topikal harus dalam bentuk aktifnya (soalnya dibaca baik-baik sudah
dalam bentuk aktif atau belum) . Data tersebut dapat dilihat dari data farmakokinetikanya. Jika
ZA tidak dalam bentuk aktif maka harus diubah kedalam bentuk aktifnya terlebih dahulu (jangan
lupa konversi dosis, jika ganti bentuk zat aktif). Zat aktif yang sering digunakan dalam
sediaan salep (yang beredar di pasaran) dapat dilihat pada Ansel, Howard. C., Pengantar Bentuk
Sediaan Farmasi, hal 516-518.

Preparat Produk komersial Persentase Keterangan


lazim zat
aktif
Steroid adrenokortikoid
Salep Betametason Valerat Vasoline Ointment 0,1% Preparat ini diindikasikan
(Schering) untuk mengurangi inflamasi
Salep Fluosinolon Asetonid Synalar Ointment 0,025% sebagai manifestasi dari
(Syntex) respon kulit terhadap
Salep Flurandrenolid Cordan ointment 0,025% dan kortikosteroid. Biasanya
(Dista) 0,05% dipakai pada permukaan kulit .
1 sampai 3 kali sehari
Salep Hidrokortison Asetat Cortef Acetate 1% dan 2,5%
ointment (Upjohn)
Salep Hidrokortison Cortril ointment 1%
(Pfizer); eldecort
cream (Elder)
Salep Triamsinolon Asetonid Aristocort ointment 0,1% dan
(lederler) 0,5%
Antibakteri /antiinfeksi
Salep Basitrasin Baciguent ointment 500 unit /g Preparat antibiotik ini
(Upj ohn) digunakan pada pengobatan
Salep Eritromisin Ilotycin Ointment 1% infeksi yang disebabkan oleh
(Dista) mikroorganisme yang rentan
Salep Gentamisin Sulfat Garamycin 0,17%
ointment Schering
Salep Neomisin Sulfat Myciguent 0,5%
ointment (Upjohn)
Salep Neomisin dan Neo-polycin Polimiksin B
Polimiksin B Sulfat dan Zink ointment (Merrel Sulfat 8000
Basitrasin dow) uniy/ g;
Neomisin
Sulfat
0,43%; Zink
Basitrasin
400 unit / g

Salep Vioform ointment 3% Digunakan untuk eksim,


Iodoklorhidroksikuinolon (ciba) dermatosin, impetigo,
seboreik dermatitis

Salep Metilbenzetonium Diaperene ointment 0,1% Untuk merah-merah karena


Klorida (Glenbrook) popok, panas yang menyengat
Salep Nitrofurazon Furasin ( Norwich 0,2% Untuk antibakteri
eaton) diindikasikan untuk terapi
pembantu pada pasien yang
terbakar

5
TEORI SEDIAAN APT ITB OKT 2012-2013

Antienzimatik/antipsoriatik
Salep Antralin Anthra-derm 0,25; 0,5 dan Antralin menghambat
(dermik) 1,0% metabolisme enzim.
Digunakan pada pengobatan
penyakit kulit kronis (psoriasis)

Antifungal
Salep Nistatin Salep Mikostatin 100.000 unit Antibiotik antifungi untuk
(squibb) /g infeksi jamur pada kulit dan
mukosa kulit
Salep campuran Asam Desenex ointment 5% Asam Digunakan terutama
Undeselinat (pharmacraft) Undeselinat Untuk kutu air, kurap
dan 20% Zink
Undeselinat

Anestetik
Salep Siklometikain Sulfat Surfacaine ointment 1% Dipakai pada kulit untuk
(lily) mengurangi sakit dan gatal
Salep Dibukain Nupercainal 1% karena sengatan, gigitan
ointment (ciba) serangga dan lain lain
Astringent/protektan
Salep Seng Oksida Banyak 20% 20% senk oksida dilevigasi
dengan minyak mineral dan
campuran dan dicampurkan ke
dalam salep putih. Digunakan
secara topikal (astringen dan
pelindung pada macam-
macam kondisi kulit)

Zat penghilang pigmen


Salep Monobenzon Benequin ointment 20% Digunakan dalam pemutih
(elder) sementara dari hiperpigmentasi
kulit cacat yang disebabkan oleh
bintik- bintik noda pada usia tua dan
kolasma

* Permasalahan zat aktif pada sediaan salep dapat dilihat pada guideline salep

2. BASIS
Pemilihan dasar salep tergantung pada faktor-faktor seperti: *tutorial pak Diky (slide kuliah
semsol)
a. Khasiat yang diinginkanefek yang diinginkan lokal/sistemikdiinginkan absorpsi topikal
atau perkutan. Untuk absorpsi lokal, formula tidak perlu ditambah peningkat penetrasi.
Namun, jika untuk lapisan yang lebih dalam meskipun tujuannya masih lokal seperti sediaan
untuk vitiligo (hipomelamin) yang tujuannya adalah untuk masuk ke lapisan epidermis yang
paling bawah maka perlu ditambahkan peningkat penetrasi karena terdapat barier stratum
korneum untuk dapat sampai ke lapisan kulit yang dituju.
b. Kecepatan pelepasan obat yang diinginkan. Hal ini terkait koefisien partisi atau afinitas
antara zat aktif dengan basis. Pada umumnya diinginkan yang afinitasnya rendah sehingga
efek farmakologi yang diinginkan lebih cepat tercapai. Namun, terdapat masalah pada
afinitas rendah sediaan cenderung cepat tersedimentasi sehingga solusinya perlu ditambah
suspending agent.
c. Oklusi. Hal ini bergantung pada waktu kontak yang diinginkan. Jika diinginkan waktu kontak
yang lama, sebaiknya digunakan basis hidrokarbon.

6
TEORI SEDIAAN APT ITB OKT 2012-2013

d. Sifat bahan obat yang dicampurkan,


e. Ketersediaan hayati,
f. Stabilitas obat di basis. Dalam hal-hal tertentu perlu menggunakan dasar salep yang kurang
ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan. Misalnya : obat-obat yang mudah
terhidrolisis lebih stabil dalam basis hidrokarbon daripada yang mengandung air meskipun
obat tersebut lebih efektif dalam dasar yang mengandung air.

* Penjelasan dasar salep hidrokarbon dapat dilihat di bagian kit – daftar basis salep
* Permasalahan basis sediaan salep dapat dilihat pada guideline salep

3. BAHAN TAMBAHAN
Bahan Pengawet
Preparat setengah padat harus dilindungi melalui kemasan dan penyimpanan yang sesuai dari
pengaruh pengrusakan oleh udara, cahaya, uap air (lembab) dan panas, serta kemungkinan
terjadinya reaksi kimia antara preparat dengan wadah (The art of compounding, hal 357).
Preparat setengah padat seperti salep memerlukan penambahan pengawet kimia sebagai
antimikroba. Pengawet ini termasuk hidroksibenzoat, fenol-fenol, asam benzoat, asam sorbat,
garam amonium kuartener dan campuran lainnya (Ansel, hal 510).

V. METODE PEMBUATAN
* Faktor faktor dalam pemilihan metode pembuatan, lihat di guideline salep
Metode pembuatan dapat dilihat pada Ansel, “Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi “, hal 506-510
Baik dalam ukuran besar maupun kecil, salep dibuat dengan dua metode umum : pencampuran dan
peleburan. Dalam metode pencampuran, komponen dari salep dicampur bersama-sama dengan
segala cara sampai sediaan yang rata tercapai.

Teknik pencampuran yang biasa digunakan untuk pembuatan salep:


1. Pencampuran dengan peleburan (metode fusion)
Disini zat pembawa dan zat berkhasiat dilelehkan bersama dan diaduk sampai membentuk fase
yang homogen. Dalam hal ini perlu diperhatikan stabilitas zat berkhasiat terhadap suhu yang
tinggi pada saat pelelehan.
2. Pencampuran dengan triturasi (metode triturasi)
Zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis yang akan dipakai atau dengan salah satu zat
pembantu, kemudian dilanjutkan dengan penambahan sisa basis. Dapat juga digunakan pelarut
organik untuk melarutkan terlebih dulu zat aktifnya, kemudian baru dicampur dengan basis yang
akan digunakan.
Dengan metode peleburan, semua atau beberapa komponen dari salep dicampurkan dengan
melebur bersama dan didinginkan dengan pengadukan yang konstan sampai mengental. Metode
yang dipilih tergantung pada sifat-sifat bahan (Aulton” Pharmaceutical Practice” 1990, hal 128-
129)

VI. PROSEDUR PEMBUATAN


* Permasalahan mengenai pembuatan sediaan salep dapat dilihat pada guideline salep
1. Timbang sejumlah basis yang diperlukan.
2. Timbang zat aktif
3. Masukkan zat aktif ke dalam mortir, digerus halus sambil sebelumnya ditambahkan sedikit basis
salep, gerus lagi agar bercampur homogen. Untuk zat aktif yang larut air dan membentuk
larutan stabil, larutkan dalam volume minimum air. Campuran dicampur secara kontinyu sampai
basis mengental. Untuk zat aktif yang tahan panas dapat segera dicampurkan sedikit demi
sedikit dengan basis salep yang masih cair dalam wadah. Untuk zat aktif yang tidak tahan
panas, basis salep dituang kedalam wadah untuk didinginkan terlebih dahulu sambil diaduk
sebelum dicampur.
4. Salep yang sudah terbentuk ditimbang dengan kertas perkamen sejumlah yang diperlukan, lalu
kertas perkamen digulung menutupi sediaan salep (prosedur ini digunakan jika tidak tersedia
7
TEORI SEDIAAN APT ITB OKT 2012-2013

alat pengisi salep). Salep yang digulung dalam gulungan perkamen dimasukkan ke dalam tube
dalam kondisi ujung tube keluar dalam keadaan tertutup. Kemudian tube ditutup dengan melipat
bagian belakang yang terbuka.
5. Tube diberi etiket, dikemas didalam kotak disertai brosur.
Catatan : Bila zat aktif berada dalam keadaan terdispersi dalam basis, maka setelah digerus
kemudian diayak dengan pengayak mesh 200 (Lachman, Theory & Practice Industrial Pharm.,544),
baru kemudian ditimbang.

8
TEORI SEDIAAN APT ITB OKT 2012-2013

VII. PERHITUNGAN
Formula yang diusulkan akan dibuat :
R/
Jumlah salep yang akan dibuat :
= ..............................tube x Y gram = g + untuk evaluasi.
Uji konsistensi dengan Brookfield minimal 250 gram, maka dibuat sediaan minimal 250 gram salep.

Perhitungan
Jumlah zat aktif biasanya ditimbang dalam jumlah 5% berlebih untuk mencegah kemungkinan
berkurangnya kadar dalam sediaan akibat proses pembuatan ataupun dalam penyimpanannya.
Basis salep ditimbang 10% berlebih
PENIMBANGAN
Zat aktif = g
Basis salep = g
Terdiri atas : basis a = g
basis b = g
Zat tambahan = g

VIII. PERMASALAHAN DALAM SEDIAAN


A. Permasalahan dalam Pembuatan
1. Cara pembuatan salep dengan bahan tertentu:
 Oleum Cacao
Karena adanya sifat polimorfisme, maka bila Oleum cacao dilelehkan sampai mencair semua
pada waktu mendinginkan akan memakan waktu yang lama. Maka bila salep mengandung
lebih dari 10% Oleum Cacao perlu hati-hati pada waktu melelehkan. Oleum cacao dilelehkan
sampai meleleh, tetapi belum mencair seperti minyak (di atas tangas air), setelah itu
diturunkan dari penangas air lalu ditambahkan minyak dingin atau massa salep dan digerus.
Bila kurang dari 10%, maka dapat dibuat seperti pada pembuatan salep dengan peleburan.
(Ilmu Meracik Obat, hal 64)

 Balsamum Peruvianum
Jangan ikut dipanaskan, ditambahkan pada massa salep yang telah dingin dan dicampur
terakhir. (Ilmu Meracik Obat, p.65)

2. Inkompatibilitas Salep (TPC, p.318-319)


Secara umum, salep anhydrous dan pasta menunjukkan permasalahan inkompatibilitas yang
lebih kecil dibandingkan sediaan topikal lainnya, penanganan khusus harus dilakukan dalam
pencampuran sediaan yang mengandung air.
3. Pembuatan Salep (TPC, p.153)
Spatula yang terbuat dari baja cocok digunakan pada hampir seluruh senyawa obat, tetapi tidak
dapat digunakan untuk pembuatan salep yang mengandung garam merkuri, asam tanat, asam
salisilat atau Iodin.
Pelelehan (Fusi) merupakan metode yang biasanya digunakan untuk produksi salep skala besar
dimana malam (wax) atau padatan dengan titik leleh yang tinggi dicampurkan dengan semi-solid
atau minyak; cara ini juga digunakan apabila akan dilakukan pencampuran air dalam volume
yang cukup besar. Komponen campuran akan meleleh dengan baik pada penurunan titik leleh
dan campuran fluid tersebut diaduk hingga dingin, untuk menghindari aerasi. Jika tidak diaduk
dengan efektif, maka lemak alkohol dan asam mungkin akan mengkristal pada sistem yang
mengandung paraffin. Serbuk yang tidak larut biasanya akan terpisah saat salep mulai
mengental/membeku. Padatan yang bisa terlarut dan tahan panas dapat dilarutkan pada basis
yang dilelehkan sebelum campuran tersebut membeku.

9
TEORI SEDIAAN APT ITB OKT 2012-2013

Untuk kuantitas kurang dari 500 g, penanganan lebih jauh terhadap sediaan salep untuk
meningkatkan homogenitas mungkin tidak begitu diperlukan, tetapi untuk jumlah yang lebih
besar, roller mills atau colloid mills dapat menambahkan keseragaman distribusi dari padatan
yang tidak larut dan eliminasi partikel dengan ukuran lebih besar dari 50 µm.
B. Permasalahan Khusus
1. Beberapa senyawa aktif tertentu
Basitrasin Salep (TPC, p.752-753)
Salep basitrasin dan Salep Basitrasin-Zinc harus disimpan dalam wadah tertutup baik dengan
ukuran tidak lebih dari 60 g, kecuali pada label tertulis untuk penggunaan Rumah Sakit. Lebih
baik disimpan dalam ruangan dengan suhu yang terkontrol. Basitrasin diketahui dapat
mempertahankan potensinya sampai 6 bulan jika dicampur dengan basis salep berikut: Jelene,
paraffin putih, lemak, likuid paraffin, white beeswax, Hidrokuinon, askorbil palmitat, setil alkohol,
kalamin, Zinc Oksida dan etil aminobenzoat.
Basitrasin perlahan diinaktivasi pada salep dengan basis Carbowax (Carbowax 4000 dengan
Propilene Glikol), Na-Lauril Sulfat, beberapa Span, Kolesterol, Stearil Alkohol, dan beberapa
Tween, dan diinaktivasi dengan cepat pada salep yang mengandung air, Macrogol 400,
Ichtannol, Gliserol, asam tanat, fenol dan propylene glikol.
Dithranol Salep (TPC, p.843-845)
Salep yang mengandung dithranol dengan konsentrasi 0.05%, 0.1%, atau 0.2% dengan asam
salisilat 0.5% dan salep emulsi hingga 100% diketahui tidak stabil secara relatif jika dibandingkan
terhadap salep yang mengandung dithranol 0.5-1% pada pengamatan selama 112 hari.
Eritromisin Salep (TPC, p. 855-860)
Potensi Eritromisin akan menghilang dengan cepat pada salep yang mengandung White Soft
paraffin dengan 5-10% White/yellow Beeswax.

2. Beberapa senyawa pembawa tertentu


Vaselin putih adalah bentuk yang dimurnikan/dipucatkan warnanya. Dalam pemucatan
digunakan asam sulfat, maka vaselin putih ini tidak dapat digunakan untuk mata. Vaselin hanya
dapat menyerap air sebanyak 5 %. Dengan penambahan surfaktan seperti Natrium Lauryl
Sulfat, tween, maka akan mampu menyerap air lebih banyak, juga penambahan kolesterol span
kemampuan mendukung air dapat dinaikkan. (Ilmu Meracik Obat, p.54 )

IX. EVALUASI SEDIAAN


(Diktat Teknologi Likuida dan Semisolida: Goeswin Agus dan Sasanti Tarini Darijanto, 127)

A. IPC
1. Organoleptik
2. Uji homogenitas (FI III, hal 33, Diktat Teknologi Farmasi Likuida dan Semisolida,hal 127)
Jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok harus
menunjukkan susunan yang homogen.
3. Penetapan pH : berhubungan dengan stabilitas ZA, efektifitas pengawet, keadaan kulit.
4. Pengukuran konsistensi
5. Penentuan distribusi ukuran partikel

B. EVALUASI FISIK
1. Homogenitas (FI III, hal 33)
Jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok harus
menunjukkan susunan yang homogen.
2. Konsistensi, dengan penetrometer atau Viskometer Brookfield
Tujuan: mudah dikeluarkan dari tube dan mudah dioleskan. Konsistensi/rheologi dipengaruhi
suhu. Sediaan non Newtonian dipengaruhi oleh waktu istirahat, oleh karena itu harus
dilakukan pada keadaan identik.
3. Bau dan warna
10
TEORI SEDIAAN APT ITB OKT 2012-2013

4. pH: berhubungan dengan stabilitas zat aktif, efektifitas pengawet, keadaan kulit.
5. Isi Minimum (FI IV, hal 997) <861 >
Prosedur untuk sediaan bukan aerosol
Ambil contoh sebanyak 10 wadah berisi zat uji, hilangkan semua etiket yang dapat
mempengaruhi bobot pada waktu isi wadah dikeluarkan. Bersihkan dan keringkan dengan
sempurna bagian luar wadah dengan cara yang sesuai dan timbang satu per satu.
Keluarkan isi secara kuantitatif dari masing-masing wadah, potong ujung wadah, jika perlu
cuci dengan pelarut yang sesuai, hati-hati agar tutup dan bagian lain wadah tidak terpisah.
Keringkan dan timbang kembali masing-masing wadah ·kosong beserta bagian-bagiannya.
Perbedaan antara kedua penimbangan adalah bobot bersih isi wadah. Bobot bersih rata-rata
isi dari 10 wadah tidak kurang dari bobot yang tertera pada etiket, dan tidak satu wadahpun
yang bobot bersih isinya kurang dari 90% dari bobot yang tertera pada etiket untuk bobot 60
g atau kurang. Tidak kurang dari 95% dari bobot yang tertera pada etiket untuk bobot lebih
dari 60 g dan kurang dari 150 g. Jika persyaratan ini tidak dipenuhi, tetapkan bobot bersih isi
20 wadah tambahan. Bobot bersih rata-rata isi dari 30 wadah tidak kurang dari bobot yang
tertera pada etiket, dan hanya satu wadah yang bobot bersih isinya kurang dari 90% dari
bobot yang tertera pada etiket untuk bobot 60 g atau kurang, dan tidak kurang dari 95% dari
bobot yang tertera pada etiket untuk bobot lebih dari 60 g dan kurang dari 150 g.

6. Pengujian difusi bahan aktif dari sediaan salep (In Vitro Release)
(Tugas Akhir Sriningsih, Kecepatan Difusi Kloramfenikol Dari Sediaan Salep)
(Jika dipersyaratkan dalam monografi/pustaka sediaan)
Prinsip : Menguji difusi bahan aktif dari sediaan salep menggunakan suatu sel difusi dengan
cara mengukur konsentrasi bahan aktif dalam cairan penerima pada selang waktu tertentu.
Prosedur:
a. Sejumlah salep dioleskan pada pelat difusi sampai rata, ditutup dengan membran,
diusahakan tidak terjadi rongga udara, antara permukaan salep dan membran.
b. Pelat dipasang pada penyangga bawah dan ditutup dengan cincin, kemudian
dihubungkan dengan penyangga atas.
c. Sel difusi dimasukkan ke dalam penangas air bersuhu 37 oC, dihubungkan dengan
pompa peristaltic, wadah penerima dan tabung pencegah masuknya udara dengan
memakai selang
d. Cairan penerima disirkulasikan dengan kecepatan 10mL per menit memakai pompa
peristaktik
e. Cairan penerima dipipet pada waktu-waktu tertentu dan diganti dengan cairan yang
sama bersuhu 37oC
f. Kadar zat aktif ditentukan dengan metode yang sesuai.

(gabisa ngecek TA orang, tapi ada di jurnal ttg metode yg mirip)


Ueda, C.T., et al. Topical and Transdermal Drug Products, Pharmacopeial Forum vol 35(3),
2009
sumber:http://www.usp.org/sites/default/files/usp_pdf/EN/USPNF/transdermalStimArticle.pdf

Sistem Sel Difusi Vertikal dapat digunakan untuk menentukan pelepasan in vitro dari
sediaan semisolid. Metode ini dilakukan dengan menempatkan sejumlah lapisan semisolid
dala kontak dengan media reseptor. Difusi yang terjadi antara sistem penghantaran dan
media reseptor terjadi melalui sebuah membran suport yang inert dan sangat permeabel.
Membran ini menjaga agar sediaan dan media reseptor tetap terpisah. Membran yang dipilih
sebaiknya memberikan resistensi difusi yang sekecil mungkin sehingga tidak menjadi
pengendali laju pelepasan. Untuk mencapai sink condition, media reseptor yang dipilih harus
memiliki kapasitas yang tinggi untuk melarutkan obat, dan pada akhir pengujian media
reseptor tidak boleh melebihi 10% Cs (kelarutan obat dalam matriks pelepasan).
a. Pada umumnya 200-400 mg salep dioleskan merata pada membran suport yang inert.

11
TEORI SEDIAAN APT ITB OKT 2012-2013

b. Membran suport kemudian di tempatkan dalam Sel Difusi vertikal.


c. Pengujian umumnya dilakukan pada suhu 32±1°C (temperatur kulit pada umumnya/
temperatur tempat kerja sediaan)
d. Sampel diambil dari media reseptor dan umumnya dilakukan beberapa kali dalam
rentang 4-5 jam. Volume sampel yang diambil harus digantikan dengan media reseptor
yang baru.
*(Kurang lebih sih mirip sama yg sumber TA, Cuma beda di temperatur pengujian. Mungkin
bisa untuk melengkapi)

C. EVALUASI KIMIA
- Identifikasi zat aktif
- Penetapan kadar zat aktif

D. EVALUASI BIOLOGI
 Penetapan potensi antibiotik secara mikrobiologi (untuk zat aktifnya antibiotik)
(suplemen FI IV <131>, hal 1519-1527)
 Pengukuran potensi beberapa zat antibiotik yang dipakai secara topikal.
 Microbial Content Batas mikroba ditentukan di USP untuk sediaan tertentu.
Contohnya: salep Betamethason valerate, harus memenuhi persyaratan pengujian
untuk bebas dari S. aureus dan P. aeruginosa. Mikroba tersebut penting untuk
dipersyaratkan dalam sediaan untuk kulit karena kemungkinannya untuk menginfeksi
kulit, dan pasien yang menggunakan sediaan tersebut sudah terganggu kondisi
kulitnya.
(Ansel’s Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery Systems 10 th ed, hal 322)

12