Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH FARMASI

HEMOROID

Oleh:
Rachmawan Firyana
G99161118

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI
SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Hemoroid merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat yang sampai saat
ini masih banyak orang yang salah mengerti tentang hemoroid dan masalah-masalah
kesehatan yang berhubungan dengan hemoroid. Hemoroid dikenal dengan banyak istilah.
Kata hemoroid sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu haem: darah dan rhoos: mengalir,
jadi semua perdarahan yang ada di anus disebut hemoroid. Sedangkan di Amerika dan Inggris
memakai istilah piles yang berasal dari bahasa Latin yang berarti bola. Istilah lain yang juga
sering digunakan adalah ambeien yang berasal dari bahasa Belanda. Sedangkan di Indonesia
sendiri istilah yang paling sering digunakan adalah wasir yang pada orang awam mempunyi
arti berak darah.
Hemoroid di Amerika Serikat, hemoroid ditemukan dengan jumlah kasus meliputi
4,4% dari seluruh penduduk.1,2,3 Namun sayangnya frekuensi pasti dari hemoroid sulit
diketahui. Seseorang yang menderita hemoroid cenderung malu mengutarakan penyakitnya
dan takut membayangkan tindakan yang mungkin akan dilakukan dokter. Di samping itu,
hemoroid memang bukanlah penyakit yang mematikan. Gejalanya dapat hilang timbul, dan
pada sebagian besar kasus gejala hemoroid sudah lenyap dalam beberapa hari saja.4
Menurut anatomi atau letaknya, hemoroid dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
hemoroid interna dan hemoroid eksterna. Batas antara interna dan eksterna adalah suatu garis
pada anus yang disebut linea dentata atau pectinate line. Linea dentata adalah garis pertemuan
antara permukaan usus besar di sisi dalam dan permukaan kulit di sisi luar. Jika benjolan
berasal dari atas linea dentata, maka hemoroidnya termasuk hemoroid interna. Sebaliknya
jika benjolan berasal dari bawah linea dentata, hemoroidnya termasuk hemoroid eksterna.4
Gejala hemoroid sangat mirip dengan gejala karsinoma kolorektal. Oleh karena itu
pasien yang datang dengan keluhan hemoroid harus mendapat pemeriksaan yang adekuat
untuk menyingkirkan kemungkinan adanya karsinoma kolorektal. Selain itu pemeriksaan
yang adekuat juga diperlukan untuk menegakkan diagnosis dan klasifikasi serta derajat
hemoroid sehingga penanganan yang tepat dapat diberikan. Pengobatan hemoroid dapat
dilakukan dengan tiga modalitas utama, yaitu modifikasi gaya hidup, obat-obatan
(farmakologis), tindakan (nonfarmakologis).

2
BAB II
ILUSTRASI KASUS

I. ANAMNESIS
A. Identitas Penderita
Nama : Tn. Edi
Umur : 46 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Sopir taxi

B. Keluhan Utama:
Terasa nyeri dan berdarah saat buang air besar

C. Riwayat Penyakit Sekarang:

Seorang pasien laki-laki datang ke klinik dengan keluhan sering nyeri pada saat
buang air besar atau setelahnya Keluhan dirasakan pasien sejak kurang lebih 3
minggu yang lalu. Keluhan nyeri saat buang air besar juga disertai keluar darah
berwarna merah segar tidak bercampur dengan feses. Pasien biasanya buang air besar
(BAB) kira-kira empat hari sekali, fesesnya keras dan sulit keluar. Pasien tidak
merasakan ada massa atau daging yang keluar dari anusnya. Nyeri pada perut (-),
mual (-), diare (-).

D. Riwayat Penyakit Dahulu:


1. Riwayat sakit jantung : disangkal
2. Riwayat hipertensi : disangkal
3. Riwayat asma : disangkal
4. Riwayat alergi : disangkal
5. Riwayat mondok : disangkal
6. Riwayat diabetes melitus : disangkal

E. Riwayat Kebiasaan
1. Pasien jarang mengonsumsi sayur, minum air dan jarang berolahraga.

3
2. Pasien sering mengalami buang air besar (BAB) keras sebelumnya.
3. Pasien bekerja sebagai sopir taxi, dengan posisi duduk yang lama.
4. Pasien merokok dan tidak minum-minuman beralkohol.

F. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit serupa : disangkal

G. Riwayat Sosial dan Ekonomi


Pasien sehari-hari bekerja sebagai sopir taxi. Pasien sudah berkeluarga dengan
seorang istri dan tiga anak yang masih sekolah. Pasien sehari-hari bekerja sebagai sopir
dengan posisi duduk yang lama.

II. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Generalis
Keadaan umum pasien adalah sakit sedang, kesadaran pasien compos mentis
E4V5M6, dan gizi kesan cukup.

B. Tanda Vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 88x/ menit
Respirasi : 20x/ menit
Suhu : 36.8 °C (per aksila)

C. Kulit
Warna sawo matang, pucat (-), petechie (-), venektasi (-), spider naevi (-), striae
(-), hiperpigmentasi (-).

D. Kepala
Bentuk mesocephal, kedudukan kepala simetris, luka (-), rambut hitam beruban,
tidak mudah rontok, tidak mudah dicabut, atrofi otot (-).

E. Mata

4
Conjunctiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya langsung dan tak
langsung (+/+), pupil isokor (3 mm/ 3mm), oedem palpebra (-/-), sekret (-/-).
F. Hidung
Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-)

G. Telinga
Deformitas (-/-),darah (-/-), sekret (-/-)

H. Mulut
Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-),stomatitis (-), mukosa pucat (-), gusi
berdarah (-).

I. Leher
Simetris, trakea di tengah, JVP tidak meningkat, limfonodi tidak membesar, nyeri
tekan (-), benjolan (-).

J. Thorax
1. Retraksi (-)
2. Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat
Perkusi : konfigurasi jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : BJ I dan II intensitas normal, reguler, dan bising (-)
3. Paru
Inspeksi : pengembangan dinding dada kanan = kiri (statis dan
dinamis), gerakan paradoksal (-)
Palpasi : fremitus taktil kanan = kiri
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : suara dasar (vesikuler/vesikuler), suara tambahan (-)

K. Abdomen
Inspeksi : dinding perut lebih tinggi daripada dinding dada
Auskultasi : peristaltik (+) normal 10x/ menit
Perkusi : timpani
5
Palpasi : nyeri tekan (-), hepar, dan lien kesan normal

L. Ekstremitas
Oedem Akral dingin

- - - -
- - - -

M. Genitourinaria
Ulkus (-), sekret (-), tanda-tanda radang (-).

N. Colok Dubur
Tonus muskular spincter ani dalam batas normal, mukosa licin, ampula normal, massa
(-), nyeri tekan (-), sarung tangan lendir darah (-), feses (+).

III. RESUME
Pasien laki-laki sejak kurang lebih 3 minggu yang lalu sering mengeluh nyeri pada
saat buang air besar. Selain nyeri saat buang air besar juga disertai keluar darah berwarna
merah segar tidak bercampur dengan feses. Pasien buang air besar kira-kira empat hari
sekali, fases keras. Pasien tidak merasakan ada massa atau daging yang keluar dari
duburnya.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan, TD = 120/80, N = 88x/menit, RR=20x /menit,
suhu 36.8 °C, colok dubur dalam batas normal. Pasien belum pernah mengalami keluhan
ini sebelumnya.

IV. DIAGNOSIS
Hemoroid interna grade I

V. TUJUAN TERAPI
A. Meredakan inflamasi dan nyeri pada anus dan pendarahan.
Pasien mengalami inflamasi dan nyeri dan pendarahan pada daerah anorektal
sehingga perlu diberikan anti inflamasi,analgesic, serta menhentikan pendarahannya
dan preparat yang tepat merupakan ultraproct dengan sediaan supposutoria yang

6
mengandung obat golongan steroid dan anastesi sehingga dapat meredam dari reaksi
inflamasi dan nyeri, disamping itu ultraproct juga dapat menghentikan pendarahan
melalui mekanisme penurunan permeabilitas vaskuler.
B. Melunakan feses.
Konstipasi pada pasien diterapi menggunakan obat golongan laxative seperti
golongan stimulant laxative untuk fase akut . dan diikuti diet tinggi serat untuk
mengurangi frekuensi dari kekambuhan selanjutnya. Melunakan feses pada pasien ini
bertujuan untuk mengurangi dari frekuensi mengejan sehingga tekanan yang berlebihan
pada vena hemoroidalis dapat diturunkan.

C. Memperkuat dinding vena-vena hemoroidales.


Pada pasien ini juga perlu diberikan terapi untuk memperkuat jaringan penyokong
dan memperbaiki vaskular dari pleksus hemorrhoidalis yang nantinya juga akan
menurunkan atau memperbaiki gejala akut pada hemoroid dan mencegah kekambuhan
pada waktu selanjutnya.

VI. TERAPI
A. Konservatif

1. Menambah jumlah cairan dan serat pada makanan sehari-hari. Mengkonsumsi serat
tidak larut sebanyak 25-30 gram per hari (derajat I dan II).
2. Mengurangi kebiasaan sering mengejan di toilet.
3. Sitz bath merupakan metode mandi di mana pinggul dan pantat direndam di dalam
air hangat dengan suhu 40oC untuk mendapatkan efek terapeutik uap hangat pada
perianal dan anal.

7
B. Medikamentosa

R/ Daflon tab mg 500 No XLII


∫ 3 dd tab II dc

R/ Ultraproct supp No XIV


∫ (1-3) dd supp I prn per rectal post defecatio

R/ Dulcolax tab No VI
∫ 1 dd tab II a.n

Pro : Tn Edi (46 th)

8
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI
Hemoroid adalah pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus
yang berasal dari pleksus hemoroidalis. Pelebaran dan inflamasi ini menyebabkan
pembengkakan submukosa pada lubang anus. Dalam masyarakat umum hemoroid lebih
dikenal dengan wasir.11 Istilah “penyakit hemoroid” ditujukan pada vena-vena disekitar
anus atau rektum bagian bawah mengalami pembengkakan, perdarahan, penonjolan
(prolapse), nyeri, trombosis, mucous discharge, dan pruritus.1,3,5

II. ANATOMI
Rektum panjangnya 15 – 20 cm dan berbentuk huruf S. Mula-mula mengikuti
lengkungan vertebrae, fleksura sakralis, kemudian membelok kebelakang pada ketinggian
sakrum dan melintas melalui dasar panggul pada fleksura perinealis. Akhirnya rektum
menjadi kanalis analis dan berakhir jadi anus. Rektum mempunyai sebuah proyeksi kesisi
kiri yang dibentuk oleh lipatan kohlrausch. Fleksura sakralis terletak di belakang
peritoneum dan bagian anteriornya tertutup oleh peritoneum. Fleksura perinealis berjalan
ektraperitoneal. Haustra (kantong) dan taenia (pita) tidak terdapat pada rektum, dan
lapisan otot longitudinalnya berkesinambungan.

Gambar 1. Anatomi Rektum

Pada sepertiga bagian atas rektum, terdapat bagian yang dapat cukup banyak meluas
yakni ampula rektum bila ini terisi maka timbulah perasaan ingin buang air besar. Di
bawah ampula, tiga buah lipatan proyeksi seperti sayap-sayap ke dalam lumen rektum, dua
9
yang lebih kecil pada sisi yang kiri dan diantara keduanya terdapat satu lipatan yang lebih
besar pada sisi kanan, yakni lipatan kohlrausch, pada jarak 5-8 cm dari anus. Melalui
kontraksi serabut-serabut otot sirkuler, lipatan tersebut saling mendekat, dan pada
kontraksi serabut otot longitudinal lipatan tersebut saling menjauh. Kanalis analis pada
dua pertiga bagian bawahnya, berlapiskan kulit tipis yang sedikit bertanduk yang
mengandung persarafan sensoris yang bergabung dengan kulit bagian luar, kulit ini
mencapai ke dalam bagian akhir kanalis analis dan mempunyai epidermis berpigmen yang
bertanduk rambut dengan kelenjar sebacea dan kelenjar keringat. Mukosa kolon mencapai
dua pertiga bagian atas kanalis analis. Pada daerah ini, 6-10 lipatan longitudinal berbentuk
gulungan, kolumna analis melengkung kedalam lumen. Lipatan ini terlontar ke atas oleh
simpul pembuluh dan tertutup beberapa lapisan epitel gepeng yang tidak bertanduk. Pada
ujung bawahnya, kolumna analis saling bergabung dengan perantaraan lipatan transversal.
Alur-alur diantara lipatan longitudinal berakhir pada kantong dangkal pada akhiran
analnya dan tertutup selapis epitel thorax. Daerah kolumna analis, yang panjangnya kira-
kira 1 cm, disebut daerah hemoroidal, cabang arteri rectalis superior turun ke kolumna
analis terletak di bawah mukosa dan membentuk dasar hemorhoid interna.15

Gambar 2. Vena Interna dan Eksterna Rektum

Hemoroid dibedakan antara yang interna dan eksterna. Hemoroid interna adalah
pleksus vena hemoroidalis superior di atas linea dentata/garis mukokutan dan ditutupi oleh
mukosa. Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskuler di dalam jaringan submukosa
pada rectum sebelah bawah. Sering hemoroid terdapat pada tiga posisi primer, yaitu kanan
depan (jam 7), kanan belakang (jam 11), dan kiri lateral (jam 3). Hemoroid yang lebih
kecil terdapat di antara ketiga letak primer tesebut.15

10
Gambar 3. Letak Hemoroid

Kembalinya darah dari kanalis anal melalui dua sistem, yaitu melalui portal dan
sistemik. Hubungan antara kedua sistem ini terjadi pada linea dentata.2 Pleksus vena dan
sinusoid di bawah linea dentata membentuk hemoroid eksterna, mengalirkan darah melalui
vena rektal inferior menuju vena pudendal yang merupakan cabang dari vena iliaka
internal. Jaringan pada hemoroid eksterna ini sensitif terhadap nyeri, panas, regangan, dan
suhu karena diinervasi secara somatik. Pembuluh darah subepitelial dan sinus-sinus di atas
linea dentata membentuk hemoroid interna, dialiri darah dari vena rektal media menuju ke
vena iliaka interna.1

III. ETIOPATOGENESIS
Teori pergesaran lapisan anus (sliding anal lining theory) merupakan teori yang
paling tepat menjelaskan etiologi terjadinya penyakit hemoroid. Hemoroid terjadi karena
gangguan pada Treitz’s muscle dan jaringan ikat elastis. Hipertropi dan kongesti vaskular
merupakan akibat sekunder. Hemoroid terjadi akibat sering mengedan dan BAB yang
tidak teratur, yang merupakan gambaran yang cocok untuk teori pergeseran lapisan anus.
Feses yang keras dan besar, serta tenesmus karena diare menyebabkan bantalan anal
bergeser ke bawah anal kanal dan mukosa yang melapisinya akan menjadi tipis dan rapuh.
Mengedan terus-menerus saat defekasi menyebabkan pengembangan dari bantalan anal
lalu terjadi prolaps akibat regangan berlebihan dari submukosa Treitz’s muscle. Jika
prolaps tidak bisa direduksi kembali dan jaringan mengalami strangulasi serta nekrosis,

11
penyakit sistemik dan sepsis pelvis melalui sistem portal akan terjadi. Teori ini juga
didukung oleh penelitian histologis yang menunjukkan adanya penurunan jaringan
penyokong anal pada dekade ketiga kehidupan.1,2,3
Pecahnya jaringan ikat yang mendukung bantalan anal kanal menyebabkan
terjadinya kemerosotan bantalan.Hal ini terjadi seiring dengan umur yang menyebabkan
kelemahan struktur jaringan ikat dan akibat mengedan karena feses yang keras.Mengedan
menyebabkan peningkatan tekanan vena lalu menimbulkan prolaps bantalan anal. Pada
bantalan yang mengalami prolaps terjadi gangguan venous return sehingga mengakibatkan
dilatasi pleksus dan stasis vena. Inflamasi terjadi akibat erosi epitel bantalan yang pada
akhirnya menimbulkan perdarahan.6
Faktor risiko yang menyebabkan terjadinya hemoroid yaitu:1
A. Anatomik
Vena daerah anorektal tidak mempunyai katup dan pleksus hemoroidalis kurang
mendapat sokongan dari otot dan fascia sekitarnya.
B. Usia
Pada usia tua terjadi degenerasi dari seluruh jaringan tubuh, juga otot sfingter
menjadi tipis dan atonis.
C. Keturunan
Dinding pembuluh darah lemah dan tipis.
D. Pekerjaan
Orang yang harus berdiri, duduk lama, atau harus mengangkat barang berat
mempunyai predisposisi terjadi hemoroid.
E. Mekanis
Semua keadaan yang menyebabkan meningkatnya tekanan intra abdomen,
misalnya penderita hipertrofi prostat, konstipasi menahun dan sering mengejan pada
waktu defekasi.
F. Endokrin
Pada wanita hamil ada dilatasi vena ekstremitas dan anus oleh karena ada sekresi
hormon relaksin.
G. Fisiologis
Bendungan pada peredaran darah portal, misalnya pada penderita sirosis hepatis.

12
IV. EPIDEMIOLOGI
Prevalensi penyakit hemoroid di Amerika Serikat adalah 4.4%. Hemoroid bisa
terjadi pada semua umur tetapi paling banyak terjadi pada umur 45-65 tahun. Penyakit
hemoroid jarang terjadi pada usia di bawah 20 tahun. Prevalensi meningkat pada ras
Kaukasian dan individu dengan status ekonomi tinggi. Apakah hal ini merupakan akibat
dari kebiasaan orang-orang dengan status ekonomi tinggi yang memiliki kebiasaan
memeriksakan kesehatannya atau memang prevalensi yang sebenarnya, masih perlu
dibuktikan. Angka prevalensi hemoroid di akhir pertengahan abad ke 20 dilaporkan
menurun.1,2,5

V. KLASIFIKASI
Hemoroid dapat diklasifikasikan menurut letaknya terhadap linea dentata, garis yang
membatasi transisi dari epitel skuamosa di bawahnya dengan epitel kolumnar di atasnya.
Hemoroid internal berada di atas linea dentata, ditutupi oleh epitel trasisional dan
kolumnar. Sedangkan hemoroid eksternal berada di bawah linea dentata, ditutupi oleh
epitel skuamosa. Karena jaringan yang menutupi hemoroid interna ini dipersarafi oleh
saraf viscera, jaringan ini tidak sensitif terhadap nyeri, suhu, atau sentuhan yang membuat
lebih mudah untuk dilakukan prosedur pemeriksaan fisik.1,2,4,7
Hemoroid interna diklasifikasikan menjadi 4 derajat yaitu :1,2,4,7
A. Derajat I: Tonjolan masih di lumen rektum, biasanya keluhan penderita adalah
perdarahan
B. Derajat II: Tonjolan keluar dari anus waktu defekasi dan masuk sendiri setelah selesai
defekasi.
C. Derajat III: Tonjolan keluar waktu defekasi, harus didorong masuk setelah defekasi
selesai karena tidak dapat masuk sendiri.
D. Derajat IV: Tonjolan tidak dapat didorong masuk/inkarserasi
Hemoroid eksterna diklasifikasikan sebagai akut dan kronik. Bentuk akut berupa
pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan hematoma,
walaupun disebut hemoroid trombosis eksterna akut. Bentuk ini sangat nyeri dan gatal
karena ujung-ujung syaraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Hemoroid eksterna kronik
atau skin tag berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan
penyambung dan sedikit pembuluh darah. Hemoroid campuran merupakan gabungan dari
hemoroid internal dan eksterna.1,2

13
Gambar 4. Hemoroid Interna dan Hemoroid Eksterna

VI. GEJALA DAN TANDA


Gejala hemoroid dibagi menurut asal hemoroid yaitu interna dan eksterna. Hemoroid
interna tidak menyebabkan nyeri kutan karena berada di atas linea dentata dan tidak
diinervasi oleh saraf kutaneus. Tetapi hemoroid ini bisa mengalami perdarahan, prolaps,
dan iritasi serta gatal di perianal. Perdarahan umumnya merupakan tanda pertama dari
hemoroid interna akibat trauma oleh feses yang keras. Darah yang keluar berwarna merah
segar dan tidak tercampur dengan feses, dapat hanya berupa garis pada feses atau kertas
pembersih sampai pada perdarahan yang terlihat menetes atau mewarnai air toilet menjadi
merah. Hemoroid yang membesar secara perlahan-lahan akhirnya dapat menonjol keluar
menyebabkan prolaps. Pada tahap awal, penonjolan ini hanya terjadi pada waktu defekasi
dan disusul reduksi spontan setelah defekasi. Pada stadium yang lebih lanjut, hemoroid
interna ini perlu didorong kembali setelah defekasi agar masuk kembali ke dalam anus.
Pada akhirnya hemoroid dapat berlanjut menjadi bentuk yang mengalami prolaps menetap
dan tidak bisa didorong masuk lagi. Keluarnya mukus dan terdapatnya feses pada pakaian
dalam merupakan ciri hemoroid yang mengalami prolaps menetap. Iritasi kulit perianal
dapat menimbulkan rasa gatal yang dikenal sebagai pruritus ani dan ini disebabkan oleh
kelembaban yang terus menerus dan rangsangan mukus. Hemoroid interna juga bisa
menimbulkan nyeri akut jika mengalami inkarserata atau strangulasi. Nyeri ini
berhubungan dengan spasme kompleks dari sfingter.1,2,7
Gejala hemoroid eksterna adalah nyeri jika terjadi trombosis akut dari vena
hemoroidalis eksterna yang bisa terjadi pada keadaan tertentu, seperti saat melakukan
aktivitas fisik, mengedan saat konstipasi, diare, dan perubahan diet. Keadaan ini
menimbulkan nyeri akibat distensi cepat pada kulit yang terinervasi, oleh clot dan edema

14
yang terjadi di sekitarnya. Nyeri bisa berlangsung selama 7-14 hari dan sembuh dengan
resolusi dari trombosis tersebut. Nyeri hanya timbul apabila terdapat trombosis yang luas
dengan oedem dan radang. Karena terjadi resolusi, anoderm yang meregang akan tersisa
sebagai skin tag. Trombosis eksterna biasanya mengerosi kulit dan menyebabkan
perdarahan.1,5,7 Terapi pembedahan untuk hemoroid eksterna tidak diindikasikan kecuali
jika mengalami trombosis yang menyebabkan nyeri akut.2

Gambar 5. Hemoroid Eksterna

VII. DIAGNOSIS
Penegakan diagnosis untuk hemoroid dilakukan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis perlu digali keluhan-
keluhan dari pasien yang mengarah ke hemoroid. Selain itu perlu juga dicari faktor-faktor
risiko, misalnya riwayat pengobatan dan diet yang bisa menyebabkan konstipasi atau
diare, riwayat penyakit yang berhubungan dengan hemoroid, terutama kelainan perdarahan
dan penyakit liver dengan hipertensi portal.2
Pemeriksaan fisik untuk hemoroid terdiri dari inspeksi rectum, pemeriksaan colok
dubur atau rectal toucher, dan anoskopi atau proktosigmoidoskopi. Posisi yang digunakan
untuk memeriksa pasien adalah left lateral decubitus. Letak dari semua kelainan di anal
dideskripsikan secara anatomis (anterior, posterior, dan sebagainya), bukan dengan arah
jarum jam agar bisa menentukan posisi kelainan tanpa memperhatikan posisi pasien saat
diperiksa. Inspeksi dilakukan di seluruh area perianal. Cari adanya kelainan kulit perianal,
protrusi hemoroid internal, fisura ani, pruritus ani, skin tag, dan adanya trombosis.1
Saat melakukan pemeriksaan colok dubur atau rectal toucher, ingatkan pasien
bahwa kita akan memeriksa anus pasien dengan cara memasukan jari ke dalam lubang
anus. Hal ini penting agar pasien merasa rileks. Pertama lihat dan buka pantat pasien untuk

15
mendapatkan visualisasi yang baik terhadap anoderm, ini meliputi bagian distal kanalis
anal. Fisura pada anal dan pruritus ani mudah dilihat tanpa pemeriksaan bagian dalam.
Lalu perhatikan adanya skin tag dan thrombus, kemudian tentukan jumlah dan lokasinya.
Kemudian lakukan rectal toucher, nilai tonus sfingter ani rasakan jika terdapat nyeri,
adanya massa, abses, mucoid discharge, dan pastikan untuk memeriksa prostat pada
semua pasien laki-laki. Hemoroid internal biasanya tidak teraba karena merupakan
struktur vaskular yang lembut.1,5
Anoskopi dilakukan untuk melihat hemoroid interna. Prolaps bisa dilihat ketika
pasien disuruh mengejan. Bantalan hemoroidal dapat dilihat dengan anoskopi di posisi
lateral kiri, kanan depan, dan kanan belakang. Ukuran hemoroid, keparahan inflamasi, dan
perdarahannya harus dinilai.5 Proktoskopi atau flexible sigmidoscopy dilakukan pada
semua kasus untuk melihat rectum dan kolon bagian bawah untuk mengeksklusi adanya
karsinoma, adenoma, dan inflammatory bowel disease. Keadaan yang disebutkan terakhir
memiliki gejala yang mirip dengan penyakit hemoroid.2

Gambar 6. Letak hemoroid pada pasien dengan posisi litotomi.7

VIII. DIAGNOSIS BANDING


Perdarahan rektum yang merupakan manifestasi utama hemoroid interna juga terjadi
pada karsinoma kolorektal, penyakit divertikel, polip, colitis ulserosa, dan penyakit lain
yang tidak begitu sering terdapat di kolorektal. Prolaps rektum harus dibedakan dari
prolaps mukosa akibat hemoroid interna. Kondiloma perianal dan tumor anorektum
lainnya biasanya tidak sulit dibedakan dari hemoroid yang mengalami prolaps. Lipatan
kulit luar yang lunak sebagai akibat dari trombosis hemoroid eksterna sebelumnya juga

16
mudah dikenali. Adanya lipatan kulit sentinel pada garis tengah dorsal, yang disebut
umbai kulit, dapat menunjukkan adanya fisura anus.2,4

IX. PENATALAKSANAAN
Kebanyakan pasien dengan hemoroid grade I dan II dapat diobati dengan
pengobatan per oral dengan obat untuk memperkuat dinding kapiler dan meningkatkan
permeabilitasnya dan anjuran diet. Hilangkan faktor penyebab, misalnya obstipasi, dengan
diet rendah serat, banyak makan makanan berserat seperti buah dan sayur, banyak minum
dan mengurangi daging. Pasien dilarang makan makanan yang merangsang seperti pedas.
Bila terdapat nyeri yang terus menerus dapat diberikan supositoria atau salep rectal
untuk anestesi dan pelembab kulit, untuk melancarkan defekasi dapat diberikan laksan.
Bila dengan pengobatan diatas tidak ada perbaikan, diberikan terapi sklerosing
dengan menyuntikan zat sklerosing (fenol) satu hingg1-2 cc kedalam jaringan ikat longgar
di atas hemoroid interna, dengan harapan timbul inflamasi, fibrosis dan terjadi jaringan
parut lalu hemoroid mengecil. Tindakan bedah diperlukan bagi pasien dengan keluhan
kronis dan hemoroid derajat tiga atau empat. Prinsip utama hemoroidektomi adalah eksisi
hanya pada jaringan yang menonjol dan eksisi konservatif kulit serta anoderm normal.

Gambar 7. Alur penanganan hemoroid

17
X. KOMPLIKASI
Hemoroid interna yang mengalami prolaps bisa menjadi tidak bisa direduksi
sehingga terjadi kongesti yang akan mengakibatkan edema dan trombosis. Keadaan ini
dapat berlanjut menjadi trombosis melingkar pada hemoroid interna dan eksterna secara
bersamaan. Keadaan ini menyebabkan nyeri hebat dan nekrosis mukosa serta kulit yang
menutupinya. Emboli septik dapat terjadi melalui sistem portal dan dapat menyebabkan
abses hati. Anemia dapat terjadi karena perdarahan ringan yang lama. Hemoroid dapat
membentuk pintasan portal sistemik pada hipertensi portal. Apabila hemoroid ini
mengalami perdarahan, perdarahan yang terjadi bisa sangat banyak.4
Komplikasi dari pembedahan bisa mencapai kurang dari 5% kasus jika ditangani
oleh dokter bedah yang terlatih. Komplikasi pembedahan hemoroid meliputi nyeri pasca
operasi, perdarahan pasca operasi, retensi urin, stenosis anorektal, cedera sfingter ani,
inkontinensia, sepsis pelvis, perforasi rektal, obstruksi rektal akut, pembentukan fistula,
luka yang tidak sembuh, infeksi, dan kekambuhan.2,5

XI. PROGNOSIS
Dengan terapi yang sesuai, semua hemoroid simptomatis dapat dibuat menjadi
asimptomatis. Pendekatan konservatif hendaknya diusahakan terlebih dahulu pada semua
kasus. Hemoroidektomi pada umumnya memberikan hasil yang baik, meskipun bisa
terjadi kekambuhan. Sesudah terapi penderita harus diajari untuk menghindari obstipasi
dengan makan makanan serat agar dapat mencegah timbulnya kembali gejala hemoroid.
Kematian akibat perdarahan hemoroid merupakan kejadian yang jarang terjadi.5

18
BAB IV
PEMBAHASAN

I. DAFLON
A. Kandungan
Micronized purified flavonoid fraction 500 mg (diosmin 90% dan hesperidin 10%)
B. Dosis
Kronik 2x1 tab pagi dan malam hari saat makan; serangan akut 4-6 tablet per hari
C. Indikasi
Hemoroid kronik, serangan hemoroid akut
D. Kontra Indikasi
Hipersensitivitas
E. Mekanisme Kerja
Daflon bekerja mengembalikan fungsi vena seperti semua. Pada vena tersebut, ia
mengurangi distensi dan stasis vena. Selain ini, ia meningkatkan tonus vena Pada
mikrosirkulasi, ia mengembalikan permeabilitas kapiler dan memperkuat resistensi
kapiler.
Meningkatkan resistensi dan tonus pembuluh darah vena
F. Efek Samping
Diare, dispepsia, mual, dan muntah.

II. ULTRAPROCT SUPP


1. Kandungan
Fluocortolone pivalate 1 mg, lidokain HCl 40 mg
2. Indikasi  
Hemoroid, prokitis, fissura anal superfisial, eksim pada dubur.
3. Kontraindikasi
Proses TB atau sifilis di daerah yang akan diobati, penyakit karena virus (misalnya
varicella), dan adanya reaksi hipersensitif terhadap obat ini.
4. Mekanisme Kerja
Mengurangi rasa nyeri dan gatal serta gejala peradangan pada daerah yang akan diobati.
Tidak dapat menghilangkan hemoroid tetapi digunakan untuk pengobatan persiapan
sebelum hemoroidektomi dan sesudah operasi.
5. Cara Pemberian
19
Daerah dubur dibersihkan terlebih dahulu dan sebaiknya dipakai setelah buang air
besar. Lama pengobatan tidak boleh lebih dari 4 minggu. Secara umum, satu
supositoria dimasukkan sampai jauh ke dalam dubur dua kali sehari pada pagi dan sore
hari, tapi untuk sakit yang hebat, pemberian dapat dilakukan tiga kali sehari untuk tiga
hari pertama. Setelah keadaan membaik, pada banyak kasus satu supositoria per hari
atau setiap dua hari sudah cukup.
6. Efek Samping
Rasa seperti terbakar kadang-kadang terjadi di sekitar daerah dubur. Jika digunakan
untuk jangka lama (lebih dari 4 minggu) dapat timbul gejala lokal seperti atropi kulit.

III. DULCOLAX
A. Sediaan
Tablet 5 mg, supositoria 10 g (dewasa); 5 mg (anak-anak)
B. Kandungan
Bisacodyl
C. Mekanisme Kerja
Bisacodyl adalah laksatif yang bekerja lokal dari kelompok turunan difenil metan.
Sebagai laksatif perangsang (hidragogue antiresorptive laxative), dulcolax merangsang
gerakan peristaltik usus besar dan meningkatkan akumulasi air dan elektrolit di dalam
lumen usus besar.
D. Indikasi
Sembelit/konstipasi, untuk persipan prosedur diagnostik, terapi sebelum dan sesudah
operasi dan dalam kondisi untuk mempercepat defeksi.
E. Kontraindikasi
Pada pasien ileus, obstruksi usus, yang baru mengalami pembedahan dibagian perut
seperti usus buntu, penyakit radang usus akut dan dehidrasi berat, dan juga pada pasien
yang diketahui hipersensitif terhadap bisacodyl.
F. Efek samping
Rasa tidak enak di perut, kram, sakit perut, diare. Efek pemberian oral muncul 6-12 jam
setelah pemberian, sedangkan efek pemberian suppositoria muncul ¼-1 jam setelah
pemberian.
G. Dosis
Sebelum tidur 1-2 tablet 5 mg, suppositoria 10 mg pada pagi hari.

20
BAB V
PENUTUP

Hemoroid adalah pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus yang
berasal dari pleksus hemoroidalis. Pelebaran dan inflamasi ini menyebabkan pembengkakan
submukosa pada lubang anus. Dalam masyarakat umum lebih dikenal dengan wasir.
Secara anatomis, hemoroid dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hemoroid interna
dan hemoroid eksterna. Batas antara interna dan eksterna adalah suatu garis pada anus yang
disebut linea dentata atau pectinate line.
Hemoroid interna tidak menyebabkan nyeri kutan tetapi bisa mengalami perdarahan,
prolaps, dan iritasi serta gatal di perianal. Gejala hemoroid eksterna adalah nyeri jika terjadi
trombosis akut dari vena hemoroidalis eksterna yang bisa terjadi pada keadaan tertentu,
seperti saat melakukan aktivitas fisik, mengedan saat konstipasi, diare, dan perubahan diet.
Trombosis eksterna biasanya mengerosi kulit dan menyebabkan perdarahan.
Dengan terapi yang sesuai, semua hemoroid simptomatis dapat dibuat menjadi
asimptomatis. Pendekatan konservatif hendaknya diusahakan terlebih dahulu pada semua
kasus. Hemoroidektomi pada umumnya memberikan hasil yang baik, meskipun bisa terjadi
kekambuhan. Sesudah terapi penderita harus diajari untuk menghindari obstipasi dengan
makan makanan serat agar dapat mencegah timbulnya kembali gejala hemoroid.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Nelson, Heidi MD., Roger R. Dozois, MD., Anus, in Sabiston Text Book of Surgery,
Saunders Company, Phyladelphia 2001
2. Skandalakis, John E., Colon and Anorectum, in Surgical Anatomy and Technique, Second
edition, Atlanta, 1999.
3. Diagnosing Hemorrhoid Types and Rectal Prolaps, http:\\www.pph.com Ethicon Endo-
Surgery, Inc. 2003-2005. This site is published by Ethicon Endo-Surgery, Inc. and is
intended for U.S. audiences only.
4. Haemorrhoid treatment-Rectal Bleeding, http:\\www.pph.com Ethicon Endo-Surgery, Inc.
2003-2005.
5. What are Hemorrhoid., www.hemorrhoid.net. diakses pada 12 Desember 2016
6. Hemorrhoidectomy Procedure for Prolaps and Hemorrhoids., www.pphinfo.com
7. Haemorrhoids, www.hcd2.bupa.co.uk/ fact_sheet/html/haemorrhoids.html
8. Baker H. Hemorrhoids. In: Longe JL, ed. Gale Encyclopedia of Medicine. 3rd ed. Detroit:
Gale; 2006
9. Tierney, McPhee, Papadakis. Current Medical Diagnosis & Treatment 40th Edition. Lange
Medical Books/McGraw-Hill. 2001
10. Tjay, Tan Hoan dkk. 2002. Obat-Obat Penting. Edisi Kelima. Jakarta
11. Sjamsuhidajat, R dkk. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta
12. Mansjoer, Arif et al. 2007. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Edisi Ketiga. Jakarta
13. Ganiswarna, S. G. Dkk. 2007. Farmakologi dan terapi. Edisi 5. Jakarta
14. MIMS Singapore, http://www.mims.com/Singapore/drug/info/Daflon%20500%20mg/
diakses pada 12 Desember 2016
15. Werner Kahle (Helmut Leonhardt, Werner platzer), dr Marjadi Hardjasudarma (alih
bahasa). 1998. Atlas Berwarna dan Teks Anatomi Manusia.

22