Anda di halaman 1dari 10

2.

1 Konsep Perawatan Paliatif


2.1.1 Definisi Perawatan Paliatif
Perawatan paliatif adalah perawatan kesehatan terpadu yang bersifat aktif
dan menyeluruh, dengan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi (Anita,
2016).
Perawatan paliatif dapat memenuhi kebutuhan perbaikan kualitas hidup
penderita dan keluarganya melalui perawatan yang tidak hanya menekankan
pada gejala fisik seperti nyeri, tetapi juga terhadap aspek-aspek emosional,
psikososial dan spiritual. Banyak kasus yang ditemukan ketika para penderita
kanker, malu untuk bersosialisasi dan tidak percaya diri dalam menjalani
kehidupannya. Kondisi seperti ini membutuhkan perawatan paliatif dalam
meningkatkan kualitas hidup agar lebih baik. Selain kepada penderitanya,
perawatan paliatif juga memberi dukungan kepada seluruh anggota keluarga
dan pelaku rawat lainnya (Taher, A, 2010).

2.1.2 Tujuan Perawatan Paliatif


Tujuan perawatan paliatif adalah untuk mengurangi penderitaan,
memperpanjang umur, meningkatkan kualitas hidup, dan memberikan support
kepada keluarga penderita. Meski pada akhirnya penderita meninggal, yang
terpenting sebelum meninggal penderita siap secara psikologis dan spiritual,
serta tidak stres menghadapi penyakit yang dideritanya. Perawatan paliatif
diberikan sejak diagnosa ditegakkan sampai akhir hayat. Artinya tidak
memperdulikan pada stadium dini atau lanjut, masih bisa disembuhkan atau
tidak, mutlak perawatan paliatif harus diberikan kepada penderita. Perawatan
paliatif tidak berhenti setelah penderita meninggal, tetapi masih diteruskan
dengan memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang berduka (Anita,
2016).
Perawatan paliatif mencakup pelayanan terintegrasi antara dokter,
perawat, pekerja social, psikolog, konselor spiritual, relawan, apoteker dan
profesi lain yang diperlukan. Perawatan paliatif lebih berfokus pada dukungan
dan motivasi ke penderita. Kemudian setiap keluhan yang timbul ditangani
dengan pemberian obat untuk mengurangi rasa sakit. Perawatan paliatif ini bisa
mengeksplorasi individu penderita dan keluarganya bagaimana memberikan
perhatian khusus terhadap penderita, penanggulangannya serta kesiapan untuk
menghadapi kematian (Anita, 2016).
Perawatan paliatif diperlukan karena: Setiap orang berhak dirawat dan
mati secara bermartabat, menghilangkan nyeri: fisik, emosional, spiritual dan
sosial adalah hak asasi manusia, perawatan paliatif adalah kebutuhan mendesak
seluruh dunia untuk orang yang hidup dengan kanker stadium lanjut (Anita,
2016).
Berbagai hal terkait pendekatan keperawatan paliatif yang perlu
mendapatkan perhatian diantaranya adalah: 1) komunikasi antar tim, 2)
manajemen nyeri, 3) bimbingan dan pertimbangan budaya dalam pengambilan
keputusan, dan 4) dukungan emosional dan spiritual bagi paisen dan keluarga
(Anita, 2016).
2.1.3 Langkah-langkah dalam Pelayanan Paliatif
Langkah-langkah dalam pelayanan paliatif (Kemenkes, 2013),adalah:
1. Menentukan tujuan perawatan dan harapan pasien
2. Memahami pasien dalam membuat wasiat atau keinginan terakhir
3. Pengobatan penyakit penyerta dan aspek social
4. Tatalaksana gejala
5. Informasi dan edukasi
6. Dukungan psikologis, cultural dan social
7. Respon fase terminal
8. Pelayanan pasien fase terminal
2.1.4 Aktifitas Perawatan Paliatif (Anita, 2016)
Aktifitas perawatan paliatif pada penderita :
1. Membantu penderita mendapat kekuatan dan rasa damai dalam
menjalani kehidupan sehari-hari.
2. Membantu kemampuan penderita untuk mentolerir
penatalaksanaan medis.
3. Membantu penderita untuk lebih memahami perawatan yang
dipilih.
Aktifitas perawatan paliatif pada keluarga :
1. Membantu keluarga memahami pilihan perawatan yang tersedia.
2. Meningkatkan kehidupan sehari-hari penderita, mengurangi
kekhawatiran dari orang yang dicintai (asuhan keperawatan
keluarga).
3. Memberi kesempatan sistem pendukung yang berharga.

2.2 Konsep Definisi Kualitas Hidup


2.2.1 Definisi Kualitas Hidup
Kualitas hidup adalah bagaimana kualitas seseorang apabila dilihat dari
interaksi dengan kehidupan di sekitarnya (Soetardjo, 2013). Kualitas hidup
yang buruk dikaitkan dengan mengabaikan perawatan diri termasuk
memprediksi kemampuan seseorang untuk perawatan diri (Dunning & Ward
2008). Kualitas hidup biasanya dibagi dalam dimensi lingkungan, fisik, social,
dan psikologis (Sadli 2010).
Kualitas hidup semakin diakui sebagai hal yang penting dalam kesehatan,
dan sebagai tujuan akhir dari intervensi kesehatan. Lebih dari 50 tahun yang
lalu, WHO menyatakan bahwa kesehatan tidak hanya didefinisikan karena
tidak adanya penyakit dan kelemahan, tetapi karena kesejahteraan fisik, mental
dan sosial (Snoek & Skinner 2005).
2.2.2 Faktor yang Menentukan Kualitas Hidup
Dunning & Ward (2008) mengemukakan empat kategori yang
menentukan kualitas hidup, yaitu:
A. Medikal, antara lain tipe dari diabetes, jenis pengobatan, tingkat control
metabolic, dan presentasi dari komplikasi. Keparahan komplikasi
dapat menurunkan kualitas hidup. Namun, diabetes dan komplikasi
bisa menjadi pemicu yang positive untuk berubah.
B. Kognitif, control glukosa darah akut dan kronik dan perubahan
neuropsikologikal bisa mengurangi kualitas hidup seseorang dengan
diabetes dan keluarganya.
C. Keyakinan dan sikap, yaitu keberhasilan diri, kekuasaan, ketahanan,
keberanian, dan support social. Orang dengan support yang bagus
akan mempunyai kualitas hidup yang lebih baik dan mengurangi
depresi.
D. Demografi, yaitu terkait gender, tingkat pendidikan, etnik, budaya, umur,
dan juga keuangan
2.2.3 Pengukuran Kualitas Hidup
Dari penelitian Loah & Tampongangoy (2015) mengemukakan bahwa
penilaian kuesioner kualitas hidup dari WHO (WHOQOL) dapat ditetapkan
dengan kategori berdasarkan nilai median, yaitu dengan rumus: 1) skor
terendah x jumlah pertanyaan, 2) skor tertinggi x jumlah pertanyaan, kemudian
total yang diperoleh ditambahkan dan dibagi dua. Pengukuran kualitas hidup
menurut WHOQOL yaitu sebagai berikut:
A. Standar hidup, harapan, ketenangan dan perhatian dalam dua minggu
terakhir, seperti kualitas hidup dan kepuasan terhadap kesehatan
B. Hal-hal yang sering dialami dalam dua minggu terakhir, seperti rasa sakit
fisik yang dialami, seberapa sering membutuhkan terapi medis,
seberapa jauh menikmati hidup, seberapa jauh mempu berkonsentrasi,
dan seberapa sehat lingkungan tempat tinggal.
C. Hal-hal yang seberapa jauh dialami dalam dua minggu terakhir, seperti
energy yang cukup untuk beraktivitas, menerima penampilan tubuh
dan ketersediaan informasi bagi kehidupan.
D. Hal-hal yang sering dirasakan dalam dua minggu terakhir, seperti seberapa
sering memiliki perasaan negatif.
2.2.4 Dimensi-Dimensi Kualitas Hidup
Dimensi-dimensi yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada
dimensi-dimensi kualitas hidup yang terdapat pada World Health Organization
Quality of Life Bref version (WHOQOL-BREF). Menurut WHOQOL-BREF
(Shane J. Lopez CRS, dikutip dalam Nurcahya LM., 2015) terdapat empat
dimensi mengenai kualitas hidup yang meliputi:
1) Dimensi Kesehatan Fisik
Dimensi Kesehatan Fisik, yaitu kesehatan fisik dapat mempengaruhi
kemampuan individu untuk melakukan aktivitas. Kesehatan fisik terdiri
dari aktivitas sehari-hari, ketergantungan pada obat-obatan dan bantuan
medis, energi dan kelelahan, mobilitas, sakit dan ketidaknyamanan, tidur
dan istirahat, dan kapasitas kerja.
Aktivitas sehari-hari yaitu menggambarkan kesulitan dan kemudahan yang
dirasakan individu pada saat melakukan kegiatan sehari-hari.
Ketergantungan pada obat-obatan dan bantuan medis yaitu
menggambarkan seberapa besar kecenderungan individu dalam
menggunakan obat-obatan atau bantuan medis lainnya dalam melakukan
aktivitas sehari-hari. Energi dan kelelahan yaitu menggambarkan tingkat
kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam menjalankan aktivitas
sehariharinya. Mobilitas yaitu menggambarkan tingkat perpindahan yang
mampu dilakukan oleh individu dengan mudah dan cepat. Tidur dan
istirahat yaitu menggambarkan kualitas tidur dan istirahat yang dimiliki
oleh individu, dan kapasitas kerja yaitu menggambarkan kemampuan yang
dimiliki oleh individu.
2) Dimensi Psikologis
Dimensi Psikologis, yaitu terkait dengan keadaan mental individu.
Keadaan mental mengarah pada mampu atau tidaknya individu
menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan perkembangan sesuai
dengan kemampuannya, baik tuntutan dari dalam diri maupun dari luar
dirinya. Aspek psikologis juga terkait dengan aspek fisik, dimana individu
dapat melakukan suatu aktivitas dengan baik bila individu tersebut sehat
secara mental.
Dimensi kesejahteraan psikologi terdiri dari body image dan apprearance,
perasaan negatif, perasaan positif, self-estem dan berpikir, belajar,
memori, konsentrasi. Body image dan apprearance yaitu menggambarkan
bagaimana individu memandang keadaan tubuh serta penampilannya.
Perasaan negatif yaitu menggambarkan adanya perasaan yang tidak
menyenangkan yang dimiliki oleh individu. Perasaan positif yaitu
menggambarkan perasaan menyenangkan yang dimiliki oleh individu.
Self-estem yaitu menggambarkan bagaimana individu menilai atau
menggambarkan dirinya sendiri. Berpikir, belajar, memori dan motivasi
yaitu menggambarkan keadaan kognitif individu yang memungkinkan
untuk berkonsentrasi, belajar, dan menjalankan fungsi kognitif lainnya.
3) Dimensi Hubungan Sosial
Dimensi Hubungan Sosial, yaitu hubungan antara dua individu atau lebih
dimana tingkah laku individu tersebut akan saling mempengaruhi,
mengubah, atau memperbaiki tingkah laku individu lainnya. Mengingat
manusia adalah mahkluk sosial maka dalam hubungan sosial ini, manusia
dapat merealisasikan kehidupan serta dapat berkembang menjadi manusia
seutuhnya. Dimensi hubungan sosial terdiri dari relasi personal, dukungan
sosial, dan aktivitas seksual. Relasi personal yaitu menggambarkan
hubungan individu dengan orang lain. Dukungan sosial yaitu
menggambarkan adanya bantuan yang didapatkan oleh individu yang
berasal dari lingkungan sekitarnya. Aktivitas seksual yaitu
menggambarkan kegiatan seksual yang dilakukan individu.
4) Dimensi Lingkungan
Dimensi Lingkungan, yaitu tempat tinggal individu, termasuk di dalamnya
keadaan, ketersediaan tempat tinggal untuk melakukan segala aktivitas
kehidupan, termasuk di dalamnya adalah saran dan prasarana yang dapat
menunjang kehidupan. Dimensi lingkungan terdiri dari sumber finansial,
freedom, physical safety dan security, perawatan kesehatan dan perawatan
sosial, lingkungan rumah, kesempatan untuk mendapatkan barbagai
informasi baru dan keterampilan, partisipasi dan kesempatan untuk
melakukan rekreasi, lingkungan fisik, dan transportasi.
Sumber finansial yaitu menggambarkan keadaan keuangan individu.
Freedom, physical safety dan security yaitu menggambarkan tingkat
keamanan individu yang dapat mempengaruhi kebebasan dirinya.
Perawatan kesehatan dan perawatan sosial yaitu menggambarkan
ketersediaan layanan kesehatan dan perlindungan sosial yang dapat
diperoleh individu. Lingkungan rumah yaitu menggambarkan keadaan
tempat tinggal individu. Kesempatan untuk mendapatkan informasi baru
dan keterampilan yaitu menggambarkan ada atau tidaknya kesempatan
bagi individu untuk memperoleh hal-hal baru yang berguna bagi individu.
Partisipasi dan kesempatan untuk melakukan rekreasi yaitu
menggambarkan sejauh mana individu memiliki kesempatan dan dapat
bergabung untuk berkreasi dan menikmati waktu luang. Lingkungan fisik
yaitu menggambarkan keadaan lingkungan sekitar tempat tinggal individu
seperti keadaan air, saluran udara, iklim, polusi. Transportasi yaitu
menggambarkan sarana kendaraan yang dapat dijangkau oleh individu.

2.3 Konsep Definisi Pasien Kritis


2.3.1 Definisi Pasien Kritis

2.3.2 Prioritas Pasien Kritis (Lyer PW, dikutip dalam Nurcahya LM., 2015)
1) Pasien prioritas 1
Pasien prioritas 1 merupakan pasien sakit kritis, tidak stabil, yang
memerlukan perawatan intensif, dengan bantuan alat-alat ventilasi,
monitoring dan obat-obatan vasoaktif kontinyu dan obat anti nyeri.
Passion prioritas 1 ini meliputi pasien bedah kardiotorasik, atau pasien
shock septik. Pasien prioritas 1 ini perlu di pertimbangkan derajat
hipoksemia, hipotensi, dibawah tekanan darah tertentu.
2) Pasien prioritas 2
Pasien prioritas 2 merupakan pasien yang memerluakn pelayanan
pemantauan canggih dari ICU. Jenis pasien ini beresiko sehingga
memerlukan terapi segera, sehingga pemantauan intensif
menggunakan metoda seperti pulmonary arteri cateteter sangat
menolong. Pasien yang tergolong prioritas 2 misalnya pada pasien
penyakit jantung, paru, ginjal, yang telah mengalami pembedahan
mayor. Pasien prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi yang
diterimanya.
3) Pasien prioritas 3
Pasien prioritas 3 merupakan jenis pasien yang kritis dan tidak stabil
dari status kesehatan sebelumnya. Kondisi ini karena penyakit yang
mendasarinya atau penyakit akutnya, baik masing-masing atau
kombinasinya, yang sangat mengurangi kemungkinan sembuh dan
atau mendapat manfaat dari terapi ICU. Contoh – contoh pasien ini
adalah pasien dengan keganasan metastasik disertai penyulit infeksi
pericardial tamponade atau sumbatan jalan napas atau pasien
menderita penyakit jantung atau paru terminal disertai komplikasi
penyakit akut berat. Pasien-pasien prioritas 3 kemungkinan mendapat
terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut berat, tetapi usaha terapi
mungkin tidak sampai melakukan intubasi dan resusitasi kardio
pulmoner.
2.3.3 Karakteristik Pasien Kritis (Lyer PW, dikutip dalam Nurcahya LM.,
2015)
1) Pasien-pasien yang secara fisiologis tidak stabil dan memerlukan dokter,
perawat, perawatan nafas yang terkoordinasi dan berkelanjutan, sehingga
memerlukan perhatian yang teliti agar dapat di lakukan pengawasan yang
konstan dan titrasi terapi.
2) Pasien-pasien yang dalam bahaya mengalami dekompensasi fisiologis dan
karena itu memerlukan pemantauan konstan dan kemampuan tim intensive
care untuk melakukan intervensi segera untuk mencegah timbulnya
penyakit yang merugikan.
3) Pasien sakit kritis membutuhkan pemantauan dan tunjangan hidup khusus
yang harus dilakukan oleh suatu tim, termasuk diantaranya dokter yang
mempunyai dasar pengetahuan keterampilan teknis komitmen waktu dan
secara fisik selalu berada di tempat untuk melakukan perawatan titrasi dan
berkelanjutan. Perawatan ini harus berkelanjutan dan bersifat proaktif
yang menjamin pasien di kelola dengan cara yang aman, manusiawi dan
efektif.

1. Kemenkes RI. 2013. Pedoman Teknis Pelayanan Paliatif Kanker. Jakarta


2. Soetarjo. 2013. Improve Your Quality of Life; Get Positive Energi and
Promote Mental Health. Laporan oleh Maulana. Seminar Nasional Positif
2013 yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fapsi Unpad,
Sabtu (23/02) di Aula Rumah Sakit
3. Sugiaman, S. 2016. Perawatan Paliatif Apa Sih?. http://i-
careclinic.com/perawatan-paliatif-apa-sih.html (Diakses 5 November
2016)
4. Taher, A. 2010. Seminar dan Konferensi Press Memperingati Hari Hospis
dan Perawatan Paliatif Sedunia. Jakarta
5. Anita. 2016. Perawatan Paliatif Dan Kualitas Hidup Penderita Kanker.
Jurnal Kesehatan, Volume VII, Nomor 3, November 2016, hlm 508-513
6. Dunning, T & Ward, G 2008, Managing clinical problems in diabetes,
Blackwell Publishing.
7. Loah, JM & Tampongangoy, D 2015, Gambaran kualitas hidup pasien
diabetes mellitus di poliklinik endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado, Juiperdo, vol. 4, no. 1, pp. 32-37.
8. Sadli, S 2010. Berbeda tetapi setara, Buku Kompas, Jakarta.
9. Snoek, FJ, & Skinner TC 2005, Psychology in deabetes care, Second
Edition, Wiley, England.
10. Latif Ma’ruf Nurcahya., 2015. Gambaran Kualitas Hidup Keluarga Pasien
Kritis Di Intensive Care Unit Rsud Tugurejo Semarang. Jurusan
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang