Anda di halaman 1dari 18

SUHAN KEPERAWATAN PADA

SISTEM INTEGUMEN DENGAN KASUS


STEVENS JANSON

OLEH :
1. Didin purna wijaya
2. Moh.rofin suseno
3. Indah mustika rini
4. Siti Fatimah
5. Syarifah hafizah ulfa

AKADEMI KEPERAWATAN HAFSHAWATY ZAINUL HASA


GENGGONG PROBOLINGGO
2013-2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat hidayah dan
petunjuknya sehingga kami dapat kami menyelesaikan makalah yang berjudul ”
Asuhan Keperawatan Padasistem integument dengan kasus stevens jhanson”.
Dalam penyelesaian ini yang tidak lepas dari kesalahan. Namun dengan
adanya bimbingan, pengarahan dari berbagai pihak, sehingga makalah ini dapat
terselesaikan, maka pada kesempatan ini kami tidak lupa mengucapkan terima
kasih kepada:
1. KH. Mutawakil Alallah, SH.MM selaku ketua yayasan dan penanggung
jawab Akademi Keperawatan Hafsahaty Zainul Hasan Genggong.
2. Roisah,SKM, M. Kes, selaku Direktur Akademi Keperawatan Hafsawaty
Zainul Hasan Genggong
3. Ns. Erna handayani S. Kep, selaku dosen pengajar sistem integumen yang
telah memberikan bimbingan serta pengarahan kepada tim penulis.
Dalam penyusunan makalah ini belum sempurna dan terdapat kekurangan.
Untuk itu penulis berharap saran dan kritik, penulis dapat mengucapkan terima
kasih.

Probolinggo,2 september 2013

Kelompok 8

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sindrom stiven Johnson merupakan sindrom yang mengenai kulit, selaput
lender di orifisium, dan mata dengan keaadan umum bervariasi dari ringan sampai
berat. Kelainan pada kulit berupa eritema,vesikel/bula, dapat disertai purpura.

Sindrum stevens jhonson (ektodermosis erosive pluriorifisialis,sindrom


mukokutanea ocular,eritema multiformis tipe hebra.eritema multiforme
mayor,eritema bulosa maligna) adalah sindrom kelainan kulit berupa eritema,
vesikel /bula ,dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lendir orifisium
dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari baik sampai buruk.

Sindrom Stevens-Johnson, biasanya disingkatkan sebagai SJS, adalah


reaksi buruk yang sangat gawat terhadap obat. Efek samping obat ini
mempengaruhi kulit, terutama selaput mukosa. Juga ada versi efek samping ini
yang lebih buruk, yang disebut sebagai nekrolisis epidermis toksik (toxik
epidermal necrolysis/TEN). Ada juga versi yang lebih ringan, disebut sebagai
eritema multiforme (EM).
B. Tujuan
1. Mampu mengetahui landasan teori pasien stevens jhonson.
2. Memperoleh asuhan keperawatan pada klien dengan stevens jhonson.

C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana teori dari Stevens jhonson?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien Steven jhonsons?
BAB II
KONSEP DASAR

A. DEFINISI
Sindrom Steven Johnson merupakan sindrom yang mengenai kulit,
selaput lender di orifisium, dan mata dengan keaadan umum bervariasi dari
ringan sampai berat. Kelainan pada kulit berupa eritema,vesikel/bula, dapat
disertai purpura
Sindrom Steven Johnson adalah penyakit kulit akut dan berat yang
terdiri dari erupsi kulit, kelainan dimukosa dan konjungtifitis (Junadi, 1982:
480).
Sindrom Steven Johnson adalah sindrom kelainan kulit berupa
eritema, vesikel/bula, dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput
lendir yang orifisium dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari baik
sampai buruk (Mansjoer, A. 2000: 136).

B. ETIOLOGI
Penyebab belum diketahui dengan pasti, namun beberapa faktor yang dapat
dianggap sebagai penyebab adalah:
1. Alergi obat secara sistemik
a. penisilin, analgetik, arti piuretik
b. Penisilline dan semisentetiknya
c. Sthreptomicine
d. Sulfonamida
e. Tetrasiklin
f. Anti piretik atau analgesik (derifat, salisil/pirazolon, metamizol,
metampiron dan paracetamol)
g. Kloepromazin
h. Karbamazepin
i. Kirin Antipirin
j. Tegretol
2. Infeksi mikroorganisme (bakteri, virus, jamur dan parasit)
3. Neoplasma dan faktor endokrin
4. Faktor fisik (sinar matahari, radiasi, sinar-X)

C. MANIFESTASI KLINIS
Sindrom ini umumnya terdapat pada anak dan dewasa jarang dijumpai
pada usia 3 tahun ke bawah. Keadaannya umumnya bervariasi dari baik
sampai buruk di mana kesadarannya spoor sampai koma.berawal sebagai
penyakit akut dapat disertai gejala prodromal berupa demam
tinggi,malaise,nyeri kepala,batuk,pilek,dan nyeri tenggorok.
Triass SSJ adalah:
a. Kelainan kulit berupa eritema,vesikel,dan bula yang kemudian memecah
sehimgga terjadi erosi yang luas.
b. Kelainan selaput lendir orifisium,yang tersering ialah paada mukusa
mulut (100%).
c. Kelainan mata(80%),yang terering konjungtivitis kataralis.dapat terjadi
konjungtivitis purulen ,perdarahan,ulkus kornea dan iritis.

D. PATOFISIOLOGI
Patogenesisnya belum jelas, diperkirakan karena reaksi alergi tipe III dan IV.
Reaksi tipe III terjadi akibat terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang
menbentuk mikropresitipasi sehingga terjadi aktifasi system komplemen.
Akibatnya terjadi akumulasi netrofil yang kemudian melepaskan lisozim dan
menyebabkan jaringan organ pada sasaran. Reaksi tpe IV terjadi akibat
limfosit T yang bersentisasi berkontak kembali dengan antigen yang sama,
kemudian limfokin di lepaskan sehingga terjadi reaksi radang.
Reaksi alergi Terbentuknya Aktivasi system

tipe III dan IV kompleks komplemen


antigen-antibodi

Sensivitas
Akumulasi
limfosit T
neutrofil
peningkatan Kerusakan jaringan pada
respon radang organ sasaran
Kerusaitas
Trias gangguan pada kulit, mukosa, dan mata
integritas jaringan

Respon local: eritema, respon inflamasi sitemjk Respon psikologis


vesikel dan bula

G3 Kondisi
Kerusakan Port dee gastrointestinal kerusakan
saraf perifer entre demam,malaise jaringan kulit

Ketidak Gangguan
nyeri Resiko tinggi
seimbangan nutrisi gambaran
infeksi
kurang deficit diri
perawatan diri kecemasan
E. KOMPLIKASI
1. Bronkopneumonia (16%)
2. sepsis
3. kehilangan cairan/darah
4. gangguan keseimbangan elektrolit
5. syok
6. kebutaan gangguan lakrimasi

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium :
 Tidak ada pemeriksaan labor (selain biopsi) yang dapat membantu
dokter dalam menegakkan diagnosa.
 Pemeriksaan darah lengkap (CBC) dapat menunjukkan kadar sel darah
putih yang normal atau leukositosis nonspesifik. Penurunan tajam kadar
sel darah putih dapat mengindikasikan kemungkinan infeksi bakterial
berat.
 Pemeriksaan elektrolit
 Kultur darah, urine, dan luka diindikasikan ketika infeksi dicurigai
terjadi.
 Pemeriksaan bronchoscopy, esophagogastro duodenoscopy (EGD), dan
kolonoskopi dapat dilakukan
2. Imaging Studies
Chest radiography untuk mengindikasikan adanya pneumonitis
3. Pemeriksaan histopatologi dan imonohistokimia dapat mendukung
ditegakkannya diagnosa.
G. PENATALAKSANAAN
1. Kortikosteroid
Bila keadaan umum baik dan lesi tidak menyeluruh cukup diobati dengan
prednisone 30-40 mg sehari. Namun bila keadaan umumnya buruk dan lesi
menyeluruh harus diobati secara tepat dan cepat. Kortikosteroid merupakan
tindakan file-saving dan digunakan deksametason intravena dengan dosis
permulaan 4-6 x 5 mg sehari. Umumnya masa kritis diatasi dalam beberapa
hari. Pasien steven-Johnson berat harus segera dirawat dan diberikan
deksametason 6×5 mg intravena. Setelah masa krisis teratasi, keadaan
umum membaik, tidak timbul lesi baru, lesi lama mengalami involusi, dosis
diturunkan secara cepat, setiap hari diturunkan 5 mg. Setelah dosis
mencapai 5 mg sehari, deksametason intravena diganti dengan tablet
kortikosteroid, misalnya prednisone yang diberikan keesokan harinya
dengan dosis 20 mg sehari, sehari kemudian diturunkan lagi menjadi 10 mg
kemudian obat tersebut dihentikan. Lama pengobatan kira-kira 10 hari.
Seminggu setelah pemberian kortikosteroid dilakukan pemeriksaan
elektrolit (K, Na dan Cl). Bila ada gangguan harus diatasi, misalnya bila
terjadi hipokalemia diberikan KCL 3 x 500 mg/hari dan diet rendah garam
bila terjadi hipermatremia. Untuk mengatasi efek katabolik dari
kortikosteroid diberikan diet tinggi protein/anabolik seperti nandrolok
dekanoat dan nanadrolon. Fenilpropionat dosis 25-50 mg untuk dewasa
(dosis untuk anak tergantung berat badan).
2. Antibiotik
Untuk mencegah terjadinya infeksi misalnya bronkopneumonia yang dapat
menyebabkan kematian, dapat diberi antibiotic yang jarang menyebabkan
alergi, berspektrum luas dan bersifat bakteriosidal misalnya gentamisin
dengan dosis 2 x 80 mg.
3. Infus dan tranfusi darah
Pengaturan keseimbangan cairan/elektrolit dan nutrisi penting karena
pasien sukar atau tidak dapat menelan akibat lesi dimulut dan tenggorokan
serta kesadaran dapat menurun. Untuk itu dapat diberikan infus misalnya
glukosa 5 % dan larutan Darrow.
4. Topikal :
Terapi topical untuk lesi di mulut dapat berupa kenalog in orabase. Untuk
lesi di kulit yang erosif dapat diberikan sufratulle atau krim sulfadiazine
perak.

H. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Data Subyktif
Klien mengeluh demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk, pilek,
dan nyeri tenggorokan / sulit menelan.
b. Data Obyektif
 Kulit eritema, papul, vesikel, bula yang mudah pecah sehingga
terjadi erosi yang luas, sering didapatkan purpura.
 Krusta hitam dan tebal pada bibir atau selaput lendir, stomatitis dan
pseudomembran di faring
 Konjungtiva, perdarahan sembefalon ulkus kornea, iritis dan
iridosiklitis.
c. Data Penunjang
 Laboratorium : leukositosis atau esosinefilia
 Histopatologi : infiltrat sel mononuklear, oedema dan ekstravasasi
sel darah merah, degenerasi lapisan basalis, nekrosis sel epidermal,
spongiosis dan edema intrasel di epidermis.
 Imunologi : deposis IgM dan C3 serta terdapat komplek imun yang
mengandung IgG, IgM, IgA.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Kerusakan integritas kulit b/dlesi dan reaksi inflamasi local.
b. Ketidakseimbangan nutrisi,kurang dari kebutuhan b/dintake tidak
adekuat respons sekunder dari kerusakan krusta pada mukosa mulut.
c. Risiko tinggi infeksi b/d penurunan imunitas,adanya port de entrée pada
lesi.
d. Nyeri b/d kerusakan jaringan lunak,erosi jaringan lunak.
e. Defisit perawatan diri b/d kelemahan fisik secara umum.
f. Gangguan gambaran diri(citra diri)b/d perubahan struktur
kulit,perubahan peran keluarga.
g. kecenasan b/d kondisi penyakit ,penurunan penyembuhan.

3. Rencana Keperawatan
Tujuan intervensi keperawatan adalah peningkatan jarring integriatas
kulit,terpenuhinya intake nutrisi harian,penurunan risiko infeksi
menurunkan stimulus nyeri,mekanisme koping yang efektif,dan penurunan
kecemasan.untuk risiko infeksi dapat disesuaikan dengan masalah yang
sama pada pasien NET. Pada gangguan gambaran diri (citra diri),intervensi
dapat disesuaikan pada masalah yang sama pada pasien psoarisis.
Sementara itu,intervensi deficit perawatan diri dan kecemasan dapat di
sesuaikan pada masalah yang sama pada pasien pemfigus vulgaris.

Dx 1 : Gangguan integritas kulit b/d reaksi inflamasi


Tujuan: dalam 5 x 24 jam integritas kulit membaik secara optimal.
Criteria evaluasi: pertumbuhan jaringan membaik dan lesi psoarisis
berkurang
Intervensi dan rasional:
1. Kaji kerusakan jaringan kulit yang terjadi pada klien
R/menjadi data dasar untuk memberikan informasi intervensi
perawatan yang akan digunakan.
2. Lakukan tindakan peningkatan integritas jaringan
R/ perawatan local kulit merupakan penatalaksanaan keperawatan
yang penting. Jika diberika berikan kompres hangat, tetapi harus
dilaksankan dengan hati-hati sekali pada daerah yang erosif atau
terkelupas. Lesi oral yang nyeri akan membuat hygiene oral
dipelihara.
3. Lakukan oral hygiene
R/ tindakan oral hygiene perlu dilakukan untuk menjaga agar mulut
sengelalu bersih.obat kumur larutan anastesi atau agen gentian violet
dapat digunakan dengan sering untuk membersihkan untuk
membersihkan mulut dari debris,mengurangi rasa nyeri pada daerah
ulserasi dan mengendalikan bau mulut yang amis.rongga mulut harus
diinspeksi beberapa kali sehari dan untuk sehari dan setiap perubahan
harus di catat,serta dilaporkan.vaselin (atau salep yang diresepakan
dokter)dioleskan pada bibir.
4. Tingkatkan asupan nutrisi
R/ Diet TKTP diperlukan untuk meningkatkan asupan dari kebutuhan
pertumbuhan jaringan.uh
5. Evaluasi kerusakan jaringan dan perkembangan pertumbuhan
jaringan.
R/ Apabila masih belum mencapai dari criteria evaluasi 5x 24
jam,maka perlu di kaji ulang factor-faktor menghambat pertumbuhan
dan perbaikan dari lesi.
6. Lakukan intervensi untuk mencegah komplikasi.
R/Perawatan di tempat khusus untuk mencegah terjadinya
infeksi.monitor dan evaluasi adanya tanda-tanda gejala komplikasi.
7. Kolaborasi untuk pemberian kortikosteroid
R/ kolaborasi pemberian glukokortikoid misalnya metal prednisolon
80-120 mg peroral (1,5-2mg/kg BB/Hari)atau pemberian
deksametason injeksi(0,15-0,2mg/kg BB/hari).
8.Kolaborasi untuk pembeian antibiotic
R/pemberrian antibiotic untuk infeksi dengan catatan menghindari
cairan sulfonamide dan antibiotic.

Dx 2: Ketidakseimbanngan nutrisi,kurang dari kebutuhan b/d intake tidak


adekuat efek sekunder dari kerusakan krusta pada mukusa mulut.
Tujuan: Dalam waktu 5x24 Jam setelah diberikan asupan nutrisi pasien
terpenuhi.
Kriteria evaluasi:
- Pasien dapat mempertahankan status asupan nutrisi yang adekuat.
- Pernyataan motivasi kuat untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.
- Penurunan berat badan selama 5x24 jam tidak melebihi dari 0,5kg
Intervensi dan rasional:
1. Kaji status nutrisi pasien,turgorkulit, berat badan dan derajat
penurunan berat badan, integritas mukosa oral,kemampuan menelan
,serta riwayat mual muntah.
R/ memvalidasi dan menetapkan derajat masalah untuk menetapkan
pilihan intervensi yang tepat.berat badan pasien ditimbang setiap
hari(jika perlu gunakan timbangan tempat tidur).
Lesi oral dapat mengakibatkan disfagia sehingga memelukan
pemberian makanan melalui sonde atau terapi nutrisi parenteral total.
Formula internal atau suplemen internal yang diprogramkan diberikan
melalui sonde sampai pemberian peroral dapat dtoeransi.
Penghitungan jumlah kalori [perhari dan pencatatan semua intake
,serta output yang akurat sangat penting.
2. Evaluasi adanya alergi makanan dan kontraindikasi
R/ beberapa pasien mungkin mengalami alergi terhadap beberapa
komponen makanan tertentu dan beberapa penyakit lain, seperti
diabetes mellitus, hipertensi, goutdan lainnya yang memberikan
manifestasi terhadap persiapan komposisis makanan yang akan
diberikan.
3. Fasilitasi pasien memperoleh diet biasa yang disukai pasien (sesuai
indikasi).
R/ memperhitungkan keinginan individu dapat memperbaiki asupan
nutrisi
4. Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan,
serta sebelum dan sesudah intervensi/pemeriksaan peroral.
R/ menurunkan rasa tak enakkarena sisa makanan atau bau obat yang
dapat merangsang pusat muntah.
5. Fasilitasi pasien memperoleh diet sesuai indikasi dan anjurkan upan
nutrisi sesuai menghindari asupan dari agen iritan.
R/ Asupan minuman mengandung kafein dihindari karena kafein adalah
stimulant system saraf pusat yang menigkatkan aktivitas lambung dan
sekresi pepsin.
6. Berikan makan dengan perlahan pada lingkungan yang tenang.
R/ Pasien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa
adanya distraksi/gangguan dari luar.
7. Anjurkan pasien dan keluarga untuk berpartisipasi dalam
pemenuhan nutrisi.
R/Meningkatkan kemandirian dalam pemenuhan asupan nutrisi
sesuai dengan tingkat toleransi individu.
8. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetapkan komposisi dan jenis
diet yang tepat.
R/ Merencanakan diet dengan kandungan nutrisi yang adekuat
untuk memenuhi peningkatan kebutuhan energy dan kalori
sehubungan dengan status hipermetabolik pasien.

Dx 3:Nyeri berhubungan dengan jaringan lunak, erosi jaringan lunak


Tujuan : dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang atau hilang atau
teradaptasi
Criteria evaluasi : secara subyektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat
diadabtasi. Skala nyeri 0-1 (0-4). Dapat mengidentifikasi aktifitas yang
meningkatkan atau menurunkan nyeri. Pasien tidak gelisah.
Intervensi dan rasional :
1. Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST
R/ menjadi parameter dasar untuk mengetahui sejauh mana intervensi yang
diperlukan dan sebagai evaluasi keberhasilan dari intervensi menejeman
nyeri keperawatan.
2. Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi
dan noninvasive
R/ penedekatan dengan menggunakan relaksasi dan farmakologi lainnya
telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.

3. Lakukan menejemen nyeri keperawatan :


 Atur posisi fisiologis
R/ Posisi fisiologis akan meningkatakn O2 ke jaringan yang
mengalami peradangan. Pengaturan posisi idealnya adalah pada
arah yang berlaawanan dengan letak dari lesi. Bagian tubuh yang
mengalami inflamasi local dilakukan iomobilisasi untuk merunkan
respon peradangan dan peningkatan kesembuhan.
 Istirahatkan klien
R/ istirahat diperlukan selama fase akut. Kondisi ini akan
meningkatkkan suplai darah pada jaringan yang mengalami
peradangan.
 Bila perlu premedikasi sebelum melakukan perawatan luka.
R/ kompres yang basah dan sejuk atau terapi rendaman merupakan
tindakan protektif yang dapat mengurangi rasa nyeri. Pasien
dengan lesi yang luas dan nyeri harus mendapatkan premedikasi
dahulu dengan preparat analgesic sebelum perawatan kulitnya
mulai dilakukan
 Menejemen lingkungan : lingkungan tenang dan batasi
pengunjung
R/ lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal
dan pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan
kondisi O2 ruangan yang akan berkurang apabila banyak
pengunjung yang berada diruangan.
 Ajarkan teknik relaksasi pernafasan dalam
R/ meningkatkan asupan O2 sehingga akan menurunkan nyeri
skunder dari peradangan
 Ajarkan teknik distraksi saat nyeri
R/ distraksi (pengalihan perhatian) dapat menurunkan stimulus
internal dengan mekanisme peningkatan produksi endorphin dan
enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak
dikirimkan ke korteks serebri sehingga menurunkan persepsi nyeri.
 Lakukan menejemen sentuhan
R/ menejemen sentuhan pada saat nyeri berupa sentuhan dukungan
psikologis dapat membantu menurunkan nyeri. Masase ringan
dapat meningkatkan aliran darah dan dengan otomatis membantu
suplai darah dan oksigen ke area nyeri dan menurunkan sensasi
nyeri.
4. Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik.
R/ analgetik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Sindrom Steven-Johnson (SSJ) merupakan suatu kumpulan gejala klinis
erupsi mukokutaneus yang ditandai oleh trias kelainan pada kulit vesikulobulosa,
mukosa orifisium serta mata disertai gejala umum berat
Sindrom Stevens-Johnson pertama diketahui pada 1922 oleh dua dokter,
dr. Stevens dan dr. Johnson, pada dua pasien anak laki-laki. Namun dokter
tersebut tidak dapat menentukan penyebabnya.
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth. J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC.

Hamzah, Mochtar. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 4. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3, jilid 2. Media


Aesculapius : Jakarta

Price dan Wilson. 1991. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit


Edisi 2. Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner


& Suddarth, edisi 8, volume 3. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.