Anda di halaman 1dari 27

MODUL TEMATIKS

BIOTEKNOLOGI
PENGOLAHAN LARUTAN DETERJEN DENGAN BIOFILTER TANAMAN
KANGKUNGAN ( IPOMOEA CRASSICAULIS ) DALAM SISTEM BATCH (CURAH)
TERAERASI

DOSEN PEMBIMBING :

Dr. RIAN VEBRIANTO, M,Ed


DISUSUN OLEH :

AFIFAH KHAIRANI (11717201271)


AYULIA ESAPUTRI (11717201520)
NADYA FIRDA NISKA (11717200066)
REYNATA FIROOS.S (11710724087)

KELAS 1 A & 1 B
PRODI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat, serta hidayah-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah mengenai BIOTEKNOLOGI
dengan judul yakni “PENGOLAHAN LARUTAN DETERJEN DENGAN BIOFILTER
TANAMAN KANGKUNGAN ( IPOMOEA CRASSICAULIS ) DALAM SISTEM BATCH
(CURAH) TERAERASI. Penyusunan makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah Biologi Dasar. Selain itu tujuan penyusunan makalah ini juga untuk menambah
wawasan tentang hubungan Bioteknologi terhadap perkembangan teknologi dunia.

Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan
saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.

Pekanbaru, 18 Oktober 2017

Penulis

iii
DAFTAR ISI
Hal.

KATA PENGANTAR ...........................................................................................................i

DAFTAR ISI.......................................................................................................................... ii

PETA KONSEP .....................................................................................................................1

RINGKASAN TEORI ...........................................................................................................2

KONSEP TEMATIKS ...........................................................................................................4

PENGETAHUAN AWAL .....................................................................................................7

LEARNING OUTCAME ......................................................................................................7

SITUS-SITUS PEMBELAJARAN MATERI .......................................................................8

PENGENALAN KASUS/MOTIVATOR .............................................................................10

LEMBAR KERJA .................................................................................................................11

SAFETY ISSUE ....................................................................................................................18

LATIHAN .............................................................................................................................. 19

EVALUASI............................................................................................................................ 22

REFLEKSI ............................................................................................................................. 23

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................24

ii
iii
Bioteknologi

Fermentasi Pembuatan
Rekayasa Genetika
Insulin

Yoghurt Keju
Tempe Clonning Bayi Tabung Vaksin

Tape
Protein Sel Tunggal
Agama : QS. Teknologi: Teknologi :
Al-Hujurat Pemanfaatan Imunologi
Kimia: Terjadinya Reaksi Fermentasi Ayat 13 Teknologi
pada Tape. IVF & PGS

C6H12O6--> 2C2H5OH + 2CO2 +2ATP Bioremediasi

Perombakan Limbah Pemanfaatan Sumber Data Produksi Bahan Yang


Bernilai Tinggi

Pemuliaan
Tanaman
Agama: Kerusakan alam. Fisika : Ilmu Radioekologi

(QS. Ar-Rum Ayat : 40)


Matematika : Notasi dalam
matematika

1.Persen (%) tingkat


keberhasilan dalam pemuiaan
tanaman.

2. Perbandingan(:)
perbandingan dalam
persiangan

3. Grafik : grafik data yang


diperoleh
RINGKASAN TEORI / MATERI (KONTEN)

Limbah deterjen merupakan salah satu limbah yang banyak mencemari badan perairan dan
sumber utama dari limbah deterjen ini berasal dari aktivitas rumah tangga. Hal ini dikarenakan peran
deterjen dalam kegiatan rumah tangga sangat beragam, selain digunakan untuk mencuci pakaian,
deterjen juga digunakan untuk mencuci peralatan rumah tangga. Limbah atau sisa pemakaian deterjen
yang masuk ke lingkungan perairan akan mempengaruhi kualitas perairan dan akan berpengaruh
terhadap keadaan ekosistem di perairan tersebut . Pencemaran air oleh deterjen diakibatkan dari bahan
utama penyusun deterjen tersebut yaitu Natrium Dodecyl Benzen Sulfonat (NaDBS) dan Sodium
Tripolyphospat (STPP) dimana kedua bahan tersebut sulit untuk didegradasi secara alamiah (Sumarno
dkk., 1996).

Menurut Nida (2008) selain NaDBS dan STPP, pencemaran deterjen di perairan juga
disebabkan oleh adanya kandungan surfaktan dalam deterjen seperti alkil benzene sulfonat (ABS) dan
linear alkil sulfonat (LAS). Surfaktan yang terakumulasi di perairan akan mengakibatkan difusi
oksigen dari udara akan berlangsung lambat, sehingga oksigen yang terlarut dalam air menjadi sedikit
(Hyness, 1974). Dampak lain dari adanya deterjen di perairan yaitu terjadinya eutrofikasi oleh karena
adanya senyawa fosfat dari deterjen yang menyebabkan tanaman perairanmenjadi subur dan
pertumbuhan alga menjadi meningkat melebihi batas normal atau biasa disebut dengan blooming.
Upaya pengolahan limbah deterjen dapat dilakukan dengan berbagai metode baik secara fisik, kimia
maupun biologis. Secara fisik pengolahan limbah deterjen dapat dilakukan dengan cara adsorpsi
menggunakan adsorben. Contoh pengolahan limbah deterjen secara kimia adalah menggunakan
pereaksi kimia untuk mengendapkan limbah deterjen tersebut. Metode pengolahan limbah deterjen
secara biologis dapat dilakukan dengan menggunakan biofilter dimana tanaman air digunakan sebagai
medianya. Metode ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengolah air limbah karena efisien
dalam menurunkan senyawa organik dengan biaya yang relatif murah (Momon dan Meilani, 1997
dalam Hermawati, 2005).

Biofilter merupakan salah satu cara dalam pengolahan limbah cair dengan menggunakan
tanaman yang memiliki kelompok mikroorganisme rhizosfer. Mikroorganisme rhizosfer merupakan
kelompok mikroba yang hidup bersimbiosis di sekitar akar tanaman, baik tanaman pada habitat tanah
atau air, yang kehadirannya secara khas tergantung pada akar tersebut. Mikroba rhizosfer ini memiliki
kemampuan untuk melakukan penguraian terhadap benda-benda organik ataupun benda anorganik
yang terdapat pada limbah (Waluyo, 2005). Penelitian yang menggunakan biofilter dalam mengolah
limbah telah banyak dilakukan, antara lain Hermawati (2005) yang melakukan pengolahan limbah
deterjen menggunakan tanaman kayu apus dan genjer, hasil yang didapatkan biofilter ini mampu
untuk menurunkan kadar deterjen dalam limbah laundry. Selain itu Safitri (2009) juga melakukan
penelitian menggunakan biofilter tanaman kayu apus dan tanaman kiambang dalam mengolah

2
greywater dan hasil yang didapatkan menunjukkan biofilter tanaman kayu apus dan tanaman
kiambang dapat menurunkan kadar COD, fosfor dan nitrat dalam greywater. Berdasarkan penelitian
yang tersebut, maka pada penelitian ini digunakan metode biofilter dalam mengolah limbah deterjen,
namun untuk tanaman yang digunakan pada penelitian kali ini adalah tanaman kangkungan. Tanaman
kangkungan (Ipomoea crassicaulis) merupakantanaman tropis yang memiliki ciri-ciri yaitu berupa
semak tinggi 2 m atau lebih tumbuh ke atas dalam posisi menghadap matahari, daun hijau berbentuk
waru, bunga berwarna ungu pucat atau ros dengan bentuk tabung atau corong. Tanaman kangkungan
ini biasanya tumbuh disepanjang tepi sungai, tanah yang lembab atau pinggiran jalan, terkadang
tanaman ini juga biasa digunakan sebagai tanaman hias (van Stenis, 1992). Tanaman kangkungan
dipilih sebagai media dalam penelitian kali inikarena tanaman kangkungan (Ipomoea crassicaulis)
menurut penelitian yang dilakukan oleh Nailufari (2008) menunjukkan bahwa tanaman kangkungan
dapat menurunkan kadar bahan-bahan pencemar pada limbah pencelupan tekstil seperti pH, BOD,
COD, TSS, amonia total dan sulfida. Tanaman kangkungan ini juga memiliki keunggulan yaitu
tanaman kangkungan mudah tumbuh secara liar sehingga mudah untuk didapatkan dan tanaman ini
juga dapat bertahan hidup pada kondisi yang tercemar.

3
KONSEP TEMATIKS

1. Hubungan Bioteknologi terhadap perkembangan ilmu Agama ialah ;


Bioteknologi mencakup berbagai bidang yang pertama ada rekayasa genetika
yang didalamnya membahas tentang cloning,cloning terhadap hewan contohnya
adalah domba dolly sedangkan cloning terhadap manusia masih dipertimbangkan
dalam hal agama ,ini bisa kita lihat pada (QS.al hujurat,49:13). Ayat ini menjelaskan
larangan tentang pengkloningan terhadap manusia.
Kemudian bioremediasi ,bioremediasi merupakan salah satu cara mengurangi
pencemaran yang terjadi di sekitar kita,kerusakan itu sendiri telah dibahas didalam al-
quran dalam (QS. Ar-rum,30:41).

Selain itu bioteknologi sesungguhnya terintegrasi dengan berbagai


perkembangan , maka penguasaan manusia terhadap teknologi hendaknya menuntun
perkembangan moral manusia juga. Tanpa landasan moral, manusia yang sudah
beranjak menjadi ilmuwan akan mudah sekali tergeincir dalam melakukan prostitusi
intelektual.
Terintegrasi dalam Al-Qur’an :
1. QS. Al-A’raf Ayat : 56
َ‫َّللاِ قَ ِريبٌ ِمنَ ْال ُمحْ ِسنِين‬ َ ‫ص ََل ِح َها َوادْعُوهُ خ َْوفًا َو‬
َّ َ‫ط َمعًا ۚ إِ َّن َرحْ َمت‬ ِ ‫“ َو ََل ت ُ ْف ِسد ُوا فِي ْاْل َ ْر‬
ْ ِ‫ض بَ ْعدَ إ‬

Artinya:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)


memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan
diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat
dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al-A'raf Ayat: 56)

2. QS. Ar-Rum Ayat : 41-42

‫ساد َظه ََر‬ َ ‫اس أ َ ْيدِي َك‬


َ َ‫سبَتْ ِب َما َوا ْلبَحْ ِر ا ْلبَ ِر فِي ا ْلف‬ ِ ‫ْمُلَ َعلَّه ع َِملوا الَّذِي بَعْضَ ِليذِيقَه ْم ال َّن‬
َ‫سيروا ق ْل يَ ْر ِجعون‬ ِ ‫ض فِي‬ ِ ‫ْف َفا ْنظروا ْاْلَ ْر‬ َ ‫مش ِْر ِكينَ أ َ ْكثَره ْم كَانَ ۚ قَبْل ِم ْن الَّ ِذينَ عَاقِبَة كَانَ َكي‬

Artinya :
4
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan
tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (41)

Katakanlah (Muhammad), “ Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana


kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang
yang mempersekutukan (Allah)."(42)

2. Hubungan Bioteknologi terhadap perkembangan teknogi ialah ;


Kita bisa mengetahui bahwa dunia bisa membuat segalanya kecuali
nyawa,seperti kloning yaitu membuat sesuatu yang baru sama persis bentuk dan
sifatnya bahkan lebih unggul dengan sesuatu sebelumnya. Untuk memajukan
perkembangan ilmu kedokteran seperti bayi tabung yang memanfaatkan teknologi
IVF dan PGS,dalam penerapannya dan ada teknologi vaksin (imunologi dan biologi
molekuler).

3. Hubungan Bioteknologi terhadap perkembangan ilmu Fisika ialah ;

Hubngannya antara bioteknologi dengan salah satu ilmu fisika yaitu


RADIOEKOLOGI sangat erat hungannya karena sama-sama membahas tentang
lingkungan yang tercemar. Radioekologi adalah salah satu cabang ilmu fisika yang
tentang likungan alam sekitar termasuk pencemaran lingkungan sedangkan
bioteknologi adalah salah satu cara mengatasi pencemaran lingkungan yang terjadi.
- Kita bisa mengetahui berapa tekanan yang harus digunakan jika ingin meneliti
yang berhubungan dengan hewan,tumbuhan
- Kita bisa mengetahui kecepatan sesuatu dengan cara menghitung apa yang
diketahui
- Secara fisik pengolahan limbah deterjen dapat dilakukan dengan cara adsorpsi
menggunakan adsorben.

5
4. Hubungan Bioteknologi terhadap perkembangan ilmu Matematika ialah ;

- Persen
Tingkat keberhasilan dalam pemuliaan tanaman/bayi tabung dinyatakan di dalam
persentase.
- Perbandingan
Perbandingan dalam persilangan tumbuhan,persilangan tumbuhan termasuk
kedalam pemuliaan tanaman dan pemliaan tanaman merupakan salah satu
bioteknologi dibidang rekayasa genetika.
- Grafik
Data yang diperoleh dalam penelitian atau percobaan di buat dalam grafik atau
tabel.
Persen,perbandingan,dan grafik termasuk kedalam matematika.

5. Hubungan Bioteknologi terhadap perkembangan Kimia ialah ;


- Kita menjadi tahu berapa massa dan ph yang digunakan jika ingin meneliti sesuatu
- Kita menjadi tahu jika reaksi dan reaksi ini dicampurkan menjadi senyawa apa.
- Contoh pengolahan limbah deterjen secara kimia adalah menggunakan pereaksi
kimia untuk mengendapkan limbah deterjen tersebut.

6. Hubungan Bioteknologi terhadap perkembangan Biologi ialah ;


- Untuk memajukan perkembangan ilmu kedokteran seperti bayi
tabung,transgenik,dll
- Untuk memajukan perkembangan ilmu pertanian dan perkebunan seperti kultur
jaringan,dll
- Metode pengolahan limbah deterjen secara biologis dapat dilakukan dengan
menggunakan biofilter dimana tanaman air digunakan sebagai medianya.

Dan ada kaitan nya antara hubungan biologi dan kimia yaitu Hubungan
tematiks bioremediasi pengolahan limbah deterjen secara biologis dan kimiawi dapat
mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri yang mampu tumbuh pada medium dasar
dengan alkilbenzena sulfonat 100 ppm sebagai satu-satunya sumber karbon.
Identifikasi memperoleh hasil bahwa Kurthia zophii belum pernah ditemukan sebagai

6
perombak surfaktan deterjen.Penelitiannya kemudian dilanjutkan dengan
menumbuhkan bersama bakteri perombak protein, lemak, pati dan surfaktan deterjen
alkilbenzena sulfonat yaitu pseudomonas aeruginosa, Pseudomonas stutzeri, Serratia
liquifaciens yang merupakan bahan cemaran utama limbah rumah tangga. Keempat
bakteri tersebut ternyata dapat hidup bersama-sama membentuk konsorsium bakteri.

PENGETAHUAN AWAL

1. Memahami apa itu kajian biologi

2. Mengetahui apa itu bioteknologi yang sesungguhnya

3. Memahami apa itu bioremediasi di lingkungan

4. Mengetahui hubungan bioremediasi pada bidang matematika, teknologi, kimia,

fisika,biologi, dan agama.

5. Mencari tahu mengenai bagaimana pandangan islam mengenai bioremediasi

6. Mengetahui apa itu limbah deterjen

7. Mengetahui bagaimana cara mengatasi limbah detergen

8. Mencari tahu mengenai Upaya pengolahan limbah deterjen dapat dilakukan dengan

berbagai metode baik secara fisik, kimia maupun biologis.

9. Mengetahui bagaimana dampak limbah deterjen terhadap pelestarian lingkungan

LEARNING OUTCOME

o Mahasiswa diharapkan dapat mengolah limbah yang tidak berguna menjadi lebih
bermanfaat dan dapat mengurangi pencemaran lingkungan.
o Mahasiswa diharapkan mengetahui apa saja kandungan yang terdapat dalam detergen
dan cara mengatasi limbah detergen.
o Mahasiswa diharapkan bisa menjelaskan apa saja metoda yang dapat mengatasi
masalah limbah detergen

7
o Mahasiswa diharapkan bisa menjelaskan bagaimana cara pengolahan larutan deterjen
dengan biofilter tanaman kangkungan ( ipomoea crassicaulis ) dalam sistem batch
(curah) teraerasi.
o Dan mahasiswa diharapkan tahu apa saja dampak dari limbah detergen terhadap
lingkungan.

SITUS-SITUS PEMBELAJARAN MATERI (TEKHNOLOGI)

Setelah anda mengetahui dan paham tentang cara pengolahan larutan deterjen dengan
biofilter tanaman kangkungan ( ipomoea crassicaulis ) dalam sistem batch (curah) teraerasi.
Coba telusuri dan searching diinternet tentang informasi-informasi yang berkaitan dengan
materi konten tersebut dengan mesin pencarian data. Baik itu berkaitan dengan materi,
fenomena, dan youtube sebagai media pembelajaran. Seperti misalnya.

A. Mesin Pencarian Data

https://www.google.co.id/

http://www.surfwax.com/index.html

http://www.yippy.com/

http://id.yahoo.com/

http://digg.com/

http://www.dmoz.org/

http://plasa.msn.com/

http://www.altavista.com/

http://www.solusee.com/

http://www.aol.com/

http://w.althweb.com/#ld

http://search.chatzum.com/?q=%5C

8
A. Materi fenomena sehari -hari

Bio WEB
 Bioteknologi dalam Bidang Peternakan dan Perikanan:
http://biologimediacentre.com/bioteknologi-1-konsep-
dasar-dan-perkembangan/

 Rekayasa genetika
https://id.wikipedia.org/wiki/Rekayasa_genetika
 Pada bidang pangan

http://www.maulanaisme.com/2013/05/pemanfaatan-
bioteknologi-dalam.html

 Bahan bakar dunia

https://sciencearoundussite.wordpress.com/2016/09/25/biot
eknologi-memperkaya-kehidupan-manusia/

 Penerapan di bidang kesehatan


http://hisham.id/2015/05/contoh-penerapan-
bioteknologi-dalam-kehidupan-manusia.html
 Manfaat Bioteknologi Dalam Menyelesaikan Masalah Sosial
 http://efinawawi-
anastasia.blogspot.co.id/2011/12/peranan-bioteknologi-
dalam-kehidupan.html
 Pemanfaatan Bioteknologi Dalam Bidang Pertanian
 https://dokumen.tips/documents/makalah-penerapan-
bioteknologi-dalam-kehidupan-sehari-hari.html
 Perkembangan Bioteknologi Industri/Bioindustri di
Indonesia

https://Perkembangan/Bioteknologi-
Industri/Bioindustri.html

9
B. Materi Bioteknologi dari Youtube

C.
Media U-tube

Bioteknologi pembuatantempe

https://www.youtube.com/watch?v=dUQNzAdfy0U

Bioteknologi pembuatan Yogurt

https://www.youtube.com/watch?v=AB25iDW4cf4

bioteknologiakibattanamantransgenik

https://www.youtube.com/watch?v=fgRrsOYyS5Q

ProdukRekayasaGenetika

https://www.youtube.com/watch?v=oJr7J1Rs1TA

KeamananMakananHasilModifikasiGenetik

https://www.youtube.com/watch?v=-2bD0z9kYyg

PENGENALAN KASUS / MOTIVATOR


http://www.youtube.com/watch?v=2zZRPIW99Vs&NR=1&feature=end
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan biofilter tanaman kangkungan
screen
(Ipomoea crassicaulis) dalam proses pengolahan larutan deterjen menggunakan sistem batch (curah)
teraerasi.Unit pengolahan
Bagaimana dikondisikan dalam sebuah
fungsi pembuluh darah wadah styrofoam yang dilengkapi dengan
sistem aerasi. Sebanyak 24 L larutan deterjen ditambahkan dalam unit pengolahan yang ditanami 5
http://www.youtube.com/watch?v=Nx8oyX6l32g
buah tanaman kangkungan. Sebagai pembanding (kontrol) disediakan unit pengolahan dengan sistem
Sistemsirkulasidarahdanjantung
aerasi tanpa penambahan tanaman kangkungan dengan jumlah larutan deterjen yang sama.
http://www.youtube.com/watch?v=tmd1tWyanC8
Pengamatan dilakukan terhadap kemampuan kangkungan dalam menurunkan kandungan bahan-bahan
pencemar yang terukur dalam kadar surfaktan dan fosfat dengan waktu pengolahan selama 30 hari.
PersentasipelajartentangsistemPeredarandarah
Hasil pengamatan setelah 30 hari menunjukkan persentase penurunan kadar surfaktan dan fosfat
http://www.youtube.com/watch?v=ff1IqBVx05s&feature=related
berturut-turut sebesar 97,76%; dan 90,77%. Hasil ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan kontrol
untuk parameter yang sama secara berturut-turut sebesar 50,79%, dan 51,53%. Kata kunci : Biofilter,
Ipomoea crassicaulis, surfaktan, fosfat, larutan deterjen.

10
LEMBAR KERJA

Satuan Pendidikan : Perguruan Tinggi

Mata pelajaran : Biologi

Semester : 1A & 1B

Sub Pokok Pembahasan : Pengolahan Larutan Deterjen Dengan Biofilter Tanaman


Kangkungan ( Ipomoea Crassicaulis ) Dalam Sistem Batch
(Curah) Teraerasi.

Alokasi waktu :

A. Standar Kompetensi
3.1 Menjelaskan struktur dan fungsi teknologi bioremediasi dalam kehidupan sehari hari
terutama dalam masalah limbah detergen.

B. Kompetensi Dasar
3.2 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses pengolahan limbah detergen
di lingkungan.

C. Indikator
 Menjelaskan hubungan antara teknik bioemediasi dengan lingkungan
 Membuat skema proses pengolahan limbah detergen
 Menguji limbah detergen
 Menjelaskan hubungan mikroba dengan limbah detergen
 Menjelaskan hubungan bioremediasi dengan mikroba dan fungsinya pada pengolahan
limbah detergen

D. Tujuan Pembelajaran
Pelajar dapat mendeskripsikan struktur, fungsi, dan proses penggunaan teknik bioremediasi
sebagai solusi masalah limbah detegen. Dan untuk mengetahui pengetahuan biofilter tanaman
kangkungan dalam proses pengolahan kangkungan,menggunakan sistem BATCH(curah)
teraerasi.

E. Metode Pembelajaran
Problem based learning (PBL) dan Tematiks (Biositematiks).

11
F. Sumber Pelajaran
1. Bahan –bahan buku cetak maupun Buku Sekolah elektronik (BSE),
2. Bahan bahan Modul
3. Bahan-Bahan Internet yaitu, artikel,situs dan blog yag berkaitan

G. MATERI DAN METODE

1. Bahan: 2. Peralatan:

Bahan yang diperlukan dalam penelitianini Peralatan yang digunakan dalam penelitian
adalah: ini adalah:

1) air limbah domestik 1) aerator sebanyak tiga buah


2) tanaman kangkungan (Ipomoea 2) labu refluks
crassicaulis) 3) timbangan analitik
3) kotak styrofoam sebanyak tiga 4) erlenmeyer 250 mL; 500 mL
buah yang masing-masing 5) gelas ukur 100 mL; 250 mL
berukuran 47,5 x 32,5 x 29 cm 6) gelas beker 2 L
4) alas plastic berukuran 50 x 35 x 40 7) pH Meter
cm sebanyak tiga buah 8) termometer
5) batu koral sebagai media akar 9) spektrofometer UV-Vis
6) akuades 10) buret, pipit tetes, pipet volume 3
7) NaOH, indikator fenolftalein, mL; 5mL; 10 mL dan 25 mL
metilen biru (CH3)2CHOHHgSO4, 11) botol semprot, bola hisap, corong
Na2HPO4, amonium molybdat, pisah
ammonium metavanadat dan asam 12) labu ukur 100 mL dan 1000 mL
askorbat. 13) Batang pengaduk
14) corong gelas

12
Susunan Sistem Biofilter Tanaman Teraerasi

Unit pengolahan biofiltrasi tanaman dibuat dari kotak styrofoam dengan ukuran panjang, lebar dan
tinggi masing-masing sebesar 47,5 x 32,5 x 29 cm. Pada bagian dalam kotak styrofoam dilapisi
dengan plastik agar air limbah tidak meresap ke dalam styrofoam. Ke dalam kotak Styrofoam
dimasukkan batu koral sampai memenuhi dasar kotak, selanjutnya sampel air limbah dimasukkan ke
dalam kotak sebanyak 22 L. Pada kotak yang berisi air limbah tersebut ditanam tanaman Ipomoea
carssicaulis dengan posisi berjejer sebanyak lima tanaman. Agar tanaman dapat tumbuh dengan baik
dan berdiri tegak, tanaman diposisikan berdiri dengan memakai penyangga kayu yang dikaitkan
dengan tali pada sisi kanan dan kiri kotak styrofoam. Kemudian sampel air limbah di dalam kotak
tersebut diaerasi menggunakan aerator. Gambar sistem biofilter tanaman, disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Sistem biofilter tanaman Kangkungan

3. Cara Kerja

1). Penyediaan Bahan Penelitian

Sampel air limbah deterjen dibuat dengan melarutkan 25 gram deterjen bubuk ke dalam 12
liter air, kemudian diaduk hingga deterjen larut dalam air. Sampel air limbah deterjen dibuat dalam
jumlah yang mencukupi untuk pengerjaan penelitian. Jerigen-jerigen plastik berkapasitas 30 liter
disiapkan dengan dicuci terlebih dahulu dengan sampel air limbah deterjen yang telah dibuat.
Kemudian sampel air limbah deterjen tersebut dimasukkan ke dalam jerigen-jerigen plastik yang telah
disiapkan. Sampel air limbah deterjen lalu dibawa ke laboratorium untuk dilakukan analisis terhadap
nilai COD, kadar surfaktan (LAS) dan fosfat pada air limbah tersebut.

Tanaman yang akan digunakan dalam proses pengolahan limbah adalah tanaman kangkungan
(Ipomoea crassicaulis) yang diambil dari tepian sungai Badung, Kuta. Tanaman ini diperbanyak
dengan cara stek batang yaitu dengan dipotong bagian batang tanaman sepanjang ± 40 cm, lalu
ditanam di pot tanaman dan polybag selama 2 bulan untuk menumbuhkan akar tanaman tersebut.

2). Pengolahan Limbah Sistem Biofilter Tanaman Teraerasi

Disiapkan tiga kotak styrofoam yang masing-masing kotak diisi dengan sampel air limbah
deterjen sebanyak 24 liter. Kotak pertama diaerasi dan digunakan sebagai kontrol. Untuk kotak yang

13
kedua dan ketiga diberi batu koral pada dasar kotak dan diisi dengan sampel air limbah, kemudian
ditambahkan tanaman Ipomoea crassicaulis sebanyak lima buah dengan ditopang penyangga dari
kayu yang diikat dengan tali pada bagian tepi kotak lalu diaerasi. Untuk menjaga agar tanaman tetap
hidup, maka tanaman diadaptasikan terlebih dahulu selama tiga hari. Setelah sepuluh hari, sampel air
limbah diambil dari masing-masing kotak untuk dianalisis nilai COD, kadar surfaktan (LAS) dan
fosfat. Hal yang sama juga dilakukan setiap rentang waktu 10 hari yaitu pada hari ke-20 dan hari ke-
30. Interval waktu 10 hari ini dianggap penurunan nilai COD, kadar surfaktan (LAS) dan fosfat lebih
maksimal.

3). Penentuan Kadar Deterjen (LAS)

Sampel/standar sebanyak 50 mL dimasukkan ke dalam corong pisah yang telah disiapkan.


Standar/sampel ditetesi dengan larutan NaOH 1 N agar standar/sampel berada dalam suasana basa
yang diuji dengan indicator fenolftalein. Warna merah muda yang terbentuk dihilangkan dengan
diteteskan larutan H2SO4 1 N secara hati-hati hingga warna merah muda tepat hilang.

Selanjutnya sebanyak 10 mL CHCl3 dan 25,0 mL reagen metilen biru ditambahkan ke dalam
corong pisah kemudian campuran dikocok selama 30 detik. Ditambahkan beberapa mL (<10 mL)
isopropyl alkohol untuk mengurangi terjadinya emulsi. Campuran didiamkan sampai terbentuk 2
lapisan. Lapisan CHCl3 dipisahkan dan dimasukkan ke dalam corong pisah lainnya. Ekstraksi CHCl3
diulangi sebanyak dua kali dengan menambahkan 10 mL CHCl3 pada tiap ekstraksi. Ektrak CHCl3
yang terkumpul pada corong pisah kedua kemudian ditambahkan dengan 50 mL larutan isopropyl
alcohol/(CH3)2CHOH dan dikocok selama 30 detik. Proses ekstraksi dilakukan pengulangan sebanyak
dua kali dengan masing-masing ditambah 10 mL CHCl3. Lapisan CHCl3 dipisahkan dan dimasukkan
ke dalam labu ukur 50 mL, kemudian dilakukan pengenceran hingga tanda batas. Selanjutnya
dilakukan pembacaan serapan dari lapisan CHCl3 yang telah diencerkan dengan spektrofotometer
UV-Vis pada panjang gelombang 652 nm dan hal yang sama juga dilakukan pada blanko (Lenore,
1998).

4). Penentuan Kadar Fosfat

Sampel air deterjen diambil sebanyak 10 mL dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian
ditambahkan dengan reagen molybdat- vanadat sebanyak 1 mL serta ditambahkan dengan sedikit
asam askorbat lalu diaduk hingga homogeny dan dipanaskan kira-kira selama 15 menit. Selanjutnya
campuran tersebut dimasukkan ke dalam kuvet sebanyak ¾ bagian dari volume kuvet dan diukur
absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 650 nm.

5). Persentase Laju Penurunan Parameter Pengamatan

Untuk mengetahui persentase penurunan parameter pengamatan dilakukan perhitungan mengenai %


penurunan dari masing-masing parameter pengamatan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan

14
biofilter tanaman kangkungan (Ipomoea crassicaulis) dalam menurunkan kadar surfaktan (LAS) dan
fosfat dengan menggunakan rumus :

(𝐴−𝐵)
% Penurunan = 𝐴
𝑥 100%

Keterangan :

A = kadar LAS awal (pada hari ke- 0), kadar fosfat awal (pada hari ke-0)

B = kadar LAS akhir, kadar fosfat akhir.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

1). Pengujian Awal Sampel Air Deterjen

Keadaan sampel air limbah secara fisik dapat diidentifikasikan yaitu keruh dan timbul banyak
buih. Hasil analisis awal yang dilakukan terhadap sampel air limbah berdasarkan parameter penelitian
yaitu kadar surfaktan dan fosfat ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Analisis awal air deterjen

No. Parameter Hasil Analisis


1. Surfaktan LAS 286,28 mg/L
2. Fosfat 277,74 mg/L

2). Perubahan Kadar Surfaktan LAS Selama Proses Pengolahan

Surfaktan merupakan salah satu bahan utama penyusun deterjen, dimana surfaktan ini dapat
menimbulkan buih pada air dan membentuk lapisan yang menghambat proses transfer oksigen dari
udara ke dalam air (Hyness, 1974). Hasil pengolahan sampel air deterjen terhadap kadar surfaktan
yang terkandung dalam sampel air deterjen ditampilkan pada Tabel 2 sebagai berikut :

Tabel 2. Kadar surfaktan selama proses pengolahan

Waktu Konsentrasi Surfaktan LAS ( mg/L)


( jam) Parameter Kontrol
Awal 286,28 286,28
10 58,23 267,98
20 34,3 70,43
30 6,4 60,67

Tabel 2 menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar surfaktan dalam sampel larutan deterjen
selama proses pengolahan, dimana kadar surfaktan setelah proses pengolahan selama 30 hari turun

15
menjadi 6,4 mg/L, konsentrasi ini sangat kecil bila dibandingkan dengan besar konsentrasi surfaktan
pada kontrol yaitu sebesar 60,67 mg/L. Perbedaan konsentrasi yang besar tersebut menunjukkan
bahwa biofilter tanaman kangkunganEfektif dalam menurunkan kadar deterjen dalam sampel air
deterjen. Penurunan kadar surfaktan LAS pada sampel air limbah dapat dilihat pada Gambar 2.

350

300
Konsentrasi Surfaktan

250

200
(mg/L)

150 kontrol

100

50

0
Awal 10 20 30

Gambar 2. Grafik kadar surfaktan LAS selama proses pengolahan

Penurunan kadar surfaktan terjadi disebabkanadanya simbiosis mikroba rhizosfer pada akar
tanaman kangkungan (Ipomoea crassicaulis) yang merombak surfaktan yang Terkandung dalam
sampel air deterjen sehingga Dapat diserap oleh akar tanaman kangkungan (Waluyo, 2005). Proses
perombakan surfaktan oleh mikroba terjadi dalam tiga tahap yaitu pertama adanya proses oksidasi
gugus alkil yang terletak di ujung ranta ialkil membentuk intermediate berupa alcohol dan proses
oksidasi ini terjadi hingga rantai alkil hanya memiliki 4-5 atom karbon (Simoni, 1996). Tahapan
selanjutnya yaitu proses desulfonasi yaitu proses penghilangan gugus sulfonat yang dikatalisis oleh
sist em enzim kompleks, koenzim NAD(P)H dan oksigen sehingga terbentuk hidroks ifenolik pada
cincin aromatik. Tahapan yang terkahir yaitu pemecahan/ pembukaan cincin benzene melalui jalur
orto atau meta (Bhatnagar, 1991). Hasil perombakan dari surfaktan inilah yang selanjutnya akan
diserap oleh akar tanaman kangkungan.

3). Persentase Penurunan Kadar Surfaktan LAS

Persentase penurunan kadar surfaktan LAS dalam sampel larutan deterjen selama proses
pengolahan dapat dilihat padaTabel 3.

Tabel 3. Persentase penurunan kadar surfaktan LAS

Waktu Persentase penurunan kadar surfaktan LAS (%)


(jam) Pengamatan Pengamatan
10 79,66 10

16
20 88,02 20
30 97,76 30

Tabel 3 menunjukkan bahwa setelah dilakukan pengolahan selama 30 hari terjadi penurunan
kadar surfaktan pada larutan deterjen sebesar 97,76 %, sedangkan untuk control sebesar 50,79 %.

4). Perubahan Kadar Fosfat Selama Proses Pengolahan

Larutan deterjen selain terkandung bahan aktif surfaktan mengandung bahan utama lainnya
yaitu fosfat. Fosfat dalam deterjen ini berfungsi sebagai builder dalam deterjen. Kandungan fosfat
dalam setiap produk deterjen berbeda-beda bahkan terdapat produk deterjen yang tidak mengandung
fosfat. Hasil pengolahan limbah air deterjen terhadap kadar fosfat disajikan dalam Tabel 4.

Tabel 4. Persentase Penurunan Kadar Fosfat

Waktu ( jam) Konsentrasi Fosfat ( mg/L)


Pengamatan Kontrol
Awal 277,74 277,74
10 81,19 210,68
20 65,38 144,02
30 26,64 134,62

300

250
Konsentrasi Fosfat

200
(mg/L)

150
kontrol
100

50

0
Awal 10 20 30

Gambar 3. Grafik Penurunan kadar fosfat selama proses pengolahan.

Tabel 4 menunjukkan setelah dilakukan pengolahan dengan biofilter tanaman kangkungan, kadar
fosfat dalam sampel larutan deterjen mengalami penurunan dari konsentrasi awal sebesar 277,74
mg/L menjadi 25,64 mg/L sedangkan untuk kontrol menjadi 134,62 mg/L. Penurunan kadar fosfat
dalam sampel larutan deterjen dapat lihat pada Gambar 3.

17
Penurunan kadar fosfat selama proses pengolahan disebabkan oleh adanya aktivitas mikroba
rhizosfer pada akar tanaman kangkungan yang merombak senyawa ortofosfat yang merupakan builder
pada deterjen menghasilkan senyawa fosfat sederhana yang selanjutnya akan diserap oleh akar
tanaman kangkungan sebagai nutrisi bagi tanaman kangkungan melakukan fotosintesis. Penurunan
kadar fosfat pada sampel larutan deterjen sejalan dengan terjadinya penurunan nilai COD pada sampel
larutan deterjen yang dikarenakan senyawa fosfat merupakan salah satu bahan pencemar organik yang
terkandung dalam sampel larutan deterjen. Artiyani (2011) juga menyebutkan bahwa fosfat
merupakan salah satu nutrien penting bagi pertumbuhan tanaman dan selain itu pada fase awal nutrien
sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroorganisme pada akar tumbuhan sehingga penurunan
kadar fosfat dalam sampel air deterjen pada 10 hari awal sangat nyata.

5). Persentase Penurunan Kadar Fosfat

Persentase dari penurunan kadar fosfat dalam sampel larutan deterjen selama proses
pengolahan disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Persentase penurunan kadar fosfat

Waktu Persentase penurunan kadar Fosfat (%)


(jam) Pengamatan Pengamatan
10 70,77 10
20 76,46 20
30 90,77 30

Tabel 5 menunjukkan bahwa persentase penurunan kadar fosfat pada sampel larutan deterjen selama
30 hari pengolahan mencapai 90,77 % sedangkan untuk kontrol sebesar 51,53 %.

SAFETY ISSUE

1. Ditemukannnya penambahan pupuk urea dalam pembuatan nata de coco dikawasan


Godean,Seleman,Yogjakarta disalah satu pabrik di Yogyakarta.
content://com.sec.android.app.sbrowser/readinglist/1018075856363.mhtml

2. Segera dipasarkan buah dan sayuran hasil “genetik editing”.

3. virus zika mewabah akibat rekayasa genetika


https://m.merdeka.com/dunia/muncul-isu-virus-zika-mewabah-akibat-rekayasa-
genetik-nyamuk.html

18
4. penerapan bioteknologi modern dalam kultivar pepaya rainbow
https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://www.scribd.com/
mobile/doc/215872702/Penerapan-Bioteknologi-Modern-Dalam-Kultivar-Pepaya-
Rainbow&ved=0ahUKEwiBypyIk5bXAhWKi7wKHeeuBPkQFggiMAM&usg=AOv
Vaw1l7xuxke9lLrUDueoUhska

5. dampak penggunaan hasil rekayasa genetika?


content://com.sec.android.app.sbrowser/readinglist/1011061000884.mhtml

LATIHAN

Pilihan ganda.

1. Seorang pengusaha sedang mencari tau bagaimana cara menanggulangi pencemaran


limbah yg ada disekitar pabriknya,kemudian seseorang menyarankannya untuk
memanfaatkan mikroba untuk mngembalikkan fungsi dan kondisi lingkungan yang
tercemar. Proses tersebut dikenal dengan istillah….
a. Fitoremediasi
b. Bioremediasi
c. Fermentasi
d. Reduksomediasi
e. Rekayasa genetika.

2. Berikut adalah aplikasi bioteknologi:


1. Fertilisasi in vitro
2. Teknik kultur jaringan
3. Teknik hibridoma
4. Bioremediasi
5. Teknologi transgenic

Aplikasi bioteknologi dibidang lingkungan dan pertanian berturut turut adalah…

a. 1 dan 2
b. 1 dan 3
c. 2 dan 3
d. 3 dan 4

19
e. 4 dan 5
3. Salah satu cara bioremediasi melalui penambahan zat gizi tertentu yang dibutuhkan
mikroorganisme atau menstimulasi kondisi lingkungan sedemikian rupa(misalnya
memberi aerasi) agar mikroorganisme tumbuh dan beraktivitas lebih baik disebut….
a. Biostimulation
b. Bioaugmentasi
c. Bioleaching
d. Biodegradation
e. Rekayasa genetika.

4. Bakteri apakah yang sering dimanfaatkan dalam bioremediasi…


a. Eubacteria
b. Cyanobacteria
c. Archaebakteria
d. Pythopora sp Pengolahan makanan
e. Rhizopus sp

5. Desalinasi merupkan suatu teknologi yang dikembangkan dalam pengolahan…


a. Pengolahan limbah
b. Pengolahan sampah
c. Pengolahan bakteri
d. Pengolahan air

6. Dibawah ini yang merupakan Keuntungan dari bioremediasi,kecuali.


a. Teknik pengolahannya mudah .
b. Sangat aman digunakan karena menggunakan mikroba yg secara ilmiah sudah ada
di lingkungan.
c. Tidak melakukan proses pengankatan polutan.
d. Tidak menambahkan baha kimia berbahaya
e. Susah didapatkan dialam

7. Bioremediasi berdasarkan lokasi terbagi menjadi..


a. 1
b. 2
20
c. 3
d. 4
e. 5

8. Dibawah ini yang termasuk kedalam faktor-faktor lingkunga yang mempengaruhi


proses bioremediasi ,kecuali..
a. Tanah
b. Temperature
c. Oksigen
d. Nutrient
e. Mikroorganisme

9. Berikut adalah proses biopile (salah satu teknik bioteknologi)


1. Diberi aerasi menggunakan pipa
2. Ph diatur
3. Diberi mikroba
4. Diberi bulking agent
5. Diberi tambahan nutrient
6. Diberi tanh pencampuran
Urutan proses yg benar adalah…
a. 1,3,2,5,4,6
b. 1,2,3,4,5,6
c. 3,2,1,4,6,5
d. 2,3,4,5,6,1
e. 5,6,3,4,2,1

10. Perhatikan gambar berikut ini.

Gambar diatas merupakan bioremediasi secara…

21
a. In situ
b. Ex situ
c. Landfarming
d. Composting
e. Biopile

Esay:
1. Bagaimana cara untuk meningkatkan kecepatan bioremediasi ?
2. Sebutkan macam-macam teknik dalam bioremediasi
3. Salah satu teknik bioremediasi adalah composting,apa yang dimaksud dengan
composting,coba jelaskan?

Esay berbasis masalah.


1. Pak joko memiliki sebuah perusahaan industry yng sangat besar,dia sangat khawatir
dengan limbah yang dihasilkan oleh pabriknya,kemudian temannya menyarankan
untuk menggunakan tumbuhan agar lingkungan yg tercemar limbah hasil produksi
perusahaan pak joko tidak berbahaya lagi,penggunaan tumbuhan ini termasuk salah
satu bioremediasi dibidang apa? Coba jelaskan

EVALUASI

1). Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Tanaman kangkungan (Ipomoea crassicaulis) mampu menurunkan konsentrasi surfaktan pada


sampel larutan deterjen sebesar 97,76 % selama 30 hari proses pengolahan.

2. Tanaman kangkungan (Ipomoea crassicaulis) mampu menurunkan konsentrasi fosfat pada sampel
larutan deterjen sebesar 90,77 % selama 30 hari proses pengolahan.

2). Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai variasi jumlah tanaman kangkungan dalam
pengolahan sehingga dapat diketahui dengan pasti kemampuan tanaman dalam menurunkan kadar
bahan-bahan pencemar dalam air limbah deterjen serta perlakuan penambahan jumlah deterjen yang

22
berbeda untuk mengetahui konsentrasi maksimum yang dapat dilakukan pengolahan oleh tanaman
kangkungan (Ipomoea crassicaulis).

1. Apa yang dimaksud dengan bioteknologi?


2. Apa manfaat kita dalam mempelajari bioteknologi
ini?
3. Apa yang dimaksud dengan bioremediasi?
4. Bagaimana proses bioremediasi tersebut?
5. Jenis-jenis bioremediasi dapat dibedakan menjadi
dua,apa saja jenis bioremediasi itu?
6. Bagaimana proses bioremediasi secar in-
situ,jelaskan?
7. Apakah proses bioremediasi lebih mahal atau lebih
murah jika dibandingkan dengan remidiasi yg
mengguanakan bahan kimia?
8. Apa yang dimaksud dengan landfarming?

23
DAFTAR PUSTAKA

Upaya pengolahan limbah detergem. https://ojs.unud.ac.id/index.php/jchem/article/view/15265


[12 Oktober 2017]

Pemenfaan biosistem tanaman

https://www.google.co.id/amp/s/www.researchgate.net/publication/319147861_PEMANFAATAN_B
IOSISTEM_TANAMAN_UNTUK_MENURUNKAN_KADAR_FENOL_AMONIA_ION_KLORIDA_DAN
_COD_DARI_PROSES_BIODEGRADASI_AIR_LIMBAH_YANG_MENGANDUNG_RHODAMIN_B/a
mp

Menurunkan polutan dengan tanaman air

https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFA
PERIKA/article/viewFile/2788/2719&ved=0ahUKEwjMiYuCiJbXAhXE2LwKHbjFBDAQFghYMA8&
usg=AOvVaw0ntWlAoOo_KtJ9cji6hZiU

Efektivitas biofilter tanaman

https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://www.msp.ummi.ac.id/images/e_
Library/Semnas_Limnologi_2006/EFEKTIVITAS%2520BIOFILTER%2520TANAMAN%2520AIR%2
520TERHADAP.pdf&ved=0ahUKEwjMiYuCiJbXAhXE2LwKHbjFBDAQFghaMBA&usg=AOvVaw0qI
JNdPolyKQglhp-X3qrJ

untuk penelitian:

Artiyani, A., 2011, Penurunan Kadar N-Total dan P-Total pada Limbah Cair Tahu dengan Metode
Fitoremediasi Aliran Batch dan Kontinyu Menggunakan Tanaman Hydrilla Verticillata, Jurnal
Spectra, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Nasional, Malang

Bhatnagar, L. and B.Z. Fathepure, 1991, Mixed Culture in Detoxyfication of Hazardous Waste, Edited
by G. Zeikus and E.A Johnson, Mixed Culture in Biotechnology, Mc Graw Hill. Inc., USA

Dr. C.G.G. J. Van Stenis, 1992, Flora, Cetakan keenam, Padnya Paramitha, Jakarta

Hermawati, E., Wiryanto, dan Solichatun, 2005, Fitoremediasi Limbah Detergen Menggunakan Kayu
Apu (Pistia stratiotes L.) dan Genjer (Limnocharis flava L.), Jurnal BioSmart, 7 (2) : 115-124

24