Anda di halaman 1dari 38

Kebijakan Akuntansi

Jurnal Standar

tedi – last 02/18


KEBIJAKAN AKUNTANSI PENDAPATAN
Standar Akuntansi Pemerintahan (PP no 71 Th 2010) membedakan
akun/rekening/pos pendapatan terdiri atas 2 jenis, yaitu :
1. Pendapatan-LO, yaitu hak pemerintah daerah yang diakui sebagai
penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan
dan tidak perlu dibayar kembali.
Pendapatan LO (menggunakan Basis Akrual) diakui pada saat:
a) Timbulnya hak atas pendapatan, kriteria ini dikenal juga dengan
earned; atau
b) Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya
ekonomi dan sudah diterima pembayaran secara tunai (realized).
2. Pendapatan-LRA, yaitu semua penerimaan Rekening Kas Umum
Negara/Daerah yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode
tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah,
dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.
Pendapatan LRA (menggunakan Basis Kas) diakui pada saat:
1. Diterima di rekening Kas Umum Daerah; atau
2. Diterima oleh SKPD; atau
3. Diterima entitas lain diluar pemerintah daerah atas nama BUD.
…lanjutan : KEBIJAKAN AKUNTANSI

Pendapatan diklasifikasi berdasarkan sumbernya (jenis


pendapatan) :
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD), misalnya : pajak
daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan
daerah yang dipisahkan.
2. Pendapatan Transfer, misalnya : bagi hasil pajak,
DAU, DAK.
3. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah, misalnya :
hibah, dana darurat.
…lanjutan : KEBIJAKAN AKUNTANSI
Dengan memperhatikan sumber, sifat dan prosedur
penerimaan pendapatan, maka pengakuan pendapatan dapat
diklasifkasikan kedalam beberapa alternatif:
1) Pengakuan pendapatan yang didahului dengan adanya
penetapan terlebih dahulu, dimana dalam penetapan
tersebut terdapat jumlah uang yang harus diserahkan
kepada pemerintah daerah, maka :
a. Pendapatan ini diakui pada Pendapatan LO ketika
dokumen penetapan tersebut telah disahkan.
b. Pendapatan ini diakui pada Pendapatan LRA ketika
pembayaran oleh pihak ketiga kepada pemerintah telah
dilakukan (atau pada saat uangnya diterima oleh
pemerintah).
2) Pengakuan pendapatan yang tidak perlu ada penetapan
terlebih dahulu, maka untuk pendapatan ini diakui pada
Pendapatan LO dan Pendapatan LRA pada saat
pembayaran telah diterima oleh pemerintah.
…lanjutan : KEBIJAKAN AKUNTANSI

3) Pengakuan pendapatan terkait pendapatan pajak yang


didahului dengan penghitungan sendiri oleh wajib pajak (self
assessment), dan berdasarkan perhitungan tersebut wajib pajak
melakukan pembayaran. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan
terhadap nilai pajak yang dibayar apakah sudah sesuai, kurang
atau lebih bayar untuk kemudian dilakukan penetapan, maka :
a. Pendapatan ini diakui pada Pendapatan LO dan Pendapatan
LRA ketika wajib pajak melakukan pembayaran pajak.
b. Bila pada saat pemeriksaan ditemukan kurang bayar maka
akan diterbitkan surat ketetapan kurang bayar yang akan
dijadikan dasar pengakuan Pendapatan LO.
c. Bila dalam pemeriksaan ditemukan lebih bayar pajak maka
akan diterbitkan surat ketetapan lebih bayar yang akan
dijadikan pengurang Pendapatan LO.
…lanjutan : KEBIJAKAN AKUNTANSI

4) Pengakuan pendapatan terkait pendapatan pajak yang


pembayarannya dilakukan di muka oleh wajib pajak untuk
memenuhi kewajiban selama beberapa periode ke depan, maka :
a. Pendapatan ini diakui pada Pendapatan LO ketika periode
yang bersangkutan telah terlalui
b. Pendapatan ini diakui pada Pendapatan LRA pada saat uang
telah diterima.
5) Pengakuan pendapatan terkait pendapatan pajak yang
didahului dengan penghitungan sendiri oleh wajib pajak (self
assessment) dan pembayarannya diterima di muka untuk
memenuhi kewajiban selama beberapa periode ke depan.
Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan terhadap nilai pajak yang
dibayar apakah sudah sesuai, kurang atau lebih bayar, untuk
selanjutnya dilakukan penetapan, maka :
a. Pendapatan ini diakui pada Pendapatan LRA ketika diterima
pemerintah daerah.
b. Pendapatan ini diakui pada Pendapatan LO setelah
diterbitkan penetapan berupa Surat Ketetapan (SK) atas
pendapatan terkait.
…lanjutan : KEBIJAKAN AKUNTANSI

Standar Akuntansi Pemerintahan menetapkan pengukuran atas


pendapatan berdasarkan azas bruto dengan batasan sebagai berikut :
1) Pendapatan-LRA diukur dan dicatat berdasarkan azas bruto, yaitu
dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah
netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).
2) Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LRA bruto
(biaya) bersifat variabel terhadap pendapatan dimaksud dan tidak
dapat dianggarkan terlebih dahulu dikarenakan proses belum selesai,
maka azas bruto dapat dikecualikan.
3) Pendapatan-LO dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan
membukukan pendapatan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya
(setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).
4) Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LO bruto (biaya)
bersifat variabel terhadap pendapatan dimaksud dan tidak dapat
diestimasi terlebih dahulu dikarenakan proses belum selesai, maka
asas bruto dapat dikecualikan.
5) Pendapatan Hibah dalam mata uang asing diukur dan dicatat pada
tanggal transaksi menggunakan kurs tengah Bank Indonesia.
…lanjutan : KEBIJAKAN AKUNTANSI

Penyajian dan pengungkapan pendapatan dalam


laporan keuangan dilakukan berdasarkan kelompok
akunnya, yaitu :
1. Pendapatan LRA disajikan dalam Laporan Realisasi
Anggaran
2. Pendapatan-LO disajikan dalam Laporan Operasi

Sistematika penyajian mengikuti Form Laporan


Keuangan yang ditetapkan dalam Standar Akuntansi
Pemerintahan (PP no 71 Tahun 2010), dengan urutan
sesuai dengan Bagan Akun Standar – BAS (Permendagri
no 64 Tahun 2013).
…lanjutan : KEBIJAKAN AKUNTANSI
Pendapatan LRA disajikan pada Laporan Realisasi Anggaran
…lanjutan : KEBIJAKAN AKUNTANSI
Pendapatan-LO disajikan pada Laporan Operasi
…lanjutan : KEBIJAKAN AKUNTANSI

Hal-hal yang harus diungkapkan dalam Catatan atas


Laporan Keuangan terkait dengan pendapatan adalah:
1. Penerimaan pendapatan setelah tanggal berakhirnya
tahun anggaran;
2. Penjelasan mengenai pendapatan yang pada tahun
pelaporan yang bersangkutan terjadi hal-hal yang
bersifat khusus;
3. Penjelasan sebab-sebab tidak tercapainya target
penerimaan pendapatan daerah;
4. Informasi lainnya yang dianggap perlu.
PEMBUKUAN PENDAPATAN
(Pada SAPD PPKD)
PIHAK-PIHAK TERKAIT PEMBUKUAN
Pihak Pihak yang terkait dalam sistem akuntansi pendapatan pada
PPKD antara lain : Fungsi Akuntansi PPKD, Bendahara PPKD, dan
PPKD selaku BUD, dengan rincian tugas sbb :
1) Fungsi Akuntansi PPKD, memiliki tugas sebagai berikut:
a. Mencatat transaksi/kejadian pendapatan LO dan Pendapatan
LRA berdasarkan bukti bukti transaksi yang sah dan valid ke
Buku Jurnal LRA dan Buku Jurnal LO dan Neraca;
b. Melakukan posting jurnal jurnal transaksi/kejadian
pendapatan LO dan pendapatan LRA kedalam Buku Besar
masing masing rekening (rincian objek);
c. Menyusun Laporan Keuangan, yang terdiri dari Laporan
Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Perubahan SAL (LP.SAL),
Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas
(LPE), Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan
keuangan.
…lanjutan : PIHAK-PIHAK TERKAIT

2) Bendahara PPKD, memiliki tugas sebagai berikut :


a. Mencatat dan membukukan semua penerimaan
pendapatan kedalam buku kas penerimaan.
b. Membuat Rekap Penerimaan Harian yang bersumber
dari Pendapatan.
c. Melakukan penyetoran uang yang diterima ke kas
daerah setiap hari.
3) PPKD Selaku BUD, memiliki tugas sebagai berikut :
a. Menandatangani/mensahkan dokumen surat ketetapan
pajak/retribusi daerah.
b. Menandatangani laporan keuangan yang telah disusun
oleh Fungsi Akuntansi SKPD.
…lanjutan :

DOKUMEN (SUMBER PENCATATAN)


Sebagai sumber pembukuan, maka setiap
ketetapan/keputusan dan transaksi dicatat pada
dokumen-dokumen yang berfungsi sebagai bukti
ketetapan dan bukti transaksi.

Dokumen-dokumen yang dimaksud meliputi dokumen


mengenai ketetapan/keputusan/berita acara/kontrak/
PMK yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang,
dan dokumen transaksi yang mengakibatkan terjadinya
penerimaan pendapatan.
…lanjutan : DOKUMEN (SUMBER PENCATATAN)

Dokumen standar yang diperlukan dalam pelaksanaan pembukuan adalah :


…lanjutan : DOKUMEN (SUMBER PENCATATAN)
…lanjutan :

JURNAL STANDAR
Pencatatan dalam bentuk jurnal, dilakukan dengan
memperhatikan kebijakan akuntansi sesuai dengan transaksinya,
yaitu :
1. Pendapatan-LO (Basis Akuntansi Akrual) diakui pada saat:
a) Timbulnya hak atas pendapatan, kriteria ini dikenal juga
dengan earned; atau
b) Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber
daya ekonomi baik sudah diterima pembayaran secara tunai
(realized).
2. Pendapatan-LRA (Basis Akuntansi Kas) menggunakan basis kas
sehingga pendapatan LRA diakui pada saat :
a) Diterima di rekening Kas Umum Daerah; atau
b) Diterima oleh SKPD; atau
c) Diterima entitas lain diluar pemerintah daerah atas nama
BUD.
…lanjutan : JURNAL STANDAR – PAD MELALUI PENETAPAN

Prosedur Pencatatan PAD


1). PAD melalui Penetapan :
Fungsi Akuntansi PPKD mencatat jurnal :
…lanjutan : JURNAL STANDAR - PAD TANPA PENETAPAN

2). PAD Tanpa Penetapan


Fungsi Akuntansi PPKD mencatat jurnal sbb .
…lanjutan : JURNAL STANDAR – PAD HASIL EKSEKUSI JAMINAN

3). PAD dari Hasil Eksekusi Jaminan


Fungsi Akuntansi PPKD mencatat jurnal :
…lanjutan : JURNAL STANDAR - PENDAPATAN TRANSFER

Prosedur Pencatatan Pendapatan Transfer


Pemerintah Pusat (Dana Perimbangan).
Fungsi Akuntansi PPKD kemudian akan mencatat :
…lanjutan : JURNAL STANDAR – LAIN-LAIN PAD YG SAH

Prosedur Pencatatan
Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah.
Contoh : Pendapatan Hibah
Fungsi Akuntansi PPKD mencatat :
ILUSTRASI
(Pembukuan Pendapatan pada SAPD PPKD)
Contoh 1 :
Tanggal 1 Februari 2015, PPKD menerbitkan SKP atas Pajak Hotel a/n
Hotel Mawar untuk bulan Januari sebesar Rp 12.000.000,00.
Tanggal 10 Februari 2015, Hotel Mawar selaku wajib pajak melakukan
pembayaran pajak dengan bukti TPB (Tanda Bukti Pembayaran) Pajak.
Berdasarkan transaksi tersebut, fungsi akuntansi PPKD mencatat :
Lanjutan ilustrasi

Contoh 2 :
Tanggal 1 Januari 2015, PPKD menerima PMK mengenai penerimaan DAU
Tahun 2015 dari Pemerintah Pusat sebesar Rp 978.000.000.000,00.
Tanggal 15 Januari 2015, PPKD menerima pemindahbukuan/nota kredit
dari Bank atas pencairan dana transfer berupa DAU dari Pemerintah
Pusat sebesar Rp 81.500.000.000,00.
Berdasarkan transaksi tersebut, fungsi akuntansi PPKD mencatat :
Lanjutan ilustrasi :

Contoh 3 :
Tanggal 1 Maret 2015, PPKD menerima Naskah Perjanjian Hibah Daerah
dari Pemerintah yang sudah ditandatangani sebesar Rp250.000.000,00.
Tanggal 01 April 2015, PPKD menerima nota kredit bank atas Hibah.
Berdasarkan transaksi tersebut tersebut, fungsi akuntansi PPKD
mencatat :
PEMBUKUAN PENDAPATAN
(Pada SAPD SKPD)
PIHAK-PIHAK TERKAIT PEMBUKUAN
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi pendapatan di
Tingkat pada SKPD antara lain :
1. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD), yang
melaksanakan fungsi akuntansi.
2. Bendahara Penerimaan SKPD, yang bertugas : (1) Mencatat dan
membukukan semua penerimaan pendapatan kedalam buku
kas penerimaan ; (2) Membuat Rekap Penerimaan Harian yang
bersumber dari Pendapatan, dan ; (3) Melakukan penyetoran
uang yang diterima ke kas daerah setiap hari.
3. Pengguna Anggaran (PA) atau Kuasa Pengguna Anggaran
(KPA), yang bertanggungjawab : (1) Menandatangani/
mensahkan dokumen surat ketetapan pajak/retribusi daerah,
dan ; (2) menandatangani laporan keuangan yang telah disusun
oleh Fungsi Akuntansi SKPD.
lanjutan :

DOKUMEN YANG DIGUNAKAN

Adapun dokumen yang digunakans sebagai dasar


pencatatan pendapatan di tingkat SKPD antara lain :
1. Surat Ketetapan pajak (SKP)
2. Surat Ketetapan Retribusi (SKR)
3. Surat Tanda Setoran (STS) Pajak/Retribusi
4. Tanda Bukti Pembayaran (TBP) Pajak/Retribusi, atau
dokumen lain yang dipersamakan.
Lanjutan :
JURNAL STANDAR
1) Pengakuan Pendapatan Pajak Melalui Penetapan :
Fungsi Akuntansi SKPD mencatat :

ATAU
Lanjutan :

2) Pengakuan pendapatan pajak yang didahului dengan penghitungan


sendiri oleh wajib pajak (self assessment), diikuti dengan pembayaran
oleh wajib pajak, kemudian pemeriksaan oleh SKPD yang hasilnya
ditetapkan dalam bentuk Surat ketetapan Kurang/Lebih Bayar Pajak.
Fungsi akuntansi SKPD mencatat :
Lanjutan :

3) Pengakuan pendapatan pajak yang pembayarannya dilakukan di muka


oleh wajib pajak.
Fungsi Akuntansi SKPD mencatat :
Lanjutan :

4) Pengakuan pendapatan pajak diterima dimuka yang didahului dengan


penghitungan sendiri oleh wajib pajak (self assessment).
Fungsi Akuntansi SKPD mencatat :
Lanjutan :

5) Pengakuan pendapatan retribusi melalui penetapan :


Fungsi Akuntansi SKPD mencatat :
Lanjutan :

6) Pengakuan pendapatan retribusi tanpa penetapan :


Fungsi Akuntansi SKPD mencatat :
ILUSTRASI
(Pembukuan Pendapatan pada SAPD SKPD)
Contoh 1 :
Tgl 13 Februari 2015, Dipenda menerbitkan Surat Pemberitahuan Pajak
Terutang (SPPT) PBB tahun 2015 sebesar Rp 2.500.000,00.
Tgl 20 Februari 2015, wajib pajak membayar sejumlah yg tertera pada
SPPT. Kemudian Bendahara Penerimaan menyetorkannya ke kas daerah.
Fungsi Akuntansi SKPD mencatat :
Lanjutan ilustrasi :

Contoh 2 :
Tgl 13 Februari 2015, Dipenda menerbitkan Surat Pemberitahuan Pajak
Terutang (SPPT) PBB tahun 2015 sebesar Rp 2.500.000,00.
Tgl 20 Februari 2015, diterima Nota Kredit dari Bank JAPAR mengenai
setoran PBB ke kas daerah oleh wajib pajak sebesar yang tertera pada
SPPT tgl 13 Febriari 2015.
Fungsi akuntansi SKPD mencatat :
Lanjutan ilustrasi :

Contoh 3 :
Tgl 5 Mei 2015, Dipenda menerima pembayaran pajak hotel bulan April
dari hotel Mekar sebesar Rp7.500.000,00.
Tgl 6 Mei 2015, Bendahara Penerimaan setor ke Kas Daerah.
Tgl 10 Mei 2015, dilakukan pemeriksaan atas pajak hotel a/n Hotel Mekar
dan ditetapkan pajak kurang bayar sebesar Rp 1.700.000,00.
Fungsi akuntansi SKPD mencatat :

Kas di Bendahara Penerimaan


Lanjutan ilustrasi :

Contoh 4 :
Tgl 1 Sept 2015, Dipenda menerima pembayaran pajak reklame yang
dibayarkan untuk masa satu tahun kedepan sebesar Rp36.000.000,00.
Tgl 2 Sept 2015, Bendahara Penerimaan setor ke Kas Daerah.
Tgl 31 Des 2015, dilakukan penyesuaian atas pendapatan diterima dimuka
dengan menerbitkan bukti memorial Rp 12.000.000,00 ( 4/12 * 36 jt).
Fungsi akuntansi mencatat :

Kas di Bendahara Penerimaan


ted.doc

Sumber :
Peraturan Menteri Dalam Negeri No 64 Th 2013