Anda di halaman 1dari 5

BAB VI

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PROYEK

6.1 Pengawasan dan Pengendalian Mutu Bahan Beton


Dalam pelaksanaan proyek, suatu ketika dapat menyimpang dari rencana,
maka pengawasan dan penendalian proyek perlu dilakukan agar hal – hal yang
menghambat tercapainya tujuan proyek dapat segera diselesaikan.
Pengawasan adalah suatu proses pengevaluasian atau perbaikan terhadap
pelaksanaan kegiatan dengan pedoman pada standar dan peraturan yang berlaku
dengan tujuan agar hasil dari kegiatan tersebut sesuai dengan perencanaan proyek.
Pengendalian adalah usaha yang sistematis untuk menentukan standar yang sesuai
dengan sasaran perencanaan, merancang sistem informasi, membandingkan
pelaksanaan dengan standar, menganalisis kemungkinan adanya penyimpangan
antara pelaksanaan dan standar, kemungkinan mengambil tindakan perbaikan
yang diperlukan agar sumber daya digunakan secara efektif dan efisien dalam
rangka mencapai sasaran.
Pengawasan mutu bahan pada proyek Pembangunan Kilang Sungai Petai
dilakukan dengan berpedoman pada Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) di
mana spesifikasi bahan sudah ditentukan sesuai perencanaan yang berdasarkan
pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Salah satu upaya yang dilakukan adalah
pengadaan bahan dilakukan dari sumber maupun produsen yang sudah terpercaya
kualitasnya namun tetap memperhatikan kesesuaian harga. Untuk menjaga mutu
bahan juga dilakukan pengawasan terhadap penyimpanan bahan di lokasi proyek
dan juga saat bahan tiba di lokasi proyek harus dilakukan pemeriksaan terhadap
kualitas dan kuantitas bahan tersebut.
Pengendalian mutu bahan pada proyek Pembangunan Kilang Sungai Petai
dilakukan dengan melaksanakan beberapa pengujian di lapangan, antara lain:

a. Slump test
Pada proyek Pembangunan Kilang Sungai Petai pemeriksaan mutu beton
dilakukan dilapangan sebelum dituangkan, dilakukan dengan Slump Test yaitu
menggunakan alat Kerucut Abram. Alat ini berbentuk kerucut dengan tinggi 30

Laporan Kerja Praktek


Pembangunan Kilang Sungai Petai 66
cm, diameter atas 10 cm, diameter bawah 20 cm, serta dilengkapi alat tumbuk
berupa tongkat besi berdiameter 16 mm, dengan panjang 60 cm.
Secara singkat caranya sebagai berikut :
1. Masukkan beton kedalam Kerucut Abram, setiap 1/3 bagian beton
dipadatkan dengan penusuk dari baja sebanyak ± 25 kali, kemudian
dilanjutkan dg 1/3 bagian yanglain.
2. Setelah penuh dan rata kerucut ditarik vertikal keatas perlahan-lahan.
3. Ukurlah tinggi beton yang turun terhadap Kerucut Abram, turunnya tinggi
beton itu adalah tinggi Slump beton. Alat ini dipakai untuk mengukur
nilai slump dari adukan beton.
Nilai slump yang diisyaratkan adalah 10 cm ± 12 cm. Jika nilai ini tidak
terpenuhi, maka adukan beton tidak boleh dipergunakan.

b. Uji kuat tekan beton


Pada proyek Pembangunan Kilang Sungai Petai di ambil sample kubus untuk
diuji kuat tekanannnya di laboratorium sebanyak beberapa sample. Sample beton
diambil menggunakan cetakan kubus yang terbuat dari baja berukuran 15 x 15 x
15 cm. Cara pengambilan sample dilakukan sebagai berikut:
1. Beton dimasukkan dalam cetakan, dibagi dalam 3 lapisan yang kira-kira
sama tinggi nya, setiap lapisan dipadatkan dengan cara menusuk-nusuk
dengan alat dari baja ± 25 kali , tempat / cetakan diketok-ketok. Setelah
penuh,permukaan diratakan.
2. Selama 24 jam, contoh beton harus dilindungi dari penguapan yang terlalu
cepat.
3. Cetakan dibuka setelah 24 jam (minimum).
4. Sebelum ditest contoh harus direndam dalam air selama 7 hari.
5. Ambil benda uji dari bak perendam dan lap dengan menggunakan lap
lembab.
6. Tentukan berat dan ukuran benda uji.
7. Permukaannya diberi sulfur compounds setebal 1/8 - 1/6 inch. Pemberian
lapisan (capping) dimaksudkan agar diperoleh permukaan yang rata dan
tegak lurus terhadap sumbu.

Laporan Kerja Praktek


Pembangunan Kilang Sungai Petai 67
8. Beton secepatnya ditest kekuatan tekannya dengan alat Compression
Machine.
Hasil pengujian dari alat Compression Machine harus menunjukkan nilai
mutu beton sesuai dengan mutu beton rencana.

6.2 Uji Material Baja

a. Toleransi dimensi, panjang dan kelurusan

1. Toleransi dimensi
Dimensi yang tercantum di dalam gambar rencana adalah dimensi sesuai dengan
yang tertera di dalam tabel pabrik pembuat baja. Di dalam pembuatan terjadi
variasi yang menyebabkan terjadinya perbedaan dengan dimensi rencana.
Perbedaan terhadap panjang, lebar serta tebal diizinkan sebesar harga terkecil
antara 1/32 inci (0.75 mm) atau 5 % dari dimensi rencana.

2. Toleransi panjang.
Untuk elemen baja (balok, kolom) yang dipasang merangka satu terhadap
lainnya, toleransi panjang diizinkan sebesar 1/16 inci (1.50 mm) untuk elemen
dengan panjang kurang dari 9.00 meter dan sebesar 1/8 inci (3.00 mm) untuk
panjang lebih dari 9.00 meter.

3. Toleransi kelurusan
Kelurusan dari elemen baja dibatasi sebesar 1/500 bentang di antara 2 titik
tumpunya, kecuali ditentukan lain oleh Konsultan / Direksi.

b. Uji material

1. Contoh Material.
Kontraktor wajib menyediakan contoh material (baja, baut dan lain lain)
untuk diuji pada laboratorium yang disetujui oleh Konsultan / Direksi. Segala
biaya pengujian harus termasuk di dalam penawaran yang diajukan.

2. Uji pengelasan.
Apabila dianggap perlu oleh Konsultan / Direksi, maka akan dilakukan
testing pada hasil pengelasan. Tipe dan jumlah test untuk pengelasan disesuaikan
dengan kebutuhan sesuai AWS serta dilakukan atas biaya Kontraktor.

Laporan Kerja Praktek


Pembangunan Kilang Sungai Petai 68
6.2 Pengendalian Waktu Pelaksanaan
Pengendalian waktu ini didasarkan pada time schedule pekerjaan.
Keterlambatan pekerjaan pada suatu proyek akan berpengaruh pada anggaran
pelaksanaan pekerjaan. Agar dapat berlangsung tepat waktu, time schedule
disusun sebagai alat kontrol untuk mengukur tingkat prestasi pekerjaan dengan
lamanya pelaksanaan.
Pekerjaan apa yang harus dikerjakan lebih dahulu dan kapan harus dimulai dapat
terlihat dengan jelas pada time schedule, sehingga keterlambatan pekerjaan sebisa
mungkin dihindari. Manfaat dari time schedule adalah :
1. Sebagai pedoman kerja bagi pelaksana terutama menyangkut batasan-
batasan untuk masing-masing pekerjaan.
2. Sebagai alat koordinasi bagi pimpinan.
3. Sebagai tolok ukur kemajuan pekerjaan yang dapat dipantau setiap saat
dengan bantuan time schedule ini.
4. Sebagai evaluasi tahap akhir dari setiap kegiatan pekerjaan yang
dilaksanakan.
Kontrol terhadap pelaksanaan kerja adalah dengan membandingkan kurva
S pelaksanaan dengan kurva S penawaran. Jika kurva S pelaksanaan berada diatas
kurva S penawaran berarti pelaksanaan pekerjaan lebih cepat dari yang
ditargetkan. Jika hasil kurva S pelaksanaan berada dibawah kurva S penawaran
berarti pekerjaan mengalami keterlambatan. Untuk mengejar keterlambatan
diambil langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menambah jam kerja (lembur).
2. Penambahan jumlah tenaga.
3. Evaluasi terhadap manajemen kontraktor khususnya mengenai
pelaksanaan proyek.
4. Penyediaan bahan dipercepat.
Untuk lebih jelas mengenai time schedule dapat dilihat pada Lampiran.

6.3 Pengendalian Biaya


Pengendalian biaya dimaksudkan untuk mengetahui besarnya biaya yang
telah dikeluarkan dengan melihat tahap pekerjaan yang telah dicapai. Besarnya

Laporan Kerja Praktek


Pembangunan Kilang Sungai Petai 69
biaya ini dapat dibandingkan dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan
Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP) yang telah disusun. Dari perbandingan ini,
dapat diketahui apabila pada pekerjaan yang telah dilaksanakan tersebut terjadi
pembengkakan biaya sehingga dapat dilakukan evaluasi biaya.
Pengendalian biaya ini biasanya dilakukan dengan membuat rekapitulasi
biaya yang telah dikeluarkan. Setiap dilakukan pembelian material, bagian
logistik mencatat jumlah material yang dibeli dan besarnya biaya yang digunakan.
Sedangkan pengendalian biaya tenaga kerja dilakukan dengan memeriksa daftar
absensi pekerja selama satu minggu dan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk
membayar gaji pekerja. Besar total biaya inilah yang akan selalu dikontrol dan
dievaluasi sebagai pengendalian biaya. Selain itu, total biaya yang telah
dikeluarkan ini juga dapat digunakan untuk menyusun kurva S realisasi dan untuk
memperkirakan prosentase pekerjaan proyek yang telah dicapai.

6.4 Pengendalian Tenaga Kerja


Tenaga kerja merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan suatu
proyek karena pengaruhnya yang cukup besar terhadap biaya dan waktu
penyelesaian suatu pekerjaan proyek. Namun perlu diperhatikan juga bahwa
manusia merupakan sumber daya yang kompleks dan sulit diprediksi sehingga
diperlukan adanya usaha dan pemikiran lebih mendalam dalam pengelolaan
tenaga kerja. Dalam manajemen tenaga kerja terdapat proses pengambilan
keputusan yang berhubungan dengan:
1. Penentuan ukuran dan jumlah tenaga kerja.
2. Recruitment dan pembagian tenaga kerja kedalam kelompok kerja.
3. Komposisi tenaga kerja untuk setiap jenis pekerjaan.
4. Pengendalian jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan selama proyek
berlangsung.
5. Perencanaan, scheduling, pengarahan dan pengawasan kegiatan tenaga
kerja.

Laporan Kerja Praktek


Pembangunan Kilang Sungai Petai 70