Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

Gulma dapat diartikan sebagai tumbuhan yang tidak dikehendaki manusia karena

tumbuh di tempat yang tidak diinginkan dan mempunyai pengaruh negatif terhadap

manusia baik secara langsung ataupun tidak langsung. Keberadaan gulma tidak

dikehendaki karena gulma mempunyai daya kompetisi yang tinggi (ruang, air, udara,

unsur hara) terhadap tanaman yang dibudidayakan, sehingga mengganggu pertumbuhan

dan menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen tanaman budidaya.

Dalam pengertian ekologis gulma adalah tumbuhan yang mudah menyesuaikan diri

dengan lingkungannya yang berubah. Salah satu faktor penyebab terjadinya evolusi

gulma adalah faktor manusia. Manusia merupakan penyebab utama dari perubahan

lingkungan dan gulma mempunyai sifat mudah mempertahankan diri terhadap perubahan

tersebut dan segera beradaptasi dengan lingkungan tempat tumbuhnya. Banyak tumbuhan

yang biasanya dianggap sebagai gulma, misalnya alang-alang.

Alang-alang (Imperata cylindrica L.) merupakan tumbuhan pioner pada lahan

terbuka akibat penebangan, kebakaran hutan, perladangan berpindah atau cara

pengelolaan tanah yang kurang baik seperti yang terjadi di daerah-daerah transmigrasi.

Alang-alang merupakan gulma yang mempunyai kemampuan tumbuh sangat

mengagumkan. Alang-alang dapat berkembang biak melalui biji atau rhizom (akar

rimpang). Sifatnya yang mudah terbakar, mengakibatkan terjadinya titik-titik api yang

dapat membakar kawasan hutan disekitarnya dan menyebabkan terjadinya pencemaran

lingkungan/udara. Alang-alang dapat berbiak dengan cepat, dengan benih-benihnya yang

tersebar cepat bersama angin, atau melalui rimpangnya yang lekas menembus tanah yang

gembur. Berlawanan dengan anggapan umum, alang-alang tidak suka tumbuh di tanah

1
yang miskin, gersang atau berbatu-batu. Rumput ini senang dengan tanah-tanah yang

cukup subur, banyak disinari matahari sampai agak teduh, dengan kondisi lembap atau

kering. Di tanah-tanah yang becek atau terendam, atau yang senantiasa ternaungi, alang-

alang pun tak mau tumbuh. Gulma ini dengan segera menguasai lahan bekas hutan yang

rusak dan terbuka, bekas ladang, sawah yang mengering, tepi jalan dan lain-lain. Di

tempat-tempat semacam itu alang-alang dapat tumbuh dominan dan menutupi areal yang

luas.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Alang-alang (Imperata cylindrica L.) (Lalouna)

Alang-alang atau ilalang ialah sejenis rumput berdaun tajam, yang kerap menjadi

gulma di lahan pertanian. Rumput ini juga dikenal dengan nama-nama daerah seperti

alalang, halalang (Min.), lalang (Mly., Md., Bl.), eurih (Sd.), rih (Bat.), jih (Gayo), re

(Sas., Sumbawa), rii, kii, ki (Flores), rie (Tanimbar), reya (Sulsel), eri, weri, weli (Ambon

dan Seram), kusu-kusu (Menado, Ternate dan Tidore), nguusu (Halmahera), wusu, wutsu

(Sumba) dan lain-lain, berumur panjang (perenial), tumbuh berumpun, tinggi 30 - 180

cm. Akar rimpang, menjalar, berbuku-buku, keras dan liat, berwarna putih. Batang

berbentuk silindris, diameter 2 - 3 mm, beruas-ruas. Daun warna hijau, bentuk pita

(ligulatus), panjang 12 - 80 cm, lebar 2 - 5 cm, helaian daun tipis tegar, ujung meruncing

(acuminatus), tepi rata, pertulangan sejajar (parallel), permukaan atas halus, permukaan

bawah kasap (scaber). Bunga majemuk, bentuk bulir (spica), bertangkai panjang, setiap

bulir berekor puluhan helai rambut putih sepanjang 8 - 14 mm, mudah diterbangkan

angin. Buah bentuk biji jorong, panjang +/- 1 mm, berwarna cokelat tua. Perbanyaan

vegetatif (akar rimpang).

B. Deskripsi Biologi Alang-alang

Alang-alang (Imperata cylindrica) merupakan tumbuhan yang dikenal sebagai gulma,

tumbuh merumput dengan tunas yang merayap di dalam tanah. Tingginya bisa mencapai

30 – 180 cm, mudah berkembang biak, mempunyai rimpang kaku yang tumbuh menjalar

(Hembing, 2008). Alang-alang ditempatkan dalam anak suku Panicoideae. Klasifikasi

alang-alang yaitu sebagai berikut (Heyne, 1987):

3
Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Poales

Famili : Poaceae

Genus : Imperata

Spesies : Imperata cylindrica

Alang-alang sering ditemukan pada tempat-

tempat yang menerima curah hujan lebih dari 1000 mm,

atau pada kisaran sebesar 500-5000 mm. Di beberapa

negara, spesies ini tumbuh pada ketinggian dari batas

permukaan air laut hingga 2000 m, dan tercatat tumbuh

pada ketinggian hingga 2700 m dpl di Indonesia. Rumput

ini dijumpai pada kisaran habitat yang luas mencakup

perbukitan pasir kering di lepas pantai dan gurun, juga

rawa dan tepi sungai di lembah. Tumbuhan ini tumbuh di

padang-padang rumput, daerah-daerah pertanian, dan perkebunan. Selain itu juga pada

kawasan-kawasan hutan gundul (Forage, 2012).

C. Ekologi Alang-alang

Alang-alang dapat berbiak dengan cepat, dengan benih-benihnya yang tersebar

cepat bersama angin, atau melalui rimpangnya yang lekas menembus tanah yang gembur.

Berlawanan dengan anggapan umum, alang-alang tidak suka tumbuh di tanah yang

miskin, gersang atau berbatu-batu. Rumput ini senang dengan tanah-tanah yang cukup

subur, banyak disinari matahari sampai agak teduh, dengan kondisi lembap atau kering.

4
Di tanah-tanah yang becek atau terendam, atau yang senantiasa ternaungi, alang-alang

pun tak mau tumbuh. Gulma ini dengan segera menguasai lahan bekas hutan yang rusak

dan terbuka, bekas ladang, sawah yang mengering, tepi jalan dan lain-lain. Di tempat-

tempat semacam itu alang-alang dapat tumbuh dominan dan menutupi areal yang luas.

Sampai taraf tertentu, kebakaran vegetasi dapat merangsang pertumbuhan alang-

alang. Pucuk-pucuk ilalang yang tumbuh setelah kebakaran disukai oleh hewan-hewan

pemakan rumput, sehingga lahan-lahan bekas terbakar semacam ini sering digunakan

sebagai tempat untuk berburu.

Alang-alang menyebar alami mulai dari India hingga ke Asia timur, Asia Tenggara,

Mikronesia dan Australia. Kini alang-alang juga ditemukan di Asia utara, Eropa, Afrika,

Amerika dan di beberapa kepulauan. Namun karena sifatnya yang invasif tersebut, di

banyak tempat alang-alang sering dianggap sebagai gulma yang sangat merepotkan.

D. Kerugian yang Ditimbulkan Alang-alang

Kerugian yang ditimbulkan alang-alang, hampir sama dengan kerugian yang

ditimbulkan gulma pada umumnya, seperti :

1. Persaingan antara tanaman utama sehingga mengurangi kemampuan berproduksi,

terjadi persaingan dalam pengambilan air, unsur-unsur hara dari tanah, cahaya dan ruang

lingkup.

2. Pengotoran kualitas produksi pertanian, misalnya pengotoran benih oleh biji-biji alang-

alang.

3. Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi

tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya.

5
4. Gangguan kelancaran pekerjaan para petani, misalnya adanya duri-duri atau daun yang

tajam.

5. Perantara atau sumber penyakit atau hama pada tanaman.

6. Gangguan kesehatan manusia, misalnya ada suatu gulma yang tepung sarinya

menyebabkan alergi.

7. Kenaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian, misalnya menambah tenaga dan waktu

dalam pengerjaan tanah, penyiangan, perbaikan selokan dari gulma yang menyumbat air

irigasi.

6
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Alang-alang (Imperata cylindrica L.) merupakan tumbuhan pioner pada lahan

terbuka akibat penebangan, kebakaran hutan, perladangan berpindah atau cara

pengelolaan tanah yang kurang baik seperti yang terjadi di daerah-daerah transmigrasi.

Alang-alang merupakan gulma yang mempunyai kemampuan tumbuh sangat

mengagumkan. Alang-alang dapat berkembang biak melalui biji atau rhizom (akar

rimpang). Alang-alang menyebar alami mulai dari India hingga ke Asia timur, Asia

Tenggara, Mikronesia dan Australia. Kini alang-alang juga ditemukan di Asia utara,

Eropa, Afrika, Amerika dan di beberapa kepulauan. Namun karena sifatnya yang invasif

tersebut, di banyak tempat alang-alang sering dianggap sebagai gulma yang sangat

merepotkan.

B. Saran

Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca meskipun masih
terdapat banyak kekurangan.

7
DAFTAR PUSTAKA

Anonim,2009.Dari petani untuk petani : klasifikasi gulma. From


http://pertanian.blogdetik.com/2009/02/28/klasifikasi-gulma/.21 juli 2011.

Rismunandar. 1986.Mendayagunakan Tanaman Rumput.Bandung : PT.Pradnya


Paramita.

Steenis,Van.1957.Flora untuk Sekolah di Indonesia. Bandung : PT. Pradnya Paramita.

Titrosoepomo, Gembong.1985.Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gajah Mada


University Press.

Wijayakusuma, Hembing. 1993. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. Jakarta : Pustaka


Kartini www.wikipedia.com.akses 11 November 2010.

Anda mungkin juga menyukai