Anda di halaman 1dari 32

“Kebijakan dalam Akuntansi Sektor

Publik”

Disusun oleh:
Alfiani Sherly (023155002)
Agnes Marsaulina (023155035)
Elsa Dwi Putri (023155027)
Nikita Cintya Roma (023155032)
Rozanna Amalia (023155013)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Trisakti
2016

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-
Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Kebijakan Akuntansi Sektor Publik”
dengan baik. Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat penilaian tugas pada
semester ganjil.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Akuntansi
Sektor Publik, Andison., S.E,Ak.,CA.,M.M, yang telah membimbing dan membekali kami
dengan nasehat dan ilmu pengetahuan.

Dalam makalah ini, kami akan membahas tujuan dan bentuk laporan keuangan dan kas
setara kas. Kami berharap semoga para pembaca dapat memahami lebih baik mengenai tujuan
dan bentuk laporan keuangan.

Kami telah berusaha untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Kami menyadari
bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan pengetahuan. Oleh
karena itu, kami membutuhkan kritik dan saran dari para pembaca untuk perbaikan makalah ini.

Jakarta, 8 November 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................................................................2

Daftar Isi.........................................................................................................................................3

BAB 1 PENDAHULUAN.............................................................................................................4
1.1 Latar Belakang.........................................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................................5
1.3 Tujuan......................................................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................................6
2.1 Pengertian Laporan Keuangan Sektor Publik..........................................................................6
2.2 Tujuan dan Fungsi Laporan Keuangan Sektor Publik.............................................................6
2.3 Format Laporan Keuangan......................................................................................................8
2.4 Pengertian Kas dan Setara Kas..............................................................................................25
2.5 Sifat dan Contoh Kas dan Setara Kas....................................................................................25
2.6 Manajemen dan Pengendalian Kas........................................................................................26
2.7 Kas Kecil................................................................................................................................27

BAB III KESIMPULAN..............................................................................................................30

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................31

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kas sangat berguna dan bermanfaat, tetapi masih banyak orang belum mengetahui
manfaat dari kas tersebut, padahal pertumbuhan ekonomi sangat berkembang sekarang. Oleh
karena itu, masyarakat harus mengerti dan paham penggunaan kas itu agar mendapatkan hasil
maksimal.

Di zaman sekarang ini, kas bisa berguna oleh siapa saja. Kas dapat mengatur penerimaan
dan pengeluaran uang dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari . Bahkan, kas dapat digunakan
untuk menghitung keuangan yang akan datang. Begitu banyaknya fungsi dan kegunaan kas.

Dengan adanya kas, maka bisa mengetahui proses terjadinya pengelolaan uang. Agar
tidak ada kesulitan dalam pengelolaan kas, maka diperlukan tata cara yang tepat. Oleh karena itu,
harus dilakukan penerapan atau pengunaan kas yang tepat.

Perusahaan perlu menganalisis laporan keuangan karena laporan keuangan berisi kas
yang berguna untuk menilai kinerja suatu perusahaan tersebut, dan membandingkan kondisi
perusahaan dari tahun sebelumnya dengan tahun yang sekarang apakah perusahaan tersebut
meningkat atau tidak sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan untuk tahun yang akan
datang sesuai dengan kinerja perusahaannya.

4
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tujuan dan fungsi laporan keuangan sektor publik?
2. Bagaimana format laporan keuangan negara?
3. Apa yang dimaksud kas dan setara kas?
4. Bagaimana prosedur manajemen dan pengendalian kas?
5. Apa saja metode yang digunakan dalam mengelola kas kecil?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui tujuan dan fungsi laporan keuangan sector publik.
2. Untuk mengetahui format laporan keuangan negara.
3. Untuk mengetahui arti kas dan setara kas.
4. Untuk mengetahui prosedur manajemen dan pengendalian kas.
5. Untuk mengetahui metode dalam mengelola kas kecil.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Laporan Keuangan Sektor Publik


Laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang berisi informasi
keuangan. Informasi keuangan yang terdapat dalam laporan keuangnan tersebut digunakan oleh
pihak-pihak yang berkepentingan, baik pihak internal maupun pihak eksternal. Laporan
keuangan sektor publik merupakan representasi posisi keuangan dari transaksi-transaksi yang
dilakukan oleh suatu entitas sektor publik.

2.2. Tujuan dan Fungsi Laporan Keuangan Sektor Publik

Secara umum, tujuan dan fungsi laporan keuangan sektor publik adalah :
1. Kepatuhan dan Pengelolaan (compliance and stewardship)
Laporan keuangan digunakan untuk memberikan jaminan kepada pengguna laporan
keuangan dan pihak otoritas penguasa bahwa pengelolaan sumber daya telah dilakukan
sesuai dengan ketentuan hokum dan peraturan lain yang telah ditetapkan.

2. Akuntabilitas dan Pelaporan Retrospektif (accountability and retrospective reporting).


Laporan keuangan digunakan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik, untuk
memonitor kinerja dan mengevaluasi manajemen, memberikan dasar untuk
mengamati trend antar kurun waktu, pencapaian atas tujuan yang telah ditetapkan, dan
membandingkannya dengan kinerja organisasi lain yang sejenis jika ada, serta
memungkinkan pihak luar untuk memperoleh informasi biaya atas barang dan jasa yang
diterima dan untuk menilai efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya organisasi.

3. Perencanaan dan Informasi Otorisasi (planning and authorization information)


Laporan keuangan berfungsi untuk memberikan daar perencanaan kebijakan dan aktivitas
di masa yang akan datang dan untuk memberikan informasi pendukung mengenai
otorisasi penggunaan dana.

4. Kelangsungan Organisasi (viability)

6
Laporan keuangan berfungsi untuk membantu pembaca dalam menentukan apakah suatu
organisasi atau unit kerja dapat meneruskan menyediakan barang dan jasa (pelayanan) di
masa yang akan datang.

5. Hubungan Masyarakat (public relation)


Laporan keuangan berfungsi untuk memberikan kesempatan kepada organisasi, untuk
mengemukakan pernyataan atas prestasi yang telah dicapai kepada pemilik yang
dipengaruhi karyawan dan masyarakat serta sebagai alat komunikasi dengan public dan
pihak-pihak lain yang berkepentingan.

6. Sumber Fakta dan Gambaran (source of facts and figures)


Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi kepada kelompok kepentingan
yang ingin mengetahui organisasi secara lebih mendalam.

Bagi organisasi pemerintahan, tujuan umum akuntansi dan laporan keuangan adalah :
 Untuk memberikan informasi yang digunakan dalam pembuatan keputusan
ekonomi, sosial, dan politik serta sebagai bukti pertanggungjawaban (accountability) dan
pengelolaan (stewardship).
 Untuk memberikan informasi yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja manajerial dan
organisasional.

7
2.3. Format Laporan Keuangan Negara
a. Laporan Realisasi Anggaran

8
9
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) menyediakan informasi mengenai anggaran dan
realisasi pendapatan-LRA, belanja, transfer, surplus/defisit-LRA, dan pembiayaan dari suatu
entitas pelaporan. Informasi tersebut berguna bagi para pengguna laporan dalam mengevaluasi
keputusan mengenai alokasi sumber-sumber daya ekonomi, akuntabilitas dan ketaatan entitas
pelaporan terhadap anggaran karena menyediakan informasi-informasi sebagai berikut:
a. Informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi;
b. Informasi mengenai realisasi anggaran secara menyeluruh yang berguna dalam
mengevaluasi kinerja pemerintah dalam hal efisiensi dan efektivitas penggunaan
anggaran.

LRA menyediakan informasi yang berguna dalam memprediksi sumber daya ekonomi
yang akan diterima untuk mendanai kegiatan pemerintah pusat dan daerah dalam periode
mendatang dengan cara menyajikan laporan secara komparatif. Selain itu, LRA juga dapat
menyediakan informasi kepada para pengguna laporan keuangan pemerintah tentang indikasi
perolehan dan penggunaan sumber daya ekonomi dalam penyelenggaraan fungsi pemerintahan,
sehingga dapat menilai apakah suatu kegiatan/program telah dilaksanakan secara efisien, efektif,
dan hemat, sesuai dengan anggarannya (APBN/APBD), dan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.

Setiap komponen dalam LRA dijelaskan lebih lanjut dalam Catatan atas Laporan
Keuangan. Penjelasan tersebut memuat hal-hal yang mempengaruhi pelaksanaan anggaran
seperti kebijakan fiskal dan moneter, sebab-sebab terjadinya perbedaan yang material antara
anggaran dan realisasinya, serta daftar-daftar yang merinci lebih lanjut atas angka-angka yang
dianggap perlu untuk dijelaskan. Namun dari segi struktur, LRA Pemerintah Pusat, Pemerintah
Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota memiliki struktur yang berbeda. Perbedaan ini lebih
diakibatkan karena adanya perbedaan sumber pendapatan pada pemerintah pusat, Pemerintah
Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.

Penyusunan dan penyajian LRA didasarkan pada akuntansi anggaran, akuntansi


pendapatan-LRA, akuntansi belanja, akuntansi surplus/ defisit, akuntansi pembiayaan dan
akuntansi sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran (SiLPA/SiKPA), yang mana berdasar pada
basis kas.

10
b. Neraca

11
12
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset,
kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu. Dalam neraca, setiap entitas mengklasifikasikan
asetnya dalam aset lancar dan nonlancar serta mengklasifikasikan kewajibannya menjadi
kewajiban jangka pendek dan jangka panjang.

Apabila suatu entitas memiliki aset/barang yang akan digunakan dalam menjalankan
kegiatan pemerintahan, dengan adanya klasifikasi terpisah antara aset lancar dan nonlancar
dalam neraca maka akan memberikan informasi mengenai aset/barang yang akan digunakan
dalam periode akuntansi berikutnya (aset lancar) dan yang akan digunakan untuk keperluan
jangka panjang (aset nonlancar).

Konsekuensi dari penggunaan sistem berbasis akrual pada penyusunan neraca


menyebabkan setiap entitas pelaporan harus mengungkapkan setiap pos aset dan kewajiban yang
mencakup jumlah-jumlah yang diharapkan akan diterima atau dibayar dalam waktu 12 (dua
belas) bulan setelah tanggal pelaporan dan jumlah-jumlah yang diharapkan akan diterima atau
dibayar dalam waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan.

Informasi tentang tanggal jatuh tempo aset dan kewajiban keuangan bermanfaat untuk
menilai likuiditas dan solvabilitas suatu entitas pelaporan. Sedangkan informasi tentang tanggal
penyelesaian aset nonkeuangan dan kewajiban seperti persediaan dan cadangan juga bermanfaat
untuk mengetahui apakah aset diklasifikasikan sebagai aset lancar dan nonlancar dan kewajiban
diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek dan jangka panjang.

Neraca setidaknya menyajikan pos-pos berikut:


(1) kas dan setara kas;
(2) investasi jangka pendek;
(3) piutang pajak dan bukan pajak;
(4) persediaan;
(5) investasi jangka panjang;
(6) aset tetap;
(7) kewajiban jangka pendek;
(8) kewajiban jangka panjang;
(9) ekuitas.

Pos-pos tersebut disajikan secara komparatif (dipersandingkan) dengan periode


sebelumnya. Selain pos-pos tersebut, entitas dapat menyajikan pos-pos lain dalam neraca,
sepanjang penyajian tersebut untuk menyajikan secara wajar posisi keuangan suatu entitas dan
tidak bertentangan dengan SAP.

Pertimbangan disajikannya pos-pos tambahan secara terpisah dalam neraca didasarkan


pada faktor-faktor berikut ini:

13
- Sifat, likuiditas, dan materialitas aset;
- Fungsi pos-pos tersebut dalam entitas pelaporan;
- Jumlah, sifat, dan jangka waktu kewajiban.

Struktur Neraca Pemerintah Pusat memiliki beberapa perbedaan dibandingkan dengan


struktur Neraca Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten/ Kota). Perbedaan tersebut diakibatkan
karena kepemilikan aset negara berbeda dengan kepemilikan aset di daerah. Aset negara lebih
kompleks dibandingkan dengan aset daerah. Salah satu contohnya adalah kas. Kas di Pemerintah
Pusat termasuk kas yang ada di Bank Indonesia.

14
c. Laporan Arus Kas

15
16
17
Laporan arus kas adalah bagian dari laporan finansial yang menyajikan informasi
penerimaan dan pengeluaran kas selama periode tertentu yang diklasifikasikan berdasarkan
aktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris. Klasifikasi arus kas menurut aktivitas
operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris memberikan informasi yang memungkinkan para
pengguna laporan untuk menilai pengaruh dari aktivitas tersebut terhadap posisi kas dan setara
kas pemerintah. Informasi tersebut juga dapat digunakan untuk mengevaluasi hubungan antar
aktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris.

Untuk mengetahui perbedaan antara aktivitias operasi, investasi, pendanaan, dan


transitoris, berikut dapat dijelaskan sebagai berikut:

AKTIVITAS OPERASI
Aktivitas operasi adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas yang ditujukan untuk
kegiatan operasional pemerintah selama satu periode akuntansi. Arus kas bersih aktivitas operasi
merupakan indikator yang menunjukkan kemampuan operasi pemerintah dalam menghasilkan
kas yang cukup untuk membiayai aktivitas operasionalnya di masa yang akan datang tanpa
mengandalkan sumber pendanaan dari luar.

Arus masuk kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari: Penerimaan Perpajakan;
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP); Penerimaan Hibah; Penerimaan Bagian Laba
perusahaan negara/daerah dan Investasi Lainnya; Penerimaan Lain-lain/penerimaan dari
pendapatan Luar Biasa; dan Penerimaan Transfer. Sedangkan arus keluar kas untuk aktivitas
operasi terutama digunakan untuk: Pembayaran Pegawai; Pembayaran Barang; Pembayaran
Bunga; Pembayaran Subsidi; Pembayaran Hibah; Pembayaran Bantuan Sosial; Pembayaran
Lain-lain/Kejadian Luar Biasa; dan Pembayaran Transfer.

Jika suatu entitas pelaporan mempunyai surat berharga yang sifatnya sama dengan persediaan,
yang dibeli untuk dijual, maka perolehan dan penjualan surat berharga tersebut diklasifikasikan
sebagai aktivitas operasi. Jika entitas pelaporan mengotorisasikan dana untuk kegiatan suatu
entitas lain, yang peruntukannya belum jelas apakah sebagai modal kerja, penyertaan modal, atau
untuk membiayai aktivitas periode berjalan, maka pemberian dana tersebut harus
diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi. Kejadian ini dijelaskan dalam catatan atas laporan
keuangan.

AKTIVITAS INVESTASI
Aktivitas investasi adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas yang ditujukan untuk
perolehan dan pelepasan aset tetap serta investasi lainnya yang tidak termasuk dalam setara kas.
Arus kas dari aktivitas investasi mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas bruto dalam
rangka perolehan dan pelepasan sumber daya ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan dan
mendukung pelayanan pemerintah kepada masyarakat di masa yang akan datang.
Arus masuk kas dari aktivitas investasi terdiri dari: Penjualan Aset Tetap; Penjualan Aset
Lainnya; Pencairan Dana Cadangan; Penerimaan dari Divestasi; Penjualan Investasi dalam

18
bentuk Sekuritas. Sedangkan arus keluar kas dari aktivitas investasi terdiri dari: Perolehan Aset
Tetap; Perolehan Aset Lainnya; Pembentukan Dana Cadangan; Penyertaan Modal Pemerintah;
Pembelian Investasi dalam bentuk Sekuritas.

AKTIVITAS PENDANAAN
Aktivitas Pendanaan adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas yang yang
berhubungan dengan pemberian piutang jangka panjang dan/atau pelunasan utang jangka
panjang yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah dan komposisi piutang jangka panjang
dan utang jangka panjang. Arus kas dari aktivitas pendanaan mencerminkan penerimaan dan
pengeluaran kas yang berhubungan dengan perolehan atau pemberian pinjaman jangka panjang.
Arus masuk kas dari aktivitas pendanaan antara lain: Penerimaan utang luar negeri;
Penerimaan dari utang obligasi; Penerimaan kembali pinjaman kepada pemerintah daerah;
Penerimaan kembali pinjaman kepada perusahaan negara. Sedangkan Arus keluar kas dari
aktivitas pendanaan antara lain: Pembayaran pokok utang luar negeri; Pembayaran pokok utang
obligasi; Pengeluaran kas untuk dipinjamkan kepada pemerintah daerah; Pengeluaran kas untuk
dipinjamkan kepada perusahaan negara.

AKTIVITAS TRANSITORIS
Aktivitas transitoris adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas yang tidak
termasuk dalam aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Arus kas dari aktivitas transitoris
mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas bruto yang tidak mempengaruhi pendapatan,
beban, dan pendanaan pemerintah. Arus kas dari aktivitas transitoris antara lain transaksi
Perhitungan Fihak Ketiga (PFK), pemberian/penerimaan kembali uang persediaan kepada/dari
bendahara pengeluaran, serta kiriman uang. PFK menggambarkan kas yang berasal dari jumlah
dana yang dipotong dari Surat Perintah Membayar atau diterima secara tunai untuk pihak ketiga
misalnya potongan Taspen dan Askes. Kiriman uang menggambarkan mutasi kas antar rekening
kas umum negara/daerah.
Arus masuk kas dari aktivitas transitoris meliputi penerimaan PFK dan penerimaan
transitoris seperti kiriman uang masuk dan penerimaan kembali uang persediaan dari bendahara
pengeluaran. Sedangkan arus keluar kas dari aktivitas transitoris meliputi pengeluaran PFK dan
pengeluaran transitoris seperti kiriman uang keluar dan pemberian uang persediaan kepada
bendahara pengeluaran.

Entitas pelaporan dapat menyajikan arus kas dari aktivitas operasi dengan cara metode
langsung atau metode tidak langsung. Metode langsung mengungkapkan pengelompokan utama
penerimaan dan pengeluaran kas bruto. Sedangkan dalam metode tidak langsung, surplus atau
defisit disesuaikan dengan transaksi-transaksi operasional nonkas, penangguhan (deferral) atau
pengakuan (accrual) penerimaan kas atau pembayaran yang lalu maupun yang akan datang, serta
unsur penerimaan dan pengeluaran dalam bentuk kas yang berkaitan dengan aktivitas investasi
dan pendanaan.

19
Entitas pelaporan pemerintah pusat/daerah disarankan untuk menggunakan metode langsung
dalam melaporkan arus kas dari aktivitas operasi, karena keuntungan penggunaan metode
langsung tersebut diantaranya dapat menyediakan informasi yang lebih baik untuk
mengestimasikan arus kas di masa yang akan datang, lebih mudah dipahami oleh pengguna
laporan, serta data tentang kelompok penerimaan dan pengeluaran kas bruto dapat langsung
diperoleh dari catatan akuntansi. Struktur dari laporan arus kas terpengaruh oleh pos-pos yang
ada dalam laporan keuangan sebelumnya, khususnya Laporan Operasional dan Neraca.

20
d. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih

Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LP-SAL) menyajikan pos-pos berikut, yaitu:
saldo anggaran lebih awal (saldo tahun sebelumnya), penggunaan saldo anggaran lebih, Sisa
Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SILPA/SIKPA) tahun berjalan, koreksi kesalahan
pembukuan tahun sebelumnya, lain-lain dan Saldo anggaran lebih akhir untuk periode berjalan.
Pos-pos tersebut disajikan secara komparatif dengan periode sebelumnya.
LP-SAL dimaksudkan untuk memberikan ringkasan atas pemanfaatan saldo anggaran
dan pembiayaan pemerintah, sehingga suatu entitas pelaporan harus menyajikan rincian lebih
lanjut dari unsur-unsur yang terdapat dalam LP-SAL dalam Catatan atas Laporan
Keuangan. Struktur LP-SAL baik pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah
Kabupaten/Kota tidak memiliki perbedaan.

21
e. Laporan Perubahan Ekuitas

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan sekurang-kurangnya pos-pos Ekuitas awal atau


ekuitas tahun sebelumnya, Surplus/defisit-LO pada periode bersangkutan dan koreksi-koreksi
yang langsung menambah/mengurangi ekuitas, yang antara lain berasal dari dampak kumulatif
yang disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan mendasar, misalnya:
1. Koreksi kesalahan mendasar dari persediaan yang terjadi pada periode-periode sebelumnya;
2. Perubahan nilai aset tetap karena revaluasi aset tetap.
Di samping itu, suatu entitas pelaporan juga perlu menyajikan rincian lebih lanjut dari
unsur-unsur yang terdapat dalam Laporan Perubahan Ekuitas yang dijelaskan pada Catatan atas
Laporan Keuangan.
Struktur Laporan Perubahan Ekuitas baik pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah Kabupaten/Kota tidak memiliki perbedaan.

f. Laporan Operasional

22
23
Laporan Operasional (LO) menyediakan informasi mengenai seluruh kegiatan
operasional keuangan entitas pelaporan yang tercerminkan dalam pendapatan-LO, beban, dan
surplus/defisit operasional dari suatu entitas pelaporan yang penyajiannya dibandingkan dengan
periode sebelumnya.
Sama halnya dengan LRA, struktur Laporan Operasional Pemerintah Pusat, Pemerintah
Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota memiliki perbedaan. Perbedaan struktur tersebut juga
diakibatkan karena perbedaan sumber pendapatan pada pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi
dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Namun, yang membedakan antara LRA dengan LO
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pengelompokan pada LRA terdiri dari pendapatan, belanja, transfer dan pembiayaan, sedangkan
pengelompokan pada LO terdiri dari pendapatan dan beban dari kegiatan operasional,
surplus/defisit dari kegiatan non operasional dan pos-pos luar biasa.
2. LRA menyajikan pendapatan dan belanja yang berbasis kas, sedangkan LO menyajikan
pendapatan dan beban yang berbasis akrual.
3. Akibat dari perbedaan basis akuntansi yang digunakan, Pada LRA, pembelian aset tetap
dikategorikan sebagai belanja modal atau pengurang pendapatan, sedangkan pada LO, pembelian
aset tetap tidak diakui sebagai pengurang pendapatan.

24
g. Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas Laporan Keuangan merupakan komponen laporan keuangan yang baru yang
kedudukannya menggantikan Nota Perhitungan Anggaran. Catatan atas Laporan Keuangan
meliputi penjelasan, daftar rinci, dan analisis suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi
Anggaran dan Neraca dalam rangka pengungkapan yang memadai.
Informasi dalam Catatan Atas Laporan Keuangan terdiri dari :
a. kebijakan akuntansi
b. penjelasan pos-pos laporan keuangan,
c. pengungkapan lainnya, dan informasi tambahan yang diperlukan.

25
2.4. Pengertian Kas dan Setara Kas

Kas yaitu aktiva yang paling likuid, merupakan media pertukaran standar dan dasar
pengukuran serta akuntansi untuk semua pos-pos lainnya. Kas terdiri dari uang logam,
uang kertas, dan dana yang tersedia pada deposito di Bank.
Setara Kas adalah investasi yang sifatnya likuid, berjangka pendek, dan yang dengan
cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko perubahan nilai
yang signifikan.Setara kas terdiri dari: cek, giro, deposito, dan lain - lain.
Setara kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk investasi
atau tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan setara kas, investasi harus dapat segera
diubah menjadi kas dalam jumlah yang diketahui tanpa menghadapi resiko perubahan
nilai yang signifikan. Oleh karena itu, suatu investasi baru dapat memenuhi syarat
sebagau setara kas hanya segera akan jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang
dari tanggal perolehannya.

Surat-surat berharga yang bisa diakui dengan setara kas harus mempunyai syarat-syarat
sebgai berikut :
1. Setiap saat dapat ditukar dengan kas.
2. Tanggal jatuh temponya sangat singkat, dalam waktu tiga bulan atau
kurang.
3. Resiko perubahan nilai yang kecil atau kurang berarti.
Jadi tidak semua investasi jangka pendek dikelompokkan sebagai setara kas. Hal ini
tergantung pada kebijakan keuangan yang ditetapkan oleh masing-masing perusahaan.
Suatu perusahaan harus memiliki kebijakan yang jelas dalam menentukan perkiraaan-
perkiraan apa saja yang termasuk dan tidak termasuk adalam katagori sebagai setara kas,
dan kebijakan ini harus diungkapkan dalan catatan atas laporan keuangan perusahaan
serta harus dijalankan secara konsisten dari waktu ke waktu.

2.5. Sifat dan contoh kas dan setara kas


Kas merupakan harta lancer perusahaan yang sangat menarik dan mudah untuk
diselewengkan. Menurut SAK 1994:
a. kas adalah alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan
untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.
b. Bank adalah sisa rekening giro perusahaan yang dapat
dipergunakan secara bebas untuk membiayai kegiatan mum

26
perusahaan.

Contoh dari perkiraan-perkiraan yang biasa digolongkan sebagai kas dari bank adalah:
a. Kas kecil
b. Saldo rekening giro di bank.
c. Bon sementara
d. Bon-bon kas kecil yang belum di reimbursed
e. Check tunai yang akan di depositokan

Yang tidak dapat digolongkan sebagai bagian dari kas dan bank dalam neraca adalah :
a. deposito berjangka yang jatuh tempo lebih dr 3 bln
b. check kosong dan check mundur
c. dana yang disisihkan untuk tujuan tertentu (sinking fund)
d. rekening giro yg tidak dapat segera digunakan baik di dalam
maupun di luar negeri, misalnya karena dibekukan

Menurut PSAK no.2 kas terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro.

2.6. Manajemen Dan Pengendalian Kas


Kas adalah aktiva yang paling mudah untuk disalahgunakan. Manajemen biasanya
menghadapi dua masalah akuntansi untuk transaksi kas:
1. Pengendalian yang tepat harus ditetapkan untuk menjamin bahwa tidak ada transaksi yang
tidak diotorisasi dicatat oleh pejabat atau karyawan,dan
2. Informasi yang diperlukan untuk manajemen kas yang ada ditangan dan transaksi kas harus
tersedia.
Untuk melindungi kas dan menjamin keakuratan catatan akuntansi untuk kas, pengendalian
internal (internal control) yang efektif atas kas merupakan keharusan.

Pengendalian internal tersebut antara lain berupa :


a. Penerimaan uang
Penerimaan uang dalam suatu perusahaan bisa berasal dari beberapa sumber antara lain
dari penjualan tunai, pelunasan piutang atau dari pinjaman.

Prosedur-prosedur pengawasan yang dapat digunakan antara lain:


1. Harus ditunjukkan dengan jelas fungsi-fungsi dalam penerimaan kas dan setiap
penerimaan kas harus segera dicatat dan disetor ke bank.
2. Diadakan pemisahan fungsi antara pengurusan kas dengan fungsi pencatatan kas.
3. Diadakan pengawasan yang ketat terhadap fungsi penerimaan dan pencatatan kas. Selain
itu setiap hari harus dibuat laporan kas.

27
b. Pengeluaran uang
Pengeluaran uang dalam suatu perusahaan itu adalah untuk membayar bermacam-macam
transaksi. Apabila pengawasan tidak dijalankan dengan ketat, seringkali jumlah
pengeluaran diperbesar dan selisihnya digelapkan.

Beberapa prosedur pengendalian yang penting adalah sebagai berikut :


1. Semua pengeluaran uang menggunakan cek, kecuali untuk pengeluaran-pengeluaran
kecil dibayar dari kas kecil.
2. Dibentuk kas kecil yang diawasi dengan ketat.
3. Penulisan cek hanya dilakukan apabila dilakukan apabila didukung bukti-bukti
(dokumen-dokumen) yang lengkap atau dengan kata lain digunakan sistem voucher.
4. Dipisahkan antara orang-orang yang mengumpulkan bukti-bukti pengeluaran , yang
menulis cek,yang menandatangani cek dan yang mencatat pengeluaran kas.
5. Diadakan pemeriksaan intern dengan jangka waktu yang tidak tentu.
6. Diharuskan membuat laporan kas harian.

2.7. Kas Kecil


Dana kas kecil adalah uang kas yang disediakan untuk membayar pengeluaran-
pengeluaran yang jumlahnya relatif kecil dan tidak ekonomis bila dibayar dengan cek.

Dana ini diserahkan kepada kasir kas kecil yang bertanggung jawab terhadap
pembayaran-pembayarandari dana ini dan terhadap jumlah dana kas kecil. Jika jumlah kas
kecil tinggal sedikit, kasir kas kecil akan meminta agar dananya ditambah. Penambahan kas
kecil kadang-kadang dilakukan setiap periode tertentu misalnya mingguan.

Dalam hubungannya dengan kas kecil, ada 2 metode yang dapat digunakan yaitu :

 Imprest Fund System (Sistem Dana Tetap)

Di dalam sistem ini jumlah dalam rekening kas kecil selalu tetap, yaitu sebesar cek yang
diserahkan kepada kasir kas kecil untuk membentuk dana kas kecil.

Apabila jumlah kas kecil tinggal sedikit, kasir kas kecil akan meminta pengisisan kembali kas
kecilnya sebesar jumlah yang sudah dibayar dari kas kecil. Pengisian kembali pada akhir periode
perlu dilakukan agar biaya-biaya yang sudah dibayar dari kas kecil bisa dicatat,karena dalam
sistem imprest pengeluaran-pengeluaran kas kecil baru dicatat pada saat pengisian kembali.

 Fluctuating Fund System (Sistem Dana Berubah)

Dalam metode Fluktuasi pembentukan dana kas kecil dilakukan dengan cara yang sama seperti
dalam sistem imprest. Perbedaanya dengan sistem imprest adalah dalam metode Fluktuasi saldo
rekening kas kecil tidak tetap,tetapi berfluktuasi sesuai dengan jumlah pengisian kembali dan
pengeluaran-pengeluaran dari kas kecil. Kalau dalam sistem imprest pencatatan terhadap
28
pengeluaran-pengeluaran kas kecil baru dilakukan pada saat pengisian kembali,dalam metode
fluktuasi setiap terjadi pengeluaran uang dari kas kecil lansung dicatat.

Untuk lebih jelasnya dapat di gambarkan dalam tabel berikut ini :

Imprest System Fluctuating System

Kas Kecil Rp xx Kas Kecil Rp xx


Pembentukan
Dana Kas Rp xx Kas Rp xx

Pengeluaran- Biaya-biaya yang


pengaluaran biaya Dikeluarkan Rp xx
-
Kas Kecil Rpxx

Pengisian Kembali Biaya-biaya yang Kas kecil Rp xx


dikeluarkan Rp xx
Kas Rp xx Kas Rpxx

Contoh soal :

PT. Maju Tak Mundur pada tanggal 1 Desember 2010 membentuk dana kas kecil sebesar
Rp 100.000,00. Pengeluaran kas kecil sampai tanggal selama bulan Desember 2010 sebagai
berikut :

7 Desember Biaya angkut Rp 15.000,00


15 Desember Listrik 17.000,00
28 Desemebr Telepon 28.000,00

Pada tanggal 31 Desember 2010 dilakukan pengisian kembali dana kas kecil sebesar Rp
75.000,00

Jawab :

Tgl Imprest System Fluctuating System

1 Des Kas Kecil Rp 100.000 Kas Kecil Rp 100.000


Kas Rp 100.000
Kas Rp 100.000

29
7 Des Biaya Angkut Rp 15.000
-
Kas Kecil Rp15.000

15 Des Biaya Listrik Rp 17.000


-
Kas Kecil Rp 17.000

28 Des Biaya Telepon Rp 28.000

- Kas Kecil Rp 28.000

31 Des Biaya Angkut Rp 15.000


Kas Kecil Rp 75.000
Biaya Listrik RP 17.000
Kas Rp 75.000
Biaya Telepon Rp 28.000

Kas Rp60.000

30
BAB III
KESIMPULAN

Akuntansi Sektor Publik memiliki peran utama untuk menyiapkan laporan keuangan

sebagai salah satu bentuk pelaksanaan akuntabilitas publik. Dilihat dari sisi internal organisasi

laporan keuangan sektor publik merupakan alat pengendalian dan evaluasi kinerja manajerial dan

organisasi. Sedangkan dari sisi eksternal, laporan keuangan merupakan alat pertanggungjawaban

terhadap publik dan sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Akuntansi sektor publik

bertujuan untuk memberi informasi yang bertujuan untuk pengambilan keputusan ekonomi,

sosial, politik, dan sebagai bukti pertanggungjawaban dan pengelolaan, serta untuk memberi

informasi yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja manajerial dan organisasional. Laporan

keuangan pemerintahan dan laporan keuangan komersial memiliki perbedaan. Pernedaan

tersebut meliputi jenis laporan yang dihasilkan, elemen laporan keuangan, tujuan laporan

keuangan, dan teknik akuntansi yang digunakan.

31
DAFTAR PUSTAKA

Jones, R dan M. Pendlebury. 2000. Public Sector Accounting. 5th Edition. Pitman
Publishing: London.

Indra Bastian. 2006. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia, Suatu Pengantar.


Erlangga: Jakarta.

http://www.slideshare.net/whiteyruu/makalah-tugas-pelaporan-keuangan-sektor-publik

https://id.scribd.com/doc/124447015/Akuntansi-Sektor-Publik-Mardiasmo

http://slideplayer.info/slide/2004418/

32