Anda di halaman 1dari 35

VIDEO

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN


DENGAN PARTUS TAK MAJU
DI BPM RINA RUSDIYANTI

Dosen
ISY ROYHANATY S.SiT,Msi.Med

Disusun Oleh Kelompok I


ANIS NURIL LAILI : 1704160
ANIK HIDAYAH : 1704161
ASTINI : 1704165
DIAN SUFIYANTI : 1704168
ENY PURDIYANI : 1704177
FITA ROFIATIN : 1704182
NUNING KUSUMADEWI : 1704195
NUR KHAYATUN : 1704197
RINA RUSDIYANTI : 1704203
SRI HARYANI : 1704211
SRI PURWANI : 1704215
SUNARNI : 1704219
SUSI ISWARINI : 1704221
SUSI KUSUMA :1704222
TUNIS LESTARI : 1704224
WIDYASTUTI RESPATI : 1704226
ROFIATUL AISYAH : 1704205
CHORIROTUN : 1704166

PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN


SEKLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehamilan merupakan proses yang fisiologis dan alamiah, proses
kehamilan merupakan satu kesatuan mata rantai mulai dari konsepsi, nidasi,
adaptasi ibu terhadap nidasi, peneliharaan kehamilan, perubahan hormon sebagai
persiapan menyongsong kelahiran bayi Kehamilan dan persalinan merupakan
proses alamiah, tetapi bukannya tanpa risiko dan merupakan beban tersendiri bagi
seorang wanita. Sebagian ibu hamil akan menghadapi kegawatan dengan derajat
ringan sampai berat yang dapat memberikan bahaya terjadinya ketidaknyamanan,
ketidakpuasan, kesakitan, kecacatan bahkan kematian bagi ibu dan bayinya.
Komplikasi yang sering terjadi adalah perdarahan pasca persalinan, uri tertinggal,
partus tak maju/partus lama serta infeksi.
Komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas merupakan masalah kesehatan
yang penting, bila tidak ditanggulangi akan menyebabkan angka kematian ibu
yang tinggi. Kematian seorang ibu dalam proses reproduksi merupakan tragedi
yang mencemaskan. Keberadaan seorang ibu merupakan tonggak untuk
tercapainya keluarga yang sejahtera dan kematian seorang ibu merupakan suatu
bencana bagi keluarganya. Dampak sosial dan ekonomi kejadian ini dapat
dipastikan sangat besar, baik bagi keluarga, masyarakat maupun angkatan kerja.2
Angka Kematian Ibu merupakan indikator keberhasilan pembangunan pada sektor
kesehatan.AKI mengacu pada jumlah kematian ibu mulai dari masa kehamilan,
Berdasarkan laporan Depkes tahun 2009, AKI di Indonesia 226/100.000 kelahiran
hidup. Penurunan AKI di Indonesia masih terlalu lambat untuk mencapai target
Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals/MDGs) yaitu
menurunkan angka kematian ibu tiga per empat selama kehamilan dan persalinan.
Rentang tahun 2003-2009 penurunan AKI di Indonesia, jauh dari target yang
ingin dicapai pada tahun 2010 dan 2015 diperkirakan 125/100.000 kelahiran
hidup dan 115/100.000 kelahiran hidup.
Kematian ibu menurut penyebab dibagi menjadi kematian langsung dan tidak
langsung. Penyebab kematian ibu langsung yaitu akibat komplikasi kehamilan,
persalinan, masa nifas dan penanganan tidak tepat dari komplikasi tersebut.
Penyebab kematian ibu tidak langsung yaitu akibat dari penyakit yang sudah ada
atau penyakit yang timbul sewaktu kehamilan yang berpengaruh terhadap
kehamilan, misalnya malaria, anemia, HIV/AIDS, penyakit kardiovaskuler,
terlambat mendapat dan mencapai pelayanan kesehatan.8 Secara global 80%
kematian ibu tergolong penyebab kematian ibu langsung yaitu perdarahan (25%)
biasanya perdarahan pasca persalinan, sepsis (15%), hipertensi dalam kehamilan
(12%), partus macet (8%), komplikasi aborsi tidak aman (13%) dan sebab lain
(7%).
Partus tak maju sering terjadi akibat terlalu banyak anak, partus pada usia
dini atau lanjut, jarak persalinan terlalu rapat, kehamilan pertama yang dikaitkan
terjadinya CPD (Chepalo Pelvis Disproporsi), tinggi badan < 150 cm, ukuran
panggul yang kecil, riwayat persalinan jelek dan petugas kesehatan tidak terlatih
untuk mengenali persalinan macet yang menyebabkan tingginya risiko kematian
bayi.10 Penyebab utama lahir mati adalah gangguan persalinan (25%), partus tak
maju (19%), masalah kesehatan ibu menjelang persalinan (13%) dan
malpresentasi (12%). Partus tak maju akan menyebabkan infeksi, kehabisan
tenaga, dehidrasi pada ibu, kadang dapat terjadi atonia uteri yang dapat
mengakibatkan pendarahan postpartum.11
Menurut Depkes tahun 2004, ibu partus tak maju yang rawat inap di Rumah Sakit
di Indonesia diperoleh proporsi 4,3% yaitu 12.176 dari 281.050 persalinan dan
CFR ibu akibat partus tak maju 0,7%.

B. Tujuan
1. Untuk Mengetahui tentang Konsep Dasar Persalinan
2. Untuk Mengetahui tentang Partus Tak Maju di rujuk ke Rumah sakit.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Persalinan


1. Pengertian
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang
dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar (Wiknjosastro, 2005).
Persalinan adalah fungsi seorang wanita, dengan fungsi ini produk konsepsi
(janin, air ketuban, placenta dan selaput ketuban) dilepas dan dikeluarkan dari
uterus melalui vagina ke dunia luar (Oxorn, 2003).
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari
uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan
cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit (JNPK-KR/POGI,
2010)
Pesalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang
kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun
pada janin. (Prawirohardjo, 2001).
Persalinan normal adalah pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup
bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang
berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin
(Saifuddin, 2002)

2. Etiologi
a. Teori keregangan
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas
tertentu. Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga
persalinan dapat dimulai.
b. Teori penurunan kadar progesterone
Progesterone menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya
estrogen meninggikan kerenggangan otot rahim. Selama kehamilan
terdapat keseimbangan antara kadar progesterone dan estrogen di dalam
darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesterone menurun sehingga
timbul his.
c. Teori oksitosin internal
Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posterior.
Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah
sensitivitas otot rahim sehingga terjadi kontraksi Braxton Hicks.
Menurunnya konsentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan maka
oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingga persalinan dapat dimulai.
d. Teori prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua, disangka menjadi
salah satu penyebab permulaan persalinan
e. Teori plasenta menjadi tua
Dengan bertambahnya usia kehamilan plasenta menjadi tua dan
menyebabkan villi coriales mengalami perubahan, sehingga kadar estrogen
dan progesteron turun. Hal ini menimbulkan kekejangan pembuluh darah
dan menyebabkan kontraksi rahim
f. Teori distensi rahim
Keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang
mengakibatkan iskemia otot–otot uterus sehingga mengganggu sirkulasi
uteroplasenter
g. Teori berkurangnya nutrisi
Teori ini ditemukan pertama kali oleh Hippocrates. Bila nutrisi
pada janin berkurang, maka hasil konsepsi akan segera dikeluarkan.
3. Jenis Persalinan
Adapun menurut proses berlangsungnya persalinan dibedakan
menjadi berikut:
a. Persalinan spontan, adalah bila persalinan seluruhnya berlangsung dengan
kekuatan ibu sendiri melalui jalan lahir ibu tersebut.
b. Persalinan buatan, adalah bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari
luar misalnya ekstraksi forcep, atau operasi section caesaria.
c. Persalinan anjuran, adalah persalinan yang tidak dimulai dengan sendirinya
tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban, atau pemberian
rangsangan.
4. Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan
Persalinan ditentukan oleh 5 faktor “P” utama, yaitu :
a. Power
Kekuatan yang mendorong janin keluar yaitu: his, kontraksi otot-
otot perut, kontraksi diafragma dan aksi dari ligament, dengan kerjasama
yang baik dan sempurna selain itu juga tenaga meneran dari ibu.
b. Passage
Keadaan jalan lahir meliputi: ukuran panggul, rentang SBR
(pembukaan), kapasitas regangan saluran vagina dan introitus vagina, dan
keadaan perineum dan dasar panggul
c. Passanger
Keadaan janin atau factor janin yang meliputi: sikap janin, letak
janin, presentasi janin,bagian terbawah, dan posisi janin.
d. Psikis ibu
Kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan.
e. Penolong
Keterampilan penolong dalam memberikan asuhan sesuai dengan
standard yang ada.
5. Tanda dan gejala persalinan
a. Tanda persalinan sudah dekat
1) Lightening: beberapa minggu sebelum persalinan, ibu merasa
keadaannya menjadi lebih enteng. Ia merasa kurang sesak tetapi ia
merasa sedikit lebih sukar berjalan dan nyeri pada tubuh bagian bawah.
2) Pollakisuria: pada akhir kehamilan fundus uteri menjadi lebih rendah,
dan kepala janin mulai masuk PAP sehingga menyebabkan kandung
kemih tertekan dan berakibat ibu lebih sering kencing.
3) False labor: adanya Braxton hicks pada 3 atau 4 minggu sebelum
persalinan.
4) Perubahan cervix: pada akhir kehamilan servik berubah menjadi lebih
lunak, terjadi pembukaan dan penipisan. Pembukaan pada ibu
multipara biasanya 2 cm lebih cepat daripada primipara.
5) Energy spurt: ibu mengalami peningkatan energy sekitar 24-28 jam
sebelum persalinan dimulai setelah beberapa hari sebelumnya merasa
kelelahan fisik karena tuanya kehamilan.
6) Gastrointestinal upsets: ibu mungkin akan mengalami tanda-tanda
seperti diare, obstipasi, mual dan muntah karena pengaruh penurunan
hormone terhadap system pencernaan.
b. Tanda persalinan
1) Terjadinya his persalinan yang intermitten.
2) Pengeluaran lendir dan darah (bloody show).
3) Pengeluaran cairan (ketuban pecah)
6. Tahapan persalinan
a. Persalinan Kala 1
Persalinan kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara
pembukaan satu sampai pembukaan lengkap. Pada permulaan his, kala
pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga parturien masih dapat
berjalan-jalan. Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam
sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurve Friedmen,
diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm/jam dan pembukaan
multigravida 2 cm/jam. Dengan perhitungan tersebut maka waktu
pembukaan lengkap dapat diperkirakan (Manuaba, 1998).
b. Kala II persalinan
Disebut juga kala pengeluaran adalah periode persalinan yang
dimulai dari pembukaan servik lengkap (10 cm) dan berakhir dengan
lahirnya bayi. (APN,2008).
c. Kala III
Dimulainya setelah bayi lahir lengkap dan berakhir dengan
lahirnya plasenta, tidak boleh lebih dari 30 menit.
Perlepasan plasenta merupakan akibat dari retraksi otot-otot uterus
setelah lahirnya janin yang akan menekan pembuluh-pembuluh darah ibu.
Kontraksinya berlangsung terus-menerus (tidak memanjang lagi ototnya).
Lepasnya plasenta ditandai dengan tali pusat bertambah panjang, atau
kalau ditarik tidak ada tahanan, dan adanya semburan darah keluar dari
vagina.
d. Kala IV
Merupakan masa 1-2 jam setelah placenta lahir. Dua jam pertama
setelah persalinan merupakan waktu yang kritis bagi ibu dan bayi.
Keduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar biasa. Ibu
melahirkan bayi dari perutnya dan bayi sedang menyesuaikan diri dari
dalam perut ibu ke dunia luar. Petugas/bidan harus tinggal bersama ibu
dan bayi untuk memastikan bahwa keduanya dalam kondisi yang stabil
dan mengambil tindakan yang tepat untuk melakukan stabilisasi.
7. Mekanisme Persalinan (Cunningham, Mac Donald & Gant, 1995)
Mekanisme Persalinan adalah proses keluarnya bayi dari uterus ke
dunia luar pada saat persalinan.
Gerakan utama pada Mekanisme Persalinan :
a. Engagement
1) Diameter biparietal melewati PAP
2) Nullipara terjadi 2 minggu sebelum persalinan
3) Multipara terjadi permulaan persalinan
4) Kebanyakan kepala masuk PAP dengan sagitalis melintang pada
PAPdengan flexi ringan.
b. Descent (Turunnya Kepala)
1) Turunnya /masuknya kepala pada PAP
2) Disebabkan oleh 4 hal :
a) Tekanan cairan ketuban
b) Tekanan langsung oleh fundus uteri pada bokong
c) Kekuatan meneran
d) Melurusnya badan janin akibat kontraksi uterus.
3) Synclitismus
4) Asynclitismus
c. Flexion
Majunya kepala mendapat tekanan dari servix, dinding panggul
atau dasar panggul flexi (dagu lebih mendekati dada). Keuntungannya
adalah ukuran kepala yang melalui jalan lahir lebih kecil
d. Internal Rotation
1) Bagian terrendah memutar ke depan ke bawah symphisis
2) Usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir
(Bidang tengah dan PBP)
3) Terjadinya bersama dengan majunya kepala dan tidak terjadi sebelum
kepala sampai ke H-III
4) Rotasi muka belakang secara lengkap terjadi setelah kepala di dasar
panggul.
e. Extension/ Defleksi Kepala
1) Terjadi karena sumbu jalan lahir PBP mengarah ke depan dan atas
2) Dua kekuatan kepala
a) Mendesak ke bawah
b) Tahanan dasar panggul menolak ke atas
3) Setelah sub occiput tertahan pada pinggir bawah symphisis sebagai
Hypomoclion kemudian lahir lewat pinggir atas perineum
f. External Rotation
1) Setelah kepala lahir, kepala memutar kembali ke arah panggul anak
untuk menghilangkan torsi leher akibat putaran paksi dalam
2) Disebabkan ukuran bahu menempatkan pada ukuran muka belakang
dari PBP.
g. Expulsi
Bahu depan di bawah symphisis sebagaiHypomoklion kemudian lahirbahu
belakang, bahu depan, badan seluruhnya.

B. Partus Tak Maju


Proses persalinan tidak selamanya berjalan dengan normal terkadang ada
keadaan dimana suatu persalinan yang awalnya diperkirakan normal tetapi pada
saat prosesnya terjadi penyulit atau komplikasi. Komplikasi ini dapat berupa
distosia persalinan, dan dalam distosia persalinan ini terdapat beberapa jenis
diantaranya partus tak maju.
Partus tak maju merupakan akibat dari penatalaksanaan persalinan yang
dikelola tidak baik atau adanya factor-faktor penyebab yang terabaikan. Partus tak
maju disebut juga dengan istilah obstructed labour atau failure to progress. Pada
partus tak maju kontraksi uterus berusaha mengatasi obstruksi ini, pada partus tak
maju yang terjadi di awal uterus berkontraksi kuat untuk sementara waktu
kemudian menjadi hipoaktif karena gagal mengatasi obstruksi, sedangkan pada
partus tak maju yang terjadi di akhir kala 1 uterus terus-menerus berkontraksi
dengan kuat berusaha mendorong janin melewati panggul ibu, hal inilah yang
terkadang menimbulkan kelelahan dan kesakitan pada ibu.
1. Pengertian
Partus tak maju adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat yang
tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan servik, turunnya kepala dan putar
paksi selama 2 jam terakhir. (Muctar R. 2010:384). Partus tak maju adalah His
yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan bahwa rintangan
pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persaiinan, tidak dapat diatasi
sehingga persalinan mengalami hambatan atau kematian (Prawirohardjo, 2005).
Partus tak maju adalah persalinan yang ditandai tidak adanya pembukaan servik
dalam 2 jam dan tidak adanya penurunan janin dalam 1 jam.
Partus tak maju adalah persalinan yang tidak berlangsung secara efektif pada
persalinan spontan/ dengan induksi dimana kemajuan dilatasi servik dan atau
desensus janin tidak terjadi atau berlangsung tidak normal. (dr. Bambang
Widjanarko SpOG, 2009)
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa partus tak maju adalah
suatu persalinan dengan penyulit yang terjadi pada pembukaan lebih dari 4 cm
atau pada fase aktif kala I dimana servik tidak mengalami kemajuan dalam
pembukaan dan tidak adanya penurunan kepala selama 2 jam terakhir dengan his
yang adekuat.
2. Etiologi
a. Kelainan letak janin dan presentasi
Kelainan letak janin meliputi:
1) Letak sungsang (letak bokong)
a) Letak bokong sempurna (complete breech)
b) Letak bokong tidak sempurna (incomplete breech)
c) Letak bokong murni (frank breech)
d) Letak bokong kaki (footling breech)
2) Letak lintang (transverse lie)
Pada pemeriksaan palpasi sumbu panjang janin teraba melintang,
tidak teraba bagian besar (kepala/bokong) pada simfisis, kepala biasanya
teraba di daerah pinggang.
3) Letak miring (Oblique lie)
a) Letak kepala mengolak
b) Letak bokong mengolak
Kelainan presentasi meliputi:
1) Presentasi dahi
Presentasi dahi adalah keadaan dimana kepala janin berada di tengah
antara fleksi maksimal dan defleksi maksimal sehingga dahi merupakan
bagian terendah. Presentasi dahi terjadi karena ketidakseimbangan kepala
dengan panggul,saat persalinan kepala janin tidak dapat turun sehingga
persalinan menjadi lambat dan sulit. Presentasi dahi tidak dapat dilakukan
persalinan normal kecuali bayi kecil atau pelvis luas.
2) Presentasi bahu
Bahu merupakan bagian terbawah janin dan abdomen cenderung dari
satu sisi ke sisi yang lain sehingga tidak teraba bagian terbawah pada pintu
atas panggul menjelang persalinan.presentasi bahu disebabkan paritas tinggi
dengan dinding abdomen dan uterus kendur, prematuritas, obstruksi panggul.
3) Presentasi muka
Pada presentasi muka kepala mengalami hiperekstensi sehingga
oksiput menempel pada punggung janin dan dagu merupakan bagian
terendah.
b. Kelainan jalan lahir
Jalan lahir dibagi atas bagian tulang yang terdiri atas tulang-tulang
panggul dengan sendi-sendinya dan bagian lunak terdiri atas otot-otot,
jaringan-jaringan dan ligamen-ligamen. Dengan demikian distosia akibat
jalan lahir dapat dibagi atas:
1) Distosia karena kelainan panggul
Kelainan panggul dapat disebabkan oleh; gangguan pertumbuhan,
penyakit tulang dan sendi (rachitis, neoplasma, fraktur, dll), penyakit
kolumna vertebralis (kyphosis, scoliosis,dll), kelainan ekstremitas inferior
(coxitis, fraktur, dll). Kelainan panggul dapat menyebabkan kesempitan
panggul. Kesempitan panggul dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu;
a) Kesempitan pintu atas panggul, pintu atas panggul dikatakan sempit jika
ukuran konjugata vera kurang dari 10 cm atau diameter transversa kurang
dari 12 cm.
Kesempitan pintu atas panggul dapat menyebabkan persalinan yang lama
atau persalinan macet karena adanya gangguan pembukaan yang
diakibatkan oleh ketuban pecah sebelum waktunya yang disebabkan
bagian terbawah kurang menutupi pintu atas panggul sehingga ketuban
sangat menonjol dalam vagina dan setelah ketuban pecah kepala tetap
tidak dapat menekan cerviks karena tertahan pada pintu atas panggul.
b) Kesempitan panggul tengah, bila jumlah diameter interspinarum ditambah
diameter sagitalis posterior 13,5 cm (normalnya 10,5 +5 cm =15,5 cm ).
Pada panggul tengah yang sempit, lebih sering ditemukan posisi oksipitalis
posterior persisten atau presentasi kepala dalam posisi lintang tetap
(transverse arrest)
c) Kesempitan pintu bawah panggul, diartikan jika distansia
intertuberum 8 cm dan diameter transversa + diameter sagitalis posterior
< 15 cm (normalnya 11 cm+7,5 cm = 18,5 cm), hal ini dapat menyebabkan
kemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa.
Sedangkan kesempitan panggul umum, mencakup adanya riwayat fraktur
tulang panggul, poliomielitis, kifoskoliosis, wanita yang bertubuh kecil,
dan dismorfik, pelvik kifosis
2) Distosia karena kelainan jalan lahir lunak
Persalinan kadang-kadang terganggu oleh karena kelainan jalan lahir lunak
(kelainan tractus genitalis). Kelainan tersebut terdapat di vulva, vagina,
cerviks uteri, dan uterus:
a) abnormalitas vulva ( atresia vulva, inflamasi vulva, tumor dekat vulva)
b) abnormalitas vagina (atresia vagina, seeptum longitudinalis vagina, striktur
anuler)
c) abnormalitas serviks (odema,atresia dan stenosis serviks, Ca serviks)
d) Kelainan letak uterus (antefleksi, retrofleksi, mioma uteri, mioma serviks)
e) Tumor ovarium
c. Kelainan his dan meneran
His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan
hambatan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persalinan, jika tidak
dapat diatasi dapat megakibatkan kemacetan persalinan. His yang normal
dimulai dari salah satu sudut di fundus uteri yang kemudian menjalar merata
simetris ke seluruh korpus uteri dengan adanya dominasi kekutan pada fundus
uteri, kemudian mengadakan relaksasi secara merata dan menyeluruh. Baik
atau tidaknya his dinilai dengan kemajuan persalinan, sifat dari his itu sendiri
(frekuensinya, lamanya, kuatnya dan relaksasinya) serta besarnya caput
succedaneum.
Adapun jenis-jenis kelainan his sebagai berikut:
1) Inersia uteri
His bersifat biasa, yaitu fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih dahulu
daripada bagian lain. Kelainannya terletak dalam hal bahwa kontaksi
berlangsung terlalu lama dapat meningkatkan morbiditas ibu dan
mortalitas janin. Keadaan ini dinamakan dengan inersia uteri primer.
Jika setelah belangsungnya his yang kuat untuk waktu yang lama
dinamakan inersia uteri sekunder. Karena dewasa ini persalinan tidak
dibiarkan berlangsung lama (hingga menimbulkan kelelahan otot uterus)
maka inersia uterus sekunder jarang ditemukan2.
2) His yang terlalu kuat
His yang terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan selesai
dalam waktu yang sangat singkat. Partus yang sudah selesai kurang dari
tiga jam disebut partus presipitatus. Sifat his normal, tonus otot diluar
his juga normal, kelainannya hanya terletak pada kekuatan his. Bahaya
dari partus presipitatus bagi ibu adalah perlukaan pada jalan lahir,
khususnya serviks uteri, vagina dan perineum. Sedangkan bagi bayi bisa
mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut
menglami tekanan kuat dalam waktu yang singkat.
3) Kekuatan uterus yang tdak terkoordinasi
Disini kontraksi terus tidak ada koordinasi antara kontraksi bagian atas,
tengah dan bawah, tidak adanya dominasi fundal, tidak adanya
sinkronisasi antara kontraksi daripada bagian-bagiannya. Dengan
kekuatan seperti ini, maka tonus otot terus meningkat sehingga
mengakibatkan rasa nyeri yang terus menerus dan hipoksia janin.
Macamnya adalah hipertonik lower segment, colicky uterus, lingkaran
kontriksi dan distosia servikalis
Kelainan Meneran
Terkadang pada persalinan kala I fase aktif terdapat usaha-usaha ibu untk
meneran tanpa sadar akibat adanya kontraksi uterus hal ini lah yang
mengakibatkan terjadinya odema pada genetalia sehingga partus tak maju
dapat terjadi.
d. Pimpinan partus yang salah
Pimpinan persalinan yang salah dari penolong juga bisa menjadi salah
satu penyebab terjadinya partus tak maju. Seringkali penyebab partus tak
maju ini adalah berhubungan dengan pengawasan pada pelaksanaan
pertolongan persalinan yang tidak adekuat yang bisa disebabkan
ketidaktahuan, ketidaksabaran, atau bisa juga karena keterlambatan
merujuk.
e. Janin besar/ ada kelainan congenital
Hal ini biasanya sering terjadi berat janin lebih dari 4.000 gram,
hidrosefalus,bahu yang lebar, dan janin kembar.
f. Respon psikologis ibu terhadap persalinan
g. Primitua primer atau sekunder
h. Grande multi
i. Ketuban pecah dini

1. Diagnosis
Sebelum di diagnose partus tak maju selama kala 1 maka criteria berikut harus
terpenuhi:
a. Dilatasi servik sudah lebih dari 4 cm
b. His adekuat selama 2 jam tanpa diikuti dengan perubahan pada servik
c. Bagian terbawah tidak terdapat kemajuan/penurunan
d. Pada pembukaan belum lengkap bisa terdapat odema servik, air ketuban
keruh bercampur mekonium, servik dapat mengalami kolpoporeksis.
2. Manifestasi klinik
a. Gelisah
b. Suhu badan meningkat
c. Berkeringat
d. Nadi meningkat
e. Letih
f. Pernafasan cepat
g. Odema vulva
h. Odema servik
i. Cairan ketuban berbau dan terdapat mekonium.

3. Tanda partus tak maju


Pada kasus persalinan tak maju akan ditemukan tanda-tanda kelelahan fisik
dan mental yang dapat diobservasi dengan:
a. Dehidrasi dan ketoasidosis (ketonuria, nadi cepat, mulut kering)
b. Demam
c. Nyeri abdomen yang intensif
d. Frekuensi nyeri terkadang meningkat dan tidak terkoordinasi
e. Syok (nadi cepat, anuria, ekstremitas dingin, kulit pucat, tekanan darah
rendah)
4. Dampak Partus Tak maju
a. Dampak partus tak maju pada ibu
Dampak partus tak maju akan menyebabkan infeksi, kehabisan tenaga,
kadang dapat terjadi perdarahan post partum yang dapat menyebabkan
kematian ibu. (Amiruddin,, 2008)
b. Dampak partus tak maju pada janin
1) Perubahan tulang cranium dan kulit kepala
Akibat tekanan dari tulang pelvis caput succadenum atau
pembengkakan kulit kepal sering kali terbentuk pada tulang kepala
yang paling depa. Selain itu dapat terjadi cepalhematoma.
2) Kematian janin
Jika partus tak maju dibiarkan selama lebih dari 24 jam maka dapat
mengakibatkan kematian janin yang disebabkan oleh tekanan yang
berlabihan pada plasenta dan umbilicus.
3) Infeksi
4) Cedera pada janin
5) Asfiksia yang dapat meningkatkan kematian pada bayi.

6. Komplikasi pada ibu

a. Ketuban pecah dini


Apabila pada panggul sempit, pintu atas panggul tidak tertutup dengan
sempurna oleh janin ketuban bisa pecah pada pembukaan kecil.Bila kepala
tertahan pada pintu atas panggul, seluruh tenaga dari uterus diarahkan ke
bagian membran yang menyentuh os internal, akibatnya ketuban pecah
dini lebih mudah terjadi.
b. Pembukaan serviks yang abnormal
Pembukaan serviks terjadi perlahan-lahan atau tidak sama sekali karena
kepala janin tidak dapat turun dan menekan serviks. Pada saat yang sama,
dapat terjadi edema serviks sehingga kala satu persalinan menjadi lama.
Namun demikian kala satu dapat juga normal atau singkat, jika kemacetan
persalinan terjadi hanya pada pintu bawah panggul.Dalam kasus ini hanya
kala dua yang menjadi lama.Persalinan yang lama menyebabkan ibu
mengalami ketoasidosis dan dehidrasi. Seksio caesarea perlu dilakukan
jika serviks tidak berdilatasi. Sebaliknya, jika serviks berdilatasi secara
memuaskan, maka ini biasanya menunjukan bahwa kemacetan persalinan
telah teratasi dan kelahiran pervaginam mungkin bisa dilaksanakan (bila
tidak ada kemacetan pada pintu bawah panggul).
c. Bahaya ruptur uterus
Ruptur uterus, terjadinya disrupsi dinding uterus, merupakan salah satu
dari kedaruratan obstetrik yang berbahaya dan hasil akhir dari partus tak
maju yang tidak dilakukan intervensi.Ruptur uterus menyebabkan angka
kematian ibu berkisar 3-15% dan angka kematian bayi berkisar 50%. Bila
membran amnion pecah dan cairan amnion mengalir keluar, janin akan
didorong ke segmen bawah rahim melalui kontraksi. Jika kontraksi
berlanjut, segmen bawah rahim akan merengang sehingga menjadi
berbahaya menipis dan mudah ruptur. Namun demikian kelelahan uterus
dapat terjadi sebelum segmen bawah rahim meregang, yang menyebabkan
kontraksi menjadi lemah atau berhenti sehingga ruptur uterus berkurang.

7. Penatalaksanaan
a. Terapi pada partus tak maju bersifat darurat, koreksi adanya dehidrasi dan
segera lakukan rujukan karena pada sebagian besar kasus partus tak maju
diakhiri dengan SC.
b. Perawatan pendahuluan, suntikkan cortone acetate 100-200 mg secara
intramuskuller, penicillin prokain 1 juta IU IM, infuse cairan larutan
fisiologis, larutan glucose 5-10% pada jam pertama 1 liter/jam, istirahat 1
jam untuk diobservasi kecuali bila menghabiskan untuk segera bertindak
c. Pertolongan dapat dilakukan dengan partus spontan, ekstraksi vacuum,
ekstraksi forcep, manual aid pada letak sungsang, embriotomi bila janin
meninggal, SC dan lain-lain.

B. Rujukan Partus tak maju


Kasus-kasus yang harus dirujuk bidan adalah riwayat bedah sesar,
perdarahan pervaginam, persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37
minggu), ketuban pecah disertai dengan mekonium yang kental, ketuban pecah
lama (lebih dari 24 jam), ketuban pecah pada persalinan kurang bulan (kehamilan
kurang dari 37 minggu), ikterus, anemia berat, tanda gejala infeksi, pre-eklampsia
/hipertensi dalam kehamilan, tinggi fundus 40 cm /lebih, gawat janin, primipara
dalam fase aktif kala I persalinan dan kepala janin masih 5/5, persentasi bukan
belakang kepala, persentasi ganda (majemuk), kehamilan ganda atau gemelli, tali
pusat menumbung dan syok (Asuhan Persalinan Normal, 2007).
Dalam membuat keputusan klinik dihasilkan melalui serangkaian proses
dan menggunakan informasi dari hasil dan dipadukan dengan kajian teoritis dan
interpensi berdasarkan bukti pengalaman yang dikembangkan melalui berbagai
tahapan dan terfokus pada pasien (Varney,1997). Indikasi untuk melakukan
tindakan dan rujukan segera pada saat persalinan. Indikasi untuk melakukan
tindakan dan rujukan segera menurut buku Pedoman Asuhan Persalinan Normal
(Dinkes, 2009) :
1. Selama kala satu persalinan yaitu Riwayat bedah sesar, Perdarahan
pervaginam selain lendir bercampur darah (show), kurang dari 37 minggu
(persalinan kurang bulan), ketuban pecah disertai dengan keluarnya
mekonium kental, ketuban pecah dan air ketuban bercampur dengan sedikit
mekonium disertai tanda-tanda gawat janin, ketuban pecah (lebih dari 24 jam)
atau ketuban pecah pada kehamilan kurang bulan (usia kehamilan kurang 37
minggu).
Tanda-tanda atau gejala-gejala infeksi temperatur > 38ºC, menggigil,
nyeriabdomen, cairan ketuban berbau, Tekanan darah lebih dari 160/110
dan/atau terdapat protein dalam urin (pre-eklampsia berat), tinggi fundus 40
cm atau lebih (makrosomia, polihidramnion, kehamilan ganda), DJJ kurang
dari 100 atau lebih dari180 x/menit pada dua kali penilaian dengan jarak 5
menit (gawat janin), primipara dalam fase aktif kala satu persalinan dengan
penurunan kepala janin 5/5, presentasi bukan belakang kepala (sungsang, letak
lintang), presentasi ganda (majemuk) (adanya bagian lain dari janin, misalnya:
lengan atau tangan, bersama dengan presentasi belakang kepala), tali pusat
menumbung (jika tali pusat masih berdenyut).
Tanda dan gejala syok meliputi nadi cepat, lemah (lebih dari
110x/menit), tekanan darah menurun (sistolik kurang dari 90mmhg), pucat,
berkeringat atau kulit lembab, dingin, nafas cepat (lebih dari 30x/menit),
cemas, bingung, atau tidak sadar, produksi urin menurun (kurang dari
30ml/jam).
Kemudian tanda dan gejala fase laten berkepanjangan yaitu
pembukaan serviks kurang dari 4 cm setelah 8 jam dan kontraksi teratur (lebih
dari 2 dalam 10 menit), tanda dan gejala belum inpartu antara lain frekuensi
kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya kurang dari 20 detik
dan tidak ada perubahan serviks dalam waktu 1 hingga 2 jam. Selanjutnya
tanda dan gejala inpartu partus lama seperti perubahan serviks mengarah ke
sebelah kanan garis waspada partograf, pembukaan serviks kurang dari 1 cm
per jam dan frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan
lamanya kurang dari 40 detik.
2. Selama kala dua persalinan antara lain tanda atau gejala syok yaitu nadi cepat,
lemah (110x/menit atau lebih), tekanan darah menurun (sistolik kurang dari
90mmhg), pucat pasi, berkeringat atau kulit lembab, dingin, nafas cepat (lebih
dari 30x/menit), cemas, bingung, atau tidak sadar dan produksi urin menurun
(kurang dari 30ml/jam).
Tanda gejala dehidrasi perubahan nadi (110x/menit atau lebih), urin
pekat dan produksi urin sedikit (kurang dari 30cc/jam). Tanda dan gejala
infeksi yaitu nadi cepat (110x/menit atau lebih), suhu lebih dari 38ºc,
menggigil dan air ketuban atau cairan vagina yang berbau. Kemudian tanda
atau gejala pre-eklamsia ringan seperti tekanan darah diastolic 90-110 mmHg
dan Proteinuria hingga 2+. Tanda atau gejala pre-eklamsia berat atau
eklampsia seperti tekanan darah diastolic 110 mmHg atau lebih, tekanan
darah diastolig 90 mmHg atau lebih dengan kejang, nyeri kepala, gangguan
penglihatan dan kejang (eklampsia).
Tanda-tanda inersia uteri: kurang dari 3 kontraksi dalam waktu 10
menit, lama kontraksi kurang dari 40 detik. Tanda gawat janin seperti DJJ
kurang dari 120 atau lebih dari 160 x/menit, mulai waspada tanda awal gawat
janin dan DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 x/menit. Kepala bayi tidak
turun, tanda-tanda distosia bahu seperti kepala bayi tidak melakukan putar
paksi luar, kepala bayi keluar kemudian tertarik kembali ke dalam vagina
(kepala ‘kura-kura’) dan bahu bayi tidak dapat lahir. Kemudian tanda-tanda
cairan ketuban bercampur mekonium: cairan ketuban berwarna hijau
(mengandung mekonium), tanda-tanda tali pusat menumbung: tali pusat
teraba atau terlihat saat periksa dalam dan tanda-tanda lilitan tali pusat: tali
pusat melilit leher. Kemudian kehamilan kembar tak terdeteksi.
3. Selama kala tiga dan kala empat persalinan yaitu tanda atau gejala retensio
plasenta: adalah normal jika plasenta lahir dalam waktu 30 menit setelah bayi
lahir, tanda atau gejala avulsi (putus) tali pusat : tali pusat putus dan plasenta
tidak lahir, tanda atau gejala bagian plasenta yang tertahan seperti bagian
permukaan plasenta yang menempel pada ibu hilang, bagian selaput ketuban
yang robek/hilang, perdarahan pasca persalinan, uterus berkontraksi, tanda
atau gejala atonia uteri perdarahan pasca persalinan dan uterus lembek dan
tidak berkontraksi, tanda atau gejala robekan vagina, perineum atau serviks:
perdarahan pasca persalinan, plasenta lengkap dan uterus berkontraksi dan
tanda atau gejala syok seperti nadi cepat, lemah (110x/menit atau lebih),
tekanan darah menurun (sistolik kurang dari 90mmhg), pucat pasi,
berkeringat atau kulit lembab, dingin, nafas cepat (lebih dari 30x/menit),
cemas, bingung, atau tidak sadar, produksi urin menurun (kurang dari
30ml/jam).

Tanda gejala dehidrasi seperti perubahan nadi (110x/menit atau lebih), urin pekat
dan produksi urin sedikit (kurang dari 30cc/jam). Tanda dan gejala infeksi seperti
nadi cepat (110x/menit atau lebih), suhu lebih dari 38ºc, menggigil dan air
ketuban atau cairan vagina yang berbau. Tanda atau gejala pre-eklamsia ringan
seperti tekanan darah diastolic 90-110 mmHg, proteinuria hingga positif 2. Tanda
atau gejala pre-eklamsia berat atau eklampsia yaitu tekanan darah diastolic 110
mmhg atau lebih, tekanan darah diastolig 90 mmhg atau lebih dengan kejang,
nyeri kepala, gangguan penglihatan, kejang (eklampsia). Tanda atau gejala
kandung kemih penuh seperti bagian bawah uterus sulit dipalpasi, tinggi fundus
uteri di atas pusat dan uterus terdorong/condong ke satu sisi.

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN PATOLOGI

NY.’S’ G1P0A0 UMUR 23 TAHUN UMUR KEHAMILAN 40+2 MINGGU

DENGAN PARTUS TAK MAJU DI BPM RINA RUSDIYANTI

Tanggal Masuk : 21Maret 2018, Pukul 10.30 WIB

Tanggal Pengkajian : 21Maret 2018, Pukul 10.30 WIB

Nama Pengkaji :Bidan

I. PENGKAJIAN Tanggal 21Maret 2018 Pukul 10.30 WIB


A. Data Subyektif

1. Identitas Ibu Suami

Nama : Ny. S Tn. N

Umur : 23 tahun 40 tahun

Agama : Islam Islam

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Jawa/Indonesia

Pendidikan : SMU SD

Pekerjaan : IRT Buruh Harian

Alamat : Senenan

2. Keluhan Utama

Ibu mengatakan hamil 9 bulan lebih, sudah merasakan kenceng-kenceng

yang menjalar dari perut sampai pinggang, keluar lendir campur darah, tidak

mengeluarkan cairan ketuban, sejak tanggal 21Maret 2018 Pukul 03.00 WIB.

3. Riwayat Menstruasi

Menarche : 12 tahun Bau : Khas darah haid

Siklus : 28 hari Konsistensi : Cair

Lama : 6-7 hari Keluhan : Sakit saat haid

4. Riwayat Obstetri

G1P0A0

5. Riwayat KB

Ibu mengatakan tidak menggunakan alat kontrasepsi jenis apapun.

6. Data Kesehatan

a. Riwayat kesehatan sekarang

Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit menular(HIV/AIDS,

hepatitis dan TBC), menurun (Diabetes Melitus(DM), jantung,

hipertensi dan asma) dan penyakit menahun (paru-paru, ginjal dan jantung).

b. Riwayat kesehatan yang lalu

Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit menular (HIV/AIDS,

hepatitis dan TBC), menurun (Diabetes Melitus(DM), jantung, hipertensi dan

asma) dan penyakit menahun (paru-paru, ginjal dan jantung).


c. Riwayat kesehatan keluarga

Ibu mengatakan dari pihak ibu ataupun suami tidak ada yang menderita

penyakit Diabetes Miletus (DM), hepatitis, hipertensi dan jantung.

d. Alergi obat

Ibu mengatakan tidak alergi terhadap obat apapun.

e. Riwayat Keturunan Kembar

Ibu mengatakan tidak mempunyai riwayat keturunan kembar.

7. Riwayat kehamilan sekarang

a. HPHT : 13 Juni 2017 UK : 40

HPL : 2OMaret 2018

b. Frekuensi kunjungan ANC

TM I :2x keluhan : Mual, pusing

TM II : 2x keluhan : Tidak ada keluhan

TM III : 4x keluhan : Tidak ada keluahan

c. Imunisasi yang pernah didapat

TT I : 1 kali caten

TT II : Tanggal 21 September 2011

TT III : Tanggal 21 Oktober 2011

d. Gerakan janin yang dirasakan dalam 24 jam terakhir : ± 24 kali


8. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari

Pola Pemenuhan
No. kebutuhan Sebelum Hamil Selama Hamil
sehari-hari
1. Makan
Frekuensi 2-3 kali sehari 2-3 kali sehari
Porsi 1 piring sedang 1 piring sedang
Jenis Nasi, lauk, sayur Nasi, lauk, sayur
Pantangan Tidak ada Tidak ada
Keluhan Tidak ada Tidak ada
2. Minum
Frekuensi 5-6 kali sehari 7-8 kali sehari
Jenis Air putih dan teh Air putih,teh,susu
Jamu/alkohol Tidak Tidak
Pantangan Tidak ada Tidak ada
Keluhan Tidak ada Tidak ada
3. Eliminasi
BAK
Frekuensi 2-3 kali sehari 5-6 kali sehari
Wwarna Kuning jernih Kuning jernih
Bau Khas urin Khas urin
Keluhan Tidak ada Tidak ada

BAB
Frekuensi 1 kali sehari 1 kali sehari
konsistensi Lunak Agak keras
Warna Kekuningan Kekuningan
Bau Khas feses Khas feses
Keluhan Tidak ada Tidak ada
4. Istirahat
Tidur siang ½ jam ½ jam
Keluhan Tidak ada Tidak ada
Tidur malam 8 jam 8 jam
Keluhan Tidak ada Tidak ada
5. Personal hygiene
Mandi 2 kali sehari 2 kali sehari
Keramas 2 kali seminggu 2 kali seminggu
Gosok gigi 2 kali sehari 2 kali sehari
Ganti pakaian 2 kali sehari 2 kali sehari
Ganti 2 kali sehari 2 kali sehari
pakaian dalam

6. Seksualitas
Frekuensi 2 kali seminggu 1 kali seminggu
Keluhan Tidak ada Tidak ada
9. Data Psikososial

a. Status perkawinan

Kawin : 1x

Umur menikah : 21 tahun

Lama perkawinan : 2 tahun

Status : Sah

b. Respon ibu terhadap kehamilan

Ibu sangat senang dengan kehamilannya saat ini

c. Respon ibu terhadap persalinan

Ibu senang dan sangat mengingikan kelahiran anaknya dan pengambilan

keputusan oleh suami

d. Dukungan keluarga

Baik dari pihak keluarga ibu maupun keluarga suami sangat mendukung

kehamilan ini.

e. Aktivitas

Ibu mengatakan pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci dan memasak

dan terkadang dibantu suami.

f. Interaksi ibu dalam masyarakat

Hubungan ibu dengan masyarakat baik.

g. Psikososiospritual

Ibu dan suami mengatakan senang dengan persalinan ini.

h. Persiapan persalinan

Ibu sudah mempersiapkan persalinan baik perlengkapan bayi, perlengkapan

ibu, dana dan tempat.

B. Data Obyektif

1. Pemeriksaan Umum

KU : Baik Kesadaran : kompos mentis

Vital Sign : TD : 110/70 mmHg R : 20 x/menit

S : 37 C N : 82 x/menit

HB :10 gr%
Antropometri :

BB : 57 Kg LILA : 24 cm

2. Pemeriksaan Khusus

a. Pemeriksaan fisik

Kepala : Mesochepal, tidak ada benjolan dantidak ada bekas operasi.

Rambut : Rambut hitam, ikal, tidak berketombe dan tidak rontok.

Muka : Oval, tidak odem, tidak ada cloasma gravidarum dan tidak ada

bekas luka operasi.

Mata : Simetris, tidak ada secret, tidak strabismus, konjungtiva merah

muda, tidak odema pada palpebra dan sclera tidak kuning.

Hidung : Tidak ada secret dan tidak ada polip

Mulut : Simetris, tidak stomatitis, lidah bersih, gigi tidak karies, gusi

tidak berdarah dantidak ada pembengkakan kelenjar tonsil.

Telinga : Simetris, tidak ada secret dan tidak ada serumen.

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid,limfe, vena jugularis

dan tidak ada pembengkakan kelenjar parotis.

Dada : Tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada wezing dan ronkhi.

Payudara : Mamae membesar, putting susu menonjol, aerola mamae

hiperpigmentasidan tidak ada benjolan.

Abdomen : Membesar kearah memanjang sesuai umur kehamilan, tidak

ada luka bekas operasi, terdapat striae gravidarum danterdapat linea nigra.

Ekstremitas : Pada ekstremitas atas dan bawah pergerakan aktif, jumlah jari

lengkap dantidak ada kelainan.

b. Pemeriksaan Obstetri

Palpasi

Leopold I : TFU 2 jari dibawah Px (29 cm), Bagian atas fundus teraba

bagian lunak, agak bulat dan tidak melenting (bokong).

Leopold II : Sebelah kanan perut ibu teraba bulat, lunak, berbenjol benjol

(ekstremitas), pada bagian kiri perut ibu teraba keras,

memanjang dan tahanan kuat seperti papan (punggung).


Leopold III : Bagian bawah perut ibu teraba keras, bulat, tidak melenting,

tidak dapat digoyangkan lagi (kepala).

Leopold IV : Kedua tangan pemeriksa divergen (kepala sudah masuk

panggul) dan kepala teraba 3/5 bagian.

Mc. Donald : TFU : 29 cm

TBJ : (29-11) x 155 = 2790 gram

Auskultasi : DJJ dengan pungtum maximum di bawah pusat perut sebelah

kiri. Frekuensi : 136x/menit His: 3 x/10 menit Durasi: 50

detik.

c.Genetalia : Tidak odema, tidak ada varises, tidak ada

pembengkakan kelenjar bartolini, terdapat pengeluaran lendir

darah dananus tidak hemorrhoid.

d. Pemeriksaan Dalam I Tanggal 21Maret 2018 Pukul 10.45 WIB

Hasil : Vulva uretra tenang, dinding vagina licin, porsio tebal kaku,

pembukaan 4 cm, selaput ketuban (+), preskep, Kepala turun di H II, lendir

darah(+) dan air ketuban (+)

II. INTERPRETASI DATA

Tanggal 21Maret 2018 Pukul 10.55 WIB

Diagnosa Kebidanan

Seorang ibu Ny. S G1P0A0Ah0 umur 23 tahun hamil 40minggu, janin tunggal

hidup intra uterine, letak memanjang, puki, preskep dan dalam persalinan

kala I fase aktif.

Dasar:

S : Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama dan belum pernah

melahirkan

Ibu mengatakan tidak pernah keguguran

Ibu mengatakan berumur 23 tahun

Ibu mengatakan kenceng-kenceng teratur yang menjalar dari perut

ke pinggang

O:

KU : baik Kesadaran : Composmetis


TD : 110/80mmHg R : 20x/mnt

N : 82x/menit S : 37C

His : 3x/10menit His : 3X10 kali 30 detik

DJJ : 136x/menit

Palpasi : Leopold I : Teraba bokong

Leopold II : Punggung kiri

Leopold III : Teraba kepala

Leopold IV : Divergen

TBJ : 2790 gram

III. DIAGNOSA POTENSIAL

Tidak ada

IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA

Tidak ada

V. PERENCANAAN

Tanggal 21Maret 2018 Pukul 11.00 WIB

a. Beritahu ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan

b. Anjurkan ibu dapat tidur miring ke kiri

c. Beritahu keluarga untuk mendampingi ibu

d. Beritahu ibu cara relaksasi untuk mengurangi rasa nyeri ibu

e. Penuhi kebutuhan nutrisi ibu

f. Beritahu ibu tiap 4 jam akan dilakukan pemeriksaan dalam dan tekanan darah

g. Beritahu ibu tiap 30 menit akan dilakukan pemeriksaan Denyut Jantung Janin

(DJJ), kontraksi, nadi ibu dan tiap 2 jam akan dilakukan pemeriksaan suhu

tubuh ibu.

h. Siapkan alat partus set, resusitasi bayi, pakaian ibu dan pakaian bayi

i. Lakukan pendokumentasian
VI. PELAKSANAAN

Tanggal 21Maret 2018 Pukul 11.10 WIB

a. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa sudah dalam proses persalinan,

pembukaan 8 cm dan semakin lama kenceng-kenceng akan semakin

sering dan mules.

b. Memberitahu ibu untuk tidur miring kekiri untuk mempercepat

penurunan kepala dan menghindari gangguan pernafasan bayi.

c. Memberitahu ibu cara relaksasi yaitu jika terasa kenceng tarik nafas

dalam lewat hidung dan hembuskan perlahan lewat mulut serta

menganjurkan keluarga untuk mengelus-elus punggung ibu untuk

mengurangi rasa mules.

d. Memberitahu keluarga untuk salah satu mendampingi ibu di ruang

bersalin.

e. Menganjurkan ibu untuk tetap makan dan minum agar ibu tetap

memiliki tenaga yang cukup saat persalinan nanti.

f. Memberitahu ibu bahwa 4 jam akan dilakukan dalam untuk

mengetahui kemajuan proses persalinan dan dilakukan pengukuran

tekanan darah.

g. Memberitahu ibu bahwa setiap 30 menit akan dilakukan pemeriksaan

DJJ, kontraksi, nadi ibu dan tiap 2 jam akan dilakukan pemeriksaan

suhu tubuh ibu.

h. Menyiapkan partus set meliputi gunting episiotomi, klem, pengikat tali

pusat, kasa steril, oksitosin 10 unit, spuit 3 ccdan sepasang sarung

tangan. Meyiapkan resusitasi bayimeliputi meja yang datar, keras,

tempat yang hangat, penganjal bahu dan kain untuk mengeringkan

bayi serta menyiapkan pakaian ibu dan bayi.

i. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan.


VII. EVALUASI

Tanggal 21Maret 2018 Pukul 11.15 WIB

a. Ibu dan keluarga telah mengetahui hasil pemeriksaan.

b. Ibu dapat melakukan teknik relaksasi dan keluarga mengelus-elus punggung

ibu.

c. Suami mendampingi ibu di dalam ruang bersalin.

d. Ibu tidak mau makan tetapi ibu mau minum air putih dan teh.

e. Melakukan pemeriksaan tiap 30 menit yang meliputi DII, kontrakasi, nadi ibu

dan melakukan pemeriksaan suhu tubuh ibu tiap 2 jam melalui lembar

observasi.

LEMBAR OBSERVASI KALA I


Waktu DJJ Pembukaan His/Kontraksi Nadi Suhu TD Urine
11.00 136x/menit 4 cm, 2x10 menit lamanya 80x/menit 36,80C 110/70 100
WIB penurunan 20 detik mmHg cc
kepala 2/5
11.30 136x/menit - 2x10 menit lamanya 80x/menit - - -
WIB 20 detik
12.00 136x/menit - 2x10 menit lamanya 82x/menit - - -
WIB 20 detik

12.30 140x/menit - 2x10 menit lamanya 80x/menit - - -


WIB 20 detik
13.00 140x/menit - 3x10 menit lamanya 80x/menit - - -
WIB 20 detik
13.30 140x/menit 3x10 menit lamanya 80x/menit - -
WIB 30 detik
14.00 143x/menit 3x10 menit lamanya 82x/meni
WIB 30 detik
14.30 144x/menit 3x10 menit lamanya 82x/meni
WIB 30 detik
15.00 146x/menit 4 cm, 3x10 menit lamanya 84x/meni 370C 120/80 100
WIB penurunan 30 detik mmHg cc
kepala 2/5

f. Alat resusitasi dan partus set telah siap.


II. INTERPRETASI DATA

a. Diagnosa Kebidanan

Seorang ibu Ny. S G1P0A0 umur 23 tahun hamil 40minggu, janin

tunggal hidup intra uterin, letak memanjang preskep, puki dalam

persalinan kala I lama

Dasar: S : Ibu mengatakan kenceng-kencengnya berkurang

O:

a. KU : baik

b. Kesadaran : Composmetis

c. TD :110/80mmHg

R : 24x/mnt

d. N : 84x/menit

e. S : 37C

f. His : 3x/10menit

g. DJJ : 146x/menit

Periksa Dalam meliputi Vulva uretra tenang, dinding vagina licin,

porsio tebal lunak, pembukaan 4 cm, presbelkep, UUK pukul 15.00,

kepala turun di H II, ST = LD (+), selaput ketuban ( + ) air Ketuban

( +)

b. Masalah

Pembukaan dilatasi cervik tetap ( 4cm )

III. DIAGNOSA POTENSIAL

G1P0A0 umur 23 tahun hamil 40minggu, janin tunggal hidup

intra uterine, letak memanjang, puki, preskep dan dalam

persalinan tak maju.


IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA

Rujuk ke RSU

V. PERENCANAAN

Tanggal 21Maret 2018 Pukul 15.00 WIB

a. Beritahu ibu dan keluarga bahwa pembukaan masih tetap 4 cm

b. Beri dukungan moril pada ibu dan keluarga

c. Beri tahu ibu keluarga untuk di rujuk

d. Persiapan rujukan BAKSOKUDA.

VI. PELAKSANAAN

Tanggal 21Maret 2018 Pukul 15.15 WIB

a. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa pembukaan masih tetap 4 cm

b. Memberi dukungan moril pada ibu dan keluarga

c. Memberi tahu ibu keluarga untuk di rujuk

d. Mempersiapan rujukan BAKSOKUDA

VII. EVALUASI

Tanggal 21Maret 2018 Pukul 15.30 WIB

a. Ibu dan keluarga tahu tentang kondisi ibu saat ini.

b. Ibu dan keluarga mengerti dan mau di rujuk ke RSU..

c. Suami bersedia mendampingi ibu selama proses melahirkan.

d. Pasien sudah sampai di tempat rujukan di damping bidan dan keluarga .

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Proses persalinan kala I yang berlangsung lama atau melewati garis waspada
di karenakan his yang kurang adekuat.
2. Partus Tak Maju adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami
kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi ibu maupun
janin (anak).
3. Salah satu factor penyebab partus tak maju adalah Anemia
4. Jika Terjadi Partus lama maka berpotensi terjadinya partus Macet sehingga di
butuhkan tekhnik Vakum untuk menolong persalinan.

B. Saran
Hendaknya makalah ini di jadikan pembelajaran agar dapat di jadikan panduan
untuk menangani partus patologi.
DAFTAR PUSTAKA

Djuhadiah saadong,2013,Persalinan normal dan patologiSarwono,2012 Ilmu


kebidanan
(http://www./health-categories.org/e-tem/WIKF/persalinan-lama. 15Maret2018
jam 11.05 WIB)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19884/5/Chapter%20I.pdf