Anda di halaman 1dari 28

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil (Kusnadi, dkk,
2003). Setiap sel tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan
antara lain dapat dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi dengan sendirinya.
Mikroorganisme memiliki fleksibilitas metabolismeyang tinggi karena mikroorganisme ini harus
mempunyai kemampuan menyesuaikan diri yang besar sehingga apabila ada interaksi yang tinggi dengan
lingkungan menyebabkan terjadinya konversi zat yang tinggi pula. Akan tetapi karena ukurannya yang
kecil, maka tidak ada tempat untuk menyimpan enzim-enzim yang telah dihasilkan. Dengan demikian
enzim yang tidak diperlukan tidak akan disimpan dalam bentuk persediaan.enzim-enzim tertentu yang
diperlukan untuk perngolahan bahan makanan akan diproduksi bila bahan makanan tersebut sudah ada.
Dunia mikroba terdiri dari berbagai kelompok jasad renik. Kebanyakan bersel satu atau uniselular.
Ada yang mempunyai ciri sel tumbuhan, ada yang mempunyai ciri-ciri sel binatang, dan ada lagi yang
mempunyai ciri –ciri keduanya. Secara kolektif, jasad renik di namakan protista. Ciri utama yang
membedakan kelompok mikroba tertentu dari yang lain ialah dari organisasi bahan selularnya. Perbedaan
ini yang yang secara asasi itu taramat penting. Mikroba terdapat dimana-mana di sekitar kita, ada yang
menghuni tanah air dan atmosfer planet kita. Adanya mikroba di planet lain diluar bumi telah diselidiki
pula, namun sejauh ini di ruang angkasa belum menampakkan adanya mikroba. studi tentang mikroba yang
ada di lingkungan alamiahnya disebut ekologi mikroba . Ekologi merupakan bagian biologi yang berkenaan
dengan studi mengenai hubungan organisme atau kelompok organisme dengan lingkungannya.
Saat ini mikroba banyak dimanfaatkan di bidang lingkungan, yang berperan membantu
memperbaiki kualitas lingkungan. terutama untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan, baik di
lingkungan tanah maupun perairan. Bahan pencemar dapat bermacam-macam mulai dari bahan yang
berasal dari sumber-sumber alami sampai bahan sintetik, dengan sifat yang mudah dirombak
(biodegradable) sampai sangat sulit bahkan tidak bisa dirombak (rekalsitran/ nonbiodegradable) maupun
bersifat meracun bagi jasad hidup dengan bahan aktif tidak rusak dalam waktu lama (persisten). Dalam hal
ini akan dibahas beberapa pemanfaatan mikroba dalam proses peruraian bahan pencemar dan peran lainnya
untuk mengatasi bahan pencemar.
Mikroba di alam secara umum berperan sebagai produsen, konsumen, maupun redusen. Jasad
produsen menghasilkan bahan organik dari bahan anorganik dengan energi sinar matahari. Mikroba yang
berperan sebagai produsen adalah algae dan bakteri fotosintetik. Jasad konsumen menggunakan bahan
organik yang dihasilkan oleh produsen. Contoh mikroba konsumen adalah protozoa. Jasad redusen
menguraikan bahan organik dan sisa-sisa jasad hidup yang mati menjadi unsur-unsur kimia (mineralisasi
bahan organik), sehingga di alam terjadi siklus unsur-unsur kimia. Contoh bakteri redusen adalah bakteri
dan jamur.
Mikroba terdapat dimana-mana di sekitar kita, ada yang menghuni tanah air dan atmosfer planet
kita. Adanya mikroba di planet lain diluar bumi telah diselidiki pula, namun sejauh ini di ruang angkasa
belum menampakkan adanya mikroba. studi tentang mikroba yang ada di lingkungan alamiahnya disebut

1
ekologi mikroba. Ekologi merupakan bagian biologi yang berkenaan dengan studi mengenai hubungan
organisme atau kelompok organisme dengan lingkungannya.
Akhir-akhir ini mikroba banyak dimanfaatkan di bidang lingkungan, terutama untukmengatasi
masalah pencemaran lingkungan (bioremidiasi), baik di lingkungan tanah maupunperairan. Bahan
pencemar dapat bermacam-macam mulai dari bahan yang berasal darisumber-sumber alami
sampai bahan sintetik, dengan sifat yaang mudah dirombak (biodegradable) sampai sangat sulit
bahkan tidak bisa diromak (rekalsitran/nonbiodegradable) maupun bersifat meracun bagi jasad hidup
dengan bahanaktif tidak rusak dalam waktu lama (persisten).

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan kultivasi mikroba?


2. Apa saja metode dan teknik kultivasi mikroba?
3. Bagaimana manfaat kultivasi mikroba di bidang lingkungan?
4. Bagaimana metode dan teknik kultivasi mikroba untuk mengatasi pencemaran lingkungan?

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Kultivasi Mikroba

2.1.1. Pengertian Kultivasi Mikroba

Mikroorganisme sebagai makhluk hidup sama dengan organisme hidup lainnya sangat memerlukan
energi dan bahan-bahan untuk membangun tubuhnya, seperti dalam sintesis protoplasma dan bagian-bagian
sel lainnya. Bahan-bahan tersebut disebut nutrien. Untuk memanfaatkan bahan-bahan tersebut, maka sel
melakukan suatu kegiatan-kegiatan, sehingga menyebabkan perubahan kimia di dalam selnya. Semua reaksi
yang teratah yang berlangsung di dalam sel ini disebut metabolisme. Metabolisme yang melibatkan berbagai
macam reaksi di dalam sel tersebut, hanya dapat berlangsung atas bantuan dari suatu senyawa organik yang
disebut juga biokatalisator yang dinamakan enzim (Buckle, 1985). Media adalah suatu bahan yang terdiri dari
campuran zat-zat hara (nutrien) yang berguna untuk membiakkan mikroba. Dengan menggunakan bermacam-
macam media dapat dilakukan isolasi, perbanyakan, pengujian sifat fisiologis dan perhitungan sejumlah
mikroba. (Sutedjo, 1990). Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah,
menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya harus
disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media. Nutrien agar adalah
medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA juga digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari
mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media
sederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. (Fathir, 2009).
Bakteri hidup sukar untuk dilihat dengan mikroskop cahaya biasa karena bakteri itu tampak tidak
berwarna jika diamati secara sendiri-sendiri, walaupun biakannya secara keseluruhan mungkin berwarna.
Bakteri lebih sering diamati dalam olesan terwarnai daripada dalam keadaan hidup. Yang dimaksud bakteri
terwarnai adalah organisme yang telah diwarnai dengan zat pewarna kimia agar mudah dilihat dan dipelajari.
Pada umumnya, olesan bakteri terwarnai mengungkapkan ukuran, bentuk, susunan dan adanya struktur
internal seperti spora dan butiran (Volk, 1993). Besar kecilnya koloni, mengkilat tidaknya, halus kasarnya
permukaan, dan warna koloni merupakan sifat-sifat yang diperlukan dalam menentukan identifikasi spesies.
Warna bakteri baru tampak jelas, jika bakteri itu diamati dalam kelompok. Kebanyakan bakteri mempunyai
warna yang keputih-putihan, kelabu, kekuning-kuningan, atau hampir bening, akan tetapi ada juga beberapa
spesies yang mempunyai pigmen warna yang lebih tegas. Adanya warna itu dipengaruhi juga oleh factor-
faktor luar seperti temperatur, pH, oksigen bebas. Ada beberapa spesies yang memerlukan fosfat, ada spesies
memerlukan sulfat guna menimbulkan pigmentasi. Pada umumnya pigmen itu menetap di dalam sel selama
bakteri itu hidup; pigmen hijau pada Pseudomonas dapat larut dalam air serta meresap ke dalam medium
yang ditumbuhinya, setelah sel mati (Dwidjoseputro, 1994).
Fungi atau cendawan adalah organisme hetrotrofik yang memerlukan senyawa organik untuk
nutrisinya. Morfologi jamur (fungi) dapat dilihat secara mikroskopis sel-selnya. Jamur tersususn dari benang-
benang sel panjang yang dihubungkan dari ujung ke ujung. Benang-benang itu disebut hifa. Pengamatan
secara morfologi fungi baik secara makrokopis dapat dipakai untuk determinasi. Secar mikroskopis, perlu
diperhatikan ada tidaknya sekat pada hifa, percabangan hifa, badan buah, dasar badan buah, sel kaki, dan
bentuk spora (Volk, 1993). Koloni yang tumbuh di dalam suatu medium itu tidaklah selalu berasal dari satu
sel mikroorganisme, karena beberapa mikroorganisme tertentu cenderung untuk berkelompok atau berabtai.
Bila ditumbuhkan pada suatu medium dengan lingkungan yang sesuai, maka kelompok bakteri ini hanya akan
3
menghasilkan satu koloni saja. Berdasarkan hal tersebut sering kali digunakan istilah Colony Forming Units
(CFU) yang digunakan untuk perhitungan jumlah mikroorganisme hidup (Dwidjoseputro, 1994).
Metode kultivasi merupakan metode untuk melipatgandakan jumlah mikroba dengan membiarkan
mereka berkembang biak dalam media biakan yang telah disiapkan di bawah kondisi laboratorium terkendali.
Kultur mikroba digunakan untuk menentukan jenis organisme dengan kelimpahan dalam sampel yang diuji,
atau keduanya. Media kultivasi mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat
makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan
nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media
pertumbuhan maka dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi
komposisi media pertumbuhannya (Hidayat dkk: 2006). Ini adalah salah satu metode mikrobiologi yang
digunakan sebagai metode diagnosis untuk menentukan penyebab penyakit infeksi dengan membiarkan agen
infeksi berkembang biak dalam media yang telah disiapkan, seperti yang tertuang dalam Postulat Koch.
Menurut Unus Surawiria (1986) media adalah susunan bahan baik bahn alami (seperti tauge, kentang, daging,
telur, wortel dan sebagainya) ataupun bahan buatan (berbentuk senyawa kimia, organik ataupun anorganik)
yang dipergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba. Medium penumbuhan merupakan
substrat yang kaya akan nutrien yang selanjutnya digunakan untuk membiakkan mikrobia. Nutrient dapat
diartikan sebagai bahan-bahan organik dan atau bahan anorganik yang berfungsi sebagai sumber energi atau
penerima elektron bagi organisme (Suriawiria: 1986)
Agar mikroba dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di dalam media diperlukan persyaratan
tertentu yakni bahwa:
 Di dalam media harus terkandung semua unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangbiakan mikroba
 Media harus memiliki tekanan osmosis, tegangan permukaan, dan pH yang sesuai dengan
kebutuhan mikroba
 Media harus dalam keadaan steril.
Fungsi-fungsi medium adalah sebagai berikut :
 Media basal dapat mendukung pertumbuhan berbagai jenis spesies tanpa syarat nutrisi
 Media penghambat merupakan medium yang memuat unsur pokok tertentu yang menghambat
pertumbuhan dari jenis mikroorganisme tertentu.
 Medium pemeliharaan digunakan untuk pertumbuhan awal dan penyimpanan selanjutnya,
mempersiapkan kultur organisme yang disimpan baik pada suhu ruang atau suhu dingin
(Singleton, dkk, 2001).
2.1.2. Prinsip Nutrisi Mikroba

Berdasarkan cara-cara pengambilan nutrient maka mikroba dapat dibagi atas jasad osmotrof dan
jasad fagotrof. Jasad osmotrof mengambil nutrien dalam bentuk larutan, misalnya bakteri dan fungi,
sedangkan jasad fagotrof mengambil nutrien secara fagositosis lalu dicerna di dalam vakuola makanan,
misalnya protozoa, jasad osmotrof mengeluarkan eksoenzim untuk memecah molekul besar misalnya
protease untuk memecah protein menjadi asam amino, amilase untuk memecah pati menjadi gula, lipase
memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Selanjutnya asam amino, gula, asam lemak, dan gliserol
diserap ke dalam sel untuk digunakan.
Mikroba memerlukan nutrien sebagai sumber materi dan energy untuk menyusun komponen sel
seerti genom, membrane plasma dan dinding sel. Bentuk nutrient yang diperlukan bermacam-macam,
tergantung jenis mikrobanya, misalnya kebutuhan karbon untuk jasad fotoautotrof dalam bentuk CO2,
sedangkan bagi jasad kemoorganotrof dalam bentuk bahan organik.
4
Dengan mengetahui keperluan nutrien mikroba para ilmuwan dapat melakukan penelitian untuk
menentukan peranan mikroba di alam dan kegunaannya dalam kehidupan manusia.
Uraian berikut akan membahas mengenai tipe nutrisi yang dijumpai diantara mikroba
a. Kegiatan sel seperti biosintesis komponen sel, transport nutrient ke dalam sel dan motilitas
memerlukan energy. Berdasarkan sumber energy, mikroba dibagi atas jasad fototrof yang
menggunakan oksidasi senyawa kimia sebagai sumber energy. Dan jasad kemotrof yang
menggunakan oksidasi senyawa kimia sebagai sumber energy. Terleas dari sumber energy yang
digumakan, mikroba akan mengubah energy yang diperoleh menjadi senyawa pembawa energy
yaitu ATP yang dapat dipakai untuk kegiatan sel. Ada 2 kelompok bakteri fototrof yaitu
sianobakteri dan bakteri fotosintetik. Kedua kelompok ini mengubah energy cahaya menjadi
ATP melalui proses fotosintesis. Mikroba khemotrof mengoksidasi senyawa kimia seperti
glukosa atau ammonium, kemudian energy yang dilepaskan diubah menjadi ATP dalam proses
fermentasi atau respirasi.
b. Semua jasad hidup memerlukan karbon sebab unsurmkarbon terdapat dalam semua
mikromolekul penyusun sel seperti rotein, karbohidrat, asam nukleat dan lipid. Berdasarkan
sumber karbon, mikroba dapat digolongkan atas jasad heterotrof dan autotrof. Jasad autotrof
bila menggunakan karbondioksida sebagai sumber karbon, bila jasad tersebut memperoleh
energinya dari cahaya disebut fotoautotrof, dan bila jasad tersebutmemperoleh energinya
dengan cara mengoksidasi senyawa kimia maka disebut kemoautotrof. Jasad heterotrof
menggunakan bahan organic sebagai sumber karbon.
c. Semua jasad hidu memerlukan sulfur (blerang) dan fosfor. Sulfur dipergunakan untuk
membentuk asam amino metionin dan sistein serta koensim. Mikroba memperoleh sulfur dalam
bentuk garam sulfat, H2S, granula sulfur, thiosulfat atau dalam bentuk bahan organic (sistein
dan metionin). Fosfor dipergunakan membentuk asam nukleat, fosfolipid dan koensim. Mikroba
dapat mengambil fosfor dalam bentuk organic dan anorganik. Garam fosfat adalah yang paling
sering digunakan sebagaisumber fosfat meskiun dapat pula memakai nukleotida.
d. Semua jasad hidup memerlukan nitrogen sebab nitrogen dipergunakan untuk mensintesis asam
amino, nukleotida dan vitamin. Keerluan akan nitrogen dapat dipenuhi dalam berbagai bentuk
seperti protein atau polipeptida, garam nitrat atau amonium bahkan ada mikroba yang dapat
mengambil dalam bentuk N2 seperti Rhizobium dan Azotobacter.
e. Semua jasad hidup memerlukan beberapa unsure logam, natrium, kalium, kalsium, magnesium,
mangan, besi, seng, tembaga dan kobalt untuk pertumbuhannya yang normal. Mineral ini
diperlukan untuk aktivitas enzim dan molekul yang lain misalnya Mg sebagai penyusun klorofil,
Co untuk aktivitas enzim nitrogenase, dan Fe merupakan komponen sitokrom.
f. Semua jasad hidup memerlukan vitamin (senyawa organik yang penting untuk pertumbuhan).
Kebanyakan vitamin berfungsi membentuk substansi yang mengaktivasi enzim.meskipun
semua bakteri membutuhkan vitamin di dalam proses metaboliknya yang normal, beberapa
mampu mensintesis seluruh keperluan vitaminnya dari senyawa-senyawa lain di dalam
medium. Yang lain tidak akan tumbuh kecuali bila ditambahkan satu atau lebih vitamin ke
dalam mediumnya, seperti Leuconostoc mesentroides tidak mampu mensintesis beberapa asam
amino dan vitamin sehingga harus ditambahkan dalam keadaan jadi ke dalam mediumnya.
g. Oksigen merupakan unsure yang terdaat dalam molekul hayati seperti asam amino, nukleotida,
gliserida dan molekul lain. Keperluan akan oksigen dipenuhi bersamaan dangan masuknya

5
nutrient lain sepertirotein dan lipid. Disamping itu, oksigen dalam bentuk O2 juga diperlukan
untuk menjalankan respirasi aerobic.
h. Semua jasad hidu memerlukan air bagi kehiduan karena semua aktivitas metabolism terjadi
dalam lingkungan air. Ketersediaan air yang dapat digunakan dalam mikroba sering dinyatakan
dengan aktivitas aair (Aw). Aktivitas air suatu bahan dapat dihitung dengan menentukan
kelembaban relatifnya (RH). Untuk bakteri, semua nutrient harus ada dalam bentuk larutan
sebelum dapat memasuki bakteri tersebut.
Selain menyediakan nutrisi yang sesuai untuk kultivasi bakteri, juga perlu disediakan kondisi fisik
yang memungkinkan pertumbuhan optimum. Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya,
tetapi menunjukan respon yang berbeda terhadap kondisi fisik di lingkungannya. Untuk berhasilnya kultivasi
mikroba diperlukan suatu kombinasi nutrisi serta lingkungan fisik yang sesuai. Ada 5 arameter lingkungan
yang utama yang perlu diperhatikan dalam menumbuhkan mikroba yaitu temperature, kelembaban (RH),
kadar oksigen, pH dan osmosis.
a. Temperatur
Karena semua proses pertumbuhan bergantung pada reaksi kimiawi dank arena laju
reaksi-reaksi ini dipengaruhi oleh temperature, maka pola pertumbuhan mikroba sangat
dipengaruhi oleh temperature. Temperature juga mem pengaruhi laju pertumbuhan dan
penambahan jumlah sel. Keragaman suhu dapat juga mengubah proses-proses metabolic serta
morfologi sel. Setiap mikroba tumbuh pada suatu kisaran suhu tertentu. Atas dasar ini maka
mikroba ada yang bersifat psikrofilik yang tumbuh pada 00 dampai 200 C, mesofilik yang
tumbuh pada 200 sampai 450 C dan termofilik yang tumbuh pada temperature 450 sampai 800
C. Temperature inkubasi yang memungkinkan pertumbuhan tercepat selama periode waktu
yang singkat (12 sampai 24 jam) dikenal sebagai temperature pertumbuhan optimum.
b. Kondisi atmosfer seperti kadar oksigen, RH dan tekanan udara
Mikroba memperlihatkan keragaman yang luas dalam hal respons terhadap oksigen
bebas dan atas dasar ini maka mikroba dibagi menjadi empat yaitu aerobik (memerlukan
oksigen), anaerobik (tumbuh tanpa oksigen molekuler), anaerobic fakultatif (tumbuh pada
keadaan aerobic dan anaerobik), dan mikroaerofilik (tumbuh bila ada sedikit oksigen
atmosferik). Beberapa mikroba bersifat anaerobik obligat, bila terkena oksigen akan terbunuh,
oleh karena itu untuk menumbuhkan mikroba anaerobic diperlukan teknik khusus agar tercapai
keadaan anaerob. Keperluan penumbuhan jasad anaerob obligat dapat dipenuhi dengan
menggunakan alat yang disebut anaerobic jar.
c. Konsentrasi ion hydrogen (pH)
pH optimum bagi kebanyakan mikroba terletak antara 6.5 sampai 7,5. Bagi kebanyakan
mikroba pH minimum dan maksimum antara 4 sampai 9. Pertumbuhan mikroba sangat
dipengaruhi oleh pH karena nilai pH sangat menentukan aktivitas enzim. Bila mikoba di
kultivasi di dalam suatu medium yang mula-mula pH-nya 7 maka kemungkinan pH ini akan
berubah. Pergeseran pH ini dapat sedemikian besar sehingga menghambat pertumbuhan.
Pergeseran pH dapat dicegah dengan menggunakan larutan penyangga atau bufer dalam
medium. Bufer merupakan senyawa yang dapat menahan perubahan pH misalnya KH2PO4 dan
K2HPO4. Beberapa bahan nutrisi medium seperti pepton mempunyai kapasitas bufer. Perlu
atau tidaknya suatu medium diberi bufer tergantung kepada maksud penggunaannya dan
dibatasi oleh kapasitas bufer yang dimiliki senyawa-senyawa yang digunakan

6
d. Tekanan osmosis
Tekanan osmosis adalah besarnya tekanan minimum yang dierlukan untuk mencegah
aliran air yang menyebrangi membrane di dalam larutan. Contohnya : jika larutan 10 % sukrosa
di dalam kantong membrane dialysis diletakkan dalam air dalam gelas maka molekul air yang
ada dalam gelas akan mengalir ke dalam kantong analisis. Besarnya tekanan yang diperlukan
untuk mencegah aliran molekul air dalam gelas ke dalam kantong dialisis merupakan nilai
tekanan osmosis larutan sukrosa tersebut. Berdasarkan tekanan osmosanya maka larutan tempat
pertumbuhan mikroba dapat digolongkan atas larutan hipotonis, isotonis dan larutan
hipertonois. Mikroba biasanya hidup di lingkungan yang bersifat agak hipotonis sehingga air
akan mengalir dari lingkungannya ke dalam sel sehingga sel menjadi mengembang kaku.
Adanya dinding sel dapat mencegah pecahnya sel mikroba.

2.1.3. Bahan – bahan Media Kultivasi

Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara (nutrient) yang berguna untuk
membiakkan mikroba. Dengan mempergunakan bermacammacam media dapat dilakukan isolasi,
perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba (Sutedjo,1996). Medium adalah
suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrisi atau zat-zat hara (nutrien) yang digunakan untuk
menumbuhkan mikroba (Susanti,2012) Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri
dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya.
Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekulmolekul kecil yang dirakit untuk menyusun
komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolasi mikroorganisme menjadi kultur murni
dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya sesuai kebutuhan bakteri. Oleh karena bakteri yang
berbeda memerlukan kebutuhan akan nutrisi yang berbeda pula , sehingga dikembangkan berbagai macam
media pertumbuhan untuk digunakan dalam diagnosa mikrobiologi. Media pertumbuhan bakteri atau media
kultur bakteri adalah cairan atau gel yang di design untuk mendukung pertumbuhan mikroorganisme dan sel.
Terdapat dua jenis utama media pertumbuhan yaitu media yang digunakan untuk kultur pertumbuhan
sel tumbuhan atau binatang dan jenis yang kedua yaitu kultur mikrobiologi yang digunakan untuk
menumbuhkan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur (Madigan, 2005). Dapat disimpulkan media adalah
suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi (nutrient) yang dipakai untuk menumbuhkan mikroba (Sutedjo,
1996). Supaya mikroba dapat tumbuh baik dalam suatu media, maka medium tersebut harus memenuhi syarat
- syarat antara lain:
 Harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba
 Harus mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan kebutuhan
mikroba yang ditumbuhkan
 Harus mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba
 Harus berada dalam keadaan steril sebelum digunakan, agar mikroba yang diinginkan dapat
tumbuh baik (Sutedjo,1996).
Medium yang paling banyak digunakan dalam pembiakan mikroba adalah kaldu cair dan kaldu agar.
Menurut Kusnadi dkk (2003) bahan-bahan media pertumbuhan mikrobia meliputi:
a. Bahan dasar
 Air (H2O) sebagai pelarut
 Agar (dari rumput laut) yang berfungsi untuk pemadat media. Agar sulit didegradasi oleh
mikroorganisme pada umumnya dan mencair pada suhu 45oC.

7
 Gelatin juga memiliki fungsi yang sama seperti agar. Gelatin adalah polimer asam amino
yang diproduksi dari kolagen. Kekurangannnya adalah lebih banyak jenis mikroba yang
mampu menguraikannya dibanding agar.
 Silika gel, yaitu bahan yang mengandung natrium silikat. Fungsinya juga sebagai pemadat
media. Silika gel khusus digunakan untuk memadatkan media bagi mikroorganisme autotrof
obligat.
b. Nutrisi atau zat makanan
Media harus mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk metabolisme sel yaitu
berupa unsur makro seperti Carbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Phospor (P),
dan unsur mikro seperti Fe, Mg dan unsur pelikan/trace element. Sumber karbon dan energi
yang dapat diperoleh berupa senyawa organik atau anorganik sesuai dengan sifat mikrobanya.
Jasad heterotrof memerlukan sumber karbon organik antara lain dari karbohidrat, lemak,
protein, dan asam organik. Sumber nitrogen mencakup asam amino, protein atau senyawa
bernitrogen lain. Sejumlah mikroba dapat menggunakan sumber N anorganik seperti urea. C.
Bahan tambahan Bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang ditambahkan ke medium dengan
tujuan tertentu, misalnya phenol red (indikator asam basa) ditambahkan untuk indikator
perubahan pH akibat produksi asam organik hasil metabolisme. Antibiotik ditambahkan untuk
menghambat pertumbuhan mikroba non-target/kontaminan.
Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan media, antara lain:
 Agar dapat diperoleh dalam bentuk batangan, granula atau bubuk dan terbuat dari beberapa jenis
rumput laut. Kegunaannya adalah sebagai pemadat (gelling) yang pertama kali digunakan oleh
Fraw & Walther Hesse untuk membuat media. Jika dicampur dengan air dingin, agar tidak akan
larut. Untuk melarutkannya harus diaduk dan dipanasi, pencairan dan pemadatan berkali-kali
atau sterilisasi yang terlalu lama dapat menurunkan kekuatan agar, terutama pada pH yang
asam.
 Peptone adalah produk hidrolisis protein hewani atau nabati seperti otot, liver, darah, susu,
casein, lactalbumin, gelatin, dan kedelai. Komposisinya tergantung pada bahan asalnya dan
bagaimana cara memperolehnya.
 Meat extract. Meat extract mengandung basa organik terbuat dari otak, limpa, plasenta, dan
daging sapi.
 Yeast extract. Yeast extract terbuat dari ragi pengembang roti atau pembuat alkohol. Yeast
extract mengandung asam amino yang lengkap & vitamin (B kompleks). Karbohidrat
ditambahkan untuk memperkaya pembentukan asam amino dan gas dari karbohidrat. Jenis
karbohidrat yang umumnya digunakan dalam amilum, glukosa, fruktosa, galaktosa, sukrosa,
manitol, dan lain-lain. Konsentrasi yang ditambahkan untuk analisis fermentasi adalah 0,5-1%.
2.1.4. Jenis – jenis Media Kultivasi

Untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroba, diperlukan suatu substrat yang disebut
media. Keragaman yang luas dalam hal tipe nutrisi di antara mikroba diimbangi oleh tersedianya berbagai
media yang banyak macamnya untuk kultivasi. Agar mikroba dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di
dalam media, diperlukan persyaratan tertentu,yaitu:
 Media mengandung semua unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangbiakkan mikroba.
 Media mempunyai tekanan osmosa , dan PH yang sesuai untuk mikroba.
 Media harus dalam keadaan steril.
8
 Bentuk media
Bentuk media ditentukan oleh ada tidaknya penambahan zat pemadat seperti agar,
gelatin. Berdasarkan bentuk dikenal tiga jenis media :
a. Media Padat
Yaitu media berbentuk padat yang mengandung agar 1-1.5%, misalnya
nutrien agar. Kalau ke dalam media ditambahkan agar. Jumlah agar yang
ditambahkan tergantung kepada jenis atau kelompok mikroba yang ditumbuhkan. Ada
yang memerlukan kadar air tinggi sehingga penambahan agar harus sedikit tetapi ada
pula yang memerlukan kandungan air rendah sehingga penambahan agar harus lebih
banyak. Media padat umumnya dipergunakan untuk menumbuhkan bakteri, jamur,
dan kadang-kadang mikroalga terutama dalam peremajaan dan pemeliharaan kultur
murni dalam bentuk agar miring.
b. Media Cair
Yaitu media berbentuk cair yang tidak mengandung agar, misalnya nutrien
broth. Umumnya media cair digunakan untuk menambah biomassa sel . Kalau ke
dalam media tidak ditambahkan zat pemadat. Media cair dipergunakan untuk
penumbuhan bakteri, ragi dan mikroalga.
c. Media Semi Padat
Yaitu media yang berbentuk padat pada suhu dingin, dan berbentuk cir bila
suhu panas, misalnya media SIM (media yang digunakan untuk uji produksi sulfur,
indol, motilitas)
Kalau penambahan zat pemadat hanya setengah atau kurang dari seharusnya.
Ini umumnya diperlukan untuk pertumbuhan mikroba yang banyak memerlukan
kandungan air dan hidup anaerobic atau fakultatif untuk menambah biomassa sel.
Media dapat berbentuk :
a. Media alami yaitu media yang disusun oleh bahan-bahan alami seperti kentang,
telur, daging. Pada saat ini media alami yang banyak digunakan adalah dalam bentuk
kultur jaringan tanaman atau hewan. Contoh penggunaan media alami adalah telur
yang digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan virus.
b. Media sintetik yaitu media yang disusun oleh senyawa kimia. Misalnya media untuk
pertumbuhan dan perkembangbiakkan Clostridium.
c. Media semi sintetis yaitu media yang tersusun oleh campuran bahan-bahan alami
dan bahan-bahan sintesis. Misalnya kaldu nutrisi, wortel agar.
Sifat media
Penggunaan media bukan hanya untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan mikroba
tetapi juga untuk tujuan isolasi, seleksi, evaluasi, dan diferensiasi. Sehingga tiap media mempunyai
spesifikasi sesuai dengan maksudnya. Berdasarkan sifatnya, media dibedakan menjadi :
a. Media umum : media yang dipergunakan untuk pertumbuhan dan
perkembangbiakkan satu atau lebih kelompok mikroba secara umum misalnya : agar
kaldu nutrisi untuk bakteri, agar kentang dekstrosa untuk jamur.
b. Media pengaya : media dimana suatu jenis mikroba diberi kesempatan untuk tumbuh
dan berkembang lebih cepat dari jenis lainnya yang sama-sama berada di dalam satu
media. Misalnya : kaldu selenit atau kaldu tetrationat untuk memisahkan Salmonella
typhi dari mikroba lain yang ada dalam feses.

9
c. Media selektif : media yang hanya dapat ditumbuhi oleh satu atau lebih jenis
mikroba tertentu tetapi akan menghambat atau mematikan jenis-jenis lainnya.
Misalnya : media SS ( Salmonella-Shigella ) agar untuk menumbuhkan Salmonella
dan Shigella.
d. Media diferensial : media yang dipergunakan untuk penumbuhan mikroba tertentu
serta penentuan sifat-sifatnya seperti media agar darah untuk penumbuhan bakteri
hemolitik.
e. Media Penguji : media yang dipergunakan untuk pengujian senyawa tertentu dengan
bantuan mikroba. Misalnya media penguji vitamin, antibiotika, residu pestisida.
Menurut Jawet dkk (1996) media kultivasi mikrobia meliputi:
a. Medium berdasarkan sifat fisiknya dibagi menjadi :
 Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin
media menjadi padat.
 Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4%
sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semisolid
dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh
media, tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Misalnya
bakteri yang tumbuh pada media NfB (Nitrogen free Bromthymol Blue)
semisolid akan membentuk cincin hijau kebiruan di bawah permukaan media,
jika media ini cair maka cincin ini dapat dengan mudah hancur. Semisolid juga
bertujuan untuk mencegah/menekan difusi oksigen, misalnya pada media
Nitrate Broth, kondisi anaerob atau sedikit oksigen meningkatkan metabolisme
nitrat, tetapi bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata di seluruh media.
 Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah NB
(Nutrient Broth), dan LB (Lactose Broth).
b. Medium berdasarkan komposisi
 Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan
takarannya secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey Agar.
 Medium semisintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara
pasti, misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar, dekstrosa
dan ekstrak kentang. Untuk bahan ekstrak kentang, secara detail tidak dapat
mengetahui tentang komposisi senyawa penyusunnya.
 Medium non sintesis yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak
dapat diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan
dasarnya, misalnya Tomato Juice Agar, Brain Heart Infusion Agar, Pancreatic
Extract.
c. Medium berdasarkan tujuan
 Media untuk isolasi Media ini mengandung semua senyawa esensial untuk
pertumbuhan mikroba, misalnya Nutrient Broth, Blood Agar.
 Media selektif/penghambat Media yang selain mengandung nutrisi juga
ditambah suatu zat tertentu sehingga media tersebut dapat menekan
pertumbuhan mikroba lain dan merangsang pertumbuhan mikroba yang
diinginkan. Contohnya adalah Luria Bertani medium yang ditambah
Amphisilin untuk merangsang E.coli resisten antibotik dan menghambat

10
kontaminan yang peka, Ampiciline. Salt broth yang ditambah NaCl 4% untuk
membunuh Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap garam.
 Media diperkaya (enrichment) Media diperkaya adalah media yang
mengandung komponen dasar untuk pertumbuhan mikroba dan ditambah
komponen kompleks seperti darah, serum, dan kuning telur. Media diperkaya
juga bersifat selektif untuk mikroba tertentu. Bakteri yang ditumbuhkan dalam
media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi sederhana untuk berkembang biak,
tetapi membutuhkan komponen kompleks, misalnya Blood Tellurite Agar, Bile
Agar, Serum Agar, dan lain-lain.
 Media untuk peremajaan kultur Media umum atau spesifik yang digunakan
untuk peremajaan kultur.
 Media untuk menentukan kebutuhan nutrisi spesifik Media ini digunakan untuk
mendiagnosis atau menganalisis metabolisme suatu mikroba. Contohnya
adalah Koser’s Citrate medium, yang digunakan untuk menguji kemampuan
menggunakan asam sitrat sebagai sumber karbon.
 Media untuk karakterisasi bakteri Media yang digunakan untuk mengetahui
kemempuan spesifik suatu mikroba. Kadang-kadang indikator ditambahkan
untuk menunjukkan adanya perubahan kimia. Contohnya adalah Nitrate Broth,
Lactose Broth, Arginine Agar.
 Media diferensial Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroba dari
campurannya berdasar karakter spesifik yang ditunjukkan pada media
diferensial, misalnya TSIA (Triple Sugar Iron Agar) yang mampu memilih
Enterobacteria berdasarkan bentuk, warna, ukuran koloni dan perubahan warna
media di sekeliling koloni.

d. Medium TA dan TC Medium (Taoge Agar) berdasarkan susunannya


Merupakan medium organik semi alamiah atau semi sintetis sebab terdiri
dari bahan alamiah yang ditambah dengan senyawa kimia; berdasarkan
konsistensinya merupakan medium padat karena mengandung agar yang
memadatkan medium; berdasarkan kegunaannya merupakan medium umum yang
dapat ditumbuhi oleh mikroorganisme secara umum yang berfungsi untuk
pertumbuhan bakteri dan jamur serta memiliki warna cream. Medium TA terdiri dari
tauge yang berfungsi sebagai sumber energi, nitrogen organik, karbon dan vitamin,
sukrosa sebagai sumber karbon, agar sebagai bahan pemadat medium dan aquadest
sebagai pelarut untuk menghomogenkan medium dan sumber O2. Medium TA
digunakan untuk menumbuhkan jamur (khamir dan kapang).
Medium TA ini, berdasarkan konsistensinya termasuk dalam medium (solid
medium). Berdasarkan fungsinya, TA termasuk medium penguji (assay medium),
karena dapat digunakan untuk pengujian vitamin, asam-asam amino, dan lain-lain.
Melalui medium ini dapat diamati bentuk-bentuk koloni dan bentuk pertumbuhan
jamur. Medium TC (Taoge Cair) berdasarkan susunannya merupakan medium
organik semi alamiah atau semi sintetis sebab terdiri dari bahan alamiah yang
ditambah dengan senyawa kimia; berdasarkan konsistensinya merupakan medium
cair karena mengandung agar konsistensi cair; berdasarkan kegunaannya merupakan

11
medium umum yang dapat ditumbuhi oleh mikroorganisme secara umum yang
berfungsi untuk pertumbuhan bakteri dan jamur serta memiliki warna cream.
Medium TC terdiri dari tauge yang berfungsi sebagai sumber energi,
nitrogen organik, karbon dan vitamin, sukrosa sebagai sumber karbon, agar sebagai
bahan pemadat medium dan aquadest sebagai pelarut untuk menghomogenkan
medium dan sumber O2. Medium TC digunakan untuk mengembangbiakkan
mikroorganisme dalam jumlah besar.
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat medium TA dan TC, antara
lain:
 Tauge, berfungsi sebagai sumber energi dan bahan mineral bagi
mikroba, pemberi vitamin E yang diperlukan oleh mikroba, juga
sebagai sumber nitrogen.
 Sukrosa, sebagai sumber karbohidrat, sumber karbon organik, sebagai
sumber energi bagi mikroba.
 Agar, sebagai bahan pemadat medium. (TC tidak memakai agar)
 Akuades, sebagai bahan pelarut untuk menghomogenkan larutan. Pada
akhir percobaan sebelum digunakan untuk menumbuhkan mikroba
medium harus disterilkan dalam autoklaf pada suhu 1210C dan tekanan
2 atmosfer dengan tujuan agar medium tersebut bebas dari pengaruh
mikroba yang ada di udara luar.
Faktor – faktor yang menyebabkan berhentinya pertumbuhan mikroba antara lain:
 Penyusutan konsentrasi nutrisi yang dibutuhkan dalam pertumbuhan mikroba karena habis
terkonsumsi.
 Produk akhir metabolisme yang menghambat pertumbuhan mikroba karena terjadinya
inhibisi dan represi.
Medium dapat dibuat beracam-macam bergantung kepada keperluannya. Bahan yang paling umum
digunakan untuk membuat medium menjadi padat dapat dipakai agar. Praktisnya semua media yang
digunakan untuk penyediaan medium mikrobia sudah secara komersial dalam bentuk bubuk dan juga dalam
bentuk siap pakai. Dalam penyediaan media, kebanyakan bersifat alamiah sudah mengandung semua nutrien
yang dibutuhkan. Oleh karena itu, dalam pembuatan medium mikroba dalam lingkup mikrobiologi sangat
berkaitan dengan sterilisasi. Hal ini agar medium yang dibuat dapat berhasil. Jadi, proses sterilisasi pun perlu
dipelajari lebih dalam (Pleczar,1986).
Zat-zat hara yang ditambahkan kedalam media tumbuh suatu mikroba adalah :
 Nitrogen, pada umumnya bakteri tidak dapat langsung menggunakan N2 bebas dari udara
sehingga keperluannya diberikan.
 Karbon, sebagai sumber karbon digunakan berbagai gula, pati, glikogen.
 Vitamin, berbagai vitamin yang diperlukan bakteri adalah Thiamine, riboflavin, asam
nikotinat, asam pantotenat, biotin.
 Garam –garam kimia yang diperlukan adalah K, Na, Fe dan Mg
 Air sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan pembiakan mikrobia. Air yang digunakan
dalam pembuatan media adalah aquadest (Lay. 1992). Uji kualitas media

12
2.2. Metode Kultivasi Mikroba dan Perhitungan Kolonial Mikroba

2.2.1. Perhitungan Mikroba secara Mikroskopis

Perhitungan jumlah suatu bakteri dapat melalui berbagai macam uji seperti uji kualitatif koliform
yang secara lengkap terdiri dari tiga tahap yaitu uji penduga (uji kuantitatif, bisa dengan metode MPN), uji
penguat dan uji pelengkap. Waktu, mutu sampel, biaya, tujuan analisis merupakan beberapa faktor penentu
dalam uji kualitatif koliform. Bakteri koliform dapat dihitung dengan menggunakan metode cawan petri
(metode perhitungan secara tidak langsung yang didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat
hidup akan berkembang menjadi satu koloni yang merupakan suatu indeks bagi jumlah organisme yang dapat
hidup yang terdapat pada sampel) seperti yang dilakukan pada percobaan ini (Penn, 1991).
Beratus-ratus spesies dapat menghuni bermacam-macam bagian tubuh kita, termasuk mulut, saluran
pencernaan, dan kulit (Pelczar & Chan, 1986). Koliform merupakan kelompok bakteri yang digunakan
sebagai indikator adanya polusi kotoran dan kondisi sanitasi yang tidak baik terhadap air, makanan dan
produk-produk susu. Bakteri koliform dapat dibedakan atas dua kelompok yaitu koliform fekal (Escherchia
coli) dan koliform non fekal (Enterobacter aerogenes) (Fardiaz, 1996). coli adalah bakteri koliform yang ada
pada kotoran manusia, maka E. coli sering disebut sebagai koliform fekal. Pengukuran kuantitatif populasi
mikroorganisme sangat diperlukan untuk berbagai macam penelaahan mikrobiologis. Berbagai macam cara
dapat dilakukan untuk menghitung jumlah mikroorganisme, akan tetapi secara mendasar, ada dua cara yaitu
secara langsung dan secara tidak langsung. Ada beberapa cara perhitungan secara langsung, antara lain
adalah dengan membuat preparat dari austu bahan (preparat sederhana diwarnai atau tidak diwarnai) dan
penggunaan ruang hitung (counting chamber). Sedangkan perhitungan cara tidak langsung hanya untuk
mengetahui jumlah mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viabel count). Dalam
pelaksanaannya, ada beberapa cara yaitu : perhitungan pada cawan petri (total plate count / TPC),
perhitungan melalui pengenceran, perhitungan jumlah terkecil atau terdekat (MPN methode), dan
kalorimeter (cara kekeruhan atau turbidimetri) (Sutedjo, 1991).
Jumlah masing-masing cawan diamati setelah inkubasi, cawan yang dipilih untuk penghitungan
koloni ialah yang mengandung antara 30 sampai 300 koloni, karena jumlah mikroorganisme dalam sampel
tidak diketahui sebelumnya, maka untuk memperoleh sekurang-kurangnya satu cawan yang mengandung
koloni dalam jumlah yang memenuhi syarat tersebut maka harus dilakukan sederetan pengenceran dan
pencawanan. Jumlah organisme yang terdapat dalam sampel asal ditentukan dengan mengalikan jumlah
koloni yang terbentuk dengan faktor pengenceran pada cawan yang bersangkutan (Penn, 1991). Metode
perhitungan MPN sering digunakan dalam pengamatan untuk menghitung jumlah bakteri yang terdapat di
dalam tanah seperti Nitrosomonas dan Nitrobacter. Kedua jenis bakteri ini memegang peranan penting dalam
meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, sehubungan dengan kemampuannya dalam mengikat N2
dari udara dan mengubah amonium menjadi nitrat (Sutedjo, 1991).
2.2.2. Membuat Biakan Murni

Secara kebetulan seorang peneliti Jerman melihat bahwa koloni yang tumbuh pada kentang yang
telah direbus pada akhirnya dapat menemukan jalan untuk memisah menjadi individu-individu. Caranya;
mereka mengembangkan media spesifik untuk menumbuhkan mikroorganisme. Media adalah substansi yang
memenuhi kebutuhan nutrisi mikroorganisme. Koch dan koleganyanya juga menunjukkan bahwa senyawa
dari alga yang disebut agar dapat membuat media menjadi padat. Richard J.Petri (1852 – 1921) membuat
piringan kaca bertutup untuk menempatkan media agar alat tersebut selanjutnya disebut Petri dish yang
masih digunakan sampai sekarang. Pada tahun 1892, dengan menggunakan teknik biakan murni Koch dan
anggotanya menemukan agen-agen penyebab typus, dipteri,tetanus, pneumonia dan lain sebagainya. Koch
13
mengenalkan penggunaan binatang model untuk penyakit manusia dengan cara menginjeksikan bakteri ke
dalam mencit,kelinci, babi atau domba. Ia bahkan menempelkan kamera pada mikroskopnya untuk
mengambil gambar dan menggunakannya sebagai bukti untuk menghilangkan keraguan. Membiakkan
bakteri dapat dilakukan dengan berbagi cara, salah satunya pengembangbiakan dalam media cawan petri.
Pengembangbiakan dalam cawan ini ada beberapa metode, yaitu :
a. Metode cawan gores (streak plate)
Metode cawan gores cukup sulit bagi pemula, terutama mahasiswa semester awal yang
baru mengambil mata praktikum mikrobiologi. Kesulitan dari metode ini, yaitu proses
penggoresan yang cukup lama dan sulit, sehingga memudahkan terjadinya kontaminasi dan
kegagalan. Prinsip metode ini, yaitu mendapatkan koloni yang benar-benar terpisah dari koloni
yang lain, sehingga mempermudah proses isolasi.
Cara ini dilakukan dengan membagi cawan petri menjadi 3-4 bagian. Ose steril yang
telah disiapkan dilekatkan pada sumber isolat, kemudian menggoreskan ose tersebut pada
cawan berisi media steril. Goresan dapat dilakukan 3-4 kali membentuk garis horisontal di satu
sisi cawan. Ose disterilkan lagi dengan api bunsen, setelah kering ose tersebut digunakAn untuk
menggores goresan sebelumnya pada sisi cawan kedua. Langkah ini dilanjutkan hingga keempat
sisi cawan tergores.
Pada metode ini, goresan di sisi pertama diharapkan koloni tumbuh padat dan
berhimpitan, sedangkan pada goresan sisi kedua, koloni mulai tampak jarang dan begitu pula
selanjutnya, sehingga didapatkan koloni yang tampak tumbuh terpisah dengan koloni lain.
Seluruh tahap hendaknya dilakukan secara aseptik agar tak terjadi kontaminasi.
b. Metode cawan tuang (pour plate)
Metode cawan tuang sangat mudah dilakukan karena tidak membutuhkan keterampilan
khusus dengan hasil biakan yang cukup baik. Metode ini dilakukan dengan mengencerkan
sumber isolat yang telah diketahui beratnya ke dalam 9 ml garam fisiologis (NaCl 0.85%) atau
larutan buffer fosfat. Larutan ini berperan sebagi penyangga pH agar sel bakteri tidak rusak
akibat menurunnya pH lingkungan. Pengenceran dapat dilakukan beberapa kali agar biakan
yang didapatkan tidak terlalu padat atau memenuhu cawan (biakan terlalu padat akan
mengganggu pengamatan). Sekitar 1 ml suspensi dituang ke dalam cawan petri steril,
dilanjutkan dengan menuangkan media penyubur (nutrien agar) steril hangat (40-50oC)
kemudian ditutup rapat dan diletakkan dalam inkubator (37oC) selama 1-2 hari.
Penuangan dilakukan secara aseptik atau dalam kondisi steril agar tidak terjdi
kontaminasi atau tumbuh atau masuknya organisme yang tidak diinginkan (di laboratorium,
kontaminasi biasanya terjadi akibat tumbuhnya kapang, seperti Penicilium dalam biakan).
Media yang dituang hendaknya tidak terlalu panas, karena selain mengganggu proses
penuangan (media panas sebabkan tangan jadi panas juga), media panas masih mengeluarkan
uap yang akan menempel pada cawan penutup, sehingga mengganggu proses pengamatan. pada
metode ini, koloni akan tumbuh di dalam media agar. Kultur diletakkan terbalik, dimasukkan
di dalam plastik dengan diikat kuat kemudian diletakkan dalam incubator
c. Metode cawan sebar (spread plate)
Pada metode cawan sebar, 0.1 ml suspensi bakteri yang telah diencerkan (metode 3)
disebar pada media penyubur steril yang telah disiapkan. Selanjutnya, suspensi dalam cawan
diratakan dengan batang drygalski agar koloni tumbuh merata pada media dalam cawan
tersebut, kemudian diletakkan dalam inkubator (37oC) selama 1-2 hari. Metode ini cukup sulit

14
terutama saat meratakan suspensi dengan batang drygalski. Alih-alih koloni tumbuh merata,
biakan justru terkontaminasi. Oleh karena itu, batang drygalski harus benar-benar steril, yaitu
dengan mencelupkannya terlebih dahulu dalam alkohol kemudian dipanaskan dengan api
bunsen. Perlu diingat, batang drygalski, yang masih panas akibat pemanasan dengan api bunsen,
dapat merusak media agar, sehingga harus didinginkan terlebih dahulu dengan meletakkannya
di sekitar api bunsen (±15 cm) dengan metode ini, satu sel bakteri akan tumbuh dan berkembang
menjadi satu koloni bakteri. Satu koloni bakteri yang terpisah dengan koloni lainnya dapat
diamati tipe pertumbuhan pada masing-masing media, diantaranya dilakukan terhadap
konsistensi, bentuk koloni, warna koloni dan permukaan koloni.
Koloni yang tumbuh terpisah ditumbuhkan kembali untuk mendapatkan isolat murni.
Isolasi murni dilakukan dengan mengoleskan ose steril pada koloni dalam kultur campuran yang
benar-benar terpisah satu sama lain. Olesan tersebut digores pada media padat agar miring
dalam tabung reaksi. Koloni yang tumbuh dalam media ini merupakan isolat murni, yang hanya
berasal dari satu jenis bakteri saja. Koloni yang tumbuh dapat dikarakerisasi berdasarkan tipe
pertumbuhannya pada media agar miring.
Seluruh kultivasi atau penanaman sebaiknya dilakukan di dalam laminar air flow yang
tertutup, untuk mengurangi resiko kontaminasi. LAF dilengkapi dengan lampu fluorescent,
sinar UV dan kipas angin. Lampu fluorescent digunakan apabila kondisi cahaya di dalam LAF
dan kamar isolasi kurang memadai. Sinar UV bersifat germisida yang dapat membunuh bakteri
yang tidak diinginkan, sehingga dapat menurunkan resiko kontaminasi. Sebelum penanaman
(kultivasi), alat2 yang digunakan sebaiknya dikenai sinar UV selama 5 menit (ingat, hanya alat2,
seperti lampu bunsen, ose, pipet, dll).
2.2.3. Sterilisasi

Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada sehingga jika
ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. (Fardiaz,1992).
Steril akan didapatkan melalui sterilisasi, dilakukan dengan:
 Sterilisasi fisik, yakni senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai
akibat perubahan temperatur tinggi. Cara sterilisasi ini dilakukan dengan menggunakan udara
panas (oven) dengan temperatur 170-1800C selama 2 jam. Cara ini digunakan untuk
mensterilkan peralatan gelas. Cara sterilisasi dengan uap air panas dan tekanan tinggi dengan
autoklaf yang memiliki temperatur uap 1210C dengan tekanan 15 psi.
 Sterilisasi kimia, yakni sterilisai dengan menggunakan desinfektan, larutan alkohol, larutan
formalin, larutan AMC (campuran asam klorida dengan garam Hg). Dengan larutan-larutan dan
desinfektan tersebut mikroba dapat dimatikan karena tekanan osmotik dan dehidrasi protein
pada substrat.
 Sterilisasi mekanik, yakni sterilisasi dengan melakukan penyaringan mikroba dengan cara filter
khusus, misalnya filter Berkefeld, filter Chamberland, dan filter Seitz. Jenis filter yang
diguankan bergantung pada tujuan penyaringandan benda yang akan disaring. (Surawiria: 1986)
2.3. Penguraian atau Biodegradasi Bahan Pencemar (Polutan)

Pencemaran lingkungan akhir-akhir ini menjadi permasalahan global yang menuntut pengelolaan yang
efektif dan efisien dalam waktu yang relatif cepat. Pencemaran lingkungan dapat terjadi karena adanya polutan
industri, domestik, pertanian, peternakan, rumah sakit dan lain sebagainya. Pengelolaan pencemaran lingkungan
bertujuan agar suatu kegiatan sedapat mungkin menghasilkan polutan sesedikit mungkin atau menjadikan polutan

15
tersebut tidak berbahaya lagi sehingga tidak menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan. Pengelolaan
tersebut dapat dilakukan secara fisik, kimia dan biologi. Pengelolaan lingkungan secara biologi dapat dilakukan
dengan bantuan mikroba
2.3.1. Bakteriologi Lingkungan

Akhir-akhir ini mikroba banyak dimanfaatkan di bidang lingkungan, terutama untuk mengatasi
masalah pencemaran lingkungan (bioremidiasi), baik di lingkungan tanah maupun perairan. Bahan pencemar
dapat bermacam-macam mulai dari bahan yang berasal dari sumber-sumber alami sampai bahan sintetik,
dengan sifat yaang mudah dirombak (biodegradable) sampai sangat sulit bahkan tidak bisa dirombak
(rekalsitran /nonbiodegradable) maupun bersifat meracun bagi jasad hidup dengan bahan aktif tidak rusak
dalam waktu lama (persisten).
A. Pembersihan Air

Dalam air baik yang kita anggap jernih, sampai terhadap air yang keadaannya sudah kotor atau
tercemar, di dalamnya akan terkandung sejumlah ke-hidupan, yaitu misalnya yang berasal dari sumur
biasa, sumur pompa, sumber mata-air dan sebagai-nya, di dalamnya terdiri dari bakteri, yaitu :
 Kelompok bakteri besi (misalnya Crenothrix dan Sphaerotilus) yang mampu
mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri. Akibat kehadirannya, air sering berubah
warna kalau disimpan lama yaitu warna kehitam-hitaman, kecoklat-coklatan, dan
sebagainya.
 Kelompok bakteri belerang (antara lain Chromatium dan Thiobacillus) yang mampu
mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S. Akibatnya kalau air disimpan lama akan tercium
bau busuk seperti bau telur busuk.
 Kelompok mikroalge (misalnya yang termasuk mikroalga hijau, biru dan kersik),
sehingga kalau air disimpan lama di dalamnya akan nampak jasad-jasad yang berwarna
hijau, biru atau pun kekuning-kuningan, tergantung kepada dominasi jasad-jasad tersebut
serta lingkungan yang mempengaruhinya.
Kehadiran kelompok bakteri dan mikroalga tersebut di dalam air, dapat menyebabkan terjadinya
penurunan turbiditas dan hambatan aliran, karena kelompok bakteri besi dan bele¬rang dapat
membentuk serat atau lendir. Akibat lainnya adalah terjadinya proses korosi (pengkaratan) terhadap
benda-benda logam yang berada di dalamnya, men¬jadi bau, berubah warna, dan sebagainya.
Mikroba yang terdapat dalam air limbah kebanyakan berasal dari tanah dan saluran pencernaan.
Bakteri colon (coliforms) terutama Escherichia coli sering digunakan sebagai indeks pencemaran air.
Bakteri tersebut berasal dari saluran pencernaan manusia dan hewan yang dapat hidup lama dalam air,
sehingga air yang banyak mengandung bakteri tersebut dianggap tercemar. Untuk mengurangi mikroba
pencemar dapat digunakan saringan pasir atau trickling filter yang segera membentuk lendir di
permukaan bahan penyaring, sehingga dapat menyaring bakteri maupun bahan lain untuk penguraian.
Penggunaan lumpur aktif juga dapat mempercepat perombakan bahan organik yang tersuspensi dalam
air.
Banyak mikroba yang terdapat dalam air limbah meliputi mikroba aerob, anaerob, dan anaerob
fakultatif yang umunya bersifat heterotrof. Mikroba tersebut kebanyakan berasal dari tanah dan saluran
pencernaan. Bakteri colon (coliforms) terutama Escherichia coli sering digunakan sebagai indeks
pencemaran air. Bakteri tersebut berasal dari saluran pencernaan manusia dan hewan yang dapat hidup
lama dalam air, sehingga air yang banyak mengandung bakteri tersebut dianggap tercemar. Untuk
mengurangi mikroba pencemar dapat digunakan saringan pasir atau trickling filter yang segera

16
membentuk lendir di permukaan bahan penyaring, sehingga dapat menyaring bakteri maupun bahan
lain untuk penguraian. Penggunaan lumpur aktif juga dapat mempercepat perombakan bahan organik
yang tersuspensi dalam air.
Biofilm (lapisan kumpulan mikroorganisme) berperan dalam pengolahan air limbah atau limbah
cair baik pada lagoon system (sistem kolam), activated sludge system (sistem lumpur aktif), down flow
sand filter system (sistem filter pasir aliran ke bawah) dan up flow sand filter system (sistem filter aliran
ke atas). Salah satu fungsi biofilm tersebut adalah mendekomposisi protein menjadi amonia, nitrit, dan
nitrat.
Secara kimia digunakan indeks BOD (biological oxygen demand). Prinsip perombakan bahan
dalam limbah adalah oksidasi, baik oksidasi biologis maupun oksidasi kimia. Semakin tinggi bahan
organik dalam air menyebabkan kandungan oksigen terlarut semakin kecil, karena oksigen digunakan
oleh mikroba untuk mengoksidasi bahan organik. Adanya bahan organik tinggi dalam air menyebabkan
kandungan oksigen terlarut semakin kecil, karena oksigen digunakan oleh mikroba untuk mengoksidasi
bahan organik. Adanya bahan organik tinggi dalam air menyebabkan kebutuhan mikroba akan oksigen
akan meningkat, yang diukur dari nilai BOD yang meningkat. Untuk memperdcepat perombakan
umumnya diberi aerasi untuk meningkatkan oksigen terlarut, misalnya dengan aeraror yang disertai
pengadukan. Setelah terjadi perombakan bahan organik maka nilai BOD menurun sampai nilai tertentu
yang menandakan bahwa air sudah bersih.
Dalam suasana aerob bahan-bahan dapat dirubah menjadi sulfat, fosfat, amonium, nitrat, dan
gas CO2 yang menguap. Untuk menghilangkan sulfat, ammonium dan nitrat dari air dapat
menggunakan berbagai cara. Dengan diberikan suasana yang anaerob maka sulfat direduksi menjadi
gas H2S, ammonium dan nitrat dirubah menjadi gas N2O atau N2.

B. Penguraian Detergen

Alkil benzil sulfonat (ABS) adalah komponen detergen, yang merupakan zat aktif yang dapat
menurunkan tegangan muka sehingga dapat digunkan sebagai pembersih. ABS mempunyai Na-sulfonat
polar dan ujung alkil non-polar. Pada proses pencucian, ujung polar ini menghadap ke kotoran (lemak)
dan ujung polarnya menghadap ke luar (ke-air). Bagian alkil dari ABS ada yang linier dan non-linier
(bercabang). Bagian yang bercabang ABS-nya lebih kuat dan berbusa, tetapi lebih sukar terurai
sehingga menyebabkan badan air berbuih. Sulitnya peruraian ini disebabkan karena atom C tersier
memblokir beta-oksidasi pada alkil. Hal ini dapat dihindari apabila ABS mempunyai alkil yang linier.
Namun ada beberapa bakteri yang dapat menguraikan ABS meskipun memakan waktu yang cukup
lama.

C. Penguraian Plastik

Plastik banyak kegunaannya tetapi polimer sintetik plastik sangat sulit dirombak secara alamiah.
Hal ini mengakibatkan limbah yang plastik semakin menumpuk dan dapat mencemari lingkungan.
Akhir-akhir ini sudah mulai diproduksi plastik yang mudah terurai.
Plastik terdiri atas berbagai senyawa yang terdiri dari polietilen, polistiren, dan polivinil klorida.
Bahan-bahan tersebut bersifat inert dan rekalsitran. Senyawa lain penyusun plastik yang disebut
plasticizers terdiri: (a) ester asam lemak (oleat, risinoleat, adipat, azelat, dan sebakat serta turunan
minyak tumbuhan, (b) ester asam phthalat, maleat, dan fosforat. Bahan tambahan untuk pembuatan
plastik seperti Phthalic Acid Esters (PAEs) dan Polychlorinated Biphenyls (PCBs) sudah diketahui
sebagai karsinogen yang berbahaya bagi lingkungan walaupun dalam konsentrasi rendah.

17
Dari alam telah ditemukan mikroba yang dapat merombak plastik, yaitu terdiri dari dari bakteri,
actynomycetes, jamur, dan khamir yang umumnya dapat menggunakan plasticizers sebagai sumber C,
tetapi hanya sedikit mikroba yang telah ditemukan mampu merombak polimer plastiknya yaitu jamur
Aspergillus fischeri dan Paecilomyces sp. Sedangkan mikroba yang mampu merombak dan
menggunakan sumber C dari plsticizers yaitu jamur Aspergillus niger, A. Versicolor, Clasdosporium
sp., Fusarium sp., Penicillium sp., Trichoderma sp., Verticillium sp., dan khamir Zygosaccharomyces
drosophilae, Saccharomyces cerevisiae, serta bakteri Pseudomonas aeruginosa, Brevibacterium sp., dan
actynomycetes Streptomyces rubrireticuli.
Untuk dapat merobak plastik, mikroba harus dapat mengkontaminasi lapisan plastik melalui
muatan elektrostatik dan mikroba harus mampu menggunakan komponen di dalam atau pada lapisan
plastik sebagai nutrien. Plasticizers yang membuat plastik bersifat fleksibel seperti adipat, oleat,
risinoleat, sebakat, dan turunan asam lemak lain cenderung mudah digunakan, tetapi turunan asam
phthalat dan fosforat sulit digunakan untuk nutrisi. Hilangnya plasticizers menyebabkan lapisan plastik
menjadi rapuh, daya rentang meningkat dan daya ulur berkurang.

D. Penguraian Minyak Bumi

Minyak bumi tersusun dari berbagai macam molekul hidrokarbon alifatik, alisiklik, dan
aromatik. Mikroba berperan penting dalam menguraikan minyak bumi ini. Ketahanan minyak bumi
terhadap peruraian oleh mikroba tergantung pada struktur dan berat molekulnya.
Fraksi alkana rantai C pendek, dengan atom C kurang dari 9 bersifat meracun terhadap mikroba
dan mudah menguap menjadi gas. Fraksi n-alkana rantai C sedang dengan atom C 10-24 paling cepat
terurai. Adanya rantai C yang bercabang pada alkana akan mengurangi kecepatan peruraian, karena
atom C tersier atau kuarter mengganggu mekanisme biodegradasi.
Apabila dibandingkan maka senyawa aromatik akan lebih lambat terurai daripada alkana linier.
Sedang senyawa alisiklik sering tidak dapat digunakan sebagai sumber C untuk mikroba, kecuali
mempunyai rantai samping alifatik yang cukup panjang. Senyawa ini dapat terurai karena
kometabolisme beberapa strain mikroba dengan metabolisme saling melengkapi. Jadi walaupun
senyawa hidrokarbon dapat diuraikan oleh mikroba, tetapi belum ditemukan mikroba yang
berkemampuan enzimatik lengkap untuk penguraian hidrokarbon secara sempurna.
Bakteri juga telah dimanfaatkan untuk mengatasi limbah minyak bumi di daerah kilang minyak
(terutama kilang minyak lepas pantai) atau pada kecelakaan kapal pengangkut minyak bumi. Golongan
Pseudomonas, seperti Pseudomonas putida mampu mengkonsumsi hidrokarbon yang merupakan bagian
utama dari minyak bumi dan bensin. Gen yang mengkode enzim pengurai hidrokarbon terdapat pada
plasmid. Bakteri yang mengandung plasmid rekombinan dikultur dalam jerami dan dikeringkan. Jerami
berongga yang telah berisi kultur bakteri kering dapat disimpan dan digunakan jika diperlukan. Pada
serat jerami ditaburkan di atas tumpahan minyak, mula-mula jerami akan menyerap minyak dan bakteri
akan menguraikan tumpahan minyak itu menjadi senyawa yang tidak berbahaya dan tidak menimbulkan
polusi. Bakteri ini juga digunakan untuk membersihkan limbah minyak (lemak) di pabrik-pabrik
pengolahan daging. Kemampuan bakteri menguraikan minyak juga dimanfaatkan untuk membersihkan
pipa-pipa yang salurannya sering mengalami penyumbatan oleh minyak (lemak) pada pabrik
pengolahan daging tersebut.

E. Penguraian Pestisida dan Herbisida

18
Macam pestisida kimia sintetik yang telah digunakan sampai sekarang jumlahnya mencapai
ribuan. Pestisida yang digunakan untuk memberantas hama maupun herbisida yang digunakan untuk
membersihkan gulma, sekarang sudah mengakibatkan banyak pencemaran. Hal ini disebabkan sifat
pestisida yang sangat tahan terhadap peruraian secara alami (persisten). Contoh pestisida yang
persistensinya sangat lama adalah DDT, Dieldrin, BHC, dan lain-lain. walaupun sekarang telah banyak
dikembangkan pestisida yang mudah terurai (biodegradable), tetapi kenyataannya masih banyak
digunakan pestisida yang bersifat rekalsitran. Walaupun dalam dosis rendah, tetapi dengan terjadinya
biomagnifikasi maka kandungan pestisida di lingkungan yang sangat rendah akan dapat terakumulasi
melalui rantai makanan, sehingga dapat membahayakan kehidupan makhluk hidup termasuk manusia.
Untuk mengatasi pencemaran tersebut, sekarang banyak dipelajari biodegradasi pestisida/
herbisida. Proses biodegradasi pestisida dipengaruhi oleh struktur kimia pestisida, sebagai berikut:
 Semakin panjang rantai karbon alifatik, semakin mudah mengalami degradasi.
 Ketidak jenuhan dan percabangan rantai hidrokarbon akan mempermudah degradasi.
 Jumlah dan kedudukan atom-atom C1 pada cincin aromatik sangat mempengaruhi
degradasi. Misal 2,4 D (2,4-diklorofenol asam asetat) lebih mudah dirombak di dalam
tanah dibandingkan dengan 2,4,5-T (2,4,5- triklorofenoksi asam asetat).
 Posisi terikatnya rantai samping sangat menetukan kemudahan degradasi pestisida.
Aspergilus niger merupakan salah satu spesies bakteri yang dapat dikembangkan untuk
memetabolisme pestisida tertentu seperti endosulfan dan karbofuran.
F. Penguraian Logam Berat

Limbah penambangan emas dan tembaga (tailling) yang banyak mengandung logam berat
terutama air raksa (Hg), industri logam dan penyamakan kulit banyak menghasilkan limbah logam berat
terutama cadmium (Cd), serta penggunaan pupuk (misalnya pupuk fosfat) yang mengandung logam
berat seperti Hg, Pb, dan Cd sekarang banyak menimbulkan masalah pencemaran logam berat. Logam
berat dalam konsentrasi rendah dapat membahayakan kehidupan karena afinitasnya yang tinggi dengan
sistem enzim dalam sel, sehingga menyebabkan inaktivasi enzim dan berbagai gangguan fisiologi sel.
Bakteria dapat menghasilkan senyawa pengkhelat logam yang berupa ligan berberat molekul
rendah yang disebut siderofor. Siderofor dapat membentuk kompleks dengan logam-logam termasuk
logam berat. Umumnya pengkhelatan logam berat oleh bakteri adalah sebagai mekanisme bakteri untuk
mempertahankan diri terhadap toksisitas logam. Bakteri yang tahan terhadap toksisitas logam berat
mengalami perubahan terhadap sistem transport di membran selnya, sehingga terjadi penolakan atau
pengurangan logam yang masuk ke dalam sitoplasma. Dengan demikian logam yang tidak dapat
melewati membran sel akan terakumulasi dan diendapkan atau dijerap di permukaan sel.
Untuk mengambil logam berat yang sudah terakumulasi oleh bakteri, dapat dilakukan dengan
beberapa macm cara. Logam dari limbah cair dapat dipisahkan dengan memanen mikroba. Logam yang
berada dalam tanah lebih sulit untuk dipisahkan, tetapi ada cara pengambilan logam dengan
menggunakan tanaman pengakumulasi logam berat. Tanaman yang termasuk sawi-sawian (misal
Brassica juncea) dapat digunakan bersama-sama dengan rhizobacteria pengakumulasi logam (misal
Pseudomonas flurescens) untuk mengambil logam berat yang mencemari tanah. Selanjutnya logam
yang telah terserap tanaman dapat dipanen dan dibakar untuk memisahkan logam beratnya.
Limbah pabrik yang banyak mengandung logam berat dapat dibersihkan oleh
mikroorganismeyang dapat menggunakan logam berat sebagai nutrien atau hanya menjerab
(imobilisasi) logam berat. Mikroorganisme yang dapat digunakan diantaranya adalah Thiobacillus
ferrooxidans dan Bacillus subtilis. Thiobacillus ferrooxidans mendapatkan energi dari senyawa
19
anorganik seperti besi sulfida dan menggunakan energi untuk membentuk bahan-bahan yang berguna
seperti asam fumarat dan besi sulfat. Bacillus subtilis memiliki kemampuan mengikat beberapa logam
berat seperti Pb, Cd, Cu, Ni, Zn, Al dan Fe dalam bentuk nitrat. Logam-logam tersebut dapat dilarutkan
kembali setelah bakterinya dilisiskan. Logam tersebut dapat digunakan kembali oleh industri-industri
logam. Kemampuan remobilisasi (pelarutan kembali) logam di sini untuk Pb dapat mencapai 79%,
untuk Cd dapat mencapai 67% dan untuk Ni hanya dapat mencapai 17%. Keberhasilan ini dipengaruhi
oleh larutan remobilisasi (seperti NaOH atau Ca), bahan pengekstraksi (seperti asam nitrit).

G. Penguraian Limbah Organik

Penggunaan mikroba dalam mengolah limbah organik dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
menjadikannya pupuk organik dan menjadikannya biogas.
a. Produksi pupuk organik
Pupuk organik merupakan hasil penguraian bahan organik oleh jasad renik atau
mikroorganisme yang berupa zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman. Misal Kompos,
pupuk kandang, dan pupuk hijau. Kompos atau pupuk kandang sudah cukup lama dikenal dan
dipergunakan, tetapi baru sebatas menggunakan apa adanya, belum sampai pada usaha untuk
meningkatkan kualitas dari kompos dan pupuk kandang tersebut. Rakitan teknologi pembuatan
pupuk alternatif mulai membudaya di masyarakat kita, yaitu upaya pembuatan kompos.
 Kompos
Kompos adalah bahan organik hasil proses dekomposisi dan mempunyai
susunan yang relatif stabil. Kompos banyak digunakan untuk memperbaiki sifat fisik
dan kimia tanah. Secara alami kompos dapat terjadi dari peruraian sisa-sisa tumbuhan
dan hewan. Pengomposan secara alami berlangsung dengan lambat, tetapi dengan
berkembangnya bioteknologi maka proses pengomposan dapat dipercepat.
Pada proses pengomposan terjadi proses biokonversi bahan organik oleh
berbagai kelompok mikroba heterotrof. Mikroba yang berperan dalam proses tersebut
adalah bakteri, jamur actynomycetes dan protozoa. Peranan mikroba yang bersifat
selulolitik dan lignilolitik sangat besar pada proses dekomposisi sisa tanaman yang
banyak mengandung lignoselulosa.
Selama pengomposan terjadi proses oksidasi C-organik menjadi CO2 yang
dapat membebaskan energi dalam bentuk panas. Dalam pengomposan tertutup,
suhunya dapat mencapai 65-75oC. Pada suhu tersebut aktifitas mikroba pada
umumnya turun, danproses perombakannya dilanjutkan oleh mikroba termofil yang
mulai berkembang apabila suu meningkat sampai 50oC. Setelah suhu turun kembali
akan ditumbuhi lagi oleh mikroba mesofil, dan merupakan pertanda bahwa kompos
sudah mulai matang.
Dari uraian di atas maka diketahui bahwa terdapat banyak faktor yang
mempengaruhi proses pengomposan, seperti nisbah C/N bahan yang akan
dikomposkan, ukuran bahan, kelembaban dan aerasi, suhu, kemasaman (pH), adanya
mikroba, dan lain sebagainya.
Nisbah C/N yang ideal untuk pengomposan adalah 30-40, apabila nisbah
terlalu rendah banyak nitrogen yang hilang (tidak efisien) dan apabila terlalu tinggi
proses pengomposan lambat. Ukuran bahan yang lebih kecil akan memperbesar luas
permukaan, sehingga memperbesar kontak dengan mikroba. Ukuran yang terlalu

20
halus dan kandungan lengasnya terlalu tinggi menyebabkan keadaan anaerob,
sehingga sebaiknya dicampur dengan bahan kasar untuk menciptakan keadaan yang
aerob. Kelembaban optimum yang baik antara 50-60%. Pengomposan akan berjalan
baik jika pH awal sedikit asam (pH 6), dan selama pengomposan pada keadaan netral,
setelah pH meningkat pH sedikit alkalis (pH 7,5-8,5).pengomposan dapat dipercepat
dengan inokulasi mikroba seperti mikroba termofil, selulolotik, lignilolitik, dan
sebagainya.
Tanda-tanda kompos yang telah matang adalah berwarna coklat sampai
kehitaman, tidak larut dalam air dan sebagian dapat tersuspensi kolodial, ekstrak
dalam larutan basa berwarna gelap (mengandung asam humat, fulvat, dan humin),
nisbah C/N antara 15-20, KPK dan kapasitas adsorpsi air besar.
 Bokhasi
Bokhasi adalah pupuk organik yang dibuat melalui proses fermentasi
menggunakan bakteri (microorganisme). Sampah organik dengan proses fermentasi
dapat menjadi pupuk organik yang bermanfaat meningkatkan kualitas tanah.
b. Produksi biogas
Limbah-limbah organik dan peternakan yang diuraikan oleh bakteri kelompok metanogen
dapat menghasilkan biogas yang sebagian besar berupa metana. Biogas (metana) dapat terjadi dari
penguraian limbah organik yang mengandung protein, lemak dan karbohidrat. Penguraian ini
dilakukan untuk fermentasi oleh bakteri anaerob sehingga bejana yang digunakan untuk fermentasi
limbah ini harus ditutup.
Ada tiga tahap dalam pembuatan biogas, yaitu sebagai berikut:
 Tahap pertama adalah reduksi senyawa organik yang komplek menjadi senyawa yang
lebih sederhana oleh bakteri hidrolitik. Bakteri hidrolitik ini bekerja pada suhu antara
30-40oC untuk kelompok mesophilik dan antara 50-60oC untuk kelompok
termophilik. Tahap pertama ini berlangsung dengan pH optimum antara 6 sampai 7.
 Tahap kedua adalah perubahan senyawa sederhana menjadi asam organik yang mudah
menguap seperti asam asetat, asam butirat, asam propionat dan lain-lain. dengan
terbentuknya asam organik maka pH akan terus menurun, namun pada waktu yang
bersamaan terbentuk buffer yang dapat menetralisir pH. Di sisi lain untuk mencegah
penurunan pH yang drastis maka perlu ditambahkan kapur sebagai buffer sebelum
tahap pertama berlangsung. Bakteri pembentuk asam-asam organik tersebut
diantaranya adalah Pseudomonas, Flavobacterium, Escherichia dan Aerobacter.
 Tahap ketiga adalah konversi asam organik menjadi metana, karbondioksida dan gas-
gas lain seperti hidrogen sulfida, hidrogen dan nitrogen.
Bahan organik CH4 + CO2 + H2S + H2 + N2
Konversi ini dilakukan oleh bakteri metan,seperti Methanobacterium omelianskii,
Methanobacterium sohngenii, Methanobacterium suboxydans, Methanobacterium propionicum,
Methanobacterium formicium, Methanobacterium ruminantium, Methanosarcina barkeril,
Methanococcus vannielli dan Methanococcus mazei. Bakteri metana ini sangat sensitif terhadap
perubahan suhu dan pH, oleh karenanya kedua parameter ini harus dikendalikan dengan baik. PH
optimum adalah antara 7, 0-7, 2, sedangkan pada pH 6,2 bakteri metana akan mengalami keracunan.

21
Bakteri-bakteri yang terlibat dalam ketiga tahap tersebut pada umumnya telah terdapat dalam
limbah bahan-bahan organik, tetapi untuk meningkatkan kinerja produksi biogas maka perlu
ditambahkan bakteri metanogen yang telah direkayasa.
Secara lebih ringkas, dapat dinyatakan bahwa bakteri yang berperan dalam perombakan
bahan organik dalam produksi biogas ada dua macam, yaitu bakteri pembentuk asam dan bakteri
pembentuk gas metan. Bakteri pembentuk asam merombak bahan organik dan menghasilkan asam
lemak. Proses ini dilakukan oleh bakteri-bakteri Pseudomonas, Flavobacterium, Alkaligenes,
Escherichia, dan Aerobacter. Selanjutnya asam lemak ini akan dirombak oleh bakteri metan dan
menghasilkan gas bio (sebagian besar menghasilkan gas metan). Bakteri-bakteri tersebut adalah
Methanobacterium, Methanosarchina dan Methanococcus. Disamping itu juga ada bakteri lain yang
memanfaatkan unsur sulfur (S) dan membentuk H2S yaitu bakteri Desulvovibrio.
Proses produksi biogas biasanya dilakukan secara semi sinambung (substrat dimasukkan
satu kali di dalam selang waktu tertentu), tetapi untuk mendapatkan kemungkinan metode produksi
optimal, sistem banch (substrat hanya dimasukkan sekali saja) juga dapat digunakan. Kecepatan
produksi biogas dalam sistem batch mula-mula akan naik sehingga mencapai kecepatan maksimum
dan akhirnya akan turun lagi ketika sejumlah besar bahan telah dirombak.
Fermentasi atau perombakan tersebut adalah proses mikrobiologik yang merupakan
himpunan proses metabolisme sel. Fermentasi bahan organik ini dapat terjadi dalam keadaan aerobik
maupun anaerobik. Untuk proses fermentasi aerobik akan menghasilkan gas-gas amonia (NH3) dan
karbondioksida (CO2). Proses dekomposisi anaerobik dari bahan organik akan menghasilkan gas bio.
Proses produksi gas bio ini juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, diantaranya adalah suhu, pH,
total padatan, dan rasio C/N.
 Suhu
Terdapat dua selang suhu optimum untuk produksi biogas, yaitu selang mesofilik (30-
40oC) dan selang termofilik (50-60oC). Secara umum, pada suhu yang lebih tinggi
didapatkan produksi biogas yang lebih tinggi pula.
 Besarnya pH
PH optimum untuk memproduksi biogas adalah netral. Di kedua sisi pH netral
tersebut, maka akan muncul gangguan dalam produksi biogas.
 Total padatan
Kandungan total padatan yang mampu mendukung produksi biogas yang optimal
adalah antara 7-9%. Kandungan padatan yang lebih tinggi atau lebih rendah akan
menimbulkan gangguan terhadap produksi biogas.
 Rasio C/N
Rasio C/N substrat yang optimum untuk produksi biogas adalah berkisar 25: 1 dan 30:
1. Besaran rasio C/N yang terlalu tinggi akan menaikkan kecepatan perombakan tetapi
buangannya (sludge) akan mempunyai kandungan nitrogen yang tinggi. Substrat
dengan rasio C/N yang terlalu rendah akan menyiasakan banyak nitrogen yang akan
berubah menjadi amonia dan meracuni bakteri. Pencampuran limbah pertanian
dengan kotoran ternak akan merubah rasio C/N untuk produksi gas yang lebih baik.
H. Penguraian Limbah PCP

Bakteri dari kelompok Coryneform dan Arthrobacter sp. Yang telah diaklimatisasi (telah
terbiasa hidup di medium treatmen) juga telah digunakan untuk mengolah limbah yang mengandung
PCP (parachlorophenol) dengan metode bioaugmentasi. Bioaugmentasi adalah penambahan suplemen
22
mikroorganisme teraklimatisasi yang dapat menghasilkan kinerja pengolahan limbah yang lebih baik.
PCP secara alami mampu mnghambat pertumbuhan mikroorganisme indigenous (bakteri yang telah ada
dalam limbah) kecuali pada bakteri yang telah teraklimatisasi tersebut maka pertumbuhan bakteri
indigenous menjadi lebih baik sehingga proses dekomposisi limbah secara alami lebih baik. Agar
kinerja sistem bioaugmentasi ini lebih baik perlu ditambahkan sumber karbon tambahan.

I. Penguraian Limbah Kaya Protein

Limbah-limbah yang kaya protein jika terdekomposisi oleh bakteri dekomposer akan
menghasilkan nitrat, nitrit dan amonia. Ketiga hasil dekomposisi ini dapat mengakibatkan permasalhan
lingkungan dan kesehatan. Nitrit jika bereaksi dengan senyawa amin akan menjadi senyawa nitrosamin
yang merupakan senywa karsinogenik bagi lambung. Untuk mengatasi hal tersebut harus ditambahkan
bakteri denitrifikan yang telah direkayasa seperti Alcaligens faecalis, Bacillus lichemiformis,
Pseudomonas denitrifikasi, Pseudomonas stutzeri, micrococcus denitrificans dan Thiobacillus
denitrificans. Bakteri-bakteri ini mengubah nitrat menjadi nitrogen bebas yang tidak berbahaya bagi
lingkungan dan kesehatan manusia. Denitrifikasi ini dapat terjadi dalam filter pasir aliran ke atas
(moving bed upflow sand filter) maupun filter pasir ke bawah (moving bed down flow sand filter).
Penambahan etanol sebagai sumber karbon tambahan sebanyak 3,3 – 3,5g CH3OH/g NO3-Neq dengan
hydraulic loading rate sebesar 10 m/jam serta sand turnover rate sebesar 3,8 bed/ d akan menghasilkan
kinerja denitrifikasi menjadi baik sehingga nitrogen efluen akan baik ( <1,0 g/m3 ) dengan waktu yang
dibutuhkan selama 13 jam.

2.3.2. Mikologi Lingkungan

Banyak kelompok jamur yang dapat digunakan dalam bidang lingkungan, salah satunya
adalah Aspergillus niger. Aspergillus niger dapat dikembangkan untuk memetabolisme pestisida
tertentu seperti endosulfan dan karbofuran. Penggunaan biopestisida ini dalam budidaya pertanian
sangat menguntungkan dari segi lingkungan. Hal ini dikarenakan biopestisida dapat didegradasi
oleh mikroorganisme tanah atau air menjadi komponen kimiawi yang lebih sederhana yang tidak
lagi mempunyai efek toksik kepada manusia maupun hewan.
2.3.3. Virologi Lingkungan

Beberapa virus telah dikembangkan agar dapat digunakan dalam bidang lingkungan, salah
satunya adalah untuk bioinfektan melalui mekanisme bakteriophage. Virus ini akan menginfeksi
bakteri yang patogen pada tanaman sehingga akan mengurangi penggunaan bahan kimia sintetik
untuk memberantas penyakit tanaman. Penggunaan bioinfektan ini dalam budidaya pertanian sangat
menguntungkan dari segi lingkungan.
2.4. Peran Lain Mikroba dalam Mencegah Pencemaran

2.4.1. Biopestisida

Pestisida mikroba termasuk biopestisida yang telah banyak digunakan untuk menggantikan
pestisida kimia sintetik yang banyak mencemari lingkungan. Penggunaan pestisida mikroba merupakan
bagian dari pengendalian hama secara hayati menggunakan parasit, hiperparasit, dan predator. Salah satu
keuntungan pestisida yang dikembangkan dari mikroba adalah:

23
 Dapat berkembang biak secara cepat dalam jasad inangnya (hospes).
 Dapat bertahan hidup di luar hospes.
 Sangat mudah tersebar di alam.
Mikroba yang telah dikembangkan untuk biopestisida adalah berbagai macam mikroba sebagai berikut:
 Virus penyebab penyakit hama, seperti NPV (nuclear polyhidrosis virus), CPV (cytoplasmic
polyhidrosis virus), dan GV (granulosis virus) untuk mengendalikan Lepidoptera. Baculovirus
untuk mengendalikan Lepidoptera, Hymenoptera, dan diptera.
 Bakteri yang dapat mematikan serangga hama, yang terkenal adalah Bacillus thuringiensis
(Bt). bakteri ini dapat digunakan untuk mengendalikan Lepidoptera, Hymenoptera, diptera,
dan coleoptera. Bakteri ini dapat menghasilkan kristal protein toksin yang dapat mematikan
serangga hama. Selain itu ada bakteri lain seperti Pseudomonas aeruginosa dan Proteus
vulgaris untuk mengendalikan belalang, Pseudomonas septica dan Bacillus larvae untuk hama
kumbang, Bacillus sphaericus untuk mengendalikan nyamuk, dan B. Moritai untuk
mengendalikan lalat.
 Jamur yang termasuk entomophagus dapat digunakan untuk mengendalikan hama. Sebagai
contoh Metarhizium anisopliae dapat digunakan untuk mengendalikan kumbang Rhinoceros
dan belalang cokelat. Beauveria bassiana untuk mengendalikan kumbang kentang, Nomurea
rilevi untuk mengendalikan lepidoptera, Paecylomyces lilacinus dan Gliocladium roseum
dapat digunakan untuk mengendalikan nematoda.
2.4.2. Biofertilizer

Beberapa mikroorganisme tanah seperti Rhizobium, Azospirillum, Azootobacter,


mikoriza, bakteri pelarut fosfat, mikoriza perombak selulosa, CM (Crops Mikrobia) dan Effective
microorganisme (EM) bila dimanfaatkan secara tepat dalam sistem pertanian organik akan
membawa pengaruh yang positif baik bagi ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman,
lingkungan edapik, maupun upaya pengendalian beberapa jenis penyakit. Sehingga akan dapat
diperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal dan hasil panen yang lebih sehat.
Mikroorganisme tersebut sering disebut sebagai biofertilizer atau pupuk hayati.
 Bakteri Rhizobium
Bakteri Rhizobium adalah salah satu contoh kelompok bakteri yang
berkemampuan sebagai penyedia hara bagi tanaman. Bakteri ini biasanya bersimbiosis
dengan tanaman legum dengan cara menginfeksi akar tanaman dan membentuk buntil
akar di dalamnya. Rhizobium hanya dapat memfiksasi nitrogen atmosfer bila berada
di dalam bintil akar dari mitra legumnya. Peranan Rhizobium terhadap pertumbuhan
tanaman khususnya berkaitan dengan masalah ketersediaan nitrogen bagi tanaman
inangnya.
 Azospirillum dan Azotobacter
Ada beberapa jenis bakteri penambat nitrogen yang berasosiasi dengan
perakaran tanaman. Bakteri yang mampu meningkatkan hasil tanaman tertentu apabila
diinokulasikan pada tanah pertanian dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu
Azospirillum dan Azotobacter.
Azosperillum merupakan salh satu mikroba perakaran. Infeksi yang
disebabkan oleh bakteri ini tidak menyebabkan perubahan morfologi perakaran,
24
meningkatkan jumlah akar rambut, dan menyebabkan percabangan akar lebih
berperan dalam penyerapan hara. Keuntungan lain dari bakteri ini adalah pada saat
berasosiasi dengan perakaran tidak dapat menambat nitrogen, maka pengaruhnya
adalah meningkatkan penyerapan nitrogen yang ada di dalam tanah.
Azotobacter sp. Juga merupakan bakteri non-simbiosi yang hidup di daerah
perakaran. Azotobacter sp. Hampir ditemui pada semua jenis tanah, tetapi populasinya
relatif rendah. Bakteri ini mempunyai kemampuan untuk menambat nitrogen dan
menghasilkan sejenis hormon yang kurang lebih sama dengan hormon pertumbuhan
tanaman dan menghambat pertumbuhan jenis jamur tertentu, sehingga bakteri ini
dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melaui pasokan nitrogen udara, pasokan
pengatur tumbuh, mengurangi kompetisi dengan mikroba lain atau membuat kondisi
tanah lebih menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman. Bakteri ini berpengaruh
positif pada perkecambahan benih dan memperbaiki pertumbuhan tanaman.
 Mikrobia pelarut fosfat
Beberapa mikroba tanah mempunyai kemampuan untuk melarutkan fosfat
yang tidak larut dalam air dan menjadikannya tersedia bagi tanaman. Mikrobia ini
merubah bentuk P di alam untuk mencegah proses terjadinya fiksasi P. Dalam proses
pelarutan P oleh mikroba berhubungan dengan diproduksinya asam yang sangat erat
berhubungan dengan proses metabolisme.
Ada beberapa jenis fungi dan bakteri yang mampu melarutkan P yang tidak
larut menjadi tersedia bagi tanaman. Organisme-organisme tersebut diantaranya
adalah Bacillus striata, Aspergillus awamori, dan Penicllium digitatum. Jumlah bakteri
pelarut P dalam tanah sekitar 104-106 tiap gram.
 Mikoriza
Asosiasi simbiotik antara jamur dan sisten perakaran tanaman tinggi
diistilahkan dengan mikoriza. Dalam fenomena ini jamur menginfeksi dan
mengkoloni akar tanpa menimbulkan nekrosis sebagaimana biasa terjadi pada infeksi
jamur patogen, dan mendapat pasokan nutrisi secara teratur dari tanaman. Berdasarkan
tempat berkembangnya, jamur mikoriza dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
ektomikoriza dan endomikoriza. Ektomikoriza merupakan jamur yang berkembang di
permukaan luar akar dan diantara sel-sel korteks akar. Endomikoriza merupakan
jamur yang berkembang di dalam akar di antara dan di dalam sel-sel korteks akar.
Jamur yang dapat bersimbiosis dengan akar tanaman ini contohnya adalah kelompok
Endogonales.
 CM (Crops Mikrobia)
CM (Crops Mikrobia) mengandung bakteri gram positif yang dapat hidup di
permukaan akar yang mempunyai strain spesifik yang jelas dan terkendali. Bakteri
tersebut adalah bakteri dari genus Bacillus, diantaranya adalah Bacillus
chitinosporous, Bacillus subtilis, Bacillus pumulus dan Bacillus lateroporous.
Bacillus chitinosporous, yang memproduksi metabolit enzim chitinase yang mampu
menghancurkan, mengurai dan mencerna zat kitin yang terdapat pada sel telur
25
nematoda, kulit serangga, larva dan pupa serangga. Bacillus subtilis dan Bacillus
pumulus yang memproduksi metabolit yang menghambat fungi (cendawan). Bacillus
lateroporous yang memproduksi metabolit spesifik (auksin dan gibrelin) yang mampu
menstimulir benih, akar, batang, bunga dan buah.
 EM (Efective Microorganism)
Efektif mikroorganisme merupakan kultur campuran berbagai jenis
mikroorganisme yang bermanfaat (bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat, ragi,
actinomycetes, dan jamur peragian) yang dapat dimanfaatkan sebagai inokulan untuk
meningkatkan keragaman mikroba tanah. EM merupakan kultur jaringan berbagai
jenis mikrobia yang berasal dari lingkungan alami dan secara genetika bersifat asli
(tidak dimodifikasi).Pemanfaatan EM dapat memperbaiki kualitas tanah dan
selanjutnya memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman.
Mikroba di alam secara umum berperan sebagai produsen, konsumen, maupun
redusen. Jasad produsen menghasilkan bahan organik dari bahan anorganik dengan
energi sinar matahari. Mikroba yang berperan sebagai produsen adalah algae dan
bakteri fotosintetik. Jasad konsumen menggunakan bahan organik yang dihasilkan
oleh produsen. Contoh mikroba konsumen adalah protozoa. Jasad redusen
menguraikan bahan organik dan sisa-sisa jasad hidup yang mati menjadi unsur-unsur
kimia (mineralisasi bahan organik), sehingga di alam terjadi siklus unsur-unsur kimia.
Contoh bakteri redusen adalah bakteri dan jamur.
Mikroba terdapat dimana-mana di sekitar kita, ada yang menghuni tanah air
dan atmosfer planet kita. Adanya mikroba di planet lain diluar bumi telah diselidiki
pula, namun sejauh ini di ruang angkasa belum menampakkan adanya mikroba. studi
tentang mikroba yang ada di lingkungan alamiahnya disebut ekologi mikroba. Ekologi
merupakan bagian biologi yang berkenaan dengan studi mengenai hubungan
organisme atau kelompok organisme dengan lingkungannya.

26
BAB III

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh berdasarkan makalah ini adalah sebagai berikut:

a. Mikroba memerlukan nutrien sebagai sumber materi dan energi untuk menyusun komponen sel. Nutrient yang
diperlukan bermacam-macam, tergantung jenis mikrobanya, misalnya kebutuhan karbon untuk jasad fotoautotrof
dalam bentuk CO2, sedangkan bagi jasad kemoorganotrof dalam bentuk bahan organik.
b. Untuk berhasilnya kultivasi mikroba diperlukan suatu kombinasi nutrisi serta lingkungan fisik yang sesuai. Ada 5
arameter lingkungan yang utama yang perlu diperhatikan dalam menumbuhkan mikroba yaitu temperature,
kelembaban (RH), kadar oksigen, pH dan osmosis.
c. Media adalah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi (nutrient) yang dipakai untuk menumbuhkan mikroba
d. Perhitungan jumlah suatu bakteri dapat melalui berbagai macam uji seperti uji kualitatif koliform yang secara
lengkap terdiri dari tiga tahap yaitu uji penduga (uji kuantitatif, bisa dengan metode MPN), uji penguat dan uji
pelengkap.
e. Membiakkan bakteri dapat dilakukan dengan berbagi cara, salah satunya pengembangbiakan dalam media cawan
petri. Pengembangbiakan dalam cawan ini ada beberapa metode, yaitu : metode cawan gores, cawan tuang, cawan
sebar
f. Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada sehingga jika ditumbuhkan di dalam
suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak.
g. Teknik isolasi mikroba bertujuan untuk menghasilkan koloni tunggal dari satu mikroorganisme
h. Inokulasi merupakan suatu teknik untuk menumbuhkan mikroba pada suatu medium pertumbuhan. Sumber
inokulasi dapat berasal dari kultur murni maupun hasil isolasi kultur campuran.

27
DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 2008e. Oil Biodegradation-Bacterial Alteration of Petroleum. OilTracer : Servis:Exploration: Oil

Biodegradation Bacterial Alteration of Petroleum. http://www.oiltracers.com/oilhiodegradation.html. Disitir, 13

September 2008. 11 h.

Brim, H., Mc Farlan SC, Fredrickson JK, Minton KW, Zhai M, Wackeit LP and Daly MJ. 2000. Engineering Deinococcus

Radiodurans for Metal Remediation in Radioactive Mixed Waste Environments, Nature Biotechnology. I8 (l): 85-

90.

Hadioetomo, R.S. 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: Gramedia.

Soeryowinoto, M. 1985. Budidaya Kepalasari dan Aspek-aspek yang Menyangkutnya. Pusat Antar-Universitas (PAU),

Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

28