Anda di halaman 1dari 8

Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017

The Indonesian Association of Forensic Medicine Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

RELIABILITAS EXPERT OPINIONS (DOKTER SPESIALIS FORENSIK)


PADA FOTOGRAFI FORENSIK DALAM MENILAI USIA MEMAR
Reyhan Andika F1, Aria Yudhistira2, Herkutanto2

Abstrak PENDAHULUAN
Kemampuan untuk menilai, mendokumentasikan, dan Kemampuan untuk menilai,
menginterpretasikan luka dengan tepat merupakan
bagian penting dari pekerjaan dokter forensik atau ahli mendokumentasikan, dan
patologi forensik. Salah satu bentuk dokumentasi
dalam pemeriksaan kasus forensik klinik adalah foto.
menginterpretasikan luka dengan tepat
Foto luka yang memenuhi kaidah fotografi forensik merupakan bagian penting dari pekerjaan
akan mempermudah dokter melakukan repetitif analisa
pada luka dan tentunya akan memberikan keyakinan dokter forensik. Tujuan pemeriksaan dan
yang tinggi dalam menuangkan pendapat ahlinya, juga dokumentasi adalah untuk membantu
bagi praktisi hukum untuk kepentingan peradilan. Luka
memar dalam proses penyembuhannya luka akan menentukan apa penyebab dan bagaimana
mengalami perubahan warna yang mungkin akan
membuat proses dokumentasi luka lebih sulit. Saat ini mekanisme dari perlukaan tersebut, yang
kebanyakan dokter belum mengetahui alat dan teknik mungkin sering menjadi masalah di
fotografi yang baik untuk kepentingan peradilan. Oleh
karena itu, penulis mencoba beberapa alat dan teknik pengadilan. Dokter forensik dalam
fotografi untuk mendokumentasikan luka. Penelitian ini
adalah penelitian deskriptif observasional yang menginterpretasikan dan
betujuan untuk melihat tingkat kesesuaian (reliabilitas) mendokumentasikan luka harus
antar expert opinions (dokter spesialis forensik) dalam
memperkirakan usia luka memar dari foto luka. Luka mendeskripsikannya secara tertulis,
memar dibuat dari kulit yang dibekam. Luka memar
difoto dengan 4 alat fotografi yang berbeda (kamera
membuat pemetaan grafik tubuh dan
DSLR, mirrorless, pocket, dan handphone). memfoto luka. hal ini sangat penting agar
Pengambilan foto dilakukan sebanyak 8 kali untuk
masing-masing alat. Delapan kali waktu pengambilan semua orang dapat memahami gambaran
tersebut disesuaikan dengan proses penyembuhan luka atau cedera, terutama bagi praktisi
luka memar. Hasil interpretasi expert dari foto luka
yang dihasilkan kamera DSLR dengan mode auto hukum. 1
memiliki tingkat kesesuaian yang lebih tinggi daripada
kamera lainnya. Penulis menyimpulkan bahwa dalam Di Indonesia, dokter umum
mendokumentasikan luka sebaiknya menggunakan merupakan dokter terdepan yang sering
kamera DSLR dan memakai mode manual. Foto luka
yang memenuhi kaidah fotografi forensik dapat berhadapan dengan kasus forensik klinik
membantu dokter dalam menuangkan pendapat
ahlinya menjadi lebih baik untuk proses peradilan.
terutama di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Kata Kunci: Fotografi forensik, Usia luka memar, Dalam beberapa kasus, pemeriksaan dan
expert opinion.
penilaian awal mungkin dilakukan untuk
Afiliasi Penulis : 1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jl.
Salemba Raya 6, Jakarta Pusat, 2. Departemen Forensik dan tujuan terapeutik murni, dan signifikansi
Medikolegal RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Korespondensi: Reyhan Andika, email : reyhanmbiz@gmail.com. luka baru terlihat setelah beberapa minggu
atau bulan kemudian. Tidak jarang pula
mereka diminta untuk membuat visum et
repertum. Dalam pembuatan visum et
repertum tersebut, dokter umum sebagai
pemeriksa sering berkonsultasi dengan
dokter forensik melalui sistem konsultasi
yang berlaku di Rumah Sakit tersebut.
Berikutnya dokter forensik akan melakukan

230 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Reyhan Andika, Reliabilitas Expert Opinions…

repetitif analisa dari catatan rekam medis teknik fotografi yang dipakai untuk
dan foto yang dibuat oleh dokter pemeriksa mendokumentasikan sebuah luka adalah
yaitu dokter umum tersebut. Pemeriksaan tergantung dari kebutuhan pemeriksa
dan dokumentasi luka yang tidak baik (dokter). Kebutuhan tersebut terkait jenis
tentunya akan menyulitkan dokter forensik foto apa yang akan dihasilkan, yaitu foto
dan dapat mengganggu proses hukum.1,2 jarak menengah atau foto makro.8
Memar merupakan salah satu bentuk Setiap luka yang ada pada korban
luka yang sering ditemukan pada kasus hidup akan mengalami proses
forensik. Dari data di Departemen Forensik penyembuhan. Luka memar merupakan
dan Medikolegal RSCM pada tahun 2015, jenis luka yang mempunyai karakteristik
memar menempati jumlah terbanyak kedua unik. Dalam proses penyembuhannya,
setelah luka lecet yaitu sebesar 30 persen memar akan mengalami perubahan warna.(9)
dari total semua jenis luka.(3) Berdasarkan Perubahan warna tersebut mungkin akan
data di RSUP M.Djamil Padang selama 1 membuat proses dokumentasi luka lebih
tahun antara 2010-2011, memar menempati sulit. Disinilah kaidah fotografi forensik
urutan terbanyak kedua yaitu sebesar 34,8 harus dipenuhi untuk mendapatkan hasil
persen.(4)Sementara pada kasus kekerasan foto yang baik untuk kepentingan
dalam rumah tangga (KDRT), jenis luka yang medikolegal.
paling banyak ditemukan adalah memar Saat ini, alat dan teknik fotografi
yaitu sebesar 79,3 persen.(5) yang digunakan oleh dokter dalam
Salah satu langkah dalam mendokumentasikan luka masih banyak
pemeriksaan forensik klinik adalah sekali perbedaan dan variasinya. Walaupun
dokumentasi, terutama dalam kurikulum tentang fotografi forensik sudah
mendokumentasikan luka. Hasil dari termasuk dalam Standar Kompetensi Dokter
dokumentasi tersebut adalah foto. foto yang Indonesia (SKDI).(10)
dihasilkan harus tajam, berkomposisi, Foto luka dari kasus forensik klinik
seimbang dalam hal pencahayaan dan merupakan hal yang penting, baik bagi
warna, dan tidak mengalami perubahan dokter pemeriksa maupun dokter lain yang
dimensi obyek.(2)Hasil foto yang baik mungkin akan dimintai pendapat ahlinya
tersebut akan memberikan kemudahan bagi mengenai suatu kasus forensik klinik. Foto
dokter untuk melakukan repetitif analisa luka yang memenuhi kaidah fotografi
terhadap suatu luka atau praktisi hukum forensik akan memberikan kemudahan bagi
untuk kepentingan proses penegakan dokter untuk melakukan repetitif analisa
hukum. pada luka tersebut dan tentunya akan
Pemilihan alat dan teknik fotografi memberikan keyakinan yang tinggi bagi
tentunya akan mempengaruhi foto yang dokter dalam menuangkan pendapatnya.(2)
dihasilkan. Dalam kedokteran forensik, Saat ini kebanyakan dokter belum
pilihan alat yang mampu berbicara banyak mengetahui alat dan teknik fotografi yang
antara lain kamera dengan format film baik untuk kepentingan medikolegal atau
35mm, lensa 28-80mm, dan pemakaian proses penegakan hukum. Dalam tulisan ini,
eksternal flash.6Selain itu, alat lainnya penulis akan mencoba beberapa alat dan
seperti identification marker berskala juga teknik fotografi untuk mendokumentasikan
sangat penting kegunaanya.7Sedangkan luka. Foto-foto tersebut akan diinterpretasi

231 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Reyhan Andika, Reliabilitas Expert Opinions…

oleh beberapa expert (dokter spesialis diletakkan berdekatan dengan lesi atau
forensik), yaitu melalui deskripsi jenis luka perlukaan sebagai refrensi ukuran. Pada
dan usia luka. Hasil interpretasi antar expert bagian yang tidak terekspos atau kurang
melalui foto tersebut akan penulis nilai memberikan gambaran yang signifikan,
tingkat kesesuaiannya. dapat digunakan probe (alat pemeriksa luka)
atau jari sebagai penunjuk dengan posisi
yang semestinya.(13)(2)
TINJAUAN PUSTAKA
Semua gambar yang diambil dalam
Fotografi forensik setiap pemeriksaan forensik sangat
berpotensial untuk dipakai dalam
Pengertian dan kaidah fotografi forensik pengadilan. Gambar-gambar itu biasanya
Fotografi berasal dari kata foto yang digunakan oleh ahli forensik untuk
berarti cahaya dan grafis yang berarti menggambarkan sesuatu, dan bertujuan
gambar. Secara harfiah fotografi bisa agar hakim dapat lebih mengerti dengan
diartikan sebagai teknik melukis dengan baik penjelasan dari ahli tersebut. Beberapa
cahaya. Fotografi merupakan gabungan gambar juga sering dugunakan untuk
ilmu, teknologi, dan seni. Fotografi memiliki mengilustrasi sebuah analisis seperti bercak
bermacam-macam manfaat dan tujuan baik darah di TKP, kamera CCTV, dan proses
untuk dokumentasi, penelitian, maupun analisis forensik lainnya. dalam beberapa
sebagai media dalam ranah estetika.Prinsip kasus, jika foto yang digunakan oleh ahli
fotografi adalah memokuskan cahaya untuk menjelaskan suatu analisis sudah
dengan bantuan pembiasan sehingga dilakukan proses editing , perubahan
mampu membakar medium penangkap kontras, perubahan warna dan kecerahan,
cahaya. Medium yang telah dibakar dengan harus dijelaskan juga kepada hakim.(6)
ukuran luminitas cahaya yang tepat akan
menghasilkan bayangan identik dengan Alat dan teknik pengambilan gambar
cahaya yang memasuki medium pembiasan Tidak pernah ada duakasus forensic
(lensa). (11)(12) yang sama persis. Kondisi pencahayaan,
Fotografi forensik juga termasuk ke ukuran dan lokasi barang bukti, dan faktor
dalam bagian dari upaya pengumpulan lingkunganakansangat bervariasidari setiap
barang bukti seperti tubuh manusia, tempat- fotografi forensik. Karena itu, pemeriksa
tempat dan setiap benda yang terkait suatu harus siapuntuk mendokumentasikan bukti
kejahatan dalam bentuk foto yang dapat dalam berbagai kondisi. Seorang fotografer
dipergunakan oleh penyelidik atau penyidik. forensik mebutuhkan beberapa alat
Termasuk ke dalam kegiatan fotografi fotografi untuk mendapatkan gambar atau
forensik adalah pemilihan pencahayaan yang dokumen forensik yang teliti dan akurat
benar, sudut pengambilan lensa yang tepat, yang juga harus diimbangi dengan
dan pengambilan gambar dari berbagai titik kemampuan atau teknik mengambil
pandang. Skala sering kali digunakan dalam gambarnya. Tidak semua peralatan tersebut
gambar yang diambil sehingga dimensi akan digunakan secara bersamaan, tetapi
sesungguhnya dari obyek foto dapat peralatan tersebut harus ada. Pilihan apa
terekam. Biasanya digunakan penggaris atau yang harus dibawa dalam persiapan untuk
perekat putih yang berskala sentimeter pengambilan gambar adalah keputusan

232 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Reyhan Andika, Reliabilitas Expert Opinions…

individu dan tergantung pada jenis kasus merah,ungu, kehijauan, lalu berubah jadi
yang akan diperiksa.(8) kuning kecoklatan, baru menghilang
Pemilihan alat dan teknik fotografi warnanya. Ada beberapa faktor yang
tentunya akan mempengaruhi foto yang mempengaruhi perubahan warna, antara
dihasilkan. Dalam kedokteran forensik, lain : perubahan warna akan lebih cepat
pilihan alat yang mampu berbicara banyak terlihat pada bagian tepi luka (karena pada
antara lain kamera dengan format film bagian tengah luka, daerah ekstravasasi
35mm, lensa 28-80mm, eksternal lebih lambat diabsorbsi), usia korban juga
(6)
flash. Selain itu, alat lainnya seperti mempengrahi perubahan wara memar,
identification marker berskala juga sangat penyakit tertentu seperti gangguan
penting kegunaanya.(7)Sedangkan teknik pembekuan darah. (14)

fotografi yang dipakai untuk


Tabel 1. Perubahan Warna pada Memar
mendokumentasikan sebuah luka adalah
Menurut Beberapa Peneliti
tergantung dari kebutuhan pemeriksa Peneliti Warna pada memar Waktu
(dokter). Kebutuhan tersebut terkait jenis Red Immediate
foto apa yang akan dihasilkan, yaitu foto Dusky purple/black Soon after
jarak menengah atau foto makro.(8) Camps Green Days 4-5
Yellow Days 7-10
Patofisiologi memar Resolution Days 14-15
Pada memar terdapat pecahnya Violet Immediate
pembuluh darah di bawah kulit dan jaringan Blue Day 3
epidermis masih intak. Pecahnya pembuluh Glaister Green Days 5-7
darah di jaringan bawah kulit membuat sel Yellow Days 8-10
darah merah dan isi pembuluh darah lainnya Resolution Days 13-18

mengisi ruang-ruang interstitial. Ruang Red/Dark red/black <24 h


Poison Greenish tinge Around day 7
insterstitial ada yang merupakan jaringan
and Gee Yellowing Around day 14
ikat longggar dan ada yang berupa jaringan
Resolution Up to 30 days
fibrous yang padat. Perbedaan ruang
Red Immediate
interstitial tersebut akan mempengaruhi
Purple/black Soon after
gambaran memar yang tampak dari luar.(14) Smith and
Green Days 4-5
Memar membutuhkan waktu sampai Fiddes
Yellow Days 7-10
tampak berwarna pada permukaan kulit. Hal Resolution Days 14-15
ini terjadi karena sel darah merah atau
hemoglobin membutuhkan waktu mengisi METODE
ruang interstitial. Seiring proses Penelitian ini adalah suatu penelitian
penyembuhan memar, hematom meluruh deskriptif observasional yang betujuan untuk
dan dipengaruhi oleh enzim jaringan dan melihat perbedaan expert opinion dari
infiltrasi sel. Sel darah merah yang berisi dokter spesialis forensik dalam
hemoglobin hancur melalui proses kimiawi, memperkirakan usia memar. Dokter spesialis
yang akan mennghasilkan perubahan gradasi forensik akan menginterpretasi memar dari
warna. Hemoglobin berubah menjadi foto yang dibuat oleh penulis dengan alat
komponen berisi hemosiderin, biliverdin, dan teknik fotografi yang berbeda-beda.
dan bilirubin. Perubahan warna dari Memar dibuat dari kulit yang dibekam

233 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Reyhan Andika, Reliabilitas Expert Opinions…

sehingga menghasilkan gambaran memar 2. Kamera diletakkan di atas luka memar


sedemikian rupa. Memar tersebut akan dengan jarak kurang dari 50 cm (jarak
difoto dengan 3 alat fotografi yang berbeda. untuk fotografi makro) dengan bantuan
Pengambilan foto dilakukan sebanyak 7 kali tripod. Lensa menghadap ke luka memar
untuk masing-masing alat. Tujuh kali waktu secara tegak lurus (900).
pengambilan tersebut disesuaikan dengan 3. Cahaya tambahan dari LED video light
proses penyembuhan memar. dengan kekuatan 5700 K
4. Penggaris ABFO hitam-putih diposisikan
Alat-alat yang digunakan : sejajar dengan luka dan tidak menutupi
1. Kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) luka.
merk Nikon seri D3200, dipadukan 5. Gambar diambil.
dengan lensa Nikkor 18-55 mm. 6. Berikutnya kamera diganti dengan
2. Kamera Mirrorless merk Sony α 5000, kamera lain yang sudah dipersiapkan dan
dipadukan dengan lensa Sony 16-50 mm. prosedur diulang secara berurutan.
3. Kamera Handphone merk Samsung 7. Prosedur di atas secara berurutan diulang
galaxy J5. untuk memar pada punggung.
4. Tripod merk Victory 3080. Proses pengambilan gambar dilakukan
5. LED video light model DS-1000 dengan pada interval waktu sebagai berikut :
color temperature 5500 ± 200 K. Jam ke-1  jam ke-6  hari ke-2  hari ke-4
6. Meja fotografi (table top).  hari ke-6  hari ke-7  hari ke-9.
7. Penggaris/skala ABFO hitam-putih.
8. Alat bekam. Proses interpretasi foto
9. I-pad. 1. Data foto digital dimasukkan ke i-pad.
2. Penilaian usia luka memar oleh dokter
Pembuatan luka memar : spesialis forensik di Departemen Forensik
1. Kulit pada lengan bawah sisi depan dan Medikolegal RSCM yang sudah
(bagian volar) dan punggung dibekam bekerja minimal 5 tahun.
dengan alat bekam yang terbuat dari 3. Penilaian luka secara acak (random) dan
plastik yang memiliki mekanisme vakum. blind yang urutan foto sudah ditentukan
2. Pembekaman sampai muncul memar di oleh peneliti. Lalu perkiraan usia memar
kulit yang ditandai dengan perubahan dicatat.
warna sesuai dengan gambaran luka
memar di kulit. Berikutnya dinilai perbandingan jumlah
3. Setelah muncul perubahan warna pada interpretasi yang benar dan yang salah antara
kulit, alat bekam dilepaskan dari kulit hasil interpretasi expert dengan usia luka yang
dengan mengurangi mekanisme vakum sebenarnya.
secara perlahan.

Proses pengambilan gambar :


1. Luka memar yang terdapat pada lengan
bawah sisi depan diletakkan di atas meja
fotografi, dengan luka memar
menghadap ke atas.

234 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Reyhan Andika, Reliabilitas Expert Opinions…

Tabel 2. Randomisasi foto kamera DSLR lebih banyak kesesuaiannya


Exp.
Progra Exp. Usia
antara interpretasi expert dengan usia memar
No Kamera
m biasa memar yang sebenarnya, dibandingkan dengan foto
(mode) yang diambil dengan kamera mirrorless dan
1 DSLR Manual 0 1 jam
2 DSLR Manual 0 6 jam handphone.
3 DSLR Manual 0 2 hari
Tabel 5. Total Nilai “benar” Antara Foto dengan
4 DSLR Manual 0 4 hari
Exp. Bias “-1” dan “0”
5 DSLR Manual 0 6 hari
6 DSLR Manual -1 9 hari (dari 15 foto dengan exp.bias “-1” dan 15 foto
7 DSLR Manual 0 7 hari dengan Exp.bias “0”)
8 DSLR Manual 0 6 jam
9 Mirrorless Manual 0 2 hari
10 Mirrorless Manual 0 6 hari
11 Mirrorless Manual 0 4 hari
12 Mirrorless Manual 0 7 hari Dari 6 foto memar yang perkiraan usia
13 Mirrorless Manual 0 1 jam
14 Mirrorless Manual -1 9 hari memarnya antara 7-14 hari, dimana 3 foto
15 Handphone Auto 0 1 jam diambil dengan exposure bias “0” yang artinya
16 Handphone Auto 0 6 jam
17 Handphone Auto 0 2 hari
correct exposure dan 3 foto lainnya diambil
18 Handphone Auto 0 7 hari dengan exposure bias “-1” yang artinya under
19 Handphone Auto 0 6 hari
exposure didapatkan hasil : foto memar yang
20 Handphone Auto 0 4 hari
21 Handphone Auto -1 9 hari under exposure lebih tinggi lebih tinggi tingkat
kesesuaiannya dengan foto memar yang
HASIL DAN PEMBAHASAN correct exposure.
Tabel 3. Jumlah Benar dan Salah dari Pada foto memar yang diambil
Perbandingan Antara Interpretasi Usia Memar
menggunakan kamera DSLR dengan
dari Expert dengan Usia Memar yang
Sebenarnya exposure programe (mode) manual, tingkat
kesesuaian antar expert opinions-nya lebih
tinggi dibandingkan foto memar yang
diambil dengan kamera mirrorless dan
handphone. Hal ini menunjukkan bahwa
kamera DSLR lebih mumpuni dalam
penggunaanya sebagai alat fotografi
forensik. Kamera DSLR dapat memberikan
keleluasaan bagi penggunanya untuk
mengatur segitiga eksposur sesuai dengan
kondisi cahaya dan obyek yang akan
difotonya, sehingga hasil foto seimbang
dalam hal pencahayaan dan warna serta
Tabel 4. Total Nilai “benar” atau “salah” pada memiliki ketajaman yang baik. (2)
Setiap Kamera
Pada dasarnya kamera mirrorless
memiliki fitur setting yang hampir sama
seperti kamera DSLR, bahkan kamera
Dari 21 foto yang sudah diinterpretasi handphone yang canggih saat ini juga ada
perkiraan usia memarnya oleh 5 expert yang hampir menyamai fitur kamera DSLR.
didapatkan hasil: foto yang diambil dengan Perbedaan antara kamera DSLR, mirrorless

235 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Reyhan Andika, Reliabilitas Expert Opinions…

dan handphone terletak pada proses tampak lebih “tua” sehingga memar akan
masuknya cahaya atau refraksi cahaya. lebih terlihat dan pada akhirnya dapat
Kamera DSLR memungkinkan fotografer memudahkan expert dalam
melihat langsung obyek melalui suatu menginterpretasikan usia memar.
cermin yang memantulkan cahaya dari luar Pemakaian mode manual ternyata
lalu kemudian di pantulkan ke pentaprisma sangat signifikan fungsinya dalam fotografi
dan akhirnya dapat dilihat di forensik. Pengaturan masuknya cahaya
(12)(14)
viewfinder. Hal inilah yang membuat melalui setting segitiga eksposure membuat
kamera DSLR lebih mumpuni untuk fotografi pencahayaan optimal. Pencahayaan yang
forensik, karena apa yang terlihat di baik merupakan salah satu aspek yang harus
viewfinder kamera DSLR merupakan bentuk dipenuhi dalam fotografi forensik.(2) Dengan
dan warna asli dari obyek tanpa ada pencahayaan yang tidak baik dapat
pengolahan digital sebelumnya, seperti yang membuat dokter forensik salah dalam
disebutkan di literatur yaitu “what you see is interpretasi suatu luka. Kesalahan dalam
what you get”.(2) Sedangkan pada kamera intepretasi luka ini dapat membuat dokter
mirrorless, fotografer melihat obyek dari LCD forensik memberikan keterangan ahli yang
yang ada di kamera. Gambar obyek sebelum salah dan mengakibatkan suatu putusan
difoto yang ditampilkan di LCD pastinya hakim yang tidak tepat.
sudah mengalami pengolahan digital dari
kamera, sehingga warna obyek yang akan
difoto dapat mengalami perubahan. Dalam SIMPULAN
hal perkiraan usia memar dimana warna dari Dalam ranah kedokteran forensik,
memar memegang peranan penting, adanya pendokumentasian luka sebaiknya
perubahan warna tersebut dapat membuat menggunakan kamera DSLR dan memakai
expert salah dalam memperkirakan usia mode manual. Foto luka harus memenuhi
memar. kaidah fotografi forensik, yaitu hasil foto
Perbedaan exposure bias juga harus optimal dalam pencahayaan, memiliki
mempengaruhi hasil interpretasi expert. ketajaman obyek foto yang baik, dan tidak
Memar yang berusia 7-14 hari secara teori ada distorsi warna. Selain itu, foto luka juga
akan berwarna kuning kecoklatan dan warna harus terukur (berskala) dan berlabel
tersebut sudah mulai memudar bahkan (beridentitas). Apabila foto luka memenuhi
samar dengan warna kulit.(9)(14) Pada kaidah fotografi forensik, maka foto tersebut
umumnya warna kulit orang Indonesia dapat diinterpretasi dengan baik oleh dokter
adalah kuning langsat dan sawo matang pemeriksa maupun dokter lain yang dimintai
(coklat). Foto memar dengan usia memar 7- pendapat ahlinya. Hasil penelitian ini
14 hari yang diambil dengan exposure bias menunjukkan bahwa tingkat reliabilitas
“0” akan membuat expert lebih banyak salah antar expert pada fotografi forensik sudah
dalam menginterpretasikan usia memar terlihat perbedaanya. Masih adanya salah
karena warna memudar dan gradasi warna interpretasi foto membuat pemanfaatan
lebih samar. Kesalahan interpretasi ini foto sebagai sarana untuk repetitif analisa
ternyata dapat dikurangi dengan masih perlu penelitian lebih lanjut.
menempatkan eksposure menjadi under. Penambahan sampel diperlukan untuk
Dengan eksposur under, warna memar akan mendapatkan hasil yang signifikan dan

236 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017


Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Reyhan Andika, Reliabilitas Expert Opinions…

akurat. Pentingnya warna dalam interpretasi Pemakaian color chart dapat dijadikan solusi
memar memberikan konsekuensi pada dalam fotografi forensik.
dokter forensik untuk menghasilkan foto
luka yang tidak mengalami distorsi warna.

DAFTAR PUSTAKA
8. Duncan, Christopher D. Advanced Crime
1. Stark, Margaret M. Clinical Forensic
Scene Photography. Boca Raton; CRC Press.
Medicine: A Physician’s Guide, Second
2009.
Edition. New Jersey; Humana Press. 2005.

2. Idries A M, Tiptomartono A L. Penerapan 9. Budiyanto A, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik.


Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Penyidikan. Jakarta: Sagung Seto. 2011. Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta;
1997.
3. Nafisah, Zharifah Fauziyyah. Hubungan
Antara Temuan Luka Akibat Kekerasan 10. Konsil Kedokteran Indonesia. Standar
Tumpul di Dada dengan Kerusakan Organ di Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta;
Dalamnya. Skripsi. Jakarta; Universitas 2012.
Indonesia. 2015.
11. Forensic Photography. Diambil dari
4. Riandini I L, Susanti R, Yanis A. Gambaran https://en.wikipedia.org/wiki/Forensic_pho
Luka Korban Kecelakaan Lalu Lintas yang tography pada 4 Agustus 2015.
Dilakukan Pemeriksaan di RSUP Dr M Djamil
Padang. Diambil dari 12. Fauzan, Shandy. Modul Sejarah
http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/a Perkembangan Fotografi Dan Anatomi
rticle/viewFile/283/270 pada 4 Mei 2017. Kamera. Diambil dari
https://performaupi.files.wordpress.com/2
5. Afandi D, Rosa W Y, Suyanto, Khodijah, 013/12/sejarah-perkembangan-fotografi-
Widyaningsih C. Karakteristik Kasus dan-anatomi kamera.pdf. pada 5 Agustus
Kekerasan dalam Rumah Tangga. Diambil 2015
dari
https://www.scribd.com/document/351369 13. Knight, Bernard. Forensic Pathology, Second
470/Karakteristik-Kasus-Kekerasan-dalam- Edition. London; Arnold. 1996.
JURNAL-IDI-pdf pada 4 Mei 2017.
14. Wells, David. Injury Interpretation. The
6. Reis, George. Photoshop CS3 for Forensic Department of Forensic Medicine, Monash
Professionals. Indianapolis; Wiley University. Chrchill, Victoria, Australia;
Publishing. 2007. Distance Education Centre Monash
University. 1999.
7. Robinson, Edward. Crime Scene
Photography. Washington; Academic Press.
2010.

237 | I S B N 978-602-50127-0-9 Pekanbaru, 15-16 Juli 2017