Anda di halaman 1dari 26

A.

Kelainan Afektif
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Istilah kelainan afektif mencakup penyakit-penyakit dengan gangguan
afek (mood) sebagai gejala primer, sedangkan semua gejala lain
bersifat sekunder. Afek bisa terus menerus depresi atau gembira (dalam
mania) dan kedua episode ini bisa timbul pada orang yang sama, karena
itu dinamai 3psikosis manik-depresif ́. Penyakit dengan hanya satu
jenis serangan disebut unipolar, dan jika episode manik dan depresif
keduanya ada disebut bipolar (Ingram dkk, 1993).
Mood merupakan subjetivitas peresapan emosi yang dialami dan dapat
dutarakan oleh pasien dan terpantau oleh orang lain; termasuk sebagai
contoh adalah depresi, elasi dan marah. Kepustakaan lain,
mengemukakan mood, merupakan perasaan, atau nada 3perasaan hati ́
seseorang, khususnya yang dihayati secara batiniah(Ismail dkk, 2010).
Pasien dalam keadaan mood terdepresi memperlihatkan kehilangan
energi dan minat, merasa bersalah, sulit berkonsentrasi, hilangnya nafsu
makan, berpikir mati atau bunuh diri. Tanda dan gejala lain termasuk
perubahan dalam tingkat aktivitas, kemampuan kognitif, bicara dan
fungsi vegetative (termasuk tidur, aktivitas seksual dan ritme biologik
yang lain). Gangguan ini hampir selalu menghasilkan hendaya
(handicap) interpersonal, sosial dan fungsi pekerjaan (Ismail dkk,
2010).
Klasifikasi gangguan suasana perasaan (mood/afektif) menurut PPDGJ-
III (Depkes RI,1993):
F30 Episode Manik F30.0 Hipomania
F30.1 Mania tanpa gejala psikotik
. F30.8 Mania dengan gejala psikotik
. F30.9 Episode Manik YTT
F31 Gangguan Afektif Bipolar
. F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode hipomanik
. F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala

psikotik

. F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala



psikotik

. F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau



sedang
.30 Tanpa gejala somatik .31 Dengan gejala somatik

. F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa


gejala psikotik
. F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan
gejala psikotik
. F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran
. F31.7 Gangguan afektif bipolar, episode kini dalam remisi
. F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya
. F31.9 Gangguan afektif bipolar ytt
. F32 Episode Depresif
. F32.0 Episode depresif ringan 
.00 Tanpa gejala somatik

.01 Dengan gejala somatik

. F32.1 Episode depresif sedang 
.10 Tanpa gejala somatik



.11 Dengan gejala somatik

. F32.2 Episode depresif berat tanpa gejala psikotik


. F32.3 Episode depresif berat dengan gejala psikotik
. F32.8 Episode depresif lainnya
. F32.9 Episode depresif YTT
. F33 Gangguan Depresif Berulang
F33.0 Gangguan depresif berulang, episode kini ringan
.00 Tanpa gejala somatik .01 Dengan gejala somatik
. F33.1 Gangguan depresif berulang, episode kini sedang 10 Tanpa
gejala somatik 
.11 Dengan gejala somatik
. F33.2 Gangguan depresif berulang, episode kini berat tanpa gejala

psikotik

. F33.3 Gangguan depresif berulang, episode kini berat dengan



gejala psikotik

. F33.4 Gangguan depresif berulang, kini dalam remisi


. F33.8 Gangguan depresif berulang lainnya
. F33.9 Gangguan depresif berulang YTT
F34 Gangguan Suasana Perasaan (Mood/Afektif) Menetap
. F34.0 Siklotimia
. F34.1 Distimia
. F34.8 Gangguan suasana perasaan (mood/afektif) menetap 
lainnya
. F34.9 Gangguan suasana perasaan (mood/afektif) menetap YTT
F38 Gangguan Suasana Perasaan (Mood/Afektif) Lainnya
. F38.0 Gangguan suasana perasaan (mood/afektif) tunggal lainnya

.00 Episode afektif campuran

. F38.1 Gangguan suasana perasaan (mood/afektif) berulang 
lainnya



.10 Gangguan depresif singkat berulang

F38.8 Gangguan suasana perasaan (mood/afektif) lainnya YDT F39


Gangguan Suasana Perasaan (Mood/Afektif) YTT
B. Definisi
Depresi adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood sebagai
masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni gangguan episode
depresif, gangguan distimik, gangguan depresif mayor dan gangguan
depresif unipolar serta bipolar (Ingram dkk, 1993).
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya,
termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor,
konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta
gagasan bunuh diri (Kaplan dkk, 1992).
Jika gangguan depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia)
maka orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik
diri dari pergaulan, karena ia kehilangan minat hampir disemua aspek
kehidupannya (Ingram dkk, 1993).
C. Angka Kejadian
Gangguan depresi berat, paling sering terjadi, dengan prevalensi
seumur hidup sekitar 15 persen. Perempuan dapat mencapai 25%.
Sekitar 10% perawatan primer dan 15% dirawat di rumah sakit. Pada
anak sekolah didapatkan prevalensi sekitar 2%. Pada usia remaja
didapatkan prevalensi 5% dari komunitas memiliki gangguan depresif
berat (Ismail dkk, 2010).
1. Jenis Kelamin
Perempuan 2x lipat lebih besar disbanding laki-laki.
Diduga
adanya perbedaan hormon, pengaruh melahirkan, perbedaan stresor
psikososial antara laki-laki dan perempuan, dan model perilaku yang
dipelajari tentang ketidakberdayaan (Ismail dkk, 2010).
Pada pengamatan yang hampir universal, terdapat prevalensi gangguan
depresif berat yang dua kali lebih besar ada wanita dibandingkan
dengan laki-laki (Kaplan, 2010). Pada penelitian lain disebutkan bahwa
wanita 2 hingga 3 kali lebih rentan terkena depresi dibandingkan laki-
laki (Akhtar, 2007). Walaupun alasan adanya perbedaan tersebut tidak
diketahui, alasan untuk perbedaan tersebut didalilkan sebagai
keterlibatan dari perbedaan hormonal, efek kelahiran, perbedaan
stressor psikososial dan model perilaku keputusasaan yang dipelajari
(Kaplan, 2010).
Pada penelitian yang dilakukan NIMH (2002) ditemukan bahwa
prevalensi yang tinggi pada wanita dibandingkan pria kemungkinan
dikarenakan adanya ketidakseimbangan regulasi hormon
yang langsung mempengaruhi substansi otak yang mengatur emosi dan
mood contohnya dapat dilihat pada situasi PMS (Pre Menstrual
Syndrome). Untuk wanita yang telah menikah, depresi dapat diperparah
dengan masalah keluarga dan pekerjaan, merawat anak dan orangtua
lanjut usia, kekerasan dalam rumah tangga dan kemiskinan.
2. Usia 
Rata-rata usia sekitar 40 tahun-an. Hampir 50% onset
diantara usia 20-50 tahun. Gangguan depresi berat dapat timbul
pada masa anak atau lanjut usia. Data terkini menunjukkan
gangguan depresi berat diusia kurang dari 20 tahun. Mungkin
berhubungan dengan meningkatnya pengguna alkohol dan
penyalahgunaan zat dalam kelompok usia tersebut (Ismail dkk,
2010). 
Pada umumnya, rata-rata usia onset untuk gangguan
depresif berat adalah kira-kira 40 tahun, dimana 50% dari semua
pasien mempunyai onset antara usia 20 dan 50 tahun. Gangguan
depresif berat juga memiliki onset selama masa anak-anak atau
pada lanjut usia. Beberapa data epidemiologis menyatakan bahwa
insidensi gangguan depresif berat mungkin meningkat pada
orang-orang yang berusia kurang dari 20 tahun (Kaplan, 2010).
Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Akhtar (2007)
didapatkan bahwa tingkat prevalensi tertinggi terjadi pada
kelompok usia 20-24 tahun (14,3%) dan yang terendah pada
kelompok usia >75 tahun (4,3%), sementara data yang
didapatkan dari NIMH (2002) menyebutkan bahwa tingkat
depresi terbanyak ditemukan pada kelompok usia >18 tahun
(10%).

3. Status Perkawinan
Paling sering terjadi pada orang yang tidak


mempunyai hubungan 
interpersonal yang erat atau pada
mereka yang bercerai atau berpisah. Wanita yang tidak menikah
memiliki kecenderungan lebih rendah untuk menderita depresi
dibandingkan dengan wanita yang menikah namun hal ini
berbanding terbalik untuk laki-laki (Ismail dkk, 2010).

Pada umumnya, gangguan depresif berat terjadi paling sering pada


orang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat, pasangan
yang bercerai atau berpisah (Kaplan, 2010). Penelitian yang dilakukan
oleh Akhtar (2007) memperlihatkan bahwa prevalensi tertinggi dari
depresi didapatkan pada pasangan yang bercerai atau berpisah.
4. Faktor Sosioekonomi dan Budaya
Tidak ditemukan korelasi antara
status sosioekonomi dan
gangguan depresi berat. Depresi lebih sering terjadi di daerah pedesaan
disbanding daerah perkotaan (Ismail dkk, 2010).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Academy on An
Aging Society (2000) didapatkan data bahwa pada kelompok responden
dengan pendapatan rendah ditemukan tingkat depresi yang cukup tinggi
yaitu sebesar 51%. Pada penelitian Akhtar (2007) ditemukan tingkat
depresi terendah pada kelompok pendidikan Sekolah Menengah Atas
(SMA) sebesar (9,1%) dan sebaliknya tingkat depresi yang tertinggi
ditemukan pada responden dengan kelompok pendidikan yang lebih
tinggi sebesar (13,4%). Walaupun hasil ini dapat menjadi indikasi
adanya perbedaan tingkat depresi pada tingkat pendidikan, namun hal
tersebut tidak memiliki korelasi positif dengan terjadinya gangguan
depresif (Kaplan, 2010).
D. Etiologi
Etiologi depresi terdiri dari: 1. Faktor genetik
Dari penelitian keluarga didapatkan gangguan depresi mayor dan
gangguan bipolar terkait erat dengan hubungan saudara; juga pada anak
kembar, suatu bukti adanya kerentanan biologik, pada genetik keluarga
tersebut.
Data genetik dengan kuat menyatakan bahwa suatu faktor penting di
dalam perkembangan gangguan mood adalah genetika. Tetapi, pola
penurunan genetika adalah jelas melalui mekanisme yang
kompleks. Bukan saja tidak mungkin untuk menyingkirkan efek
psikososial, tetapi faktor non genetik kemungkinan memainkan peranan
kausatif dalam perkembangan gangguan mood pada sekurangnya
beberapa orang. Penelitian keluarga menemukan bahwa sanak saudara
derajat pertama dari penderita gangguan depresif berat berkemungkinan
2 sampai 3 kali lebih besar daripada sanak saudara derajat pertama
(Kaplan, 2010; Tomb, 2004).
2. Faktor Biokmia
Sejumlah besar penelitian telah melaporkan
berbagai kelainan di
dalam metabolit amin biogenik yang mencakup neurotransmitter
norepinefrin, serotonin dan dopamine (Gambar 2.1.4.1). Dalam
penelitian lain juga disebutkan bahwa selain faktor neurotransmitter
yang telah disebutkan di atas, ada beberapa penyebab lain yang dapat
mencetuskan timbulnya depresi yaitu neurotransmitter asam amino
khususnya GABA (Gamma-Aminobutyric Acid) dan peptida neuroaktif,
regulasi neurendokrin dan neuroanatomis (Kaplan, 2010).
Pada regulasi neuroendokrin, gangguan mood dapat disebabkan
terutama oleh adanya kelainan pada sumbu adrenal, tiroid dan hormon
pertumbuhan. Selain itu kelainan lain yang telah digambarkan pada
pasien dengan gangguan mood adalah penurunan sekresi nocturnal
melantonin, penurunan pelepasan prolaktin terhadap pemberian
tryptophan, penurunan kadar dasar FSH (Follicle Stimullating Hormon)
dan LH (Luteinizing Hormon), dan penurunan kadar testosteron pada
laki-laki (Trisdale, 2003).
Gambar 2.1.4.1. Mekanisme terjadinya depresi dengan etiologi
neurotransmitter
Ada dua hipotesis terjadinya depresi secara biokimia, yaitu:
a. Hipotesis Katekolamin 
Beberapa penyakit depresi berhubungan
dengan defisiensi katekolamin pada reseptor otak. Reserpin yang
menekan amina otak diketahui kadang-kadang menimbulkan
depresi lambat (Ingram dkk, 1993). 
Disamping itu, MHPG
(Metabolit primer noradrenalin otak) menurun dalam urin pasien
depresi sewaktu mereka mengalami episode depresi dan
meningkat di saat mereka gembira (Ingram dkk, 1993).

b. Hipotesis Indolamin
Hipotesis indolamin membuat pernyataan


serupa untuk 5- 
hidroxitriptamin (5 HT). metabolit utamnya
asam 5-hidroksi indolasetat (5HIAA) menurun dalam LCS pasien
depresi, dan 5 HIAA rendah pada otak pasien yang bunuh diri. L-
Triptofan, yang mempunyai efek antidepresi meningkatkan 5HT
otak (Ingram dkk, 1993).

3. Faktor Hormon
Kelainan depresi mayor dihubungkan dengan


hipersekresi kortisol 
dan kegagalan menekan sekresi kortisol
sesudah pemberian dexametason. Pasien depresi resisten terhadap
penekanan dexametason dan hasil abnormal ini didapatkan pada
sekitar 50% pasien, terutama pada pasien dengan depresi bipolar,
waham dan ada riwayat penyakit ini dalam keluarga (Ingram dkk,
1993). 
Wanita dua kali lebih sering dihubungkan dengan
pruerperium atau menopause. Bunuh diri dan saat masuk rumah
sakit biasanya sebelum menstruasi. Selama penyakit afektif
berlangsung sering timbul amenore. Hal ini menggambarkan
bahwa gangguan endokrin mungkin merupakan faktor penting
dalam menentukan etiologi (Ingram dkk, 1993).

4. Faktor Kepribadian Premorbid
Personalitas siklotimik menjadi


sasaran gangguan afek ringan 
selama hidupnya, keadaan ini
tidak berhubungan dengan penyebab eksterna. Kepribadian
depresi ditunjukkan dengan perilaku murung, pesimis dan kurang
bersemangat. Personalitas hipomania berperilaku lebih riang,
energetik dan lebih ramah dari rata-rata (Ismail dkk, 2010).

Mereka dengan rasa percaya diri rendah, senantiasa melihat
dirinya dan dunia luar dengan penilaian pesimistik. Jika mereka
mengalami stres besar, mereka cenderung akan mengalami
depresi. Para psikolog menyatakan bahwa mereka yang
mengalami gangguan depresif mempunyai riwayat pembelajaran
depresi dalam pertumbuhan perkembangan dirinya. Mereka
belajar seperti model yang mereka tiru dalam keluarga, ketika
menghadapi masalah psikologik maka respon mereka meniru
perasaan, pikiran dan perilaku gangguan depresif. Orang belajar
dengan proses adaptif dan maladaptif ketika menghadapi stres
kehidupan dalam kehidupannya di keluarga, sekolah, sosial dan
lingkungan kerjanya. Faktor lingkungan mempengaruhi
perkembangan psikologik dan usaha seseorang mengatasi
masalah. Faktor

pembelajaran sosial juga menerangkan kepada kita mengapa masalah


psikologik kejadiannya lebih sering muncul pada anggota keluarga dari
generasi ke generasi. Jika anak dibesarkan dalam suasana pesimistik,
dimana dorongan untuk keberhasilan jarang atau tidak biasa, maka
anak itu akan tumbuh dan berkembang dengan kerentanan tinggi
terhadap gangguan depresif (Ismail dkk, 2010).
5. Faktor Lingkungan
Enam bulan sebelum depresi, pasien depresi
mengalami lebih
banyak peristiwa dalam hidupnya. Mereka merasa kejadian ini tidak
memuaskan dan mereka keluar dari lingkungan social. 80% serangan
pertama depresi didahului oleh stress, tetapi angka ini akan jatuh
menjadi hanya 50% pada serangan berikutnya. Pasien depresi diketahui
juga lebih sering pada anak yang kehilangan orang tua di masa kanak-
kanak dibandingkan dengan populasi lainnya (Ingram dkk, 1993).
Menurut Freud, kehilangan obyek cinta, seperti orang yang dicintai,
pekerjaan tempatnya berdedikasi, hubungan relasi, harta, sakit terminal,
sakit kronis dan krisis dalam keluarga merupakan pemicu episode
gangguan depresif. Seringkali kombinasi faktor biologik, psikologik
dan lingkungan merupakan campuran yang membuat gangguan
depresif muncul (Ismail dkk, 2010).
Satu pengamatan klinis yang telah lama direplikasi adalah bahwa
peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului
episode pertama gangguan mood daripada episode selanjutnya (Kaplan,
2010; Slotten, 2004). Satu teori yang diajukan untuk menjelaskan
pengamatan tersebut adalah bahwa stress yang menyertai episode
pertama menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama.
Perubahan yang bertahan lama tersebut dapat meyebabkan perubahan
keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberi
sinyal intraneuronal. Hasil akhir dari perubahan tersebut akan
menyebabkan seseorang berada pada resiko yang lebih tinggi untuk
menderita episode gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya
stresor external (Kaplan, 2010).
E. Klasifikasi
1. Episode Depresif
Pada semua tiga variasi dari episode depresif khas yang tercantum di
bawah ini: ringan, sedang dan berat, individu biasanya menderita
suasana perasaan (mood) yang depresif, kehilangan minat dan
kegembiraan, dan berkurangnya energy yang menuju meningkatnya
keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktivitas. Biasanya ada rasa
lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja. Gejala lazim lainnya adalah
(Depkes RI, 1993):
a. Konsentrasi dan perhatian berkurang

b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang

c. Gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan pada



episode tipe ringan sekalipun)

d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis

e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

f. Tidur terganggu

g. Nafsu makan berkurang 
Suasana perasaan (mood) yang


menurun itu berubah sedikit

dari hari ke hari, dan sering kali tak terpengaruh oleh keadaan
sekitarnya, namun dapat memperlihatkan variasi diurnal yang khas
seiring berlalunya waktu. Sebagaimana pada episode manik, gambaran
klinisnya juga menunjukkan variasi individual yang mencolok, dan
gambaran tak khas adalah lumrah, terutama di masa remaja. Pada
beberapa kasus, anxietas, kegelisahan dan agitasi motorik mungkin
pada waktu-waktu tertentu lebih menonjol daripada depresinya, dan
perubahan suasana perasaan (mood) mungkin juga terselubung oleh
cirri tambahan seperti iritabilitas, minum alkohol berlebih, perilaku
histrionik, dan eksaserbasi gejala fobik atau obsesif yang sudah ada
sebelumnya, atau oleh preokupasi hipokondrik. Untuk episode depresif
dari ketiga-tiganya tingkat keparahan, biasanya diperlukan masa
sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi
periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya
dan berlangsung cepat (Depkes RI, 1993).
Beberapa di antara gejala tersebut di atas mungkin mencolok dan
memperkembangkan cirri khas yang dipandang secara luas mempunyai
makna klinis khusus. Contoh paling khas dari gejala somatik ialah
kehilangan minat atau kesenangan pada kegiatan yang biasanya dapat
dinikmati, tiadanya reaksi emosional terhadap lingkungan atau
peristiwa yang biasanya menyenangkan, bangun pagi lebih awal 2 jam
atau lebih daripada biasanya, depresi yang lebih parah pada pagi hari,
bukti objektif dari retardasi atau agitasi psikomotor yang nyata
(disebutkan atau dilaporkan oleh orang lain), kehilangan nafsu makan
secara mencolok, penurunan berat badan (sering ditentukan sebagai 5%
atau lebih dari berat badan bulan terakhir), kehilangan libido secara
mencolok. Biasanya, sindrom somatik ini hanya dianggapp ada apabila
sekitar empat dari gejala itu pasti dijumpai (Depkes RI, 1993).
F32.0 Episode depresif ringan
Suasana perasaan mood yang depresif,
kehilangan minat
dan kesenangan, dan mudah menjadi lelah biasanya dipandang sebagai
gejala depresi yang paling khas; sekurang-kurangnya dua dari ini,
ditambah sekurang-kurangnya dua gejala lazim di atas harus ada untuk
menegakkan diagnosis pasti. Tidak boleh ada gejala yang berat di
antaranya. Lamanya seluruh episode berlansung ialah sekurang-
kurangnya sekitar 2 minggu (Depkes RI, 1993).
Individu yang mengalami episode depresif ringan biasanya resah
tentang gejalanya dan agak sukar baginya untuk meneruskan pekerjaan
biasa dan kegiatan social, namun mungkin ia tidak akan berhenti
berfungsi sama sekali (Depkes RI, 1993).
F32.1 Episode depresif sedang
Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari
3 gejala yang paling
khas yang ditentukan untuk episode depresif ringan, ditambah
sekurang-kurangnya tiga (dan sebaiknya empat) gejala lainnya.
Beberapa gejala mungkin tampil amat menyolok, namun ini tidak
esensial apabila secara keseluruhan ada cukup banyak variasi
gejalanya. Lamanya seluruh episode berlangsung minimal sekitar 2
minggu (Depkes RI, 1993).
Individu dengan episode depresif taraf; sedang biasanya menghadapi
kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan
rumah tangga (Depkes RI, 1993).
F32.2 Episode depresif berat tanpa gejala psikotik
Pada episode
depresif berat, penderita biasanya
menunjukkan ketegangan atau kegelisahan yang amat nyata, kecuali
apabila retardasi merupakan ciri terkemuka. Kehilangan harga diri dan
perasaan dirinya tak berguna mungkin mencolok, dan bunuh diri
merupakan bahaya nyata terutama pada beberapa kasus berat.
Anggapan di sini ialah bahwa sindrom somatik hampir selalu ada pada
episode dpresif berat.
Semua tiga gejala khas yang ditentukan untuk episode depresif ringan
dan sedang harus ada, ditambah sekurang-kurangnya empat gejala
lainnya, dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat. Namun,
apabila gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi) menyolok, maka
pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu utnuk melaporkan banyak
gejalanya secara terinci. Dalam hal demikian, penentuan menyeluruh
dalam subkategori episode berat masih dapat dibenarkan. Episode
depresif biasanya seharusnya berlangsung sekurang-kurangnya 2
minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat,
maka mungkin dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam waktu
kurang dari 2 minggu.
Selama episode depresif berat, sangat tidak mungkin penderita akan
mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah
tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
Kategori ini hendaknya digunakan hanya untuk episode depresif berat
tunggal tanpa gejala psikotik; untuk episode selanjutnya, harus
digunakan subkategori dari gangguan depresif berulang.
F32.3 Episode depresif berat dengan gejala psikotik
Episode depresif
berat yang memenuhi kriteria menurut
F32.2 terssebut di atas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresif.
Wahamnya biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau
malapetaka yang mengancam, dan pasien dapat merasa bertanggung
jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa
suara yang menghina atau menuduh atau bau kotoran atau daging
membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.
Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi
atau tidak serasi dengan suasana perasaan (mood).
Diagnosis banding. Stupor depresif perlu dibedakan dari skizofrenia
katatonik, stupor disosiatif, dan bentuk stupor organik lainnya. Kategori
ini hendaknya hanya digunakan untuk episode depresif berat tunggal
dengan gejala psikotik; untuk episode selanjutnya harus digunakan
subkategori gangguan depresif berulang.
F32.8 Episode depresif lainnya
Episode yang termasuk di sini adalah
yang tidak sesuai
dengan gambaran yang diberikan untuk episode deprresif pada F32.0-
F32.3, meskipun kesan diagnostik menyeluruh menunjukkan sifatnya
sebagai depresi. Contohnya termasuk campuran gejala depresif
(khususnya jenis somatik) yang berfluktuasi dengan gejala non
diagnostik seperti ketegangan, keresahan dan penderitaan; dan
campuran gejala depresif somatik dengan nyeri atau keletihan
menetap yang bukan akibat penyebab organik (seperti yang kadang-
kadang terlihat pada pelayanan rumah sakit umum).
F32.9 Episode depresif YTT
F33 Gangguan Depresif Berulang
Gangguan ini tersifat dengan
episode berulang dari depresi
sebagaimana dijabarkan dalam episode depresif ringan, sedang, atau
berat, tanpa riwayat adanya episode tersendiri dari peninggian suasana
perasaan dan hiperaktivitas yang memenuhi kriteria mania dan
hiperaktivitas ringan yang memenuhi kriteria hipomania segera sesudah
suatu episode depresif (kadang-kadang tampaknya dicetuskan oleh
tindakan pengobatan depresi). Usia dari onset, keparahan, lamanya
berlangsung, dan frekuensi episode dari depresi, semuany sangat
bervariasi. Umumnya episode pertama terjadi pada usia lebih tua
dibanding dengangangguan bipolar, dengan usia onset rata-rata lima
puluhan. Episode masing-masing juga lamanya antara 3 dan 12 bulan
(rata-rata lamanya sekitar 6 bulan) akan tetapi frekuensinya lebih
jarang. Pemulihan keadaaan biasanya sempurna di antara episode,
namun sebagian kecil pasien mungkin mendapat depresi yang akhirnya
menetap, terutama pada usia lanjut (untuk keadaan ini, kategori ini
harus tetap digunakan). Episode masing-masing dalam berbagai tingkat
keparahan, seringkali dicetuskan oleh peristiwa kehidupan yang penuh
sters; dalam berbagai budaya, baik episode tersendiri maupun depresi
menetap dua kali lebih banyak pada wanita daripada pria.
Bagaimanapun seringnya seseorang pasien gangguan depresif berulang
mengalami episode depresif sebagai penderitaan, tidak mustahil
baginya akan mengalami episode manik. Jika ternyata terjadi episode
manik, maka diagnosisnya harus diubahmenjadi gangguan afektif
bipolar.
F. Gambaran Klinik
Episode depresi. Mood terdepresi, kehilangan minat dan berkurangnya
energy adalah gejala utama dari depresi. Pasien mungkin mengatakan
perasaannya sedih, tidak mempunyai harapan, dicampakkan, atau tidak
berharga. Emosi pada mood depresi kualitasnya berbeda dengan emosi
duka cita atau kesedihan yang normal(Ingram dkk, 1993).
Pasien dalam keadaan mood terdepresi memperlihatkan kehilangan
energi dan minat, merasa bersalah, sulit berkonsentrasi, hilangnya nafsu
makan, berpikir mati atau bunuh diri. Tanda dan gejala lain termasuk
perubahan dalam tingkat aktivitas, kemampuan kognitif, bicara dan
fungsi vegetative (termasuk tidur, aktivitas seksual dan ritme biologik
yang lain). Gangguan ini hampir selalu menghasilkan hendaya
interpersonal, sosial dan fungsi pekerjaan (Ismail dkk, 2010).
Adapun gambaran klinik dari pasien depresi ini antara lain (Ingram
dkk, 1993):
1. Adanya gejala psikologis berupa penurunan vitalitas umum, yang
mungkin dinyatakan pasien sebagai suatu kehilangan dan sedih.
Biasanya dia menarik diri dari kehidupan sosialnya. Segala
sesuatu kelihatannya tanpa harapan, selalu murung, ansietas
mungkin ada atau pasien mungkin mencoba untuk
menyembunyikan keluhannya (depresi senyum).

2. Variasi diurnal, dimana semua gejala cenderung memburuk pada


dini hari dan membaik di siang hari.
3. Bunuh diri, dapat menjadi tanda awal penyakit. Kemungkinan
bunuh diri sulit diduga sebelumnya, tetapi selalu harus
diperhitungkan. Pikiran bunuh diri seharusnya selalu ditanyakan
dan jika ada harus dianggap serius. Penderita depresi jarang
membunuh keluarganya, tetapi kalau terjadi biasanya karena dia
merasa harus menyelamatkan keluarganya dari kehidupan yang
sengsara.

4. Retardasi atau perlambatan berpikir biasa ditemukan dan


dicerminkan dalam pembicaraan serta pergerakannya. Ada
kemiskinan pikiran dan kesulitan berkonsentrasi. Pada kasus lain
agitasi mungkin menjadi

gejala dominan, disertai dengan adanya kegelisahan motorik yang


nyata.
5. Perasaan bersalah sering ditemukan disertai mengomeli diri
sendiri dan 
turunnya penilaian diri. Dalam kasus berat, bisa
timbul waham dimana penyakit yang dideritanya merupakan
suatu hukuman untuk dosanya di masa lampau, baik itu dosa
yang dikhayalkannya maupun kesalahan yang memang benar-
benar pernah ia lakukan. Pasien juga bisa merasa bahwa dia
dipandang rendah dan dituduh bejad oleh orang lain.
Kemungkinan ada keasyikan sendiri, hipokondriasis dan waham
hipokondria. Mungkin juga ada waham kemiskinan atau waham
nihilistik.

6. Halusinasi jarang ditemukan, tetapi dapat timbul pada kasus


berat.

7. Depersonalisasi dan derealisasi tidak jarang terjadi. Pasien


menyatakan bahwa dia kehilangan perasaan dan mempunyai
sensasi asing. Dia 
merasa tidak nyata dan baginya benda-benda
terlihat tidak nyata.

8. Pikiran dan tindakan berisi perasaan bersalah atau menyalahkan


diri 
sendiri mungkin ditemukan.
9. Insomnia sering ditemukan. Gejala khasnya pasien mula-mula
bangun 
dini hari, kemudian semakin lama semakin pagi dan
bahkan akhirnya 
dapat menjadi insomnia total.

10. Anoreksia, konstipasi, gangguan pencernaan, penurunan berat


badan, 
amenore dan kehilangan libido biasa ditemukan.
Mungkin terjadi kelelahan dan letargi, atau tanda autonom
ansietas. 
Pikiran untuk melakukan bunuh diri dapat timbul
pada sekitar dua

pertiga pasien depresi, dan 10-15% melakukan bunuh diri. Mereka


yang dirawat dirumah sakit dengan percobaan bunuh diri dan ide bunuh
diri mempunyai umur hidup lebih panjang disbanding yang tidak
dirawat. Beberapa pasien depresi terkadang tidak menyadari ia
mengalami depresi dan tidak mengeluh tentang gangguan mood
meskipun mereka menarik diri dari keluarga, teman dan aktifitas yang
sebelumnya menarik bagi dirinya. Hampir semua pasien depresi (97%)
mengeluh tentang penurunan energi dimana mereka mengalami
kesulitan menyelesikan tugas, mengalami
kendala disekolah dan pekerjaan, dan menurunnya motivasi untuk
terlibat dalam kegiatan baru. Sekitar 80% pasien mengeluh masalah
tidur, khusunya terjaga dini hari (ter minal insomnia) dan sering
terbangun dimalam hari karena memikirkan masalh yang dihadapi.
Kebanyakan pasien menunjukkan peningkatan atau penurunan nafsu
makan, demikian pula dengan bertambah dan menurunnya berat badan
serta mengalami tidur lebih lama dari yang biasa (Depkes RI, 1993).
G. Diagnosis
Konsep gangguan jiwa yang terdapat dalam PPDGJ III ini merujuk
kepada DSM-IV dan konsep disability berasal dari The ICD-10
Classification of Mental and Behavioral Disorders. Menurut PPDGJ
(2003), gangguan afektif berupa depresi dapat terbagi menjadi episode
depresif dan episode depresif berulang, dimana episode depresif sendiri
terbagi menjadi episode depresif ringan, sedang, dan berat. Sedangkan
untuk episode berulang terbagi menjadi episode berulang episode kini
ringan, episode kini sedang, episode kini berat tanpa gejala psikotik,
episode kini berat dengan gejala psikotik dan episode kini dalam
remisi.
DSM-IV mendefinisikan sejumlah gangguan psikiatrik yang dapat
diidentifikasi (meskipun ada kemungkinan tumpang tindih) dan berisi
kriteria diagnostik yang spesifik untuk setiap diagnosis. Diagnosis
dibuat berdasarkan kenyataan dari riwayat pasien yang khas dan
tampilan klinis yang cocok dan memenuhi sejumlah kriteria diagnostik
yang ditentukan (suatu diagnostik politetik, tidak perlu seluruh kriteria
dipenuhi untuk membuat diagnosa).
DSM-IV telah memperbaiki reabilitas diagnosis (kemungkinan orang
yang berbeda akan membuat diagnosis yang sama pada pasien yang
sama), tetapi hanya mempunyai dampak yang sederhana terhadap
validitas. Hal ini boleh jadi karena DSM-IV telah memecah kondisi
psikiatrik menjadi terlalu banyak bagian-bagian dan setiap bagian tidak
mewakili suatu kondisi yang sah. Walaupun DSM-IV dapat
dipergunakan lintas kultural, penggunaannya
pada situasi tertentu memerlukan kehati-hatian dalam
menginterpretasikan gejala-gejala.
Di samping kriteria yang ditentukan secara operasional, DSM-IV juga
menggunakan sistem klasifikasi multiaksial untuk menangkap
informasi penting lainnya, yaitu:
1. Aksis I : Gangguan-gangguan klinis yang digambarkan di atas.

2. Aksis II : Gangguan-gangguan kepribadian atau retardasi mental

3. AksisIII :Gangguan-gangguanfisikyangberhubungandengan

gangguan mental

4. Aksis IV : Daftar masalah psikososial dan lingkungan, bisaanya



selama setahun sebelumnya, tetapi tidak selalu demikian,
seperti tidak punya pekerjaan, perceraian, problem keuangan,
korban penelantaran anak dan lain-lain. 
DSM-IV telah
menyusun gangguan mood tambahan baik di dalam
badan teks dan didalam appendiks. Gangguan-gangguan tersebut
adalah sindrom yang berhubungan dengan depresi, berupa gangguan
depresif ringan (minor depressive diorder), gangguan depresif singkat
rekuren, dan gangguan disforik pramenstruasi. Pada gangguan depresif
ringan keparahan gejala tidak mencapai keparahan yang diperlukan
untuk diagnosis gangguan depresif berat. Pada gangguan depresif
singkat rekuren gejala episode depresif memang mencapai keparahan
gejala yang diperlukan untuk diagnosis gangguan depresif berat tetapi
hanya untuk waktu singkat, dengan lama waktu yang tidak memenuhi
kriteria diagnostik untuk gangguan depresif berat.
DSM-IV menuliskan kriteria diagnostik untuk gangguan depresif berat
secara terpisah dari kriteria diagnostik untuk diagnosis berhubungan
dengan depresi, dan juga menuliskan deskriptor keparahan untuk
episode depresif berat.
a. Depresif Berat dengan Ciri Psikotik
Adanya ciri psikotik pada gangguan depresif berat mencerminkan
penyakit yang parah dan merupakan indikator prognostik yang buruk.
b. Depresif Berat dengan Ciri Melankolik 
Kepentingan yang
potensial untuk mengenali ciri melankolik dari gangguan depresif
berat adalah untuk mengidentifikasi suatu kelompok pasien yang
dinyatakan oleh beberapa data adalah lebih responsive terhadap
terapi farmakologi daripada pasien nonmelankolik.

c. Depresif Berat dengan Ciri Atipikal
Diperkenalkannya tipe


depresi dengan ciri atipikal yang 
didefinisikan secara resmi
adaah sebagai respons terhadap penelitian dan data klinis yang
menyatakan bahwa pasien atipikal memiliki karakteristik yang
spesifik dan dapat diramalkan. Ciri atipikal klasik adalah makan
berlebihan dan tidur berlebihan.

H. Pemeriksaan
Selain dari klasifikasi yang telah dipaparkan di atas, ada beberapa
instrumen-instrumen pengukur tingkat depresi dapat digunakan untuk
membantu memberikan penilaian yang objektif terhadap kondisi
depresi yang dialami oleh pasien. Berikut ini adalah beberapa
instrumen yang sering digunakan, yaitu:
a. Beck¶s Depression Inventory

b. Hamilton Depression Scale

c. The Zung Self-Rating Depression Scale 
Beck Depression


Inventory (BDI) adalah tes depresi untuk

mengukur keparahan dan kedalaman dari gejala ± gejala depresi seperti


yang tertera dalam the American Psychiatric Association's Diagnostik
and Statistical Manual of Mental Disorders Fourth Edition (DSM-IV)
pada pasien dengan depresi klinis. BDI dapat digunakan untuk dewasa
ataupun
remaja yang berumur 13 tahun ke atascan be used for both adults and
adolescents 13 years of age and older, dan merupakan sebuah ukuran
standar dari depresi yang terutama digunakan dalam penelitian dan
untuk mengevaluasi dari efekttivitas pengobatan dan terapi.
BDI tidak dapat digunakan sebagai instrumen untuk mendiagnosis,
tetapi lebih kepada identifikasi dari adanya depresi dan tingkat
keparahannya sesuai dengan criteria dari DSM-IV. Pertanyaan-
pertanyaan yang tertera pada BDI II menilai gejala-gejala khas dari
depresi seperti gangguan mood, pesimisme, perasaan gagal,
ketidakpuasan diri, perasaan bersalah, merasa dihukum, ketidaksukaan
terhadap diri sendiri, pendakwaan terhadap diri, pikiran untuk bunuh
diri, menangis, irittabilitas, penarikan diri dari kehidupan sosial,
gambaran tubuh, kesulitan bekerja, insomnia, kelelahan, nafsu makan,
kehilangan berat badan dan kehilangan libido.
I. Diferensial Diagnosis 
Anamnesa dan pemeriksaan fisik yang
tidak cermat dan teliti pada penderita depresi, dapat
menyebabkan kesalahan diagnostik sehingga menyebabkan
terapi yang inadekuat untuk pasien. Berdasarkan
kepustakaan, ada beberapa kondisi yang harus benar-benar
diperhatikan sebagai diagnosa banding dari depresi (Kaplan,
2010), diantaranya adalah:
1. Remaja yang terdepresi harus diuji untuk mononucleosis,

2. Pasien yang terdapat kelebihan berat badan atau


kekurangan berat 
badan harus diuji untuk disfungsi
adrenal dan tiroid,

3. Homoseksual, biseksual dan pengguna zat aditif harus diuji


untuk 
sindrom imunodefisiensi sindrom (AIDS),

4. Pasien lanjut usia harus diuji untuk pneumonia virus dan


kondisi medis 
lainnya,

5. Penyakit Parkinson adalah masalah neurologis yang paling


umum 
bermanifestasi sebagai gejala depresif,

J. T erapi

Pengobatan pasien dengan gangguan mood harus diamanahkan pada


sejumlah tujuan. Pertama, keamanan pasien harus terjamin. Kedua,
pemeriksaan diagnostik yang lengkap pada pasien harus dilakukan.
Ketiga, suatu rencana pengobatan harus dimulai yang menjawab bukan
hanya gejala sementara tetapi juga kesehatan pasien selanjutnya
(Kaplan, 2010).
Dokter harus mengintegrasikan farmakoterapi dengan intervensi
psikoterapeutik. Jika dokter memandang gangguan mood pada
dasarnya berkembang dari masalah psikodinamika, ambivalensi
mengenai kegunaan obat dapat menyebabkan respons yang buruk,
ketidakpatuhan, dan kemungkinan dosis yang tidak adekuat untuk
jangka waktu yang singkat. Sebaliknya, jika dokter mengabaikan
kebutuhan psikososial pasien, hasil dari farmakoterapi mungkin
terganggu (NIMH, 2002).
1. Terapi Farmakologis
Antidepresan yang tersedia sekarang cukup bervariasi di dalam efek
farmakologisnya. Variasi tersebut merupakan dasar untuk pengamatan
bahwa pasien individual mungkin berespons terhadap antidepresan
lainnya. Variasi tersebut juga merupakan dasar untuk membedakan
efek samping yang terlihat pada antidepresan (Kaplan, 2010).
Pembedaan yang paling dasar diantara antidepresan adalah pada proses
farmakologis yang terjadi, dimana ada antidepresan yang memiliki efek
farmakodinamika jangka pendek utamanya pada tempat ambilan
kembali (reuptake sites) atau pada tingkat inhibisi enzim monoamine
oksidasi. bekerja untuk menormalkan neurotransmitter yang abnormal
di otak khususnya epinefrin dan norepinefrin. Antidepresan lain bekerja
pada dopamin. Hal ini sesuai dengan etiologi dari depresi yang
kemungkinan diakibatkan dari abnormalitas dari sistem
neurotransmitter di otak (NIMH, 2002). Obat antidepresan yang akan
dibahas adalah antidepresi generasi pertama (Trisiklik dan MAOIs),
antidepresi golongan kedua (SSRIs) dan antidepresi golongan ketiga
(SRNIs) (Arozal, 2007).
a. Trisiklik
Trisiklik merupakan antidepresan yang paling umum digunakan
sebagai pengobatan lini pertama untuk gangguan depresif berat
(Kaplan, 2010). Golongan trisiklik ini dapat dibagi menjadi beberapa
golongan, yaitu trisiklik primer, tetrasiklik amin sekunder
(nortriptyline, desipramine) dan tetrasiklik tersier (imipramine,
amitriptlyne). Dari ketiga golongan obat tersebut, yang paling sering
digunakan adalah tetrasiklik amin sekunder karena mempunyai efek
samping yang lebih minimal. Obat golongan tetrasiklik sering dipilih
karena tingkat kepuasan klinisi dikarenakan harganya yang murah
karena sebagian besar golongan dari obat ini tersedia dalam formulasi
generik (Kaplan, 2010).
Golongan obat trisiklik bekerja dengan menghambat reuptake
neurotransmitter di otak. Secara biokimia, obat amin sekunder diduga
bekerja sebagai penghambat reuptake norepinefrin, sedangkan amin
tersier menghambat reuptake serotonin pada sinaps neuron.hal ini
mempunyai implikasi bahwa depresi akibat kekurangan norepinefrin
lebih responsive terhadap amin sekunder, sedangkan depresi akibat
kekurangan serotonin akan lebih responsive terhadap amin tersier
(Arozal, 2007).
b. MAOIs (Monoamine Oxidase Inhibitors)
MAOIs telah digunakan
sebagai antidepresan sejak 15 tahun
yang lalu. Golongan ini bekerja dalam proses penghambatan deaminasi
oksidatif katekolamin di mitokondria, akibatnya kadar einefrin,
noreprinefrin dan 5-HT dalam otak naik (Arozal, 2007). Obat ini
sekarang jarang digunakan sebagai lini pertama dalam pengobatan
depresi karena bersifat sangat toksik bagi tubuh. Selain karena dapat
menyebabkan krisis hipertensif akibat interaksi dengan tiramin yang
berasal dari makanan-makanan tertentu seperti keju, anggur dan acar,
MAOIs juga dapat menghambat enzim-enzim di hati terutama sitokrom
P450 yang akhirnya akan mengganggu metabolisme obat di hati.
(Kaplan, 2010).
d.
c. SSRIs (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors)
SSRIs adalah jenis
pengobatan yang juga menjadi pilihan
lini pertama pada gangguan depresif berat seain golongan trisiklik
(Kaplan, 2010). Obat golongan ini mencakup fluoxetine, citalopram
dan setraline. SSRIs sering dipilih oleh klinisi yang pengalamannya
mendukung data penelitian bahwa SSRIs sama manjurnya dengan
trisiklik dan jauh lebih baik ditoleransi oleh tubuh karena mempunyai
efek samping yang cukup minimal karena kurang memperlihatkan
pengaruh terhadap sistem kolinergik, adrenergik dan histaminergik.
Interaksi farmakodinamik yang berbahaya akan terjadi bila SSRIs
dikombinasikan dengan MAOIs, karena akan terjadi peningkatan efek
serotonin secara berlebihan yang disebut sindrom serotonin dengan
gejala hipertermia, kejang, kolaps kardiovaskular dan gangguan tanda
vital (Arozal, 2007).
SNRIs (Serotonin and Norepinephrine Inhibitors )
Golongan
antidepresan SNRIs bekerja dengan mekanisme yang
hampir sama dengan golongan SSRIs, hanya saja pada SNRIs juga
menghambat dari reuptake norepinefrin (NIMH, 2002).
Selain dari golongan obat yang telah dibahas sebelumnya, masih ada
beberapa alternatif yang digunakan untuk terapi medikamentosa pada
pasien depresi dengan keadaan tertentu. Hal tersebut dapat terlihat lebih
jelas pada gambar di bawah ini (Mann, 2005).
Gambar 2.1.10.1 Pilihan obat-obatan antidepresan pada lini pertama
e. Terapi Non Farmakologis
Tiga jenis psikoterapi jangka pendek
yang digunakan dalam
pengobatan depresif berat adalah terapi kognitif, terapi interpersonal
dan terapi perilaku (Kaplan, 2010). NIMH (2002) telah menemukan
predictor respons terhadap berbagai pengobatan sebagai berikut ini : (1)
disfungsi sosial yang rendah menyatakan respons yang baik terhadap
terapi interpersonal, (2) disfungsi kognitif yang rendah menyatakan
respons yang baik terhadap terapi kognitif-perilaku dan farmakoterapi,
(3) disfungsi kerja yang tinggi mengarahkan respons yang baik
terhadap farmakoterapi, (4) keparahan depresi yang tinggi menyatakan
respons yang baik terhadap terapi interpersonal dan farmakoterapi.
Pada awalnya, terapi ini dikembangkan oleh Aaron Beck yang
memusatkan pada distorsi kognitif yang didalilkan ada pada
gangguan depresi berat. Tujuan terapi ini untuk menghilangkan episode
depresif dan mencegah rekurennya dengan membantu pasien
mengidentifikasi dan uji kognitif negatif (Kaplan, 2010).
Terapi interpersonal dikembangkan oleh Gerald Klerman, memusatkan
pada satu atau dua masalah interpersonal pasienyang sedang dialami
sekarang, dengan menggunakan dua anggapan: pertama, masalah
interpersonal sekarang kemungkinan memiliki akar pada hubungan
awal yang disfungsional. Kedua, masalah interpersonal sekarang
kemungkinan terlibat di dalam mencetuskan atau memperberat gejala
depresif sekarang (Kaplan, 2010).
K. Prognosis
Gangguan mood cenderung memiliki perjalanan penyakit yang panjang
dan pasien cenderung mengalami kekambuhan. Episode depresif yang
tidak diobati berlangsung 6 sampai 13 bulan, sementara sebagian besar
episode yang diobati berlangsung kira-kira 3 bulan. Menghentikan
antidepresan sebelum 3 bulan hampir selalu menyebabkan kembalinya
gejala (Kaplan, 2010).
Pasien yang dirawat di rumah sakit untuk episode pertama gangguan
depresif berat memiliki kemungkinan 50% untuk pulih dalam tahun
pertama. Banyak penelitian telah berusaha untuk mengidentifikasi
indikator prognostik yang baik dan buruk di dalam perjalanan
gangguan depresif berat. Episode ringan, tidak adanya gejala psikotik,
fungsi keluarga yangstabil, tidak adanya gangguan kepribadian, tinggal
dalam waktu singkat di rumah sakit dalam waktu yang singkat, dan
tidak lebih dari satu kali perawatan di rumah sakit adalah indikator
prognostik yang baik. Prognosis buruk dapat meningkat oleh adanya
penyerta gangguan distimik, penyalahgunaan alkohol dan zat lain,
gejala gangguan kecemasan, dan riwayat lebih dari satu episode
sebelumnya. (Kaplan, 2010).
L. DepresipadaAnak-anakdanRemaja
Fobia sekolah dan sifat manja pada orangtua yang berlebihan mungkin
merupakan gejala depresi pada anak-anak. Prestasi akademik yang
buruk,
penyalahgunaan zat, perilaku antisosial, promiskuitas seksual,
membolos, dan melarikan diri mungkin dapat menjadi gejala depresi
pada remaja (Kaplan, 2010).
M. Depresi pada Lanjut Usia
Depresi lebih sering terjadi pada lanjut usia dibandingkan populasi
umum. Berbagai penelitian telah melaporkan angka prevalensi
terentang dari 25 sampai 50%. Sejumlah penelitian melaporkan bahwa
depresi pada lanjut usia mungkin berhubungan dengan status
sosioekonomi rendah, kematian pasangan, penyakit fisik yang
menyertai, dan isolasi sosial (Kaplan, 2010).