Anda di halaman 1dari 3

Commissioning

Commissioning adalah rangkaian aktivitas dalam rangka pengujian kemampuan / kehandalan


peralatan yang diinstal dan dioperasikan sesuai dengan desain yang telah ditetapkan. Dalam hal
ini kita akan membahas commissioning pada sebuah pabrik. Comissioning sendiri tidak terbatas
pada proyek utuh satu pabrik namun juga meliputi modifikasi sebagian. Berbeda dengan pada
tahapan precommissioning dimana pengetesan dilakukan di masing – masing alat secara terpisah.
Saat commissioning, pengujian dilakukan dengan cara mengoperasikan seluruh alat pabrik
dijalankan secara bersamaan dan berhubungan satu sama lain. Saat commissioning ini raw
material sudah diolah menjadi produk.

Tugas utama seorang Process engineer / Commissioning engineer adalah sebagai berikut:

1. Memastikan Pabrik siap untuk commissioning ditandai dengan completion document.


2. Mempersiapkan procedure commissioning.
3. Membuat dan melaksanakan Pre Start up Safety Review (PSSR).
4. Membuat jadwal dan skenario / sequence commissioning (start up hingga performa test).
5. Melaksanakan scenario commissioning dan memastikan sesuai dengan jadwal.
6. Melakukan troubleshooting bila ada masalah proses.
7. Memonitoring data – data operasional / data proses.
8. Membuat perbandingan antara data proses, dan data desain sebagai hasil performa alat.
9. Membuat laporan commissioning kepada client hingga tercapainya Operating
Acceptance.

Tanggung jawab diatas akan lebih lanjut dijabarkan seperti berikut:

Pre Start up Safety Review (PSSR)

Pre start up safety review merupakan sebuah safety yang ditinjau dari sisi proses operasi dalam
suatu pabrik. Artinya resiko yang ditelaah adalah dari system pemrosesan itu sendiri. Oleh
karena itu penurunan resiko dengan melakukan tindakan preventif ditujukan kepada system
produksi pabrik. Pembahasan didalam PSSR diantaranya adalah mark up P&ID, man power
readiness, monitoring logsheet, check list, cause & effect, Training, Prosedur commissioning,
MSDS, dokumen Hazop dan JSA.

Seluruh dokumen ini dikumpulkan jadi dalam fdokumen PSSR yang akan di review oleh pihak
client yeng kemudian akan diberikan approval sebagai kesiapan start up.

Tahapan / Sequence Start up

Untuk menjalankan aktifitas commissioning tidak sekaligus peralatan dijalankan secara


bersamaan dalam satu waktu. Hal ini bergantung pada fungsi dan tujuan masing – masing alat,
sehingga bisa ditentukan scenario dalam start up saat commissioning.

Sebagai contoh unit dari sebuah pabrik utility, misalnya unit penyedia air bersih harus dilakukan
start up lebih dahulu. Kemudian unit boiler dilakukan start up hingga bisa menghasilkan steam
secara normal. Selain itu juga penyedia energy dan plant air (udara pabrik) juga harus start up
lebih dahulu. Apabila energy dan utility sudah secara normal mensuplai unit proses, baru
kemudian unit proses dilakukan start up. Di unit proses, start up dimulai dari unit recovery dan
terakhir adalah start up unit proses utama dalam sebuah pabrik.

Monitoring Data Proses

Monitoring data dari perlatan di catat dalam bentuk monitoring logsheet. Data setiap harinya
secara berkala dicatat oleh operator. Disamping itu data – data secara online juga dikumpulkan
dari DCS yang dikoneksikan dengan server. Bila menggunakan DCS Yokogawa aplikasi tersebut
dalam bentuk Exaquantum, sedangkan bila menggunakan DCS Honeywell software dari aplikasi
ini biasa disebut PHD. Berdasarkan data- data tersebut semua dikumpulkan dan dianalisa
fenomena proses dari pabrik tersebut. Data – data di setiap alat yang perlu diambil adalah proses
variable seperti:

 Pressure (Tekanan)
 Level (Ketinggian)
 Flow (Aliran)
 Temperature (Suhu).

Disamping itu data seperti vibrasi, rpm yang berkaitan dengan peralatan juga perlu dikumpulkan
sebagai bahan pengkajian performa tes.

Gambar di bawah ini merupakan contoh data monitoring untuk Waste Water Treatment Plant.
Data yang diambil adalah monitoring kondisi COD dan MLSS.

Process Troubleshooting

Data – data proses yang dicatat setiap harinya selalu menunjukkan fenomena yang berbeda.
Dalam hal pengamatan data ini kita bagi menjadi kondisi normal dan kondisi abnormal. Apabila
terjadi kondisi abnormal pada variable proses dan berpotensi mengganggu kestabilan pabrik atau
abnormalnya produk, maka process / commissioning engineer harus memberikan acuan dan
keputusan agar kondisi kembali normal.
Gambar diatas adalah contoh terjadinya abnormal kondisi yang harus dilakukan tindakan
perbaikan. Misalnya saja data COD yang naik secara signifikan. Kemudian juga data MLSS
yang turun secara drastis keluar range.

(Muflikh Marsetyo)