Anda di halaman 1dari 17

PENDAHULUAN

Sebelum melakukan pendirian dan pengelolaan Apotek, perlu dilakukan


perencanaan terlebih dahulu. Satu hal yang sangat penting dalam perencanaan
Apotek adalah studi kelayakan, yaitu suatu rancangan secara komprehensif segala
sesuatu tentang rencana pendirian Apotek baru untuk dapat melihat kelayakan
usaha baik ditinjau dari pengabdian profesi maupun dari sisi ekonominya.
Apotek merupakan suatu institusi yang memiliki dua fungsi, yang pertama
sebagai unit pelayanan kesehatan (non profit orieted) dan yang kedua sebagai
institusi bisnis (profit oriented). Dalam fungsinya sebagai unit pelayanan
kesehatan, fungsi Apotek adalah penyedia obat-obatan yang dibutuhkan oleh
masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan optimal. Dari fungsi yang pertama
ini, maka Apotek harus hadir dalam wadahnya yang sangat sosial, penuh nilai
etika dan nilai moral. Sedangkan fungsinya yang kedua yaitu sebagai institusi
bisnis, Apotek lebih mengutamakan keuntungan, dan ini dapat dimaklumi
mengingat investasi yang ditanam pada pendirian dan operasionalisme Apotek
juga tidak sedikit.
Menurut peraturan pemerintah (PP) No. 25 Tahun 1965, apotek adalah
sutau tempat di mana dilakukan usaha-usaha dalam bidang farmasi dan pekerjaan
kefarmasian. Seiring dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat, definisi
ini kemudian diperbaharui dengan PP No. 25 Tahun 1980 dan Permenkes No.
922 / Menkes / Per / X / 1993. Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat
dilakukan pelayanan kefarmasian dan penyaluran perbekalan fasmasi kepada
masyarakat.

PENDIRIAN APOTEK

Prosedur pertama untuk membuka Apotek adalah menghubungi Kantor


Wilayah Departemen Kesehatan Republik Indonesia Propinsi / DI, untuk
mendapatkan infomasi lokasi mana yang masih terbuka untuk membuka Apotek.

1
LOKASI APOTEK

Menurut keputusan Menkes No 278/1981 tentang persyaratan Apotek,


lokasi Apotek harus mempertimbangkan segi penyebaran dan pemerataan
pelayanan kesehatan, jumlah penduduk, jumlah dokter yang berpraktek, sarana
pelayanan kesehatan, hygiene lingkungan, dan faktor lainnya.
Menurut hasil survey IAFI DKI JAya, lokasi Apotek sebaiknya berada di :
 Daerah yang ramai
 Daerah yang aman
 Daerah yang dekat dengan rumah sakit/klinik
 Daerah yang sekiranya ada beberapa dokter yang berpraktek
 Daerah yang mudah dijangkaui, mudah dicapai oleh masyarakat banyak
dengan kendaraan.
 Daerah yang cukup padat penduduknya dan mampu
Dalam memilih lokasi Apotek harus juga mempersiapkan surat
permohonan persetujuan lokasi kepada kepala kantor wilayah departemen
kesehatan RI dengan memakai formulir khusus yang dapat diminta di kantor
wilayah setempat. Formulir tersebut dilengkapi dengan lampiran satu berkas yang
terdiri dari :
 Gambar denah lokasi Apotek baru
 Surat keterangan dari kepala kelurahan-kecamatan dimana terletak Apotek
baru
 Surat keterangan (rekomendasi) dari BPC-ISFI dimana kita berdomisili.

BANGUNAN APOTEK
Berdasarkan surat keputusan menteri kesehatan RI no 278/Men
Kes/SK/V/1981 tentang persyaratan Apotek tertanggal 30 Mei 1981 ditulis
bahwa :
1. Luas bangunan Apotek minimal 50 m2 terdiri dari :
- Ruang tunggu

2
- Ruang peracikan dan penyerahan obat
- Ruang administrasi
- Ruang laboratorium pengujian sederhana
- Ruang penyimpanan obat
- Tempat pencucian alat
- Jamban/WC
2. Bangunan Apotek harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
- Atap dari genteng/sirap/bahan lain dan tidak boleh bocor
- Dinding harus kuat, pojok tidak siku atau melengkung dan tahan
air, dan permukaan dalam usaha rata, tidak mudah mengelupas dan mudah
dibersihkan.
- Langit-langit (plafon) terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak
dan berwarna terang.
- Lantai/ubin/semen/bahan lain dan tidak lembab
- Harus berventilasi dan mempunyai sanitasi yang baik.
3. Perlengkapan yang harus ada pada sebuah Apotek yaitu :
- Sumber air yang memenuhi persyaratan kesehatan
- Penerangan yang cukup
- Alat pemadam kebakaran minimal dua buah yang masih berfungsi
dengan baik
- Papan nama dari papan/seng/bahan lain yang bagian muka Apotek
(minimal 60 cm x 40 cm dengan tinggi huruf 5 cm dan tebal 5 mm) dan
harus membuat : nama Apotek, nama APA, nomor SIA, alamat Apotek dan
No. Telepon.

LAY OUT
Yang dimaksud dengan layout Apotek disini adalah letak susunan tata
ruang di sebuah Apotek, dimana sebaiknya ruang tunggu, ruang racikan, ruang
Apoteker, ruang penyimpanan obat-obatan (gudang), ruang tata usaha, ruang
untuk menerima para verkoper (salesman) serta dimana sebaiknya WC itu berada.

3
INTERIOR APOTEK
Yang dimaksud interior Apotek adalah ruang dalam Apotek terutama di
ruang tunggu.
Dalam ruang tunggu ini umumnya terdapat kursi-kursi tamu untuk para
pasien / konsumen menunggu sambil duduk-duduk. Sedapat mungkin ruang
tunggu itu seluas mungkin dan hanya digunakan untuk tempat pasien menunggu
saja, bebas dari keluar masukknya orang lain dari luar ke dalam maupun dari
dalam keluar.
 Berilah ventilasi agar ada aliran udara segar atau pakailah ruang ber-AC,
bila memungkinkan.
 Berilah penerangan lampu yang terang, tapi tidak menyebarkan panas.
 Berilah warna menyejukan sehingga memberi kesan, segar, bersih dan
terang.
 Agar merasa nyaman, berilah tanaman-tanaman hijau yang tahan hidup
dalam ruangan dalam.
 Tambahkan sound sistem dengan lagu yang sayup-sayup/nyanyian klasik.
 Tambahkan TV, koran atau majalah supaya mereka merasa betah
menunggu.
 Sediakan tempat minum dengan gelas, bila memungkinkan.

4
Rencana akan dibuat satu Apotek yang terletak dijalan Kaliurang Km. 8
untuk itu perlu kiranya melihat peluang pasar yang mungkin dengan melihat
saingan bisnis terdekat yang menjadi saingan bisnis ini nantinya. Untuk tujuan itu
akan diadakan survei mengenai 6 Apotek dan 1 toko obat, yang ada disekitar
lokasi rencana pembangunan, rencananya Apotek ini akan diberi nama Apotik
“SS” (senyum sehat).
Gambaran fisik apotek “SS” / SENYUM SEHAT
 Lokasi : jakal km. 8 / strategis
 Dekat dengan perumahan dokter berpraktek ( 5 dokter )
 Apoteker 1 orang / seragam khusus
 Apoteker pendamping 1 orang / seragam khusus
 Asisten apoteker 2 orang / seragam
 Parkir luas

I.Gambaran Fisik Saingan Bisnis apotek lain :


A. Apotek Kentungan
 Lokasi : Jakal Km. 6
 Petugas tidak memakai seragam.
 Jumlah Apoteker: 1
 Jumlah Asisten Apoteker: 6
 Terdapat tempat praktek dokter
 Tidak ada klinik dan laboratorium
 Terdapat tempat parkir yang luas.
B. Apotek Tina Farma
 Lokasi : Jakal Km. 6,2
 Petugas memakai seragam
 Jumlah Apoteker: 1

5
 Jumlah Asisten Apoteker: 4
 Terdapat tempat praktek dokter
 Tidak ada klinik dan laboratorium
 Terdapat tempat parkir cukup luas
C. Apotek Astuti
 Lokasi: Jakal Km. 6,2
 Petugas memakai seragam
 Jumlah Apoteker: 1
 Jumlah Asisten Apoteker: 4
 Terdapat tempat praktek dokter
 Ada klinik dan laboratorium.
 Terdapat teempat praktek dokter
 Ada klinik dan laboratorium
 Terdapat tempat parkir cukup luas
D. Apotek Kolombo Indofarma
 Lokasi: Jalak Km. 7,0
 Petugas memakai seragam kadang tidak
 Jumlah Apoteker: 1
 Jumlah Asisten Apoteker: 2
 Terdapat tempat praktek dokter
 Tidak ada klinik dan laboratorium
 Terdapat tempat parkir kurang yang memadai
E. Apotik, Klinik, Laboratorium dan Rumah Bersalin
 Lokasi: Jakal Km. 9,3
 Petugas tidak memakai seragam
 Jumlah Apoteker: 1
 Jumlah Asisten Apoteker: 2
 Terdapat tempat praktek dokter
 Ada klinik dan laboratorium

6
 Terdapat tempat parkir luas

7
STUDI KELAYAKAN (Feasbility Study)

Apabila akan membuka Apotek di suatu lokasi tertentu, sesudah survey


lokasi, maka harus mengadakan study kelayakan sebagai berikut :
1. Modal
Kebutuhan modal terbagi atas modal tetap, modal operasional dan cadangan
modal. Secara terperinci adalah sebagai berikut :
a. Modal tetap
1. Perlengkapan (mebel,
almari pendingin) Rp. 15.000.000,00
2. Perlengkapan Apotek
Rp. 5.000.000,00
3. Kendaraan roda dua
Rp. 10.000.000,00
4. Biaya perijinan Rp.
1.000.000,00
b. Modal operasional
Rp. 150.000.000,00
c. Cadangan modal
Rp. 5.000.000,00
Total modal Rp. 190.000.000,00
2. Rencana anggaran dan
pendapatan Tahun I
a. Biaya rutin perbulan
tahun I
1. APA (1 orang) Rp. 800.000,00
2. Apoteker pendamping (1 orang) Rp. 700.000,00
3. AA (2 orang) Rp. 900.000,00
Total Rp. 2.400.000,00
4. Biaya sewa rumah Rp. 500.000,00
5. Penyusutan Rp. 50.000,00

8
6. Biaya lain-lain
a.Listrik, air, telepon, koran Rp 200.000,00
b. Administrasi Rp. 50.000,00
c.Gula, teh (konsumsi) Rp. 50.000,00
Total Rp. 300.000,00
Biaya keseluruhan Rp. 3.250.000,00

b. Biaya rutin Tahun I


1. Biaya rutin bulan x 12
Rp. 3.250.000,00 x 12 = Rp. 39.000.000,00
2. THR (1 bulan gaji)
Rp. 2.400.000,00
Total biaya rutin 1 tahun Rp. 41.400.000,00
c. Proyeksi pendapatan
Tahun I
Pada tahun diproyeksikan resep masuk 30 lembar perhari dengan
harga perlembar rata-rata diperkirakan Rp. 20.000,00. Dengan
demikian akan diperoleh pendapatan pada Tahun I sebagai berikut :
1. Penjualan obat resep
Tahun I
26 x 30 x 12 x Rp. 20.000,00 = Rp. 187.200.000,00
2. Penjualan obat bebas
200.000 x 26 x 12 = Rp. 62.400.000,00
3. Bunga Bank = Rp.
5.000.000,00
Total Rp. 254.600.000,00
d. Pengeluaran rutin
Tahun I
1. Pembelian obat resep
(75% x penjualan obat resep) = Rp. 140.400.000,00

9
2. Pembelian obat bebas
(90% x penjualan obat bebas) = Rp. 56.160.000,00
3. Pengeluaran rutin
Tahun I
Pengeluaran rutin Tahun I = Rp. 41.400.000,00
Total Rp. 237.960.000,00
e. Perkiraan Rugi Laba
Tahun I
1. Pemasukan Tahun I
Rp. 254.600.000,00
2. Pengeluaran Tahun I
Rp. 237.960.000,00
Laba kotor Rp. 16.640.000,00
Bonus untuk karyawan 15 % Rp. 1.664.000,00
Laba sebelum pajak Rp. 14.976.600,00
Pajak pendapatan (15 %) Rp. 2.246.400,00
Laba bersih Rp. 12.729.600,00
f. Perhatian BEP Tahun I
1. Aliran kas masuk = laba netto + biaya
tetap
= Rp.12.729.600,00 + Rp. 41.400.000,00
= Rp. 54.129.600,00
2. Pay Back periode
total investasi Rp
.185
.
000
.000
,
00
Pay Back periode = =
Laba bersih Rp
.13.
664
.
500
,
00
= 14,9 tahun
Laba bersih Rp
. 13
.
664
.500
,
00
3. ROI x 100 %  = x100
%
totalinvestasi Rp.185
.000
.
000
,00
= 6,7 %
Jika diperkirakan ada peningkatan laba netto 20% pertahun sampai
5 tahun. Maka ROI akan berubah sebagai berikut :

10
 Setelah 5 tahun : laba
netto = Rp. 34.001.650,00
 ROI = Rp.
34.001.650,00
= Rp. 185.000.000,00
= Rp. 18,4 %
 Pay Back Periode
= 5 tahun
 BEP per tahun
1
BEP = x Bi te

1
(
bia
var
i
/pen
ab
t an y

1
BEP  xBiaya
teta
1
(
Rp
.
143
.
208
.
000
/
187
.
520
.
000
)

1.
208
10
.
333
/
tahun

9
.184
.
027
/
bulan

Biaya tetap
Persentase BEP  x 100 %
pendapa tan  biaya tidak tetap 
26 . 450 . 000

187 . 520 . 000  143 . 208 . 000 
 59 , 7 %
KapasitasBEP = Prosentase BEP x Jumlah lembar resep pertahun
= 69,7 % x 9360
= 5588 Lembar resep pertahun
= 18 Lembar resep perhari

Beberapa faktor yang harus diperhatikan sebelum mendirikan Apotek ialah:


1. Lokasi
2. Perundang-undangan farmasi dan ketentuan lainnya
3. Pembelian
4. Penyimpanan barang atau pergudangan
5. Penjualan, yang terpenting ialah kalkulasi harga atas resep Dokter

11
6. Administrasi, menyangkut pula laporan-laporan
7. Keuangan, termasuk perpajakan
8. Manajemen personalia
9. Evaluasi pada akhir tahun
1. Lokasi
Banyak faktor yang digunakan sebagai faktor yang digunakan sebagai
dasar pertimbangan pada umunnya adalah:
Pasar, merupakan masalah yang tidak boleh diabaikan dan pula faktor
pembeli harus diperhitungkan dahulu.
2. Perundang-undangan farmasi dari Menkes dan ketentuan lain, yaitu:
a. Undang-Undang RI No. 23 th, 1992 tentang Kesehatan.
b. Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 1980 tentang Apotek
(Perubahan atas PP No. 26 tahun 1965)
c. Peraturan Menteri Kesehatan No. 922 / Menkes / Per / X / 1993
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian izin Apotek.
d. Ketentuan lainnya.
Persyaratan pendirian suatu apotek hendaklah memperhatikan ketentuan
PerMenKes No. 992 tahun 1993, yaitu:
1. Persyaratan sebagai Apoteker pengelola apotek
2. Persyaratan apotek
3. Tata cara pemberian izin apotek
4. Perbekalan kesehatan, perbekalan administrasi dan sebagainya.
Setelah hal tersebut dipenuhi baru kegiatan di dalam suatu apotek dipenuhi.
3. Pembelian
Berhasil tidaknya tujuan usaha banyak tergantung pada kebijaksanaan
pembelian. Cara melakukan pembelian dapat dilakukan antara lain sebagai
berikut:
a. Pembelian dalam jumlah terbatas (Hand to mouth buying)
Pembelian dilakukan sesuai dengan kebutuhan dalam jangka waktu
pendek, misalnya satu minggu. Pembelian ini dilakukan bila modal
terbatas dan PBF berasa dalam jarak jauh dari apotek, misalnya satu kota

12
dan selalu siap dapat segera melayani kebutuhan obat dan segera obatnya
dapat dikirim.
b. Pembelian secara spekulasi
Pembelian ini dilakukan dalam jumlah yang lebih besar dari
kebutuhan, dengan harapan akan ada kenaikan harga dalam waktu dekat
atau karena ada diskon atau bonus, meskipun apabila spekulasinya benar
dapat untung besar, tetapi cara ini mengandung resiko mengenai rusak dan
kadaluwarsa.
c. Pembelian berencana
Cara pembelian ini erat hubungan dengan pengendalian persediaan
barang. Pengawasan stok obat/barang dagangan penting sekali dengan
demikian dapat diketahui mana yang laku keras dan mana yang kurang
laku hal ini dapat dilihat pada kartu stok. Selajutnya dapat dilakukan
perencanaan pembelian sesuai dengan kebutuhan per item. Pengendalian
persediaan barang dapat dilakukan dengan beberapa macam cara antara
lain:
i. Membandingkan jumlah pembelian dengan penjualan tiap bulan.
Agar stok obat di gudang tetap maka penentuan pembelian supaya
diatur agar stok jangan berkurang atau stok jadi menumpuk.

ii. Kartu gudang, untuk mencatat mutasi barang per item. Jadi tiap
obat/item mempunyai kartu tersendiri. Kartu gudang ini disimpan di
dalam gudang. Selain tersebut digunakan pula, kartu persediaan
kantor, disimpan di dalam kantor, sebagai kontrol terhadap kartu
gudang. Dengan melihat dan mengetahui mutasi obat pada kartu
gudang, maka dapat dilihat jelas hubungan antara pengawasan
obat/dagangan di gudang dengan pembelian yang akan dilakukan.
Selain tersebut dikenal pula cara pengawasan sebagai berikut:
iii.Cara pembelian yang ekonomis, dengan memakai rumus:

13
E.O.Q =

√ 2xRxS
P x1
E.O.Q = Economic Order Quatity
R = jumlah kebutuhan dalam 1 tahun (2 000 unit)
P = harga barang per unit
S = biaya memesan barang per 1 kali pesanan
1 = % dari harga persediaan rata-rata (biaya gudang, asuransi dan
lain-lain) = biaya inventory (variabel).
4. Penyimpanan obat atau pergudangan
Obat atau dagangan yang sudah dibeli tidak semuanya langsung dapat
dijual. Oleh karena itu harus disimpan dalam gudang dahulu dengan tujuan
antara lain supaya: aman atau tidak hilang, tidak mudah rusak, dan mudah
diawasi.
5. Berbagai Kegiatan apotik yang perlu diperhatikan ialah:
a. Tata ruang apotek (lay out)
b. Macam penjualan di Apotek :
i. penjualan obat melalui resep
ii. penjualan umum atau penjualan obat bebas, obat bebas terbatas dan
obat OWA atas petunjuk Apoteker. Penjualan umum ini perlu
pemberian informasi atau penjelasan secara profesional mengenai cara
penggunaan obatnya. Penjualan dilakukan dengan nota.
iii. penjualan alat kesehatan, laboratorium, bahan kimia p.a
iv. penjualan kepada dokter/poliklinik dan langganan (kredit)
v. pemberian harga untuk resep racikan dan resep obat jadi (paten).
vi. Penunjang penjualan yang perlu diperhatikan (promosi).

6. Administrasi
Yang bisa dilakukan apotek meliputi antara lain :
a. Administrasi, meliputi : agenda/mengarsipkan surat masuk dan
keluar, pengetikan laporan-laporan.

14
b. Pembukuan : keluar dan masuknya uang disertai bukti-bukti
pengeluaran dan pemasukan.
c. Administrasi penjualan : resep, bebas, langganan dan pembayaran
secara tunai atau kredit.
d. Administrasi pergudangan.
e. Administrasi pembelian.
f. Administrasi piutang.
g. Administrasi kepegawaian.
7. Keuangan
Bendahara mengontrol dan menerima setoran di bagian muka apotek
mengenai hasil penjualan tunai dan administrasi piutang hasil tagihan piutang.
Kontrol pemasukan uang, bendahara dibantu administrasi mengontrol
tagihan piutang dan dari penjualan tunai harian, pengontrolan dapat
menggunakan alat kas register. Mengadakan evaluasi hasil penjualan dan
pencatatan dilakukan secara efektif dan efisien tapi mudah, sederhana dan
reable terhadap masalah keuangan. Bendahara tidak berhak mengeluarkan
uang tanpa ada persetujuan dari atasan, tugasnya adalah menerima dan
mencatat uang masuk.
Pengeluaran uang dapat berupa : pembayaran hutang dagang dan
pembayaran biaya disertai bukti yang syah dan kontrol oleh pemimpin.

8. Manajemen personalia
Apotek harus dikelola oleh seorang apoteker yang profesional. Dalam
pengelolaan apotek apoteker harus senantiasa memiliki kemampuan
menyediakan dan memebarikan paleyanan yang baik, mengambil keputusan
yang tepat, mampu berkomunukasi antar profesi, menempatkan diri sebagai
pimpinan dalam situasi multi disipliner, kemampuan mengelola sdm secara
efektif, selalu belajar sepanjang karier dan membantu memberi pendidikan
dan membri peluang untuk meningkatkan pengetahuan.

15
9. Evaluasi Apotek pada akhir tahun
Disni untuk mengetahui perubahan perubahan baik peningkatan atau
penurunan kualitas apotek baik dari segi tangible ataupun untangible, apakah
kualitas pelayanan sudah bagus, ada tidaknya keluhan pelanggan, ruangan ada
yang rusak atau perlu diganti, mungkin perlu penambahan sarana tertentu
untuk meningkatkan pelayanan.
10. Analisa Finansial di Apotek
Dalam mengadakan analisa finansiil di apotek digunakan :
a. Untuk kelangsungan hidup apotek dengan analisa BEP = Break
Even Point.
b. Untuk perkembangan apotek digunakan analisa ”Return on
Investament” (ROI).

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., 1998, Manajemen Farmasi, gadjah Mada university Press, Yogyakarta,
hal. 144-130.
Hartono, Hdw., 1987, Manajemen Apotek, hal 23-25-120.

GAMBAR 1

LAYOUT APOTEK “S S” SENYUM SEHAT

16
B2 B C A=ADMINISTRASI
OBAT,KASIR
D B=PENYIMPANAN
A B2=PERACIKAN
C=MCK
E
D=KONSELING
PARKIR AREA
E=R.TUNGGU

CONTOH PAPAN DEPAN APOTEK “S S” SENYUM SEHAT

APO TEKER

Riyanto, MSi.,Apt.
APOTEK “S-S”
“SENYUM SEHAT”

J L.KALIURANG KM. 8 SLEMAN, J OGJ AKARTA

no telp. : 0274-555444/0888999111
bisa lewat SMS /Hub. Langsung.

17