Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

PEMBAHASAN

Pasien datang dengan keluhan tidurnya ngorok, didengar sejak 4 hari yang

lalu. Ngorok didengar semakin kuat dari hari ke sampai hari ini kamis 21-12-2017.

Ngorok disertai dengan sesak samapi muncul suara mendengung (stridor). Keluhan

lain yang disertai nyeri saat menelan makanan sejak senin pukul 07.00 saat sarapan,

nafsu makan pasien juga menurun disertai mual dan muntah 1x. hari selasa 19-12-17

mencret (-) dada terasa sakit sebelah kiri kemeng sejak hari rabu 20-12-17 , nafsu

makan dan minum susu menurun. BAB terakhir 2 hari yang lalu. BAK terakhir tadi

pagi pukul 05.30 agak banyak dan agak pekat.

Pasien pernah menderita tifus usia 1 tahun yang lalu, dan sering mengalami

radang tenggorokan sejak usia 1 tahun, dalam 1 bulan 3x kambuh, dan 6 bulan

terakhir sudah jarang, yaitu 2 bulan sekali. ( oktober 2017 terakhiri sakit). Riwayat

penyakit difteri pada keluarga (-), dilingkungan sekitar pun tidak ada pasien dengan

keluhan yang sama.

Pasien adalah anak ke….. dilahirkan di bidan ,lahir cukup bulan secara

pervaginam dengan berat badan 3150 gr langsung menangis spontan. Pasien sejak

kecil tidak pernah dilakukan imunisasi menurut ibu pasienpertumbuhan dan

perkembangan anaknya normal, seperti anak-anak seusianya. Usia satu tahun sudah

bisa berdiri tanpa berpegangan dan kira-kira usia 2 tahunan anak udah bisa melompat-

lompat. Anak diberikan ASI eksklusif 6 bulan, berlanjut hingga usia 18 bulan.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, compos mentis,

Nadi 90x/menit , RR 22 x / menit Suhu 37,7 C. anemis (-), nyeri tekan tragus (-),

otorhea (-), mukosa bibir kering (-), lidah kotor (-), faring hiperemi (+), tonsil

43
44

hiperemi (+) ukuran , tampak detritus pada tonsil kiri dan kanan, halitosis (?),

pembesaran KGB (-/-), bullneck (+/+), thoraks dalam batas normal, jantung dalam

batas normal, nyeri tekan pada abdomen (-), akral hangat kering merah, CRT <2

detik, tidak di dapatkan ptekie/ekimosis/purpura. Pemeriksaan laboratorium swab

tenggorokan didapatkan pengecatan Neisser: granular (-) dan pengecatan Gram: (-)

Darah lengkap: Hb: 12,5 g/dL, Leukosit: 11.200 /µL, Hct: 36,7 %, Eritrosit 4.770.000

dan Trombosit: 273.000/µL, GDS 86 mg/dl.

Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang

pasien dapat didiagnosis Difteri Tonsil. Diagnosis difteria harus ditegakkan

berdasarkan pemeriksaan klinis, oleh karena penundaan pengobatan akan

membahayakan jiwa pasien, pada kondisi yang berat kematian dapat terjadi pada

dalam 1 minggu sampai 10 hari. Penentuan kuman difteria dengan sediaan langsung

kurang dapat dipercaya. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa

manifestasi klinis Difteri Tonsil adalah anoreksia, malaise, demam ringan dan nyeri

menelan. Dalam 1-2 hari kemudian akan timbul membran yang melekat, berwarna

putih kelabu dapat berada di hidung, tonsil dan dinding faring , laring , kulit ,

vulvovaginal, konjungtiva dan telinga. Berbagai kondisi ini akan menimbulkan klinis

yang berbeda-beda. Kuman masuk melalui mukosa/kulit melekat serta berbiak pada

permukaan saluran nafas bagian atas dan mulai memproduksi toksin yang merembes

ke sekeliling serta menyebar melalui pembuluh limfe dan darah. ke Pada pasien yang

ini memiliki klinis common cold seperti batuk dan pilek hal ini dapat didapat pada

difteri hidung, kondisi ini juga bisa seluruh tubuh keluhan vomit, nausea dan

anoreksia kondisi ini umumnya timbul pada saat fase bacteremia saat bakteri beredar

pada pembuluh darah sistemik dan menimbulkan gejala sistemik. Secret hidung yang

didapatkan biasanya adalah serosanguinous dan kemudian mukopurulen yang dapat


45

menyebabkan lecet pada nares dan bibir atas. Keluhan nyeri telan umunya bisa

didaptkan pada difteri faring. Gejala difteri hidung dan faring dominan gejala

toksiknya dan gejala difteri laring primer biasanya gejala obstruksinya. Keluhan

utama pada pasien yang dikeluhkan adalah ngorok saat tidur, kondisi tersebut bisa

didapat pada difteri laring, keluhan dominan pada difteri laring adalah gejala obstruksi

saluran napas atas gejala nya bisa berupa stridor, stridor adalah suara bernada tinggi

yang dihasilkan akibat turbulensi udara saat melalui obstruksi parsial pada level

supraglottis, glottis dan subglotis atau trakea. Kondisi stridor ini harus dibedakan

dengan stetor yang merupakan suara bernada rendah yang yang dihasilkan pada

tingkat nasofaring dan orofaring. Gejala stridor ini biasanya sukar dibedakan pada

infeksi croup. Pada kondisi ini bila terjadi pelepasan membrane yang menutup jalan

nafas bisa terjadi kematian mendadak. Pada kondisi berat , membran meluas ke

percabangan tracheobracial. Dalam kasus ini kondisi pasien yang didapatkan gejala

campuran berupa gejala obstruksi dan toksemia bisa merupakan bentuk perluasan dari

dari difteri faring yang mengalami perluasan sampai ke laring. Kondisi bullneck pada

pasien dapat terjadi akibat limfadenitis servikalis dan submandibular, yang terjadi

terjadi bersamaan dengan edema jaringan lunak leher yang luas, sehingga timbul

bullneck. Selanjutnya, gejala tergantung dari derajat penetrasi toksin dan luas

membran (Soedarmo SSP, Garna H, Hadinegoro SRS dkk. 2010).

Pada pasien ini diberikan terapi cairan dengan N2 (D5% + 1/2 NS) 20 tpm

untuk memenuhi kebutuhan cairan, dan harus ditempatkan di ruang isolasi agar

mencegah penularan, difteri injeksi ADS 1 x 40.000 IK, PPC 1 x 1.000.000

IU/hari/IM.

Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa anak harus diberikan

cukup cairan dan kalori, dengan tujuan pengobatan adalah menginaktivasi toksin yang
46

belum terikat secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi

minimal, mengeliminasi Corynebacterum diphteriae untuk mencegah penularan serta

mengobati infeksi penyerta dan penyulit difteria sehingga pada pasien ini juga

diberikan erysanbe 4x200mg. Secara umum pasien harus diisolasi sampai masa akut

terlampaui dan biakan hapusan tenggorok negatif 2 kali berturut-turut. Pengobatan

khusus dengan ADS harus diberikan segera setelah dibuat diagnosis difteri. Dengan

pemberian antitoksin pada hari pertama, angka kematian pada penderita kurang dari

1%. Namun dengan penundaan lebih dari hari ke-6 menyebabkan angka kematian ini

bisa meningkat sampai 30%, dosis ADS untuk difteri tonsil 40.000 KI. Sedangkan

pemberian antibiotik, berfungsi untuk membunuh bakteri dan menghentikan produksi

toksin (Soedarmo SSP, Garna H, Hadinegoro SRS dkk. 2010). Menurut WHO 2013

setiap anak yang diduga menderita difteri harus diberikan penisiline procaine 50.000

KI /kgBB/hari selama 10 hari. Pemberian deksamethasone , beberapa belum terdapat

persamaan pendapat mengenai kegunaan obat ini pada difteri. Di ruang menular anak

RSU Dr. Soetomo kortikosteroid diberikan pada penderita dengan gejala obstruksi

saluran nafas bagian atas dan bila terdapat penyulit miokardiopati.

Prognosis umumnya tergantung dari umur, virulensi kuman, lokasi dan

penyebaran membran, status imunisasi, kecepatan pengobatan, ketepatan diagnosis,

dan perawatan umum.

Pencegahan secara umum dilakukan dengan menjaga kebersihan dan memberi

pengetahuan tentang bahaya difteri bagi anak dan juga dengan pemberian imunisasi

DPT 0,5 mL intramuscular untuk anak kurang dari 7 tahun dan pemberian DT 0,5 mL

intramuscular untuk anak lebih dari 7 tahun.

Pada pasien ini dianjurkan untuk rawat inap oleh karena asupan oral sulit, sulit

bernafas dan karena penyakit ini merupakan penyakit yang sering menyebabkan
47

kematian jika terlambat ditangani dan juga merupakan penyakit KLB yang sangat

menular, penularannya melalui droplet (infeksi tetesan) ketika batuk, bersin atau

berbicara, jadi harus ditempatkan pada ruang isolasi (Soedarmo SSP, Garna H,

Hadinegoro SRS dkk. 2010). Kondisi pasien ketika di follow up dari hari ke hari

semakin baik. Setelah KRS orang tua pasien diminta untuk membawa anaknya ke

Pusat Pelayanan Kesehatan untuk dilakukan imunisasi difteri ulang dan dapat

dilakukan rawat jalan.