Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kecamatan Wewaria merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Ende.
Kecamatan Wewaria terdiri dari 22 desa dengan luas wilayah 157,95 km2, berikilim tropis
dengan suhu rata-rata tahunan 26° C dan dalam setahun curah hujan rata-rata kecamatan
Wewaria cukup tinggi, yakni sebesar 1126 mm. (Badan Pusat Statistik Kabupaten Ende, 2017)
Di kecamatan wewaria terdapat salah satu sungai besar yakni Sungai Loworea. Hampir
setiap tahunnya Sungai Loworea mengalami banjir. Pada tahun 2017 sebanyak 85 rumah
warga di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende terendam banjir akibat meluapnya kali
Loworea. (flobamora.net, 2017)
Bencana banjir merupakan bencana yang rutin terjadi hampir setiap tahun di Kecamatan
Wewaria. Selain banjir, bencana alam seperti tanah longsor dengan skala yang kecil menjadi
dampak lanjutan dari adanya banjir. Hal ini diakibatkan oleh curah hujan yang cukup tinggi dan
minimnya bangunan pengaman banjir diseputaran DAS Loworea.
Pada tahun 2018 Pemerintah Provinsi melalui Balai Sungai akan menggunakan anggaran
sebesar Rp 2 Miliar untuk pengamanan pengendali banjir dan longsor sepanjang 100 m di
Sungai Loworea (Pos Kupang, 2018). Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa masalah banjir
pada kecamatan Wewaria merupakan masalah yang sangat serius untuk segera diatasi.
Selain curah hujan yang tinggi dan minimnya bangunan pengendali banjir hal mendasar
yang perlu diperhatikan yakni masalah tata guna lahan yang berada disekitar DAS Loworea.
Tata guna lahan adalah sebuah pemanfaatan lahan dan penataan lahan yang dilakukan sesuai
dengan kodisi eksisting alam. Tata guna lahan pada DAS Loworea beragam, antara lain berupa
kawasan pemukiman, kawasan perumahan, kawasan perkebunan, kawasan pertanian, dan
kawasan ruang terbuka hijau dengan porsi atau persentasenya masing-masing.
Pembukaan lahan perkebunan dan pembangunan beberapa rumah penduduk di wilayah
DAS Loworea dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang cukup pesat, ditandai
dengan perubahan tata guna lahan dari lahan tak terolah dimana ditumbuhi pepohonan menjadi
lahan terbangun (kedap air) yang cukup signifikan. Lahan-lahan yang dulunya merupakan lahan
tidur yang mempunyai fungsi sebagai daerah resapan air hujan, kini telah berubah menjadi
lahan kedap air. Perubahan tata guna lahan dari lahan tak kedap air menjadi kedap air
merupakan salah satu pemicu utama naiknya jumlah limpasan permukaan.
Limpasan permukaan adalah aliran air yang mengalir di atas permukaan karena
penuhnya kapasitas infiltrasi tanah. Limpasan ini terjadi apabila intensitas hujan yang jatuh di
suatu DAS (Daerah Aliran Sungai) melebihi kapasitas infiltrasi. Setelah laju infiltrasi terpenuhi
maka air akan mengisi cekungan-cekungan pada permukaan tanah. Setelah cekungan-
cekungan tersebut penuh, selanjutnya air akan mengalir (melimpas) diatas permukaan tanah.
Limpasan air dalam debit yang besar akan menyebabkan banjir.
Debit limpasan atau debit banjir rencana pada DAS Loworea dapat dihitung atau diukur
dengan hidrograf satuan sintetik. Hidrograf satuan sintetik merupakan hidrograf yang
didasarkan atas sintetis dari parameter-parameter daerah aliran sungai. Terdapat beberapa
metode yang bisa digunakan dalam pengalihragaman data curah hujan menjadi debit limpasan
langsung melalui sistem DAS. Salah satunya adalah metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS)
Nakayasu (1940) yang dikembangkan di Jepang. Metode hidrograf satuan sintetik (HSS) adalah
metode yang populer digunakan dalam banyak perencanaan di bidang sumber daya air
khususnya dalam analisis debit banjir DAS yang tidak terukur. Pemilihan Metode Nakayasu
didasarkan pada iklim dan topografi pulau Flores yang tingkat curah hujannya cukup tinggi dan
topografi yang didominasi oleh daerah pegunungan. Selain itu perhitungan debit banjir
menggunakan metode Nakayasu lebih tepat digunakan karena diagram HSS Nakayasu
memberikan gambaran mengenai debit ketika awal hujan, saat banjir dan berakhir banjir.
Penggunaan metode Nakayasu memerlukan beberapa karakteristik parameter daerah
alirannya, seperti; tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak hidrograf (time of
peak), tenggang waktu dari titik berat hujan sampai titik berat hidrograf (time lag), tenggang
waktu hidrograf (time base of hydrograph), luas daerah tangkapan air, panjang alur sungai
utama terpanjang (length of the longest channel) dan koefisien pengaliran.
Perhitungan Debit limpasan hidrograf satuan sintetik (HSS) Nakayasu kemudian
dibandingkan (dilakukan checkcross) dengan program TR-20 yang merupakan aplikasi berbasis
analisis hidrologi. Program TR-20 adalah model komputer dalam bidang keairan yang
menggunakan metode Soil Conservation Service (SCS). Pada mulanya metode SCS ini
dikembangkan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA, 1986), digunakan
untuk menghitung jumlah direct runoff dari suatu kejadian hujan. Kemudian The Maryland
State Highway Administration (MDSHA) menggunakan metode ini sebagai perangkat lunak
(software) untuk menganalisa suatu daerah aliran sungai (DAS). Dalam metode SCS,
hubungan (kombinasi) antara tata guna lahan dengan karakteristik tanah (hydrologic soil types)
menghasilkan koefisien limpasan yang disebut curve number (CN). Nilai CN menunjukan
potensi limpasan untuk hujan tertentu. Kelebihan dari program TR-20 ini, yakni; dapat
memprediksi kelayakan sungai, apabila dilakukan modifikasi pada sungai tersebut sehingga
tidak diperlukan perhitungan ulang. Selain itu metode program TR-20 dapat disimulasikan
terhadap variasi beberapa model dan juga informasi yang diperoleh dari program TR-20 sangat
detail. Sedangkan kekurangan dari program TR-20 adalah variasi data input cukup banyak,
sehingga diperlukan ketelitian dalam memasukannya.
Berdasarkan berbagai permasalahan seperti banjir dan tanah longsor yang terjadi di
Kecamatan Wewaria, maka diperlukan adanya penelitian tentang pengaruh tanah guna lahan
terhadap debit limpasan, dengan judul “ANALISA PERBANDINGAN PENENTUAN DEBIT
LIMPASAN MENGGUNAKAN METODE NAKAYASU DAN SIMULASI PROGRAM TR-20
AKIBAT PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DI DAS LOWOREA”

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan beberapa uraian dalam latar belakang diatas, maka diambil beberapa
permasalahan seperti:
1. Bagaimana perbandingan perhitungan debit limpasan metode Nakayasu dan Program
TR-20?
2. Bagaimana debit limpasan dipengaruhi oleh perubahan tata guna lahan di DAS
Loworea?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Melakukan perhitungan debit limpasan metode Nakayasu dan simulasi program TR-20
2. Memberikan rekomendasi terhadap komposisi tata guna lahan yang tepat, yang
menghasilkan nilai koefisien aliran yang dapat mengurangi debit limpasan.

1.4 Manfaat Penulisan


1. Mengetahui limpasan permukaan yang terjadi yang disebabkan oleh perubahan
tata guna lahan pada DAS Loworea dengan menggunakan dua metode, yaitu dengan
metode Nakayasu dan simulasi program TR-20.
2. Mengetahui metode mana yang lebih efektif untuk menghitung debit limpasan
aliran dan juga mengetahui tata guna lahan yang tepat, yang menghasilkan nilai
koefisien aliran yang dapat mengurangi debit limpasan.
1.5 Batasan Masalah
Untuk menghindari kekeliruan dan melebarnya topik dalam melakukan analisa pokok
bahasan yang sesuai dengan tujuan semula, maka perlu dibuat pembatasan masalah
untuk dijadikan acuan dalam penyelesaian masalah. Adapun lingkup pembahasannya
mencakup:
1. Mengkaji perkembangan pola penggunaan lahan kawasan DAS Loworea. Apakah
perubahan pola tata guna lahan pada DAS Loworea dapat mempengaruhi besar-
kecilnya limpasan aliran yang terjadi pada daerah tersebut.
2. Data yang digunakan adalah data sekunder berdasarkan data yang diperoleh dari
badan (instansi) berwenang yang terkait, referensi laporan-laporan konsultan
dan karya tulis yang berhubungan dengan judul skripsi ini.
3. Sistem sungai yang ditinjau hanya memiliki satu alur utama saja.
4. Data hujan yang digunakan adalah data hujan dari tahun 2007 s/d 2017 yang
diperoleh dari Stasiun Hujan terdekat.
5. Melakukan perhitungan debit dengan metode Nakayau dan simulasi program TR-20
kemudian membandingkan hasil perhitungan dari kedua metode tersebut.
6. Lokasi dibatasi hanya pada DAS Loworea yang berada di Kecamatan Wewaria,
Kabupaten Ende.
7. Memberikan saran dan usulan mengenai komposisi penggunaan lahan yang tepat
untuk daerah DAS Loworea.

1.6 Keterkaitan dengan Penelitian Terdahulu


Penelitian ini memiliki keterkaitan dengan penelitian-penelitian terdahulu yang
merupakan alumni-alumni dari UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA
1. Soares, Jose Luis (2001) Penelitian dilakukan diruas jalan Wirajaya Kota Ende
2. Missa A (2006) penelitian dilakukan di Wilayah Kampung Solor Kota Kupang.

Persamaan dan Perbedaan Penelitian yang terdahulu dengan penilitian yang


sekarang:
a. Persamaan:
Penelitian terdahulu sama-sama mengambil objek penelitian yang berkaitan
dengan identifikasi saluran drainase perkotaan.
b. Perbedaan:
Penelitian terdahulu mengidentifikasi jaringan drainase dan melakukan redesign
jaringan drainase sedangkan pada penelitian ini mengevaluasi kapastias kinerja
kerja saluran pada jaringan drainase dengan cara menghitung indeks kinerja
saluran pada lokasi yang berbeda.

1.7 Metode Penulisan


Secara umum dalam penyusunan skripsi ini, metode penulisan yang digunakan
merupakan studi literatur dan internet, serta survey lapangan dilakukan apabila data-
data sekunder tidak memenuhi.
Berikut merupakan langkah-langkah pekerjaan yang dilakukan :
1. Merumuskan masalah yaitu mengidentifikasi masalah yang terjadi pada wilayah
Sub DAS Sugutamu.
2. Mengumpulkan data-data yang diperlukan seperti :
a. Data hidrologi : berupa data curah hujan dalam kurun waktu tahun 1991-2007
pada stasiun pencatatan hujan kota Depok.
b. Data tata guna lahan wilayah Sub DAS Sugutamu.
3. Melakukan survey lapangan apabila data sekunder tidak memenuhi.
4. Melakukan perhitungan awal dari data-data yang ada.
a. Mengolah data curah hujan.
b. Melakukan perhitungan intensitas hujan.
c. Menghitung luas catchment area.
d. Menghitung waktu konsentrasi (Tc).
e. Menghitung nilai curve number (CN) wilayah.
5. Hasil dari perhitungan data tersebut kemudian digunakan dalam perhitungan dengan
metode Nakayasu dan menggunakan program TR-20.
6. Dari kedua metode perhitungan Nakayasu dan simulasi program TR-20 akan
dihasilkan debit limpasan yang terjadi di DAS Loworea . Selain debit limpasan, dengan
simulasi program TR-20 juga menghasilkan grafik hidograf banjir pada sungai Loworea.
7. Membandingkan debit limpasan yang dihasilkan dari perhitungan metode Nakayasu
dengan simulasi program TR-20. Setelah membandingkannya dapat diketahui metode
mana yang lebih efektif untuk menghitung debit limpasan.
8. Memberikan kesimpulan dan saran.
1.8 Sistematika Penulisan
Secara garis besar sistematika penysunan skripsi ini akan dibagi menjadi bebarapa bab
sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN
Terdiri dari 8 sub-bab diantaranya menjelaskan secara umum latar belakang, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penulisan, batasan masalah, keterkaitan dengan penulis
terdahulu, metode penulisan, serta sistematika penulisan yang akan dilakukan untuk skripsi
ini.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA


Menjelaskan teori yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini diantaranya mengenai,
pengertian dan pengelolaan suatu DAS, konsep tata guna suatu lahan, jenis penutup lahan,
koefisien limpasan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta wilayah studi yang akan
dibahas.

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN


Berisi uraian bagan alir mengenai langkah-langkah yang akan dilakukan dalam
menyelesaikan penelitian ini.
Secara garis besar sistematika penysunan skripsi ini akan dibagi menjadi bebarapa bab
sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari 6 sub-bab diantaranya menjelaskan secara umum latar belakang, perumusan masalah,
tujuan penelitian, batasan masalah, metode penulisan, serta sistematika penulisan yang akan
dilakukan untuk skripsi ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Menjelaskan teori yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini diantaranya mengenai, pengertian
dan pengelolaan suatu DAS, konsep tata guna suatu lahan, jenis penutup lahan, koefisien
limpasan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta wilayah studi yang akan dibahas.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


Berisi uraian bagan alir mengenai langkah-langkah yang akan dilakukan dalam
menyelesaikan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.flobamora.net/berita/10666/2017-02-08/85-rumah-warga-di-kecamatan-wewaria-
terendam-banjir.html diakses 13 Maret 2018
http://www.rri.co.id/ende/post/berita/480412/daerah/bencana_alam_tanah_longsor_dan_banjir_
melanda_wilayah_kabupaten_ende.html