Anda di halaman 1dari 19

KONSEP TEORI BERMAIN

A. Pengertian

Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional

dan sosial dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena

dengan bermain, anak akan berkata-kata, belajar menyesuaikan diri

dengan lingkungan melakukan apa yang dapat dilakukan, dan mengenal

waktu, jarak, serta suara (Wong, 2000).

Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, dan merupakan

aspek terpenting dalam kehidupan anak serta merupakan satu cara yang

paling efektif untuk menurunkan stress pada anak, dan penting untuk

kesejahteraan mental dan emosional anak (Champbell dan Glaser, 2005).

B. Fungsi

1. Perkembangan Sensori

a. Memperbaiki keterampilan motorik kasar dan halus serta

koordinasi

b. Meningkatkan perkembangan semua indra

c. Mendorong eksplorasi pada sifat fisik dunia

d. Memberikan pelampiasan kelebihan energy

2. Perkembangan intelektual

a. Memberikan sumber–sumber yang beraneka ragam untuk

pembelajaran

b. Eksplorasi dan manipulasi bentuk, ukuran, tekstur, warna.

c. Pengalaman dengan angka, hubungan yang renggang, konsep

abstrak

1
2

d. Kesempatan untuk mempraktikan dan memperluas keterampilan

berbahasa

e. Memberikan kesempatan untuk melatih masa lalu dalam upaya

mengasimilasinya kedalam persepsi dan hubungan baru

f. Membantu anak memahami dunia dimana mereka hidup dan

membedakan antara fantasi dan realita.

3. Perkembangan sosialisasi dan moral

a. Mengajarkan peran orang dewasa, termasuk perilaku peran seks.

b. Memberikan kesempatan untuk menguji hubungan.

c. Mengembangkan keterampilan social

d. Mendorong interaksi dan perkembangan sikap positif terhadap

orang lain.

e. Menguatkan pola perilaku yang telah disetujui standar moral.

4. Kreativitas

a. Memberikan saluran ekspresif untuk ide dan minat kreatif

b. Memungkinkan fantasi dan imajinasi

c. Meningkatkan perkembangan bakat dan minat khusus

5. Kesadaran diri

a. Memudahkan perkembangan identitas diri

b. Mendorong pengaturan perilaku sendiri

c. Memungkinkan pengujian pada kemampuan sendiri (keahlian

sendiri)

d. Memberikan perbandingan antara kemampuasn sendiri dan

kemampuan orang lain.


3

e. Memungkinkan kesempatan untuk belajar bagaimana perilaku

sendiri dapat mempengaruhi orang lain

6. Nilai Teraupetik

a. Memberikan pelepasan stress dan ketegangan

b. Memungkinkan ekspresi emosi dan pelepasan impuls yang tidak

dapat diterima dalam bentuk yang secara sosial dapat diterima

c. Mendorong percobaan dan pengujian situasi yang menakutkan

dengan cara yang aman.

d. Memudahkan komunikasi verbal tidak langsung dan non verbal

tentang kebutuhan, rasa takut, dan keinginan.

C. Tujuan

1. Untuk melanjutkan tumbuh kembang yang normal pada saat sakit.

Pada saat sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan

perkembangannya.

2. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenya.

Permainan adalah media yang sangat efektif untuk mengsekspresikan

berbagai perasaan yang tidak menyenangkan.

3. Mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah.

Permainan akan menstimulasi daya pikir, imajinasi, dan fantasinya

untuk mencipakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya.

4. Dapat beradaptasi secara efektif thp stres karena sakit dan di rawat di

RS.
4

D. Prinsip–prinsip Bermain

Menurut Soetjiningsih (1995) bahwa ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan agar aktifitas bermain bisa menjadi stimulus yang efektif :

1. Perlu ekstra energy

Bermain memerlukan energi yang cukup sehingga anak

memerlukan nutrisi yang memadai. Asupan atau intake yang kurang

dapat menurunkan gairah anak. Anak yang sehat memerlukan aktifitas

bermain yang bervariasi, baik bermain aktif maupun bermain

pasif.Pada anak yang sakit keinginan untuk bermain umumnya

menurun karena energi yang ada dugunakan untuk mengatasi

penyakitnya.

2. Waktu yang cukup

Anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain sehingga

stimulus yang diberikan dapat optimal. Selain itu, anak akan

mempunyai kesempatan yang cukup untuk mengenal alat-alat

permainannya.

3. Alat permainan

Alat permainan yang digunakan harus disesuaikan dengan usia dan

tahap perkembangan anak. Orang tua hendaknya memperhatikan hal

ini sehingga alat permainan yang diberikan dapat berfungsi dengan

benar dan mempunyai unsur edukatif bagi anak.

4. Ruang untuk bermain

Aktifitas bermain dapat dilakukan di mana saja, di ruang tamu, di

halaman, bahkan di ruang tidur. Diperlukan suatu ruangan atau tempat


5

khusus untuk bermain bila memungkinkan, di mana ruangan tersebut

sekaligus juga dapat menjadi tempat untuk menyimpan permainannya.

5. Pengetahuan cara bermain

Anak belajar bermain dari mencoba-coba sendiri, meniru teman-

temannya, atau diberitahu oleh orang tuanya. Cara yang terahkir adalah

yang terbaik karena anak lebih terarah dan berkembang

pengetahuannya dalam menggunakan alat permainan tersebut. Orang

tua yang tidak pernah mengetahui cara bermain dari alat permainan

yang diberikan, umumnya membuat hubungannya dengan anak

cenderung menjadi kurang hangat.

6. Teman bermain

Dalam bermain, anak memerlukan teman, bisa teman sebaya,

saudara, atau orang tuanya. Ada saat-saat tertentu di mana anak

bermain sendiri agar dapat menemukan kebutuhannya sendiri. Bermain

yang dilakukan bersama orang tuanya akan mengakrabkan hubungan

dan sekaligus memberikan kesempatan kepada orang tua untuk

mengetahui setiap kelainan yang dialami oleh anaknya. Teman

diperlukan untuk mengembangkan sosislisasi anak dan membantu anak

dalam memahami perbedaan.

E. Faktor yang Mempengaruhi Bermain

1. Tahap perkembangan anak

Aktivitas bermain yang tepat harus sesuai dengan tahapan

pertumbuhan dan perkembangan anak. Orang tua dan Perawat harus


6

mengetahui dan memberikan jenis permainan yang tepat untuk setiap

tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak.

2. Status kesehatan anak

Aktivitas bermain memerlukan energi maka Perawat harus

mengetahui kondisi anak pada saat sakit dan jeli memilihkan

permainan yang dapat dilakukan anak sesuai dengan prinsip bermain

pada anak yang sedang dirawat di RS.

3. Jenis kelamin

Pada dasarnya dalam melakukan aktifitas bermain tidak

membedakan jenis kelamin laki-laki atau perempuan namun ada

pendapat yang diyakini bahwa permainan adalah salah satu alat

mengenal identitas dirinya. Hal ini dilatarbelakangi oleh alasan adanya

tuntutan perilaku yang berbeda antara laki – laki dan perempuan dan

hal ini dipelajari melalui media permainan.

4. Lingkungan yang mendukung

Lingkungan yang cukup luas untuk bermain memungkinkan anak

mempunyai cukup ruang untuk bermain.

5. Alat dan jenis permainan yang cocok

Pilih alat bermain sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak.

Alat permainan harus aman bagi anak.

F. Alat Permainan Edukatif

Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dapat

mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usia dan tingkat


7

perkembangannya. Contoh alat permainan pada balita dan perkembangan

yang distimuli:

1. Pertumbuhan fisik dan motorik kasar. Contoh : Sepeda roda tiga/dua,

bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll.

2. Motorik halus. Contoh : Gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.

3. Kecerdasan/ kognitif. Contoh : Buku gambar, buku cerita, puzzle,

boneka, pensil, warna, dll.

4. Bahasa. Contoh : Buku bergambar, Buku cerita, majalah, radio, tape,

TV, dll.

5. Menolong diri sendiri. Contoh : Gelas/ piring plastic, sendok, baju,

sepatu, kaos kaki, dll.

6. Tingkah laku social. Contoh : Alat permainan yang dapat dipakai

bersama missal congklak, kotak pasir, bola, tali, dll.

G. Klasifikasi Bermain

1. Menurut isi permainan

a. Sosial affective play. Inti permainan ini adalah hubungan

interpersonal yang menyenangkan antara anak dengan orang lain

(contoh: ciluk-baa, berbicara sambil tersenyum dan tertawa).

b. Sense of pleasure play. Permainan ini sifatnya memberikan

kesenangan pada anak (contoh: main air dan pasir).

c. Skiil play. Permainan yang sifatnya meningkatkan keterampilan

pada anak, khususnya motorik kasar dan halus (misal: naik sepeda,

memindahkan benda).
8

d. Dramatik Role play. Pada permainan ini, anak memainkan peran

sebagai orang lain melalui permainanny. (misal: dokter dan

perawat).

e. Games. Permainan yang menggunakan alat tertentu yang

menggunakan perhitungan / skor (Contoh : ular tangga, congklak).

f. Un occupied behavior. Anak tidak memainkan alat permainan

tertentu, tapi situasi atau objek yang ada disekelilingnya, yang

digunakan sebagai alat permainan (Contoh: jinjit-jinjit, bungkuk-

bungkuk, memainkan kursi, meja dsb).

2. Menurut karakter social

a. Onlooker play. Anak hanya mengamati temannya yang sedang

bermain, tanpa ada inisiatif untuk ikut berpartisifasi dalam

permainan (Contoh: Congklak/Dakon).

b. Solitary play. Anak tampak berada dalam kelompok permainan,

tetapi anak bermain sendiri dengan alat permainan yang

dimilikinya dan alat permainan tersebut berbeda dengan alat

permainan temannya dan tidak ada kerja sama.

c. Parallel play. Anak menggunakan alat permaianan yang sama,

tetapi antara satu anak dengan anak lain tidak terjadi kontak satu

sama lain sehingga antara anak satu dengan lainya tidak ada

sosialisasi. Biasanya dilakukan anak usia toddler.

d. Associative play. Permainan ini sudah terjadi komunikasi antara

satu anak dengan anak lain, tetapi tidak terorganisasi, tidak ada
9

pemimpin dan tujuan permaianan tidak jelas (Contoh: bermain

boneka, masak-masak).

e. Cooperative play. Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih

jelas pada permainan jenis ini, dan punya tujuan serta pemimpin

(Contoh: main sepak bola).

3. Menurut usia

a. Umur 1 bulan (sense of pleasure play).

Visual: dapat melihat dengan jarak dekat

Audio: berbicara dgn bayi

Taktil: memeluk, menggendong

Kinetik: naik kereta, jalan-jalan.

b. Umur 2-3 bulan

Visual: memberi objek terang, membawa bayi keruang yang

berbeda

Audio: berbicara dengan bayi,menyanyi

Taktil: membelai waktu mandi, menyisir rambut.

c. Umur 4-6 bulan

Visual: meletakkan bayi didepan kaca, bayi nonton TV.

Audio: mengajar bayi berbicara, memanggil namanya.

Kinetik: bantu bayi tengkurap, mendirikan bayi pada.

Taktil: memberikan bayi bermain air.

d. Umur 7-9 bulan

Visual: memainkan kaca dan membiarkan main dengan kaca serta

berbicara sendiri
10

Audio: memanggil nama anak, mngulangi kata-kata yang

diucapkan seperti mama, papa

Taktil: membiarkan main pada air mengalir.

Kinetik: latih berdiri, merangkap, latih meloncat.

e. Umur 10-12 bulan

Visual: memperlihatkan gambar terang dalam buku

Audio: membunyikan suara binatang tiruang, menunjukkan tubuh

dan menyebutnya.

Taktil: membiarkan anak merasakan dingin dan hangat,

membiarkan anak merasakan angin.

Kinetik: memberikan anak mainan besar yang dapat ditarik atau

didorong, seperti sepeda atau kereta.

f. Umur 2-3 tahun

Paralel play dan sollatary play. Anak bermain secara spontan,

bebas, berhenti bila capek, koordinasi kurang (sering merusak

mainan)

Jenis mainan: boneka,alat masak,buku cerita dan buku bergambar.

g. Preschool 3-5 tahun

Associative play, dramatik play dan skill play. Sudah dapat

bermain kelompok

Jenis mainan: roda tiga, balok besar dengan macam-macam ukuran.

h. Usia sekolah

Cooperative play. Kumpul prangko, orang lain. Bermain dengan

kelompok dan sama dengan jenis kelamin. Dapat belajar dengan


11

aturan kelompok.. Laki-laki : Mechanical. Perempuan : Mother

Role

Mainan untuk Usia Sekolah

6-8 tahun: Kartu, boneka, robot, buku, alat olah raga, alat untuk

melukis, mencatat, sepeda.

8-12 tahun: Buku, mengumpulkan perangko, uang logam,

pekerjaan tangan, kartu, olah raga bersama, sepeda, sepatu roda.

H. Bermain di Rumah Sakit

Perawatan di Rumah Sakit merupakan pengalaman yang penuh

dengan stress, baik bagi anak maupun orang tua. Untuk itu, anak

memerlukan media yang dapat mengeskpresikan perasaan tersebut dan

mampu bekerja sama degan petugas kesehatan selama dalam masa

perawatan. Aktivitas bermain yang dilakukan perawat pada anak di RS

akan memberikan keuntungan sebagai berikut :

1. Meningkatkan hubungan klien dan perawat

2. Aktivitas beramain yang terpogram akan memulihkan perasaan

mandiri pada anak.

3. Permainan di RS membantu anak mengekspresikan perasaannya.

4. Permainan yang terapeutik akan membentuk tingkah laku yang positif.

Prinsip – prinsip bermain di rumah sakit :

1. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan

sederhana.

2. Relatif aman dan terhindar dari infeksi silang.

3. Sesuai dengan kelompok usia.


12

4. Peramainan tidak boleh bertentangan dengan terapi yang sedang

dijalankan.

5. Perlu partisipasi orang tua dan keluarga.

Tekhnik Bermain di Rumah Sakit :

1. Berikan alat permainan untuk merangsang anak bermain sesuai

dengan umur perkembangannya

2. Berikan cukup waktu dalam bermain dan menghindari interupsi

3. Berikan permainan yang bersifat mengurangi sifat emosi anak

4. Tentukan kapan anak boleh keluar atau turun dari tempat tidur sesuai

dengan kondisi anak


13

TERAPI BERMAIN

CONGKLAK USIA 6-12 TAHUN

A. Deskripsi

Congklak merupakan permainan khas Indonesia yang digemari anak-

anak. Dahulu congklak dimainkan menggunakan tanah yang diberi lubang,

namun seiring perkembangan zaman, congklak saat ini dapat kita temui

menggunakan bahan plastik, kayu, besi, alumunium, dll. Hal ini dilakukan

agar anak tidak lagi bersentuhan dengan tanah dan batu krikil untuk

menghindari kuman yang ada pada benda tersebut.

Congklak merupakan permainan yang dapat mengasah kemampuan

motorik halus (memegang batu yang kecil), motorik kasar (menggerakkan

benda berkeliling arena permainan), kognitif (perhitungan), sosial (dilakukan

oleh 2 orang), menghilangkan stres, dll.

Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan

berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan,

sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada,

kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan dan batu-batu

kecil.
14

Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congklak, dakon,

dhakon atau dhakonan. Di beberapa daerah di Sumatera yang berkebudayaan

Melayu, permainan ini dikenal dengan nama congkak. Di Lampung

permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban, sedangkan di

Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan beberapa nama: Mokaotan,

Maggaleceng, Aggalacang dan Nogarata. Permainan ini di Malaysia juga

dikenal dengan nama congkak, sedangkan dalam bahasa Inggris permainan

ini disebut Mancala.

Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan

mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7)

buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan

congklak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari

cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan

congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang

saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil

di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang

pemain.

Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji.

Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat
15

memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu ke lobang di sebelah

kanannya dan seterusnya berlawanan arah jarum jam. Bila biji habis di lobang

kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan

melanjutkan mengisi, bila habis di lobang besar miliknya maka ia dapat

melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. Bila habis di lubang

kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang

berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia

berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.

Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat

diambil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah

yang mendapatkan biji terbanyak

B. Jenis Permainan

Jenis permainan ini adalah Games yaitu permainan yang

menggunakan alat tertentu dan menggunakan perhitungan / skor.


16

C. Tujuan

1. Umum :

Setelah dilakukan tindakan program bermain pada an. N selama

kurang lebih 30 menit diharapkan anak dapat lebih ceria dan lebih

bersemangat.

2. Khusus :

a. Bagi anak:

1) Dapat mengatur strategi dan kecermatan.

2) Dapat mengembangkan imajinasi dan mengingat peraturan

permainan

3) Dapat berlatih bersosialisasi

4) Dapat berlatih bersikap sportif

5) Dapat mengurangi stres dan ketegangan pada anak

6) Dapat belajar pramatematika yaitu saat menghitung biji-bijian dan

langkah

b. Bagi perawat:

1) Membangun kepercayaan antara pasien anak, keluarga dan

perawat

2) Mampu mengaplikasikan teori terapi bermain pada anak usia 6-12

tahun
17

D. Perilaku Anak yang diharapkan

1. Anak dapat mengatur strategi dan kecermatan.

2. Anak dapat mengembangkan imajinasi dan mengingat peraturan

permainan

3. Anak dapat berlatih bersosialisasi dengan orang lain

4. Anak dapat berlatih bersikap sportif

5. Anak dapat mengurangi stres dan ketegangan

6. Anak dapat belajar pramatematika yaitu saat menghitung biji-bijian pada

permainan dan langkah.

E. Analisa Situasi

1. Tempat; Ruang perawatan anak A1

2. Waktu; 20 April 2016. Pukul 10.00 wita

3. Jumlah peserta; 1 orang

4. Jumlah perawat 1 orang.

5. Peralatan; alat permainan Congklak

F. Rencana Pelaksanaan

1. Persiapan (5 menit)

a. Mengingat kembali konsep permainan

b. Persiapan anak, alat dan tempat

c. Kontrak waktu

2. Pelaksanaan (20 menit)

a. Penjelasan permainan

b. Permainan dimainkan
18

3. Evaluasi (5 menit)

a. Evaluasi proses dan jalannya permainan

b. Memberikan reinforcement

c. Permainan diakhiri dan ditutup oleh Leader


19

DAFTAR PUSTAKA

http://wildamaria.blogspot.co.id/2013/05/terapi-bermain-anak-usia-6-12-

tahun.html?m=1 diakses tanggal 19 April 2016

Stuart, Gail and Laraia, Michele. (1998). Principles and practice of psychiatric

nursing. St. Louis: Mosby.

Internet. http://klinis.wordpress.com/2007/08/30/penerapan-terapi-bermain-bagi-

penyandang-autisme-1/. diakses tanggal 19 April 2016.

Internet. http://konsultanmainan.multiply.com/journal/item/5/Terapi_Bermain.

diakses tanggal 19 April 2016.

Internet. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/pathology/1916947-terapi-

bermain/ diakses tanggal 19 April 2016.

Supartini, Yupi. (2004). Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.

Wong, Donna L. (2003). Clinical Manual of Pediatric Nursing. USA: Mosby.