Anda di halaman 1dari 18

PARASIT DAN PENYAKIT IKAN

Kelompok 8
Kelas B

YOLANDA STEPHANIE 230110160138


M. IQBAL SHIDIQ 230110160111
SANDRA AMALIA 230110160131
VIANI PUJI LESTARI 230110160094
M. IQBAL MAULNA 230110160120
SYAKIRAH IMTINAN 230110160086
VERA ANGGRAENI 230110160139

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah Parasit dan Penyakit Ikan.
Makalah ini membahas mengenai informasi tentang Bothriocephalus sp, Clinostomum
complanatum, Marsipometra Hastata mencakup klasifikasi, morfologi, siklus hidup, cara
penanggulangan, gejala serta cara pencegahannya.
Pada kesempatan ini kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dosen mata kuliah Parasit dan Penyakit Ikan ;
2. Seluruh anggota kelompok 8 ;
3. Pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Demikianlah harapan kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan juga
pembaca tentunya. Adanya saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan makalah
selanjutya sangat dihargai, kami ucapkan terima kasih.

Jatinangor, Maret 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI
Halaman
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan ……………………………………………………………… 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Bothriocephalus sp. 4
2.1.1 Klasfikasi Bothriocephalus sp 5
2.1.2 Siklus Hidup Bothriocephalus sp
2.1.3 Gejala Bothriocephalus sp
2.1.4 Cara Penanggulangan Bothriocephalus sp
2.2 Clinostomum complanatum………………………………………….
2.2.1 Klasifikasi Clinostomum complanatum……………………….
2.2.2 Morfologi Clinostomum complanatum ………………………
2.2.3 Siklus Hidup Clinostomum complanatum…………………….
2.2.4 Gejala Clinostomum complanatum……………………………
2.2.5 Cara Penanggulangan Clinostomum complanatum……………
2.3 Marsipometra hastate
2.3.1 Klasifikasi Marsipometra hastata
2.3.2 Morfologi Marsipometra hastata
2.3.3 Siklus Hidup Marsipometra hastate

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Kegiatan budidaya ikan baik jenis ikan konsumsi ataupun ikan hias merupakan
kegiatan yang mempunyai resiko tinggi karena ikan merupakan mahluk bernyawa yang
kapan saja mengalami kematian. Salah satu penyebab gagalnya kegiatan budidaya ikan
ini adalah karena faktor penyakit. Munculnya gangguan penyakit pada budidaya ikan
merupakan resiko biologis yang harus selalu diantisipasi. Munculnya penyakit pada ikan
umumnya merupakan hasil interaksi kompleks/tidak seimbang antara tiga komponen
dalam ekosistem perairan yaitu inang (ikan) yang lemah, patogen yang ganas serta kulitas
lingkungan yang memburuk.

Dalam melakukan usaha budidaya ikan, para pembudidaya melakukannya ada


yang secara intensif, semi intensif atau asal saja. Semakin intensif sistem budidaya yang
diterapkan maka semakin kompleks pula kehadiran penyakit yang akan muncul. Penyakit
yang menyerang ikan banyak macam dan ragamnya. Tetapi secara umum penyakit ikan
dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu penyakit infeksius dan non infeksius. Jenis
penyakit infeksius terdiri dari penyakit yang disebabkan oleh parasit, jamur bakteri dan
visrus. Sedangkan jenis penyakit non-infeksius disebabkan oleh lingkungan, makanan
dan genetis.

II. Tujuan

Tujuan dari pembuatan tugas makalah ini adalah sebagai salah satu persyaratan
untuk mendapatkan nilai pada Mata Kuliah Parasit dan Penyakit Ikan. Selain dari itu juga
dengan adanya pembuatan tugas makalah ini maka dapat menambah wawasan ilmu
pengetahuan bagi mahasiswa/ i dalam hal ini mengenai penyakit ikan khususnya
Bothriocephalus sp., Clinostomum complanatum, Marsipometra Hastata.

iii
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Bothriocephalus sp.


Bothriocephalus acheilognathi, juga dikenal sebagai cacing pita Asia, adalah
parasit ikan air tawar yang berasal dari China dan Rusia Timur. Ini adalah parasit
umum yang mempengaruhi beragam ikan, terutama cyprinids, yang berkontribusi
terhadap keberhasilan keseluruhannya.
2.1.2 Klasifikasi Bothriocephalus sp.
Klasifikasi dari parasit Bothriocephalus sp. menurut Wojciechowska, Pisano
Zdzitowiecki (1995) adalah sebagai berikut :
Filum : Plathyhelminthe
Kelas : Cestoda
Ordo : Pseudophyllidea
Famili : Bothriocephalidae
Genus : Bothriocephalus
Spesies : Bothriocephalus sp.

Cacing plathyhelmintes dapat berupa endoparasit dan ektoparasit pada ikan.


Namun, Bothriocephalus sp merupakan cacing pita yang hidup di dalam tubuh ikan
(endoparasit). Tubuhnya berbentuk seperti pita dan terdiri dari beberapa segmen-
segmen (proglottida) yang hermaprodite. Testis terletak di medula laberai dan
ovariumnya padat serta memanjang ke samping, kadang-kadang berbentuk lobus, dan
letak ovarium di tengah. Spesies ini memiliki ukuran tubuh 5 – 70 mm,
Bothriocephalus ini memiliki skolek yang berbentuk memanjang dan dua alur
pelekatan yang disebut bothria. Bothria bentuknya memanjang seperti celah di skolek
dan tidak berleher.

iv
(Gambar 1. Bothriocephalus sp.)

v
(Gambar 2. Bothriocephalus sp.)
Jenis Bothriocephalus pada ikan adalah Bothriocephalus claviceps terdapat
pada Anguilla rostrata, Microptaerus dolomieui, Lepomis gibbosus. Bothriocephalus
cuspidatus terdapat pada Perca flavescens, Lepomis gibbosus, Micrptaerus
dolomleui dan Cyprinus carpio.

2.1.2 Siklus Hidup Bothriocephalus sp.


Siklus hidup Bothriocephalus melibatkan inang definitive yaitu ikan, dan
inang perantara yaitu copepoda. Cacing pita dewasa adalah hermaprodit; Setiap
proglottid memiliki satu set lengkap organ reproduksi jantan dan betina dan
menghasilkan telur melalui pembuahan sendiri. Cacing pita sensitif terhadap suhu,
selain itu spesiesnya bersifat termofilik; suhu yang lebih rendah dapat mengganggu
dan menunda pengembangan dan penyelesaian siklus hidup. Telur dilepaskan ke
dalam air melalui feses ikan, di mana mereka menetas menjadi larva heksakanth
yang dapat berenang bebas. Antara 1-28 hari, telur akan menetas sesuai dengan
kisaran suhu air yang dialaminya. Telur yang menetas dalam 1-5 hari terjadi pada
suhu antara 28-300C dan telur yang menetas dalam waktu 10-28 hari terjadi pada
suhu antara 14-150C.
Ketika larva berenang bebas (coracidia) lalu dimakan oleh copepoda (inang
perantara), ia menembus ke dalam dinding usus, berjalan menuju coelom, dan
berkembang menjadi tahap larva kedua yang disebut procercoid (bentuk infektif)
dalam 6-10 hari. Setelah copepoda yang terinfeksi dimakan oleh ikan, procercoid
dengan cepat berubah menjadi tahap plerocercoid dan menempel di dinding usus
intestinal, di mana ia berkembang menjadi parasit dewasa selama 21-23 hari.

1
2.1.3 Gejala Bothriocephalus sp.
Parasit ini menempel di dekat bagian anterior usus. Akumulasi cacing pita di
daerah ini menyebabkan penyumbatan saluran pencernaan yang membelah dinding
usus yang menyebabkan perforasi. Bothriocephalus menyelubungi sebagian usus dan
menginduksi respons inflamasi. Peradangan ini dapat menyebabkan perdarahan dan
nekrosis. Selain itu, tanda klinis yang lain adalah penurunan berat badan, tubuh kurus
karena tidak makan, anemia, dan kematian (terutama pada ikan yang masih muda).
Infeksi dapat dideteksi dengan adanya telur atau bagian tubuh di dalam kotoran, dan
dengan adanya cacing pita di usus ikan. Parasit ini dapat menyebakan enteris
hemorhage karena adanya kerusakan pada epithel usus. Tahap dewasa dapat
menyebabkan gangguan proses penyerapan makanan dalam usus sehingga dapat
mengurangi food intake. (Anshary 2008).

2.1.4 Cara Penanggulangan Bothriocephalus sp.


Bothriocephalus juga dikenal menginfeksi spesies asli yang terancam seperti
Chub humpback ( Gila cypha ), Mojave tui Chub (Siphateles bicolor mohavensis),
Chub roundtail Virgin ( Gila robusta seminuda ), ikan kecil woundfin (Plagopterus
argentissimus), dan ikan mas crucian (Carassius Carassius). Penemuan infeksi
cacing pita besar di dalam populasi ikan mas crucian di Inggris menjadi perhatian
khusus karena belum ada diketahui parasit cacing pita alami ini ikan mas crucian.
Penyebab yang masuk akal mungkin bahwa ikan mas crucian telah membatasi
pertahanan imunologi terhadap parasit ini.

Pengobatan Cacing di Usus Ikan:


1. Penambahan kamala 1,5 - 2 % dalam makanan selama satu minggu dan diulang
kembali minggu berikutnya. Selain itu juga, dapat dengan menggunakan kapsul 180 -
220 mg per pon (1/2 kg) berat ikan yang dimasukkan ke dalam perut ikan selama 3
hari berturut-turut.
2. Penambahan Dinbutylzinc oxide 0,3 % dalam makanan selama 1 hari atau 500 mg/kg
berat badan ditambahkan dalam pelet selama 3 hari dengan dosis 1/3 per hari.
3. Larutan jenuh para chlorometaxylon (chloroxylelol) yang diberikan bersama makanan
ikan yang dicelup ke dalam larutan ini dan dikombinasi dengan perlakuan pencelupan
10 cc larutan stok dalam 1 liter air.

2
4. Phenoxethol 1 % digunakan untuk makanan yang dicelup ke dalam larutan ini, lalu
dalam akuarium ditambahkan 10 cc larutan phenoxethol.
5. Dilurate dibutil timah (Tinostat)
6. Yomesan (niklosamida, Lintex): 50 mg (bahan aktif) per kg ikan. Pilihan untuk
aplikasi adalah sebagai berikut: 500 g per 500 kg pelet kering makan sebesar 1,5%
dari berat badan, 2-3 kali pada interval mingguan; 28 g per 40 kg, makan selama 3
hari.
7. Droncit: 5mg/kg ikan, dengan aplikasi langsung atau dimasukkan ke dalam pelet.
Pemberantasan infeksi akan lebih lengkap jika dipadukan dengan kontrol copepoda di
air kolam.

2.1.3 Clinostomum complanatum


Clinostomum marginatum adalah spesies cacing parasit (kelas
Trematoda). Biasanya disebut "yellow grub". Ditemukan di banyak ikan air tawar di
Amerika Utara, dan tidak ada ikan, sejauh ini kebal terhadap parasit ini.

2.2.1 Klasifikasi Clinostomum complanatum


Clinostomum complanatum pertama sekali ditemukan oleh Rudolphi pada
tahun 1814, jenis yang sama dengan nama baru menjadi Clinostomum marginatum
ditemukan pada tahun 1819. Sejak saat itu parasit ini dikenal di berbagai negara dan
ditemukan dapat menginfeksi
pada hewan, ikan dan termasuk manusia (Lo et al., 1981).
Klasifikasi cacing Clinostomum complanatum menurut Kabata (1985) :
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Trematoda
Ordo : Digenea
Family : Clinostomidae
Genus : Clinostomum
Spesies : Clinostomum complanatum
Serkaria dari Clinostomum complanatum yang ditemukan pada siput air
tawar (Radix auricularia coreana) dengan morfologi tubuh 119-147 x 33-36 μm.
Ukuran ekor 275-370 x 19-26 μm dan panjang furca 72-104 μm. Tubuh memiliki
sirip dorsal transparan yang memanjang secara longitudinal dan ditutupi oleh duri-
duri halus. Organ penetrasi berkembang dengan baik berada di ujung anterior dan

3
memiliki ukuran 33 - 41 x 21-26 μm. Celah mulut berada di sebelah ventral di
belakang organ penetrasi. Sepasang bintik mata terletak di sepertiga bagian anterior
tubuh dan berukuran 4.4 - 6.2 μm (Chung et al., 1998).

2.2.2 Morfologi Clinostomum complanatum


Morfologi bentuk irregular, berisi 10-45 bola-bola germinal dan berukuran
527 - 1.630 x 121 - 368 μm. Redia dalam berbagai stadium perkembangan dan
berukuran 527 – 1.630 x 21 – 368 μm. Pharinx redia berada di dekat ujung anterior
dan berukuran 33 - 60 x 39 - 71 μm. Usus memanjang kearah posterior dan berukuran
425 - 1.264 μm. Lubang genital berada di bagian lateral di bawah pharynx (Liao,
1993).
Metaserkaria Clinostomum complanatum ditemukan di otot, jaringan sekitar insang,
dan sirip ikan. Metasersaria yang berada dalam bentuk kista bentuknya seperti daun,
sedikit tipis pada daerah postacetabular, panjang berkisar 3.28 - 4.27 mm dan lebar
berkisar 0.94 –
1.46 mm. Pada permukaan tubuh tidak memiliki duri. Oral sucker anterior, panjang
0.22 - 0.32 mm, lebar 0.27 - 0.43 mm. Ventral sucker sepertiga anterior, panjang 0.51
– 0.77 mm, lebar 0.52 – 0.75 mm. Ususnya bercabang dua, memiliki sejumlah
kantong tengah posterior dibelakang acetabulum. Organ genital sepertiga tengah
tubuh. Testis berpasangan, berlobus. Uterus memanjang antara dua testis sampai ke
postacetabular. Ovari kecil. Lubang genital terletak di sebelah kanan anteriodexter
testis (Yamashita, 1938; Chung et al., 1995a).
Clinostomum complanatum dewasa berbentuk daun, panjang 4.20 - 4.86 mm, lebar
1.14 - 1.49 mm. Tubuh membesar di bagian ventral sucker. Pada permukaan kulit
tidak terdapat duri. Oral sucker subterminal, panjang 0.28 - 0.34, lebar 0.37 - 0.44
mm. Pharynx dan oesophagus tak jelas. Ceca bercabang dua, di belakang oral sucker,
berisi material coklat. Lubang ventral sucker longitudinal. Testis dipisahkan oleh
uterus. Testis anterior 0.38 - 0.44 mm dan 0.41 -0.62 mm, testis posterior 0.31 - 0.40
mm dan 0.53 - 0.71 mm. Ovarium oval, berukuran 0.21 - 0.29 mm dan 0.14 - 0.21
mm terletak diantara testis menyentuh bagian kanan ceca. Kantong cirrus tidak jelas.
Uterus terletak diantara ventral sukcer dan testis posterior. Vitellaria folicular,
postacetabular sampai ujung caudal, di lateral tubuh. Telur dalam uterus berukuran
panjang 113-149 mm dan lebar 74-88 mm dan lebar operkulum 21-27 mm. Spina
Clinostomum attenatum panjang 13 - 16 mm, tebal 5 – 9 mm, pada Clinostomum

4
complanatum panjang 7 – 11 mm dan tebal 1.5 – 2 mm (McAllister et al., 2007;
Marwan dan Mohammed, 2003).

2.2.3 Siklus Hidup Clinostomum complanatum


Siklus hidup C. complanatum melibatkan 2 hospes perantara dan hospes
definitif. Hospes perantara pertama banyak ditemukan pada moluska atau gastropoda,
hospes perantara kedua ditemukan pada berbagai ikan dan hospes definitif
kebanyakan ditemukan pada burung (Kuperman et al., 2004; Dias et al., 2006).

(Gambar 3. Life cycle of Yellow Grub)


Siklus hidup Clinostomum complanatum merupakan siklus yang rumit (Aohagi et al.,
1992; Dias et al., 2003). Parasit dewasa ditemukan pada burung seperti burung
bangau biru (heron), cacing melekat dengan menggunakan otot-otot sucker. Telur
dikeluarkan dari cacing dewasa dan masuk ke perairan ketika burung sedang makan.
Mirasidium yang dilengkapi dengan silia akan keluar dari telur, berenang di dalam air
dan memiliki stylet atau tonjolan duri untuk penetrasi ke hospes berikutnya yaitu
siput. Di dalam tubuh siput, mirasidium berkembang menjadi sporokista. Sporokista
berisi stadium redia, redia berisi serkaria yang keluar dengan berenang bebas di dalam
air dan kontak dengan ikan yang cocok sebagai hospes perantara kedua. Serkaria
melakukan penetrasi melalui kulit ikan di dalam otot hospesnya, melepaskan ekornya
dan membentuk kista yang kemudian disebut dengan yellow grub. Pada saat burung
memakan ikan yang terinfeksi serkaria, kista tersebut akan pecah dan akhirnya
menjadi metaserkaria dan berkembang menjadi dewasa. Parasit ini dapat memakan
mukus organ, makanan yang tertelan oleh inang, darah dan jaringan dari erosi
permukaan epitel.

5
2.2.4 Gejala Clinostomum complanatum
Menurut Mwita dan Nkwengulila (2008), gejala klinis ikan yang terinfeksi
Clinostonum complanatum adalah ikan menjadi letalergik, tidak mau makan sehingga
menjadi kurus, kulit akan kehilangan sisik pada perlekatan cacing, mengeluarkan
lendir yang banyak, warna tubuh pucat, ulcer, sirip ekor rontok dan ikan suka
menggosokkan badannya ke dasar kolam atau benda-benda keras lainnya. Parasit ini
biasanya menyerang ikan dibagian kepala, yaitu mata, operkulum, bagian sebelah
dalam otak dan perbatasan kedua operkulum. Tempat yang terserang berbentuk
gondok dan mengakibatkan benih ikan terhambat pertumbuhannya (Kanisius, 1995).
Menurut Eiras et al., Silva-Sauza dan Ludwig, 2005), metaserkaria C. complanatum
banyak ditemukan di bagian operkulum, mulut, sirip punggung, sirip dada, sirip perut,
akan tetapi jarang sekali ditemukan menginfeksi sirip ekor.

(Gambar 4. Parasit Clinostomum sp. pada jaringan kulit dan daging ikan)

2.2.5 Pencegahan Clinostomum complanatum


Pencegahan parasit ini dapat dilakukan dengan menghindari parasit dan
merubah lingkungan kolam untuk mencegah keberadaan siput dan burung. Perhatian
harus dilakukan ketika menebar ikan di kolam agar tidak memasukkan siput ataupun
ikan yang terinfeksi. Karena siput memakan tumbuhan air, mengurangi vegetasi
tanaman air dapat mengurangi jumlah siput yang ada. Metode untuk mengontrol
membutuhkan aksi eliminasi burung atau siput untuk memutus siklus hidup grub ini.
Banyak bahan kimia yang secara efektif dapat membunuh siput namun juga
membunuh ikan. Salah satu yang berhasil dilakukan adalah dengan memasukkan red
ear sunfish kedalam kolam yang memakan siput dan akan mengurangi jumlah siput.

2.2.6 Cara Penanggulangannya Clinostomum complanatum


Ikan di akuarium atau kolam bila mengandung kista tidak akan menyebarkan
parasit ini, kecuali bila ada ikan yang memakan ikan. Untuk hal seperti ini yang harus

6
dilakukan adalah membersihkan kolam pemeliharaan atau akuarium dari siput-siput.
Serkaria dapat masuk ke akuarium atau kolam karena tumbuhan air. Ikan yang
terkena kista Clinostomum diambil kistanya dengan pisau skalpel, lalu kista diambil
dengan pinset lancip. Daerah insisi (torehan), lalu diberi merkurokhrom dengan
menggunakan kuas halus. Setelah itu, ikan dimasukkan ke dalam akuarium dengan air
bersih hingga sembuh. Untuk kolam untuk memberantas siput dapat digunakan
moluscid yang mengandung CuSO4.

2.3 Marsipometra hastata


Secara umum, marsipometra mirip dengan cacing pita pada manusia. Hidup
dewasa didalam usus dan menjadi telur diluar usus inangnya. Marsipometra masuk
kedalam usus inangnya (ikan) melalui perantara Cyclops sebagai vector mekanik.
Pada umumnya marsipometra memiliki bentuk yang sama seperti ordo
Pseudphyllidea yaitu mempunyai sucker dan skolex pada mulut nya dan juga
hermaprodit.

2.3.1 Klasifikasi Marsipometra hastata


Spesies ini biasanya ditemukan di Arkansas.Illinois, Iowa, Minnesota,
Mississipi, Missouri, Montana, dan Debraska, dengan klasifikasi sebagai berikut :

Fillum : Platyhelminthes
Kelas : Cestoda
Ordo : Bothriocephalidea
Family : Triaenophoridae
Genus : Marsipometra
Spesies : Marsipometra Hastata

2.3.2 Morfologi Marsipometra hastata


Cacing Marsipometra mempunyai tubuh yang beruas-ruas, berskolex seperti
anak panah dengan dua buah botrium sebagai alat pelekat. Segmen dekat skolex kecil
jika dewasa besar dan segmennya adalah hermaprodit. Uterus terdapat dibagian
tengah segmen, ovarium letaknya di bagian postarium. Kelenjar vitelin terdapat di
kedua sisi segmen. Larva stadium procercoid terdapat dalam tubuh Cyclops, stadium
clerocercoid terdapat dalam otot daging ikan. Dewasanya terdapat dalam usus.
Segmen tubuh disebut strobilus.

7
(Gambar 5. Morfologi Marsipometra)

Marsipometra hastata dewasa di usus Polvodon spathula mulai melepaskan


telur segera setelah suhu air sungai mencapai 60 ° F. Penetasan terjadi segera setelah
telur terpapar air sungai dan onchospheres bersilia (coracidia) dilepaskan.
Onchospheres hidup selama beberapa hari pada suhu 6l ° F. Namun rentang hidup
mereka jauh berkurang pada suhu yang lebih tinggi. Jika tertelan oleh inang perantara,
Cyclops bicuspidatus. onchospheres menembus dinding usus dan mencapai
haemocoel delapan jam setelah mereka dimakan.

(Gambar 6. Marsipometra hastata)

Larva yang sedang berkembang tidak mengembangkan cercomers, juga tidak


membentuk tahap procernco pseudophyllidean khas. Sebagai gantinya, mereka
perlahan-lahan mengasumsikan bentuk larva plerocercoid. Setelah berkembang
selama 55 hari, cestodes mencapai ukuran dan bentuk yang sangat mirip dengan tahap
terkecil yang ditemukan dari usus paddlefish yang terinfeksi secara alami.

8
(Gambar 7. Polvodon spathula)

Di alam, rentang hidup Marsipometra hastata di Polvodon spathula, kurang


dari satu tahun. Cacing Juvenile pertama kali menjadi umum pada pertengahan
Agustus dan terus meningkat jumlahnya pada awal musim gugur. Proporsi cestodes
dewasa yang belum dewasa secara bertahap meningkat sepanjang musim dingin dan
pada pertengahan April hampir semua cacingnya muda. Peletakan telur kemudian
dimulai dan jumlah cestodes menurun secara tajam setelah itu. Pada akhir Juni, cacing
dewasa tidak lagi umum di paddlefish dan pada akhir Juli, orang jarang
menemukannya. Saat itu, cacing juvenile mulai muncul dalam jumlah terbatas.

2.3.3 Siklus Hidup Marsipometra hastata


Scolex Marsipometra hastata dilengkapi dengan dua bothria, seperti piring
kecil, pinggirannya bergerak dan memberikan kekuatan perekat yang lemah untuk
menempel ke dinding usus. Wardie dan Mcleod (1952) mengemukakan bahwa cacing
yang memiliki bothriate scolices menggunakannya sebagai organ penggerak daripada
untuk fiksasi permanen. Dalam penelitian ini, sebagian besar cacing telah
mengeluarkan scole mereka ke dalam lubang seperti kriptografi yang melapisi usus
namun dengan mudah melepaskannya di bawah sedikit tekanan. Jika scolex telah
menembus ke dalam kelenjar yang melapisi lubang ini, kapsul jaringan ikat terbentuk
di sekitarnya, menguncinya secara efektif pada posisi.

9
(Gambar 8. Cacing masuk ke dalam usus Polvodon spathula)

(Gambar 9. Bagian dinding usus P. spathula menunjukkan scolex tersemat)

Lebih umum lagi, ada sedikit perubahan yang tidak jelas pada jaringan inang.
Di daerah yang berikatan langsung, membran raucous rusak. Beberapa sel epitel
dihancurkan namun lamina propria dan submucosa tidak terpengaruh. Akumulasi
makrofag dan eosinofil menunjukkan respon inflamasi kronis terhadap cestodes.
Akumulasi mukus yang berat menyertai adanya cacing, tapi karena histologi normal
tidak diketahui, tingkat perubahan tidak dapat dipastikan. Reaksi inflamasi kronis
yang menyebar dan kurang intens terhadap cacing pita didorong oleh adanya
makrofag dan eosinofil di seluruh mukosa usus. Evaluasi kondisi yang terakhir ini
sulit karena beberapa alasan. Studi tentang histologi normal paddlefish kurang dan
sulit untuk mendapatkan ikan yang tidak terinfeksi untuk perbandingan. Selanjutnya,
adanya kista nematoda ascarid juvenile pada tunica muscularis mempersulit analisis
respon host terhadap parasit. Di daerah langsung kista nematoda, terjadi perubahan
jaringan permanen. Sebuah kapsul jaringan ikat terbentuk dan makrofag terakumulasi
di daerah ini.

10
Daftar Pustaka

Anshary, H. 2008. Modul Pembelajaran Berbasis Student Center Learning (SCL). Jurusan
Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Hassanudin. Makasar.
Vol 126.

Durborow, R. 2007. Figure Marsipometra. https://books.google.co.id.

Lucky, Z. 1971. Methods for the diagnosis of fish diseases. M Amerind Publishing Co.
PVT.Ltd. New Delhi, Bombay, Calcutta, New York.

11
McAllister, C. T. et al. 2013. Bothriocephalus sp. (Cestoidea: Bothriocephalidae) from the
Georgia Blind Salamander, Eurycea wallacei (Caudata: Plethodontidae), in Georgia,
U.S.A.: First Definitive Report of aParasite from This Host. The Helminthological
Society of Washington: Washington DC.

Meyer, F. P. 1960. Life history of Marsipometra hastata and the biology of its host, Polyodon
spathula. Iowa State University.
Möller, H. and K. Anders, 1986. Diseases and Parasites of Marine Fishes. Verlag Möller,
Kiel. 365 p.

Suryanti S.R. 1980. Parasit Ikan dan Cara Pemberantasannya. Penerbit Yayasan Sosial Tani
Membangun.

Wardie, R. A. and McLeod, J. A. 1952. The Zoology of tapeworms. Published for the
University of Manitoba by the University of Minnesota Pressf Minneapolis.
Wojciechowska, A.; Pisano, E.; Zdzitowiecki, K. 1995. Cestodes in Fishes at The Heard
Island (Subantarctic). Polish Polar Research. 16, 205-212.

ZA Fish Action. 2010. American Paddlefish. http://zafact.blogspot.co.id

12