Anda di halaman 1dari 6

Tria Karunia

1306451534
SYARAT SAHNYA PERJANJIAN

Perjanjian menurut Pasal 1313 KUHPerdata ialah “suatu persetujuan adalah suatu
perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain
atau lebih”. Dari pengertian tersebut, terdapat kesan bahwa perjanjian merupakan suatu
tindakan yang bersifat sepihak. Bahkan Abdulkadir Muhammad dengan lebih tegas
menyatakan kelemahan-kelemahan dari definisi tersebut.1 Kelemahan pertama, rumusan
tersebut menunjukkan hanya ada perbuatan sepihak. Seharusnya rumusan “mengikatkan diri”
diganti menjadi “saling mengikatkan diri” agar tampak adanya hubungan timbal balik.
Kelemahan kedua, kata perbuatan mempunyai pengertian yang terlalu luas, termasuk
perbuatan melawan hukum dan tindakan tanpa kuasa (zaakwarneming). Kelemahan ketiga,
perjanjian yang dimaksud mencakup pula perjanjian perkawinan yang masuk ke dalam
lapangan hukum keluarga. Kelemahan keempat, rumusan pasal tersebut tidak menyebutkan
tujuan para pihak mengadakan perjanjian. Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut,
Abdulkadir mengusulkan suatu rumusan lain, yaitu: “perjanjian adalah suatu persetujuan
dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanankan hal dalam
lapangan harta kekayaan.”

Untuk dapat mengikat secara hukum (legally binding) sebuah perjanjian haruslah
dibuat secara sah. Mengenai hal-hal yang dapat membuat perjanjian menjadi sah atau disebut
juga dengan syarat sahnya perjanjian tercantum dalam Bagian 2 Bab II Buku Ketiga
KUHPerdata tentang “Syarat-syarat yang diperlukan untuk sahnya perjanjian”. Dimulai
dengan pasal 1320 KUHPerdata yang menjadi pokok syarat sahnya perjanjian yang kemudian
isi pasal tersebut dijelaskan dalam pasal-pasal selanjutnya hingga pasal 1337 KUHPerdata.
Dari pasal-pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat dua syarat sahnya perjanjian
yaitu syarat subjektif dan syarat objektif.

1. Syarat Subjektif

Disebut sebagai syarat subjektif karena syarat ini harus dipenuhi oleh subjek hukum.2
Yang termasuk dalam syarat subjektif di antaranya ialah:

1
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, (Bandung: Alumni, 1982), hlm. 78-79
2
http://www.jurnalhukum.com/syarat-syarat-sahnya-perjanjian/ pada tanggal 26 Feb 2015, pukul 23.50 WIB
 Contractual capacity atau the ability to agree3
Contractual capacity ialah bahwa para pihak dalam membuat perjanjian harus
memiliki legal ability to bind themselves to the contract and to enforce any promises
made to them.4 Sementara legal capacity yang dimaksud adalah ability to understand
the nature and effects of one’s act.5
Seseorang yang kesehatan mentalnya terganggu tentu saja tidak mungkin dapat
mengerti perbuatan dan dampak perbuatannya sehingga dapat disimpulkan bahwa
yang memiliki gangguan mental tidak cakap. Terdapat beberapa tipe orang yang
kesehatan mentalnya terganggu, antara lain insanity, congenital deficiencies in
intelligens, mental disability resulting from old age, accidents, or organic disease.
Dimana terganggu atau tidaknya kesehatan mental seseorang dapat dibuktikan dengan
menguji apakah orang tersebut menyadari dan dapat memahani akibat dari suatu
tindakan hukum yang dilakukannya. Namun, KUHPerdata menentukannya secara
berbeda, dalam pasal 1330 (2) KUHPerdata disebutkan bahwa salah satu golongan
yang dinyatakan tidak cakap ialah seseorang yang di bawah pengampuan, sedangkan
untuk menentukan seseorang di bawah pengampuan atau tidak dibutuhkan putusan
pengadilan dan nyatanya di Indonesia tidak semua orang yang mengalami gangguan
mental dimintakan pengampuan. Bila demikian maka dapat dikatakan bahwa
seseorang yang walaupun dalam kenyataannya mengalami gangguan mental namun
tidak dimintakan pengampuan, secara hukum harus dianggap cakap. Tetapi bila
diteliti lebih jauh mengenai esensi dari ketidakcakapan secara mental bukan ada pada
persoalan apakah seseorang itu di bawah pengampuan atau tidak melainkan apakah
seseorang itu secara mental memahami apa yang dilakukannya.6 Misalnya, seseorang
yang mengalami gangguan mental karena stress tidak terpilih sebagai caleg haruslah
dianggap tidak cakap walaupun tidak berada di bawah pengampuan.
Selain faktor kesehatan mental, kecakapan pun ditentukan berdasarkan faktor usia
atau kedewasaan. Seseorang yang masih di bawah umur dianggap belum memiliki
kemampuan untuk memahami apa akibat dari tindakan hukum yang diperbuatnya.
Oleh karena itu undang-undang menyatakan bahwa seseorang yang belum dewasa
tidak memiliki legal capacity. Terkait batas usia untuk menentukan kapan seseorang

3
Agus Sardjono, dkk, Pengantar Hukum Dagang, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014), hlm. 15
4
Davidson, Comprehensive Business Law, hlm. 203
5
Black’s Law Dictionary., hlm. 188
6
Agus Sardjono dkk, Ibid, hlm. 16
dinyatakan dewasa terdapat perbedaan antara berbagai hukumnya masing-masing.7
KUHPerdata menentukan ketika telah mencapai 21 tahun atau telah menikah8
sedangkan UU No. 1 tahun 1974 menentukan bahwa 18 tahun9 ialah batas usia
seseorang dinyatakan dewasa. Contohnya, seorang artis cilik berusia 11 tahun yang
ingin membuat perjanjian kerja dengan sebuah Production House harus diwakilkan
oleh orang tua atau walinya karena berdasarkan usia artis cilik tersebut oleh undang-
undang ia dinyatakan tidak cakap.
Kewenangan menurut undang-undang pun menentukan kecakapan seseorang.
Misalnya, seorang advokat yang menjadi kuasa hukum untuk beracara di pengadilan
mewakili clientnya melalui surat kuasa. Dengan demikian, selain advokat yang
ditunjuk oleh client tersebut tidak dapat mewakilinya.10
 Kehendak bebas untuk bersetuju
Hal yang paling esensial dalam membuat perjanjian ialah adanya persetujuan atau
kesepakatan di antara para pihak. Bahkan dapat dikatakan without mutual assent there
can be no agreement.11 Dalam pasal 1320 KUHPerdata disebutkan bahwa para pihak
yang mengikatkan dirinya harus sepakat terkait hal-hal yang diperjanjikan.
Selanjutnya, dalam pasal 1321 KUHPerdata ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan
sepakat ialah tidak adanya unsur kekhilafan, paksaan, dan penipuan.
Mengenai kekhilafan berdasarkan pasal 1322 KUHPerdata terdapat dua macam
kekhilafan12. Yang pertama kekhilafan menyangkut subjek, misalnya seseorang yang
ingin menunjuk senior lawyer untuk mewakilinya di pengadilan, tetapi karena
ketidaktahuannya ia ternyata menunjuk seorang lawyer yang masih menjadi trainee
melalui surat kuasanya. Sebaliknya trainee (lawyer) tersebut tidak mengetahui bahwa
yang diinginkan oleh clientnya ialah seorang senior lawyer. Yang kedua kekhilafan
menyangkut objek, yaitu kekhilafan yang terjadi jika hal yang dijadikan objek
perjanjian itu sesungguhnya bukan yang dimaksudkan oleh para pihak.13 Misalnya,
seseorang yang ingin membeli tas branded asli ternyata membeli tas replika akibat

7
Agus Sardjono dkk, Ibid, hlm. 15
8
Pasal 330 KUHPerdata
9
Pasal 47 UU Nomo1 Tahun 1974
10
Pasal 31 UU Nomor 18 Tahun 2003, walaupun telah dinyatakan tidak lagi mengikat melalui putusan MK
namun hal ini disebutkan dalam memudahkan untuk membuat contoh.
11
Daniel V. Davidson et all, Comprehensive Business Law, Principle and Cases, (Kent Publishing Company,
1987), hlm. 155
12
Subekti, Hukum Perdata, hlm. 135
13
Agus Sardjono, dkk, Pengantar Hukum Dagang, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014), hlm. 14
ketidaktahuannya dan pihak penjual pun mengira bahwa yang ingin dibeli ialah
memang tas replika.
Pasal 1323 KUHPerdata hingga 1327 KUHPerdata mengatur mengenai paksaan.
Paksaan ialah jika seseorang meyetujui sebuah perjanjian karena adanya ancaman atau
paksaan.14 Misalnya, seseorang yang diancam akan dibunuh bila tidak mewasiatkan
hartanya kepada yang ingin membunuhnya tersebut.
Penipuan terjadi jika salah satu pihak sengaja memberikan keterangan palsu atau
tidak benar disertai dengan tipu daya yang jika pihak lain menyetujui sebuah
perjanjian karena adanya tipu daya ini maka dikatakan perjanjian ini dilakukan
dengan unsur penipuan.15 Misalnya, seseorang yang ingin membeli sebuah rumah
karena penjual rumah tersebut menipunya dengan memberi tahu bahwa rumah
tersebut miliknya nyatanya setelah membayar sejumlah uang diketahui bahwa bukan
dialah yang memiliki rumah tersebut tentunya jika pembeli mengetahui hal tersebut
tidak mungkin akan melakukan transaksi jual beli dengan penjual rumah gadungan
tersebut.

2. Syarat Objektif

Disebut sebagai syarat objektif karena syarat ini harus dipenuhi oleh objek
perjanjian.16 Syarat objektif terdiri dari:

 “Hal” yang dapat diperdagangkan dengan bebas17


Yang dimaksud dengan “hal” ialah kebendaan, dimana saat ini objek perjanjian
tidak hanya meliputi benda tetapi juga jasa.18 Dimana barang dan jasa ini paling tidak
ditentukan jenisnya.19 Misalnya, seseorang yang melakukan jual beli untuk
menjualnya kembali di toko miliknya dengan menetapkan jumlah dua hari kemudian
tetapi saat terjadinya jual beli telah menetapkan untuk membeli mie instan dengan
merk Indomie dan mie instan merupakan barang yang dapat diperdagangkan dengan
bebas.

14
Subekti, Op. Cit, hlm.135
15
Agus Sardjono, Op. Cit, hlm. 15
16
http://www.jurnalhukum.com/syarat-syarat-sahnya-perjanjian/ pada tanggal 27 Feb. 15, pukul 02.05 WIB
17
Pasal 1332 KUHPerdata
18
Agus Sardjono, dkk, Pengantar Hukum Dagang, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014), hlm. 17
19
Pasal 1333 KUHPerdata
 “Hal” yang diperjanjikan itu tidak dilarang oleh undang-undang, tidak bertentangan
dengan kesusilaan yang baik, dan tidak melanggar ketertiban umum20
Ketentuan ini disebutkan dalam pasal 1337 KUHPerdata dan merupakan
penjabaran dari ‘sebab yang halal’, halal yang dimaksud ialah sesuatu yang
diperbolehkan, dimana apa yang diperjanjikan tidak melanggar undang-undang,
ketertiban umum, dan kesusilaan.21
Contoh mengenai perjanjian yang melanggar undang-undang ialah jual beli
hewan langka yang dilarang oleh Undang-Undang RI No 5/1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Contoh untuk perjanjian yang melanggar ketertiban umum yaitu perjanjian kerja
antara seorang konglomerat dan preman untuk menghajar setiap orang yang menjadi
saingan usahanya dalam berbisnis. Tentu saja hal ini akan membuat ricuh masyarakat
dengan aksi main pukul preman tersebut dan juga menimbulkan perasaan khawatir
karena keberadaan preman tersebut.
Contoh terkait perjanjian yang melanggar kesusilaan yang baik adalah seseorang
yang mengadakan perjanjian kerja untuk membuat video atau film porno untuk
kemudian dijual kepada masyarakat. Tentu hal ini merusak nilai kesusilaan budaya
Indonesia.

Dari apa yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa untuk membuat
perjanjian yang sah mengikat kedua belah pihak layaknya undang-undang bagi para pihak
tersebut haruslah memenuhi seluruh persyaratan sahnya perjanjian. Bila terdapat perjanjian
yang melanggar syarat subjektif maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan baik melalui
persetujuan keduanya ataupun jalur pengadilan, tetapi hal ini harus dimintakan atau
diusahakan. Namun jika yang dilanggar ialah syarat objektif maka perjanjian yang telah
dibuat adalah batal demi hukum yang berarti tanpa diminta pembatalannya dianggap tidak
pernah ada. Berbeda dengan dilanggarnya syarat subjektif yang tetap dinyatakan berlaku
hingga dimintakan pembatalan.22

20
Agus Sardjono, Op. Cit, hlm. 17
21
Ibid, hlm.17-18
22
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25397/3/Chapter%20II.pdf pada tanggal 27 Feb. 15, pukul
03.35 WIB
DAFTAR PUSTAKA

Davidson, Daniel V. et al. Comprehensive Business Law, Principles and Cases. Kent
Publishing Company, 1987

Muhammad, Abdulkadir. Hukum Perikatan. Bandung: Alumni, 1982

Sardjono, Agus dkk. Pengantar Hukum Dagang. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014

Subekti. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Jakarta: Intermasa, 1992

Internet

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25397/3/Chapter%20II.pdf

http://www.jurnalhukum.com/syarat-syarat-sahnya-perjanjian/