Anda di halaman 1dari 31

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya, sehingga kami dapat menyelasaiikan makalah ini. Sholawat tak lupa kita ucapkan untuk Nabi besar Muhammad SAW.

Kemudian dari pada itu kami sadar bahwa dalam menyusun makalah ini banyak yang membantu segala usaha, untuk itu dengan segala hormat kami ucapkan terimakasih kepada:

  • 1. Dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini Ibu Maharani Izzatin,. S.Pd., M.Pd.

  • 2. Teman-teman dan seluruh pihak yang ikut berpartisipasi dalam makalah ini.

Atas bimbingan tersebut kami berdoa dan memohon semoga menjadi amal yang terima oleh Allah. Dalam penyusunan makalah ini saya sadar bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan, maka dari itu kami mengharapkan kritikan yang membangun sehingga bisa diperbaiki dan disempurnakan. Kami juga berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

(PENYUSUN)

DAFTAR ISI

KATA

i

DAFTAR ISI

ii

 

BAB I

1

PENDAHULUAN

1

A.

Latar Belakang

1

B.

Rumusan Masalah

2

C.

Tujuan

2

BAB II

3

 

PEMBAHASAN

3

A.

Perencanaan Media Pembelajaran

3

B.

Pemilihan Media Pembelajaran

4

C.

Pengembangan Media Pembelajaran

13

D.

Evaluasi Media Pembelajaran

18

BAB III

27

PENUTUP

27

A.

Kesimpulan

27

B.

Saran

28

DAFTAR PUSTAKA

29

A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi informasi beberapa tahun belakangan ini berkembang sangat pesat, sehingga perkembangan ini telah mengubah paradigm masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi, yang tidak lagi ada batasan untuk memperolehnya. Pada surat kabar, media visual, dan media elektronik lainnya, tetapi ada satu ya ng paling berpengaruh adalah internet. Pendidikan adalah salah satu dari banyak bidang yang mendapatkan dampak dari perkembangan tersebut. Pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi informasi pendidikan, terdiri dari unsure pendidik sebagai sumber, media sebagai sarana penyedia ide atau gagasan. Sehingga beberapa unsur yang ada dalam pendidikan terkena dampak dari teknologi. Media merupakan unsure terpenting dari dalam terlaksananya proses pembelajaran. Media pembelajaran berperan sebagai salah satu sumber belajar bagi guru untuk memberi pengetahuan pada siswa. Sehingga berbagai bentuk dan jenis media banyak digunakan oleh guru untuk dijadikan sebagai sumber, tak hanya itu media juga menjadi alat penyampaian informasi dalam pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran juga dapat membangkitkan keinginan dan minat pada siswa, dan juga ada rangsangan psikologis yang diterima siswa. Media yang digunakan akan sang at membantu kefektifan dalam pembelajaran. Oleh karena itu karena itu, menyadari betapa pentingnya media, perlu adanya pengetahuan dan peran guru untuk membuat alat bantu berupa media pembelajaran. Sebelum itu diperlukan tenaga pendidik yang paham dalam merencanakan, memilih, mengembangkan, dan mengevaluasi media pembelajaran. Tidak hanya itu dibutuhkan juga tenaga pendidik yang dapat melibatkan teknologi dalam proses tersebut.

  • B. Rumusan Masalah

    • 1. Bagaimana konsep perencanaan media pembelajaran?

    • 2. Bagaimana dasar, kriteria, dan prosedur pemilihan media pembelajaran?

    • 3. Bagaimana prosedur pengembangan media pembelejaran?

    • 4. Bagaimana tahap evaluasi media pembelajaran?

  • C. Tujuan

    • 1. Mengetahui konsep perencanaan media pembelajaran.

    • 2. Mengetahui dasar, kriteria, dan prosedur pemilihan media pembelajaran.

    • 3. Mengetahui prosedur pengembangan media pembelejaran.

    • 4. Mengetahui tahap evaluasi media pembelajaran.

  • BAB II PEMBAHASAN

    A. Perencanaan Media Pembelajaran

    Dilihat dari pengadannya, media dapat menggunakan yang sudah ada yang dibuat oleh pihak tertentu (produsen media) dan kita dapat langsung menggunakannya, begitu juga dengan media yang sifatnya alamiah yang tersedia di lingkungan sekolah juga yang termasuk dapat langsung digunakan. Selain itu, kita juga dapat membuat media sendiri sesuai dengan kebutuhan. Disinilah diperlukannya perencanaan, jika kita memiliki media dengan cara membeli yang sudah ada, kegiatan perencanaan media tidak terlalu banyak dilakukan, cukup dengan mencocokkan materi yang akan diajarkan dengan media yang tersedia. Berbeda halnya jika kita membuat media sendiri berdasarkan kebutuhan, dalam halini diperlukan analisi terhadap berbagai aspek, sehingga pas denga kebutuhan (Susilana dan Riyana, 2009: 27).

    Seperti pernyataan di atas bahwa banyak media yang telah tersedia dari berbagai sumber. Namun jika hanya menggunakan media yang telah ada sangat sulit untuk menyesuaikannya dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Oleh karena itu untuk membuat media yang sesuai dengan keing in dan keadan yang berorientasi pada tujuan pembelajaran, diperlukan perencanaan media pembelajaran. Sama halnya dengan perencanaan pembelajaran, perencanaan media pembelajaran juga merupakan bagian awal dari pembuatan media, yang dimana juga merupakan bag ian penting dari perencanaan pembelajaran. Susilana dan Riyana (2009: 27) menyebutkan ada beberapa pertanyaan yang perlu kita jawab.

    • a. Pertama kita perlu bertanya mengapa kita ingin membuat program media itu?

    • b. Apakah pembuatan media tersebut ada kaitannya dengan kegiatan pembelajaran tertentu untuk mencapai tujuan tertentu pula?

    • c. Untuk siapakah program media tersebut kita buat? Untuk orang dewasakah, anak-anak, mahasiswa, siswa sekolah dasarkah, atau masyarakat pada umumnya?

    • d. Kalau kita sudah mengetahui siapa sasaran kita, pertanyaan kita belum selesai, masih perlu ditanyakan bagaimana karakteristik sasaran siswa tersebut?

    • e. Betulkah media yang kita buat tersebut betul- betul dibutuhkan oleh mereka?

    • f. Perubahan perilaku apa yang diarapkan akan terjadi pada diri siswa setelah menggunakan media tersebut? sebaliknya jika siswa tidak menggunakan media tersebut apakah akan terjadi kerugian secara intelektual?

    • g. Kita perlu juga memikirkan materi apa yang perlu disajikan melalui media itu supaya pada diri siswa terjadi perubahan perilaku yang nyata sesuai harapan.

    Dari beberapa pertanyaan yang disebutkan diatas, dapat dimengerti bahwa dalam kegiatan perencanaan media pembelajaran , kita diharapkan dapat melakukannya dengan persiapan dan perencanaan yang teliti. Pertanyaan- pertanyaan tersebut tidak hanya menjadi pemikiran dan ide- ide semata, namun harus ditindaklanjuti dengan cara menuliskannya sehingga akan terwujud sebuah dokumen perencanaan media. Dimnana kelanjutan dari perencanaan ini akan dibahas pada kegiatan selanjutnnya yaitu pemilihan, pengembangan dan evaluasi media pembelajaran.

    B. Pemilihan Media Pembelajaran

    1. Dasar Pertimbangan Pemilihan Media

    • a. Alasan Teoritis Pemilihan Media Alasan pokok pemilihan media dalam pembelajaran, karena didasari atas konsep pembelajaran sebagai sebuah system yang didalamnya terdapat suatu totalitas yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Jika kita lihat prosedur pengembangannya desain instruksional maka diawali dengan perumusan tujuan instruksional khusus sebagai pengembangan dari tujuan instruksional umum, kemudian dilanjutkan dengan menentukan materi

    pembelajaran yang menunjang ketercapaian tujuan pembelajara n serta menentukan strategi pembelajaran yang tepat. Upaya untuk mewujudkan tujuan pembelajaran ditunjang oleh media yang sesuai dengan materi, strategi yang digunakan, dan karakteristik siswa. Pentingnya pemilihan media dengan melihat kedudukan media dala m pembelajaran dapat kita lihat dengan system pembelajaran yang dikemukakan oleh Gerlach dan Elly (dalamSusilana dan Riyana, 2009:62)dengan menggunakan pendekatan system dapat dijelaskan bahwa perumusan tujuan instruksional merupakan langkah pertama dalam merancang pembelajaran sebagai rumusan tingkah laku yang harus dimilii oleh siswa setelah selesai mengikuti pembelajaran. Langkah kedua adalah merinci materi pembelajaran yang diharapkan yang dapat menunjang pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Menent ukan media yang cocok digunakan dalam pembelajaran disesuaikan dengan tujuan, strategi, waktu yang tersedia, dan fasilitas pendukung lainnya. Pengkajian sistem pembelajaran yang dikembangkan oleh Gerlach dan Elly tersebut menempatkan komponen media sebagai bagian integral dalam keseluruhan system pembelajaran. Dengan demikian secara teorititis model tersebut menjadi dasar alasan mengapa kita perlu melakukan pemilihan terhadap media, agar memiliki kesesuaian dengan tujuan (specification of objective), kesesuaian dengn isi (spesificasion of content), Strategi pembelajaran (determination of strategy), dan waktu yang tersedia (allocation of time). b. Alasan Praktis Pemilihan Media Alasan praktis berkaitan dengan pertimbangan-pertimbangan sipengguna seperti guru, dosen, instruktur.Terdapat beberapa penyebab orang memilih media, antara lain dijelaskan oleh Arif Sadiman (dalam Susilana dan Riyana, 2009: 64) sebagai berikut:

    1) Demonstration

    Dalam hal ini media dapat digunakan sebagai alat untuk mendemonstrasikan sebuah konsep, alat, objek, kegunaan, cara

    mengoperasikan dan lain- lain. Contohnya: seorang guru biologi akan membelajarakan siswa tentang betuk dan struktur sel dengan menggunakan mikroskop, maka sebelum praktikum dimulai, sebelum siswa meletakkan objek pada mikroskop untuk diamati maka guru tersebut menunjukkan cara kerja mikroskop

    sesuai dengan prosedur yang benar, cara ini akan memperlancar proses belajar dan menghindari resiko kerusakan pada alat praktikum yang digunakan.

    2) Familiarity

    Pengguna media pembelajaran memiliki alasan pribadi mengapa ia menggunakan media, yaitu karena sudah terbiasa menggunakan media tersebut.

    3) Clarity.

    Alasan ketiga ini mengapa guru menggunakan media adalah untuk lebih memperjelas pesan pembelajaran dan memberikan penjelasan yang lebih konkrit.

    4) Active Learning.

    Media dapat berbuat lebih dari yang bisa dilakukan oleh guru. Salah satu aspek yang harus diupayakan oleh guru dalam pembelajaran adalah siswa harus berperan secara aktif baik secara fisik, mental, dan emosional. Tugas pengguna adalah memilih media yang tepat dengan kebutuhan pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan karakteristik materi pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa dasar pertimbangan dalam memilihan media adalah dapat terpenuhinya kebutuhan dan tercapaiannya tujuan pembelajaran. Mc. M. Connel (dalam Susilana dan Riyana, 2009: 69)dengan tegas mengatakan “if the medium fits use it” artinya jika media sesuai maka gunakanlah. 2. Kriteria Pemilihan Media Kriteria pemilihan media bersumber dari konsep bahwa media merupakan bagian dari sistem instruksional secara keseluruhan.

    • a. Kriteria Pemilihan Umum Menurut Susilana dan Riyana (2009:69)diantaranya:

    1) Kesesuaian dengan Tujuan (instructionagoals). Perlu di kaji tujuan pembelajaran apa yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan pembelajaran. Dari kajian Tujuan Instruksional Umum (TIU) atau Tujuan Instruksional Khusus (TIK) ini bisa dianalisis media apa yang cocok guna mencapai tujuan tersebut. 2) Kesesuaian dengan materi pembelajaran (instructional content) Yaitu bahan atau kajian apa yang akan diajarkan pada program pembelajaran tersebut. Pertimbangan lainnya, dari bahan atau pokok bahasan tersebut sampai sejauhmana kedalaman yang harus dicapai, dengan demikian kita bisa mempertimbangkan media apa yang sesuai untuk penyampaian baha n tersebut. 3) Kesesuaian dengan Karakteristik Pembelajar atau siswa. Dalam hal ini media haruslah familiar dengan karakteristik siswa/guru. Yaitu mengkaji sifat -sifat dan ciri media yang akan digunakan. Hal lainnya karakteristik siswa, baik secara kuantitatif (jumlah) ataupun kualitatif (kualitas, ciri, dan kebiasaan lain) dari siswa terhadap media yang akan digunakan. Terdapat media yang cocok untuk sekelompok siswa, namun tidak cocok untuk siswa yang lain. 4) Kesesuaian dengan teori. Pemilihan media harus didasarkan atas kesesuaian dengan teori. Media yang dipilih bukan karena fanatisme guru terhadap suatu media yang dianggap paling disukai dan paing bagus, namun didasarkan atas teori yang di angkat dari penelitian dan riset sehingga telah teruji validitasnya. 5) Kesesuaian dengan gaya belajar siswa. Kriteria ini didasarkan atas kondisi psikologis siswa, bahwa siswa belajar dipengaruhi pula oleh gaya belajar siswa. 6) Kesesuaian dengan kondisi lingkungan, fasilitas pendukung, dan waktu yang tersedia.

    Bagaimana bagus nya sebuah media, apabila tidak didukung oleh

    fasilitas dan waktu yang tersedia, maka kurang efektif. Misalnya guru IPA merencanakan untuk mengadakan pembelajaran dengan memanfaatkan TV Edu, tentu saja guru tersebut harus mengalokasikan waktu yang tepat sesuai dengan jam tayang dalam TV edu tersebut. b. Kriteria Khusus Kriteria khusus yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media dikemukakan oleh Erickson (dalam Jalinus dan Ambiyar, 2016:18).

    • 1. Apakah materinya penting dan berguna bagi siswa?

    • 2. Apakah dapat menarik minat siswa untuk belajar?

    • 3. Apakah ada kaitannya secara langsung dengan tujuan pembelajaran?

    • 4. Bagaimana format penyajiannya diatur?

    • 5. Bagaimana dengan materinya, mutakhir dan autentik?

    • 6. Apakah konsep dan kecermatannya terjamin secara jelas?

    • 7. Apakah isi dan presentasinya memenuhi standar?

    • 8. Apakah penyajiannya objektif?

    • 9. Apakah bahannya memenuhi standar kualitas teknis?

    10. Apakah bahan tersebut sudah melalui pemantapan uji coba atau validasi?

    Sejumlah kriteria khusus lainnya dalam memilih media pembelajaran yang tepat dapat dirumuskan dalam satu kata ACTION, yaitu akronim dari Access, technology, interactivity, organization, dan novelty.

    1) Akses Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. Apakah media yang diperlukan itu tersedia, mudah dan dapat dimanfaatkan oleh murid. 2) Biaya Biaya juga menjadi bahan pertimbangan. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media pembelajaran yang

    canggih biasanya mahal. Namun biaya itu harus kita hitung dengan aspek manfaatnya. 3) Teknologi Mungkin saja kita tertarik kepada satu media tertentu. Tetapi kita perlu memperhatikan apakah teknisinya tersedia dan mudah menggunakannya? Katakanlah kita ingin menggunakan media audiovisual untuk dikelas, perlu kita pertimbangkan, apakah ada aliran listriknya, apakah voltase listriknya cukup dan sesuai, bagaimana cara mengoperasikannya? Interaktif Media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Semua kegiatan pembelajaran yang akan dikembangkan oleh guru tentu saja memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut. 5) Organisasi Pertimbangan yang juga penting adalah dukungan organisasi, misalnya apakah pimpinan sekolah atau pimpinan yayasan mendukung? Bagaimana pengorganisasiannya? Apakah di sekolah tersedia sarana yang disebut pusat sumber belajar. 6) Novelty Kebaruan dari media yang akan dipilih juga harus menjadi pertimbangan. Sebab media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi siswa.

    4)

    Menurut

    Arsyad

    (2013:74)

    ada

    beberapa

    kriteria

    yang

    patut

    diper hatikan dalam memilihan media.

    1) Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Media dipilih berdasarkan tujuan yang ditetapkan yang mengacu pada salah satu atau gabungan dari tiga ranah kongnitif, afektif, dan psikomotor. 2) Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi.

    Misalnya, tepat untuk mempertunjukkan proses dan transformasi yang memerlukan manipulasi ruang dan waktu. 3) Praktis, luwes, dan bertahan. Media yang dipilih sebaiknya dapat digunakan dimana pun kapan pun dengan peralatan yang tersedia disekitarnya, serta mudah dipindahkan dan dibawa kemana- mana. 4) Guru terampil menggunakannya. Apapun media itu, guru harus mampu menggunakan dalam proses pembelajaran. Nilai dan manfaat media amat ditentukan oleh guru yang menggunakannya. 5) Pengelompokkan sasaran. Media yang efektif untuk kelompok besar belum tentu sama efektifnya jika digunakan pada kelompok kecil atau perorangan. Ada media yang tepat untuk jenis kelompok besar,kelompok sedang, kelompok kecil dan perorangan. 6) Mutu teknis Pengembangan visual baik gambar maupun fotograf harus memenuhi persyaratan teknisi tertentu. Misalnya: visual pada slide harus jelas dan informasi atau pesan yang ditonjolkan dan ingin disampaikan tidak boleh terganggu oleh elemen lain yang berupa latar belakang. Dengan demikian dapat disimpulkan dalam pemilihan kriteria media pembelajaran dapat menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar demi tercapaiannya tujuan pembelajaran. Pemilihan karakteristik media pembelaran juga harus memperhatikan keadaan peserta didik, kondisi lingkungan, biaya dan sosial setempat, agar media yang digunakan dapat efektif, tepat sasaran dan sesuai pula dengan kemampuan peserta didik. 3. Prosedur Pemilihan Media Pembelajaran a. Fo rmat pemilihan media Prosesur dalam pemilihan media yang dikemukakan oleh Arif S Sadirman (dalam Susilana dan Riyana, 2009:74) ada tiga model yang

    dapat dijadikan prosedur dalam pemilihan media yang akan digunakan, yaitu:

    1) Format flowchart Menggunakan sistem pengguguran atau eliminasi dalam penggambilan keputusan pemilihan, jika salah satu beropsi tidak maka gugur dan berpindah langkah selanjutnya. 2) Format Matrix Menanggukan proses keputusan pemilihan sampai semua kriterianya di pertimbangkan. 3) Format check list Sama dengan format matrik, yaitu menangguhkan proses keputusan pemilihan sampai semua kriterianya dipertimbangkan.

    b. Prosedur pemilihan model ASSURE(Analysis Learner Characteristics, State Objectives, Select, Modify or Design materials, Utilitize Materials, Utilitize Materials )

    Dalam pemilihan media dapat menggunakan pola ASSUREmodel dari Heinich, Molenda dan Russel (dalam Susilana dan Riyana, 2009:81). Menurut model ini apabila kita akan memilih media lakukan dengan mengikuti prosedur sesuai tahapan ASSURE. 1) Analisis Learner Characteristics Tahap pertama adalah melakukan analisis terhadap karakteristik siswa.Secaragaris besar karakteristik siswa terbagi dua, yaitu karakteristik umum dan khusus. 2) State Objectives Langkah selanjutnya menentukan tujuan pe mbelajaran atau kompetensi yang diharapkan tercapai. Pengkajian terhadap tujuan atau kompetensi ini akan di jadikan pijakan untuk prosedur selanjutnya. 3) Select, Modify or Design materials. Selanjutnya adalah kegiatan memilih media, memodifikasi media yang sudah ada atau merancang sesuai

    kebutuhan.Langkah ini dilakukan sesuai dengan langkah dua di atas yaitu penentuan tujuan/kompetensi. 4) Utilitize Materials Setelah media tersebut dipilih mana yang sesuai dengan karakteristik siswa, sesuai dengan tujuan pembelajaran lalu langkah selanjutnya digunakan dalam pembelajaran menggunakan mediadalam pembelajaran perlu diperhatikan

    langkah- langkah

    menggunakannya.

    5) Require Learner respose Selanjutnya perlu diamati bagaimana respon siswa terhadap penggunaan media tersebut. 6) Evaluate Tahap akhir dalam pemilihan media model ASSURE adalah melakukan evaluasi. Evaluasi pada hakikatnya merupakan suatu proses membuat suatu keputusan tentang nilai suatu objek.

    • c. Prosedur pemilihan model Anderson Aderson (dalam Susilana dan Riyana, 2009:85) membagi pemilihan media menjadi enam langkah. 1) Langkah awal adalah menentukan karakteristik pesan yang akan disampaikan, apakah pesan tersebut berupa fakta, konsep, gagasan, hukum, teori yang sifatnya konseptual, atau pesan tersebut berupa instruksi, penugasan-penugasan tertentu yang mengarah pada penguasaan skill atau keterampilan. 2) Selanjutnya tahap dua mengkaji bagaimana metode yang tepat sesuai dengan karakteristik pesan pembelajaran. Contoh jika pesan tersebut berupa pesan umum, informasi publik, politik dan ekonomi maka lebih cocok menggunakan media masa dan bukan media pembelajaran. 3) Pesan pembelajaran perlu dianalisis lebih operasional terutama kaitannya dengan karakteristik tujuan, kita bisa mengambil Teori Bloom (dalam Susilana dan Riyana, 2009:85) menganalisis kompetensi menjadi tiga aspek.

    4) Selanjutnya menentukan media yang cocok dan sesuai dengan tujuan dan sesuai dengan karakteristik siswa, baik dari segi jumlahnya, maupun dari segi karakteristik lainnya, atau media yang sesuai dengan kemampuan produksi, fasilitas yang dimiliki dan biaya yang tersedia. 5) Evaluasi perlu dilakukan untuk mempertimbangkan lebih matang kelebihan dan kekurangan media yang telah menjadi pilihan. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara mereview oleh beberapa pihak yang terkait, seperti guru, atau siswa. Apabila cocok, maka akan langsung diproduksi dan apabila tidak maka harus kembali pada langkah IV untuk memilih alternatif media yang lainnya. 6) Langkah terakhir adalah melakukan perencanaan untuk pengembangan dan Ploduksi media. Tahap ini dapat dilakukan dengan tiga langkah, yaitu praproduksi, produksi, dan pasca produksi.

    C. Pengembangan Media Pembelajaran

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengembangan adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan. Med ia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah alat atau sarana komunikasi, yang terletak di antara dua pihak (orang, golongan, dan sebagainya), perantara, penghubung.

    Sedangkan pembelajaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Dapat disimpulkan bahwa pengembangan media pembelajaran adalah serangkaiancara, proses atau perbuatan yang dilakukan untuk menghasilkan danmengembangkan suatu alat atau sarana untuk menjadikan orang atau makhluk hidup belajar berdasarkan teori yang telah ada. Susilana dan Riyana (2009: 28) mengemukakan langkah langkah dalam mengembangkan media pembelajaran.

    Secara umum dapat dirinci sebagai beirkut: (1) Identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa, (2) Perumusan tujuan instruksional

    Secara umum dapat dirinci sebagai beirkut: (1) Identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa, (2) Perumusan tujuan instruksional (instructional objective), (3) Perumusan butir-butir materi yang terperinci, (4) Mengembangkan alat pengukuran keberhasilan, (5) Menuliskan naskah media, (6) Merumuskan instrument tes dan revisi.

    • 1. Identifikasi Kebutuhan Dan Karakteristik Siswa Sebuah perencanaan media didasarkan atas kebutuhan. Dalam pembelajaran yang dimaksud dengan kebutuhan adalah adanya kesenjangan antara kemampuan, keterampilan, dan sikap siswa yang mereka miliki sekarang. Adanya kebutuhan, sejogjanya menjadi dasar dan pijakan dalam membuat media pembelajaran, sebab dengan dorongan kebutuhan inilah media dapat berfungsi dengan baik. Kesesuaian media dengan siswa menjadi dasar pertimbangan utama, sebab hampir tidak ada satu media ya ng dapat memenuhi semua tingkatan usia. Barbara B. Seels (dalam Susilana dan Riyana, 2009:29)mengatakan bahwa diperlukan informasi tentang gaya belajar siswa atau learning style.

    1) Tactile/Kinestheti, para siswa memperoleh hasil belajar optimal apabila disibukan dengan suatu aktivitas.Mereka tidak ingin hanya membaca tetapi ikut terlibat langsung melakukan sendiri. 2) Visual/Perceptual., para siswa memperoleh hasil belajar optimal dengan penglihatan. Demonstrasi dari papan tulis, diagram, grafik dan tabel adalah semua alat yang berharga untuk mereka.Pelajar tipe visual selalu ingin melihat gambar, diagram, flowchart, time line, film, dan demonstrasi. 3) Auditory, pelajar menyukai informasi dengan format bahasa lisan.Hasil belajar diperoleh melalui mendengarkan ceramah kuliah dan mengambil bagian pada diskusi kelompok. 4) Aktif versus Reflektif Aktif, pelajar cenderung untuk mempertahankan dan memahami informasi yang terbaik apa dengan melakukan sesuatu secara aktif dengan mendiskusikan atau menerapkannya dan menje laskannya pada ornag lain. 5) Reflektif, pelajar suka memikirkan sesuatu dengan tenang “Mari kita fikirkan terlebih dahulu” adalah tanggapan pelajar yang reflektif. 6) Seqwential Versus Global Seqwential, pelajar menyukai suatu ikhtisar atau “gambaran besar” dari apa yang mereka akan lakukan sebelum menuju pembelajaran dengan proses yang kompleks.

    • 2. Perumusan Tujuan Tujuan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan karena dengan dengan tujuan akan mempengaruhi arah dan tindakan kita. Dengan tujuan itu pulalah kita dapat mengetahui apakah target sudah tercapai atau tidak. Dengan pembelajaran tujuan juga merupakan factor yang sangat penting, karena tujuan itu akan menjadi arah kepada siswa untuk melakukan perilaku yang diharapkan dengan tujuan tersebut. Tujuan yang baik, yaitu yang jelas, terukur, operasional, tidak mudah untuk dirumuskan oleh guru, diperlukan latihan, penelaahan terhadap kurikulum dan pengalaman saat melakukan pembelajaran di kelas. Namun,

    sebagai patokan, sebaiknya perumusan tujuan haru slah memiliki ketentuan sebagai berikut:

    1) Learner Oriented. Dalam merumuskan tujuan, harus selalu berpatokan pada perilaku siswa bukan perilaku guru. Sehingga dalam perumusannya kata-kata siswa secara eksplisit dituliskan. Selain itu, perilaku yang diharapkan dicapai harus mungkin dapat dilakukan siswa dan bukan perilaku yang tidak mungkin dilakukan siswa. Tujuan itu berorientasi pada hasil, sehingga secara kuantitas dapat diukur. Operational. Perumusan tujuan harus dibuat secara spesifik dan operasional sehingga mudah untuk mengukur tingkat keberhasilannya. Tujuan yang spesifik ini terkiat dengan penggunaan kata kerja. Kata kerja yang umum akan menghasilkan

    2)

    perilaku atau tindakan siswa yang juga bersifat umum, namun sebaliknya kata kerja yang khusus akan menghasilkan perilaku yang khusus pula. 3) ABCD. Untuk memudahkan merumuskan t ujuan pembelajaran, Baker (dalam Susilana dan Riyana, 2009:33) membuat formula teknik perumusan tujuan pembelajaran dengan rumus ABCD dengan penjelasan sebagai berikut:

    A

    Audience, artinya sasaran sebagai pembelajar yang perlu dijelaskan secara spesifik agar jelas untuk siapa tujuan tersebut diberikan. Sasaran yang dimaksud di sini misalnya siswa SD kelas IV, siswa SMP kelas 2, siswa SMA kelas 3, dan lain- lain.

    B

    Behaviour, adalah perilaku spesifik yang diharapkan dilakukan atau dimunculkan siswa setelah pembelajaran berlangsung. Behavior ini dirumuskan dalam bentuk kata kerja, contohnya: menjelaskan, menyebutkan, merinci, mengidentifikasi, memberikan contoh dan sebagainya.

     

    Conditioning, yaitu keadaan yang harus dipenuhi atau

    C

    dikerjakan siswa pada saat

    dilakukan

    pembelajaran,

     

    misalnya: dengan cara mengamati, tanpa membaca kamus, dengan menggunakan kalkulator, dengan benar dan sebagainya.

     

    Degree, adalah batas minimal tingkat keberhasilan terendah yang harus dipenuhi dalam mencapai perilaku

    D

    yang diharapkan. Penentuan ini tergantung pada jenis bahan materi, penting tidaknya materi. Contoh: 3 buah, minimal 80%, empat jenis, dan sebagainya.

    • 3. Perumusan Materi Titik tolak perumusan materi pembelajaran adalah rumusan tujuan.Materi berkaitan dengan substansi isi pelajaran yang harus diberikan. Materi perlu disusun dengan memperhatikan kriteria-kriteria tertentu, diantaranya:

    (1) Sahih atau valid, materi yang dituangkan dalam media untuk pembelajaran benar- benar telah teruji kebenarannya dan kesahihannya. Hal ini juga berkaitan dengan keaktualan materi sehingga materi yang disiapkan tidak ketinggalan jalan dan memberikan konstribusi untuk masa yang akandatang. (2) Tingkat kepentingan (significant),dalam memilih materi perlu dipertimbangkan pertanyaan sebagai berikut, sejauh mana materi tersebut penting untuk dipelajari? Penting untuk siapa? Dimana dan mengapa? Dengan demikian materi yang diberikan kepada siswa tersebut benar-benar yang dibutuhka nnya. (3) Kebermanfaatan (utility),kebermanfaatan yang dimaksud haruslah dipandang dari dua sudut pandang yaitu kebermanfaatan secara akademis dan non akademis, secara akademis matteri harus bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan siswa, sedangkan non akademis materi harus menjadi bekal berupa life skill baik berupa pengetahuan aplikatif, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan keseharian. (4) Learnability,artinya sebuah program harus dimungkinkan untuk dipelajari, baik aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah,

    sulit ataupun sukar) dan bahan ajaran tersebut layak digunakan sesuai dengan kebutuhan setempat. (5) Menarik minat (interst) materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi siswa untuk memperlajari lebih lanjut. Setiap materi yang diberikan kepada siswa harus menimbulkan keingintahuan lebih lanjut. Sehingga memunculkan dorongan lebih tinggi untuk belajar secara aktif dan mandiri. Begitu halnya dengan meteri dalam sebuah program media, kriteria materi yang diuraikan tersebut berlaku juga untuk materi pada media sebuah program media didalamnya haruslah berisi materi yang harus dikuasai oleh siswa. Jika tujuan sudah dirumuskan dengan baik danlengkap., maka teknik perumusan materi tidaklah sulit, tinggal kita mengganti kata kerjanya.

    • 4. Perumusan Alat Pengukur Keberhasilan Pembelajaran yang kita lakukan haruslah diukur apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai atau tidak? Untuk mengukur hal tersebut, maka diperlukan alat pengukur hasil belajar yang berupa tes, penugasan atau daftar cek perilaku. Alat pengukur keberhasilan belajar ini perlu dikembangkan dengan berpijak pada tujuan yang telah dirumuskan dan harus sesuai dengan materi yang sudah disiapkan.Yang perlu diukur adalah tiga kemampuan utama yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dirumuskan secara rinci dalam tujuan. Dengan demikian terdapat hubungan yang erat antara tujuan, materi dan tes pengukuran keberhasilan.

    D. Evaluasi Media Pembelajaran

    Evaluasi merupakan bagian integral dari suatu proses pembelajaran. Begitu juga pada media pembelajaran sebagai salah satu komponen dari pembelajaran, perlu diadakan evaluasi terlebih dahulu sebelum digunakan secara luas. Baik

    dari isi materi, edukatif, maupun teknis. Sehingga memenuhi criteria yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

    • a. Tujuan Evaluasi Media Pembelajaran

    Kekuatan dan kelemahan dari media pembelajaran yang telah dibuat oleh seorang guru biasanya dapat diketahui dengan lebih jelas setelah dilaksanakan di kelas dan dievaluasi dengan seksama. Hasil yang diperoleh dari e valuasi akan memberi petunjuk kepada guru tentang bagian- bagian mana dari media pembelajaran tersebut yang sudah baik dan bagian mana pula yang belum baik sehingga belum dapat mencapai tujuan dari pengembangan media pembelajaran yang diharapkan yang dalam hal ini terkait dengan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah disusun atas dasar hasil evaluasi tersebut dapat dilakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan, baik pada waktu media tersebut sedang digunakan maupun setelah media tersebut digunakan. Perbaikan yang dilakukan setelah media ini selesai digunakan akan berguna untuk keperluan penyempurnaan media pada kegiatan pembelajaran selanjutnya.

    Menurut Arsyad (2013: 218) menyebutkan tujuan evaluasi media pembelajaran yaitu:

    • 1. Menentukan apakah media pembelajaran itu efektif.

    • 2. Menentukan apakah media itu dapat diperbaiki atau ditingkatkan.

    • 3. Menetapkan apakah media itu cost-effective dilihat dari hasil belajar siswa.

    • 4. Memilih media pembelajaran yang sesuai untuk dipergunakan dalam proses belajar di dalam kelas.

    • 5. Menentukan apakah isi pelajaran sudah tepat disajikan dengan media itu.

    • 6. Menilai kemampuan guru menggunakan media pembelajaran.

    • 7. Mengetahui apakah media pembelajaran itu benar-benar memberi sumbangan terhadap hasil belajar seperti yang dinyatakan.

    • 8. Mengetahui sikap siswa terhadap media pembelajaran.

    Sedangkan Susilana dan Riyana (2009: 207) menjelaskan evaluasi media yang dilaksanakan pada dasarnya difokuskan kepada beberapa tujuan

    yaitu:

    • 1. Memilih media pendidikan yang akan dipergunakan oleh kelas

    Tidak semua media yang dibuat oleh guru dan yang telah tersedia di sekolah dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas. Adakalanya guru memaksakan media tertentu yang kurang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan sehingga bukan peningkatan proses pembelajaran yang dirasakan, sebaliknya beragam masalah baru muncul. Kondisi seperti ini tentu bukan hal yang diharapkan oleh guru. Oleh karena itu sebelum guru menggunakan media dalam proses pembelajaran alangkah lebih baik jika dievaluasi terlebih dahulu secara cermat. Evaluasi media membantu guru dalam menentukan pilihan media yang tepat dan sesuai dengan rumusan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

    • 2. Untuk melihat prosedur/mekanisasi penggunaan suatu alat Mekanisasi penggunaan suatu media merupakan salah satu bagian penting dalam pengembangan media yang harus dievaluasi. Media pembelajaran yang dibuat harus mudah digunakan oleh pemakai atau dalam istilah asingnya disebut “ease of use” atau “user friendly”, banyak media dengan tampilan yang begitu bagus namun susah untuk dioperasikan. Hal tersebut harus dihindari sehingga media yang telah kita gunakan tidak sia-sia hanya karena persoalan teknis seperti itu. Oleh karena itu evaluasi media pun harus diarahkan untuk melihat sejauh mana media yang digunakan memenuhi kela yakan teknis penggunaannya.

    • 3. Untuk memeriksa apakah tujuan penggunaan alat tersebut telah tercapai Setiap media pembelajaran tentunya memiliki karakteristik dan manfaat yang berbeda antara media yang satu dengan yang lainnya terkait dengan pencapaian tujuan pembeiajaran. Dengan dilakukannya evaluasi kita akan dapat mengukur sejauhmana media- media yang ada dengan keunggulan-keunggulannya tersebut dimanfaatkan secara optimal dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

    • 4. Menilai kemampuan guru menggunakan media pendidikan

    Evaluasi media pembelajaran pun diarahkan untuk menilai sejauhmana kemampuan guru menggunakan media yang ada di sekolah termasuk juga media yang telah dikembangkannya sendiri. Jika keberadaan media ditunjang dengan kemampuan guru-guru dalam memanfaatkannya tentu akan sangat besar pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan program pembelajaran di sekolah yang berujung pada pencapaian mutu pendidikan secara keseluruhan.

    • 5. Memberikan informasi untuk kepentingan administrasi Media pembelajaran dan pemanfaatannya harus dikelola dengan baik melalui proses pengadministrasian yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Keberadaan dan keberfungsian media di sekolah harus selalu dievaluasi secara berkala sehingga dapat membantu peningkatan kualitas pembelajaran disekola h. Hasil evaluasi ini akan sangat bermanfaat untuk menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaan media termasuk aspek administrasinya.

    • 6. Untuk memperbaiki alat media itu sendiri Evaluasi media pada akhirnya akan terkait dengan kondisi media itu sendiri. Media yang ada di sekolah harus dievaluasi tingkat kelayakan pakainya setiap saat sehingga jika akan digunakan tidak ada masalah dan langsung dapat dipakai. Dengan demikian melalui proses evaluasi media ini akan dapat teridentifikasi secara lengkap media- media mana saja yang sudah rusak parah, dalam kondisi rusak namun masih dapat diperbaiki, termasuk media- media apa saja yang masih bagus dan layak pakai.

    Dari dua pendapat diatas tujuan evaluasi media pembelajaran adalah sebagai berikut:

    • 1. Memilih media pembelajaran yang sesuai untuk dipergunakan dalam proses belajar di dalam kelas.

    • 2. Melihat prosedur/mekanisasi penggunaan suatu alat.

    • 3. Menilai kemampuan guru menggunakan media pembelajaran.

    • 4. Menentukan apakah media pembelajaran itu efektif.

    5.

    Mengetahui media pembelajara n itu benar-benar memberi pengaruh terhadap hasil belajar.

    • 6. Menetapkan apakah media itu cost-effective dilihat dari hasil belajar siswa.

    • 7. Menentukan dan memeriksa apakah isi pelajaran sudah tepat disajikan dengan media tersebut sesuai dengan tujuan penggunaa nnya.

    • 8. Memperbaiki atau meningkatkan media pembelajaran.

    • 9. Memberikan informasi untuk kepentingan administrasi.

      • 10. Mengetahui sikap siswa terhadap media pembelajaran.

    b. Jenis Evaluasi Media Pembelajaran Susilana dan Riyana (2009: 213) menggolongkan jenis evaluasi media pembelajaran berdasar proses menjadi dua macam yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.

    • 1. Evaluasi Formatif, proses mengumpulkan data tentang efektivitas dan dan efisiensi bahan-bahan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Data-data tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menyempurnakan media yang bersangkutan agar lebih efektif dan efisien.

    • 2. Evaluasi Sumatif, proses pengumpulan data untuk menentukan apakah media yang patut digunakan dalam situasi- situasi tertentu atau apakah media tersebut benar- benar efektif atau tidak, setelah media tersebut pdiperbaiki atau disempurnakan. Dari penggolongan tersebut dapat ditafsirkan bahwa evaluasi media

    pembelajaran difokuskan dan dititikberatkan pada evaluasi formatif dibandingkan evaluasi sumatif. Disebabkan karena pada evaluasi formatif

    dilakukan upaya penyempurnaan media pembelajaran telah dibuat agar lebih efektif dan efisien. Adapun tahapan yang ada pada evaluasi formatif sebagai berikut (Susilana dan Riyana, 2009: 222):

    • 1. Evaluasi Satu Lawan Satu Tahap satu lawan satu atau yang disebut dengan istilah one to one evaluation, dilaksanakan dengan memilih dua orang atau lebih siswa

    yang dapat mewakili populasi target dari media yang dibuat. Sajikan media tersebut kepada mereka secara individu al. Kalau media itu ddidesain untuk belajar mandiri, biarkan mereka mempelajarinya sementara guru mengamatinya. Kedua orang siswa yang dipilih tersebut hendaknya satu orang dari populasi target yang kemampuan umumnya

    sedikit di bawah rata-rata dan satu orang lagi di atas rata-rata. Prosedur pelaksanaan evaluasi media tahap satu lawan satu ini adalah sebagai berikut:

    • a. Jelaskan kepada siswa bahwa Anda sedang merancang suatu media baru dan Anda ingin mengetahui bagaimana reaksi mereka terhadap media yang anda buat tersebut.

    • b. Lalu sampaikan kepada mereka bahwa apabila nanti mereka berbuat salah, hal tersebut bukanlah karena kekurangan mereka tetapi karena kekurangsempurnaan media tersebut, sehingga perlu diperbaiki.

    • c. Usahakan agar mereka bersikap relaks dan bebas mengemukakan pendapatnya tentang media tersebut.

    • d. Selanjutnya berikan tes awal untuk mengetahui. sejauh mana kemampuan dan pengetahuan siswa terhadap topik yang dimediakan.

    • e. Sajikan media dan catat berapa lama waktu yang Anda butuhkan atau dibutuhkan siswa u ntuk menyajikan/mempelajari media tersebut. Catat pula bagaimana reaksi siswa dan bagian- bagian yang sulit untuk dipahami; apakah contoh-contohnya, penjelasannya, petunjuk-petunjuknya, ataukah yang lain.

    • f. Berikan tes yang mengukur keberhasilan media tersebut (post test).

    • g. Analisis informasi yang terkumpul.

    2. Evaluasi Kelompok Kecil Pada tahap ini media perlu dicobakan kepada 10-20 orang siswa yang dapat mewakili populasi target. Kalau media tersebut anda buat untuk siswa kelas I SMP maka pilihlah 10-20 orang siswa dari kelas I SMP. Jika kurang dari 10 data yang anda peroleh kurang dapat

    menggambarkan populasi target. Sebaliknya bila lebih dari 20 data atau informasi yang anda peroleh melebihi yang anda perlukan akan kurang bermanfaat untuk dianalisis dalam evaluasi kelompok kecil. Siswa yang anda pilih dalam kegiatan ini hendaknya mencerminkan karakteristik populasi. Usahakan sampel tersebut terdiri dari siswa-siswa yang kurang pandai, sedang dan pandai; laki- laki dan perempuan; berbagai usia dan latar-belakang. Prosedur yang perlu ditempuh adalah:

    • a. Jelaskan bahwa media tersebut berada pada tahap formatif dan memerlukan umpan balik untuk menyempurnakannya;

    • b. Berikan tes awal (pretest) untuk mengukur kemampuan dan pengetahuan siswa tentang topik yang dimediakan;

    • c. Sajikan media atau minta kepada siswa untuk mempelajari media tersebut;

    • d. Catat waktu yang diperlukan dan semua bentuk umpan balik (langsung ataupun tak langsung) selama penyajian media;

    • e. Berikan tes untuk mengetahui sejauh mana tujuan bisa tercapai (post test);

    • f. Bagikan kuesioner dan minta siswa untuk mengisinya. Apabila mungkin adakan diskusi yang mendalam dengan beberapa siswa.

    • g. Analisis data-data yang terkumpul.

    3. Evaluasi Lapangan Evaluasi lapangan atau field evaluation adalah tahap akhir dari evaluasi formatif yang perlu dilakukan. Usahakan memperoleh situasi yang semirip mungkin dengan situasi sebenarnya. Setelah melalui dua tahap evaluasi di atas tentulah media yang kita buat sudah mendekati kesempurnaannya. Namun dengan itu masih harus dibuktikan. Pilih sekitar 30 orang siswa dengan berbagai karakteristik (tingkat kepandaian, kelas, latar belakang jenis kelamin, usia, kemajuan belajar dan sebagainya) sesuai dengan karakteristik populasi sasaran. Prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

    • a. Mula- mula pilih siswa-siswa yang benar- benar mewakili populasi target, kirakira 30 orang siswa. Usahakan agar mereka mewakili berbagai tingkat kemampuan dan keterampilan siswa yang ada. Tes kemampuan awal perlu dilakukan bila karakteristik siswa belum diketahui. Atas dasar itu pemilihan siswa dilakukan. Tetapi bila kita kenai benarsiswa-siswa yang akan dipakai dalam uji coba tak perlu tes itu dilakukan.

    • b. Jelaskan kepada mereka maksud uji lapangan tersebut dan apa yang anda harapkan pada akhir kegiatan. Pada umumnya siswa tak terbiasa untuk mengeritik bahan-bahan atau media yang diberikan, karena mereka beranggapan sudah benar dan efektif. Usahakan mereka bersikap relaks dan berani mengemukakan penilaian. Jauhkan sedapat mungkin perasaan bahwa uji coba ini menguji kemampuan mereka.

    • c. Berikan tes awal untuk mengukur sejauh mana pengetahuan dan keterampilan mereka terhadap topik yang dimediakan.

    • d. Sajikan media tersebut kepada mereka. Bentuk penyajiannya tentu sesuai dengan rencana pembuatannya: Untuk prestasi kelompok besar, untuk kelompok kecil atau belajar mandiri;

    • e. Catat semua respon yang muncul dari siswa selama sajian. Begitu pula waktu yang diperlukan;

    • f. Berikan tes untuk mengukur seberapa jauh pencapaian hasil belajar siswa setelah sa jian media tersebut. Hasil tes ini (post test) dibandingkan dengan hasil tes pertama (pre test) akan menunjukkan seberapa efektif dan efisien media yang anda buat tersebut;

    • g. Berikan kuesioner untuk mengetahui pendapat atau sikap mereka terhadap media tersebut dan sajian yang diterimanya;

    • h. Ringkas dan analisislah data-data yang anda peroleh dengan kegiatan-kegiatan tadi: kemampuan awal, skor tes awal dan tes akhir, waktu yang diperlukan, perbaikan bagian-bagian yang sulit, dan pengayaan yang diperlukan, kecepatan sajian dan sebagainya.

    • i. Atas dasar itu media diperbaiki dan semakin disempurnakan.

    A. Kesimpulan

    BAB III

    PENUTUP

    Dilihat dari pengadannya, media dapat menggunakan yang sudah ada yang dibuat oleh pihak tertentu dan kita dapat langsung menggunakannya, kita juga

    dapat membuat media sendiri sesuai dengan kebutuhan. Disinilah diperlukannya perencanaan, jika kita membuat media sendiri berdasarkan kebutuhan, dalam hal ini diperlukan analisis terhadap berbagai aspek, sehingga pas denga n kebutuhan.

    Selanjutnya pemilihan media di dalamnya termuat dasar pertimbangan, kriteria, dan prosedur. Dasar pertimbangan yang meliputi alasan teoritis yang terkait dengan konsep dan alasan praktis yang berkaitan dengan pertimbangan pengguna. Kemudian kriteria, yang mana terdapat dua kriteri secara khusu dan umum. Selanjutnya prosedur pemilihan media yang serinf dikenal dengan singkatan ASSURE.

    Pengembangan media pembelajaran adalah serangkaian acara, proses atau perbuatan yang dilakukan untuk menghasilkan dan mengembangkan suatu alat atau sarana untuk menjadikan orang atau makhluk hidup belajar berdasarkan teori yang telah ada. Secara umum prosedur dapat dirinci sebagai ber ikut: (1) Identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa, (2) Perumusan tujuan instruksional (instructional objective), (3) Perumusan butir-butir materi yang terperinci, (4) Mengembangkan alat pengukuran keberhasilan, (5) Menuliskan naskah media, (6) Merumuskan instrument tes dan revisi. Evaluasi merupakan bagian dari suatu proses pembelajaran. Baik dari isi materi, edukatif, maupun teknis. Sehingga memenuhi kriteria yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.Dalam pelaksanaan evaluasi ini memiliki banyak t ujuan evaluasi media pembelajaran, yang bermuara untuk memperbaiki dan menilai media tersebut . Ada dua jenis evaluasi yang digunakan yaitu evaluasi formatif dan sumatif, pada pelaksanaannya memfokuskan pada evaluasi formatif.

    B. Saran

    Guru sebagai pemberi informasi pendidikan kepada peserta didik sudah

    seharusnya mengetahui dan memahami media pembelajaran yang tepat bagi peserta didik. Untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu dalam menentukan media pembelajaran apa yang ingin diberikan sebagai seorang pendidik diperlukan pemahaman dalam merencanakan, memilih, mengembangkan, dan mengevaluasi media pembelajaran.

    DAFTAR PUSTAKA

    Arsyad, Azhar. 2013. “Media Pembelajaran”. Jakarta: RajaGrafindo Persana.

    Jalinus, Nizwardi dan Ambiyar. 2016. “Media dan sumber pembelajaran”. Jakarta: Prenada Media Group.

    Susilana, Rudi dan Riyana, Cepi. 2009. “Media Pembelajaran”. Bandung: CV WACANA PRIMA