Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Hospitalisasi merupakan suatu proses yang menjadi alas an yang berencana
atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi
pengobatan dan perawatan sampai pemulangannya kembali kerumah (Supartini,
2004). Hospitalisasi menyebabkan anak mengalami trauma baik jangka pendek
ataupun jangka panjang. Dampak negatif ini berkaitan dengan lamanya dan
banyaknya jumlah pasien, berbagai prosedur invasif, serta kecemasan orang tua,
gejala yang timbul berupa respon regresi, cemas terhadap perpisahan, apatis,
ketakutan, dan gangguan tidur (Hockenberry, 2007 dalam sulistiyani, 2009).
Anak-anak yang menjalani hospitalisasi di Indonesia diperkirakan 35 per
1000 anak (Sumarko, 2008). Perawatan anak sakit selama dirawat di rumah sakit
atau hospitalisasi menimbulkan krisis dan kecemasan tersendiri bagi anak dan
keluarganya saat anak berada di rumah sakit, anak harus menghadapi lingkungan
yang asing dan pemberian asuhan yang tidak dikenal. Anak juga sering kali
berhadapan dengan prosedur yang menimbulkan nyeri, kehilangan kemandirian dan
berbagai hal yang tidak diketahui (Wong, 2009).
Kecemasan adalah suatu respon emosi tanpa objek yang spesifik yang
secara subjektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan
adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab
yang tidak jelas dan dapat dihubungkan dengan perasaan yang tidak menentu dan
tidak berdaya. Anak-anak yang mendapatkan perawatan di rumah sakit akan
mengalami kecemasan. Tindakan yang dilakukan dalam mengatasi anak apapun
bentuknya harus berlandaskan pada prinsip autramatic care atau asuhan yang
terapeutik.
Atraumatic care adalah asuhan keperawatan yang tidak menimbulkan
trauma pada anak dan keluarganya merupakan asuhan yang teurapetik karena
bertujuan sebagai therapi pada anak. Atraumatic care merupakan bentuk perawatan
teurapetik yang diberikan oleh tenaga kesehatan dalam tatanan kesehatan anak,
melalui penggunakan tindakan yang dapat mengurangi stres fisik maupun stres
psikologis yang dialami anak maupun orang tuanya. Atraumatic care bukan suatu
bentuk intervensi yang nyata terlihat, tetapi memberikan perhatian pada apa, siapa,

1
dimana, mengapa dan bagaimana prosedur dilakukan pada anak dengantujuan
mencegah dan mengurangi stres fisik maupun psikologis.
Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak.
Dalam kondisi sakit, aktifitas bermain tetap perlu dilaksanakan namun harus
disesuaikan dengan kondisi anak. Terapi bermain ini bertujuan untuk
mempraktekkan dan melatih keterampilan, memberikan ekspresi terhadap
pemikiran, menjadi kreatif dan merupakan suatu aktifitas yang memberikan
stimulus dalam kemampuan keterampilan koqnitif dan afektif. Tidak hanya itu
terapi bermain di rumah sakit juga dapat menghilangkan kejenuhan anak selama
dirawat dirumah sakit.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka akan dibahas konsep autramatic
care pada anak akibat dari kecemasan yang dialami anak maupun orang tua
terhadap dampak dari hospitalisasi pada anak.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan autraumatik care ?
2. Apa saja prinsip-prinsip dari autraumatik care ?
3. Bagaimanakah reaksi pada anak terhadap hospitalisasi ?
4. Apa saja permainan terapeutik untuk anak ?
5. Apa saja intervensi keperawatan pada autraumatik care ?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian atraumatik care
2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dari atraumatik care
3. Untuk mengetahui reaksi pada anak terhadap hospitalisasi
4. Untuk mengetahui permainan terapeutik untuk anak
5. Untuk mengetahui intervensi keperawatan pada atraumatik care

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hospitalisasi
Hospitalisasi adalah suatu proses yang menjadi alasan yang berencana atau
darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi
pengobatan dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah (Supartini,
2004).
Anak yang baru pertama kali dirawat di rumah sakit menunjukkan perilaku
kecemasan. Selain pada anak, orang tua yang kurang mendapat dukungan emosi
dan social dari keluarga, kerabat, bahkan petugas kesehatan anak menunjukan
perasaan cemasnya pula.

B. Reaksi Anak dan Orang Tua Terhadap Hospitalisasi


Reaksi tersebut bersifat individual dan sangat tergantung pada usia
perkembangan anak,pengalaman sebelumnya terhadap sakit,sistem pendukung yang
tersedia dan kemampuan koping yang dimilikinya, pada umumnya, reaksi anak
terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh,
dan rasa nyeri.
Reaksi anak pada hospitalisasi :
1. Masa bayi (0-1 th)
Dampak perpisahan (Pembentukan rasa Percaya Diri dan kasih sayang)
Usia anak > 6 bulan bila terjadi stanger anxiety /cemas
a. Menangis keras
b. Pergerakan tubuh yang banyak
c. Ekspresi wajah yang tak menyenangkan
2. Masa todler (2-3 th)
Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan. Disini respon perilaku anak
dengan tahapnya :
a. Tahap protes menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain
b. Putus asa menangis berkurang,anak tak aktif,kurang menunjukkan minat
bermain, sedih, apatis
c. Pengingkaran/ denial
1) Mulai menerima perpisahan

3
2) Membina hubungan secara dangkal
3) Anak mulai menyukai lingkungannya
3. Masa prasekolah ( 3 sampai 6 tahun )
a. Menolak makan
b. Sering bertanya
c. Menangis perlahan
d. Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan Sering kali dipersepsikan anak
sekolah sebagai hukuman. Sehingga ada perasaan malu, takut sehingga
menimbulkan reaksi agresif, marah, berontak,tidak mau bekerja sama dengan
perawat.
4. Masa sekolah 6 sampai 12 tahun
Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai,
keluarga, kelompok sosial sehingga menimbulkan kecemasan. Kehilangan
kontrol berdampak pada perubahan peran dalam keluarga, kehilangan kelompok
sosial, perasaan takut mati, kelemahan fisik. Reaksi nyeri bisa digambarkan
dengan verbal dan non verbal.
5. Masa remaja (12 sampai 18 tahun )
Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya. Saat MRS
cemas karena perpisahan tersebut. Pembatasan aktifitas kehilangan kontrol
Reaksi yang muncul :
a. Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan
b. Tidak kooperatif dengan petugas
Perasaan sakit akibat perlukaan menimbulkan respon :
1) Bertanya-tanya
2) Menarik diri
3) Menolak kehadiran orang lain.
6. Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi dan perasaan yang muncul dalam
hospitalisasi adalah rasa takut dan cemas, perasaan sedih dan frustasi kehilangan
anak yang dicintainya saat :
a. Prosedur yang menyakitkan
b. Informasi buruk tentang diagnosa medis
c. Perawatan yang tidak direncanakan
d. Pengalaman perawatan sebelumnya perasaan sedih: Kondisi terminal perilaku
isolasi atau tidak mau didekati orang lain dan perasaan frustasi (Kondisi yang

4
tidak mengalami perubahan, perilaku tidak kooperatif, putus asa, menolak
tindakan, menginginkan pulang).
7. Reaksi saudara kandung terhadap perawatan anak di RS :
Marah, cemburu, benci, rasa bersalah.

C. Pengertian Autraumatic Care


Autramatic Care berhubungan dengan siapa, apa, kapan, dimana, mengapa,
bagaimana dari setiap prosedur tindakan yang ditujukan pada anak bertujuan untuk
mencegah atau menurangi stress psikologi dan fisik (Wong, 2009).
Autraumatic Care merupakan bentuk perawatan terapeutik yang diberikan
oleh tenaga kesehatan dalam tatanan pelayanan kesehatan anak melalui penggunaan
tindakan yang dapat mengurangi distress fisik maupun distress psikologis yang
dialami anak maupun orang tua (Supartini, 2004).
Perawatan terapeutik dapat dilakukan melalui tindakan pencegahan,
penerapan diagnostic, pengobatan dan perawatan baik pada kasus akut maupun
kronis dengan intervensi mencakup pendekatan psikologis (Supartini, 2004). Maka
dapat disimpulkan bahwa Autraumatic Care adalah suatu tindakan perawatan
terapeutik yang dilakukan oleh perawat dengan menggunakan intervensi melalui
cara mengeliminasi atau meminimalisasi stress psikologi dan fisik yang dialami
oleh anak dan keluarganya dalam system pelayanan kesehatan.

D. Prinsip-prinsip Autraumatic Care


Atraumatic care sebagai bentuk perawatan therapetik dapat diberikan pada
anak dan keluarga dengan mengurangi dampak psikologis dari tindakan
keperawatan yang diberikan, untuk itu, berkaitan dengan upaya mengatasi masalah
yang timbul baik pada anak maupun orang tua selama anak dalam perawatan di
rumah sakit, focus intervensi keperawatab adalah meminimalkan stresor,
memaksimalkan manfaat hospitalisasi, memberikan dukungan psikologis pada
anggota keluarga, dan mempersiapkan anak sebelum dirawat di rumah sakit.
Prinsip-prinsip yang dilakukan oleh perawat yaitu :
1. Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga
Dampak perpisahan dari keluarga, anak mengalami gangguan psikologis
seperti kecemasan, ketakutan, dan kurangnya kasih sayang. Gangguan ini akan
menghambat proses penyambuhan anak dan dapat mengganggu pertumbuhan

5
dan perkembangan anak. Orang tua dapat memberikan asuhan keperawatan
yang efektif selama anaknya berada di rumah sakit. Untuk mencegah dampak
perpisahan dapat dilakukan dengan melibatkan orang tua berperan aktif dalam
perawatan anak dengan cara memperbolehkan orang tua untuk tinggal bersama
anaknya selama 24 jam (rooming in). Jika tidak memungkinkan untuk rooming
in, beri kesempatan orang tua untuk melihat anak setiap saat dengan maksud
mempertahankan kontak antar orang tua dan anak.
2. Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontril perawatan anak
Perasaan kehilangan control dapat dicegah dengan menghindari pembatasan
fisik jika anak kooperatif terhadap petugas kesehatan. Buat jadwal kegiatan
untuk prosedur terapi, latihan, bermain, dan beraktifitas lain dalam perawatan
untuk menghadapi perubahan kebiasaan atau kegiatan sehari-hari. Focus
intervensi keperawatan pada upaya untuk mengurangi ketergantungan dengan
cara memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang
tua dalam perencanaan kegiatan asuhan (Supartini, 2004). Melalui peningkatan
kontrol orang tua pada diri anak diharapkan anak mampu mandiri dalam
kehidupannya, anak akn selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-
hari, slalu bersikan waspada dalam segala hal, serta pendidikan terhadap
kemampuan dan keterampilan orang tua dalam mengawasi perawatan anaknya.
3. Mencegah dan mengurangi cedera (injury) nyeri (dampak psikologis)
Mengurangi nyeri merupakan tindakan yang harus dilakukan dalam
keperawatan anak. Proses pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa dihilangkan
secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai teknik misalnya
distraksi, relaksasi, imaginary. Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan
maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama pada anak sehingga dapat
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertimbangan untuk
menghadirkan orang tua pada saat anak dilakukan tindakan atau prosedur yang
menimbulkan rasa takut, apabila orang tua tidak dapat menahan diri dan
menangis, tawarkan pada orang tua dan anak untuk mempercayakan kepada
perawat sebagai pendamping anak selama prosedur tersebut. Meminimalkan
rasa takut terhadap cidera tubuh juga dapat dilakukan dengan permainan
terlebih dahulu sebelum melakukan persiapan fisik anak, misalnya dengan
bercerita, menggambar, menonton video kaset dengan cerita yang berkaitan
dengan tindakan atau prosedur yang akan dilakukan pada anak. Perawat

6
diharapkan menunjukan sikap empati sebagai pendekatan utama dalam
mengurangi rasa takut akibat prosedur yang menyakitkan.
4. Tidak melakukan kekerasan pada anak
Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat
berarti dalam kehidupan anak. Apabila ini terjadi pada saat anak dalam proses
tumbuh kembang maka kemungkinan pencapaian kematangan akan terlambat,
dengan demikian tindakan kekerasan pada anak sangat tidak dianjurkan karena
akan memperberat kondisi anak (Hidayat, 2005).
5. Modifikasi lingkungan fisik
Melalui modifikasi lingkungan fisik yang bernuansa anak seperti di rumah
dapat meningkatkan keceriaan, perasaan aman, dsan nyaman bagi lingkungan
anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman di lingkungannya,
misalnya dengan membuat dekorasi ruangan anak yang bernuansa anak, seperti
menempelkan gambar tokoh kartun, dinding ruangan berwarna cerah, dan
terdapat hiasan mainan anak.. Faktor predisposisi terjadinya trauma pada anak
yang mengalami hospitalisasi diantaranya dampak lingkungan fisik rumah sakit
dan perilaku petugas itu sendiri sering kali menimbulkan trauma pada anak.
Lingkungan rumah sakit yang asing bagi anak maupun orang tuanya dapat
menjadi stressor.

E. Permainan Terapeutik untuk Mengurangi Kecemasan pada Anak


Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan dan
merupakan suatu metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bagi anak bermain
tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya
makanan, perawatan, cinta kasih dan lain-lain. Anak-anak memerlukan berbagai
variasi permainan untuk kesehatan fisik, mentaldan perkembangan emosinya.
Dengan bermain anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya, kognitifnya
dan juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh emosinya, perasaannya
dan pikirannya. Elemen pokok dalam bermain adalah kesenangan dimana dengan
kesenangan ini mereka mengenal segala sesuatu yang ada disekitarnya sehingga
anak yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain juga akan mendapatkan
kesempatan yang cukup untuk mengenal sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang
dewasa yang lebih mudah berteman, kreatif dan cerdas, bila dibandingkan dengan
mereka yang masa kecilnya kurang mendapat kesempatan bermain.

7
Macam – macam bermain :
1. Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa
yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :
a. Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan
tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium,
meraba, menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar.
b. Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumah-
rumahan.
c. Bermain drama (Dramatic Play)
Misal bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan teman-
temannya.
d. Bermain fisik
Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.
2. Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan
mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan
membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya.
Contoh : Melihat gambar pada buku/majalah, mendengar cerita atau musik,
menonton televisi dsb.
Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam
bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini :
a. Kesehatan anak menurun. Anak yang sakit tidak mempunyai energi untuk
aktif bermain.
b. Tidak ada variasi dari alat permainan.
c. Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.
d. Tidak mempunyai teman bermain.

F. Intervensi Keperawatan Autraumatic Care


Fokus intervensi keperawatan yakni meminimalkan stressor, memaksimalkan
manfaat hospitalisasi memberikan dukungan psikologis pada anggota keluarga,
mempersiapkan anak sebelum masuk rumah sakit.

8
1. Upaya meminimalkan stresor atau penyebab stress
Dapat dilakukan dengan cara :
a. Mencegah atau mengurangi dampak perpisahan
b. Mencegah perasaan kehilangan kontrol
c. Mengurangi/meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa
nyeri
2. Upaya mencegah/meminimalkan dampak perpisahan
a. Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak
b. Modifikasi ruang perawatan
c. Mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah
d. Surat menyurat, bertemu teman sekolah
3. Mencegah perasaan kehilangan kontrol:
a. Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif
b. Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkunan
c. Buat jadwal untuk prosedur terapi, latihan, bermain
d. Memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua
dalam perencanaan kegiatan
4. Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri
a. Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang
menimbulkan rasa nyeri
b. Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak
c. Menghadirkan orang tua bila memungkinkan
d. Tunjukkan sikap empati
e. Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang
dilakukan melalui cerita, gambar. Perlu dilakukan pengkajian tentang
kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka.
5. Memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak
a. Membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk
belajar.
b. Memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak.
c. Meningkatkan kemampuan kontrol diri.
d. Memberi kesempatan untuk sosialisasi.
e. Memberi support kepada anggota keluarga.

9
6. Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit
a. Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak.
b. Mengorientasikan situasi rumah sakit. Pada hari pertama lakukan tindakan :
1) Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya
2) Kenalkan pada pasien yang lain.
3) Berikan identitas pada anak.
4) Jelaskan aturan rumah sakit.
5) laksanakan pengkajian .
6) Lakukan pemeriksaan fisik.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hospitalisasi memiliki dampak yang menyebabkan kecemasan pada anak
maupun orang tua, repon kecemasan tersebut perlu diberikan tindakan keperawatan
yakni asuhan terapeutik (Autraumatic Care). Autraumatic Care merupakan asuhan
keperawatan yang tidak menimbulkan trauma pada anak dan keluarganya dan
merupakan asuhan yang teurapetik karena bertujuan sebagai therapi pada anak.
Atraumatic care merupakan bentuk perawatan teurapetik yang diberikan oleh
tenaga kesehatan dalam tatanan kesehatan anak, melalui penggunakan tindakan
yang dapat mengurangi stres fisik maupun stres psikologis yang dialami anak
maupun orang tuanya.
Atraumatic care bukan suatu bentuk intervensi yang nyata terlihat, tetapi
memberikan perhatian pada apa, siapa, dimana, mengapa dan bagaimana prosedur
dilakukan pada anak dengantujuan mencegah dan mengurangi stres fisik maupun
psikologis. Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan
anak. Sekarang banyak dijual berbagai macam mainan anak-anak, jika orang tua
tidak selektif dalam memilih jenis permainan pada anaknya atau kurang memahami
fungsinya maka alat permainan tersebut yang sudah dibeli tidak akan berfungsi
secara efektif.

B. Saran
Sebagai tenaga kesehatan khususnya perawat anak, asuhan keperawatan anak
dengan memberikan asuhan terapeutik dengan autraumatic care sangat diperlukan
untuk menurunkan kecemasan anak akibat dari stresor hospitalisasi dan
meningkatkan kenyamanan anak selama menjalankan proses hospitalisasi.

11
DAFTAR PUSTAKA

Alimul, aziz hidayat. 2008. Pengantar ilmu keperawatan anak 2 cet. 3 jilid ke 2. Jakarta;
Salemba Medika

Hidayat, A.A. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba Medika

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Keperawatan Anak (Modul Bahan


Ajar Cetak Keperawatan). Jakarta Selatan

Supartini, Y. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC

12