Anda di halaman 1dari 9

CRITICAL JURNAL REVIEW

PRAKTEK SURVEY & PEMETAAN

DISUSUN OLEH :
PUTRA JALANI MARBUN
(5163311022)
KELAS : II D - S1

PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
T.A 2017/2018
BAB I
ISI RINGKASAN JURNAL
REVIEW JURNAL 1
STUDI PERBANDINGAN HASIL PENGUKURANALAT TEODOLIT DIGITAL DAN
MANUAL: STUDI KASUS PEMETAAN SITUASI KAMPUS KIJANG

Kegiatan pengukuran lahan membantu menggambarkan peta situasi suatu lahan untuk
mempermudah insinyur teknik sipil menentukan titik as bangunan di lapangan. Dari hasil
peta situasi ini dapat ditentukan pekerjaan selanjutnya yaitu penentuan as bangunan, perataan
lahan, penentuan titik pondasi dan volume pekerjaan untuk pengurugan dan penimbunan
lahan. Salah satu alat bantu yang digunakan untuk kegiatan pengukuran adalah teodolit.
Teodolit berfungsi sebagai alat untuk menentukan sudut yang dibentuk antara dua titik pada
saat pengukuran. Dalam penggambaran peta situasi dibutuhkan hasil data sudut pengukuran
tersebut. Teodolit dibagi menjadi dua tipe yaitu digital dan manual.

PENDAHULUAN
Kegiatan awal yang dilakukan oleh kontraktor dalam pembangunan suatu proyek
infrastruktur seperti pembangunan gedung adalah penentuan titik-titik as bangunan. Untuk
mendapatkan hasil penetapan titik-titik as bangunan pada suatu proyek perlu dilakukan
aktifitas pengukuran (Lovat, 2007). Kegiatan pengukuran ini dilakukan oleh tim yang disebut
surveyor yang mengambil data lapangan berupa sudut dan dimensi proyek yang ada di
lapangan. Untuk kemudian data lapangan dianalisis hingga menghasilkan data berupa peta
situasi yang mengambarkan koordinat titik-titik as bangunan dan kontur dari permukaan
tanah. Dari hasil peta situasi ini dapat di tentukan untuk pekerjaan selanjutnya yaitu
penentuan as bangunan, perataan lahan, penentuan titik pondasi, dan volume pekerjaan untuk
pengurugan dan penimbunan lahan. Salah satu alat bantu yang digunakan untuk kegiatan
pengukuran adalah teodolit. Teodolit berfungsi sebagai alat untuk menentukan sudut yang
dibentuk antara dua titik pada saat pengukuran. Dalam penggambaran peta situasi dibutuhkan
hasil data sudut pengukuran tersebut (Kavanagh, 2004). Teodolit dibagi menjadi dua tipe
yaitu digital dan manual. Penelitian ini akan menghasilkan perbandingan seberapa besar
perbedaan sistem koordinat pada peta situasi untuk dikaji berdasarkan teknik pemasangan
dan analisis data yang dikerjakan.
Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) membuat perbandingan antara hasil pembacaan
alat teodolit digital dan manual; (2) mengetahui perbedaan hasil data pengukuran antara
teodolit digital dan manual; (3) memberikan informasi solusi teknik pengambilan data
pengukuran kedua tipe teodolit.

METODE
Ilmu ukur tanah adalah bagian dari ilmu geodesi yang mempelajari cara-cara
pengukuran di permukaan bumi dan di bawah tanah untuk menentukan posisi relatif atau
absolut titik-titik pada permukaan tanah, di atasnya atau di bawahnya, dalam memenuhi
kebutuhan seperti pemetaan dan penentuan posisi relatif suatu daerah. Pemetaan situasi
adalah pemetaan suatu daerah atau wilayah ukur yang mencakup penyajian dalam dimensi
horizontal dan vertikal secara bersama-sama dalam suatu gambar peta (Fish, 2007).
Untuk penyajian gambar peta situasi tersebut perlu dilakukan pengukuran sebagai
berikut: (1) pengukuran titik fundamental (Xo, Yo, Ho dan ao); (2) pengukuran kerangka
horizontal (sudut dan
jarak); (3) pengukuran kerangka tinggi (beda tinggi); (4) pengukuran titik detail (arah, beda
tinggi dan jarak terhadap titik detail yang dipilih sesuai dengan permintaan skala). Pada
dasarnya prinsip kerja yang diperlukan untuk pemetaan suatu daerah selalu dilakukan dalam
dua tahapan, yaitu: (1) penyelenggaraan kerangka dasar sebagai usaha penyebaran titik ikat;
(2) pengambilan data titik detail yang merupakan wakil gambaran fisik bumi yang akan
muncul di petanya. Kedua proses ini diakhiri dengan tahapan penggambaran dan kontur.
Bentuk kerangka yang didesain tidak harus sebuah poligon, tapi dapat saja kombinasi
dari kerangka yang ada. Jenis pengukuran dalam ilmu ukur tanah (Fish, 2007) di antaranya
adalah sebagai berikut: (1) pengukuran horizontal – terdapat dua macam pengukuran yang
dilakukan untuk posisi horizontal yaitu pengukuran poligon utama dan pengukuran poligon
bercabang; (2) pengukuran beda tinggi – pengukuran situasi ditentukan oleh dua jenis
pengukuran ketinggian, yaitu pengukuran sifat datar utama dan pengukuran sifat datar
bercabang; (3) pengukuran detail – pada saat pengukuran di lapangan, data yang diambil
untuk pengukuran detail adalah beda tinggi antara titik ikat kerangka dan titik detail yang
bersangkutan, jarak optik atau jarak datar antara titik kerangka dan titik detail, dan sudut
antara sisi kerangka dengan arah titik awal detail yang bersangkutan, atau sudut jurusan
magnetis dari arah titik detail yang bersangkutan. Kegiatan pengukuran merupakan tahapan
awal yang di lakukan pada kegiatan konstruksi. Tujuan dilakukannya pengukuran adalah
untuk menggambarkan peta situasi dari lahan yang mencakup penyajian data dalam dimensi
horizontal dan vertikal secara bersama-sama dalam suatu gambar peta.
Untuk melakukan kegiatan pengukuran salah satu alat bantu yang digunakan adalah
teodolit. Dengan alat bantu teodolit membantu dalam menentukan sistem koordinat dari suatu
lahan dalam dimensi horizontal dan vertikal sehingga mempermudah praktisi (engineer)
dalam proses penggambaran ataupun penentuan sumbu as bangunan. Alat teodolit terdiri dari
dua tipe yaitu teodolit digital dan manual. Berdasarkan fungsinya kedua alat tersebut
mempunyai tujuan yang sama, salah satunya adalah sebagai alat bantu dalam proses
penggambaran peta situasi pada lokasi tertentu. Akan tetapi perbedaan kedua alat tersebut
terletak pada proses centring (penyetelan) alat dan pembacaan sudut koordinat.
Untuk dapat membuat gambar poligon yang baik dan akurat, mengacu dari hasil dari
pengukuran sudut dan jarak menggunakan teodolit digital dan manual perlu ditentukan besar
sudut dalam dan koordinat poligon yang kemudian dituangkan dalam bentuk gambar poligon
(Kavanagh, 2004).
Dilihat dari bentuknya, poligon dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: (1) poligon terbuka –
poligon yang titik awal dan titik akhirnya merupakan titik yang berlainan (Gambar 4); (2)
poligon tertutup – poligon yang bermula dan berakhir pada suatu titik yang sama; (3) poligon
bercabang – poligon yang mempunyai satu atau lebih titik simpul, yaitu titik tempat
terbentuknya cabang.
Berdasarkan hasil pengukuran dan pengolahan data alat teodolit digital dan manual,
diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Besar sudut dalam poligon hasil pengukuran
menggunakan teodolit manual sebesar 1080o00’13” lebih mendekati batas dari poligon
tertutup untuk 8 titik (1080o) jika dibandingkan dengan hasil dari alat teodolit digital sebesar
1080o00’20”. Dalam pelaksanaan pengukuran di lapangan, penggunaan alat teodolit digital
relatif lebih mudah namun sangat sensitif. Detail perbedaan dari kedua alat tersebut adalah
sebagai berikut: (1) efektifitas waktu pembacaan sudut – alat teodolit manual relatif kurang
efektif karena dibutuhkan ketelitian dalam pembacaan sudut terutama pembacaan detik.
Sedangkan pada alat teodolit digital, pembacaan dipermudah dengan adanya layar yang
menampilkan hasil bacaan sudut; (2) kemudahan penyetelan alat – teodolit manual cenderung
kurang sensitif seperti alat teodolit digital sehingga untuk para pemula sangat dianjurkan
untuk menggunakan alat teodolit manual sehingga dapat mempunyai kemampuan untuk
mendeteksi penyetelan alat yang benar baik pada penggunaan alat teodolit manual maupun
digital; (3) jangkauan pengukuran – jangkauan dan fokus alat teodolit digital lebih jauh
sehingga dapat digunakan untuk area yang lebih luas; (4) detail pembacaan sudut – hasil
bacaan menggunakan alat teodolit manual lebih detail dibandingkan dengan hasil bacaan
digital karena pada alat teodolit manual rentang skala dalam satu detik sedangkan alat
teodolit digital dalam rentang 10 detik.
REVIEW JURNAL 2
PELAYANAN SURVEI PENGUKURAN DAN PEMETAAN TANAH

PENDAHULUAN
Pertanahan merupakan kebijakan yang digariskan oleh pemerintah di dalam mengatur
hubungan antara tanah dengan orang sebagaimana yang ditetapkan oleh UUD 1945 dan
dijabarkan dalam UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
(UUPA). Pasal 19 UUPA menyebutkan bahwa untuk kepastian hukum pemerintah
mengadakan pendaftaran tanah. Pendaftaran tanah meliputi: (1) pengukuran, pemetaan dan
pembukuan tanah, (2) pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut, dan (3)
pemberian surat-surat tanda bukti yang berlaku sebagai alat pembuktian yang syah.
Manajemen pertanahan yang dijalankan pemerintah sehari-hari dilaksanakan oleh Badan
Pertanahan Nasional (BPN). Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 3 Tahun 2006 BPN mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang
pertanahan secara nasional, regional dan sektoral dengan menyelenggarakan fungsi yaitu
perumusan kebijakan nasional di bidang pertanahan, koordinasi kebijakan, perencanaan dan
program di bidang pertanahan, pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang per-
tanahan, penyelenggaraan dan pelaksanaan survei, pengukuran dan pemetaan di bidang
pertanahan, pelaksanaan pendaftaran tanah, pengaturan dan penetapan hak-hak atas tanah,
serta fungsi lain di bidang pertanahan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan pengamatan pada Kantor Pertanahan Kota Pekanbaru yang menjadi lokasi
rencana penelitian ini, terdapat fenomena yang berkaitan dengan kurangnya kualitas
pelayanan dengan indikator antara lain banyaknya pengaduan atas keterlambatan
penyelesaian kegiatan serta sulitnya memperoleh informasi tentang status permohonan.
Secara umum kinerja Seksi Survei Pengukuran dan Pemetaan selama tahun 2014 dapat dilihat
dari penyelesaian permohonan sejumlah 10.466 bidang. Jumlah permohonan sepanjang tahun
2014 adalah 10471 bidang, sehingga secara matematis tunggakan hanya 5 bidang. Tetapi
ditemukan bahwa sisa pekerjaan adalah sebanyak 3.552 bidang. Jika sisa pekerjaan tersebut
adalah juga permohonan yang sedang berlangsung dan masih dalam batas waktu penyelesa-
ian yaitu sekitar 1000 bidang maka sisanya adalah 2552 bidang adalah merupakan akumulasi
tunggakan dari tahun tahun sebelumnya hingga akhir tahun 2014.
Berbagai fakta permasalahan yang terjadi apabila dihubungkan atau dibandingkan
harapan pelayanan yang baik menurut ketentuannya masih belum memadai, oleh karenanya
apakah sebenarnya pelayanan di kantor pertanahan kota Pekanbaru memang seperti itu dan
jika memang benar apa sesungguhnya faktor yang menjadi kendala bagi kantor pertanahan
dalam memberikan pelayanan pertanahan. Penelitian ini memfokuskan pada bidang
pengukuran dan pemetaan karena adanya indikasi permasalahan berada pada bidang tersebut.
Indikator pelayanan publik yang baik menurut Sukmaningsih (2001) ialah sebagai
berikut: 1. Keterbukaan, artinya informasi pelayanan yang meliputi petunjuk, sosialisasi,
saran dan kritik dapat dilihat dan diakses oleh publik; 2. Kesederhanaan artinya adanya
persedur dan persyaratan pelayanan yang jelas dan sederhana; 3. Kepastian, artinya adanya
kepastian mengenai waktu biaya dan petugas pelayanan: 4. Keadilan. artinya adanya
persamaan perlakuan pelayanan; 5. Keamanan dan Kenyamanan, artinya adanya hasil produk
pelayanan yang memenuhi kualitas teknis (aman) dan penataan ruangan dan lingkungan
kantor terasa fungsional, rapi, bersih, dan nyaman; 6. Perilaku Petugas Pelayanan, artinya
seorang petugas harus tanggap, peduli serta memiliki disiplin dan kemampuan dalam
memberikan pelayanan. Selain itu petugas pelayan harus ramah dan sopan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pelayanan pengukuran dan pemetaan tanah pada
Kantor Pertanahan Kota Pekanbaru.
HASIL Pelaksanaan Pelayanan Survei Pengukuran dan Pemetaan Tanah
Mengenai keterbukaan pelayanan pengukuran dan pemetaan dapat dijelaskan bahwa
masyarakat pemohon menganggap sudah cukup jelas diberikan baik secara langsung melalui
petugas petugas pelayanan maupun pada sarana informasi pada Kantor Pertanahan Kota
Pekanbaru. Begitu juga tentang informasi biaya, prosedur, nama petugas ukur dan nomor
telepon petugas ukur serta jadwal pengukuran sudah cukup jelas. Keterbukaan informasi
pengukuran dilaksanakan melalui petugas informasi dan verifikasi berkas serta penempatan
petugas cek plot di loket pelayanan yang selalu siap menjelaskan prosedur dan tahap kegiatan
pengukuran dan pemetaan.

Kesederhanaan
Mengenai kesederhanaan pelayanan yang diberikan menunjukkan hal yang cenderung rumit
namun terdapat upaya untuk membuat lebih sederhana. Hal ini dapat dilihat pada pernyataan
bahwa dahulu permohonan pengukuran menunggu pemohon datang ke bagian pengukuran
untuk menjadwal pengukuran, sedangkan sekarang ini jadwal pengukuran dapat diketahui
pada hari yang sama dengan pendaftaran pengukuran. Begitu juga dengan surat tugas
pengukuran saat ini telah dilimpahkan penandatanganannya kepada Kepala Subseksi
Pengukuran dan Pemetaan, dan itu ditandatangani pada hari yang sama dengan pendaftaran
pengukuran.

Kepastian
Kepastian yang diberikan oleh petugas baik dalam kepastian waktu penyelesaian juga
berkaitan dengan biaya yang dikeluarkan sudah optimal. Biaya pengukuran dan pemetaan
sudah pasti dan diketahui pada saat pendaftaran permohonan, dimana biaya dipengaruhi
faktor luas dan penggunaan tanah. Tanah yang luas biaya ukurnya lebih mahal dan biaya
pengukuran tanah non pertanian lebih mahal dari tanah pertanian. Biaya tersebut telah
ditentukan dalam PP No.13 Tahun 2010 tentang jenis dan tarif atas jenis penerimaan negara
bukan pajak yang berlaku pada Badan Pertanahaan Nasional. Namun dalam beberapa kasus
BPN Kota Pekanbaru tidak dapat memberikan kepastian waktu atas penyelesaian suatu
permohonan. Hal ini bertentangan dengan asas penyelenggaraan pelayanan publik yang harus
memiliki standar pelayanan yang wajib ditaati oleh pemberi dan atau penerima layanan.

Keadilan
Dari uraian mengenai keadilan yang dirasakan masyarakat dalam pelayanan pengukuran
sudah cukup optimal diberikan kepada masyarakat tanpa membedakan strata masyarakat
pemohon, tetapi semata berdasarkan urutan. Hal ini juga didukung oleh keberadaan mesin
antri. Rasa ketidak adilan ketika diperoleh bahwa penyelesaian pekerjaan tidak berurutan
sebagaimana urutan masuknya permohonan adalah diakibatkan bahwa setiap permohonan
mempunyai karakteristik tertentu yang dibedakan oleh luas, letak, penggunaan tanah, arahan
penggunaan menurut tata ruang dan lain sebagainya yang mengakibatkan tingkat kesulitan
yang berbeda antara satu pekerjaan dan pekerjaan lainnya.

Keamanan dan Kenyamanan


Keamanan dikaitkan dengan adanya hasil layanan yang memenuhi kualitas sehingga memberikan
rasa aman baik pada pemohon, para pemilik tanah sekitar maupun pada BPN sebagai pemberi
layanan. Dalam batasan tertentu sebagaimana tanggapan masyarakat pemohon, telah menerima
dan memahami hasil ukuran BPN. Namun pada kesempatan lain masih banyak ditemukan ketidak
amanan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kasus overlap sertipikat, gugatan terhadap
sertipikat yang ternyata tidak dapat memberikan rasa aman. Sedangkan dari segi kenyamanan
dapat dikategorikan kurang memenuhi. Hal ini dapat dilihat pada keterbatasan fasilitas fisik
terutama ruang pelayanan yang sangat sempit dan keterbatasan halaman parkir kendaraan. Hal ini
juga dikeluhkan oleh masyarakat yang menyarankan agar ada pemisahan ruang yang sedemikian
rupa sehingga diperoleh

Faktor-faktor Yang Penghambat Pelayanan Pengukuran dan Pemetaan Tanah


1). Faktor kesadaran baik petugas pelayan maupun masyarakat pemohon atau yang
berkepentingan terhadap tanah; 2). Faktor aturan yaitu adanya aturan yang harus dipenuhi
namun sulit untuk dilaksanakan; 3). Faktor organisasi yaitu jumlah karyawan yang tidak
seimbang dengan kebutuhan; 4). Faktor pendapatan baik penyedia layanan maupun
masyarakat yang berhubungan dengan pelayanan; 5). Faktor Keterampilan Petugas yaitu
petugas ukur dan pendukung pengukuran dan pemetaan yang memenuhi kriteria kualitas dan
integritas yang baik sehingga mampu memecahkan problematik pertanahan yang semakin
kompleks dengan profesional dan 6). Faktor Sarana baik Bangunan Kantor Pertanahan Kota
Pekanbaru, Sarana Arsip Kantor Pertanahan Kota Pekanbaru maupun Sarana Pemetaan.
BAB II
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Pada jurnal pertama yang berjudul “studi perbandingan hasil pengukuran alat teodolit
digital dan manual: studi kasus pemetaan situasi kampus kijang” sangat jelas dengan
menjelaskan tujuan dari penelitian ini , fungsi teodolit, teodolit itu dibagi menjadi 2
diantaranya ada manual dan digital, pengertian dari ilmu ukur tanah, jenis pegukuran dalam
ilmu ukur tanah, pengertian poligon , poligon terbagi 3 yaitu poligon terbuka, poligon
tertutup, dan poligon bercabang, dan rumus- rumus poligon.

Pada jurnal kedua yang berjudul “pelayanan survei pengukuran dan pemetaan tanah”
menjelaskan tentang pertatahanan, pengertiannya, pasal- pasal yang terdapat di pemetaan
tanah, dan cara pelayanannya.
BAB III
KESIMPULAN

Dari kesimpulan jurnal 1 yang berjudul “studi perbandingan hasil pengukuranalat


teodolit digital dan manual: studi kasus pemetaan situasi kampus kijang” kesimpulannya
adlah besar sudut dalam poligon hasil pengukuran menggunakan teodolit manual sebesar
1080o00’13” lebih mendekati batas dari poligon tertutup untuk 8 titik (1080o) jika
dibandingkan dengan hasil dari alat teodolit digital sebesar 1080o00’20”. Dalam pelaksanaan
pengukuran di lapangan, penggunaan alat teodolit digital relatif lebih mudah namun sangat
sensitif. Detail perbedaan dari kedua alat tersebut adalah sebagai berikut: (1) efektifitas waktu
pembacaan sudut – alat teodolit manual relatif kurang efektif karena dibutuhkan ketelitian
dalam pembacaan sudut terutama pembacaan detik. Sedangkan pada alat teodolit digital,
pembacaan dipermudah dengan adanya layar yang menampilkan hasil bacaan sudut; (2)
kemudahan penyetelan alat – teodolit manual cenderung kurang sensitif seperti alat teodolit
digital sehingga untuk para pemula sangat dianjurkan untuk menggunakan alat teodolit
manual sehingga dapat mempunyai kemampuan untuk mendeteksi penyetelan alat yang benar
baik pada penggunaan alat teodolit manual maupun digital; (3) jangkauan pengukuran –
jangkauan dan fokus alat teodolit digital lebih jauh sehingga dapat digunakan untuk area yang
lebih luas; (4) detail pembacaan sudut – hasil bacaan menggunakan alat teodolit manual lebih
detail dibandingkan dengan hasil bacaan digital karena pada alat teodolit manual rentang
skala dalam satu detik sedangkan alat teodolit digital dalam rentang 10 detik.

Dari kesimpulan jurnal 2 yang berjudul “pelayanan survei pengukuran dan pemetaan
tanah” kesimpulannya adalah pelaksanaan pelayanan pengukuran dan pemetaan pada kantor
pertanahan kota pekanbaru yang diberikan kepada masyarakat sudah cukup baik. Namun
dalam prosedur pengurusan pengukuran dan pemetaan tanah, masyarakat masih merasa
kesulitan. Begitu pula dalam kepastian waktu penyelesaian urusan, biaya dan perlakuan
dalam pelayanan pada masyarakat masih ditemukan ketimpangan. Sedangkan faktor-faktor
yang menjadi penghambat pelaksanaan pelayanan pengukuran dan pemetaan pada kantor per-
tanahan kota pekanbaru antara lain faktor kekurangan dari sumberdaya manusia yang trampil,
juga kurang mampunya pemohon kelengkapan permohonan.