Anda di halaman 1dari 3

Penyakit Menular Seksual

Penyakit Menular Seksual (PMS) disebut juga venereal (dari kata


venus, yaitu Dewi Cinta dari Romawi kuno), didefinisikan sebagai salah
satu akibat yang ditimbulkan karena aktivitas seksual yang tidak sehat
sehingga menyebabkan munculnya penyakit menular, bahkan pada beberapa
kasus PMS membahayakan.
Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah : Suatu gangguan/ penyakit-
penyakit yang ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak atau
hubungan seksual. Pertama sekali penyakit ini sering disebut 'Penyakit
Kelamin' atau Veneral Disease, tetapi sekarang sebutan yang paling tepat
adalah Penyakit Hubungan Seksual/ Seksually Transmitted Disease atau
secara umum disebut Penyakit Menular Seksual (PMS).

Gejala-Gejala IMS

IMS seringkali tidak menampakkan gejala, terutama pada wanita. Namun


ada pula IMS yang menunjukkan gejala gejala umum sebagai berikut :
a. Keluarnya cairan dari vagina, penis atau dubur yang berbeda dari
biasanya. Pada wanita, terjadi peningkatan keputihan. Warnanya bisa
menjadi lebih putih, kekuningan, kehijauan atau kemerah mudaan.
Keputihan bisa memiliki bau yang tidak sedap dan berlendir.
b. Rasa perih, nyeri atau panas saat kencing atau setelah kencing, atau
menjadi sering kencing
c. Adanya luka terbuka, luka basah di sekitar kemaluan atau sekitar
mulut (nyeri, ataupun tidak)
d. Tumbuh seperti jengger ayam atau kutil di sekitar alat kelamin,
tonjolan kecil – kecil, atau lecet disekitar alat kelamin.
e. Gatal-gatal disekitar alat kelamin.
f. Terjadi pembengkakan kelenjer limfa yang terdapat pada lipatan
paha
g. Pada pria, kantung pelir menjadi bengkak, kemerahan, dan nyeri.
h. Pada wanita, sakit perut bagian bawah yang kambuhan, vagina
bengkak dan kemerahan, pendarahan diluar siklus haid,
i. Sakit saat berhubungan seks
j. Mengeluarkan darah setelah berhubungan seks
k. Secara umum merasa tidak enak badan, lemah, kulit menguning,
nyeri sekujur tubuh, atau demam

IMS tidak dapat dicegah dengan :

 Meminum minuman beralkohol seperti bir dan lain-lain.


 Meminum antibiotik seperti supertetra, penisilin dan lain-lain,
sebelum atau sesudah berhubungan seks, tidak ada satu obat pun
yang ampuh untuk membunuh semua jenis kuman IMS secara
bersamaan (kita tidak tahu jenis IMS mana yang masuk ke tubuh
kita). Semakin sering meminum obat-obatan secara sembarangan
malah akan semakin menyulitkan penyembuhan IMS karena
kumannya menjadi kebal terhadap obat.
 Mendapatkan suntikan antibiotik secara teratur, pencegahan penyakit
hanya dapat dilakukan oleh antibodi di dalam tubuh kita.
 Memilih pasangan seks berdasarkan penampilan luar (misalnya,
yang berkulit putih bersih) atau berdasarkan usia (misalnya, yang
masih muda), anak kecil pun dapat terkena dan mengidap bibit IMS,
karena penyakit tidak membeda-bedakan usia dan tidak pandang
bulu.
 Membersihkan/mencuci alat kelamin bagian luar (dengan cuka, air
soda, alkohol, air jahe, dll) dan bagian dalam (dengan odol, betadine
atau jamu) segera setelah berhubungan seks.

Pencegahan IMS
1. Jauhi seks bebas, tidak melakukan hubungan seks (abstinensi),
2. Bersikap saling setia, tidak berganti-ganti pasangan seks
(monogami)
3. Cegah dengan memakai kondom, tidak melakukan hubungan seks
berisiko (harus selalu menggunakan kondom).
4. Tidak saling meminjamkan pisau cukur dan gunting kuku.
5. Edukasi, saling berbagi informasi mengenai HIV/AIDS dan IMS.

Penularan IMS

Penularan IMS juga dapat terjadi dengan cara lain, yaitu :


Melalui darah :
 transfusi darah dengan darah yang sudah terinfeksi HIV,
 saling bertukar jarum suntik pada pemakaian narkoba,
 tertusuk jarum suntik yang tidak steril secara sengaja/tidak sengaja,
 menindik telinga atau tato dengan jarum yang tidak steril,
 penggunaan alat pisau cukur secara bersama-sama (khususnya jika
terluka dan menyisakan darah pada alat).
Dari ibu hamil kepada bayi :
 saat hamil,
 saat melahirkan,
 saat menyusui.

Jenis – Jenis Infeksi Menular Seksual


Penyebab Bakteri
 Bacterial Vaginosis (BV) – not officially an STD but affected by
sexual activity.
 Chancroid (Ulkus mole)
 Donovanosis (Granuloma inguinale or Calymmatobacterium
granulomatis)
 Gonorrhea (GO atau kencing nanah).
 Klamidia
 Lymphogranuloma venereum (LGV) (Chlamydia trachomatis
serotypes L1, L2, L3.)
 Non-gonococcal urethritis (NGU)
 Staphylococcal infection
 Syphilis, Sifilis, Raja Singa
Penyebab Fungi/jamur
 Trichophyton rubrum
 Candidiasis, Yeast Infection
Penyebab Virus
 Adenoviruses
 Cervical cancer, Kanker serviks
 Condiloma akuminata, Jengger ayam
 Hepatitis A
 Hepatitis B
 Hepatitis C
 Hepatitis E (transmisi via fecal-oral)
 Herpes simpleks – Herpes 1,2
 HIV/AIDS
 Human T-lymphotropic virus (HTLV)-1
 Human T-lymphotropic virus (HTLV)-2
 Human Papilloma Virus (HPV)
 Molluscum Contagiosum Virus (MCV)
 Mononucleosis – Cytomegalovirus CMV – Herpes 5
 Mononucleosis – Epstein-Barr virus EBV – Herpes 4
 Sarkoma kaposi, Kaposi’s sarcoma (KS) – Herpes 8
Penyebab Parasit
 Pubic lice, colloquially known as “crabs” (Phthirius pubis)
 Scabies (Sarcoptes scabiei)
Penyebab Protozoa
 Trichomoniasis