Anda di halaman 1dari 17

Laporan Kasus

Sleep Disorder

Oleh :

Dora Pradesa, S.Ked.

Pembimbing :
dr. Lucy M. Bangun,Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK PSIKIATRI


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
BENGKULU
2015

Bengkulu, Agustus 2015

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. W
Usia : 36 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Anak ke : 1 dari 5 bersaudara
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Suku : Melayu
Status : Menikah
Pekerjaan : IRT
Alamat : JL.xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Kota Bengkulu
Tanggal Pemeriksaan : 30/09/2015 pukul 10.30 WIB

II. Riwayat Psikiatri


A. Keluhan Utama
Sulit tidur sejak 8 bulan yang lalu
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Autoanamnesis:
Sejak 8 bulan yang lalu pasien mengeluhkan sulit tidur. Keluhan sulit tidur yang dialami
pasien adalah kesulitan untuk mengawali tidur. Pasien biasanya baru bisa tertidur pukul
04.00 am. Namun sekitar 1 minggu sebelum datang ke poli RSKJ soeprapto bengkulu
keluhan pasien semakin parah. Pasien benar-benar tidak bisa tidur semalaman. Pasien
merasa badannya kelelahan dan makin hari semakin lemas karena tidak pernah tidur.
Pasien merasa sangat mengantuk tapi tidak bisa tertidur. Pasien sudah sering mengobati
keluhannya ke puskesmas namun tidak ada perbaikan. Dari Puskesmas pasien diberikan
obat tidur (menurut pasien obat ctm). Pasien juga sudah pernah berobat kepraktek dokter
umum namun tidak ada perbaikan. Pasien juga sudah mencoba pengobatan tradisional
dengan seorang dukun namun hasilnya tetap tidak ada perbaikan.
Pasien mengaku tidak memiliki masalah atau kejadian yang menyebabkan beban pikiran.
Dulunya pasien bekerja sebagai cleaning service di salah satu mall yang ada dibengkulu.
Setelah mengalami keluhan sulit tidur pasien jadi sering merasa lemas dan kelelahan
disiang harinya. Pasien jadi tidak bisa bekerja secara optimal. Pasien akhirnya
mengundurkan diri dari tempat pekerjaanya tersebut. Sekarang pasien sehari-hari hanya
bekerja sebagai ibu rumah tangga. Untuk mengisi kekosongan waktunya, pasien bekerja
sebagai tukang setrika baju-baju tetangganya. Pekerjaan itu dilakukannya 2 kali dalam
seminggu. Pasien memiliki kebiasaan meminum kopi sebanyak satu cangkir setiap pagi dan
sore. Pasien jarang berolahraga. Selama satu tahun ini pasien menggunakan KB spiral.
Keluhan fisik seperti jantung berdebar-debar, ketegangan otot, mudah berkeringat, keluhan
BAK dan BAB, pandangan kabur dan nyeri kepala disangkal. Keluhan ketakutan yang
berlebihan dan tidak beralasan terhadap binatang, ketinggian, tampil di depan umum,
bepergian sendiri, atau keramaian disangkal. Keluhan adanya pikiran-pikiran yang muncul
atau tindakan-tindakan yang dilakukan berulang-ulang yang disadari dan tidak bisa
dihentikan disangkal. Keluhan kecemasan yang berlebihan terhadap anggota keluarganya
akan mengalami kecelakaan di luar rumah atau mengalami hal yang tidak mengenakkan
disangkal. Keluhan adanya episode panik yang muncul tiba-tiba, baik dengan atau tanpa
pencetus disangkal. Pasien disarankan oleh temannya untuk berobat ke RSKJ Soeprapto
Bengkulu. Menurut temannya ada keluarganya yang mengalami keluhan yang sama dengan
pasien, setelah berobat ke RSKJ Soeprapto Bengkulu keluarganya tersebut mengalami
perbaikan.

Heteroanamnesis
Teman dekat pasien yang juga sekaligus tetangganya membenarkan tentang apa yang
terjadi pada diri pasien saat ini. Pasien sering menceritakan kepada teman dekatnya ini
perihal masalah kesulitan tidur yang dia alami. Menurut temannya, semenjak mengalami
kesulitan tidur ini pasien sering tampak lemas, kelelahan, dan tidak semangat untuk
bekerja. Pasien jadi malas untuk mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang ada di lingkungan
tempat tinggal mereka. Pasien sering mengeluh kepada temannya bahwa dia selalu
mengantuk pada waktu siang hari tapi tetap tidak bisa tertidur. Teman pasien ini kemudian
menyarankan pasien untuk datang berobat kepoli rawat jalan RSKJ Soeprapto Bengkulu

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya


1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien belum pernah berobat ke rumah sakit jiwa maupun ke psikiater sebelumnya.
2. Riwayat Gangguan Medik
Pasien tidak memiliki riwayat gangguan medis sebelumnya dan pasien belum pernah
dirawat di rumah sakit.Tidak ada riwayat trauma kepala, kejang dan demam sebelumnya.
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol
Riwayat mengkonsumsi alkohol, rokok, dan narkoba disangkal.
D. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat prenatal
Pasien lahir cukup bulan dan ditolong oleh dukun dirumah. Selama kehamilan dan kelahiran
pasien tidak ada masalah. Ibu pasien tidak pernah mengonsumsi obat-obatan selama
mengandung pasien.
2. Riwayat masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi dan balita normal. Pasien minum ASI
sejak lahir.
3. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini normal. Pasien berkembang menjadi anak
seperti seumurannya. Pasien memiliki banyak teman yang sebaya dengannya. Pasien
menamatkan sekolah dasar dan tidak pernah tinggal kelas. Pasien tidak terlalu menonjol
disekolahnya.
4. Riwayat masa remaja
Pasien saat remaja berkembang menjadi remaja perempuan yang normal sesuai dengan
seusianya. Pasien tidak melanjutkan sekolahnya karena keterbatasan ekonomi keluarga.
5. Riwayat dewasa muda
Saat berusia 18 tahun pasien memiliki teman dekat seorang laki-laki dan akhirnya menikah
dengan laki-laki tersebut. Pasien mengaku bahagia dengan pernikahannya.
6. Riwayat pendidikan
Pasien hanya menempuh pendidikan sekolah dasar. Prestasi pasien biasa-biasa saja dan
tamat tepat pada waktunya.
7. Riwayat pekerjaan
Pasien sehari-hari bekerja sebagai IRT dan kadang-kadang mengisi kekosongan waktunya
dengan jadi tukang setrika baju tetangganya.
8. Riwayat pernikahan
Pasien menikah diusia 18 tahun dengan seorang laki-laki yang pada saat itu berusia 20
tahun. Pasien mengaku bahagia dengan pernikahannya. Hingga saat ini pasien telah
dikaruniai 3 orang anak dari pernikahannya.
9. Riwayat kehidupan beragama
Pasien beragama islam,rajin beribadah dan menghormati agama orang lain
10. Riwayat Psikoseksual
Pasien sudah menikah dan memiliki 3 orang anak
11. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum dan terlibat dalam masalah hukum.
12. Aktivitas sosial
Pasien saat ini masih sering berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Hanya saja pasien
sekarang jadi malas untuk mengikuti kegiatan sosial di lingkungannya karena pasien
merasa kelelahan dan butuh istirahat.
E. Riwayat Keluarga
Di keluarga pasien tidak terdapat keluarga yang memiliki keluhan serupa dengan
pasien. Hubungan pasien dengan keluarga inti seperti suami, anak dan keluarga besarnya
baik.

Genogram

Keterangan :
 Pasien

 Laki- laki

 Perempuan

 Keluarga yang tinggal serumah dengan pasien


 Menikah

F. Situasi Kehidupan Sekarang


Pasien sekarang tinggal dirumah bersama suami dan 3 orang anaknya. Keseharian
pasien hanya dihabiskan dirumah untuk mengurusi rumah tangga dan sekali sekali bekerja
sebagai tukang setrika. Pasien jadi jarang mengikuti kegiatan sosial dilingkungannya karena
merasa kelelahan. Lingkungan tempat tinggal terkesan cukup baik. Pasien tinggal di daerah
yang cukup padat penduduk dan berdekatan dengan tetangga. Hubungan pasien dengan
keluarga dan tetangga dikenal cukup baik
G. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya dan Lingkungannya
Pasien mengakui bahwa dirinya saat ini sedang mengalami masalah. Pasien menyadari
jika hal ini didiamkan berlarut-larut akan mengganggu aktivitasnya sehari-hari sehingga
pasien berusaha mencari pengobatan untuk mengatasi keluhannya sekarang.

III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 06 oktober 2015, hasil pemeriksaan ini
menggambarkan situasi keadaan pasien saat dilakukan pemeriksaan home visite.
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Perempuan berusia 36 tahun, paras wajah sesuai umur dengan postur tubuh yang piknikus,
kesan gizi berlebih. Pasien memakai baju lengan pendek berwarna hijau muda dan
memakai celana panjang berbahan kain. Kebersihan cukup baik. Pasien tampak senang saat
didatangi pada waktu home visite.
2. Kesadaran
Compos mentis, secara kualitas tidak berubah.
3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Keadaan pasien tenang. Pasien tidak memperlihatkan gerak-gerik yang tidak bertujuan,
gerak berulang, maupun gerakan abnormal/involunter.
4. Pembicaraan
• Kuantitas: pasien dapat menjawab pertanyaan dan dapat mengungkapkan isi hatinya
dengan cukup jelas.
• Kualitas: pasien dapat menjawab pertanyaan jika ditanya dan menjawab pertanyaan
dengan spontan, Pasien sering bercerita dengan spontan mengenai keadaan dirinya saat ini.
Intonasi berbicara pasien cukup jelas. Pembicaraan dapat dimengerti.
• Tidak ada hendaya dalam berbahasa.
5. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kooperatif, kontak mata adekuat. Pasien selalu menjawab pertanyaan dengan
melihat kearah pemeriksa. Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan cukup baik.
B. Keadaan Afektif
1. Mood : Eutimia
2. Afek : Luas
C. Gangguan Persepsi
Tidak terdapat gangguan persepsi

D. Proses Pikir
1. Bentuk pikir : realistik
2. Arus pikir
a. Produktivitas : pasien dapat menjawab spontan saat diajukan pertanyaan.
b. Kontinuitas : koheren, mampu memberikan jawaban sesuai pertanyaan.
c. Hendaya berbahasa : Tidak terdapat hendaya berbahasa
3. Isi pikiran : preokupasi ( isi pikiran pasien terfokus pada masalah kesulitan tidur pada
pasien)
E. Fungsi Intelektual / Kognitif
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
• Taraf pendidikan
Pasien lulusan sekolah dasar
• Pengetahuan Umum
Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat ibukota Negara Indonesia dan Presiden
Indonesia.
2. Daya konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien baik, pasien dapat menghitung dengan benar angka-angka yang
diberikan pemeriksa seperti 45 x 7 dan 56 x 5.
3. Orientasi
• Waktu : Baik, pasien mengetahui waktu wawancara dilakukan yaitu sore hari.
• Tempat : Baik, pasien mengetahui dia sedang berada di rumahnya, dan menjalani
pengobatan di RSKJ bengkulu
• Orang : Baik, pasien mengetahui nama ibu dan saudara – saudaranya. Selain itu pasien
juga mengetahui dirinya diwawancarai oleh siapa.
• Situasi : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang konsultasi dan wawancara.
4. Daya Ingat
• Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien masih dapat mengingat nama-nama teman pasien pada saat di sekolah dasar
• Daya ingat jangka menengah
Baik, pasien dapat mengingat umur berapa dia menikah dan pertama kali memiliki anak.
• Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat mengingat secara tepat apa aktivitas yang dilakukannya kemarin malam.
• Daya ingat segera
Baik, pasien dapat mengingat nama pemeriksa dan dapat menyebutkan nama benda yang
baru saja diucapkan oleh pemeriksa.
• Akibat hendaya daya ingat pasien
Tidak ada hendaya dalam daya ingat pada pasien
6. Kemampuan baca tulis: baik
7. Kemampuan visuospasial: baik
8. Berpikir abstrak: baik, pasien dapat menjelaskan persamaan jeruk dan apel.
9. Kemampuan menolong diri sendiri : baik, pasien dapat melakukan perawatan diri sehari -
hari secara mandiri seperti mandi, makan dan minum.
F. Daya Nilai
Daya nilai sosial pasien baik. Uji daya nilai realitas pasien juga baik.

G. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien baik, selama wawancara pasien dapat mengendalikan emosi
dengan baik dan tampak selama pemeriksaan dilakukan pasien menceritakan kondisinya
dengan tenang.

H. Tilikan
Tilikan derajat 6. Pasien menyadari bahwa dirinya sedang mengalami masalah gangguan
pada tidur. Pasien juga mengetahui penyebab gangguan tidur pada dirinya selama ini.
Pasien berusaha untuk mencari pengobatan gangguan kesulitan tidur yang dia alami dan
memiliki motivasi untuk sembuh.
I. Taraf Dapat Dipercaya
Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya cukup akurat, pasien berkata dengan jujur
mengenai peristiwa yang terjadi, dan di cross check juga dengan keterangan dari teman
pasien yang menceritakan kejadian yang serupa.
IV. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Generalis
• KU : Tampak lemas
• Sensorium : Compos mentis
Vital Sign
• TD : 110/70 mmHg
• Nadi : 74 x/menit
• RR : 18 x/menit
• Suhu : 36,8oC
b. Status Internus
Kepala Normosefali, deformitas tidak ada.
Mata Edema palpebra tidak ada, sklera ikterik -/-, konjungtiva palpebra anemis -/-
Hidung Simetris, deformitas (-), deviasi (-), tidak ada sekret.
Telinga Simetris, bentuk dalam batas normal, menggantung, deformitas
(-), sekret (-), nyeri tekan tragus mastoid tidak ada
Mulut Bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), papil lidah tersebar merata, mukosa lidah merah
Leher Dalam batas normal, tiroid tidak membesar
Thorax Tidak terdapat skar, spider naevi (-), simetris kiri dan kanan
Paru I: Pernapasan statis-dinamis kiri = kanan.
P: Stemfremitus simetris kiri dan kanan
P: Sonor disemua lapang paru
A: Suara napas vesikuler normal (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
Jantung I: Iktus kordis tidak terlihat
P: Iktus kordis tidak teraba
P: Tidak dilakukan
A: Bunyi jantung I dan II normal, gallop (-), murmur (-)
Abdomen I: Datar, tampak benjolan (-)
A: Bising usus (+)
P: Timpani (+) di seluruh regio abdomen
P: Nyeri tekan (-)
Ektremitas Superior, inferior, dekstra, sinistra dalam batas normal

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT


Pada pasien belum dilakukan pemeriksaan penunjang, sehingga disarankan
untuk melakukan pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap.
VI. FORMULASI DIAGNOSIS.
1. Perempuan berusia 36 tahun, sudah menikah dan memiliki 3 orang anak, paras wajah
sesuai umur dengan postur tubuh yang piknikus, kesan gizi berlebih. Pasien memakai baju
lengan pendek berwarna hijau muda dan memakai celana panjang berbahan kain.
Kebersihan cukup baik. Pasien tampak senang saat didatangi pada waktu home visite
2. Riwayat stressor : sejak 8 bulan yang lalu pasien mengalami kesulitan tidur. Akibatnya
pasien jadi sering merasa ngantuk, lemas, kelelahan, dan sering tidak bersemangat dalam
melakukan aktivitas sehari-hari. Pasien akhirnya berhenti dari pekerjaan nya sebagai
cleaning service karena dia merasa tidak mampu bekerja secara optimal
3. Pasien kooperatif, kontak mata adekuat, pembicaraan pasien koheren. Mood pasien
eutimia, afek luas
4. Terdapat bentuk pikir realistik, arus pikir koheren, dan isi pikir : preokupasi ( isi pikiran
pasien terfokus pada masalah kesulitan tidur).
5. Pasien jadi cenderung malas mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang ada
dilingkungannya karena dia merasa badannya lemas dan tidak kuat untuk mengikuti
kegiatan tersebut.
VI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
• Aksis I
F51.0 Insomnia Nonorganik
• Aksis II
Tidak ada diagnosis
• Aksis III
Tidak ada diagnosis

• Aksis IV
Kesulitan untuk beraktivitas seperti biasa karena merasa mengantuk dan kelelahan
• Aksis V
GAF scale 70-61

Diagnosis Banding
292.89 Gangguan Tidur Akibat Kafein Tipe Insomnia

VII. PROGNOSIS
1. Faktor yang memberikan pengaruh baik:
• Indikator psikososial: mempunyai teman akrab selama masa remaja hingga saat ini,
beberapa tahun sebelum sakit secara umum fungsi sosial baik. Pasien masih bisa bekerja
sekali-kali sebagai tukang gosok dirumah tetangganya.
• Tidak ada komorbiditas dengan gangguan psikiatri lainnya.
2. Faktor yang memberikan pengaruh buruk:
• Kebiasaan pasien mengkonsumsi kopi minimal 2 gelas dalam sehari
• Pasien malas berolahraga
Prognosis pasien secara menyeluruh adalah dubia ad bonam. Sehingga kesimpulan
prognosis pada pasien berdasarkan wawancara diatas
sebagai berikut :
• Quo Ad Vitam : dubia ad bonam
• Quo Ad Functionam : dubia ad bonam
• Quo Ad Sanationam : dubia ad bonam
VIII. Terapi
• Farmakoterapi
 Alprazolam 1 x 0,5 mg (sebelum tidur malam hari)

• Psikoterapi & Edukasi


Terapi tingkah laku meliputi
- Edukasi tentang kebiasaan tidur yang baik.
- Teknik Relaksasi.
- Terapi kognitif.
- Kontrol stimulus
- Restriksi Tidur.

BAB II
Tinjauan Pustaka

2.1. Fisiologi Tidur


Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan beredarnya waktu
dalam siklus 24 jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai irama
sirkadian. Tidur tidak dapat diartikan sebagai menifestasi proses deaktivasi Sistem Saraf
Pusat. Saat tidur, susunan saraf pusat masih bekerja dimana neuron-neuron di substansia
retikularis ventral batang otak melakukan sinkronisasi.
Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak pada
substansia ventrikulo retikularis batang otak yang disebut sebagai pusat tidur (sleep
center). Bagian susunan saraf pusat yang menghilangkan sinkronisasi/desinkronisasi
terdapat pada bagian rostral batang otak disebut sebagai pusat penggugah (arousal
center).

Tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu:


1. Tipe Rapid Eye Movement (REM)
2. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM)

Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium, lalu diikuti oleh fase
REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan REM terjadi secara bergantian antara 4-6
kali siklus semalam.
Tidur NREM yang meliputi 75% dari keseluruhan waktu tidur, dibagi dalam empat stadium,
antara lain:

1.1 Stadium 1, berlangsung selama 5% dari keseluruhan waktu tidur. Stadium ini dianggap
stadium tidur paling ringan. EEG menggambarkan gambaran kumparan tidur yang khas,
bervoltase rendah, dengan frekuensi 3 sampai 7 siklus perdetik, yang disebut gelombang
teta.
1.2 Stadium 2, berlangsung paling lama, yaitu 45% dari keseluruhan waktu tidur. EEG
menggambarkan gelombang yang berbentuk pilin (spindle shaped) yang sering dengan
frekuensi 12 sampai 14 siklus perdetik, lambat, dan trifasik yang dikenal sebagai kompleks
K. Pada stadium ini, orang dapat dibangunkan dengan mudah.
1.3 Stadium 3, berlangsung 12% dari keseluruhan waktu tidur. EEG menggambarkan
gelombang bervoltase tinggi dengan frekuensi 0,5 hingga 2,5 siklus perdetik, yaitu
gelombang delta. Orang tidur dengan sangat nyenyak, sehingga sukar dibangunkan.
1.4 Stadium 4, berlangsung 13% dari keseluruhan waktu tidur. Gambaran EEG hampir
sama dengan stadium 3 dengan perbedaan kuantitatif pada jumlah gelombang delta.
Stadium 3 dan 4 juga dikenal dengan nama tidur dalam, atau delta sleep, atau Slow Wave
Sleep (SWS)
Sedangkan tidur REM meliputi 25% dari keseluruhan waktu tidur. Tidak dibagi-bagi dalam
stadium seperti dalm tidur NREM.

2.2 Definisi Insomnia

Menurut DSM-IV, Insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal kesulitan untuk
memulai atau mempertahankan tidur atau tidur non-restoratif yang berlangsung setidaknya
satu bulan dan menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu.
The International Classification of Diseases mendefinisikan Insomnia sebagai kesulitan
memulai atau mempertahankan tidur yang terjadi minimal 3 malam/minggu selama
minimal satu bulan. Menurut The International Classification of Sleep Disorders, insomnia
adalah kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap malam, disertai rasa tidak nyaman setelah
episode tidur tersebut.
Jadi, Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur
atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk melakukannya. Insomnia
bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab,
seperti kelainan emosional, kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan. Insomnia dapat
mempengaruhi tidak hanya tingkat energi dan suasana hati tetapi juga kesehatan, kinerja
dan kualitas hidup.

2.3 Klasifikasi Insomnia

Insomnia Primer
Insomnia primer ini mempunyai faktor penyebab yang jelas. insomnia atau susah tidur ini
dapat mempengaruhi sekitar 3 dari 10 orang yang menderita insomnia. Pola tidur,
kebiasaan sebelum tidur dan lingkungan tempat tidur seringkali menjadi penyebab dari
jenis insomnia primer ini.

Insomnia Sekunder
Insomnia sekunder biasanya terjadi akibat efek dari hal lain, misalnya kondisi medis.
Masalah psikologi seperti perasaan bersedih, depresi dan dementia dapat menyebabkan
terjadinya insomnia sekunder ini pada 5 dari 10 orang. Selain itu masalah fisik seperti
penyakit arthritis, diabetes dan rasa nyeri juga dapat menyebabkan terjadinya insomnia
sekunder ini dan biasanya mempengaruhi 1 dari 10 orang yang menderita insomnia atau
susah tidur. Insomnia sekunder juga dapat disebabkan oleh efek samping dari obat-obatan
yang diminum untuk suatu penyakit tertentu, penggunaan obat-obatan yang terlarang
ataupun penyalahgunaan alkohol. Faktor ini dapat mempengaruhi 1-2 dari 10 orang yang
menderita insomnia.

Secara internasional insomnia masuk dalam 3 sistem diagnostik yaitu International Code of
Diagnosis (ICD) 10, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) IV dan
International Classification of Sleep Disorders (ISD).

Dalam ICD 10, insomnia dibagi menjadi 2 yaitu :


• Organik
• Non organik
- Dyssomnias (gangguan pada lama, kualitas dan waktu tidur)
- Parasomnias (ada episode abnormal yang muncul selama tidur seperti mimpu buruk,
berjalan sambil tidur, dll)
Dalam ICD 10 tidak dibedakan antara insomnia primer atau sekunder. Insomnia disini
adalah insomnia kronik yang sudah diderita paling sedikit 1 bulan dan sudah menyebabkan
gangguan fungsi dan sosial.

Dalam DSM IV, gangguan tidur (insomnia) dibagi menjadi 4 tipe yaitu:
1. Gangguan tidur yang berkorelasi dengan gangguan mental lain
2. Gangguan tidur yang disebabkan oleh kondisi medis umum
3. Gangguan tidur yang diinduksi oleh bahan-bahan atau keadaan tertentu
4. Gangguan tidur primer (gangguan tidur tidak berhubungan sama sekali dengan kondisi
mental, penyakit, ataupun obat-obatan.) Gangguan ini menetap dan diderita minimal 1
bulan.
Berdasarkan International Classification of Sleep Disordes yang direvisi, insomnia
diklasifikasikan menjadi:
a. Acute insomnia
b. Psychophysiologic insomnia
c. Paradoxical insomnia (sleep-state misperception)
d. Idiopathic insomnia
e. Insomnia due to mental disorder
f. Inadequate sleep hygiene
g. Behavioral insomnia of childhood
h. Insomnia due to drug or substance
i. Insomnia due to medical condition
j. Insomnia not due to substance or known physiologic condition, unspecified (nonorganic)
k. Physiologic insomnia, unspecified (organic)
2.4 Tanda dan Gejala Insomnia

• Kesulitan untuk memulai tidur pada malam hari


• Sering terbangun pada malam hari
• Bangun tidur terlalu awal
• Kelelahan atau mengantuk pada siang hari
• Iritabilitas, depresi atau kecemasan
• Konsentrasi dan perhatian berkurang
• Peningkatan kesalahan dan kecelakaan
• Ketegangan dan sakit kepala
• Gejala gastrointestinal

2.4. Etiologi Insomnia

• Stres. Kekhawatiran tentang pekerjaan, kesehatan sekolah, atau keluarga dapat membuat
pikiran menjadi aktif di malam hari, sehingga sulit untuk tidur. Peristiwa kehidupan yang
penuh stres, seperti kematian atau penyakit dari orang yang dicintai, perceraian atau
kehilangan pekerjaan, dapat menyebabkan insomnia.
• Kecemasan dan depresi. Hal ini mungkin disebabkan ketidakseimbangan kimia dalam otak
atau karena kekhawatiran yang menyertai depresi.
• Obat-obatan. Beberapa resep obat dapat mempengaruhi proses tidur, termasuk beberapa
antidepresan, obat jantung dan tekanan darah, obat alergi, stimulan (seperti Ritalin) dan
kortikosteroid.
• Kafein, nikotin dan alkohol. Kopi, teh, cola dan minuman yang mengandung kafein adalah
stimulan yang terkenal. Nikotin merupakan stimulan yang dapat menyebabkan insomnia.
Alkohol adalah obat penenang yang dapat membantu seseorang jatuh tertidur, tetapi
mencegah tahap lebih dalam tidur dan sering menyebabkan terbangun di tengah malam.
• Kondisi Medis. Jika seseorang memiliki gejala nyeri kronis, kesulitan bernapas dan sering
buang air kecil, kemungkinan mereka untuk mengalami insomnia lebih besar dibandingkan
mereka yang tanpa gejala tersebut. Kondisi ini dikaitkan dengan insomnia akibat artritis,
kanker, gagal jantung, penyakit paru-paru, gastroesophageal reflux disease (GERD), stroke,
penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer.
• Perubahan lingkungan atau jadwal kerja. Kelelahan akibat perjalanan jauh atau
pergeseran waktu kerja dapat menyebabkan terganggunya irama sirkadian tubuh, sehingga
sulit untuk tidur. Ritme sirkadian bertindak sebagai jam internal, mengatur siklus tidur-
bangun, metabolisme, dan suhu tubuh.
• 'Belajar' insomnia. Hal ini dapat terjadi ketika Anda khawatir berlebihan tentang tidak bisa
tidur dengan baik dan berusaha terlalu keras untuk jatuh tertidur. Kebanyakan orang
dengan kondisi ini tidur lebih baik ketika mereka berada jauh dari lingkungan tidur yang
biasa atau ketika mereka tidak mencoba untuk tidur, seperti ketika mereka menonton TV
atau membaca.

2.5 Faktor Resiko Insomnia

Hampir setiap orang memiliki kesulitan untuk tidur pada malam hari tetapi resiko insomnia
meningkat jika terjadi pada:
• Wanita. Perempuan lebih mungkin mengalami insomnia. Perubahan hormon selama siklus
menstruasi dan menopause mungkin memainkan peran. Selama menopause, sering
berkeringat pada malam hari dan hot flashes sering mengganggu tidur.
• Usia lebih dari 60 tahun. Karena terjadi perubahan dalam pola tidur, insomnia meningkat
sejalan dengan usia.
• Memiliki gangguan kesehatan mental. Banyak gangguan, termasuk depresi, kecemasan,
gangguan bipolar dan post-traumatic stress disorder, mengganggu tidur.
• Stres. Stres dapat menyebabkan insomnia sementara, stress jangka panjang seperti
kematian orang yang dikasihi atau perceraian, dapat menyebabkan insomnia kronis.
Menjadi miskin atau pengangguran juga meningkatkan risiko terjadinya insomnia.
• Perjalanan jauh (Jet lag) dan Perubahan jadwal kerja. Bekerja di malam hari sering
meningkatkan resiko insomnia.

2.6 Diagnosis

Untuk mendiagnosis insomnia, dilakukan penilaian terhadap:


• Pola tidur penderita.
• Pemakaian obat-obatan, alkohol, atau obat terlarang.
• Tingkatan stres psikis.
• Riwayat medis.
• Aktivitas fisik
• Diagnosis berdasarkan kebutuhan tidur secara individual.

Sebagai tambahannya, dokter akan melengkapi kuisioner untuk menentukan pola tidur dan
tingkat kebutuhan tidur selama 1 hari. Jika tidak dilakukan pengisian kuisioner, untuk
mencapai tujuan yang sama Anda bisa mencatat waktu tidur Anda selama 2 minggu.
Pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk menemukan adanya suatu permasalahan yang bisa
menyebabkan insomnia.
Ada kalanya pemeriksaan darah juga dilakukan untuk menemukan masalah pada tyroid
atau pada hal lain yang bisa menyebabkan insomnia. Jika penyebab dari insomnia tidak
ditemukan, akan dilakukan pemantauan dan pencatatan selama tidur yang mencangkup
gelombang otak, pernapasan, nadi, gerakan mata, dan gerakan tubuh.

2.7 Kriteria Diagnostik Insomnia Non-Organik berdasarkan PPDGJ

• Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti:


a. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas tidur
yang buruk
b. Gangguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal 1 bulan
c. Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan terhadap
akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari
d. Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan
yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan
• Adanya gangguan jiwa lain seperti depresi dan anxietas tidak menyebabkan diagnosis
insomnia diabaikan.
• Kriteria “lama tidur” (kuantitas) tidak diguankan untuk menentukan adanya gangguan,
oleh karena luasnya variasi individual. Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas
(seperti pada “transient insomnia”) tidak didiagnosis di sini, dapat dimasukkan dalam reaksi
stres akut (F43.0) atau gangguan penyesuaian (F43.2)
2.8 Tatalaksana

1. Non Farmakoterapi

a. Terapi Tingkah Laku


Terapi tingkah laku bertujuan untuk mengatur pola tidur yang baru dan mengajarkan cara
untuk menyamankan suasana tidur. Terapi tingkah laku ini umumnya direkomendasikan
sebagai terapi tahap pertama untuk penderita insomnia.
Terapi tingkah laku meliputi
- Edukasi tentang kebiasaan tidur yang baik.
- Teknik Relaksasi.
Meliputi merelaksasikan otot secara progresif, membuat biofeedback, dan latihan
pernapasan. Cara ini dapat membantu mengurangi kecemasan saat tidur. Strategi ini dapat
membantu Anda mengontrol pernapasan, nadi, tonus otot, dan mood.
- Terapi kognitif.
Meliputi merubah pola pikir dari kekhawatiran tidak tidur dengan pemikiran yang positif.
Terapi kognitif dapat dilakukan pada konseling tatap muka atau dalam grup.
- Kontrol stimulus
Terapi ini dimaksudakan untuk membatasi waktu yang dihabiskan untuk beraktivitas.
- Restriksi Tidur.
Terapi ini dimaksudkan untuk mengurangi waktu yang dihabiskan di tempat tidur yang
dapat membuat lelah pada malam berikutnya.

b. Gaya hidup dan pengobatan di rumah

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia :


• Mengatur jadwal tidur yang konsisten termasuk pada hari libur
• Tidak berada di tempat tidur ketika tidak tidur.
• Tidak memaksakan diri untuk tidur jika tidak bisa.
• Hanya menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.
• Relaksasi sebelum tidur, seperti mandi air hangat, membaca, latihan pernapasan atau
beribadah
• Menghindari atau membatasi tidur siang karena akan menyulitkan tidur pada malam hari.
• Menyiapkan suasana nyaman pada kamar untuk tidur, seperti menghindari kebisingan
• Olahraga dan tetap aktif, seperti olahraga selama 20 hingga 30 menit setiap hari sekitar
lima hingga enam jam sebelum tidur.
• Menghindari kafein, alkohol, dan nikotin
• Menghindari makan besar sebelum tidur
• Cek kesehatan secara rutin
• Jika terdapat nyeri dapat digunakan analgesik

2. Farmakologi
Pengobatan insomnia secara farmakologi dibagi menjadi dua golongan yaitu benzodiazepine
dan non-benzodiazepine.
a. Benzodiazepine (Alprazolam, Nitrazepam,Trizolam, dan Estazolam)
b. Non benzodiazepine (Chloral-hydrate, Phenobarbital)
Pemilihan obat, ditinjau dari sifat gangguan tidur :
- Initial Insomnia (sulit masuk ke dalam proses tidur)
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep inducing anti-insomnia” yaitu golongan
benzodiazepine (Short Acting)
Misalnya pada gangguan anxietas
- Delayed Insomnia (proses tidur terlalu cepat berakhir dan sulit masuk kembali ke proses
tidur selanjutnya)
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Prolong latent phase Anti-Insomnia”, yaitu golongan
heterosiklik antidepresan (Trisiklik dan Tetrasiklik)
Misalnya pada gangguan depresi
- Broken Insomnia (siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan terpecah-pecah menjadi
beberapa bagian (multiple awakening).
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep Maintining Anti-Insomnia”, yaitu golongan
phenobarbital atau golongan benzodiazepine (Long acting).
Misalnya pada gangguan stres psikososial.

Pengaturan Dosis
- Pemberian tunggal dosis anjuran 15 sampai 30 menit sebelum pergi tidur.
- Dosis awal dapat dinaikkan sampai mencapai dosis efektif dan dipertahankan sampai 1-2
minggu, kemudian secepatnya tapering off (untuk mencegah timbulnya rebound dan
toleransi obat)
- Pada usia lanjut, dosis harus lebih kecil dan peningkatan dosis lebih perlahan-lahan, untuk
menghindari oversedation dan intoksikasi
- Ada laporan yang menggunakan antidepresan sedatif dosis kecil 2-3 kali seminggu (tidak
setiap hari) untuk mengatasi insomnia pada usia lanjut

Lama Pemberian
- Pemakaian obat antiinsomnia sebaiknya sekitar 1-2 minggu saja, tidak lebih dari 2
minggu, agar resiko ketergantungan kecil. Penggunaan lebih dari 2 minggu dapat
menimbulkan perubahan “Sleep EEG” yang menetap sekitar 6 bulan lamanya.
- Kesulitan pemberhetian obat seringkali oleh karena “Psychological Dependence”
(habiatuasi) sebagai akibat rasa nyaman setelah gangguan tidur dapat ditanggulangi.

Efek Samping
Supresi SSP (susunan saraf pusat) pada saat tidur

Efek samping dapat terjadi sehubungan dengan farmakokinetik obat anti-insomnia (waktu
paruh) :
- Waktu paruh singkat, seperti Triazolam (sekitar 4 jam)  gejala rebound lebih berat pada
pagi harinya dan dapat sampai menjadi panik
- Waktu paruh sedang, seperti Estazolam  gejala rebound lebih ringan
- Waktu paruh panjang, seperti Nitrazepam  menimbulkan gejala “hang over” pada pagi
harinya dan juga “intensifying daytime sleepiness”

Penggunaan lama obat anti-insomnia golongan benzodiazepine dapat terjadi “disinhibiting


effect” yang menyebabkan “rage reaction”
Interaksi obat
- Obat anti-insomnia + CNS Depressants (alkohol dll) menimbulkan potensiasi efek supresi
SSP yang dapat menyebabkan “oversedation and respiratory failure”
- Obat golongan benzodiazepine tidak menginduksi hepatic microsomal enzyme atau
“produce protein binding displacement” sehingga jarang menimbulkan interaksi obat atau
dengan kondisi medik tertentu.
- Overdosis jarang menimbulkan kematian, tetapi bila disertai alkohol atau “CNS
Depressant” lain, resiko kematian akan meningkat.

Perhatian Khusus
- Kontraindikasi :
o Sleep apneu syndrome
o Congestive Heart Failure
o Chronic Respiratory Disease
- Penggunaan Benzodiazepine pada wanita hamil mempunyai risiko menimbulkan
“teratogenic effect” (e.g.cleft-palate abnormalities) khususnya pada trimester pertama.
Juga benzodiazepine dieksresikan melalui ASI, berefek pada bayi (penekanan fungsi SSP).

2.9 Komplikasi

Tidur sama pentingnya dengan makanan yang sehat dan olahraga yang teratur. Insomnia
dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik.

Komplikasi insomnia meliputi


• Gangguan dalam pekerjaan atau di sekolah.
• Saat berkendara, reaksi reflex akan lebih lambat. Sehingga meningkatkan reaksi
kecelakaan.
• Masalah kejiwaan, seperti kecemasan atau depresi
• Kelebihan berat badan atau kegemukan
• Daya tahan tubuh yang rendah
• Meningkatkan resiko dan keparahan penyakit jangka panjang, contohnya tekanan darah
yang tinggi, sakit jantung, dan diabetes.

2.10 Prognosis
Prognosis umumnya baik dengan terapi yang adekuat dan juga terapi pada gangguan lain
spt depresi dll. Lebih buruk jika gangguan ini disertai skizophrenia

BAB III
PEMBAHASAN

Dari hasil pemeriksaan pada Ny. W ditemukan gejala sulit tidur yang sudah berlangsung
sejak 8 bulan yang lalu. Pasien tidak memiliki masalah pribadi, sosial, dan interpersonal
yang serius sehingga harus mengganggu pikiran pasien. Pasien hidup bahagia bersama
seorang suami dan 3 orang anaknya. Pasien mengaku bahwa dia rutin meminum kopi
sebanyak 1 gelas setiap pagi dan sore. Pasien jarang berolahraga. Semenjak terkena
gangguan sulit tidur pasien jadi berhenti dari pekerjaan lamanya karena merasa tidak
memiliki kemampuan yang optimal untuk bekerja saat siang hari. Pasien merasa badannya
selalu lemas, merasa mengantuk, dan kelelahan.
Sehingga dari hasil semua pemeriksaan tersebut pasien didiagnosis menderita gangguan
tidur (sleep disorder) nonorganik. Pada pasien ini diberikan terapi alprazolam 2 x 0,5 mg.
Alprazolam merupakan salah satu derivat dari golongan benzodiazepin. Alprazolam bekerja
dengan mengurangi rangsang abnormal pada otak, menghambat neurotrasmitter asam
gama-aminobutirat (GABA) dalam otak sehingga menyebabkan efek penenang. Alprazolam
berikatan dengan reseptor benzodiazepin pada saraf post-sinaps GABA di beberapa tempat
di SSP, termasuk sistem limbik dan formatio retikuler. Peningkatan efek inhibisi GABA
menimbulkan peningkatan permeabilitas terhadap ion klorida yang menyebabkan terjadinya
hiperpolarisasi dan stabilisasi pada pasien.
Selain dengan farmakoterapi pada pasien ini juga dilakukan terapi prilaku berupa Edukasi
tentang kebiasaan tidur yang baik, Teknik Relaksasi, Terapi kognitif, Kontrol stimulus, dan
Restriksi Tidur.
Pasien ini didiagnosis banding dengan Gangguan Tidur Akibat Kafein Tipe Insomnia karena
pasien memiliki kebiasaan mengkonsumsi kopi minimal 2 gelas sehari.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, H.I, Sadock BJ. 2010. Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri. Ed: Wiguna, I Made.
Tangerang: Bina Rupa Aksara Publisher
2. American Academy of Sleep Medicine. ICSD2 - International Classification of Sleep
Disorders. American Academy of Sleep Medicine Diagnostic and Coding Manual . Diagnostik
dan Coding Manual. 2nd. 2. Westchester, Ill: American Academy of Sleep Medicine; 2005:1-
32.
3. Zeidler, M.R. 2011. Insomnia. Editor: Selim R
Benbadis. (http://www.emedicina.medscape.com/article/1187829.com Diakses tanggal 8
Juli 2011)
4. Tomb, David A. 2004. Buku Saku Psikiatri Ed 6. Jakarta: EGC
5.
Insomnia.(http://www.mayoclinic.com/health/insomnia/DS00187/DSECTION=alternative-
medicine Diakses tanggal 8 Juli 2011)
6. Maslim, Rusdi. 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-
III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.
7. Maslim, Rusdi. 2001. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.
8. Gelder, Michael G, etc. 2003. New Oxford Textbook of Psychiatry. London: Oxford
University Press

Anda mungkin juga menyukai