Anda di halaman 1dari 29

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO (PLTMH)

RENCANA PENINGKATAN KAPASITAS DAYA LISTRIK DARI 20 kVA MENJADI


60 kVA PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO (PLTMH) DI
DESA PADASUKA KABUPATEN CIANJUR-JAWABARAT

M. Hariansyah, Ir., M.T

PLTMH di desa Padasuka, telah dibangun pada tahun 1982, dengan kapasitas daya
sebesar 25 kVA. Pada mulanya digunakan untuk mensuplai daya listrik perkebunan teh,
dan penduduk setempat. Bertambahnya beban listrik membuat kapasitas daya listrik yang
ada sudah tidak mampu lagi mensuplay beban, sehingga direncanakan untuk
menambah kapasitas daya listrik. Sehingga perlu dilakukan studi analisis lebih lanjut.
Tujuan yang ingin di capai adalah meningkatkan daya listrik terpasang dari 25 kVA,
menjadi 60 kVA, sesuai kemampuan daya teoritis PLTMH, debit air tersedia, saluran
penghantar air, menghasilkan data beban listrik tersambung, sehingga dapat
direncanakan kapasitas turbin dan generator, serta type jaringan listrik, dan menghasilkan
tegangan listrik yang konstan antara -5% s.d + 10 % dari tegangan listrik efektif sesuai
Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000). Metodologi yang dilakukan adalah melakukan
pengukuran ulang debit air ( Q), diamater pipa pesat (d), tinggi jatuh air ( H), mendata
jumlah beban terpasang, hingga dapat menentukan turbin dan generator. Hasil yang
diperoleh debit air (Q) di sungai mencapai 3,9 m3/dt, , serta tinggi jatuh air 12 m, sehingga
daya teoritis PLTMH yang dapat dibangkitkan sebesar 450 kW. Sementara debit air yang
digunakan sebesar 0,9 m3/dt, dengan ketinggian jatuh air 12 meter, efisiensi turbin 0,88 dan
efisiensi generator 0,9, maka daya yang diperoleh sebesar 105 kW. Berdasarkan hasil
survai pendataan beban listrik jumlah daya terpasang direncanakan sebesar 50,325 kW,
sehingga dapat dipilih type turbin Francis dan generator sinkron kapasitas 60 kW atau 75
kVA.

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

PLTMH mulai dibangun pada tahun 1982 di desa Padasuka, Kecamatan Pegalaran
Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Pada mulanya digunakan untuk keperluan
perkebunan Teh. Tenaga penggerak berupa kincir air over shoot untuk menggerakan
dynamo listrik. Unjuk kerja PLTMH sangat buruk, efisiensi daya listrik hanya 40 %, tidak
aman dan mudah rusak. Daya listrik yang dibangkitkan 20 kVA pada sistem tegangan listrik
380/220 volt. (Yayasan Mandiri, 2007).

Beberapa upaya yang telah dilakukan adalah memodifikasi instalasi PLTMH, mulai
perbaikan bendungan, konstruksi kincir air menggunakan plat baja, tetapi masih banyak
masalah karena berat dan tidak balance menyebabkan bantalan poros mudah rusak, selain
dari itu putaran kincir air sangat rendah ( 512 rpm), membutuhkan sistem transmisi daya
yang komplek, dan hasilnya tidak memuaskan, frekuensi listrik tidak stabil dan merusak
peralatan elektronik. Sementara beban listrik setiap tahunya terus bertambah dari tahun
2002, 20 kVA dan pada tahun 2006 menjadi 45 kVA (Yayasan Mandiri, 2007).
Tujuan yang ingin dicapai adalah, meningkatkan daya listrik terpasang dari 25 kVA,
menjadi 60 kVA, sesuai kemampuan daya teoritis PLTMH, debit air tersedia, saluran
penghantar air, menghasilkan data beban listrik tersambung, sehingga dapat
direncanakan kapasitas turbin dan generator, serta type jaringan listrik, dan menghasilkan
tegangan listrik yang konstan antara -5% s.d + 10 % dari tegangan listrik efektif sesuai
Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000).

1. TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian PLTMH adalah pembangkit listrik yang menggunakan tenaga air


sebagai media utama untuk penggerak turbin dan generator. Tenaga mikro hidro, dengan
skala daya yang dapat dibangkitkan 5 kilo watt hingga 50 kilo watt. Pada PLTMH proses
perubahan energy kinetic berupa (kecepatan dan tekanan air), yang digunakan untuk
menggerakan turbin air dan generator listrik hingga menghasilkan energi
listrik(NOTOSUDJONO, D. 2002).

2.1 Prinsip kerja PLTMH

Secara teknis, mikrohidro mempunyai tiga komponen utama yaitu air sumber energi,
turbin dan generator. Air yang mengalir dengan kapasitas tertentu disalurkan dengan
ketinggian tertentu melalui pipa pesat menuju rumah instalasi (powerhouse). Di rumah
instalasi, air tersebut akan menumbuk turbin sehingga akan menghasilkan energi mekanik
berupa berputarnya poros turbin. Putaran poros turbin ini akan memutar generator sehingga
dihasilkan energi listrik. Secara skematis ditunjukkan pada gambar 2.1. berikut ini :

Gambar 2.1 Skema PLTMH

Cara kerja PLTMH sebagai berikut:

a. Aliran sungai dibendung agar mendapatkan debit air ( Q) dan tinggi jatuh air (H),
kemudian air yang dihasilkan disalurkan melalui saluran penghantar air menuju kolam
penenang,

b. Kolam penenang dihubungkan dengan pipa pesat, dan pada bagian paling bawah di pasang
turbin air.
c. Turbin air akan berputar setelah mendapat tekanan air ( P ), dan perputaran turbin
dimanfaatkan untuk memutar generator,

d. Setelah mendapat putaran yang constan maka generator akan menghasilkan tegangan
listrik, yang dikirim kekonsumen melalui saluran kabel distribusi ( JTM atau JTR).

2.2 Pendekatan Analisis

Pendekatan analisis yang digunakan umumnya bersifat parametrik ZUHAL,


1981). Secara teoritis daya yang dapat dibangkitkan oleh PLTMH dilakukan dengan
pendekatan :

Dimana :
ρ : Masa jenis air (kg/m3)
Q : Debita air dalam (m3/dt)
H : Tinggi jatuh air dalam (m)

Daya teoritis PLTMH tersebut di atas, akan berkurang setelah melalui turbin dan generator,
yang diformulasikan sebagai berikut :

Dimana :
eff T : Efisiensi Turbin antara ( 0,8 s/d 0,95)
eff G : Efisiensi Generador ( 0,8 s/d 0,95)

Perkiraan beban tersambung ( SUBROTO, I . 2002).

Dimana : n = banyaknya pelanggan


P = Daya listrik pada tiap pelanggan ( Watt)

Kecepatan medan putar di dalam generator sinkron dinyatakan oleh persamaan


:(THERAJA, BL. 2001).

Dimana :
ns = Kecepatan medan putar (rpm)
f = Frekuensi (Hz)
p = Jumlah kutub motor induksi

Kecepatan putar rotor tidak sama dengan kecepatan medan putar, perbedaan tersebut
dinyatakan dengan slip :

Dimana :
s = slip
ns = kecepatan medan putar stator (rpm)
nr = kecepatan putar rotor (rpm)

Dan daya maksimum yang di hasilkan dirumuskan :

Dan efisiensi dituliskan :

2.3 Survei potensi

Peninjauan lapangan untuk survai potensi ini bersifat pengecekan/konfirmasi hasil


desk study terhadap situasi-kondisi lokasi yang sebenarnya. Survai potensi ini sering juga
disebut sebagai survai identifikasi lokasi. Disamping mengidentifikasi lokasi, di dalam survai
potensi juga dilakukan evaluasi, modifikasi dan sebagainya sehingga prospek selanjutnya
dari rencana lokasi tersebut dapat diperkirakan. Tidak selalu bahwa lokasi yang dimaksud
akan mempunyai prospek untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya. Ada kalanya suatu lokasi
terlihat sulit untuk dikembangkan, kemungkinan karena faktor kondisi air sungainya, situasi
topografinya, sulit dan jauh dari lokasi penduduk.

Kegiatan pokok di dalam lapangan (survai, pengukuran, dan lain-lain) pada survai potensi
antara lain sebagai berikut :( WIBAWA,U. 2006)

a. Gambaran pencapaian lokasi, kondisi yang ada.


b. Pengukuran debit sesaat dari aliran air sungai.
c. Pengukuran tinggi jatuh (head).
d. Menentukan beberapa alternatif susunan konfigurasi dari PLTMH, yaitu gambaran di
lapangan mengenai posisi-posisi lokasi bangunan utama PLTMH (bendung, intake, saluran,
kolam, pipa pesat, gedung pembangkit, tail race, switchyard, jalan masuk, rute jaringan, dll).
e. Survai-survai yang berhubungan dengan aspek-aspek tersebut di atas yakni topografi,
hidrologi, geologi/geoteknik, sistem kelistrikan, metode pusat beban, sosial-ekonomi,
fasilitas-fasilitas yang mendukung, sumber material dan data pendukung lainnya.

Adapun karakteristik potensi untuk menentukan tingkat prospek pengembangan PLTMH


adalah sebagai berikut : (MASONYI, 2007)

a. Kapasitas lebih dari 100 kW.


b. Kemiringan dasar sungai minimum 2 % atau debit air relatif besar.
c. Jarak PLTMH ke pusat beban, maksimum 20 km.
d. Teknis pelaksanaan mudah.
Tahap survai potensi dalam hal ini harus dapat menghasilkan prediksi secara awal bahwa
potensi PLTMH yang dimaksud cukup layak untuk dikembangkan.

2.3.1 Tinggi Jatuh air (Head)

Penentuan debit dan head pada PLTMH mempunyai arti yang sangat penting dalam
menghitung potensi tenaga listrik.Seperti pada gambar 2. Variabel debit “diwakili” oleh
jumlah rata-rata bulan kering dalam satu tahun. Artinya dicari areal-areal yang jumlah bulan
keringnya kecil atau bahkan tidak ada bulan keringnya sama Pengukuran debit air (Q)
sungai pada dasarnya terdapat banyak metode pengukuran debit air. Untuk sistem konversi
energi air skala besar pengukuran debit bisa berlangsung bertahun-tahun. Sedangkan untuk
sistem konversi energi air skala kecil waktu pengukuran dapat lebih pendek, misalnya untuk
beberapa musim yang berbeda saja. (WIBAWA,U. 2006). Tingkat kemiringan yang diwakili
oleh indikator gradien skematik, semakin miring areal, semakin besar kemungkinan untuk
ditemukannya head yang cukup untuk PLTMH.

Gambar 2.2. Pengukuran tinggi jatuh air

Gradien skematik rata-rata dirumuskan sebagai berikut : . (WIBAWA,U. 2006)

Dimana :
h1 = Elevasi titik tertinggi (m)
h2 = Elevasi titik terendah (m)
A = Luas areal (m2)

1.3.2 Pengukuran Debit air

Terdapat banyak metode pengukuran debit air. Sistem konversi energi air skala
besar pengukuran debit dapat berlangsung bertahun-tahun. Sedangkan untuk sistem
konversi energi air skala kecil waktu pengukuran dapat lebih pendek, misalnya untuk
beberapa musim yang berbeda saja. . (WIBAWA,U. 2006) Menegukur luas permukaan
sungai, dan kecepatan aliran air sungai dapat dilakukan seperti langkah – langkah
pengukuran berikut: ( SUBROTO, I . 2002).
a. Pengukuran kedalaman sungai dilakukan di beberapa titik berbeda X1 – Xn (seperti
ditunjukkan gambar 2.3).

b. Lebar sungai (l) dimisalkan 10 m.

c. Hitung kedalaman rata-rata, menggunakan rumus:

d. Luas diperoleh dengan mengalikan kedalaman rata-rata dengan lebar sungai, yaitu :
A = X(rata). l

Mengukur kecepatan aliran sungai (v), langkah – langkah pengukuran:. Carilah


bagian sungai yang lurus dengan panjang sekitar 20 meter, dan tidak mempunyai arus putar
yang menghambat jalannya pelampung. ( SUBROTO, I . 2002)
A. Ikatlah sebuah pelampung kemudian dihanyutkan dari titik t0 – t1 seperti terlihat pada
gambar 2.3 berikut.

a. Pengukuran luas permukaan sungai b. Pengukuran kecepatan aliran air sungai

Gambar 2.3 Pengukuran luas permukaan dan kecepatan aliran sungai


B. Hal ini dilakukan 5 kali berturut – turut kemudian catat waktu tempuh pelampung tersebut (t0
– t1) dengan menggunakan stopwatch.
C. Hitunglah waktu tempuh rata-rata dari pelampung tersebut, yaitu :

trata = (sigma t) / n

D. Kecepatan aliran air sungai (v) diperoleh dengan membagi jarak sungai (s) dengan waktu
tempuh rata-rata dari pelampung tersebut, yaitu :

(t0 – t1), v = s / trata

Setelah luas dan kecepatan aliran sungai diketahui, maka besar debit pada sungai tersebut
dapat dianalisis:

Q = A xv (m3/det)
3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian.

Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Padasuka Kecamatan Pegalaran Kabupaten


Cianjur Jawa Barat. Lama waktu penelitian selama satu tahun ( Juni 2006 hingga Juni
2007), dimulai survai lapangan hingga laporan akhir.

3.2 Pelaksanaan Survay Lapangan.

Pelaksanaan survey dan kerja lapangan meliputi:


a. Pengukuran ulang head (h) dan debit air (Q).
b. Pengecekan kondisi bendungan
c. Pengecekan pipa pesat
d. Pengecekan turbin dan generator serta proteksinya
e. Pendataan beban listrik dikonsumen.

3.3 Alat dan Bahan Kerja Survey Lapangan.

Beberapa unit alat dan bahan kerja yang perlu disipakan:


a. Alat keselamatan kerja, seperti P3K, sepatu boat, tali pendaki gunung, sarung tangan, dan
helm atau topi.

b. Alat Kerja, rol meter, alat tulis, slang plastic, papan mistar, serta beberapa alat pendukung
lainnya.

3.4 Alat Ukur dan Pengujian

Beberapa alat ukur dan alat pengujian yang digunakan adalah, debit meter 1 unit,
spidometer 1 unit, volt meter, amper meter dan watt meter masing-masing satu unit,
osiloskop kapasitas 20MHz, unit dan taco meter 1 unit, serta beberapa Mini Circuit
Breaker.

3.5 Perlengkapan Fasilitas Penelitian

Perlengkapan fasilitas yang digunakan untuk melakukan penelitian terdiri:


a. Perlengkapan Teknik Sipil berupa bendungan air, saluran penghantar dan kolam air.
b. Perlengkapan Mekanik berupa, pipa pesat, turbin, gear box, dan governor.
c. Perlengkapan Listrik berupa generator singkron, alat control dan proteksi serta alat-alat
pengukuran listrik ( volt meter, amper meter, cos phi meter, watt meter dan frekuensi meter
serta beberapa alat ukur lainnya.
d. Alat-alat pendukung lainnya.
3.6 Pengolahan Data.
Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan dan analisis data, agar pelaksanaan
dan keputusan yang diterapkan menjadi efisien. Data yang diperoleh berupa:
a. Data heat dan debit air
b. Data beban konsumen terpasang
c. Data saluran penghantar air
d. Data turbin
e. Data pipa pesat
f. Data Generator
g. Data Jaringan Listrik Tegangan Rendah ( JTR).

4. HASIL DAN BAHASAN


4.1 Data Debit dan Tinggi jatuh air.

Setelah dilakukan pengukuran ulang diperoleh tinggi jatuh air 12 meter dan debit air di
sungai Cisuka pada musim kemarau 2,6 m3/dt dan pada musim hujan mencapai 5,2 m3/dt,
dan rata-rata debit harian 3,9 m3/dt. Mengacu persamaan (2.1), maka daya listrik yang
dapat dibangkitkan secara teoritis :
P = 9,8 x 3,9 x 12

= 460 kW.
Debit air dan tinggi jatuh air diperlihatkan pada gambar 4.1 berikut.

Sumber: Foto Lalu & M. Hariansyah, Juni 2006.


Gambar 4.1 Pengukuran Debit air Sungai
4.2 Data Beban Konsumen
Beban konsumen di Desa Padasuka dibedakan menjadi 2 kelompok, beban pada
rumah permanen 450 VA atau 383 Watt, pada factor kerja 0,85 standar PT.PLN, rumah
semi permanen 250 VA atau 213 Watt. Tercatat 63 rumah permanen sudah termasuk 4
unit bangunan fasilitas social, dan 123 rumah semi permanen. Mengacu kepada persamaan
diatas diperoleh perkiraan daya tersambung
PT = ( 63 x 383) + ( 123 x 383)
= 50,325 kW, perkiraan pada saat beban maksimum.
Kondisi beban tersambung diperlihatkan pada table 4.1 berikut.

Tabel 4.1 Data Beban Terpasang

Sumber: Olah Data M. Hariansyah,2006

1.3 Data saluran penghantar Air.


Debit air yang ada di sungai Cisuka, tidak dimanfaatkan semua untuk menggerakkan
turbin, dari bendungan air disalurkan melalui saluran penghantar air, dengan ukuran
panjang saluran air 328 meter, lebar permukaan atas saluran 1,4 meter, lebar bagian
bawah 1,0 meter, dan kecepatan aliran air di dalam saluran penghantar air 0,83 m/dt.
Mengacu pada persamaan (2.10 hingga 2. 14) diperoleh debit yang masuk kesaluran
penghantar:
Q = (1,2 m2 x 0,83 m/dt )
= 0,996 m3/dt.
Saluran penghantar air diperlihatkan pada gambar 4.2 berikut.

Sumber: Foto Lalu , PLTMH Padasuka, Januari 2007.


Gambar 4.2 Saluran penghantar air
1.3 Data Pipa Pesat dan data Turbin.
Panjang pipa pesat dari kolam penampung air hingga keturbin 44 meter, dengan
ketinggian jatuh air 12 m, kemiringn pipa pesat 30o, serta diameter dalam pipa pesat 600
mm, dan diameter luar 760 mm, menggunakan pipa baja. Kecepatan air di dalam pipa
pesat 3,52 m/dt. Sehingga debit air yang mengenai sudu turbin mengacu persamaan (
2.10 – 1.14) sebesar:
Q = 0,283 m2 x 3,52 m/dt
= 0,996 m3/dt.
Turbin yang dipergunakan untuk memutar generator jenis turbin air Franciss, dengan
karaketristik ketinggian jatuh air yang ideal untuk turbin ini 8 hingga 100 m, kapasitas 100
kVA, dan putaran 512 rpm, sehingga diperlukan gearbox tranmisi putaran dari 512 rpm
menjadi 1.500 rpm untuk memutar generator, dan efisiensi turbin mencapai 88 %.
Mengacu pada persamaan (2.2), maka daya listrik yang keluar dari turbin:
PT = 9,8 x 0,996 x 12 x 0,88
= 117 kW
Generator yang digunakan adalah generator sinkron, dengan kapasitas daya 80 kVA,
tegangan listrik efektif 400/232 volt, frekeunsi 50 Hz, dan efisiensi 90 % ,putaran 1500
rpm, buatan Hitachi, tahun 2005. Mengacu persamaan (2.2), maka daya keluar dari
generator adalah:
PG = PT. effg
= 117 x 0,9
= 105 kW, adalah daya keluaran maksimum PLTMH Padasuka.
Foto pipa pesat dan turbin air serta generator desa Padasuka diperlihatkan pada
gambar 4.4 berikut.

Sumber: Foto Lalu , PLTMH Padasuka, Maret, 2007.


Gambar 4.3 Pipa pesat, turbin dan Generator

4.5 Pengukuran Tegangan, arus dan beban listrik.


Data jaringan listrik menggunakan system radial, panjang jaringan dari Power house
ke pusat beban terjauh 720 meter, dengan drop tegangan 1,03 % masih dalam batas
standar PUIL 2000 yaitu sebesar 5 %.
Hasil pengamatan grafik arus dan tegangan menggunakan osiloskop 20 MHz,
Yokogawa, 2 Chanel, dan grafik pengamatan beban diperlihatkan pada gambar
4.4 berikut. Pengamatan dilakukan oleh operator petugas PLTMH pada saat beban
puncak pukul 24.00 s.d 00.00, pada tanggal 22 Juni 2007. Hasil pengamatan dibuat dalam
bentuk tabel beban, kemudian dibuat grafik beban listrik, dapat dilihat pada tabel 2 berikut.

Gambar 4.4. Gelombang arus dan tegangan output dari PLTMH


Pemakaian energy listrik selama 24 jam diperlihatkan pada table berikut.
Tabel 2. Pengukuran Besran Listrik

Dan bentuk dari grafik beban listrik diperlihatkan pada gambar 4.5 berikut.

Gambar 4.5 Grafik Daya listrik setiap jam


4.6 Efisiensi PLTMH

Efisiensi adalah perbandingan daya output maksimum dengan daya input yang dapat
dibangkitkan. Mengacu persamaan ( 2.7) dihasilkan efisiensi :

Dari perhitungan diatas didapatkan efisiensi sebesar 79 %.

4.7 Manfaat Untuk Masyarakat.


Manfaat penerapan PLTMH di Indonesia adalah sebagai berikut : ( MARTIN J.
2000)
Meningkatkan Kualitas hidup masyarakat:
a. Memberikan penerangan (lampu), dengang kualitas lebih baik,
sehingga jam belajar dan beraktifitas lebih panjang;
b. Membukakan akses pada informasi (radio, Televisi, internet);
c. Memberikan akses pada sumber air minum dan pertanian
d. Menciptakan bisnis baru didesa (jadi distributor/service center yang
mampu dilakukan oleh Koperasi,
e. Menciptakan lapangan kerja di desa (penjualan dan service center
memerlukan banyak tenaga lokal);
f. Menciptakan Tenaga Teknisi di desa.
g. Mengatur tata lahan air, untuk irigasi pertanian.

Gambar 4.6 menunjukkan manfaat PLTMH di masyarakat khususnya di pedesaan.

Sumber: Foto, M. Hariansyah. Agustus 2007. ( Padasuka-Kab. Cianjur)

Gambar 4.6. Manfaat PLTMH untuk masyarakat Pedesaan

5. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka kesimpulan yang dapat
diambil dari peningkatan kapasitas daya listrik dari PLTMH di Padasuka dari 25 kVA
menjadi 60 kVA dapat dilakukan dengan cara:
a. Debit air sungai yang tersedia cukup besar yaitu 3,9 m3/dt, sementara yang dimanfaatkan
hanya 0,996 m3/dt, dan dapat menghasilkan daya listrik 105 kW. pada ketinggian jatuh air
12 meter, efisiensi turbin 88%, dan generator 90%, sehingga dari debit 0,996 m3/dt tersebut
di atas masih banyak yang terbuang.

b. Beban maksimum 42 kW, terjadi pada pukul 09.00 – 12.00 dan 17.00 – 22.00, dan rata-
rata konsumsi energy listrik sebanyak 702 kWh perhari, sementara daya terpasang 60 kVA
atau 51 kW.

c. Tegangan listrik yang dibangkitkan pada saat melayani beban maksimum dan minimum
berkisar 378 – 382 volt ( system phasa-ke phasa), masih memenuhi ketentuan PUIL 2000
yaitu ( - 5 % s.d + 10 % ) dari tegangan efektif.

6. DAFTAR PUSTAKA

Buyer, A. 2008. Micro Hydro Power System . Natural Resources Canada.

Notosudjono, D. 2002. Perencanaan PLTMH di Indonesia. BPPT. Hal 68.

Mandiri. Y, 2007. Perencanaan PLTMH- Padasuka. Yayasan Bina Desa Mandiri. Bandung

Masonyi. 2007. Water Power Development. Volume – 1. Low Head Power Plants.
Akademiai Kiado, Budapest.
Mashudi, D. 2005. Pembangkit Energi Listrik. Erlangga. Jakarta. Hal 138.

PUIL. 2000. Peraturan Umum Instalasi Listrik. PLN. Jakarta. Hal 602

Subroto, I. 2002. Perencanaan PLTM di Indonesia. BPPT. Jakarta

Theraja, BL.2001 . Electrical of Tehnology. 8 th. Prentice Hall International Inc. New York. 1.215
hal.

Wibawa, U. 2006. Sumber Daya Energi. Universitas Brawijaya. Malang. Hal 128.

Zuhal. 2001. Dasar Tenaga Listrik dan Elektronika Daya. Jembatan, Jakarta, Hal 88.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA

ANALISIS PERENCANAAN
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA
PADA RUMAH TANGGA KAPASITAS 500 W, 220 V

M. Hariansyah, Ir, M.T

Saat ini, sebanyak 52 % dari rumah tangga yang ada di Indonesia mendapat
pasokan energi listrik dari PLN ( Perusahaan Listrik Negara), sisanya belum mendapat
aliran daya listrik dan rata-rata pertambahan beban listrik setiap tahun mencapai 8,2 %.
Penyedian pembangkit tenaga listrik sangat terbatas, diperkirakan pada tahun 2015
Indonesia akan mengalami krisis energi listrik . Untuk menanggulangi permasalahan
tersebut di atas diperlukan usaha dan pemikiran, mencari sumber pembangkit energi listrik,
salah satunya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Perencanaan PLTS pada
rumah tangga berkapasitas 500 watt, 220 volt. Prinsip kerja PLTS memanfaatkan energi
matahari yang mengenai permukaan modul surya (Photovoltaik(PV)) yang mampu
menyerap energi matahari kemudian mengkonversinya menjadi tegangan listrik. Arus listrik
yang dihasilkan oleh PV dihasilkan masih berupa arus searah (dc), dengan menggunakan
Baterai Control Regulator(BCR), tegangan dc tersebut dapat disimpan di dalam Baterai yang
berfungsi sebagai suplay daya utama terutama pada malam hari. Umumnya beban rumah
tangga mendapat suplay tegangan arus bolak-balik (ac), sehingga tegangan dc dari PV
maupun baterai harus di ubah oleh inverter ke tegangan ac. Penelitian dilakukan melalui
simulasi komputer dengan mempergunakan program Pspices. Hasil yang diperoleh untuk
memenuhi kebutuhan daya listrik 500 W, pada tegangan 220 Volt pada rumah
tangga, diperlukan 16 unit PV, 16 buah baterai dengan kapasitas 400Ah, 48 Volt,
BCR pengisian baterai 8 A dan output inverter 2,5 Amper.

1. PENDAHULUAN

Permintaan daya listrik setiap tahun meningkat. PT. PLN ( Perusahaan Listrik
Negara) saat ini hanya dapat mensuplai daerah perkotaan dan industri, serta beberapa
desa yang memang dianggap mampu disuplai karena telah memiliki jaringan
listrik. Sebanyak 52 % dari rumah tangga yang ada di Indonesia, tingga di pedesaan
dan 78 % belum mendapat pasokan energi listrik. Rata-rata pertambahan beban listrik
setiap tahun mencapai 8,2 %. Sementara penyedian pembangkit tenaga listrik sangat
terbatas, diperkirakan pada tahun 2015 Indonesia akan mengalami krisis energi
listrik. (Lokakarya PLN 2008).

Berbagai kendala yang dihadapi untuk mensuplai energi listrik, khususnya di daerah
pedesaan, terbatasnya daya listrik yang dibangkitkan, lokasi daerah pedesaan jauh dari
pusat pembangkit sehingga harus membangun jaringan distribusi dan beban tidak terpusat,
sehingga dinilai tidak ekonomis. Kondisi seperti ini merupakan suatu permasalahan, yang
perlu diselesaikan.

Secara geografis Indonesia berada pada garis katulistiwa dengan batas 6 oLU
sampai 11 o LS dan 95o BT sampai 141 oBT, dengan pancaran sina rmatahari rata-rata
adalah mencapai 7 jam perhari, dan puncak penyinaran matahari maksimum rata-rata setiap
hari mencapai 4,5 jam. ( LIPI. 2007)

(Djojodiharjo, H. 2001) Telah melakukan analisis keperluan daya listrik untuk


rumah tangga di pedesaan rata-rata 450 VA, atau setara 380 watt. Cukup digunakan untuk
penerangan 6 buah titik lampu masing-masing 10 watt, dan keperluan lainnya 250 watt.
Salah satu usaha dan pemikiran untuk menyelesaikan krisis energi listrik tersebut, terutama
di daerah pedesaan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), untuk kapasitas
rumah tangga di pedesaan.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar PLTS.

Bentuk rangkaian Instalasi PLTS diperlihatkan pada gambar 1, dan rangkaian


pengukuran pada gambar 2 . berikut: (Djojodiharjo, H. 2001)

Gambar 1. Blok diagram PLTS Gbr 2. Rangkaian pengukuran arus dan


tegangan

2.2 Radiasi Matahari.

Energi matahari yang diterima langsung diluar atmosfir bumi adalah kontinu dengan
laju daya sebesar 1.350 watt/m2. Energi ini dikenal dengan sebagai insolation(incident solar
radiation) bersifat stabil sehingga dapat dinyatakan sebagai “konstanta surya ( solar
constant)”. Pada permukaan bumi, tingkat daya matahari berfluktuasi sebagai fungsi dari
perputaran bumi pada sumbunya dan pergerakan bumi mengelilingi matahari. Daya surya
maksimum yang dapat diterima pada permukaan horizontal yang diukur pada permukaan
laut sebesar 1.000 watt /m2. ( Matthew, B. 2003)

2.3 Modul Surya.

Modul surya atau photovoltaic merupakan gabungan beberapa sel surya yang
terhubung secara seri. Satu sel surya mengahasilkan tegangan sebesar 0,45 Volt.
Tegangan ini sangat rendah untuk dapat dimamfaatkan secara praktis, sehingga diperlukan
sejumlah sel surya yang dihubungkan secara seri.
Besar nilai tegangan serta arus pada system maksimum power point tracker
(MPPT) solar cell tergantung dari karakteristik solar cell tersebut. Besar arus solar cell ditulis
dengan persamaan: ( Green, A.M. 1982)

Dimana :
k.T/q : tegangan thermal =0.02586 V pada suhu 300 oK
I SC : Arus hubung singkat (A)
Io : Arus beban nol (A)

Dan besar tegangan solar cell pada saat hubungan terbuka ditulis dengan persamaan :

Total daya yang dibangkitkan dirumuskan :

Daya maksimum pada solar cell diperoleh ketika

maka dari persamaan (3) tersebut diatas diperoleh titik tegangan maksimum (Vm), dan
titik arus maksimum (Im) yang ditulis :

Berdasarkan persamaan (4) maka tegangan maksimu ditulis

Dan arus maksimum ditulis :

Dan daya maksimum yang di hasilkan dirumuskan :


Dan efisiensi solar cell dituliskan :

Daya yang dihasilkan modul surya pada titik daya maksimum dinyatakan dalam satuan
watt-puncak ( peak watt (Wp)), dan masih perlu ditambah 20 % sehingga diperoleh
persamaan :

Besar energi surya dirumuskan : W = P. t

Cara menentukan jumlah modul dilakukan dengan pendekatan :

Dimana :
P = Jumlah daya listrik (watt)
KPM = Kapasitas daya modul surya (watt)

2.5 Pengatur Muatan Baterai (BCR) dan Inverter

Bagian ketiga pada pembangkit listrik tenaga surya selain modul surya adalah
pengatur muatan baterai atau Battery Charge Regulator (BCR) dan Inverter. Inverter
merupakan suatu rangkaian elektronik yang dapat mengubah tegangan input DC menjadi
tegangan output AC, yang diinginkan . Tegangan output yang berubah-ubah dapat diperoleh
dengan mengubah-ubah tegangan input DC dan menjaga agar penyalaan inverter tetap
konstan ( Norris, C. 2006).

2.6 Baterai

Waktu otonomi baterai dapat dikatakan estimasi lama waktu operasional Baterai, saat
tidak ada suplai dari modul surya. Makin lama waktu otonomi, makin tinggi kapasitas Baterai
yang diperlukan, dapat diperlihatkan dengan menggunakan persamaan ( Marsudi, D. 2005
)

dimana :
Q = muatan arus baterai harian (Ah)
E = enerji (Wh)
V = tegangan batería (volt)

2.6.1 Kapasitas Baterai

Kapasitas Baterai ( Ah ) diformulasikan sebagai berikut C = I.t


Dimana :
C = Kapasitas batere ( Ah )
I = Besar arus yang mengalir ( A )
t = Waktu ( jam)

Kapasitas suatu baterai menyatakan berapa lama kemampuannya untuk memberikan


aliran listrik pada tegangan tertentu yang dinyatakan dalam ampere-jam(Ah), karena tidak
mungkin suatu baterai dikosongkan penuh 100 %, maka perlu diperhitungkan tingkat
pengosongannya, biasanya antara 50 % – 75 %, tergantung dari jenis baterainya dan
karakteristik dari baterai. Waktu pengosongan baterai dituliskan :

2.6.2 Hubungan Baterai

Besar teganan dan arus baterai dapat dihasilkan dengan melakkan dua cara
menghubungkan baterai . Hubungan Seri, berfungsi untuk menghasilkan jumlah tegangan
yang lebih besar sesuai yang direncanakan. ( Marsudi, D. 2005)

Hubungan pararel, berfungsi untuk memperoleh arus listrik yang besar sesuai yang
direncanakan.

2.7 Beban Listrik

Ada tiga macam jenis beban listrik pada rumah tangga yaitu : (Zuhal. 2001)

a. Beban listrik bersifat tahanan murni ( R), contoh beban seperti setrika, elemen pemanas, dan
lampu pijar.
b. Beban listrik bersifat induktip ( XL), contoh beban seperti motor-motor listrik, lampu yang
menggunakan balaz yangberbentuk belitan.
c. Beban listrik bersifat kapasitif ( XC), contoh beban seperti lampu hemat enerji yang banyak
mengandung kapasitor.

2. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan bahan yang digunakan:


Alat dan bahan yang digunakan untuk melakukan penelitian terdiri:
a. Seperangkat PLTS, ( Modul surya, BCR, Baterai dan Inverter) kapasitas 50 Wpp.
b. Alat-alat ukur, Ampermeter 3 unit, Volt meter 2 unit, Osiloskop 150 mHz, kabel penghubung,
frekuensi meter, dan cos phi meter
a. Beban listrik, Resistor geser 100 ohm, lampu pijar 20 watt, 220V, lampu LT 10 watt, 220
volt.
b. Alat-alat pendukung lainnya.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian.

Pengukuran intensitas matahari dan pengukuran arus dan tegangan dilakukan pada
tanggal 1 s.d 7 mei 2007. Lama penelitian hingga laporan selesai 6 April 2007 hingga 8
Agustus 2008. Tempat penelitian di lakukan di CV. Maharani Teknik, di Jl. Cemara Kipas II
No 11 A. Taman Yasmin Bogor, Telp ( 0251- 8400602).

3.3 Langkah Penelitian

Langkah-langkah penelitian sebagai berikut,


a. Menentukan kapasitas beban terpasang 500 watt.
b. Menetukan kapasitas inverter beserta komponen-komponen pendukungnya
c. Menentukan kapasitas jumlah baterai, serta pemasangannnya.
d. Menentukan BCR berserta komponen-komponen pendukungnya.
e. Menentukan lama waktu pengisian dan pengosongan baterai
f. Menentukan jumlah modul PV, tegangan dan arus yang keluar dari terminal PV.
g. Melakukan pengukuran arus dan tegangan listrik dengan beban yang bervariabel
h. Mengamati input dan output sinyal pada BCR dan Inverter
i. Membuat kesimpulan dan saran.

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

Rumah tangga/tinggal yang sederhana type (R2) mempunyai beban


listrik sebesar 450 VA, Sebagai asumsi konsumsi listrik harian tersebut dapat diperlihatkan
pada table 4-1 berikut.

Tabel 4-1. Perkiraan Beban Listik 450 VA Type ( R2)


4.1 Analisa Kapasitas Modul Solar Sell

Kapasitas modul solar sell harus lebih besar dari kapasitas beban terpasang, seperti
yang dijelaskan pada bab 2, bahwa satu unit modul surya yang terdiri 36 hingga 40 cell
surya, mempunyai kapasitas antara 15 hingga 50 Watt. Data spesifikasi Modul Solar Cell
dapat dilihat pada tabel 4-2 berikut:
Tabel 4-2 Spesifikasi Modul Sel Surya

Sumber: Photovoltaic , Solarex, 2006.

Keunggulan modul surya type ini dapat menyerap energi listrik dengan baik antara 12%
sampai dengan 15 % walaupun posisi matahari sudah miring 75 o (dipandang dari
permukaan PV), dan efisiensi PV type ini dapat lebih meningkat jika dipergunakan pada
daerah-daerah tropis. Memperhatikan setiap alat mempunyai efisiensi tidak 100 %,
maka beban tersebut di atas masih ditambahkan sebesar 20 %. Sehingga total
beban berdasarkan persamaan :

maka kebutuhan modul surya adalah :

n = 15,12 modul, dibulatkan menjadi 16 modul.

Setelah jumlah modul diketahui sebanyak 16 modul, tegangan yang dibangkitkan 48


volt, maka modul surya perlu disusun pemasangan seri dan parael, seperti gambar 4-1
berikut. Tujuan yang ingin di capai arus dan tegangan yang dihasilkan dari PV
sebesar 11,12 Amper dan 60 volt. Untuk keamanan PV masing-masing grup pada PV
dilengkapi dengan diode, yang berfungsi sebagi bloking arus balik dari baterai maupun dari
PV group yang berbeda.
Gambar 4-1. Susuan Seri dan parael Modul Surya

Memperhatikan gambar tersebut di atas, jumlah enam belas panel (16) dibagi menjadi 4
group panel terdiri dari:

a. Group I ( Panel (1), (8), (9) dan (16) dipasang seri


b. Group II (Panel (2),(7), (10) dan (15) dipasang seri
c. Group III ( Panel (3), (6), (11) dan (14) dipasang seri
d. Grup IV ( Panel (4), (5), (12) dan (13) dipasang seri.

Terminal output ke empat group di atas dihubungkan dengan fuse masing-masing 3 A.


Kemudian dipasang pararel antara satu dengan yang lainnya terminal menuju ke inverter
dibatasi oleh MCB 12 A ( Miniatur Circuit Breaker) yang terdapat dalam satu box kombinasi.
Besar arus listrik yang berasal dari modul surya berdasarkan persamaan artikel ini dengan
memperhatikan spesifikasi dari PV diperoleh :

Besar tegangan listrik yang berasal dari modul surya berdasarkan persamaan (26), dengan
memperhatikan spesifikasi dari PV diperoleh:

4.2 Analisa Kapasitas BCR dan Baterai.

4.2.1 Analisa besar arus listrik


Berdasarkan daya listrik yang terpasang pada tabel 4-1 tersebut di atas maka
analisa besarnya arus listrik menggunakan persamaan diatas, maka :

menjadi I = 756 / 48 diperoleh I = 15,75 Amper dibulatkan 16 Amper.

4.2.2 Analisa Durasi Penggunaan Daya Listrik.

Durasi penggunaaan daya listrik digunakan persamaan :

Dibulatkan menjadi 5 jam.

4.2.3 Analisa Kapasitas Baterai

Setelah besaran arus listrik diketahui dan durasi penggunaan daya juga diketahui,
kapasitas baterai berdasarkan persamaan:

C = It. maka C = 16 x5 sehingga C = 80 Ah

Kapasitas tersebut di atas masih harus memperhitungkan waktu pengosongan baterai,


karena baterai tidak boleh kosong minimum (50) % dari pengosongan baterai harus terisi
kembali. Sebagai asumsi untuk mengantisipasi penggunaan daya dan durasi yang lebih
dari perencanaan digunakan kapasitas baterai 100 Ah, tegangan 12 Volt untuk setiap
baterai.

4.2.4 Analisa Jumlah Baterai

Analisa jumlah baterai diperlukan untuk memperoleh pelayanan kebeban agar


tetap kontinyu, terutama pada malam hari, baterai tidak mendapat suplay dari PV, sehingga
terjadi proses pengosongan, rangkaian pemasangan hubungan batrerai diperlihatkan pada
gambar 4.2 berikut.
Gambar 4-2. Baterai hubungan seri

Berdasarkan gambar tersebut di atas besar tegangan output dari enam belas unit
baterai yang di hubungankan seri dan pararel dihasilkan :

Baterai yang tersedia dipasaran 12 volt, perencanaan menggunakan tegangan 48 volt 400
Ah, sehingga diperlukan baterai sebanyak 16 atau 4 unit/group yang dipasang secara seri
dan pararel sehingga menghasilkan tegangan 48 volt, dan berdasarkan persamaan (10)
arus output dari baterai 400 Amper hour . Jika diasumsikan arus yang disuplai ke Inverter
pada beban penuh 10 A, maka pengosongan baterai dapat di hitung berdasarkan
persamaan:

Berdasarkan tabel 4-1 tersebut di atas jika beban listrik 630 watt, enerji 2.780
Wh tegangan 220 Volt, arus sisi beban 2,75 A dan arus disisi primer 10 A, maka baterai
mampu bertahan dalam waktu 20 hour, ( bataerai akan kosong pada batas 50 %).
Pengisian kembali dilakukan oleh BCR ketika PV sudah mendapat intensitas matahari,
lama waktu pengisian baterai hingga kondisi penuh membutukan waktu 6 jam.

4.3 Analisa BCR ( Baterai Kontrol Regulator)


Berdasarkan data beban dan enerji yang diperlihatkan pada tabel 4-1 tersebut di
atas serta gambar BCR 4-3 untuk menerima arus /tegangan dari modul surya, dan sebagai
penyuplai beban atau pegisi baterai, bentuk gelombang tegangan dan arus diperlihatkan
pada gambar 4-4 dan 4-5 berikut.

Gambar 4-3. Rangkaian BCR

Rangkian tersebut di atas BCR yang berfungsi sebagai pengisi baterai dan
pensuplai beban listrik. Cara kerja rangkaian dijelaskan sebagai berikut:

a. Tegangan sebesar 48 Volt diperoleh dari output Photovoltaik (PV). Untuk pengisian
arus listrik digunakan IC 555D yang berfungsi sebagai regulator tegangan dan
arus, charger.
b. Sebagai proteksi arus lebih pada output IC 555D digunakan Diode MV2201, dan
diode M8D101 hal ini berfungsi sebagai bloking arus balik dari baterai.
c. Sebagai Baterai menggunakan resistasi sebesar 3 ohm yang merupakan
hasil pengukuran pada saat baterai tidak mempunyai arus dan tegangan.
d. Jika baterai telah terisi penuh maka arester (LA) berfungsi membuang arus dan
tegangan listrik ketanah.

Bentuk Program berdasarkan rangkaian tersebut di atas diperlihatkan sebagai berikut:


(Vladimirescu A . 2006)
********************************************************************
M.Hariansyah\Tesis\PSpice\Chopper.sch BCR CIRCUIT DESCRIPTION
********************************************************************
C_C2 0 $N_0001 Cbreak 10n
C_C1 0 $N_0002 Cbreak 10u
R_R2 $N_0002 $N_0003 250
R_R1 $N_0003 $N_0004 250
V_V1 $N_0004 0 48
D_D3 $N_0005 $N_0006 MBD101
D_D5 $N_0007 $N_0006 MV2201
X_X1 0 $N_0002 $N_0007 $N_0004 $N_0001 $N_0002 $N_0003 $N_0004 555D
+ PARAMS: MAXFREQ=3E6
L_L3 $N_0004 $N_0005 10m
R_R3 0 $N_0006 3
.ENDALIASES
.probe
.END
TOTAL POWER DISSIPATION 7.33E+02 WATTS

4.4 Pembahasan BCR.

BCR yang direncanakan mempunyai kapasitas 730 watt, hal ini di maksudkan agar
BCR mampu mensuplai beban 500 watt. Kapasitas daya tersebut dapat tercapai jika
menggunakan komponen-komponen seperti ditunjakkan pada rangkaian tersebut diatas.
Untuk mencegah pengisian baterai berlebih, disisi tegangan positif di pasang arrester (LA)
yang berfungsi untuk membuang arus listrik dan tegangan ketanah. Bentuk grafik tegangan
dan arus listrik yang keluar dari BCR diperlihatkan pada gambar 4-4 dan 4-5 berikut:

Gambar 4-7. Arus keluaran inverter Gambar 4-8. Tegangan Output Inverter

Dari benttuk grafik arus dan tegangan yang keluar dari Inverter terlihat bahwa arus dan
tegangan telah berbentuk sinussoida pada tegangan 220 volt, dengan frekuensi 50 Hz
sehingga sudah siap untuk memberikan suplay ke beban. Bentuk grafik tegangan pada
titik-titik a, b c dan d diperlihatkan pada lampiran 9 dan 10.

4.7 Efisiensi

Mengacu pada persamaan (8), diperoleh efisiensi dari PLTS, yaitu dengan
membandingkan Pout terhadap P input

Maka Eff = ( 630 / 800 ) = 78 %

5. KESIMPULAN
Setelah dilakukan simulai dan analisa terhadap peralatan pendukung PLTS untuk
mensuplay beban 500 Watt pada tegangan 220 volt diperoleh hasil :

a. Kebutuhan PV berjumlah 16 unit, dibagi menjadi 4 group yang dipasang seri, dan terminal
output ke empat group dipasang pararel, menghasilkan daya 800 Watt.
b. Baterai berjumlah 16 unit, masing-masing berkapasitas 100 Ah, 12 Volt dipasang secara
seri 4 baterai dalam satu group dan empat group baterai dipasang pararel sehingga
menghasilkan tegangan 48 volt dan arus 400 Ah. Pengosongan baterai dari 100 % menjadi
50 %, jika digunakan pada enerji 2.780 Wh.

c. BCR dibutuhkan satu unit, beserta komponen-komponen pendukungnya, kapasitas daya


BCR yang dibutuhkan sebesar 733 watt,.

d. Inverter dibutuhkan satu unit beserta komponen-komponen pendukungnya,


kapasitasnya 735 watt.

e. Beban maksimum 630 watt, kapasitas PLTS 800 watt, sehingga PLTS dapat
mensuplai dengan lancar.

f. Baterai tidak diizinkan mengalami pengosongan, karena dapat merusak baterai dan
memperpendek usia baterai, kapasitas baterai dari 100 % hingga 50 % setelah
baterai bekerja selama 20 jam, pada energi 2,78 kWh, dan pada siang hari kekosongan
baterai diisi kembali oleh BCR setelah modul surya menghasilkan arus dan tegangan

g. Efisiensi PLTS sebesar 78 %, pada kondisi beban puncak.

6. DAFTAR PUSTAKA

A Green, M. 2002. Solar Cells Operating Principles Technology and System Aplication. Prentice
Hall. Sidney.

Buresch, M. 2003. Photovoltaic Energy System Design and Installation. Mc Graw Hill. New York

Court Norris. 2006. A Guide to Photovoltaic (PV) System Design and Installation. Endecon
Engineering. Washington

Djojodiharjo, H. 2001. Pengantar Ringkas Sistem Listrik Tenaga Surya; Intitut Teknologi
Bandung.

LIPI ( Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). 2007 . Demografi Kependudukan Indonesia.


Jakarta;

Lokakarya PLN. 2006. PT. Perusahan Listrik Negara, Tbk ( PLN) Pusat. Jakarta
Marsudi, D. 2005. Pembangkit Energi Listrik. Erlangga; Jakarta.

Rashid H M. 1981. Power Electronics. Prentice Hall International Inc, 2st . New Jersey

Zuhal. 2001. Dasar Teknik Tenaga Listrik. Edisi ke 6. Binacipta. Bandung.

Vladimirescu A . 2006. The PSipes Book Electronics and Circuit Analysis Using. New
York;
Panduan Sederhana Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro
Hidro (PLTMH)
Posted on Juni 11, 2011 by pimpii

Standar

Saat ini Indonesia masih sepenuhnya bergantung pada bahan bakar fosil seperti minyak bumi,
batubara dan gas. Bahan bakar fosil di Indonesia digunakan oleh 95 persen penduduk maupun
pelaku industri, dengan konsumsi energi meningkat tujuh persen setiap tahunnya. Padahal
bahan bakar fosil ini ikut ‘berkontribusi’ terhadap total emisi energi CO2, yang hingga 2008
tercatat mencapai 351 juta ton. Selain itu bahan bakar fosil jelas merupakan energi yang tidak
bisa dibarukan. Jika terus digunakan, tentu persediaan bahan bakar akan habis.

Sementara, sumber-sumber energi terbarukan, yang notabene jauh lebih banyak ketimbang
bahan bakar fosil, belum dimanfaatkan secara optimal. Energi terbarukan seperti hydrogen,
air, panas bumi dan sebagainya masih dianggap sebagai energi alternatif, dimana
penggunaannya hanya mencapai lima persen!

Salah satu energi terbarukan yang sangat potensial adalah penggunaan energi air untuk
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). PLTMH adalah istilah yang digunakan
untuk instalasi pembangkit listrik yang mengunakan energi air. Kondisi air yang bisa
dimanfaatkan sebagai sumber daya (resources) penghasil listrik adalah memiliki kapasitas
aliran dan ketinggian tertentu dan instalasi. Semakin besar kapasitas aliran maupun
ketinggiannya dari istalasi maka semakin besar energi yang bisa dimanfaatkan untuk
menghasilkan energi listrik.

Biasanya Mikrohidro dibangun berdasarkan kenyataan bahwa adanya air yang mengalir di
suatu daerah dengan kapasitas dan ketinggian yang memadai. Istilah kapasitas mengacu
kepada jumlah volume aliran air persatuan waktu (flow capacity) sedangan beda ketinggian
daerah aliran sampai ke instalasi dikenal dengan istilah head.

Mikrohidro juga dikenal sebagai white resources dengan terjemahan bebas bisa dikatakan
“energi putih”. Dikatakan demikian karena instalasi pembangkit listrik seperti ini
menggunakan sumber daya yang telah disediakan oleh alam dan ramah lingkungan. Suatu
kenyataan bahwa alam memiliki air terjun atau jenis lainnya yang menjadi tempat air
mengalir. Dengan teknologi sekarang maka energi aliran air beserta energi perbedaan
ketinggiannya dengan daerah tertentu (tempat instalasi akan dibangun) dapat diubah menjadi
energi listrik, Seperti dikatakan di atas, Mikrohidro hanyalah sebuah istilah. Mikro artinya
kecil sedangkan hidro artinya air. Dalam prakteknya, istilah ini tidak merupakan sesuatu yang
baku namun bisa dibayangkan bahwa Mikrohidro pasti mengunakan air sebagai sumber
energinya.

Yang membedakan antara istilah Mikrohidro dengan Miniihidro adalah output daya yang
dihasilkan. Mikrohidro menghasilkan daya lebih rendah dari 100 W, sedangkan untuk
minihidro daya keluarannya berkisar antara 100 sampai 5000 W. Secara teknis, Mikrohidro
memiliki tiga komponen utama yaitu air (sumber energi), turbin dan generator. Air yang
mengalir dengan kapasitas dan ketinggian tertentu di salurkan menuju rumah instalasi (rumah
turbin).
Di rumah turbin, instalasi air tersebut akan menumbuk turbin, dalam hal ini turbin dipastikan
akan menerima energi air tersebut dan mengubahnya menjadi energi mekanik berupa
berputamya poros turbin. Poros yang berputar tersebut kemudian
ditransmisikan/dihubungkan ke generator dengan mengunakan kopling.

Dari generator akan dihasilkan energi listrik yang akan masuk ke sistem kontrol arus listrik
sebelum dialirkan ke rumah-rumah atau keperluan lainnya (beban). Begitulah secara ringkas
proses Mikrohidro, merubah energi aliran dan ketinggian air menjadi energi listrik. Terdapat
sebuah peningkatan kebutuhan suplai daya ke daerah-daerah pedesaan di sejumlah negara,
sebagian untuk mendukung industri-industri, dan sebagian untuk menyediakan penerangan di
malam hari.

Gambar 1 menunjukkan betapa ada perbedaan yang berarti antara biaya pembuatan dengan
listrik yang dihasilkan.

Gambar 1. Skala
Ekonomi dari Mikro-Hidro (berdasarkan data tahun 1985)

Keterangan gambar 1
Average cost for conventional hydro = Biaya rata-rata untuk hidro konvensional.
Band for micro hydro = Kisaran untuk mikro-hidro
Capital cost = Modal Capacity = Kapasitas (kW)

Berikut contoh PLTMH dengan menggunakan sistem run off river, dimana air tidak ditahan
pada sebuah bendungan. Pada sistem run off river, sebagian air sungai diarahkan ke saluran
pembawa, kemudian dialirkan melalui pipa pesat (penstock) menuju turbin.
Gambar 2.
Komponen-komponen Besar dari sebuah Skema Mikro Hidro

• Diversion Weir dan Intake : (Dam/Bendungan Pengalih dan Intake) Dam pengalih berfungsi
untuk mengalihkan air melalui sebuah pembuka di bagian sisi sungai (‘Intake’ pembuka) ke
dalam sebuah bak pengendap (Settling Basin) atau perangkap pasir (Sand Trap).

Intake

• Settling Basin (Bak Pengendap) : Bak pengendap digunakan untuk memindahkan partikel-
partikel pasir dari air. Fungsi dari bak pengendap adalah sangat penting untuk melindungi
komponen-komponen berikutnya dari dampak pasir.
Sand Trap

• Headrace (Saluran Pembawa) : Saluran pembawa mengikuti kontur dari sisi bukit untuk
menjaga elevasi dari air yang disalurkan.

Headrace

• Headtank (Bak Penenang) atau Forebay : Fungsi dari bak penenang adalah untuk mengatur
perbedaan keluaran air antara sebuah penstock dan headrace, dan untuk pemisahan akhir
kotoran dalam air seperti pasir, kayu-kayuan.
Head Tank

• Penstock (Pipa Pesat/Penstock) Penstock dihubungkan pada sebuah elevasi yang lebih
rendah ke sebuah roda air, dikenal sebagai sebuah Turbin.

Penstock

• Turbine dan Generator Perputaran gagang dari roda dapat digunakan untuk memutar sebuah
alat mekanikal (seperti sebuah penggilingan biji, pemeras minyak, mesin bubut kayu dan
sebagainya), atau untuk mengoperasikan sebuah generator listrik. Mesin-mesin atau alat-alat,
dimana diberi tenaga oleh skema hidro, disebut dengan ‘Beban’ (Load)
Turbin

Tentu saja ada banyak variasi pada penyusunan disain ini. Sebagai sebuah contoh, air dapat
dimasukkan secara langsung ke turbin dari sebuah saluran tanpa sebuah penstock. Tipe ini
adalah metode paling sederhana untuk mendapatkan tenaga air, tetapi belakangan ini tidak
digunakan untuk pembangkit listrik karena efisiensinya rendah. Pada beberapa kondisi
saluran pembawa (headrace) dapat dihilangkan dan sebuah penstock dapat langsung ke turbin
dari bak pengendap pertama. Variasi seperti ini akan tergantung pada karakteristik khusus
dari lokasi dan skema keperluan-keperluan dari pengguna.

Namun meskipun PLMTH adalah energi alternatif yang potensial, namun kemampuan
pemerintah yang terhalang oleh biaya terbatas, sering membuat sumber air yang potensial
untuk pembangkit listrik terabaikan. Padahal dalam beberapa kasus PLTMH juga dapat
dijadikan alasan untuk melestarikan lingkungan, minimal di sepanjang Daerah Aliran Sungai
(DAS) sumber air ditengah menggebu-gebunya pembalakan hutan dan pembukaan kawasan
perkebunan yang tidak ramah lingkungan. Sehingga mencari dana dari lembaga donor untuk
membangun PLTMH di daerah-daerah terpencil dapat menjadi alternatif pilihan.

Dari berbagai sumber (email : beng_mir@yahoo.co.id)

Informasi dan konsultasi seputar PLTMH dapat disampaikan ke Lembaga Energi Hijau via
email: lembagaenergihijau@yahoo.com