Anda di halaman 1dari 19

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN JANUARI 2018


UNIVERSITAS NUSA CENDANA

DIPLOPIA

OLEH

Yudith Megumi Rebhung, S.Ked


(1208017021)

PEMBIMBING
dr. Eunike Cahyaningsih, Sp.M

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN SMF ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES KUPANG

2018

1
BAB 1

PENDAHULUAN

Istilah diplopia berasal dari bahasa Latin: diplous yang berarti ganda, dan ops
yang berarti mata. Diplopia (penglihatan ganda) adalah keluhan subjektif yang umum
atau yang sering didapatkan selama pemeriksaan pada mata. Selain itu, diplopia sering
menjadi manifestasi pertama dari banyak kelainan, khususnya proses muskuler atau
neurologis, atau kelainan pada organ lainnya. Oleh karena etiologinya sangat bervariasi
mulai dari akibat astigmatisme yang tidak terkoreksi sampai kelainan intrakranial yang
mengancam jiwa, para klinisi harus menyadari kepentingan untuk memberikan respons
yang tepat untuk keluhan ini1.

Dari anamnesis dan pemeriksaan yang lengkap dan menyeluruh akan


didapatkan deskripsi akurat mengenai gejala-gejalanya: apakah konstan atau
intermiten; variabel atau tidak berubah; terjadi pada saat objek jaraknya dekat atau jauh;
terjadi saat melihat dengan satu mata (monokuler) atau dua mata (binokuler);
horizontal, vertikal atau obliks; apakah sama terjadi di semua lapangan pandang
(komitan) atau bervariasi sesuai arah pandang (inkomitan). Bila anamnesis dan
pemeriksaan sudah lengkap dan menyeluruh akan sangat membantu diagnosis sekaligus
menyingkirkan berbagai penyakit dengan gejala diplopia yang sifatnya mengancam
jiwa. Selain itu, diagnosis yang tepat juga akan membuat tata laksana yang diberikan
maksimal dan meminimalkan komplikasi2.

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Mata

Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan.
Dari luar ke dalam, lapisan–lapisan tersebut adalah : (1) sklera/kornea, (2) koroid/badan
siliaris/iris, dan (3) retina. Di anterior (ke arah depan), lapisan luar terdiri atas kornea
transparan tempat lewatnya berkas–berkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah
dibawah sklera adalah koroid yang sangat berpigmen dan mengandung pembuluh-
pembuluh darah untuk memberi makan retina. Lapisan paling dalam dibawah koroid
adalah retina, yang terdiri atas lapisan yang sangat berpigmen di sebelah luar dan
sebuah lapisan saraf di dalam. Retina mengandung sel batang dan sel kerucut,
fotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi impuls saraf3.
Rongga mata (orbital) bertujuan untuk melindungi bola mata. Bentuk rongga
mata adalah piramida empat sisi yang ujungnya berada di foramen optikal. Terdapat
tujuh tulang yang ikut membentuk formasi tulang orbital ini yaitu maksilari, zigoma,
frontal, ethmoidal, lakrima, palatin, dan sfenoid. Tulang-tulang ini membentuk soket
untuk bola mata yang memberi tempat untuk masuknya otot-otot mata dan berasosiasi
sangat dekat dengan sinus sekitarnya dan fosa kranial. Banyak saraf dan pembuluh
darah yang melewati foramina, fisura dan kanal dari tulang orbital3.
Periorbita adalah membran periosteal yang menutupi tulang orbital. Pada ujung
orbital, periorbita bersatu dengan durameter menutupi saraf optik. Pada bagian depan,
periorbita menyambung dengan septum orbital dan periosteum dari tulang fasial. Garis
persatuan dari ketiga lapisan pada lingkaran orbita disebut dengan arkus marginalis3.
Kelopak mata berfungsi juga untuk melindungi mata serta mengeluarkan
sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan kornea. Kulit dari kelopak
mata bagian atas sangatlah tipis sedangkan pada bagian bawah lebih tebal. Kelopak
mata terdiri lempengan tarsal yang terdiri dari jaringan fibrus yang sangat padat, serta
dilapisi kulit dan dibatasi konjungtiva. Kelopak mata ditutup oleh otot-otot melingkar,
yaitu muskulus orbikularis okuli3.
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian
belakang. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet.

3
Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea. Selaput ini mencegah benda-
benda asing di dalam mata seperti bulu mata atau lensa kontak, agar tidak tergelincir ke
belakang mata. Bersama-sama dengan kelenjar lakrimal yang memproduksi air mata,
selaput ini turut menjaga agar kornea tidak kering3.
Bola mata terdiri atas dinding bola mata dan isi bola mata. Dinding bola mata
terditi atas sklera dan kornea. Isi bola mata terdiri atas uvea, retina dan lensa. Sklera
membentuk putih mata dan bersambung pada bagian depan dengan sebuah jendela
membran bening yaitu kornea. Sklera melindungi struktur mata yang sangat halus, serta
membantu mempertahankan bentuk biji mata. Kornea melindungi struktur halus yang
berada di belakangnya serta membantu memfokuskan bayangan pada retina. Kornea
tidak mengandung pembuluh darah3.

Gambar 1. Anatomi bola mata.

Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular. Jaringan sklera dan uvea dibatasi
oleh ruang yang potensial mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda
paksa yang disebut perdarahan suprakoroid. Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan
siliar, dan koroid. Pada iris didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur
jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. Otot siliar yang terletak di badan siliar
mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi3.

4
Iris memiliki celah ditengahnya yang disebut dengan pupil, yang berfungsi
sebagai tirai yang melindungi retina serta mengendalikan jumlah cahaya yang masuk
ke mata.
Lensa adalah organ fokus utama yang membiaskan berkas-berkas cahaya yang
terpantul dari benda-benda yang dilihat menjadi bayangan yang jelas pada mata. Pupil
adalah bintik tengah yang berwarna hitam yang merupakan celah dalam iris dimana
cahaya masuk melaluinya untuk mencapai retina. Pupil yang normal akan berkonstriksi
jika terkena cahaya. Pupil midriasis adalah keadaan pupil yang berdilatasi lebih dari
5mm, biasa terjadi karena trauma tumpul pada uvea yang mengakibatkan kelumpuhan
otot sfingter pupil. Namun bila trauma mengakibatkan radang pada uvea anterior maka
pupil akan berkonstriksi lebih kecil dari 2mm atau pupil miosis3.
Pergerakan bola mata dilakukan oleh 6 pasang otot bola mata luar yaitu3 :
1. Otot rektus medius, kontraksinya akan menghasilkan aduksi atau menggulirnya
mata kearah nasal dan otot ini dipersyarafi oleh syaraf ke III (syaraf okulomotor)
2. Otot rektus lateral, kontraksinya akan menghasilkan aduksi atau menggulirnya bola
mata kearah temporal dan otot ini dipersarafi oleh saraf ke VI (saraf abdusen)
3. Otot rektur superior, kontraksinya akan menghasilkan elevasi, aduksi dan intorsi
dari pada bola mata dan otot ini dipersyarafi saraf ke III (saraf okulomotor)
4. Otot rektus inferior, kontraksinya akan mnghasilkan depresi, adduksi dan intorsi,
yang dipersyarafi oleh syaraf ke III
5. Otot oblik superior, kontraksinya akan menghasilkan depresi, intorsi, dan abduksi
yang dipersyarafi syaraf ke IV ( syaraf troklear )
6. Otot oblik inferior, kontraksinya akan mengakibatkan elevasi, ekstorsi dan abduksi
yang dipersyarafi oleh syaraf ke III.

5
Gambar 2. Otot penggerak bola mata.
Pada dasarnya, kita “melihat” dengan otak. Mata hanyalah sebuah organ yang
menerima rangsang sensoris. Gambaran didapatkan dari proses mengartikan
rangsangan yang diterima oleh retina. Saraf optikus dan jalur visual mengantarkan
informasi ini ke korteks visual. Sistem sensoris menghasilkan gambaran retinal dan
mengantarkan gambaran ini ke pusat pengaturan yang lebih tinggi. Sistem motorik
membantu proses ini dengan mengarahkan kedua mata pada objek sehingga gambaran
yang sama dibentuk di tiap retina. Otak kemudian memroses informasi ini menjadi
kesan penglihatan binokuler. Hubungan antara sistem sensoris dan motoris ini tidak
dapat dirasakan atau disadari4.
Terdapat 3 syarat yang menentukan kualitas penglihatan binokuler4:
1. Penglihatan simultan. Retina kedua mata menerima kedua gambaran secara
simultan. Pada penglihatan binokuler yang normal, kedua mata mempunyai titik
fiksasi yang sama, yang akan berada di fovea sentralis kedua mata. Bayangan kedua
objek yang selalu sampai ke area identik di retina, disebut sebagai titik
korespondensi retina. Objek-objek yang terletak pada lingkaran imajiner dikenal

6
sebagai horopter geometrik diproyeksikan pada titik-titik di retina ini. Horopter
yang berbeda akan berlaku untuk jarak fiksasi berapapun. Oleh karena itu, gambar
di kedua retina akan identik pada penglihatan binokuler yang normal. Fenomena ini
dapat diperiksa dengan menampilkan gambar yang berbeda ke masing-masing
retina; normalnya kedua gambar akan diterima, menimbulkan diplopia fisiologis.
Diplopia fisiologis dapat didemonstrasikan dengan menempatkan 2 pensil vertikal
pada sebuah garis sesuai dengan axis visual subjek, dengan pensil kedua jaraknya
kira-kira 2 kali jauhnya dari pada subjek pertama. Ketika subjek fokus pada 1 pensil,
pensil yang lain akan tampak ganda.
2. Fusi: hanya saat kedua retina membuat impresi visual yang sama, yakni transmisi
gambar-gambar identik ke otak, 2 gambaran retinal akan bercampur menjadi
persepsi tunggal. Impair fusi dapat menimbulkan diplopia.
3. Penglihatan stereoskopis. Sifat ini adalah tingkat tertinggi kualitas penglihatan
binokuler dan hanya mungkin jika beberapa kondisi terpenuhi. Agar objek-objek
diproyeksikan pada titik korespondensi atau identik pada retina, mereka harus
terletak di horopter geometrik yang sama. Objek yang berada di depan atau di
belakang lingkaran ini tidak akan diproyeksikan ke titik korespondensi tapi ke titik
non-korespondensi atau disparate. Hasilnya, objek-objek ini akan dianggap sebagai
2 benda (diplopia). Sedangkan objek-objek yang berada dalam jangkauan sempit di
depan dan di belakang horopter difusikan sebagai gambaran tunggal. Area ini
disebut sebagai area Panum. Otak memroses gambaran nonkorespondensi retina
dalam area Panum sebagai persepsi visual tunggal 3-dimensi bukan sebagai
gambaran ganda. Sebaliknya, otak menggunakan gambaran ganda tersebut untuk
membedakan kedalaman.

7
Gambar 3. Tampilan basal dari otak, memperlihatkan jalur visual anterior dan
posterior4

Gambar 4a. Horopter Geometrik. Berkas sinar dari titik fiksasi mencapai fovea sentralis pada
kedua mata pada penglihatan simultan normal. Karena itu, objek A dan B pada horopter
geometrik diproyeksikan pada titik korespondensi di retina. Gambar 4b. Horopter Fisiologis.
Pada jangkauan sempit di depan dan di belakang horopter (area Panum) 2 gambaran retinal
masih bisa berfusi. Titik A dan B yang berada di luar area Panum, diproyeksikan ke titik
nonkoresponden di retina4.

8
2.2 Defenisi
Diplopia adalah keadaan melihat sebuah benda ganda bila dilihat dengan satu
atau dua mata. Bayangan dapat terletak berdampingan atau di atas dan di bawah satu
terhadap lainnya5.
Penglihatan berhubungan langsung dengan kekuatan akomodasi dari mata, ini
bergantung pada fleksibilitas lensa dan pengurangan otot ciliaris yang diinervasi oleh
nervus ciliaris pendek dan selanjutnya berubah menjadi ganglion ciliaris. Normalnya
fasiculus medial longitudinal di batang otak merupakan tempat beragabungnya nervus
cranialis III ( nervus occulomotorius), nervus IV (nervus trochlearis), nervus VI (nervus
abducens) dalam mengkoordinasikan pergerakan otot mata external pada kedua mata
untuk mempertahankan secara paralel focus mata bilateral. Diplopia muncul ketika
cabang perifer salah satu saraf tadi terganggu ataupun otot mata eksternal yang
terganggu6,7.
2.3 Epidemiologi
Diplopia adalah keadaan yang jarang ditemukan di Departemen Emergency, yang
mewakili 1,4% keadaan darurat mata, namun bisa sangat melemahkan pasien jika hal
itu terjadi. Diplopia dapat berupa :
- Monokuler (15%) - menetap pada satu mata meskipun mata lainnya tertutup
- Binokular (85%) - berhenti bila kedua mata tertutup8
2.4 Etiologi
Dalam beberapa kasus, diplopia disebabkan oleh bagaimana mata
membengkokkan cahaya. Karena masalah ini, mata penderita diplopia mungkin
memisahkan cahaya dari satu objek menjadi dua gambar. Katarak terkadang menjadi
salah satu penyebab9.
Diplopia juga bisa diakibatkan oleh kedua mata yang tidak dapat fokus pada
satu object. Ini disebut misalignment okular. Biasanya, kedua mata memandang objek
yang sama. Gambar yang dilihat oleh kedua mata itu disatukan menjadi satu gambar
oleh otak. Jika mata tidak mengarah pada objek yang sama, gambar yang dilihat oleh
masing-masing mata berbeda dan tidak bisa digabungkan. Hal ini menghasilkan
penglihatan ganda9.
a. Penyebab Diplopia Monokular2
Diplopia monokular biasanya diakibatkan oleh kelainan pada media okular atau
kesalahan refraksi dan cenderung hilang saat seseorang melihat melalui pinhole.
Penyebabnya disebutkan pada (Tabel 1).
9
Tabel 1: Penyebab Diplopia Monokular
a. Kesalahan Refraksi
b. Anomalies of the tear film
c. Defek kornea (contoh : irregular astigmatism)
d. Iris injury
e. Katarak
f. Defek makula (contoh : membran epiretinal, lipatan choroidal)
g. Kekeruhan media

b. Penyebab Diplopia Binokular2


Penyebabnya multifaktor tetapi kebanyakan diakibatkan karena acquired
misalignment dari visual axis sebagai akibat sekunder dari kelumpuhan otot
extraocular. Penyebab diplopia binokular dijabarkan pada (Tabel 2).
Tabel 2: Penyebab Binocular Diplopia
a. Kelainan Orbital
Trauma, massa atau tumor, infeksi, thyroid yang disertai ophthalmopathy.
b. Restriksi otot extraocular
Thyroid – yang disertau ophthalmopathy, massa atau tumor, extraocular
muscle entrapment, kerusakan otot extraocular atau hematoma akibat ocular
surgery.
c. Kelemahan otot extraocular
Congenital myopathies, mitochondrial myopathies, muscular dystrophy.
d. Disfungsi neuromuscular junction
Myasthenia gravis, botulism.
e. Kelumpuhan nervus cranialis tiga, empat atau enam
Ischemia, haemorrhage, tumor atau massa, vascular malformation, aneurysm,
trauma, meningitis, multiple sclerosis.
f. Brain stem injury to cranial nerve nuclei
Stroke, haemorrhage, tumor atau massa, trauma, vascular malformation.
g. Supranuclear injury (jalur menuju dan diantara nucleus nervus cranial)
Stroke, haemorrhage, tumor atau massa, trauma, multiple sclerosis,
hydrocephalus, syphilis, Wernicke’s encephalopathy, penyakit
neurodegenerative.
2.5 Mekanisme Diplopia
Dua mekanisme yang paling umum untuk diplopia adalah misalignment axis
visual dan kelainan pada media okular atau kesalahan refraksi. Dalam misalignment
okular, gambar objek yang sedang dilihat tidak jatuh pada fovea kedua retina Hal ini
menyebabkan binokular diplopia yang akan menghilang saat menutup salah satu mata.
Kelainan media okular atau kesalahan refraksi menyebabkan diplopia monokular yang

10
terus ada di mata yang terkena bahkan saat mata yang lain ditutup.Diplopia tanpa sebab
patologis disebut fungsional2.

2.6 Klasifikasi diplopia


a. Diplopia Monokuler
Diplopia monokuler merupakan diplopia bila melihat dengan satu mata yang dapat
dikeluhkan seseorang dengan histeria, astigmat, pupil ganda, lensa subluksasi, dan
permulaan katarak. Diplopia ini terjadi bila terdapat gangguan pembiasan sinar
pada mata dimana berkas sinar tidak homogen sampai di makula5,10.
b. Diplopia Binokuler
Diplopia binokuler muncul bila rangsangan retina yang tidak sekoresponden terjadi
oleh karena gangguan kedudukan kedua sumbu bolamata yang tidak sejajar. Hal ini
dirasakan bila kedua mata melihat bersama akan tetapi tidak terfokus dengan baik.
Diplopia jenis ini bisa ditemukan pada kasus penyakit bolamata dan kasus tidak
adanya keseimbangan otot penggerak mata (Muscular Imbalance)10.
c. Diplopia Paralitik
Diplopia paralitik terjadi oleh karena kelemahan atau paralisis otot-otot mata dan
biasanya berkaitan dengan faktor medis. Beberapa cirinya adalah sebagai berikut :
 Terjadi pada usia lanjut
 Deviasi terbesarnya terjadi pada lapang kerja otot yang lemah
 Penglihatannya tidak terganggu
 Diperlukan pemeriksaan neurologik ke ahli saraf10

2.7 Penegakkan Diagnosa

11
Gambar 3. Pendekatan Diagnosa Diplopia11

a. Anamnesis2
Riwayat pasien yang terperinci sangat penting untuk mengetahui penyebab
diplopia. Berdasarkan riwayat tersebut dapat membantu menemukan kemungkinan
penyebab diplopia
 Kapan dan bagiamana penglihatan ganda itu muncul?
 Apakah penglihatan ganda itu hilang atau menetap setelah menutup salah satu
mata? (diplopia binocular vs monocular)
 Gejala yang terkait dengan penglihatan ganda seperti; sakit kepala ringan,
pusing, kelemahan atau kesemutan pada wajah, tangan atau kaki, kesulitan
dalam berbicara dan menelan, nyeri wajah atau mata?
 Apakah konstan pada setiap pandangan atau pada pandangan tertentu?
(comitant vs incomitant)
 Apakah saat melihat jauh atau dekat?
 Apakah gambarannya terpisah secara horizontal, vertical atau oblik?
 Apakah diplopia konsta, intermiten atau bervariasi?

12
 Apakah diplopia memburuk pada akhir hari? Lebih dari 50 % pasien dengan
mystenia gravis, muncul dengan ptosis dan diplopia tanpa adanya gejala atau
tanda-tanda kelemahan.
 Riwayat trauma pada mata, wajah dan kepala atau riwayat operasi mata baru-
baru ini atau pada waktu lalu.
 Riwayat penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, hipertensi, thyroid
disorders, dan mystenia gravis.
b. Pemeriksaan Fisik2
Pada kasus diplopia monocular refraksi, pemeriksaan slit lamp dan pemeriksaan
fundus saat dilarasi harus dilakukan untuk menentukan penyebabnya. Evaluasi
diplopia binocular meliputi:
 Posture kepala yang abnormal. Pasien lebih menyukai posisi kepala dimana
deviasi dari ocular paling sedikit dan gambaran-gambarannya dapat
menyatu
 Ada tiga komponen
o Mengangkat maupun menurunkan dagu (vertical)
o Memalingkan wajah ke sisi kanan atau kiri (horizontal)
o Kepala miring ke kanan atau ke kiri bahu (torsional)
 Perbandingan dengan foto lama dapat membantu membedakan apakah
posture kepala sudah bertahan lama atau baru.
 Kelainan pada orbital dan kelopak mata- periksa kelopak mata dan orbital;
proptosis, ptosis, pembengkakan periorbital, trauma okuli, retraksi kelopak
mata, penutupan kelopak mata atua tanda lain dari opthalmopathy yang
berhubungan dengan thyroid
 Pergerakan otot ekstraokuler- pergerakan mata harus diperiksa pada
sembilan posisi penglihatan
 Reaksi pupil- pemeriksaan pupil sangat penting karena keterlibatannya
menunjukkan kelumpuhan saraf nervus tiga akibat dari lesi yang
compressive atau malformasi AV (Arteri venous) yang mengarah pada
kelumpuhan nervus tiga akibat dari adanya iskemik.
 Pemeriksaan neuromuscular junction- pasien harus diperiksa untuk
kelelahan otot ekstraokular dengan membuat pasien mempertahankan
pandangan pada bagian yang mengalami paresis (kelumpuhan). Kelemahan

13
dari pergerakan bola mata dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan
memandang ke berbagai arah secara berulang
 Pemeriksaan nervus cranialis khususnya nervus cranialis tiga empat dan
enam
o Kelumpuhan nervus cranialis tiga
Kelainan pada pupil yang termaksud dari kelumpuhan nervus tiga
harus dibuktikan dengan pemeriksaan neuroimaging untuk
menyingkirkan anuerisma atau penyebab kelainan pupil akibat
iskemia sekunder sebagai akibat dari penyakit vaskuler seperti DM,
HTN dan dyslipidemia
o Kelumpuhan nervus empat
 Kelumpuhan nervus empat menyebabkan diplopia lebih
parah pada saat pandangan kebawah. Ketiga langkah
pemeriksaan Park-Bielschowsky adalah algoritma untuk
mengidentifikasi pola pergerakan yang mengkonfirmasi
disfungsi otot siklovertikal. Ketiga langkah tersebut adalah
sebagai berikut :
 Temukan sisi yang hipertrofi
 Tentukan apakah hipertrofi lebih besar pada saat
memandang kekiri atau ke kanan
 Tentukan apakah hipertrofi lebih besar saat kepala
miring ke kiri atau ke kanan
 Pada kelumpuhan otot oblikus superior, hipertrofi
yang terjadi pada mata memburuk pada pandangan
kontralateral dan dengan memiringkan kepala
ipsilateral
o Kelumpuahan nervus enam
 Nervus cranialis enam menginnervasi rektus lateralis. Oleh
karena itu pada mata yang normal matanya terfiksasi
sedangkan pada mata yang mengalami kelumpuhan
mengalami deviasi kedalam
 Prism Bar Cover Test- pengukuran sudut deviasi untuk menghitung jumlah
deviasi pada pandangan yang berbeda harus dilakukan. Prism Bar Cover test

14
(PBCT) harus dilakukukan pada 9 posisi pandangan dengan setiap mata
terfiksasi dan sama jaraknya.
 Maddox rod test –ini memberikan informasi kuantitatif tentang derajat dan
jenis dari penyimpangan ocular
 Double Maddox Rod Test - Maddox rod test dengan orientasi yang sama
untuk setiap mata (berorientasi vertical untuk menghasilkan garis
horizontal)
 Diplopia Charting- tes ini membantu dalam mencatat penyimpangan secara
subjektif dengan meminta pada pasien untuk mengukur pemisahan pada
gambar ganda, yang dipisahkan oleh kaca merah hijau. Ini harus dilakukan
pada 9 posisi pandangan dan pada jarak yang sama. Hal yang harus diingat
adalah:
o Pemisahan maksimum ada pada kuadran dimana otot paling banyak
bertindak ( bidang aksi)
o Gambaran yang muncul paling jauh, termasuk mata yang berdeviasi
o Gambaran dipindahkan pada otot yang mengalami kelumpuhan
 Paretic vs restrictive etiology
o Forced Duction Test (FDT) – forced duction test membantu
membedakan parese dari penyebab restriktif
o Exaggerated FDT for obliques
o Active Force Generation Test (AFGT)
o Pembatasan gerakan ocular dari thyroid eye disease juga dapat
dinilai dari pengukutan tekanan intraocular posisi primer dan pada
pandangan ditengah.)
 Hess Charting - Ini adalah tes subyektif dari deviasi okuler. Mata yang
terfiksasi menentukan input innervational, perjalanannya pada mata lainnya.
Siklodeviasi dapat ditemukan saat memiringkan tubuh
c. Pemeriksaan Penunjang
 Uji diplopia
Pasien memakai kaca mata dengan filter merah pada mata kanan dan kaca
filter hijau pada mata kiri. Pasien diminta melihat satu sumber cahaya dan
akan menyatakan letak lampu merah dan hijau yang terlihat. Secara normal
atau bila mata berkedudukan ortoforia dan bayangan difokuskan pada

15
makula maka lampu akan terlihat satu. Diplopia bersilang bila letak
bayangan lampu merah terletak di sebelah kiri bayangan biru, ini terlihat
pada mata eksotropia. Bila letak lampu merah di sebelah kanan lampu hijau
ini disebut diplopia homonim yang terjadi pada mata dengan esotropia5.
 Pemeriksaan gula darah / HbA1C untuk Diabetes Mellitus2
 Pemeriksaan untuk myasthenia gravis – electromyography (EMG), nerve
conduction studies dengan repetitive stimulation test dan anti - acetylcholine
receptor antibodies2
 T3, T4, TSH untuk thyroid eye disease2
 CT scan / MRI kepala and daerah orbital untuk thyroid eye disease, maupun
kelainan intracranial atau orbital apapun2.
2.8 Tatalaksana
a. Jika memungkinkan, tatalaksana penyebab yang mendasari2.
b. Memperbaiki kesalahan refraksi jika ada2.
c. Terapi oklusi mata unilateral dengan menggunakan eye patch atau mengaburkan
satu lensa kacamata pasien dengan semi-opaque surgical tape2.
d. Prisma digunakan untuk koreksi optik dari diplopia binokular. Prisma Fresnel dapat
ditambahkan ke kacamata pasien2
e. Pembedahan untuk strabismus dapat dilakukan untuk mengembalikan kesejajaran
okular setelah observasi minimal 6 bulan2.
f. Pengobatan Diplopia Binokular
Pengobatan yang paling logis adalah mengobati kelainan yang ada jika
memungkinkan. Namun, pengobatan simtomatik sama pentingnya pada pasien
dengan diplopia. Cara sederhana untuk mengobati diplopia binokular adalah terapi
oklusi mata unilateral, baik dengan menggunakan eye patch atau dengan
mengaburkan satu lensa kacamata pasien dengan semi-opaque surgical tape. Prisma
Fresnel dapat digunakan untuk menyesuaikan kembali axis visual dan dapat
digabungkan ke kacamata pasien. Mereka sangat membantu dalam kasus diplopia
horizontal atau vertikal namun sama sekali tidak berpengaruh pada komponen
torsional. Selain itu, terapi prisma dapat menjadi masalah dalam tahap pemulihan
karena adanya perubahan derajat misalignment, dan prisma dengan kekuatan yang
berbeda sering dibutuhkan saat pemulihan berlangsung. Peraturan mengemudi
harus dikonsultasikan. Perawatan bedah untuk strabismus dapat ditetapkan.

16
Biasanya ditawarkan saat pemulihan lengkap tidak tercapai dalam 6-12 bulan dan
perawatan lainnya telah gagal. Botulinum Toxin semakin populer sebagai
pengobatan untuk strabismus. Biasanya disuntikkan ke otot paretic antagonis dan
efek dari satu kali injeksi bisa berlangsung sampai 3-6 bulan11.

17
BAB 3

KESIMPULAN

Diplopia adalah keadaan melihat sebuah benda ganda bila dilihat dengan satu
atau dua mata. Bayangan dapat terletak berdampingan atau di atas dan di bawah satu
terhadap lainnya. Diplopia muncul ketika cabang perifer salah satu saraf tadi terganggu
ataupun otot mata eksternal yang terganggu. Diplopia dapat berupa Monokuler
(menetap pada satu mata meskipun mata lainnya tertutup) maupun binokular (berhenti
bila kedua mata tertutup)
Dalam beberapa kasus, diplopia disebabkan oleh bagaimana mata
membengkokkan cahaya. Karena masalah ini, mata penderita diplopia mungkin
memisahkan cahaya dari satu objek menjadi dua gambar. Dua mekanisme yang paling
umum untuk diplopia adalah misalignment axis visual dan kelainan pada media okular
atau kesalahan refraksi.
Penegakkan diagnosa dapat dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang guna mengetahui penyebab diplopia. Tatalaksana diplopia
mencakup tatalaksana penyebab yang mendasari, memperbaiki kesalahan refraksi jika
ditemukan, terapi oklusi mata unilateral, penggunaanm prisma fresnel, maupun
pembedahan untuk strabismus yang dapat dilakukan untuk mengembalikan kesejajaran
okular setelah observasi minimal 6 bulan.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Patel A. Etiology and Management of Diplopia. Neurol Prim. 6(6):29–31.

2. Dhar SK. Diplopia – A Practical Approach. Dept Ophthalmol Command Hosp


(Southern Command Pune, Maharashtra. 2015;20(9):63–6.

3. Septadina I. Perubahan Anatomi Bola Mata pada Penderita Diabetes Melitus. Fak
Kedokt Univ Sriwij. 2015;47(2):139–43.

4. Lang G. Ophthalmology. 3rd ed. New York: Thieme Stuttgart; 2016.

5. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. 5th ed. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2015. 263, 274-275 p.

6. You TM. Diplopia After Inferior Alveolar Nerve Block : Case Report and Related
Physiology. J Dent Anesth Pain Med. 2015;15(2):93–6.

7. Royal Devon and Exeter. Double Vision. NHS Found Trust. 2015;3(May):2–3.

8. Diplopia. Crack Cast [Internet]. 2016;(May):1–4. Available from: www.crackcast.org

9. Maurer K. Diplopia (Double Vision). Kellog Eye Cent (University Michigan Heal Syst.
2014;1(1):1–2.

10. Maksus A. Standar Prosedur Pemeriksaan Refraksi untuk Refraksionis Optisien


(Diploma Optometris). Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2016. 59-64 p.

11. Danchaivijitr C, Kennard C. Diplopia and Eye Movement Disorders. J Neurol


Neurosurg Psychiatry. 2018;75(4):24–32.

19

Beri Nilai