Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia membutuhkan makan untuk bertahan hidup. Selain untuk
bertahan hidup, makanan juga berfungsi memenuhi kebutuhan-kebutuhan
tubuh akan zat-zat seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan
zat-zat lain. Namun, di zaman yang sudah modern ini justru banyak orang
yang tidak dapat memenuhi zat-zat tersebut.
Pada kali ini akan membahas secara khusus mengenai kekurangan kalori
protein. Protein yang berasal dari kata protos atau proteos yang berarti
pertama atau utama. Protein berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan
dan pertumbuhan tubuh. Kita memperoleh protein dari makanan yang berasal
dari hewan dan tumbuhan. Jika kita tidak mendapat asupan protein yang
cukup dari makanan tersebut, maka kita akan mengalami kondisi malnutrisi
energi protein.
Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi
baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi
yang digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik,
perkembangan otak, kemampuan kerja, dan kesehatan secara umum pada
tingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami
kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial.
Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak. Secara
umum, kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit KKP, yaitu penyakit
yag diakibatkan kekurangan energi dan protein. KKP dapat juga diartikan
sebagai keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan
protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka
Kecukupan Gizi (AKG). Bergantung pada derajat kekurangan energy protein
yang terjadi, maka manifestasi penyakitnya pun berbeda-beda. Penyakit KKP
ringan sering diistilahkan dengan kurang gizi.
Penyakit ini paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-
negara berkembang. Gejala kurang gizi ringan relative tidak jelas, hanya
terlihatbahwa berat badananak tersebut lebih rendah disbanding anak
seusianya. Kira-kira berat badannya hanya sekitar 60% sampai 80% dari berat
badan ideal.
1.2 Tujuan
a. Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan anak pada klien
dengan KKP
b. Tujuan khusus
Mahasiswa dapat menjelaskan :
1. Definisi KKP
2. Etiologi KKP
3. Manifestasi klinik KKP
4. Patofisiologi KK
5. Komplikasi KKP
6. Penatalaksanaan KKP pada anak
7. Asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien
dengan KKP
1.3 Manfaat
Dalam penulisan makalah ini di harapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Mahasiswa
Dapat di jadikan salah satu refrensi untuk belajar,selain itu makalah
ini dapat di jadikan sebagai salah satu refrensi dalam melakukan
asuhan keperawatan dalam ruang lingkup pada klien dengan penyakit
KKP (Kekurangan Kalori Protein).
2. Dosen
Dapat di jadikan salah satu sarana untuk mengukur kemampuan
mahasiswa dalam membuat sebuah makalah tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan penyakit KKP (Kekurangan Kalori
Protein).
3. Institusi
Dapat di jadikan salah satu karya tulis ilmiah dan dapat dijadikan
referensi dalam acuan belajar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Kekurangan kalori protein merupakan keadaan kurang gizi yang
disebabakan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan
sehari – hari atau disebabkan oleh gangguan penyakit tertentu,sehingga tidak
memenuhi angka kecukupan gizi. KKp sendiri dijumpai pada anak usia
prasekolah. Penyakit kurang kalori dan protein ini pada dasarnya terjadi
karena defisiensi energi dan defisiensi protein disertai susunan hodangan yang
tidak seimbang.
KKP adalah konsumsi yang kurang dalam jangka waktu yang lama. Pada
orang dewasa, KKP timbul pada anggota keluarga rumahtangga miskin olek
karena kelaparan akibat gagal panen atau hilangnya mata pencaharian. Bentuk
berat dari KKP di beberapa daerah di Jawa pernah dikenal sebagai penyakit
busung lapar atau HO (Honger Oedeem) (Aritonang, 2008).
KKP adalah gangguan nutrisi yang penting di negara sedang berkembang,
termasuk Indonesia, karena sebagai salah satu penyebab kematian dan
kecacatan anak-anak (Hendricks, 2009).
2.2 Klasifikasi
Berdasarkan berat dan tidaknya, KKP dibagi menjadi (Aritonang, 2008):
1. KKP ringan/sedang disebut juga sebagai gizi kurang
(undernutrition) ditandai oleh adanya hambatan pertumbuhan.
2. KKP berat, meliputi:
a. Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
kekurangan protein baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya. Kekurangan protein dalam makanan akan
mengakibatkan kekurangan asam amino essensial dalam serum
yang diperlukan untuk sintesis dan metabolisme terutama
sebagai pertumbuhan dan perbaikan sel, makin berkurangnya
asam amino dalam serum menyebabkan berkurangnya produksi
albumin oleh hati. Kulit akan tempak bersisik dan kering
karena depigmentasi. Anak dapat mengalami gangguan pada
mata karena kekurangan vitamin A. Kekurangan mineral
khususnya besi, kalsium dan seng. Edema yang terjadi karena
hipoproteinnernia yang mana cairan akan berpindah dari
intraveskular kompartemen ke rongga insterstisial yang
kemudian menimbulkan ascites. Gangguan gastrointestinal
seperti adanya perlemakan pada hati dan atropi pada sel acini
pankreas. Anak penderita kwashiorkor kelihatan gemuk, tetapi
tidak sehat, mukanya gemuk seperti bulan, kakinya bengkak
karena edema ( berisi cairan ), lekukan bekas tinggal jika jari
kita ditekankan padanya. Anak itu kelihatan muram dan
berdiam diri dalam gendongan ibu, tetapi cengeng dan tidak
ingin bermain – main.
b. Marasmus
Marasmus ditandai oleh penciutan/pengurusan (wasting)
otot generalisata dan tidak adanya lemak subkitus. Anak
marasmus tampak kakektis dan sangat kurus . dia menederita
wasting yang parah dan sering juga mengalami hambatan
pertumbuhan linier.
Marasmus berasal dari kata Yunani yang berarti kurus-
kering. Sebaliknya walau asupan protein sangat kurang, tetapi
si anak masih menerima asupan hidrat arang (misalnya nasi
ataupun sumber energi lainnya). Marasmus disebabkan karena
kurang kalori yang berlebihan, sehingga membuat cadangan
makanan yang tersimpan dalam tubuh terpaksa dipergunakan
untuk memenuhi kebutuhan yang sangat diperlukan untuk
kelangsungan hidup.
c. Marasmik-kwashiorkor.
Bentuk gabungan kedua malnutrisi protein-energi ditandai
dengan gambaran klinik kedeua jenis malnutrisi. Keadaan ini
dapat terjadi pada malnutrisinkronik saat jaringan subkutis,
massa otot, dan simpanan lemak mengjilang. Gambaran utama
adalah edema kwaesiorkor,dengan atau tanpa lesi kulit, dan
kakaeksia marasmus.
Marasmus,kwarsiorkor, dan marasmus-kwarsiorkor sering
terjadi pada negara belum berkembang. Dengan sering
dipengaruhi oleh makanan lokal dan infeksi, dengan
demikian,dijumpai perbedaan penampakan dari satu daerah ke
daerah lain. Pada anak dengan gangguan medis serius
lain,masalah malnutrisi primer lebih jarang daripada malnutrisi
sekunder.
Marasmik-kwashiorkor merupakan satu kondisi terjadinya
defisiensi, baik kalori, maupun protein. Ciri-cirinya adalah
dengan penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak
subkutan dan dehidrasi.
2.3 Etiologi
Ada dua penyebab yaitu malnutrisi primer dan malnutrisi sekunder.
a. Malnutrisi primer adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan
oleh asupan protein maupun energi yang tidak adekuat.
b. Malnutrisi sekunder adalah malnutrisi yang terjadi karena
kebutuhan yang meningkat,menurunnya absorbsi dan peningkatan
kehilangan protein maupun energi dari tubuh.
2.4 Patofisiologi
Perjalanan penyakit Kurang Kalori Protein (KKP) yang terdiri dari
marasmus (kurang protein dan kalori) dan kwashiorkor (kurang protein)
diawali dengan adanya ketidakseimbangan pasokan protein dan kalori dengan
kebutuhan sebenarnya. Penyakit yang biasanya melanda anak-anak di negara
miskin dan berkembang ini disebabkan oleh selain dari kurangnya pasokan
sumber nutrisi terpenting seperti protein, karbohidrat dan lemak sebagai
penyebab utama, infeksi yang kronis dan tergolong berat, khususnya yang
disertai dengan diare, juga meningkatkan angka kejadian KKP (Dixone,
2008).
Anak-anak dengan KKP kronis, tergolong kecil untuk umur dan cenderung
tidak aktif secara fisik, apatis, dan mudah terkena infeksi. Anoreksia dan
diare juga sering dijumpai pada anak yang mengalami KKP (Behrman, 2007).
Pada KKP akut, anak tampak kecil, sangat kurus tampak seperti tulang
yang hanya dilapisi kulit tanpa adanya jaringan lemak di bawah kulit.2 Kulit
kering, dan “baggy” seperti, rambut jarang dan berwarna coklat kusam atau
kuning kemerahan. Temperatur tubuh rendah, denyut nadi dan frekuensi
pernapasan melambat. Mereka juga tampak lemah, irritable, dan biasanya
lapar, walaupun ada beberapa yang mengalami anoreksia disertai mual dan
muntah (Behrman, 2007).
Pada penderita yang mengalami KKP, gejala klinis yang khas untuk
marasmus adalah triangular face, amenore primer atau sekunder, perut yang
melar (akibat dari hipotonus otot abdomen), prolapsus anal atau rektal (akibat
dari kehilangan lemak perianal). Sedangkan pada penderita kwashiorkor
manifestasi klinis yang sering dijumpai adalah edema, perubahan pada warna
kulit dan rambut, anemia, hepatomegali, letargi, defisiensi imunitas yang
berat, dan kematian yang cepat (Behrman, 2007)
Edema yang tidak terjadi pada penderita marasmus sedangkan sering
dijumpai pada penderita kwashiorkor masih sering diperdebatkan.1 Protein
yang diketahui sebagai pengatur tekanan onkotik plasma, akan hilang
fungsinya jika tidak mencapai kadar yang sesuai dalam pembuluh darah,
sehingga menyebabkan edema dan asites. Tetapi pada penderita kwashiorkor
lebih banyak mengalami edema dan asites dipercaya akibat anemia berat
yang dialami oleh penderita karena dari beberapa penelitian didapati bahwa
konsentrasi total protein dalam plasma pada penderita marasmus tidak jauh
berbeda dengan penderita kwashiorkor (Behrman, 2007).
Organ vital yang sering mengalami degeneradsi pada penderita KKP
adalah hati dan jantung. Akibatnya akan terjadi insufisiensi pada otot-otot
jantung, yang akhirnya akan menjadi gagal jantung. Hilangnya lemak
subkutan menyebabkan anak-anak penderita KKP tidak memiliki
kemampuan untuk pengaturan suhu tubuh yang baik dan menurunkan
cadangan air. Hal ini akan berujung pada dehidrasi, hipotermi dan
hipoglikemi jika dibandingkan dengan anak-anak yang sehat. Pada KKP berat
juga terjadi atrofi vili-vili usus halus sehingga penyerapan nutrisi pun tidak
baik yang akhirnya memperparah keadaan si penderita (Behrman, 2007).
2.5 Pathway
2.6 Manifestasi Klinis
Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan,disertai dengan
kehilangan menaikkan berat badan,disertai dengan kehilangan berat sampai
berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi
berkerut dan longgar karena tampak subkutan hilang.Karena lemak terakhir
hilang dari bantalan pengisap pipi,muka bayi dapat tetap tampak relatif
normal selama beberapa waktu sebelum menjadi menyusut dan
berkeriput.Abdomen daapat kembung atau datar,dan gambaran usus dapat
dengan mudah dilihat.Terjadi anafi otot,dengan akibat hipotoni.
1. Marasmus adalah keadaan yang terlihat mencolok seperti hilangnya lemak
subkutan, terutama pada wajah. Akibatnya ialah wajah si anak lonjong,
berkeriput dan tampak lebih tua (old man face). Gejala klinis marasmus
terdiri dari :
a) Pertumbuhan dan perkembangan fisik terganggu, bahkan sampai
berat badan dibawah waktu lahir (berat badan < 60%).
b) Tampak sangat kurus (gambaran seperti kulit pembalut tulang).
c) Muka seperti orang tua (old man face).
d) Pucat, cengeng, lethargi, malaise dan apatis.
e) Rambut kusam, kadang-kadang pirang, kering, tipis dan mudah
dicabut.
f) Kulit keriput, dingin, kering, mengendur, jaringan lemak subkutis
sangat sedikit sampai tidak ada, sehingga kulit kehilangan
turgornya.
g) Jaringan otot hipotrofi dan hipotoni.
h) Perut membuncit atau cekung dengan gambaran usus yang jelas.
i) Ujung tangan dan kaki terasa dingin dan tampak sianosis.
j) Sering disertai penyakit infeksi, diare kronis atau konstipasi.
k) Pantat kosong, paha kosong.
l) Mata besar dan dalam, sinar mata sayu.
m) Feces lunak atau diare.
n) Tekanan darah lebih rendah dari usia sebayanya.
o) Frekuensi nafas berkurang.
p) Kadar Hb berkurang.
q) Disertai tanda-tanda kekurangan vitamin.
2. Kwashiorkor
Manifestasi klinis dari kwasiorkor adalah sebagai berikut:
a) Muka sembab
b) Lethargi
c) Edema
d) Jarinagn otot mengecil
e) Jaringan subkutan tipis dan lembut
f) Warna rambut pirang atau seperti rambut jagung
g) Kulit kering dan bersisik
h) AlopeciaAnorexsia
i) Gagal dalam tumbuh kembang
j) Tampak anemia
3. Gabungan Kwarsiorkor-Marasmus
a) Perubahan cairan tubuh, lemak, mineral dan protein
b) Pertumbuhan terhenti
c) Berat badan turun
d) Cairan tubuh meningkat
2.7 Pemeriksaan Diagnostic
1. Data Laboratorium
Penurunan kadar albumin serum merupakan perubahan yg paling
khas.Ketonuria sering ada pada stadium awal kekurangan makan tetapi
seringkali menghilang pada stadium akhir.Harga glokuse darah
rendah,tetapi kurva toleransi glukose dapat bertipe diabetik.Ekresi
hidroksiprolin urin yg berhubungan dengan kreatinin dapat turun.Angka
asam amino esensial,dan dapat turun relatif terhadap angka asam amino
non-esensial,dan dapat menambah aminoasiduria.Defisiensi kalium dan
magnesium sering ada.Kadar kolesterol serum rendah,tetapi kadar ini
kembali ke normal sesudah beberapa hari pengobatan.Angka
amilase,esterase,kolinesterase,tansminase,lipase dan alkalin fosfatase
serum turun.Ada penurunan aktivitas enzim prankeas dan santhin
oksidase,tetapi angka ini kembali normal segera sesudah mulai
pengobatan.Anemia dapat normositik,mikrositik,atau makrositik.Tanda-
tanda defisiensi vitamin dan mineral biasanya jelas.Pertumbuhan tulang
biasanya terlambat.Sekresi hormon pertumbuhan mungkin bertambah.
2. Pemeriksaan Radiologik
Pada pemeriksaan radiologik tulang memperlihatkan osteoporosis
ringan.
2.8 Pernatalaksanaan
1. Prinsip pengobatan MEP adalah (Junia, 2009):
a. Memberikan makanan yang mengandung banyak protein bernilai
biologik tinggi, tinggi kalori, cukup cairan, vitamin dan mineral.
b. Makanan harus dihidangkan dalam bentuk yang mudah dicerna dan
diserap.
c. Makanan diberikan secara bertahap, karena toleransi terhadap
makanan sangat rendah. Protein yang diperlukan 3-4 gr/kg/hari, dan
kalori 160-175 kalori.
d. Antibiotik diberikan jika anak terdapat penyakit penyerta.
e. Tindak lanjut berupa pemantauan kesehatan penderita dan penyuluhan
gizi terhadap keluarga.
2. Dalam keadaan dehidrasi dan asidosis pedoman pemberian cairan
parenteral adalah sebagai berikut:
a. Jumlah cairan adalah 200 ml/kgBB/hari untuk kwashiorkor atau
marasmus kwashiorkor, dan 250 ml/kg BB/hari untuk marasmus.
b. Jenis cairan yang dipilah adalah Darrow-glukosa aa dengan kadar
glukosa dinaikkan menjadi 10% bila terdapat hipoglikemia.
c. Cara pemberiannya adalah sebanyak 60 ml/kg BB diberikan dalam
4-8 jam pertama, kemudian sisanya diberikan dalam waktu 16-20
jam berikutnya.
d. Makanan tinggi energi tinggi protein (TETP) diolah dengan
kandungan protein yang dianjurkan adalah 3,0-5,0 gr/kg BB dan
jumlah kalori 150-200 kkal/kg BB sehari.
e. Asam folat diberikan per oral dengan variasi dosis antara 3×5
mg/hari pada anak kecil dan 3×15 mg/hari pada anak besar.
Kebutuhan kalium dipenuhi dengan pemberian KCL oral sebanyak
75-150mg/kg BB/hari (ekuivalen dengan 1-2 mEq/kg BB/hari);
bila terdapat tanda hipokalemia diberikan KCl secara intravena
dengan dosis intramuskular atau intravena dalam bentuk larutan
MG-sulfat 50% sebanyak 0,4-0,5 mEq/kgBB/hari selama 4-5 hari
pertama perawatan.
3. Prinsip penanganan anak dengan kurang gizi adalah (Junia, 2009).
a. Memberikan makanan yang mengandung banyak protein, tinggi
kalori, cukup cairan, vitamin dan mineral.
b. Makanan harus dihidangkan dalam bentuk yang mudah diserap
dan dicerna
c. Makanan diberikan secara bertahap
d. Penyakit- penyakit lain yang menyertai harus ditangani
e. Tindak lanjut bersehatan berupa pemantauan kesehatan penderita
dan penyuluhan gizi terhadap keluarga.
4. Terapi dietik (Junia, 2009)
Ada 3 tahap cara pemberian makanan pada KKP adalah
a. Tahap Penyesuaian (Junia, 2009)
1) Makanan yang diberikan diawal lebih encer, lebih cair
2) Makanan yang diberikan awal bernilai kalori dan protein
rendah , lalu bertahap ditingkatkan kalori 150 – 220
kkal/kgBB sehari
3) Pada aplikasinya penderita KEP dibagi dua golongan menurut
berat badan , yaitu
a) Berat badan < 7 kg
Pada penderita dengan berat badan dibawah 7 kg
jenis makanan yang diberikan adalah makanan bayi. Pada
awal perawatan makanan utama adalah susu yng
diencerkan ( 1/3, 2/3, 3/3) atau susu formula rendah
laktosa. Untuk tambahan kalori dapat diberikan glukosa 2
– 5 % dan tepung 2 %.
b) Berat badan > 7 kg
Pada penderita dengan berat badan diatas 7kg
jenis makanan yang diberikan adalah makanan anak umur
satu tahun. Pemberian kalori 50 kkal/kgBB, protein 0,1
g/kgBB, cair200 ml/kgBB, makanan cair kental ( 1/3 ,
2/3, 3/3). Sumber makanan utama adalah susu dengan
tambahan kalori glukosa 5%.
b. Tahap Penyembuhan (Junia, 2009)
Pada tahap penyembuhan, toleransi terhadap makanan dan
nafsu makan sudah membaik. Ien Pemberian makanan dapat
ditingkatkan secara berangsur setiap 1-2 hari. Konsumsi kalori 150
– 200 kkal/kgBB dan protein 3,0 – 5,0 g/kgBB.
c. Tahap Lanjutan (Junia, 2009)
Pada tahap lanjutan, pemberian makanan kembali ke
kebutuhan nutrien baku.
5. Penatalaksanaan Marasmik dan Kwarshiorkor
a. Pemberian makanan tinggi energi dan tinggi protein
1) Energi 150 kkal/kgBB, protein 3 – 5 g/kgBB diberikan
bertahap.
2) Tambahan KCL 75 – 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam tiga
dosis, MgSO4 50% sebanyak 0,25 ml/kgBB/hari secara IM.
2.9 Komplikasi
a. Defisiensi vitamin A (xerophtalmia)
Vitamin A berfungsi pada penglihatan (membantu regenerasi visual
purple bila mata terkena cahaya). Jika tidak segera teratasi ini akan
berlanjut menjadi keratomalasia (menjadi buta).
b. Defisiensi Vitamin B1 (tiamin)
Disebut Atiaminosis. Tiamin berfungsi sebagai ko-enzim dalam
metabolisme karbohidrat. Defisiensi vitamin B1 menyebabkan penyakit
beri-beri dan mengakibatkan kelainan saraf, mental dan jantung.
c. Defisiensi Vitamin B2 (Ariboflavinosis)
Vitamin B2/riboflavin berfungsi sebagai ko-enzim pernapasan.
Kekurangan vitamin B2 menyebabkan stomatitis angularis (retak-retak
pada sudut mulut, glositis, kelainan kulit dan mata.
d. Defisiensi vitamin B6
Vitamin B6 yang berperan dalam fungsi saraf.
1. Defisiensi Vitamin B12
Vitamin B12 Dianggap sebagai faktor anti anemia dalam
faktor ekstrinsik. Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan
anemia pernisiosa.
2. Defisit Asam Folat
Asam Float Menyebabkan timbulnya anemia makrositik,
megaloblastik, granulositopenia, trombositopenia.
3. Defisiensi Vitamin C
Vitamin C Menyebabkan skorbut (scurvy), mengganggu
integrasi dinding kapiler. Vitamin C diperlukan untuk pembentukan
jaringan kolagen oleh fibroblas karena merupakan bagian dalam
pembentukan zat intersel, pada proses pematangan eritrosit,
pembentukan tulang dan dentin.
4. Defisiensi Mineral
Mineral seperti Kalsium, Fosfor, Magnesium, Besi, Yodium
Kekurangan yodium dapat menyebabkan gondok (goiter) yang
dapat merugikan tumbuh kembang anak.
5. Tuberkulosis paru dan bronkopneumonia.
Menganggu jalan nafas anak terseebut
2.10 Asuhan Keperawatan Secara Teori
2.10.1 Pengkajian
1. Identitas pasien
Nama,alamat,jenis kelamin, alamat dst
2. Keluhan utama
Kwashiorkor : biasanya anak mengalami bengkak pada kaki dan
tangan, kondisi lemah, tidak mau makan, dan BB menurun.
Marasmus : biasanya anak menjadi rewel, tidak mau makan,badan
kelihatan kurus
3. Riwayat kesehatan :
a. Riwayat penyakit sekarang
1) Kapan keluhan mulai dirasakan?
2) Kejadian sudah berapa lama?
3) Apakah ada penurunan BB?
4) Bagaimana nafsu makan pasien?
5) Bagaimana pola makannya?
6) Apakah pernah menderita pengobatan,dimana,oleh
siapa,kapan,jenis obatnya?
b. Riwayat penyakit terdahulu
1) Apakah dulu pasien dulu pernah menderita penyakit seperti
sekarang?
c. Riwayat Penyakit keluarga
1) Apakah anggota keluarga pasien pernah menderita penyakit
yang berhubungan dengan kekurangan gizi atau kurang
protein?
2.10.2 Pengkajian Fisik
2.10.3 Pemeriksan Diagnostik
1. Data laboratorium:
a) Feses urine,darah lemgkap
b) Pemeriksaan albumin,kolesteron
c) Kadar asam amino essensial dalam plasma relatif lebih
rendah dari asam amino non essiensial
d) Hitung leukosit,trombosit
e) Hitung glukosa darah
2.10.4 Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kurang asupan makanan ( Domain 2: Nutrisi, kelas 1, makan.
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh. 00002, hal:
177. Nanda 2015-2017)
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
aktif ( Domain2: Nutrisi, kelas 5, Hidrasi. Kekurangan volume
cairan.00027, hal: 193. Nanda 2015-2017)
c. Resiko infeksi berhubungan dengan malnutrisi (Domain 11:
Keamanan/Perlindungan, kelas 1, infeksi. Resiko infeksi.00004,hal:
405. Nanda 2015-2017)
d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan turgor kulit
(Domain 11: Keamanan atau perlindungan, kelas 2 cedera fisik.
Kerusakan integritas kulit. 00046, hal: 425. Nanda 2015-2017)
e. Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan nutrisi tidak
adekuat (Domain 13: pertumbuhan atau perkembangan, kelas 2
pertumbuhan. Resiko keterlambatan perkembangan.00112, hal: 479.
Nanda 2015-2017)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Aritonang E.Kurang Energi Protein(protein energy malnutrition).Bagian Gizi


Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.Medan
2004:1-8

Heather, T. Herdman. 2015. NANDA International Nursing Diagnoses. Jakarta:


EGC.
Moorhead Sue, dkk.2015. Nursing Outcomes Classification. Ed.5. Indonesia:
Elseveir.

M. Bulechek, Gloria, dkk. 2016. Nursing Intervention Classification. Ed. 6.


Indonesia: Elseveir.

Rudolph dkk.2014.Buku Ajar Pediatri.Ed.20.Indonesia:EGC

suriadi,dkk,2010.asuhan keperawatan pada anak.jakarta:CV SAGUNG SETO.