Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Gagal Jantung
1. Definisi
Gagal jantung kongestif (CHF) adalah suatu keadaan patofisiologis berupa
kelainan fungsi jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk
memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan/ kemampuannya hanya ada kalau
disertai peninggian volume diastolik secara abnormal. (Mansjoer dan Triyanti,
2007).
Congestive Heart Failure (CHF) adalah suatu kondisi dimana jantung mengalami
kegagalan dalam memompa darah guna mencukupi kebutuhan sel-sel tubuh akan
nutrien dan oksigen secara adekuat. Hal ini mengakibatkan peregangan ruang
jantung (dilatasi) guna menampung darah lebih banyak untuk dipompakan ke
seluruh tubuh atau mengakibatkan otot jantung kaku dan menebal. Jantung hanya
mampu memompa darah untuk waktu yang singkat dan dinding otot jantung yang
melemah tidak mampu memompa dengan kuat. Sebagai akibatnya, ginjal sering
merespons dengan menahan air dan garam. Hal ini akan mengakibatkan
bendungan cairan dalam beberapa organ tubuh seperti tangan, kaki, paru, atau
organ lainnya sehingga tubuh klien menjadi bengkak (congestive). (Udjianti,
2010).

2. Etiologi
Penyebab gagal jantung mencakup apapun yang menyebabkan peningkatan
volume plasma sampai derajat tertentu sehingga volume diastolic akhir
meregangkan serat-serat ventrikel melebihi panjang optimumnya. Penyebab
tersering adalah cedera pada jantung itu sendiri yang memulai siklus kegagalan
dengan mengurangi kekuatan kontraksi jantung. Akibat buruk dari menurunnya
kontraktilitas, mulai terjadi akumulasi volume darah di ventrikel.
Penyebab gagal jantung yang terdapat di jantung antara lain: Terjadinya gagal
jantung dapat disebabkan:
a. Disfungsi miokard (kegagalan miokardial)
b. Beban tekanan berlebihan-pembebanan sistolik (systolic overload)
Beban sistolik yang berlebihan diluar kemampuan ventrikel (systolic overload)
menyebabkan hambatan pada pengosongan ventrikel sehingga menurunkan
curah ventrikel atau isi sekuncup.
c. Beban volume berlebihan pembebanan diastolic (diastolic overload)
Preload yang berlebihan dan melampaui kapasitas ventrikel (diastolic
overload) akan menyebabkan volum dan tekanan pada akhir diastolic dalam
ventrikel meninggi. Prinsip Frank Starling; curah jantung mula-mula akan
meningkat sesuai dengan besarnya regangan otot jantung, tetapi bila beban
terus bertambah sampai melampaui batas tertentu, maka curah jantung justru
akan menurun kembali.
d. Peningkatan kebutuhan metabolik peningkatan kebutuhan yang berlebihan
(demand overload)
Beban kebutuhan metabolic meningkat melebihi kemampuan daya kerja
jantung di mana jantung sudah bekerja maksimal, maka akan terjadi keadaan
gagal jantung walaupun curah jantung sudah cukup tinggi tetapi tidak mampu
untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi tubuh.
e. Gangguan pengisian (hambatan input).
Hambatan pada pengisian ventrikel karena gangguan aliran masuk ke dalam
ventrikel atau pada aliran balik vena/venous return akan menyebabkan
pengeluaran atau output ventrikel berkurang dan curah jantung menurun.
f. Kelainan Otot Jantung
Gagal jantung paling sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung,
menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari
penyebab kelainan fungsi otot mencakup arterosklerosis koroner, hipertensi
arterial dan penyakit otot degeneratif atau inflamasi.
g. Aterosklerosis Koroner
Mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke
otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat).
Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya
gagal jantung.
h. Hipertensi Sistemik/Pulmonal
Meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan
hipertropi serabut otot jantung.
i. Peradangan dan Penyakit Miokardium
Berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung
merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.
j. Penyakit jantung
Penyakit jantung lain seperti stenosis katup semilunar, temponade
perikardium, perikarditis konstruktif, stenosis katup AV.
k. Faktor sistemik
Faktor sistemik seperti hipoksia dan anemia yang memerlukan peningkatan
curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik. Hipoksia atau
anemia juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. Asidosis dan
abnormalitas elektrolit juga dapat menurunkan kontraktilitas jantung. Semua
situasi diatas dapat menyebabkan gagal jantung kiri atau kanan. Penyebab
yang spesifik untuk gagal jantung kanan antara lain:
a) Gagal jantung kiri
b) Hipertensi paru
c) PPOM

3. Patofosiologi
Kelainan fungsi otot jantung disebabkan oleh aterosklerosis koroner, hipertensi
arterial dan penyakit otot degeneratif atau inflamasi. Aterosklerosis koroner
mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot
jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark
Miokardium biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Hipertensi
sistemik/pulmonal (peningkatan afterload) meningkatkan beban kerja jantung dan
pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Efek tersebut
(hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan
meningkatkan kontraktilitas jantung. Tetapi untuk alasan tidak jelas, hipertrofi
otot jantung tadi tidak dapat berfungsi secara normal dan akhrinya terjadi gagal
jantung.
Peradangan dan penyakit miokarium degeneratif berhubungan dengan gagal
jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan
kontraktilitas menurun.Ventrikel kanan dan kiri dapat mengalami kegagalan
secara terpisah. Gagal ventrikel kiri paling sering mendahului gagal ventrikel
kanan. Gagal ventrikel kiri murni sinonim dengan edema paru akut. Karena curah
ventrikel berpasangan/sinkron, maka kegagalan salah satu ventrikel dapat
mengakibatkan penurunan perfusi jaringan.Gagal jantung dapat dimulai dari sisi
kiri atau kanan jantung. Sebagai contoh, hipertensi sitemik yang kronis akan
menyebabkan ventrikel kiri mengalami hipertrofi dan melemah. Hipertensi paru
yang berlangsung lama akan menyebabkan ventrikel kanan mengalami hipertofi
dan melemah. Letak suatu infark miokardium akan menentukan sisi jantung yang
pertama kali terkena setelah terjadi serangan jantung.
Karena ventrikel kiri yang melemah akan menyebabkan darah kembali ke atrium,
lalu ke sirkulasi paru, ventrikel kanan dan atrium kanan, maka jelaslah bahwa
gagal jantung kiri akhirnya akan menyebabkan gagal jantung kanan. Pada
kenyataanya, penyebab utama gagal jantung kanan adalah gagal jantung kiri.
Karena tidak dipompa secara optimum keluar dari sisi kanan jantung, maka darah
mulai terkumpul di sistem vena perifer. Hasil akhirnya adalah semakin
berkurangnya volume darah dalam sirkulasi dan menurunnya tekanan darah serta
perburukan siklus gagal jantung

4. Klasifikasi
Menurut derajat sakitnya:
a. Derajat 1: Tanpa keluhan. Anda masih bisa melakukan aktivitas fisik sehari-
hari tanpa disertai kelelahan ataupun sesak napas.
b. Derajat 2: Ringan. Aktivitas fisik sedang menyebabkan kelelahan atau sesak
napas, tetapi jika aktivitas ini dihentikan maka keluhan pun hilang.
c. Derajat 3: Sedang. Aktivitas fisik ringan menyebabkan kelelahan atau sesak
napas, tetapi keluhan akan hilang jika aktivitas dihentikan.
d. Derajat 4: Berat. Tidak dapat melakukan aktivitas fisik sehari-hari, bahkan
pada saat istirahat pun keluhan tetap ada dan semakin berat jika melakukan
aktivitas walaupun aktivitas ringan.
Menurut lokasi terjadinya :
a. Gagal jantung kiri
Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri, karena ventrikel kiri tidak
mampu memompa darah yang datang dari paru. Peningkatan tekanan dalam
sirkulasi paru menyebabkan cairan terdorong kejaringan paru. Manifestasi
klinis yang terjadi meliputi dispnea, batuk, mudah lelah, takikardi dengan
bunyi jantung S3, kecemasan kegelisahan, anoreksia, keringat dingin, dan
paroxysmal nocturnal dyspnea, ronki basah paru dibagian basal
b. Gagal jantung kanan
Bila ventrikel kanan gagal, yang menonjol adalah kongesti visera dan jaringan
perifer. Hal ini terjadi karena sisi kanan jantung tidak mampu mengosongkan
volume darah dengan adekuat sehingga tidak dapat mengakomodasi semua
darah yang secara normal kembali dari sirkulasi vena. Manifestasi klinis yang
tampak meliputi: edema akstremitas bawah yang biasanya merupakan pitting
edema, pertambahan berat badan, hepatomegali (pembesaran hepar), distensi
vena leher, asites (penimbunan cairan didalam rongga peritonium), anoreksia
dan mualdan lemah.

5. Manifestasi Klinis
a. Gagal jantung kiri
1. Keluhan badan lemah, cepat lelah
2. Berdebar-debar
3. Sesak napas terutama saat beraktifitas
4. Batuk
5. Anorexia
6. Berkeringat dingin.
7. Dapat pula ditemui tanda:
8. Takikardia
9. Dipsnea (dyspnea d’effort, orthopnae atau paroxysmal nocturnal dyspnae).
10. Ronchi basah paru dibagian nasal.
11. Bunyi jantung III, pulsus alternans.
12. Ataupun tanda lain dari penyakit jantung yang menyertai.
b. Gagal jantung kanan.
1. Oedem tumit dan tungkai bawah.
2. Hati membesar dan lunak, nyeri tekan (hepatomegali).
3. Bendungan pada vena jugularis (JVP meningklat), pulsasi vena jugularis.
4. Gangguan gastrointestinal: kembung, anorexia, nausea.
5. BB meningkat (oedem)
6. Asites
7. Perasaan tidak enak pada epigastrium.
8. Ataupun tanda lain dari penyakit jantung yang menyertai.
c. Gagal jantung kongestive.
Merupakan kumpulan gejala atau tanda gangguan jantung kiri / kanan secara
bersamaan, misalnya:
1. Pembesaran jantung.
2. Kadang terdengar bunyi jantung III (proto diastolik gallop) dan tanda-
tanda lain yang sudah disebutkan di atas.

6. Komplikasi
Komplikasi yang bisa terjadi ialah :
a. Trombosis vena dalam, karena pembentukan bekuan vena karena stasis darah.
b. Syok kardiogenik akibat disfungsi nyata dari jantung.
c. Toksisitas digitalis akibat pemakaian obat-obatan digitalis.

7. Pemeriksaan Fisik
a. Auskultasi nadi apikal, biasanya terjadi takikardi (walaupun dalam keadaan
beristirahat).
b. Bunyi jantung, S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa.
Irama gallop umum (S3 dan S4) dihasilkan sebagai aliran darah ke atrium
yang distensi. Murmur dapat menunjukkan inkompetensi / stenosis katup.
c. Palpasi nadi perifer, nadi mungkin cepat hilang atau tidak teratur untuk
dipalpasi dan pulsus alternan (denyut kuat lain dengan denyut lemah) mungkin
ada.
d. Tekanan darah.
e. Pemeriksaan kulit: kulit pucat (karena penurunan perfusi perifer sekunder) dan
sianosis (terjadi sebagai refraktori Gagal Jantung Kronis). Area yang sakit
sering berwarna biru/belang karena peningkatan kongesti vena.

8. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
a. EKG (elektrokardiogram): untuk mengukur kecepatan dan keteraturan denyut
jantung.
EKG: Hipertrofi atrial atau ventrikuler, penyimpangan aksis, iskemia san
kerusakan pola mungkin terlihat. Disritmia, misal: takhikardi, fibrilasi atrial.
Kenaikkan segmen ST/T persisten 6 minggu atau lebih setelah imfark miokard
menunjukkan adanya aneurime ventricular.
b. Echokardiogram: menggunakan gelombang suara untuk mengetahui ukuran
dan bentuk jantung, serta menilai keadaan ruang jantung dan fungsi katup
jantung. Sangat bermanfaat untuk menegakkan diagnosis gagal jantung.
c. Foto rontgen dada: untuk mengetahui adanya pembesaran jantung,
penimbunan cairan di paru-paru atau penyakit paru lainnya.
d. Tes darah BNP: untuk mengukur kadar hormon BNP (B-type natriuretic
peptide) yang pada gagal jantung akan meningkat.
e. Sonogram: Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik, perubahan dalam
fungsi/struktur katub atau penurunan kontraktilitas ventricular.
f. Skan jantung: Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan pergerakan
dinding.
g. Kateterisasi jantung: Tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu
membedakan gagal jantung sisi kanan verus sisi kiri dan stenosi katup atau
insufisiensi dan juga mengkaji potensi arteri kororner. Zat kontras disuntikkan
kedalam ventrikel menunjukkan ukuran bnormal dan ejeksi fraksi/perubahan
kontraktilitas.

B. Kateterisasi Jantung
1. Definisi
Kateterisasi jantung adalah suatu pemeriksaan jantung dengan memasukkan
kateter ke dalam sistem kardiovaskular untuk memeriksa keadaan anatomi dan
fungsi jantung. Angiografi koroner atau penyuntikan bahan kontras ke dalam
arteri koronaria merupakan tindakan yang paling sering digunakan untuk
menentukan lokasi, luas dan keparahan sumbatan dalam arteri koronaria (Price &
Wilson 2006). Price dan Wilson (2006) menyebutkan bahwa angiografi koroner
dapat memberikan informasi tentang lokasi lesi atau sumbatan pada koroner,
derajat obstruksi, adanya sirkulasi kolateral, luasnya gangguan jaringan pada area
distal koroner yang tersumbat dan jenis morfologi lesi.
Angiografi koroner adalah tindakan memasukkan kateter melalui arteri femoralis
(Judkins) atau arteri brachialis (Sones) yang didorong sampai ke aorta assendens
dan diarahkan ke arteri koronaria yang dituju dengan bantuan fluoroskopi
(Woods, Froelicher, Motzer & Bridges, 2005).
2. Macam Kateterisasi Jantung
Menurut Rokhaeni, Purnamasari & Rahayoe (2001) pemeriksaan kateterisasi
jantung terbagi atas:
a. Kateterisasi jantung kanan (untuk kelainan pada jantung kanan), misalnya
Stenosis Pulmonal.
b. Kateterisasi jantung kiri(untuk kelainan pada jantung kiri), misalnya penyakit
jantung koroner, koartasio aorta.
c. Kateterisasi jantung kanan dan kiri (untuk kelainan jantung kanan dan kiri),
misalnya Tetralogi Of Fallot, transposisi arteri besar.
Lebih lanjut Rokhaeni, Purnamasari & Rahayoe (2001) menyebutkan bahwa
pemeriksaan kateterisasi menurut pada intinya terbagi atas 2 tindakan yaitu
angiogram dan penyadapan.
a. Angiogram/angiography
Yaitu memasukkan media/zat kontras ke dalam suatu rongga (ruang
jantung/pembuluh darah), untuk meyakinkan suatu anatomi/aliran darah,
kemudian merekam/mendokumentasikannya ke dalam film/CD/video sebagai
data.
b. Penyadapan
Yaitu tindakan menyadap/merekam/mendokumentasikan tekanan, kandungan
oksigen, sistem listrik jantung, tanpa menggunakanmedia kontras.

3. Indikasi dan Kontra Indikasi Kateterisasi Jantung dan Angiografi Koroner


Kateterisasi jantung bertujuan untuk mendapat gambaran dan data objektif secara
pasti tentang perubahan anatomis dan fisiologis akibat berbagai kelainan pada
jantung dan pembuluh darah. Dengan kateterisasi jantung dapat diketahui ada
tidaknya kelainan jantung, jenis kelainan jantung, derajat kelainan tersebut, cara
pengobatan yang tepat, dan menilai hasil pengobatan. Selain itu, kateterisasi
jantung juga dapat digunakan untuk mengetahui tekanan pada ruang-ruang di
jantung, melihat bagaimana darah melewati jantung, mengambil sampel darah,
menginjeksikan zat kontras untuk melihat adanya hambatan pada pembuluh darah,
atau abnormalitas dari ruang jantung, serta melakukan koreksi pada kelainan
jantung tersebut.
Indikasi kateterisasi jantung secara umum menurut Rokhaeni, Purnamasari &
Rahayoe (2001) dilakukan untuk beberapa kondisi yaitu
a. Penyakit jantung koroner yang jelas/didiagnosis.
b. Sakit dada (angina pektoris) yang belum jelas penyebabnya.
c. Angina pektoris yang tidak stabil/bertambah.
d. Infark miokard yang tidak berespon dengan obat-obatan.
e. Gagal jantung kongestif.
f. Gambaran EKG abnormal (injuri, iskemik, infark), usia 50 tahun ke atas,
asimtomatik.
g. Treadmill test positif.
h. Evaluasi bypass koroner.
i. Abnormal irama (bradi/takhikardia).
j. Kelainan katub jantung.
k. Kelainan jantung bawaan.
l. Kelainan pembuluh perifer.
Kontraindikasi dari kateterisasi jantung ini sangat bervariasi. Hal ini bergantung
pada kemajuan teknik, peralatan serta ketrampilan operator. Seiring
berkembangnya pengetahuan mengenai kateterisasi jantung, hampir dikatakan
tidak ada lagi kontraindikasi absolut, yang ada hanya kontraindikasi relatif. Hal-
hal yang termasuk dalam kontraindikasi relatif adalah:
a. Ventrikel iritabel yang tidak dapat dikontrol
b. Hipokalemia/intoksikasi digitalis yang tidak dapat dikoreksi
c. Hipertensi yang tidak dapat dikoreksi
d. Penyakit demam berulang
e. Gagal jantung dengan edema paru akut
f. Gangguan pembekuan: waktu protrombin > 18 detik
g. Gagal ginjal hebat/anuria
h. Alergi bahan kontras
i. Riwayat perdarahan yang tidak berhenti
j. Kehamilan
Sedangkan satu-satunya yang dianggap sebagai kontraindikasi absolut adalah
apabila pasien dan keluarganya menolak untuk dilakukan kateterisasi.
4. Zat Kontras
a. Angiografin
1) Angiografin merupakan jenis kontras media ionik.
2) Komposisi 1 ml Angiografin mengandung 0,65 gr Meglumine
Amidotrizoate (meglumine diatrizoate ) dalam setiap larutan.
3) Angiografin mempunyai viskositas (kekentalan) yang tinggi, serta
mempunyai osmolalitas (daya larut) yang tinggi pula.
4) Indikasi : Angiografin digunakan untuk Intravenus urografi, Retrograde
Urografi, Cerebral Thoracic, Abdominal dan Ekstremitas angiografi,
Plebografi, Computerize Tomography (CT).
5) Kontra indikasi : Angiografin tidak baik digunakan untuk Myelografi,
Ventrikulografi, Sisternografi, karena bisa menimbulkan neurotoksis.
b. Iopamiro
1) Iopamiro merupakan jenis kontras media non ionik.
2) Iopamiro mempunyai jenis molekul benzine dikarboxamide monomerik.
3) Tekanan osmotik yang rendah, sifat non ionik dari molekul serta
kemotoksitas yang rendah merupakan toleransi dari Iopamiro.
4) Indikasi :
Kasus-kasus neurologis (Myeloradikulografi, Sisternografi, dan
Ventrikulografi).
Kasus-kasus Angiografi (Cerebral Angiografi, Coronoriarteriografi,
Thorasic aortografi, Abdominal aortografi, DSA)
Kasus urografi (Intravena urografi, kontras enhancement pada CT
Scanning, Artrografi, Fistulografi)
5) Kontra indikasi: Tidak ada kontra indikasi yang sifatnya absolut pada
pemakain Iopamiro, kecuali waldenstrom’s, macroglobulinemia,
multiple myeloma serta penyakit hati dan ginjal.
c. Ultravist
1) Ultravist merupakan kontras media non ionik dalam bentuk cair yang
dipergunakan untuk pemeriksaan radiografi
2) Triidinated monomeric contras media
3) Digunakan secara intra arterial dan intravenous
Pada kateterisasi jantung, injeksi zat kontras dilakukan untuk
mengetahui adanya hambatan maupun penyempitan pada pembuluh
darah. Jumlah zat kontras yang diinjeksikan ke dalam pembuluh darah
diusahakan dalam jumlah paling minimal. Untuk tindakan diagnostik
biasa digunakan 20-30cc dan maksimal 50cc. Sedangkan untuk tindakan
intervensi sekitar 100-200cc. Pemasukan zat kontras kedalam tubuh
harus juga melihat nilai laboratorium ureum kreatinin pasien.

5. Komplikasi
Berdasarkan Nuray dkk (2007), komplikasi yang ditemukan dibagi menjadi
komplikasi mayor dan komplikasi minor.
a. Komplikasi mayor/utama
Komplikasi utama meliputi reoklusi akut, miokard infark baru, pendarahan
hebat di selangkangan kaki, tamponade jantung akibat pecah atau robeknya
dinding arteri koroner atau jantung ruang dan kematian.
b. Komplikasi minor
Komplikasi minor PCA antara lain oklusi cabang pembuluh koroner,
ventrikel/atrium aritmia, bradikardi, hipotensi, perdarahan, arteri trombus,
emboli koroner. Komplikasi minor lain adalahkehilangan darah yang parah
dan membutuhkan transfusi, iskemia pada ekstremitas tempat penusukan
femoral sheath, penurunan fungsi ginjal karena media kontras, emboli
sistemik dan hematoma di selangkangan, hematoma retroperitoneal,
pseudoaneurisma, fistula AV.
Komplikasi yang timbul pasca angiografi koroner melalui arteri arteri femoral
dipengaruhi oleh strategi untuk mengurangi komplikasi vaskuler yang terkait
dengan kateterisasi jantung melalui identifikasi faktor risiko yang terkait dan
pelaksanaan strategi pengurangan risiko. Antara ahli jantung dan perawat
memainkan peran penting dalam pengenalan dini dan pengelolaan komplikasi
ini. Mengidentifikasi faktor-faktor risiko individu pasien merupakan aspek
penting dari perawatan selama kateterisasi jantung. Hal-hal yang dapat
meningkatkan risiko untuk pengembangan komplikasi vaskular pasca
kateterisasi jantung yaitu usia (yakni usia lebih dari 70 tahun), jenis kelamin
perempuan, sangat kurus atau gemuk tidak sehat, adanya penyakit pembuluh
darah perifer, hipertensi (PA-PSRS, 2007).
6. Persiapan Pasien Pre Tindakan
a. Persiapan fisik
1) Penjelasan tentang prosedur tindakan oleh dokter
2) Rekaman EKG 12 lead
3) Puasa 4-6 jam sebelum tindakan perlu diperhatikan adalah puasa makan
saja, pasien boleh minum dan obat-obatan tetap diberikan sesuai resep
dokter
4) Sehari sebelumnya meminum obat yang diinstruksikan dokter seperti
aspilet 2 tablet pada malam hari dan 1 tablet pada pagi hari, clopidogrel 4
tablet pada malam hari dan 2 tablet pada pagi hari.
5) Cukur area penusukan (daerah inguinalis kanan dan kiri bila arteri
femoralis atau daerah radialis kanan bila dari arteri radialis)
6) Memasang condom cetheter atau dower cetheter untuk pasien yang akan
dilakukan tindakan PTCA, Ablasi, dan sejenisnya kecuali koroner
angiografi
7) Memasang infus pada pasien, untuk tindakan koroner angiografi pada
umumnya tidak dipasang infus kecuali pada pasien dengan hasil kreatinin
lebih dari 1,5 diberikan cairan NaCl 0,9% . Pada pasien yang akan
dilakukan PTCA, Ablasi dan sejenisnya yang memerlukan waktu yang
lama diberikan cairan RL dan cairan NaCl 0,9% untuk pasien dengan
creatinin lebih dari 1,5
8) Mengukur tanda – tanda vital pasien (tekanan darah, heart rate , respirasi,
dan suhu )
9) Mengukur berat badan dan tinggi badan
10) Hasil pemeriksaan laboratorium seperti :
a) Pemeriksaan Hb, Hb yang tinggi akan mempengaruhi tindakan
kateterisasi dimana lebih mudah terjadi pembekuan darah pada
kateter, begitu juga Hb yang rendah karena kemungkinan terjadi
pendarahan selama tindakan
b) Leukosit, untuk mengetahui apkah pasien dalam keadaan dalam
infeksi atau tidak
c) Ureum dan kreatinin, mengtahui fungsi ginjal pasien berhubungan
dengan penggunaan zat kontras saat tindakan, bila hasilnya tinggi
dilakukan hidrasi terlebih dahulu dengan obat oral flumucyl 2
tablet dan loading cairan NaCl 0,9% sesuai instruksi dokter (biasa
diberikan 100 cc) . zat kontras yang osmolaritasnya lebih redah,
(misalnya omnipaque) dan dosis yang lebih sedikit
d) CT, BT, PT, APTT untuk mengetahui apakah memanjang waktu
pendarahan dan pembekuan karena berhubungan dengan saat
pencabutan sheath
e) HbsAg untuk mencegah terjadinya penularan baik terhadap petugas
maupun kepasien lain
11) Mencatat obat yang diminum, ditunda atau dihentikan pemberiannya.
Obat hipertensi dan obat diureik tetap diberikan, sedangkan obat DM, anti
koagulan, ditunda pemberiannya sesuai dengan instruksi dokter
12) Menanyakan riwayat alergi pasien terhadap obat-obatan
13) Mengkaji keluhan pasien apakah ada nyeri dada, sesak nafas, pusing atau
keluhan yang lain
14) Mengganti pakaian pasien dengan pakaian rumah sakit, termasuk pakaian
dalam dilepas
15) Memberitahu kepada pasien bahwa alat bantu seperti kaca mata, alat
bantu dengar (hearing aid), gigi palsu boleh tetap dipakai selama tindakan
untuk lebih memudahkan berkomunikasi dengan pasien tetapi tetap
diinformasikan pada saat serah terima pasien dengan petugas diruang
tindakan
16) Melakukan allent test bila tindakan dilakukan melalui arteri radialis, untuk
melihat sirkulasi darah ditangan pasien. Teknik menilai allen test:
a) Anjurkan pasien untuk mengepal tangannya dengan kuat selama 3-
15 menit.
b) Periksa pulsasi arteri radialis kemudian tekan arteri radialis dengan
tiga jari tangaan kiri/ibu jari dan tekan arteri uinaris dengan tiga
jari tangan kanan/ibu jari secara bersamaan.
c) Buka kepalan tangan pasien , telapak tangan akan terlihat pucat.
d) Lepas tekanan arteri ulnaris, arteri radialis tetap ditekan.
e) Lihat jika refeskuler 1-3 detik berarti arteri ulnaris baik dan
tindakan dapat dilakukan melalui arteri radialis.
b. Persiapan mental
1) Mengkaji pengetahuan pasien mengenai tindakan kateterisasi jantung
2) Bila pasien belum mendapat penjelasan, fasilitasi agar dokter/asisten
dokter untuk menjelaskannya
3) Memberi penjelasan hal-hal yang mungkin diperlukan saat dilakukan
tindakan seperti cara nafas dalam dan batuk efektif dan juga
memberitahukan keluhan yang mungkin timbul saat tindakan kepada
petugas atau perawat
4) Melakukan pendekatan spiritual dengan mengajak berdoa
c. Persiapan pasien dari ruangan / rawat inap
Persiapan sama seperti pasien datang dari rumah , hanya saja persiapannya
dilakukan oleh perawat ruangan. Jadi perawat di ruang pre keteterisasi hanya
dilakukan serah terima pasien dengan petugas ruangan dan memeriksa
kembali kelengkapan persiapan administrasi fisik dan mental pasien serta
membuat form laporan kateterisasi jantung untuk pasien yang akan dilakukan
tindakan koroner angiografi dan form laporan angioplasti koroner untuk
pasien yang akan dilakukan tindakan PTCA, ablasi dan sejenisnya
d. Persiapan Administrasi
1) Surat ijin tindakan/inform concent.
2) Surat pernyataan pembayaran (keuangan).

7. Perawatan Pasien Pasca Tindakan


Perawatan pasien pasca tindakan angiografi koroner menurut Rokhaeni,
Purnamasari & Rahayoe (2001) adalah
a. Observasi keluhan pasien.
b. Observasi tanda-tanda vital setiap 15 menit selama 1 jam dan 30 menit selama
2 jam sampai stabil.
c. Observasi perdarahan dengan melakukan tindakan:
1) Mengevaluasi area bekas tusukan femoral sheath.
2) Gunakan penekanan dengan bantal pasir.
3) Immobilisasi ekstremitas pada daerah tusukan selama 8-12 jam post
tindakan.
4) Libatkan keluarga/pasien untuk mengamati daerah tusukan, mungkin
terjadi perdarahan.
d. Observasi tanda-tanda dan efek samping zat kontras
1) Observasi tanda-tanda alergi kontras seperti gatal-gatal, menggigil,
mual dan muntah.
2) Observasi tanda hipotensi dan perubahan tanda vital.
3) Pemberian cairan/volume peroral/parenteral.
4) Ukur cairan yang masuk dan keluar.
e. Observasi tanda-tanda infeksi meliputi:
1) Observasi daerah luka dari sesuatu yang tidak aseptik/septik.
2) Selalu menjaga kesterilan area penusukan.
3) Observasi adanya perubahan warna, suhu pada luka tusukan.
f. Observasi tanda-tanda gangguan sirkulasi ke perifer.
1) Palpasi arteri poplitea, dorsalis pedis, pada sisi arteri yang kita lakukan
penusukan seiap 15 menit (1 jam), 30 menit (2 jam) antara kanan dan
kiri dibandingkan.
2) Bila terjadi gangguan(nadi lemah/tak teraba), beritahu dokter biasanya
diberikan obat antikoagulan bolus atau bisa dilanjutkan dengan
pemberian terus menerus (kontinyu).
3) Observasi kehangatan daerah ekstremitas kanan dan kiri kemudian
dibandingkan.

C. Penekanan Mekanikal Menggunakan Bantal Pasir Pasca Angiografi Koroner


Bantal pasir pada pasien pasca angiografi koroner mempunyai tujuan membantu
mengurangi komplikasi yang timbul akibat pencabutan femoral sheath. Penelitian
tentang penggunaan bantal pasir sebagai penekan mekanik salah satunya dilakukan
oleh Yilmaz, Gurgun dan Dramali (2007) yang bertujuan untuk mengevaluasi efek
menempatkan karung pasir di situs akses femoralis setelah prosedur invasif jantung
dan mengubah posisi pasien di tempat tidur pada tingkat komplikasi pembuluh darah
dan beratnya nyeri punggung yang berkaitan dengan masa istirahat setelah prosedur
yang menghasilkan angka kejadian komplikasi vaskular tidak berbeda nyata pada
kelompok dengan penerapan karung pasir bila dibandingkan dengan kelompok tanpa
penerapan karung pasir. Sakit punggung dilaporkan lebih sering pada pasien yang
posisinya tidak berubah dan yang kepala tempat tidur tidak dibesarkan sehingga
kesimpulan yang diperoleh adalah karung pasir tidak efektif dalam mengurangi
kejadian komplikasi vaskular setelah prosedur sedangkan untuk meningkatkan
kenyamanan dan untuk mengurangi nyeri punggung pasien, posisi pasien harus
diubah dan kepala tempat tidur tersebut harus ditinggikan sekitar 30 atau 45 derajat
dari posisi semula.

D. Resume Jurnal