Anda di halaman 1dari 6

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

“Hubungan Caring Dalam Praktik Keperawatan”

ESAI
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas individu mata kuliah Konsep Dasar
Keperawatan

Disusun oleh :

Firman Sugiharto (220110170007)

Kelompok Tutor A

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2018
HUBUNGAN CARING DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN

Caring adalah suatu proses yang berkembang sepanjang waktu agar suatu
hubungan bertambah dalam/kuat dan mengalami transformasi yang bermakna, sehingga
memberikan manfaat bagi kehidupan perawat maupun pasien (Mayerhoff,1990, dalam
Bermam & Synder,2012). Caring merupakan hal pokok yang harus dimiliki oleh seorang
perawat profesional, karena caring adalah “The art of nursing” dimana maksud dari istilah
tersebut caring menjadi fokus utama dan kunci bagi seorang perawat dalam
memperlakukan seorang client/pasien dalam segi pelayanannya. Seorang perawat yang
masih belum menerapkan perilaku caring belum bisa dikatakan sebagai seorang perawat
profesional. Perlu adanya perilaku caring dalam diri seorang perawat, karena caring adalah
suatu hal yang fundametal dalam profesi keperawatan. Hal inilah yang membedakan
profesi keperawatan dengan profesi kesehatan lainnya (Azizi-Fini et al,.2012). Caring
disini maksudnya memberi perhatian, sikap peduli, sikap empati dan simpati, sikap
kesedihan dan sifat keikhalasan yang harus diterapkan oleh seorang perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan.
Caring merupakan suatu hal yang konsepnya sulit untuk dipahami karena
bahasannya sangat kompleks, dan untuk mengartikannya saja sangat sulit. Karenanya,
banyak para ahli yang beranggapan lebih mudah untuk menjelaskan perilaku caring di
bandingkan makna caring itu sendiri. Secara umum perilaku caring merupakan tindakan
yang di khususkan untuk kesembuhan dan kesejahteraan client atau pasien. Banyak sekali
manfaat caring tersendiri bagi perawat salah satunya yaitu membawa nama baik profesi
keperawatan di muka umum sehingga bisa menjadi bahan bicara yang bernilai positif dan
yang pastinya mengangkat citra diri seorang perawat di dunia profesi.
Saat seorang memilih menjadi perawat, maka ia telah membuat komitmen moral
untuk melayani semua pasien (Lachman,2012). Perilaku caring bukan hanya hal tolong-
menolong atau saling membantu, namun perilaku ini sangat melibatkan moral dan nilai-
nilai yang terkandung dalam proses keperawatan yang bersifat fundamental tersebut. Hal
ini nantinya akan di implementasikan oleh seorang perawat dalam cangkupan asuhan
pelayanan kesehatan kepada pasien/client yang bertujuan untuk memudahkan proses
hubungan interpersonal antara perawat dengan client.
International Council of Nurse (ICN,2014) menegaskan bahwa perawat memiliki
tanggung jawab profesional untuk melaksanakan berbagai peran, baik yang berifat otonom
maupun kolaboratif seperti, promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, pemberian
pelayanan, advokat, manajer, peneliti dan pendidik. Untuk melaksanakan hal-hal yang
berkaitan diatas adalah tentunya dengan kita bersikap caring dalam pelaksanaannya. Oleh
sebab itu, perawat yang tidak dapat melaksanakan praktik dalam konteks caring akan
menjadi perawat yang kaku, kurang peka, seperti robot, merasa ketakutan,dan mudah lelah
(Swanson, 1999, dalam watson & Foster, 2003). Maksud dari bersifat otonom sendiri
adalah di mana pelayanan atau peran dari perawat hanya bisa dilakukan oleh seorang
perawat saja, namun disini bisa dilihat situasional atau dalam keadaan biasa. Sedangkan
untuk bersifat kolaboratif, disini peran perawat berkolaborasi dengan ahli kesehatan
lainnya seperti, dokter, dan apoteker. Dalam mendalami peran ini, seorang perawat harus
menanamkan sifat caring, seperti yang kita tahu bahwa caring itu melekat bagaikan roh
dalam diri seorang perawat. Jadi sepatutnya kita sebagai calon perawat masa depan harus
membiasakan perilaku caring dalam kehidupan kesehariannya.
Keperawatan adalah suatu bagian dari integral dari layanan kesehatan yang mana
dalam pelayanannya melibatkan praktik 2 orang atau lebih untuk memberikan asuhan
keperawatan kepada orang yang tergolong lemah dalam fisik dan tidak mampu lagi untuk
memenuhi kebutuhan dasar manusianya sendiri. Disinilah peran perawat yang terpenting
yakni memberikan support, memberikan motivasi, dan memberikan pelayanan yang sesuai
dengan kebutuhan client di mana semua hal tersebut harus disikapi dengan penuh rasa
kesabaran, ramah, dan rasa kepekaan terhadap kepedulian antar sesama manusia.
Namun, sekarang-sekarang ini banyak sekali isu yang tersebar di televisi atau social
media terkait dengan sikap seorang perawat terhadap client. Ironis sekali kita sebagai calon
perawat masa depan melihat hal keji seperti ini, masih banyak skandal-skandal yang
mencoreng nama baik profesi keperawatan, hal ini disebabkan karena rasa kepedulian dan
rasa kepekaan kita terhadap client masih kurang dan berdampak kepada pelayanan yang di
berikan. Banyak sekali pasien yang memang memprotes sikap perawat dalam segi perilaku
dan pelayanannya, sikap yang dimaksud yakni sikap cuek, sikap arrogan, sikap judes dan
sifat jelek lainnya. Semua hal seperti itu seharusnya menjadi bahan intropeksi diri kita
sebagai calon seorang perawat masa depan, karena kepuasan seorang client terhadap
pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit yang dilaksanakan oleh perawat adalah
menjadi tujuan pokok/utama dari pelayanan kesehatan itu sendiri. Sayangnya, sekarang ini
banyak sekali perawat-perawat di Indonesia mengabaikan tujuan tersebut yang akibatnya
bisa menjadi fatal bagi profesinya.
Dalam praktiknya, perilaku caring menjadi jembatan antara perawat dengan client
saat melakukan interakasi dan layanan kesehatan dengan perawat memahami dan
memaknai benar akan sikap caring ini, perawat lebih bisa memahami, merasakan apa yang
dirasakan client , dan perawat juga bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan client agar
kedepannya bisa menjadi bahan pertimbangan dalam pemberian asuhan keperawatan.
Caring dalam dunia keperawatan sendiri pada dasarnya untuk membina suatu hubungan
kepercayaan antara perawat dengan client. Caring terjadi setiap kali perawat melakukan
kontak dengan pasien dan dapat di amati melalui perilaku-perilaku perawat pada saat
melayani pasien (Watson,1985, dalam Udomluck, Tonmukayakul, Tiansawad, dan
Srisuphan,2010)
Teori yang berhubungan dengan Caring sendiri salah satunya yaitu Teori “Human
Caring” atau bisa disebut dengan Human Caring Science, yakni teori yang di besarkan
oleh seorang ahli keperawatan psikiatri yakni Jean Watson, teori ini mencangkup segala
aspek caring dalam keperawatan dan diterapkan dalam bentuk 10 carractive faktor yang
perlu di implementasikan oleh seorang perawat dalam praktiknya salah satunya yaitu
“membentuk sistem nilai humanistic-alturistik”. Teori ini berpacu kepada konsep
kebutuhan kemanusiaan, di mana semua hal tentang kemanusiaan terdapat dalam teori ini
baik dari segi kebuhtuhan dasar manusia terendah sampai kebutuhan dasar manusia paling
tinggi. Carractive factors ini mengalami perkembangan menjadi Caritas Processes dan
mengalami pengupgradean atau perkembangan menjadi Caritas Literaly sejak tahun 2010.
Apa yang membedakan Carractive factors dengan Caritas Processes, yang menjadi
pembeda yaitu carritas processes lebih mengutamakan filosofi,spiritual, dan terdapat
proses-proses yang berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia itu sendiri.
Konsep utama lain yang dikembangkan oleh Jean Watson ini selain dari Caritas
Processes tersebut ada juga yang dinamakan Transpersonal Caring Relationship. Pada
dasarnya konsep ini bertujuan untuk proses saling mengenal lebih dekat antara pasien
dengan perawat, sehingga perawat akan memasuki dunia pasien dan nantinya perawat akan
menganalisa dari kekurangan dan kelebihan pasien itu sendiri (inner healing), hal ini
berfungsi untuk mempermudah dalam proses perencanaan asuhan keperawatan yang
nantinya akan diberikan. Output dari konsep ini sendiri yaitu menciptakan kondisi terbaik
dari pasien sehingga pasien bisa mengenal inner healing dan hal lainnya yang ada di
sekitarnya, sehingga nantinya akan tercipta proses caring-healing.
Konsep utama yang terakhir adalah Caring Occasio/Caring Moment. Caring
moment adalah tempat terjadinya hubungan baik antara pasien dengan perawat dimana
hubungan yang dimaksud adalah Transpersonal Caring Relationship. Caring moment
disini adalah suatu proses dalam penerapan perilaku caring seorang perawat kepada pasien
dan nantinya kedua belah pihak akan memutuskan hubungan apa yang mereka jalin.
Dibawah ini adalah contoh penerapan dari teori Jean Watson yang mengalami
Evolusi Carative Factors (1979, 1985) menjadi Caritas Processes (2002-2008).

Tabel 1. Evolusi dari Watson’s Carative Factors Original


Carative Factors (1979, 1985) Caritas Processes (2002-2008)
1. Sistem nilai humanistik-altruistik Praktik mengasihi (compassion) &
(kemanusiaan-mengutamakan berdamai dengan diri sendiri/orang lain
kepentingan orang lain)
2. Memfasilitasi keyakinan-harapan memberikan kesempatan pada sistem
Secara tulus ‘ada’ untuk sesama keyakinan dan dunia/kehidupan
pribadi/orang lain untuk diakui

3. Menumbuhkan kepekaan terhadap tidak berpusat pada diri sendiri (ego-self),


diri sendiri dan orang lain tetapi lebih berpusat pada kehadiran
Mengembangkan praktik spiritual transpersonal secara tulus
pribadi
4. Hubungan kemanusiaan, saling Mengembangkan hubungan penuh kasih
membantu dan saling percaya sayang, kepercayaan, dan caring
(Helping-trusting, human care
relationship)
5. Mengekspresikan semua perasaan Memberikan kesempatan untuk
positif dan negatif mengekspresikan semua perasaan,
mendengarkan dengan tulus dan menjadi
tempat curahan hati yang dapat dipercaya
6. Proses caring dengan pendekatan Mencari/menemukan solusi kreatif melalui
problem-solving yang kreatif proses caring; menggunakan (potensi) diri
secara utuh/penuh; melalui proses
mengetahui/melakukan/menjadi
(knowing/doing/being
7. Pembelajaran lintas personal Proses pembelajaran yang tulus dan nyata
(Transpersonal teaching-learning) dalam konteks caring relationship

8. Memberikan lingkungan mental, Membangun lingkungan bagi


fisik, sosial dan spiritual yang dapat kesembuhan/pemulihan pada semua
mendukung, melindungi, dan/atau tingkatan (bio-psiko-sosio-spiritual)
memperbaiki kondisi
9. Bantuan pemenuhan kebutuhan Memberikan bantuan pemenuhan kebutuhan
dasar manusia dasar dengan penuh sikap menghormati dan
menghargai, memiliki niat yang tulus dan
kesadaran caring (caring consciousness)
untuk ‘menyentuh’ jiwa sesama, menerima
bahwa misteri kehidupan itu ada

10. Menerima bahwa terdapat Terbuka dan melibatkan dimensi-dimensi


kekuatankekuatan yang bersifat yang bersifat spiritual, misterius-tidak
eksistensialfenomenologis-spiritual diketahui, dan eksistensial (terkait dengan
keberadaan diri dan kehidupan di alam
semesta) dari hidup, mati, penderitaan,
kesedihan, kegembiraan, dan transisi dalam
hidup, termasuk mempercayai adanya
mukjizat/keajaiban dalam proses
kesembuhan

(Watson, 2012, hal. 47).