Anda di halaman 1dari 16

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kanker Payudara

2.1.1 Definisi

Kanker payudara adalah tumor ganas pada jaringan payudara. Jaringan

payudara terdiri dari kelenjar susu (kelenjar pembuat air susu), saluran kelenjar

(saluran air susu), dan jaringan penunjang payudara. Menurut World Health

Organization (WHO) penyakit ini dimasukkan ke dalam International

Classification of Disease (ICD) dengan kode 174-175 (Heffner, 2008).

Kanker payudara terjadi karena adanya kerusakan pada gen yang mengatur

pertumbuhan dan diffrensiasi sehingga sel itu tumbuh dan berkembang biak

tanpa dapat dikendalikan. Penyebaran kanker payudara terjadi melalui pembuluh

getah bening dan tumbuh di kelenjar getah bening, sehingga kelenjar getah

bening aksila ataupun supraklavikula membesar. Kemudian melalui pembuluh

darah kanker menyebar ke organ lain seperti paru-paru, hati dan otak (Sabiston,

2009).

2.1.2 Epidemiologi

Semua wanita memiliki risiko terkena kanker payudara. Kanker payudara

juga bisa menyerang pria dengan perbandingan 1: 100 antara pria dengan wanita

(Moningkey, 2007).

Kanker payudara ditemukan di seluruh dunia. Tahun 2006, insiden kanker

payudara di Belanda 91/100.000 penduduk, Amerika 71,7/100.000 penduduk,

6
7

Swiss 70/100.000 wanita, Australia 83,2/100.000 penduduk, Kanada 84,7,

Indonesia 26/100.000 wanita pada tahun 2006 dan Jepang 16/100.000 penduduk

(Moningkey, 2007).

Kanker payudara lebih sering dijumpai pada umur 40-49 tahun yaitu

sebesar 30,35%. Menurut Sukardja yang dikutip oleh Arlinda (2009) di Amerika

frekuensi kanker payudara tertinggi ditemukan pada umur 40-50 tahun.

Demikian juga di Jepang yaitu sebesar 40,6% kanker payudara ditemukan pada

umur 40-49 tahun dan jarang pada umur kurang dari 30 tahun (Medicastore,

2010).

2.1.3 Determinan

Penyebab pasti kanker payudara sampai saat ini belum diketahui. Penyebab

kanker payudara termasuk multifaktorial yaitu banyak faktor yang terkait satu

dengan yang lainnya. Beberapa faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya kanker

payudara adalah (Kanisius, 2010) :

a. Usia

Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya usia. Berdasarkan

penelitian American Cancer Society tahun 2006 diketahui usia lebih dari 40 tahun

mempunyai resiko yang lebih besar untuk mendapatkan kanker payudara yakni 1/68

penduduk dan resiko ini akan bertambah seiring dengan pertambahan usia yakni

menjadi 1/37 penduduk usia 50 tahun, 1/26 penduduk usia 60 tahun dan 1/24

penduduk usia 70 tahun. Kanker payudara juga ditemukan pada usia <40 tahun

namun jumlahnya lebih sedikit yakni 1/1.985 penduduk usia 20 tahun dan 1/225

penduduk usia 30 tahun. Data American Cancer Society (2008) melaporkan 70%

7
8

perempuan didiagnosa menderita kanker payudara di atas usia 55 tahun (Kanisius,

2010).

b. Jenis Kelamin

Kanker payudara lebih banyak ditemukan pada wanita. Pada pria juga dapat

terjadi kanker payudara, namun frekuensinya jarang hanya kira-kira 1% dari kanker

payudara pada wanita (Kanisius, 2010).

c. Riwayat Reproduksi

Riwayat reproduksi dihubungkan dengan banyak paritas, umur melahirkan

anak pertama dan riwayat menyusui anak. Wanita yang tidak mempunyai anak atau

yang melahirkan anak pertama di usia lebih dari 30 tahun berisiko 2-4 kali lebih

tinggi daripada wanita yang melahirkan pertama di bawah usia 30 tahun. Wanita

yang tidak menyusui anaknya mempunyai risiko kanker payudara 2 kali lebih besar.

Kehamilan dan menyusui mengurangi risiko wanita untuk terpapar dengan hormone

estrogen terus. Pada wanita menyusui, kelenjar payudara dapat berfungsi secara

normal dalam proses laktasi dan menstimulir sekresi hormon progesteron yang

bersifat melindungi wanita dari kanker payudara (Kanisius, 2010).

d. Riwayat Kanker Individu

Penderita yang pernah mengalami infeksi atau operasi tumor jinak payudara

berisiko 3-9 kali lebih besar untuk menderita kanker payudara. Penderita tumor jinak

payudara seperti kelainan fibrokistik berisiko 11 kali dari penderita yang mengalami

operasi tumor ovarium mempunyai risiko 3-4 kali lebih besar (Kanisius, 2010).

8
9

e. Riwayat Kanker Keluarga

Secara genetik, sel-sel pada tubuh individu dengan riwayat keluarga menderita

kanker sudah memiliki sifat sebagai embrio terjadinya sel kanker. Menurut Sutjipto

(2009) yang dikutip oleh Elisabet T, kemungkinan terkena kanker payudara lebih

besar 2 hingga 4 kali pada wanita yang ibu dan saudara perempuannya mengidap

penyakit kanker payudara (Kanisius, 2010).

f. Menstruasi cepat dan Menopause lambat

Wanita yang mengalami menstruasi pertama (Menarche) pada usia kurang dari

12 tahun berisiko 1,7 hingga 3,4 kali lebih tinggi daripada wanita dengan menstruasi

yang datang pada usia normal atau lebih dari 12 tahun dan wanita yang mengalami

masa menopausenya terlambat lebih dari 55 tahun berisiko 2,5 hingga 5 kali lebih

tinggi. Wanita yang menstruasi pertama di usia kurang dari 12 tahun dan wanita yang

mengalami masa menopause terlambat akan mengalami siklus menstruasi lebih lama

sepanjang hidupnya yang mengakibatkan keterpaparan lebih lama dengan hormon

estrogen (Kanisius, 2010).

g. Pajanan Radiasi

Wanita yang terpapar penyinaran (radiasi) dengan dosis tinggi di dinding dada

berisiko 2 hingga 3 kali lebih tinggi (Kanisius, 2010).

h. Obesitas dan Konsumsi makanan lemak tinggi

Wanita yang mengalami kelebihan berta badan (obesitas) dan individu dengan

konsumsi tinggi lemak berisiko 2 kali lebih tinggi dari yang tidak obesitas dan yang

tidak sering mengkonsumsi makanan tinggi lemak. Resiko ini terjadi karena jumlah

9
10

lemak yang berlebihan dapat meningkatkan kadar estrogen dalam darah sehingga

akan memicu pertumbuhan sel-sel kanker (Kanisius, 2010).

2.1.4 Gejala

a. Fase awal kanker payudara asimtomatik (tanpa tanda dan gejala). Tanda dan

gejala yang paling umum adalah benjolan dan penebalan pada payudara.

Kebanyakan kira-kira 90% ditemukan oleh penderita sendiri. Kanker

payudara pada stadium dini biasanya tidak menimbulkan keluhan (Jong,

2005).

b. Fase lanjut :

1. Bentuk dan ukuran payudara berubah, berbeda dari sebelumnya.

2. Luka pada payudara sudah lama tidak sembuh walau sudah diobati.

3. Eksim pada puting susu dan sekitarnya sudah lama tidak sembuh

walau diobati.

4. Puting sakit, keluar darah, nanah atau cairan encer dari puting atau keluar

air susu pada wanita yang sedang hamil atau tidak menyusui.

5. Puting susu tertarik ke dalam.

6. Kulit payudara mengerut seperti kulit jeruk (peud d’orange) (Jong,

2005).

c. Metastase luas, berupa :

1. Pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula dan servikal.

2. Hasil rontgen toraks abnormal dengan atau tanpa efusi pleura.

3. Peningkatan alkali fosfatase atau nyeri tulang berkaitan dengan

penyebaran ke tulang.

10
11

4. Fungsi hati abnormal (Jong, 2005).

Di Indonesia, kanker payudara masih menjadi masalah besar karena lebih dari

70% pasien datang ke dokter pada stadium yang sudah lanjut dengan berbagai bentuk

luka, antara lain tumor melekat pada kulit dan jaringan dibawahnya serta penyebaran

pada kelenjar getah bening regional. Gejala lain yang mungkin timbul adalah batuk

dan sesak nafas karena metastasis tumor pada paru, sakit di punggung akibat

metastasis pada tulang belakang, berat badan semakin menurun dan anemia (Pane M,

2009).

2.1.5 Stadium

Dibawah ini pembagian stadium klinis Portman yang disesuaikan dengan

aplikasi klinik (Schrock, 2006) :

a. Stadium I : Tumor terbatas dalam payudara, bebas dari jaringan sekitarnya, tidak

ada klasifikasi infiltrasi berkulit dan jaringan dibawahnya. Besar tumor 1-2 cm.

KGB (Kelenjar Getah Bening) regional belum teraba.

b. Stadium II : Sama dengan stadium I, besar tumor 2-5 cm, sudah ada KGB aksila

(+), tetapi masih bebas dengan diameter kurang 2 cm.

c. Stadium IIIA : Tumor berukuran 5-10 cm, tetapi masih bebas dari jaringan

sekitarnya, KGB aksila masih bebas satu sama lain.

d. Stadium IIIB : Tumor meluas dalam jaringan payudara ukuran 5-10 cm, fiksasi

pada kulit/ dinding dada, kulit merah dan ada edema (lebih dari 1/3 permukaan

kulit payudara), ulserasi, nodul satelit, KGB aksila melekat satu sama lain atau

ke jaringan sekitarnya dengan diameter 2-5 cm dan belum ada metastasis jauh.

11
12

e. Stadium IV : Tumor seperti stadium I, II atau III tetapi sudah disertai dengan KGB

aksila supraklavikula dan metastasis jauh.

Selain itu, Bagian Patologi Anatomi FK UI membagi stadium klinik kanker

payudara atas stadium dini dan lanjut. Yang termasuk stadium dini adalah stadium I,

stadium II dan stadium IIIA, sedangkan yang termasuk stadium lanjut adalah stadium

IIIB dan stadium IV (Schrock, 2006).

2.1.6 Pencegahan Kanker Payudara

Pencegahan kanker payudara adalah pencegahan yang bertujuan menurunkan

insidens kanker payudara dan secara tidak langsung akan menurunkan angka

kematian akibat kanker payudara (Otto, 2008).

a. Pencegahan Primordial

Pencegahan primordial yaitu upaya pencegahan yang ditujukan kepada orang

sehat yang belum memiliki faktor risiko. Upaya ini dimaksudkan dengan

menciptakan kondisi pada masyarakat yang memungkinkan kanker payudara tidak

mendapat dukungan dasar dari kebiasaan, gaya hidup dan faktor risiko lainnya.

Pencegahan primordial dilakukan melalui promosi kesehatan yang ditujukan pada

orang sehat melalui upaya pola hidup sehat (Otto, 2008).

b. Pencegahan Primer

Pencegahan primer pada kanker payudara dilakukan pada orang sehat yang

sudah memiliki faktor risiko untuk terkena kanker payudara. Pencegahan primer

dilakukan melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan berbagai faktor risiko

dan melaksanakan pola hidup sehat (Otto, 2008).

12
13

Konsep dasar dari pencegahan primer adalah menurunkan insidens kanker

payudara yang dapat dilakukan dengan (Otto, 2008). :

1. Mengurangi makanan yang mengandung lemak tinggi.

2. Memperbanyak aktivitas fisik dengan berolah raga.

3. Menghindari terlalu banyak terkena sinar-x atau jenis radiasi lainnya.

4. Mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak serat. Serat akan menyerap

zat-zat yang bersifat karsinogen dan lemak, yang kemudian membawanya

keluar melalui feses.

5. Mengkonsumsi produk kedelai serta produk olahannya seperti tahu atau

tempe. Kedelai mengandung flonoid yang berguna untuk mencegah kanker dan

genestein yang berfungsi sebagai estrogen nabati (fitoestrogen). Estrogen nabati

ini akan menempel pada reseptor estrogen sel-sel epitel saluran kelenjar susu,

sehingga akan menghalangi estrogen asli untuk menempel pada saluran susu yang

akan merangsang tumbuhnya sel kanker.

6. Memperbanyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran, terutama yang

mengandung vitamin C, zat antioksidan dan fitokimia seperti jeruk, wortel, tomat,

labu, pepaya, mangga, brokoli, lobak, kangkung, kacang-kacangan dan biji-bijian.

Hampir setiap kanker payudara ditemukan pertama kali oleh penderita sendiri

daripada oleh dokter. Karena itu, wanita harus mewaspadai setiap perubahan yang

terjadi pada payudara. Untuk mengetahui perubahan-perubahan tersebut dilakukan

pemeriksaan sederhana yang disebut pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)

(Rasjidi, 2010).

13
14

SADARI sebaiknya dilakukan setiap bulan secara teratur. Cara ini sangat

efektif di Indonesia karena tidak semua rumah sakit menyediakan fasilitas

pemeriksaan memadai. Kebiasaan ini memudahkan kita untuk menemukan

perubahan pada payudara dari bulan ke bulan. Pemeriksaan optimum dilakukan pada

sekitar 7-14 hari setelah awal siklus menstruasi karena pada masa itu retensi cairan

minimal dan payudara dalam keadaan lembut dan tidak membengkak sehingga jika

ada pembengkakan akan lebih mudah ditemukan. Jika sudah menopause maka

pilihlah satu hari tertentu, misalnya hari pertama untuk mengingatkan melakukan

SADARI setiap bulan (Rasjidi, 2010).

c. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder ditujukan untuk mengobati para penderita dan

mengurangi akibat-akibat yang lebih serius dari penyakit kanker payudara melalui

diagnosa dan deteksi dini dan pemberian pengobatan (Otto, 2009).

1. Diagnosa Kanker Payudara

Diagnosa kanker payudara dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan

yaitu:

a) Anamnesa

1) Anamnesa terhadap keluhan di payudara atau ketiak apakah ada benjolan, rasa

sakit, edema lengan atau kelainan kulit.

2) Anamnesa terhadap keluhan di tempat lain berhubungan dengan metastasis

seperti nyeri tulang vertebrata, sesak, batuk dan lain-lain.

3) Anamnesa terhadap faktor-faktor risiko (usia, riwayat keluarga, riwayat kanker

individu dan konsumsi lemak) (Otto, 2009).

14
15

b) Pemeriksaan Fisik

Ketepatan mendiagnosa kanker payudara dengan pemeriksaan fisik sekitar

70%. Pemeriksaan fisik dilakukan terhadap status lokalis payudara kanan atau kiri

atau bilateral dan penderita harus diperiksa dalam posisi duduk dan terlentang.

Kemudian payudara diperiksa sehubungan dengan perubahan kulit, perubahan puting

susu, status kelenjar getah bening dan pemeriksaan pada lokasi metastasis jauh (Otto,

2009).

c) Pemeriksaan Biopsi Jarum Halus

Pemeriksaan ini dilakukan pada lesi yang secara klinis dan radiologi dicurigai

ganas. Biopsi jarum halus dilakukan dengan menusuk tumor dengan jarum halus dan

disedot dengan spuit 10 cc sampai jaringan tumor lepas dan masuk ke dalam jarum.

Kemudian jaringan tumor diperiksa di laboratorium oleh ahli Patologi Anatomi

untuk mengetahui apakah jaringan tersebut ganas (maligna) atau jinak (benigna)

(Otto, 2009).

d) Pemeriksaan Radiologik

Pemeriksaan radiologik dilakukan dengan menggunakan Mammografi dan

USG (Ultrasonografi) payudara. Mammografi merupakan tindakan pemeriksaan

payudara dengan menggunakan sinar X berintensitas rendah. Tujuan pemeriksaan

ini adalah untuk melihat ada tidaknya benjolan pada payudara. Pemeriksaan ini

dapat digunakan untuk perempuan dengan keluhan perihal payudara, baik setelah

ditemukan maupun sebelum ditemukan adanya benjolan dan sebagai check up

kanker payudara (Otto, 2009).

15
16

American Cancer Society dalam programnya menganjurkan sebagai berikut :

a. Untuk perempuan berumur 35-39 tahun, cukup dilakukan 1 kali

mammografi dasar (Baseline Mammogram).

b. Untuk perempuan berumur 40-50 tahun, mammografi silakukan 1 atau 2 tahun

sekali.

c. Untuk perempuan berumur di atas 50 tahun, mammografi dilakukan setahun

sekali.

USG sangat bermanfaat jika digunakan bersamaan dengan mammografi untuk

tujuan diagnostik untuk membantu membedakan kista berisi cairan atau solid. Untuk

menentukan stadium dapat menggunakan foto thoraks, USG abdomen, Bone

Scanning (Scan tulang) dan CT Scan (Otto, 2008).

2. Pengobatan

Ada beberapa pengobatan kanker payudara yang penerapannya banyak

tergantung pada stadium klinis penyakit, yaitu (Medicastore, 2008) :

a) Pembedahan (Operasi)

Operasi adalah terapi untuk membuang tumor, memperbaiki komplikasi dan

merekonstruksi efek yang ada melalui operasi. Namun tidak semua stadium kanker

dapat disembuhkan atau dihilangkan dengan cara ini. Semakin dini kanker payudara

ditemukan kemungkinan sembuh dengan operasi semakin besar.

b) Pengangkatan Kelenjar Getah Bening (KGB) Ketiak.

Pengangkatan KGB Ketiak dilakukan terhadap penderita kanker payudara yang

menyebar tetapi besar tumornya lebih dari 2,5cm.

16
17

c) Terapi Radiasi

Radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan

menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang

masih tersisa di payudara setelah operasi. Efek pengobatan ini adalah tubuh menjadi

lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam serta

Hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.

d) Kemoterapi

Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil

cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker. Obat –

obatan ini tidak hanya membunuh sel kanker pada payudara , tetapi juga seluruh sel

dalam tubuh. Efek dari kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta

rambut rontok.

e) Terapi Hormon

Pemberian hormone dilakukan apabila penyakit telah sistemik berupa

metastasis jauh. Terapi hormonal biasanya diberikan secara paliatif sebelum

kemoterapi.

d. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier bertujuan untuk mengurangi terjadinya komplikasi yang

lebih berat dan memberikan penanganan yang tepat pada penderita kanker payudara

sesuai dengan stadiumnya untuk mengurangi kecacatan dan memperpanjang hidup

penderita. Pencegahan tersier ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup

penderita, meneruskan pengobatan serta memberikan dukungan psikologis bagi

penderita (Medicastore, 2008).

17
18

Upaya rehabilitasi terhadap penderita kanker payudara dilakukan dalam

bentuk rehabilitasi medik serta rehabilitasi jiwa dan sosial. Rehabilitasi medik

dilakukan untuk mempertahankan keadaan penderita pasca operasi atau pasca terapi

lainnya. Rehabilitasi jiwa dan sosial diberikan melalui dukungan moral dari orang-

orang terdekat dan konseling dari petugas kesehatan maupun tokoh agama (Nugroho,

2010).

2.2 Faktor-faktor yang Diteliti Berhubungan Dengan Kejadian Kanker

Payudara

2.2.1 Umur

Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan di dalam penelitian-

penelitian epidemiologi. Angka-angka sakit maupun kematian hampir semua

keadaan menunjukan berhubungan dengan umur. Umur dalam kamus besar

bahasa Indonesia adalah waktu hidup atau ada sejak dilahirkan. Umur adalah

usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun.

(Notoatmodjo, 2008).

Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya usia. Berdasarkan

penelitian American Cancer Society tahun 2006 diketahui usia lebih dari 40

tahun mempunyai risiko yang lebih besar untuk mendapatkan kanker

payudara yakni 1 per 68 penduduk dan risiko ini akan bertambah seiring

dengan pertambahan usia yakni menjadi 1 per 37 penduduk usia 50 tahun, 1

per 26 penduduk usia 60 tahun dan 1 per 24 penduduk usia 70 tahun. Kanker

payudara juga ditemukan pada usia <40 tahun namun jumlahnya lebih sedikit

yakni 1 per 1.985 penduduk usia 20 tahun dan 1 per 225 penduduk usia 30

18
19

tahun. Data American Cancer Society (2008) melaporkan 70% perempuan

didiagnosa menderita kanker payudara di atas usia 55 tahun.

Tabel 2.1
Peningkatan Resiko Kanker Payudara Pada Wanita Yang Berusia
20 Tahun

Usia Jumlah kanker yang terdiagnosis


25 1 dari 19.608
30 1 dari 2.525
35 1 dari 622
40 1 dari 217
45 1 dari 93
50 1 dari 50
55 1 dari 33
60 1 dari 24
65 1 dari 17
70 1 dari 14
75 1 dari 11
80 1 dari 10
85 1 dari 9
Seumur Hidup 1 dari 8
Sumber : Heffner dan Schust, 2008

2.2.2 Riwayat Keluarga

Ada dua jenis gen BRCA1 dan BRCA2 yang sangat mungkin menjadi faktor

risiko kanker payudara. Jika Ibu atau saudara wanita mengidap penyakit kanker

payudara, maka kemungkinan memiliki risiko untuk terkena kanker payudara dua

kali lipat dibandingkan wanita lain yang dalam keluarganya tidak ada seorang pun

pendent kanker (Admin, 2010).

Resiko kanker payudara terbesar untuk wanita di bawah usia 50 tahun yang

saudara perempuannya dan ibunya menderita kanker payudara. Keluarga wanita dari

seorang wanita dengan kanker payudara bilateral mempunyai resiko lima setengah

kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum dan jika kanker payudara bilateral

timbul sebelum menopause, maka resiko untuk keluarga meningkat sembilan kali

19
20

lipat. Perbaikan kelangsungan hidup 5 tahun relatif disesuaikan usia terbukti bila

dibandingkan dengan kanker payudara nonfamial sporadic yang ditata laksana dalam

cara konvensional. Interprestasi dan faktor resiko, penyuluhan genetika yang tepat

dan pengawasan anggota keluarga merupakan segi penting penatalaksanaan dokter

atas pasien kanker payudara. Resiko bagi keluarga wanita dari seorang wanita yang

menderita kanker hanya pada satu payudara sedikit Ieblh besar dibandingkan

populasi wanita rata-rata (Sabiston, 2008).

2.3 Penelitian Terkait

2.3.1 Umur

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lumban Gaol, dan Nourma Y

(2010) di RSUD Dr. Pirngadi Medan, didapatkan sosiodemografi tertinggi pada

kelompok umur >40 tahun (76,4%). Tidak ada perbedaan antara umur

berdasarkan stadium klinis (p = 0,736) dan lama rawatan rata – rata berdasarkan

keadaan sewaktu pulang (p = 0,646). Ada perbedaan antara jenis pengobatan

berdasarkan stadium klinis (p = 0,000). Pada wanita usia >40 tahun disarankan

untuk melakukan SADARI dan memeriksakan diri secara rutin ke rumah sakit

sebagai deteksi dini kanker payudara. Pada wanita dan pria yang menemukan

adanya benjolan di payudara maka disarankan agar segera memeriksakan diri

sehingga dapat segera ditangani. Pada pihak RSUD Dr. Pirngadi Medan

disarankan agar melengkapi sistem pencatatan kartu status penderita kanker

payudara meliputi riwayat penyakit keluarga penderita.

20
21

2.3.2 Riwayat Keluarga

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Azamris (2010) di RSUP Dr.

M. Djamil Padang Sumatera Barat, didapatkan faktor-faktor yang meningkatkan

risiko kanker payudara adalah tidak pernah hamil (OR = 5,91 ; C1 = 2,99-6,59),

lama menyusui sangat singkat (OR 4; C1 1,8715,7), menopause (OR 1,89),

bertempat tinggal di kota (OR 1,3), riwayat keluarga (OR 3,16; C1 1,41-5,74),

kegemukan (OR 2,29 ; C1 2,06-2,53), asupan lemak tinggi (OR 4,97;C1 2,45-

5,79) dan riwayat trauma tumpul payudara (OR 1,55; C1 1,09-3,25). Faktor-

faktor yang bukan faktor risiko adalah faktor status perkawinan, pendidikan dan

siklus menstruasi.

21

Beri Nilai