Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

“ANESTESI SPINAL PADA KISTA OVARIUM”

Pembimbing : dr. Ahmad Helmi Prasetyo, Sp. An

Disusun oleh:

Fadhilla Rahma Jodi Putri 2013730033

Mustika Dinna Wikantari 2013730156

Laela Rahmawati 2013730059

STASE ANESTESI
KEPANITERAAN KLINIK RUMAH SAKIT ISLAM PONDOK KOPI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
PERIODE 5 FEBRUARI – 3 MARET 2018
STATUS PASIEN BEDAH

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. H
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 47 tahun
Agama : Islam
Alamat : Jl. Nusa Indah 5/6 Rt.13/004 kel. Malaka Jaya Kec. Duren
sawit
No RM : 83 xx xx
Diagnosis : kista ovarium
Dokter Bedah : dr. Natsir, Sp.OG
Dokter Anestesi : dr. Ahmad Helmi P, Sp.An

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Mengalami gangguan perdarahan menstruasi yang tidak berhenti-henti sudah dari 4 bulan
yang lalu
Riwayat Alergi
Alergi terhadap obat, makanan, dan debu disangkal.
Riwayat Operasi dan Anestesi
Riwayat operasi dan anestesi disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi, diabetes, penyakit jantung, hepatitis, riwayat
asma dan penyakit berat lainnya disangkal.
Riwayat Psikososial
Suka minum minuman bersoda sejak muda.
Alkohol, Kopi, Teh, disangkal
Riwayat Keluarga
Kelainan perdarahan, diabetes melitus, serangan jantung, dan penyakit berat lainnya
disangkal. Riwayat keluarga yang pernah mengalami komplikasi selama operasi disangkal.
Riwayat Pengobatan
Pasien mengonsumsi obat yang diberikan dari rumah sakit. Riwayat pengobatan herbal dan
obat pengencer darah disangkal.
Riwayat Hal-Hal yang Digunakan Pasien
Adanya gigi palsu atau gigi goyang disangkal.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Tanda Vital
Tekanan darah : 147/74 mmHg
Suhu tubuh : 36.5 oC
Frekuensi denyut nadi : 94x/menit
Frekuensi nafas : 20x/menit
Antropometri

Berat Badan : 60 kg

Tinggi Badan : 163 cm

IMT : 22.6 (normal)

Status Generalis

Kepala : Normochepal

Mata : Diameter Pupil (3 mm/3 mm), Refleks pupil (+/+) Isokor,

Konjungtiva Anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-).

Hidung : Deformitas (-), Sekret (-)

Mulut : Mukosa bibir lembab, Mallapati Derajat II

Leher : Pembesaran KGB Leher (-) Pembesaran Tiroid (-)

Thorax
Inspeksi : Simetris. Tidak ada retraksi otot pernapasan
Palpasi : Vokal Fremitus sama kanan dan kiri. Ictus Cordis Teraba.
Perkusi : Perkusi sonor di kedua lapang paru.
Auskultasi : Suara napas vesikuler (+/+), Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
BJ I dan II Regular. Murmur (-), Gallop (-).
Abdomen
- Inspeksi : Abdomen nampak cembung, distensi (-)
- Auskultasi : Bising usus (+)
- Perkusi : Timpani diseluruh lapang abdomen
- Palpasi : Nyeri tekan (-). Hepatomegali (-). Splenomegali (-)

Ekstremitas

- Atas : Akral Hangat. CRT < 2 detik. Edema (-/-)


- Bawah : Akral Hangat. CRT < 2 detik. Edema (-/-)
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Laboratorium

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan

Hematologi

Hemoglobin 10.4 (L) g/Cl 12.8—16.8

Jumlah Leukosit 10.8 103/µL 4.50—13.00

Hematokrit 32 % 40—52

Jumlah Trombosit 389 103/µL 156—408

Eritrosit 3.76 (L) 106/µL 4.40—5.90

Kimia Klinik – Faal Ginjal

Ureum Darah 16 mg/dL 10 – 50

Kreatinin Darah 0.6 (H) mg/dL < 1.4

Kimia Klinik – Glukosa

GDS 93 Mg/dL 70 – 200

Imunology

Anti HIV metode 0.27 Index CO < 1.000 non


1 (ELISA) reactive
Non reactive

Anti HIV metode Non reactive Non reactive


2 (ICT)

Hemostasis

PT 2.00 Detik 9.3 – 11.4

APTT 4.00 Detik 31.0 – 47.0

Kimia Klinik – Glukosa

GDS 98 Mg/dL 70 – 200

B. Radiologi
Tidak ada data

C. Asesmen Pra Anestesi


Diagnosa Pre Operasi
Follicular Cisyt of Ovary
Status ASA
Kelas II (Pasien dengan kelainan sistemik ringan)
Tindakan Pembedahan
Laparotomi
Jenis Anestesi
Anestesi Spinal

V. ASESMEN PRA INDUKSI DAN PENALAKSANAAN ANESTESI


Pra Operatif
- Dipuasakan selama 6-8 jam.
- Dilakukan asesmen pre anestesi kepada pasien
- Dilakukan pemeriksaan kembali identitas pasien, persetujuan operasi, lembaran
konsultasi anestesi, obat-obatan dan alat-alat uang diperlukan
- Mengganti pakaian pasien dengan pakaian operasi
- Saat di ruang persiapan, pasien di infus dengan RL
- Pasien dibaringkan di meja operasi dengan posisi telentang
- Manset tekanan darah terpasang di tangan kanan dan pulse oxymetri terpasang di digiti
II manus dextra.
- Pramedikasi : Fentanyl 25 mcg, Bupivacain 20 mg
- Pasien diposisikan duduk, kemudian dilakukan perabaan pada kedua krista iliaka untuk
menetukan tempat penyuntikan obat anestesi spinal.
- Sterilkan daerah tempat penyuntikan dan sekitarnya menggunakan betadin dan alkohol.
- Dilakukan penyuntikan pada tulang punggung lumbal 4-5, anestesi spinal
menggunakan Bupivacaine HCl 20 mg dengan spinocain No27 1 x suntik LCS + warna
jernih.
Intraoperatif
A. Medikasi Selama Operasi :
1. Premedikasi : -
2. Anestesi Spinal : Fentanyl 25 mcg. Bupivacain 20 mg
3. Analgetik Narkotika : Fentanyl 75 mcg
4. Antiemetik : Ondancentron 4 mg
5. Lain-lain : Ceftriaxone 2 gram

B. Diberikan O2 Nasal Canul 2-3 liter/menit

C. Kebutuan Cairan Selama Operasi


Berat Badan : 60 kg Hb Awal : 10.4 g/dL
Estimate Blood Volume : 70 cc x 60 kg = 4200 cc
( 𝐻𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝐻𝑡 𝑡𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡) 𝑥 𝐸𝐵𝑉
Allowable Blood Loss :
𝐻𝑡 𝐴𝑤𝑎𝑙
32 −24 𝑥 4200
: = 1050 cc
32
Perdarahan : 200 cc
Urin Output :-
1. Kebutuhan Cairan Maintenance
- 10 kg pertama : 10 kg x 4 cc/kgBB = 40 cc
- 10 kg kedua : 10 kg x 2 cc/kgBB = 20 cc
- 10 kg selanjutnya : 40 kg x 1 cc/kgBB = 40 cc
∑ Kebutuhan cairan maintenance 100 cc/jam
2. Kebutuhan Cairan Puasa dan Stress Operasi
- Puasa : Lama Puasa x Kebutuhan Cairan Maintenance
8 jam x 100 cc = 800 cc
- Stress Operasi : Operasi ringan
2 cc/kgBB/jam
2 cc x 60 kg = 120 cc

3. Pemberian Cairan Berdasarkan Durasi Operasi


- 1 jam pertama : Maintenance + ½ Puasa + Stress Operasi
100 cc + 400 cc + 120 cc = 620 cc
- 1 jam kedua : Maintenance + ¼ Puasa + Stress Operasi
100 cc + 200 cc + 120 cc = 420 cc
- 1 jam ketiga : Maintenance + ¼ Puasa + Stress Operasi
100 cc + 200 cc + 120 cc = 420 cc
- 1 jam keempat : Maintenance + Stress Operasi
100 cc + 120 cc = 220 cc
Lama Operasi : 30 menit
∑ Kebutuhan cairan : ½ x kebutuhan cairan 1 jam pertama
½ x 620 = 310 cc

4. Total Kebutuhan Cairan


(1 jam pertama +1/2 jam) + Perdarahan + Urin Output
310 cc + 10 cc + 200 cc = 520
∑ Total Kebutuhan Cairan Selama Operasi 520 cc

5. Jumlah Cairan Yang Diberikan


Ringer Laktat 300 cc
∑ Total Cairan Yang Diberikan 300 cc
Monitoring Tanda Vital Selama Operasi

Post Operatif
Setelah selesai operasi diberikan secara drip:
- Antiemetik : ondansentron 4 mg
- Analgesik golongan NSAID : ketorolac 30 mg
- Analgesik golongan Opioid : Tramadol 100 mg
Monitoring tanda-tanda vital Aldrette Score

- Kesadaran : Compos Mentis - Aktivitas : Dapat menggerakan Dua Ekstremitas (1)


- BP : 99/62 mmHg - Pernapasan : Dapat Bernapas Dalam dan Batuk (2)
- HR : 69 x/menit - Sirkulasi : Tekanan Darah ± 20% dari Nilai Pra
- RR : 16x/menit Anetesi (2)
- T : Afebris - Kesadaran : Sadar Penuh (2)
- SpO2: 100 % - Saturasi O2 : ≥ 92 % dengan suhu kamar (2)

Kesan : Baik Skor : 9/10


BAB II

TNJAUAN PUSTAKA DAN ANALISA KASUS

A. Anestesi Regional
Pembagian anesthesia atau analgesia regional antara lain 1) Blok Sentral (blok
neuroaksial), yaitu meliputi blok spinal, epidural, dan kaudal. Tindakan ini sering
dikerjakan. 2) Blok perifer (blok saraf), misalnya blok pleksus brakialis, aksiler,
analgesia regional intravena, dan lain-lainnya.1
1. Anatomi Tulang Punggung
Tulang punggung (kolumna vertebralis) terdiri dari : 7 vertebra servikalis, 12
vertebra torakal, 5 vertebra lumbal, 5 vertebra sacral menyatu pada dewasa, 4-
5 vertebra koksigeal menyatu pada dewasa. Prosesus spinosus C2 teraba
langsung di bawah oksipital. Proses spinosus C7 menonjol dan disebut sebagai
vertebra prominens.2

Gambar lurus yang menghubungkan kedua krista iliaka tertinggi akan


memotong prosesus spinosus vertebra L4 atau antara L4-L5.1
2. Vertebra Lumbal

3. Vaskularisasi
Medula spinalis diperdarahi oleh a. spinalis anterior dan a. spinalis posterior.1,3

Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Morgan & Mikhail’s Clinical Anesthesiology.
Fifth Edition. McGraw-Hill. 2013; Hal 937—974.3

4. Lapisan jaringan punggung


Untuk mencapai cairan serebrospinalis, maka jarum suntik akan menembus :
kulit → subkutis → ligamentum supraspinosum → ligamentum intraspinosum
→ ligamentum flavum → ruang epidural → duramater → ruang subaraknoid.1

Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Morgan & Mikhail’s Clinical Anesthesiology.
Fifth Edition. McGraw-Hill. 2013; Hal 937—974.3

5. Medula spinalis (korda spinalis, the spinal cord)


Berada dalam kanalis spinalis dikelilingi oleh cairan serebrospinalis dibungkus
meningen (duramater, lemak, dan pleksus venosus). Pada dewasa berakhir
setinggi L1, pada anak L2 dan pada bayi L3 dan sakus duralis berakhir setinggi
S2.1
6. Cairan Serebrospinalis
Cairan serebrospinalis merupakan ultrafiltrasi dari plasma yang berasal dari
pleksus arteria koroidalis yang terletak di ventrikel 3-4 dan lateral. Cairan ini
jernih tak berwarna mengisi ruang subaraknoid dengan jumlah total 100-150
ml, sedangkan yang di punggung sekitar 25-45 ml.1

B. Analgesia Spinal
Analgesia spinal (intratekal, intradural, subdural, subaraknoid) iadalah pemberian obat
anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. Anesthesia spinal diperoleh dengan cara
menyuntikkan anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. Teknik ini sederhana, cukup
efektif dan mudah dikerjakan.1

Indikasi1
- Bedah Ekstremitas Bawah
- Bedah Panggul
- Tindakan sekitar rectum-perineum
- Bedah Obstetri – Ginekologi
- Bedah Urologi
- Bedah Abdomen Bawah
- Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatric biasanya dikombinasi dengan
anesthesia umum ringan
Indikasi Kontra Absolut
Anestei spinal tidak dapat dilakukan bila : 1) Pasien menolak, 2) Infeksi pada
tempat suntikan, 3) Hypovolemia Berat, Syok, 4) Koagulopati atau mendapat terapi
antikoagulan, 5) Tekanan intrakranial meninggi, 6) Fasilitas resusitasi minim, 7)
Kurang pengalaman/ tanpa didampingi konsultan anestsia, 8) Stenosis Aorta Berat, 9)
Stenosis Mitral Berat.1,3
Indikasi Kontra Relatif dan Kontroversial
1) Infeksi sistemik (sepsis, bakteremi), 2) Infeksi sekitar tempat suntikan, 3)
Kelainan neurologis, 4) Kelainan psikis, 5) Bedah lama, 6) Penyakit jantung, 7)
Hypovolemia ringan, 8) Nyeri punggung kronis, 9) Pasien tidak kooperatif, 10)
Penyempitan pada katub jantung.1,3
Persiapan analgesia spinal
Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan anesthesia umum.
Daerah sekitar tempat penyuntikan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan, misalnya
ada kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba
tonjolan proses spinosus. Selain itu perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini:1
a. Inform consent (izin dari pasien)
Kita tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui anesthesia spinal
b. Pemeriksaan fisik
Tidak dijumpai kelainan fisik spesifik seperti kelainan tulang punggu dan lain-
lainnya
c. Pemeriksaan Laboratorium Anjuran
Hemoglobin, hematokrit, PT (Protrobine time) dan PTT (Partial trombine time)
Peralatan Analgesia Spinal1
- Peralatan monitor : Tekanan darah, nadi, oksimetri denyut (pulse oximeter), dan
EKG.
- Peralatan resusitasi/anesthesia umum
- Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bamboo runcing, Quincke-Babcock) atau
jarum spinal dengan ujung pensil (pencil point, Whiteacare)
Teknik Analgesia Spinal
Posisi duduk atau posisi laeral decubitus dengan penyuntikan pada garis tengah ialah
posisi yang paling sering dikerjakan, biaanya dikerjakan di atas meja operasi tanpa dipindah
lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien. Perubahan posisi berlebihan
dalam 30 menit pertama akan menyebabkan penyebaran obatnya.1,3
1. Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalnya dalam posisi decubitus lateral. Beri
bantal kepala, selain enak untuk pasien juga supaya tulang belakang stabil. Buat
pasien membungkuk maksimal agar prosesus spinosus mudah teraba. Posisi lain
adalah duduk.1
2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista iliaka dengan
tulang punggung ialah L4 atau L4-5. Tentukan tempat penyuntikan misalnya
L2-3, L3-4, atau L4-5. Penyuntikan pada L1-2 atau diatasnya berisiko trauma
terhadap medulla spinalis.1
3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin dan alkohol.1
4. Cara penyuntikan media dan paramedia. Untuk jarum spinal besar nomor 22 G,
23 G, atau 25 G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil 27 G
atau 29 G, dianjurkan menggunakan penuntun jarum (introducer), yaitu jarum
suntik biasanya semprit 10 cc. tusukan introducer sedalam kira-kira 2 cm agak
sedikit kea rah sefal, kemudian masukkan jarum spinal berikut mandrinnya ke
lubang jarum tersebut. Jika menggunakan jarum tajam (Quicke-Babcock) irisan
jarun (bevel) harus sejajar dengan serat duramater, yaitu pada posisi tidur miring
bevel mengarah ke atas atau ke bawah, untuk menghindari kebocoran likuor
yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal. Setelah resistensi
menghilang, mandarin jarum spinal dicabut dan keleuar likuor, pasang semprit
berisi obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0.5 ml/detik) diselingi
aspirasi sedikit, hanya untuk menyakinkan posisi jarum tetap baik. Jika yakin
ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan lukuor tidak keluar, putar arah
jarum 90º biasanya likuor keluar. Untuk analgesia spinal kontinyu dapat
dimasukkan kateter.1
5. Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah hemoroid
(wasir) dengan anestetik hiperbarik. Jarak kulit-ligamentum flavum dewasa ± 6
cm.1
Komplikasi Tindakan
1) Hipotensi berat, akibat blok simpatis, terjadi “venous pooling”. Pada dewasa
dicegah dengan memberikan infus cairan elektrolit 1000 ml atau koloid 500 ml sebelum
tindakan. 2) Bradikardi. Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia, terjadi
akibat blok sampai T-2, 3) Hipoventilasi. Akibat paralisis saraf frenikus atau
hipoperfusi pusat kendali napas. 4) Trauma pembuluh darah, 5) Trauma saraf., 6) Mual-
muntah, 7) Gangguan pendengaran, 8) Blok spinal tinggi, atau spinal total.1,3
Komplikasi Pasca Tindakan
Nyeri tempat suntikan, nyeri punggung, nyeri kepala karena kebocoran likuor,
retensio urin, meningitis.1,3
Dampak Kardiovaskular
Pada anestesi spinal tinggi terjadi penurunan aliran darah jantung dan
penghantaran (supply) oksigen miokardium yang sejalan dengan penurunan tekanan
arteri rata-rata. Penurunan tekanan darah yang terjadi sesuai dengan tinggi blok
simpatis, makin banyak segmen simpatis yang terblok makin besar penurunan tekanan
darah. Untuk menghindarkan terjadinya penurunan tekanan darah yang hebat, sebelum
dilakukan anestesi spinal diberikan cairan elektrolit NaCl fisiologis atau ringer laktat
10-20 ml/kgbb. Pada Anestesi spinal yang mencapai T4 dapat terjadi penurunan
frekwensi nadi dan penurunan tekanan darah dikarenakan terjadinya blok saraf simpatis
yang bersifat akselerator jantung.3
C. Asesmen dan Persiapan Pra Anestesi
Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor penyumbang
sebab-sebab terjadinya kecelakaan anesthesia. Dokter spesialis anestesiologi
seyogyanya mengunjungi pasien sebelum pasien dibedah, agar ia dapat menyiapkan
pasien, sehingga pada waktu pasien dibedah dalam keadaan bugar. Tujuan utama pra
anestesi adalah mengurangi angka kesakitan operasi, mengurangi biaya operasi dan
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.1,2
1. Anamnesis
Asesmen pra anestesi dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan laboratorium. Pada anamnesis penting untuk mengetahui apakah
ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus, misalnya alergi, mual-
muntah nyeri otot, gatal-gatal, atau sesak napas pasca bedah
2. Pemeriksaan Fisik
Keadaan gigi geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif besar sangat
penting untuk mengetahui apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi
intubasi. Pemeriksaan rutin lainnya secara sistematik tentang keadaan umum
tentu tidak boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi
semua sistem organ tubuh pasien. 1,2
Pada pasien dalam laporan kasus ini pemeriksaan fisik lengkap telah
dilakukan sehingga ditemukan keadaan sebagai berikut, kesadaran pasien
komposmentis, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, mukosa bibir
lembab, suara napas vesikuler di kedua lapang paru, dan mallampati derajat II,
status gizi kesan normoweight.
3. Pemeriksaan Penunjang
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan
dugaan penyakit yang sedang dicurigai. Beberapa pemeriksaan penunjang yang
dianjurkan sebagai persiapan pre operasi adalah Hemoglobin, leukosit, masa
perdarahan, dan masa pembekuan dan urinalisis.1,2
Pada pasien ini anjuran pemeriksaan pre operasi yang dianjurkan telah
dilakukan, tetapi belum ada hasil dari laboratorium.1,2
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang yang dilakukan maka status fisik pasien berada dalam kategori ASA
3.1,2
4. Masukan Oral
Pada keadaan anestesi refleks laring mengalami penurunan selama
anesthesia. Regurgitasi isi lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan
napas merupakan risiko utama pada pasien-pasien yang menjalani anesthesia.
Untuk meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan untuk
operasi harus dipantangkan dari masukan oral atau dipuasakan selama periode
tertentu. Pada pasien dewasa umumnya dipuasakan 6—8 jam, anak kecil 4—6
jam, dan pada bayi 3—4 jam.1,2,5
Pasien dalam kasus karena pasien mengaku tidak makan atau minum
selama 6 jam, dianggap puasa selama 6 jam untuk kepentingan operasi, pasien
menjalani anestesi spinal.
5. Premedikasi
Premedikasi adalah pemberian obat 1—2 jam sebelum induksi anesthesia
dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari
anesthesia.1,2 Pada pasien dalam kasus diberikan premedikasi Fentanyl 0,025
mg, Midazolam 1 mg.
D. Anestesi Spinal, Medikasi Intraoperatif, dan Penatalaksanaa Cairan
- Anestesi Spinal.
Analgesia spinal (intratrakeal, intradural, subdural, subaraknoid) ialah
pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. Anestesia spinal
diperoleh dengan cara menyuntikan anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid.
Teknik ini sederhana dan cukup efektif. Obat yang digunakan dalam anestesi ini
adalah Bupivacain. Mula kerja dari Bupivacain lebih lambat dibandingkan dengan
lidokai, tetapi lama kerja hingga 8 jam. Setelah suntikan kaudal, epidural, atau
infiltrasi, kadar plasma puncak dicapai dalam 45 menit, kemudian menurun
perlahan-lahan dalam 3-8 jam.1,4
- Penggunaan Obat pada Regional Anestesi
Rumatan anesthesia dapat dikerjakan secara intravena. Obat yang digunakan
menghasilkan blokade konduksi natrium pada dinding saraf secara sementara
terhadap rangsangan transmisi sepanjang saraf sentral atau pun perifer. Anestetik
lokal setelah keluar dari saraf diikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan
dan lengkap tanpa diikuti oleh kerusakan struktur saraf. Anastesi lokal dibagi
menjadi dua golongan yaitu golongan ester (kokain, benzokain, ameticain, Cl) dan
golongan amida (lidokain, bupivakain, etidokain, dll). Selain itu dapat pula
menggunakan agonis alfa-2 adrenergik untuk memperpanjang lama efek anagesik
obat anestesi regional. Obat-obatan lain yang digunakan seperti opioid, petidin IV
0,2 – 0,5 mg/kgBB, petidin IM 1–2 mg/kgBB. 1,2
Pada kasus ini diberikan Petidin 25 mg. Pethidin HCl merupakan narkotika
sintetik derivate fenilpiperidinan dan terutama berefek terhadap susunan saraf pusat
adalah seperti morfina, yaitu menimbulkan analgetik, sedasi, dan euphoria, depresi
pernapasan dan efek sentral lainnya. Efek analgesia pethidine timbul akan lebih
cepat dari pada efek analgesic morfina, yaitu kira-kira 10 menit, setelah suntikan
subkutan atau intramuscular, tetapi masa kerjanya lebih pendek yaitu 2-4 jam.
Pasien dengan hipertensi sering kali melakukan prosedur operasi elektif. Pada
hipertensi jangka panjang yang tidak terkontrol mempercepat pembentukan
aterosklerosis dan hipertensi organ damage. Hipertensi adalah faktor risiko mayor
dari cardiac, cerebral, renal dan vascular disease. Komplikasi yang terjadi dari
hipertensi termasuk Miokard Infark, Congestive Heart Failure, Stroke, Renal
Failure, Peripheral occlusive disease, aortic dissection.3 Oleh karena itu pada kasus
ini diperlukan pemberian obat antihipertensi contohnya Clonidine.4
Clonidine terutama bekerja pada sistem saraf pusat yang mengakibatkan
berkurangnya pengaruh saraf simpatis dan menurunnya tahanan perifer, tahanan
vascular ginjal, denyut jantung, dan tekanan darah. Dan penting untuk diketahui
bahwa Clonidine tidak membuat adanya perubahan pada aliran darah ginjal dan
kecepatan filtrasi glomerulus. Reflex postural yang normal dan tidak dipengaruhi,
oleh karena itu gejala-geala ortostatik yang terjadi ringan dan jarang. Selama terapi
jangka panjang, curah jantung akan kembali kekeadaan semula, sedangkan tahanan
perifer akan tetap menurun. Pada sebagian besar pasien yang diberikan clonidine
akan terjadi penurunan denyut jantung, tetapi obat ini tidak mempengaruhi repons
hemodinamik yang normal terhadap gerak badan.
- Tatalaksana Jalan Napas
Pada pasien dengan anesthesia spinal perlu dilakukan tatalaksana jalan napas
untuk membantu oksigenasi. Pada pasien dilakukan pemasangan oksigen nasal
kanul.1,2
- Terapi Cairan Perioperatif
Pasien telah dipuasakan sesuai dengan anjuran yakni selama 6-8 jam. Oleh karena
itu perlu dipertimbangkan untuk penggantian cairan yang hilang selama puasa,
selama operasi, dan setelah operasi.3,5
Sesuai dengan perhitungan, total cairan yang harus diberikan kepada pasien adalah
760 cc cairan kristaloid pada satu jam pertama, lalu 475.5 cc cairan kristaloid pada
satu jam kedua dan tidak memerlukan pemberian produk darah.5
.
DAFTAR PUSTAKA

1. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi Kelima.
2010; Hal.29—53, Hal 105 – 12.
2. Soenarto RF, Susilo C. Buku Ajar Anestesiologi. Edisi Pertama. Departemen
Anestesiologi dan Intensive Care FKUI. 2012; Hal 291—303.
3. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Morgan & Mikhail’s Clinical
Anesthesiology. Fifth Edition. McGraw-Hill. 2013; Hal 937—974.
4. Stoeling RK, Hillier SC. Pharmacology and Physyiology in Anesthetic Practice. 4th ed.
Lippincott Williams & Wilkins. 2006. Hal 179 – 203
5. Harijanto, Eddy. Panduantatalaksana Terapi Cairan Perioperatif. Perhimpunan Dokter
Spesialis Anestesiologi dan Reanimasi Indonesia. 2009; Hal 322—341.