Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

KEANEKARAGAMAN HAYATI
“Keanekaragaman Hayati Serangga Di Ekosistem Jambu Mente”

Di susun Oleh:

Sitti Nurkholifah : D1B1 16 086


Muh. Haris : D1B1 16 030
Wayan Arya Saputra : D1B1 16 050
Ayu Andira : D1B1 16 162
Lenna S.M. Matondang : D1B1 16 054

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Puji syukur alhamdullilah, dengan segenap kerendahan hati dan ketulusan
jiwa, kami panjatkan kepada hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan
rahmat karunia dan hidayahNya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan
judul “Keanekaragaman Hayati Serangga Di Ekosistem Jambu Mente”
sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Keanekaragaman Hayati, jurusan
Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo.
Shalawat serta salam semoga terlimpah curah kepada Rasul kita Nabi
Muhammad SAW yang telah memberikan pencerahan kepada kita dengan agama
rahmatan lil’alamin, agama islam. Dengan selesainya penulisan makalah ini tidak
lepas dari bantuan serta dukungan dari semua pihak baik moril ataupun materil
sehingga makalah ini dapat terselesai dengan baik. Karena keterbatasan saya,
makalah ini masih jauh dari sempurna, maka saran dan kritik sangat dibutuhkan
demi penyempurnaanya. Akhir kata, sekian dari saya. Kurang lebihnya kami
mohon maaf yang sebesar - besarnya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Kendari, 28 November 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL....................................................................................i
KATA PENGANTAR....................................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................iv
1.1. Latar Belakang.............................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah........................................................................................5
1.3. Tujuan..........................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................vi
2.1. Jenis dan peranan serangga pada jambu mente............................................6
2.2. cara pengelolaan serangga...........................................................................15
BAB III PENUTUP.........................................................................................xviii
3.1. Kesimpulan.................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tanaman jambu mete (Anacardiun accidentale L) merupakan komoditas


ekspor yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan relatif stabil dibanding
komoditas ekspor Indonesia lainnya. Nilai ekspor Indonesia dari gelondong mete
pada akhir 2006 mencapai US $ 409.081.000 dengan volume 494.471 M/ton
(BPEN, 2007). Harga jual dalam negeri pun cukup tinggi, saat ini berkisar antara
Rp. 65.000 - Rp. 77.000/kg. Selain menghasilkan gelondong dan kacang mete,
tanaman jambu mete menghasilkan pula minyak laka dan produk lain yang diolah
dari buah semu. Tanaman ini menghendaki iklim kering sehingga sangat potensial
untuk dikembangkan di Kawasan Timur Indonesia, yang umumnya mempunyai
kondisi alam yang cocok dengan persyaratan tumbuh dari komoditas tersebut.
Status tanaman jambu mete yang semula merupakan tanaman penghijauan beralih
menjadi komoditas unggulan, sehingga dirasakan perlu adanya penekanan pola
pengembangan yang berorientasi agribisnis.
Serangga memegang peranan yang sangat penting dalam ekosistem
pertanian, tidak hanyasebagai kelas terbesar dari filumartropoda,
tetapi juga kemampuannya dalam beradaptasi terhadap perubahan ekosistem
pertanian yang dinamis dankurang stabil (Chinery, 1991). Keadaan ekosistem
pertanian yang lebih sederhana dapat menyebabkan satu atau lebih organisme
pemakan tumbuhan menjadi hama. Perubahan status dari bukan hama menjadi
hama disebabkan karena berlimpahnyatanaman makanan. Di samping itu, akan
terjadi dominasi suatu suatu jenis serangga terhadap serangga lainnya, karena di
dalam ekosistem banyak mekanisme alami yang bekerja secara efektif danefisien.
Kondisi ekologi yang ada berpengaruh terhadap kehadiran organisme
(Sosromarsono,1981; Untung dan Sudomo, 1997). Kondisi ini juga terjadi pada
tanaman jambu mete, yang merupakan tanaman perkebunan rakyat (98%).
Serangga-serangga yang berasosiasi padatanaman jambu mete memiliki
peranan yangberagam. Serangga tersebut dapat berperan sebagaifitofag, predator,
polinator, maupun hanya singgah s e m e n t a r a p a d a t a n a m a n j a m b u
mete(FreitasdanP a x t o n 1 9 9 6 ) . P e n g e t a h u a n mengenai
jenis d a n peranan serangga pada tanaman ini penting untuk diketahui
terutama hubungannya dalam teknik pengelolaannya. Serangga yang
berstatus sebagaihama, populasinya diupayakan berada dalam keadaan
keseimbangan di bawah ambang kerusakan. Serangga hama dapat
menyerang pohon jambu mete pada berbagai fase pertumbuhan
sepertiakar, batang, cabang, bunga d a n inflorenscence, serta
buah.
Serangga yang berguna seperti musuhalami dan penyerbuk harus dikelola
keberadaannyadi sekitar ekosistem jambu mete. Pola ekosistemyang dibentuk
diharapkan mampu menciptakankondisi yang menguntungkan terhadap
kehidupanmusuh alami, sehingga mampu bekerja untukmenekan populasi
inangnya (hama). Demikian pulakehidupan penyerbuk dapat didorong lebih
baiklagi, mengingat kehadiran serangga penyerbuksangat berpengaruh terhadap
keberhasilanpembuahan jambu mete. Menurut Siswanto danWikardi (1996)
kehadiran serangga penyerbukdapat meningkatkan keberhasilan pembuahan 6-7
kali.
Tulisan ini mengungkap tentang jenis,peranan, dan pengelolaan serangga-
serangga yangberasosiasi dengan tanaman jambu mete. Informasi jenis serangga
yang diungkap tidak hanya yangberada di Indonesia, tetapi juga
berdasarkaninformasi yang ada di negara lain. Informasi inipenting untuk
mengantisipasi kehadiran serangga-serangga pada jambu mente yang
sebelumnyabelum pernah dilaporkan di Indonesia. Beberapa jenis serangga yang
diangga penting diuraikandalam tulisan ini.

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaiaman jenis dan peranan serangga pada jambu mente?


2. Bagaimana cara pengelolaan serangga?

1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untk mengetahui san
mempelajari jenis-jenis serangga yang terdapat pada tanaman jambu mente.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Jenis dan peranan serangga pada jambu mente

Jenis serangga yang berasosiasi denganp e r t a n a m a n jambu


m e t e d i s e l u r u h d u n i a dilaporkan lebih dari 100 jenis (Anon., 1979).
DiIndonesia (khususnya di NTB) lebih dari 90 jenis,52 jenis di antaranya sudah
diidentifikasi (Supriadiet al.,2002). Berdasarkan peranannya, serangga-
serangga itu dapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu
serangga hama, musuh alami dan penyerbuk. Hubungan antar kelompok-
kelompok serangga tersebut di ekosistem jambu mete belumbanyak diketahui,
tetapi ada kecenderungan bahwa pada kondisi kebun yang kurang terawat,
populasi serangga hama lebih banyak dibandingkan pada kebun yang
lebih terawat.Di Nigeria,diketahui adasekitar 7 ordo dan 46 famili (Asogwa
et al. 2009) d a n d i I n d i a a d a 4 7 j e n i s ( G o d s e , 2 0 0 2 ) . S e c a r a
umum, serangga yang berasosiasi dengan tanaman jambu mete merupakan
anggota dari ordo Lepidoptera, Coleoptera, Orthopthera, Hemiptera,
Hymenoptera, Thysanoptera, danIsoptera. Beberapa jenis famili yang
memilikikepentingan ekonomi adalah Acrididae, Pyrallidae, Saturniidae,
Noctuidae, Centoniidae, Apidae,Scarabaeidae, Thripidae dan Formicidae (Freitas
d a n P a x t o n , 1 9 9 6 ; G o d s e , 2 0 0 2 ; D i t j e n b u n , 2 0 0 6 ; Asogwa, et al. 2009).
Jenis dan luas serangan hama utama pada s e t i a p s e n t r a p r o d u k s i
jambu mete baik di dalam s u a t u negara maupun antar
n e g a r a m e m i l i k i perbedaan. Di Indonesia, Sanurus indecora menjadi
hama penting di Lombok, sedangkan di sentra produksi lainnya lebih didominasi
oleh Helopeltis spp (Ditjenbun 2006).Kumbang penggerek batang Plocaederus
ferrugineus merupakan hama penting pada tanaman jambu mete di Nigeria
(Asogwa et al. 2009), sedangkan di Indonesia serangga ini belumdilaporkan
menjadi masalah penting.
B e b e r a p a j e n i s d a n p e r a n a n s e r a n g g a p a d a tanaman jambu
mete ditampilkan di dalam Tabel 1. Berdasarkan peranannya, serangga
berguna (musuh alami) dan polinator cukup banyak,
s e h i n g g a kehadirannya sangat menguntungkan.
Serangga Fitofagus
Serangga fitofagusadalah s e r a n g g a pemakan
tumbuhan. Beberapa jenis serangga f i t o f a g u s ada ya n g bersifat
m o n o f a g u s a t a u p o l i f a g u s . S e r a n g g a m o n o f a g u s b e r a r t i h a n ya
memakan satu atau beberapa jenis tumbuhan saja,s e d a n g k a n s e r a n g g a
polifagusdapat m e m a k a n beberapa jenis tumbuhan dalam satu famili
(Gullan& Cranston 2000). Serangga dianggap sebagai hama ketika keberadaannya
merugikan kesejahteraan manusia, estetika suatu produk, atauk e h i l a n g a n
h a s i l p a n e n . D e n g a n d e m i k i a n , walaupun banyak serangga fitofagus
yang memakan bagian-bagian tanaman jambu mete, tetapi yang tergolong hama
hanya beberapa jenis saja.
Beberapa jenis hama utama jambu meteadalah Helopeltis spp (Hemiptera:
Miridae), Sanurusindecora (Hemiptera: Flatidae), Plocaderus ferrugineus
(Coleoptera: Cerambycidae), Anastrepha fraterculus Weidman (Diptera:
Tephritidae), dan Criculatrifenestrata Helfer (Lepidoptera: Saturniidae).
1. Helopeltis spp (Hemiptera: Miridae)
Helopeltis sp diketahui dapat meyebabkan kehilangan hasil yang
berarti pada tanamanjambumete. H. Anacardii Miller tersebar
dibeberapa negara Asia Selatan, India, dan Afrika Timur
( R i c k s o n d a n R i c k s o n 1 9 9 8 ) . H. pernicialis di Australia(Stone
dahl et al . 1995), sedangkan di SriLanka didominasi oleh H. Antonii (Ranaweera
2000;Godse 2002).Di Indonesia, ada tiga jenis yangmenyerang jambu
mete, yaitu H. antonii, H.theivora, dan H. Bradyi (Supriadi et al. 2 0 0 2 ) d a n
d i i Ghana ditemukan H. Schoutedeni (Dwomoh et al. 2009).
Nimfa dan imago memiliki bentuk yangserupa, hanya berbeda pada
tingkat perkembangansayap dan kematangan seksual. Pada bagian toraksterdapat
embelan berbentuk seperti jarum pentulyang tegak. H. Antonii berukuran 7-10
mm,berwarna coklat kemerahan dengan kepala hitam dan toraks merah. Abdomen
berwarna hitam dan putih.
Tipe kerusakan yang ditimbulkan olehhama ini ada dua tipe, yaitu
kerusakan primer dan kerusakan sekunder.Kerusakan primer
a d a l a h kerusakanyang langsung ditimbulkan oleh hama akibat bekas
makannya. Nimfa dan imago mengisap cairan tumbuhan pada daun, pucuk
muda,tunas, bunga, biji/gelondong, dan buah. Air liurnya sangat beracun dan
tempat tusukannya menjadi melepuh dan berwarna coklat tua. Buahy a n g
terserangmenunjukkan g e j a l a b e r c a k coklat/hitam, dan
serangan pada gelondong dapat m e n g a k i b a t k a n g u g u r b u a h . D a u n ya n g
t e r s e r a n g terhambat pertumbuhannya dan menjadi kering. Kadangkala bekas
tusukan serangga ditandai oleh keluarnya gum. Serangan yang parah pada
tunas dapat mengakibatkan kematian pucuk. Bunga-bunga yang terserang
berubah menjadi hitam danmati. Kerusakan sekunder terjadi ketika luka bekas
makan terinfeksi oleh patogen sekunder, sehingga seluruh cabang atau batang
mengalami mati ujung (dis back) atau terjadi hawar (blight) (Ranaweera,2 0 0 0 ;
Azzam-alidanJudge,2001).
Serangan H. Anacardii menyebabkan kerusakan pucuk hingga 80% setiap
pohon ( R i c k s o n d a n R i c k s o n 1 9 9 8 ) . S e m e n t a r a i t u , Mandall
(2000) menyebutkan bahwa serangan Helopeltis spp. pada tanaman jambu
metemenyebabkan kerusakan sebesar 25% pada pucuk, 35% pada karangan
bunga, dan 15 % pada buahmuda. H. antonii juga menyebabkan hasil panen
menurun sampai 30% di Sri Lanka (Ranaweera 2000).
2. Sanurus indecora (Hemiptera: Flatidae)
Hama ini bersifat polifag yang dapat menyerang sekitar 19 jenis tanaman.
Inangalternatif serangga ini antara lain mangga, jambuair, jarak pagar, jeruk,
krotalaria, gamal, srikaya, singkong, jambu biji, belimbing dan lain-lain(Siswanto
et al . 2 0 0 3 ; S y a m s u m a r d a n H a r y a n t o 2003). Walaupun
demikian, menurut Siswanto etal . (2003), inang asli hama ini adalah mangga.
Tubuh dan tungkai imago S. Indecora berwarna kuning pucat, sedangkan
warna kepaladan sayap bervariasi, yaitu putih, hijau pucat atauputihkemerahan.
Posisi sayap saat istirahatberbentuk seperti tenda. Pada tegmen (sayap depan)
kadang-kadang terlihat garis merah di sepanjang tepinya. Tibia tungkai belakang
hanyamempunyai satu spina lateral (Siswanto et al. 2003). Menurut Mardiningsih
et al. (2004) danWahyono (2005), telur S. Indecora berbentuk oval,berwarna
putih, dan ditutupi oleh lapisan lilinberwarna putih atau kuning. Telur diletakkan
berkelompok oleh imago pada permukaan bawah daun, tangkai daun, dan atau
tangkai pucuk.
Nimfadan i m a g o S. Indecora menyerangtanaman dengan cara
menusuk dan mengisap cairanpucuk, tangkai dan bunga jambu mete.
Bekastusukan mencapai floem dan xylem. Bagian yangterserang akan berbentuk
seperti titik-titik bisulberwarna hitam (Wiratno et al . 2003a). Padapopulasi tinggi,
serangan S. Indecora pada tangkaibunga dan bunga mengakibatkan bagian
tersebutmengering sehingga bunga gagal menjadi buah.Populasi S. Indecora
dengan kepadatan yang tinggi juga menghalangi serangga penyerbuk. Selain
itu,permukaan daun banyak ditumbuhi cendawan jelaga, karena adanya embun
madu yang dihasilkanhama tersebut (Siswanto et al .,2002). Populasi S.indecora
rata-rata 12 ekor/pucuk dapatmenurunkan hasil 57.83% (Mardiningsih et
al .,2004).
3. Plocaderus ferrugineus (Coleoptera:Cerambycidae)
Menurut Asogwa et al. (2009), P. Ferrugineus merupakan hama penting
pada tanaman jambu mete di Nigeria. Pohon dapat mati dalambeberapa minggu
setelah terinfestasi. Imago meletakkan telur pada batang atau akar yangterdapat
diatas tanah. Larva akan melubangibatang atau akar dan memakan jaringan
subepidermis, kemudian membuat liang yang tidakberaturan di
dalamnya.Aktivitas makannya dapatmerusak jaringan tanaman sehingga
mengganggu aliran makanan,daun menjadi kuning, cabang mengering,
kemudian tanaman mati. Adanya serangan hama ini dapat diketahui dari lubang
yangkecil yang terbentuk pada batang disertai gumlengket bekas eksresinya.
4. Anastrepha fraterculus Weidman (Diptera: Tephritidae)
Hama ini dapat dikenali dari pola sayap dan karakteristik genital betina.
Rentang sayap sekitar25 mm. Pada sayap terdapat pola seperti huruf “V”terbalik.
Imago berukuran panjang sekitar 12 mm.Tubuh berwarna kuning kemerahan atau
kuning kecoklatan dengan tiga garis longitudinal kuning pada toraks. Lalat buah
ini bersifat polifag yangdapat menyerang 15 jenis tanaman budidaya, antaralain
jeruk, kentang, papaya, kopi, apel, dan mangga ( J o i n t d a n v a n S a u e r s -
M u l l e r , 2 0 1 1 ) . B u a h y a n g terinfeksi A. Fraterculus atau lalat buah
menjadi busuk akibat aktivitas larva yang memakan jaringan internal. Satu ekor
larva sudah dapat membuat kerusakan pada buah (Malavasid anZucchi,
2000).
5. Cricula trifenestrata Helfer (Lepidoptera:Saturniidae)
Cricula trifenestrata disebut juga ulat kipatatau ulat kenari. Hama ini
bersifat polifag yang juga dapat menyerang kenari, alpukat, jambu, kedondong,
mangga, kakao, dan kayumanis. Ulat hama ini sangat rakus, seekor larva mampu
mengkonsumsi daun mete sebanyak 63 lembarselama masa perkembangan
hidupnya (Rojak,2 0 0 1 ) . I m a g o berwarna kekuningan
h i n g g a kemerahan.Jantan memiliki dua bercak gelap padasayap depan,
sedangkan betinanya memiliki tiga bercak transparan yang tidak teratur pada
sayapdepan dan satu bercak pada sayap belakang. Padabagian dekat pangkal
sayap depan terdapat garis kehitaman. Kepala, toraks, abdomen, dan
embelanditutupi oleh sisik yang berwarna coklat kekuningan.Ukuran tubuh
betina lebih besar dari jantan (Rono et al., 2008).
Siklus hidup hama ini adalah metamorfosisholometabola yang terdiri dari
empat tahap, yaitutelur, larva, pupa dan imago (GullandanCranston,2000).
Lamanya siklus hidup ngengat dari telursampai imago rata-rata 63-77 hari
(Deptan, 1995). Jumlah telur yang diletakkanperbetina mencapai2 0 0 - 3 2 5
b u t i r . L a m a f a s e t e l u r a d a l a h 8 - 1 1 h a r i (Deptan,1995), fase larva
berlangsung sekitar 25hari, fase pupa 21-26 hari (Rono et al., 2008).Lama
hidup imago jantan relatif lebih pendekdibandingkan dengan imago betina.Rata-
rata hidupimago jantan adalah 2.90±0.38 hari, sedangkanhidup betina adalah
4.20±0.42 hari (Rono et al., 2008).
Serangga Penyerbuk
Jambu mete memerlukan bantuanpenyerbukuntuk pembentukan buah.
MenurutFreitas dan Paxton (1996), ada beberapa jenisserangga yang telah
diketahui mengunjungi inflorescence jambu mete, yaitu semut, lebah, kupu-
k u p u d a n t a b u h a n . P e r a n a n s e r a n g g a - s e r a n g g a tersebut bervariasi
dalam penyerbukan. Camponotus sp. (Hemiptera: Formicidae) berperan
sedikitdibandingkan dengan Apis mellifera (Hymenoptera:Apidae) dan Centris
tarsata (Hymenoptera: Apidae)dalam proses penyerbukan bunga karena
semuttersebut tidak kontak langsung dengan organreproduksi bunga. Demikian
juga dengan peranbeberapa jenis kupu-kupu. Aphrissa sp.(Lepidoptera: Pieridae)
kadang-kadangmengunjungi bunga yang sudah tua, Danaus erippus Cramer
(Lepidoptera: Nymphalidae) seringmengunjungi bunga ketika polen hanya
tersediasedikit, sedangkan E. Hegesra (Lepidoptera:Nymphalidae) hanya kadang-
kadang mengunjungib u n g a j a m b u m e t e ( F r e i t a s d a n P a x t o n , 1 9 9 6 ) .
Menurut Freitas et al., (2002), tanaman ya n g m e n d a p a t b a n t u a n
p e n ye r b u k d a l a m p r o s e s pembuahan, menghasilkan hasil panen yang
lebih b a n ya k . O l e h s e b a b i t u , a g a r h a s i l p r o d u k s i meningkat harus
diperhatikan pengelolaan serangga p e n y e r b u k a g a r p o p u l a s i n ya c u k u p
k e t i k a m u s i m pembungaan. Selain itu strain tanaman dipilih yang dapat
menghasilkan polen yang cocok satu samal a i n . Penggunaan
p e s t i s i d a ya n g t i d a k t e p a t j u g a dapat membunuh penyerbuk.
Musuh Alami
Parasitoid dan predator dapat ditemui diarea pertanaman jambu mete.
Mesocomis orientalis dan Trichogramma sp. merupakan parasitoid telur
C.Trifenestrata. Tingkat parasitisasi Trichogramma sp.berkisar antara 60-80%
(Wikardi dan Wahyono,1991). Di samping itu,Supeno (2006) menemukan
ektoparasitoid imago S. indicora yang merupakananggota famili Epipyropidae.
Wereng pucuk ini juga dapat dikendalikan dengan menggunakan parasitoid
telur Aphanomerus sp. (Hymenoptera:P l a t y g a s t e r i d a e ) ( P u r n a y a s a
, 2 0 0 3 ; W a h y o n o , 2005), parasitoid pupa Brachymeria sp. Dan Tetrastichus
sp. (Mardiningsih et al . , 2 0 0 4 ) .
Beberapa parasitoid yang dapatmengendalikan A. Fraterculus adalah
Doryctobraconareolatus, D. brasiliensis, D. crawfordi, D. fluminensis, Opius
bellus, Utetes anastrephae, Diachasmimorphalongicaudata, Aganaspis
pelleranoi, Lopheucoilaanastrephae, dan Odontosema anastrephae (Malavasi
&Zucchi 2000).
Di samping parasitoid, beberapa predatorsepertisemut
(Hymenoptera: Formicidae) dapatditemukan pada pertanaman jambu mete.
Semut-semut tersebut ada yang bersifat sebagai predatormaupun pemakan bahan
organik tanah. Semut-semut yang berasosiasi dengan serangga penghasilembun
madu seperti aphid, Stictococcus sp., Planococcoides njalensis dan T. Aurantii
adalah Pheidolemegacephala, Crematogaster africana Mayr, Crematogaster
striatula Emery, Oecophylla longinoda Latr., Cataulacus guineensis Smith,
Polyrachis laboriosa Smith, dan Camponotus olivieri F. (Dwomoh et al .,2008).
Jenis predator lainnya adalah Chilomeneslunata F. (Coleoptera:
Coccinellidae). MenurutDwomoh et al. (2008), kumbang ini dapatmemangsa
larva dan nimfa H. schoutedeni. Dysdercus superstitiosus dan H. Schoutedeni
juga dapatdimangsa oleh Sphodromantis lineola (Burm), Tarachodes afzelii Roy,
dan Amorphoscelis sp. (Dictyoptera: Mantidae) (Dwomoh et al. 2008).Hasil
penelitian Karmmawati et al., (2004) menunjukkan bahwa kehadiran semut
dapatmenekan persentase pucuk terserang Helopeltis.
2.2. Pengelolaan Serangga

Pada budidaya tanaman secara umum,termasuk jambu mete, pengelolaan


ekosistem didalamnya diarahkan terhadap keanekaragamanhayati artropoda. Pola
ekosistem yang dibentukdiharapkan mampu menciptakan kondisi yangkurang
menguntungkan terhadap perkembanganpopulasi serangga yang merugikan,
tetapimenguntungkan musuh alami. MenurutSastrosiswojo dan Oka (1997)
memperhatikankeanekaragaman hayati merupakan salah satu tujuankomprehensif
dalam tujuan pengendalian hamaterpadu (PHT).
Pengelolaan ekosistem jambu mete yangbertujuan mengkonservasi musuh
alami merupakansalah satu pendekatan dalam pengendalian hayati.Manipulasi
lingkungan dapat dilakukan denganm e n a n a m j e n i s t a n a m a n p e n g h a s i l
n e k t a r d a n polen, atau mengelola vegetasi liar (gulma) berbunga di sekitar
tanaman utama. Pemilihan jenistanaman sela (tumpangsari) di antara
tanaman jambu mete, di samping untuk hasil tambahanpetani juga untuk
merangsang musuh alamiatauserangga berguna lain (penyerbuk)
datang.Kehadiran musuh alami menjadi faktor pembatasbagi perkembangan
populasi serangga yangmerugikan, sedangkan kehadiran penyerbuk dapatmenjadi
salah satu faktor keberhasilan produksi.Rendahnya produktivitas jambu mete di
suatutempat dapat terjadi karena rendahnya populasiserangga penyerbuk.
Manipulasi lingkungan jambu mete untukpengelolaan serangga terutama
melaluipengelolaan vegetasi liar, perlu dilakukan secarahati-hati. Dalam hal
ini jenis vegetasiliar yangdikelola bukan merupakan inang dari hama.Menurut
Dharmadi et al. (1987) beberapa vegetasiliar diketahui sebagai inang Helopeltis
seperti Oxalislatifolia dan Eupatorium pallescens.
Teknik pemangkasan tanaman dapatdilakukan sebagai bagian pengelolaan
serangga.Dahan yang tidak produktif atau yang terseranghamaharus dipotong
sehingga sirkulasi udara dansinar matahari dapat berjalan dengan baik.
Dengan demikian kelembaban kanopi akan berkurang. Hali n i d i s a m p i n g
dapat mengurangi serangan h a m a , juga mengurangi seranga
nmikroorganisme sekunder pada bekasserangan hama.Sanitasi lahan yaitu
dengan memotong atau membuang buah yangt e l a h terinfeksi baik
y a n g t e r d a p a t p a d a p o h o n maupun yang telah jatuh ke tanah,
dapat memutu ssiklus hidup lalat buah.
Dalam pengelolaan serangga yangberorientasi pada bekerjanya sistem
alami, makaperlu dihindari faktor-faktor yang dapatmengganggu sistem tersebut
seperti pembakaransisa pemangkasan dan atau vegetasi liar, sertapenggunaan
insektisida sintetik.Menurut Supriadi et al. (2002) praktek pembakaran dapat
membunuhserangga-serangga berguna yang hidup danberkembang biak di atas
permukaan tanah. Disamping itu, cara tersebut dapat mengakibatkansebagian
cabang atau ranting jambu mete terbakarsehingga mempengaruhi kemampuan
berproduksitanaman.
Penggunaan insektisida dapat berpangaruhburuk terhadap musuh alami.
Oleh karena itu,penggunaannya dilakukan sebagai alternatif terakhir jika cara
pengelolaan sebelumnya kurang berhasil dalam menekan populasiserangga yang
merugikan,Penggunaannya harus dilakukan secara bijaksanamisalnya dengan
memperhatikan saat yang tepatu n t u k a p l i k a s i . S e b a g a i c o n t o h , p o p u l a s i
Helopeltis mencapai maksimum pada akhir musim hujan dana w a l m u s i m
kering yang juga bersamaan dengan
m u n c u l n y a b u n g a . M e n u r u t A z z a m - a l i d a n J u d g e (2001),
pada saat ini merupakan saat aplikasiinsektisida yang tepat. Carbaryl 0.1% dipakai
padamusim flushing, pembungaan dan pembuahan.Walaupun demikian carbaryl
juga dapat membunuhserangga menguntungkan lainnya, sepertipenyerbuk.
Pada kasus serangga lain yang merugikanyaitu S. indecora, Mardiningsih
et al. (2004) menyarankan bahwa bahwa penggunaan insektisidasintetis dapat
dilakukan sebelumpucuk berbungad a n p o p u l a s i n ya m e n c a p a i 1 2
e k o r / p u c u k . R a t a - rata populasi tersebutdapat menurunkan hasil jambu
mete57.83%.
Penerapan pengelolaan serangga yangberasosiasi dengan tanaman jambu
mete melaluicara-cara yang alami, bukan merupakan hal yangsulit untuk
diterapkan oleh petani. Namun demikian perlu strategi agar implementasinya
dapat diterima oleh petani. Strategi tersebut menurut Untung (1992) terdiri dari
strategi teknologi (memadukan cara yang ada, mengutamakan musuhalami,
disesuaikan keadaan ekosistem dan sosialm a s y a r a k a t ) , p e n e r a p a n d a n
p e m a s y a r a k a t a n (mudah dimengerti petani, kerjasama,kemandirian), dan
penelitian dan pengembanganPHT (di lapangan).
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Penerapan pengelolaan serangga yang berasosiasi dengan tanaman jambu


mete melaluicara-cara yang alami, bukan merupakan hal yang sulit untuk
diterapkan oleh petani. Namun demikian perlu strategi agar implementasinya
dapat diterima oleh petani. Strategi tersebut menurut Untung (1992) terdiri dari
strategi teknologi (memadukan cara yang ada, mengutamakan musuhalami,
disesuaikan keadaan ekosistem dan sosia lm a s y a r a k a t ) , p e n e r a p a n d a n
p e m a s y a r a k a t a n (mudah dimengerti petani, kerjasama, kemandirian), dan
penelitian dan pengembangan PHT (di lapangan).
DAFTAR ISI

Anonymous. 1979. Cashew (Anacardium occidentale L.). Edited by M.K. Nair,


E.V.V. BhaskaraRao, K.K.N. Nambiar, and M.C.Nambiar. Central
Plantation CropResearch Institute. India:55-72.

Asogwa EU, Anikwe JC, Ndubuaku TCN, OkelanaFA. 2009. Distribution and
damagecharacteristics of an emerging insect pestof cashew,
Plocaederus ferrugineus L.(Coleoptera: Cerambycidae) In Nigeria:
Apreliminary report. Afr J Biotech Vol. 8(1):53-58.

Azam-Ali SH, Judge EC. 2001. Small-scalecashew nut


processing.http://www.fao.org/ag/ags/agsi/Cashew/Cashew.htm.[17
Maret 2011].

Chinery, M. 1991. Collins Guide to The Insects of Britain and Western Europe.
Wm Collins& Sons Co. Ltd.

[DEPTAN]. Departemen Pertanian. 1995.Pengenalan & Identifikasi Hama


PenyakitTanaman Jambu Mete. Bogor: Deptan.

[DITJENBUN]. Direktorat Perlindungan TanamanPerkebunan. 2006. Data Lepas.


Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta.

Dwomoh EA, Ackonor JB, Afun JVK. 2008.Survey of insect species associated
withcashew ( Anacardium occidentale Linn.) andtheir distribution in
Ghana. African J Agril Res 3(3): 205-214.

Dwomoh EA, Afun JVK, Ackonor JB, Agene V.2009. Investigations on


Oecophyllalonginoda (Latreille) (Hymenoptera:Formicidae) as a
biocontrol agent in theprotection of cashew plantations.
PestManagement Sci, 6 5 : 4 1 - 4 6 . doi:10.1002/ps.1642.

F r e i t a s B M , PaxtonRJ. 1996. The role of wind and insects in cashew


( Anacardiumoccidentale) pollination in NE Brazil. J AgricSci
126:319-326.

Freitas BM , Paxton RJ, de Holanda-Neto JP.2002. Identifying pollinators among


anarray of flower visitors, and the case of inadequate cashew
pollination in NEBrazil. IN : Kevan P & Imperatriz FonsecaV L
( e d s ) P o l l i n a t i n g B e e s -
T h e Conservation Link Between Agriculturea n d N a t u r e -
M i n i s t r y o f E n v i r o n m e n t / Brasília. p.229-244.

Godse S K . 2 0 0 2 . A n a n n o t a t e d l i s t o f p e s t s infesting
c a s h e w i n K o n k a n R e g i o n o f Maharashtra The Cashew 16(3):
15-20.
Gullan PJ, Cranston PS. 2000. The Insects anOutline of Entomology. 2nd Ed.
London:Blackwell Science Ltd.

Joint JH, van Sauers-Muller A.


Anastrepha fraterculus. h t t p : / / c r e a t u r e s . i
f a s . u f l . edu/fruit/tropical/southamerican_fruit_fly [17
Maret 2011].

Malavasi A, Zucchi RA. 2000 Moscas-das-frutas deimportancia economica no


Brasil,conhecimento basico e aplicado. HolosEditora, Ribeirao Preto,
Brazil. pp. 277-283.

Mandal RC. 2000. Cashew Production andProcessing Technology. Agrobias,


India.195 pp.

Mardiningsih TL, Amir AM, Trisawa IM,Purnayasa IGNR. 2004. Bioekologi


danpengaruh serangan Sanurus indecora terhadap kehilangan hasil
jambu mete. Jurnal Penelitian Tanaman Industri 10(3):112-117.

Mardiningsih TL, Karmawati E, Wahyono TE.2006. Peranan Synnematium sp.


Dalampengendalian Sanurus indecora Jacobi(Homoptera: Flatidae).
Jurnal PenelitianTanaman Industri 12(3): 103-108.

Rojak A. 2001. Teknik pengamatan kemampuanmakan hama Cricula trifenestrata


Helf. Padatanaman jambu mete. Bull Teknik Pertanian 7: 18-20.

Rono MMA, Ahad MA, Hasan MS, Uddin MF,Islam AKMN. 2008.
Morphometricsmeasurement of mango defoliator Criculatrifenestrata
(Lepidoptera: Saturniidae). Int J Sustain Crop Prod 3:45-48.