Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRATIKUM KIMIA DASAR

TERMOKIMIA

Oleh
Nama : Helmi Fauziah
NIM : 171810201020
Kel / Kelas : 6/D
Nama Asisten : Nurul Zuhro’ul V.

LABORATORIUM KIMIA DASAR


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2017
PERCOBAAN KE-5
TERMOKIMIA

I. Tujuan
1.1 Menentukan kalor jenis kalorimeter sederhana.
1.2 Menentukan perubahan entalpi reaksi ∆H1, ∆H2 dan ∆H3.
1.3 Mempelajari penjumlahan perubahan entalpi reaksi yang berlangsung
bertahap.
II. Pendahuluan
2.1 MSDS (Material Safety Data Sheet)
2.1.1 Asam Klorida (HCL)
Asam klorida berbentuk cairan. Asam klorida atau HCL berbau pedas dan
kuat. HCL tidak berasa dan HCL tidak berasa dan tidak memiliki berat molekul. HCL
ber-pH kurang dari tujuh sehingga bersifat asam. HCL mempunyai titik didih dantitik
lebur yaitu 108,58oC dan -62,25oC. HCL berbahaya jika terkena mata dan kulit. Hcl
yang berkontak langsung dengan mata segeradibasuh dengan air selama 15 menit dan
kontak lensa dilepas. Hcl yang berkontak lansung dengan kulit segera dibasuh dengan
air mengalir selama 15 menit dan pakaian yang terkontaminasi dilepas dan dicuci
sebelum digunakan kembali (ScienceLab, 2013).
2.1.2 Akuades (H2O)
Akuades atau H2O memiliki bentuk cair dan tidak mempunyai bau. Akuades
juga tidak mempunyai rasa. Akuades akan mendidih pada suhu 100oC. Akuades
memiliki berat molekul 18,029 g/mol dan akuades tidak berwarna. Akuades ber-pH 7
sehingga bersifat netral. Akuades tidak berbahaya jika berkontak langsung dengan
mata dan kulit. Akuades juga tidak mudah terbakar. Akuades aman digunakan
(ScienceLab, 2013).
2.1.3 Sodium Hidroksida (NaOH)
NaOH mempunyai bentuk padat atau solid. NaOH tidak berbau dan tidak
berasa. Berat molekul NaOH adalah 40 g/mol. NaOH berwarna putih. pH NaOH 13,5
sehingga bersifat basa. NaOH mendidih dan melebur pada suhu 1388oC dan 323OC.
NaOH berbahaya jika berkontak langsung dengan dengan mata dan kulit. Mata dan
kulit yang terkontaminasi segera dibasuh dengan air mengalir selama 15 menit. Baju
atau pakaian yang terkena NaOH segera dilepas dan dicuci sebelum dipakai kembali
(ScienceLab, 2013).
2.2 Dasar Teori
Termodinamika adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari perubahan
energi secara kimia maupun fisis. Pratikum ini akan menyelidiki perubahan energi
dalam bentuk yang mengiringi reaksi yaitu bentuk kalor, yang disebut termokimia.
Hukum termodinamika menjelaskan bahwa perubahan energi yang menyertai
perubahan wujud dinyatakan dalam rumusan :
∆E = Q – W...........................................................................................(Pers. 1)
dimana Q adalah kalor yang diserap oleh sistem dan W adalah kerja yang dilakukan
sistem. Reaksi kimia yang terjadi pada tekanan tetap dirumuskan sebagai berikut :
W = P x ∆V...........................................................................................(Pers. 2)
dimana W adalah kerja yang dilakukan sistem, P adalah tekanan gas dan ∆V adalah
perubahan volume. Kuantitas kalor yang diserap pada tekanan tetap disebut entalpi
(∆H) (Epinur, dkk, 2011).
Termodinamika berkaitan erat dngan termokimia yang menangani
pengukuran dan penafsiran perubahan kalor yang menyertai reaksi kimia, perubahan
keadaan dan pembentukanlatutan. Termokimia mempunyai dua metode eksperimen
yang paling biasa disebut kalorimetri pembakaran dan kalorimetri reaksi. Kalorimetri
pembakaarn adalah suatu unsur atau senyawa dibakar, biasanya dalam oksigen dan
energi atau kalor yang dibebaskan dalam reksi itu diukur. Kalorimetri reaksi
menunjuk pada perubahan reaksi sesuai apa saja secara reaksi pembakaran. Metode
reaksi ini lebih umum digunakan denagn senyawa organik dan larutan-larutannya.
Contoh kalorimetri reaksi yaitu direaksikan untuk senyawa organik, kalorimetri
pembakaran mencakup pemutusan kerangka karbon bila senyawa itu terbakar dalam
oksigen. Metode pembakaran mempunyai penerapan yang sesuai dengan senyawa
organik yang kurang reaktif terhadap reagensia selain oksigen dan menghasilkan
lebih dari satu produk dengan reagensia lain. Kalorimetri reaksi dapat dilakukan
dengan senyawa yang mudah bereaksi dengan cukup cepat pada endapan sedang
tanpa pertukaran produk samping yang tidak diinginkan. Kalor yang diserap atau
dilepaskan dengan menaruh suatu intensitas yang ditimbang dari pereaksi-pereaksi
dalam wadah, membiarkan reaksi bergabung dan mencatat perubahan temperatur
dalam air disekitarnya (Keenan, 1984).
Kalor yang ditentukan dengan kalorimetri lavoisier dan lapince pada tahun
1870 sudah menyadari bahwa kalor yang diserap dalam reaksi peruraian senyawa
adalah sama besarnya dengan kalor yang dibebaskan dalam reaksi pembentukannya
dalam kondisi yang sama. Reaksi kimia yang arahnya ditulis kebalikannya maka
besar ∆H adalah kebalikannya juga. Germain Henry Hess pada tahun 1048
mengemukakan bahwa kalor yang bersangkutan dengan sejenis reaksi adaah konstan
dan tidak bergantung pada jalannya reaksi yang ditempuh kearah reaksi yang
dimasukinya, asalkan isoterm dan P tetap atau konstan. Pernyataan Germain Henry
Hess disebut sebagai hukum Hess. Hukum Hess dapat membantu kita dalam
menghitung nilai ∆H dari jenis yang tidak dapat kita ketahui secara eksperimen
(Suwandi, 1995).
Perubahan energi dapat terjadi dalam suatu sistem maupun lingkungan.
Sistem dapat berupa gas, uap air dan uap dalam kontak cairan. Sistem dibagi menjadi
tiga macam, yaitu :
1. Sistem terbuka merupakan sistem yang memungkinkan terjadinya pertukaran
energidan materi ke lingkungannya. Contohnya adalah suatu zat dalam gelas
kimia.
2. Sistem tertutup merupakan yang memungkinkan terjadi pertukaran energi
tanpa pertukaran materi ke lingkungannya. Contohnya padasejumlah gas
pada silinderyang dilengkapi penghisap.
3. Sistem terisolasi merupakan sistem yang tidak ada pertukaran energimaupun
materi ke lingkungannya.
(Braddy, 1999).
Kalor menurut Alberty (1992) adalah perpindahan energi termal. Kalor
mengalir dari satubagian ke bagian yang lain atau dari suatu sistem kesistem yang
lain. Kalor dapat mengalir karena perbedaan suhudikedua sistem. Nilai kalorreaksi
tergantung pada beerapa faktor, yaitu :
1. Jumlah zat yang bereaksi
2. Keadaan fisika
3. Temperatur
4. Tekanan
5. Jenis reaki (P tetap atau V tetap)
Penerapan hukum termodinamika 1 menurut Syukri (1999) dalam bukunya
bahwa penerapannya terhadap peristiwa kimia disebut termokimia. Reaksi kimia
termasuk proses isotermal apabila dilakukan diudara terbuka maka kjalorreaksi
adalah :
Q x P = ∆H…………………………………………………...(Pers. 3)
Dimana Q adalah kalor, P merupakan tekanan dan ∆H merupakan entalpi. Persamaan
3 dapat menghitung kalor menggunakan perubahan entalpi biasa Q = ∆H reaksi
dimana ∆H adalah H hasil pada tekanan tetap standar sebagai berikut :
AB + CD → AC + BD ∆H = X kJ/mol
Reaksi – reaksi kimia diatas dapat diketahui ∆H nya yang merupakan perubahan
entalpi pada tekanan itu. Kalor jenis yang bekerja pada reaksi kimia ada empat jenis,
yaitu :
1. Kalor pembentukan.
2. Kalor penguraian.
3. Kalor penetralan.
4. Kalor reaksi.
2C2H2 (g) + 5O2 (g) → 4CO2 (g) + 2H2O (l)…………….................…....(Pers. 5)
Reaksi diatas merupakan pembakaran gas asetilena (C2H2) dalam oksigen
merupakan reaksi kimia yang melepaskan banyak energi. Asetilena, oksigen,
karbondioksida dan air merupakan campuran reaksi oksida dan air merupakan
campuran reaksi sebagai sistem dan alm sisanya sebagai lingkungan. Energi tidak
dapat diciptakan maupun dimusnahkan sehingga setiap energi yang hilang dari sistem
harus diterima oleh lingkungannya. Kalor yang dihasilkan dari proses pembakaran
dipindahkan dari sistem ke lingkungannya. Proses reaksi kimia yang melepas energi
atau kalor (perpidahan energi termal ke lingkungan) disebut proses eksotermik.
2HgO(s) 2Hg(l) + O2(g) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (Pers. 6)
Reaksi penguraian merkuri (II) oksida (HgO) padasuhu tinggi merupakan contoh
proses endotermik, di mana kalor harus disalurkan ke system. Reaksi eksotermik
energi total produk lebih kecil dibanding energi total reaktan. Perbedaan dalam energi
tersebut adalah kalor yang disalurkan oleh sistem ke lingkungan. Reaksi endotermik
merupakan kebalikan dari reaksi eksotermik. Perbedaan antara energi produk dan
reaktan sama dengan klaor yang disalurkan ke sistem oleh lingkungan (Chang, 2004).
Hukum Hess merupakan penerapan dari hukum pertama termodinamika.
’Entalpi reaksi secara keseluruhan adalah jumlah entalpi reaksi dari reaksi-reaksi
individual yang merupakan bagian dari suatu reaksi’. Seseorang yang mengetahui
panas reaksi dari masing-masing tahap, maka panas reaksi yang diinginkan dapat
dihitung dengan menambha atau mengurangi panas reaksi dari masing-masing tahap.
Prinsip ini di mana panas reaksi dari atau dikurangi secara aljabar disebut hukum
Hess mengenai penjumlahan panas kontan (Atkins, 1994).
III. Metodologi
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
- Kalorimeter sederhana
- Termometer
- Gelas kimia 200 ml
3.1.2 Bahan
- Akuades
- NaOH solid
- Larutan HCl 2M
- Larutan NaOH 2M
3.2 Skema Kerja
3.2.1 Penentuan Tetapan Kalorimeter
Akuades
diisi ke dalam kalorimeter sebanyak 20 ml, diukur suhu dan dicatat
sebagai t1.
dipanaskan dalam gelas kimia 200ml sebanyak 20 ml sampai suhu
65oC dan dicatat sebagai t2, lalu dituangkan ke kalorimeter dan
diaduk dan suhu diamati kemudian dicatat suhu tertinggi sebagai t3.
dihitung kalor jenis kalorimeter.
Hasil
3.2.2 Kalor Pelarutan NaOH

NaOH
HH diambil kalorimeter dan diisi akuades 20 ml, lalu diukur suhunya
sebagai t1.
ditimbang sebanyak 2 gram dan dicatat beratnya.
dimasukkan ke kalorimeter.
diaduk dengan cepat.
perubahan suhu diamati dan dicatat suhu tertingginya sebagai t2.
Hasil
3.2.3 Kalor Reaksi Antara Larutan HCl dan Larutan NaOH

NaOH
HH dituang pada gelas kimia sebanyak 20 ml. Kalorimeter diisi HCl
20 ml dan suhu diukur sebagai t1.
diukur suhunya sebagai t2.
dituangkan ke kalorimeter, diaduk cepat dan perhatikan perubahan
suhu dean dicatat sebagai t3.
Hasil
IV. Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil
4.1.1 Penentuan Tetapan Kalorimeter
No Larutan Volume (ml) T (°C) Q (J) K (J/K)
1 Akuades dalam kalorimeter 20 29 1008 -252
2 Akuades dipanaskan 20 65 -2016 -252
Campuran akuades panasdan yang didalam
3 kalorimeter 40 41 -3024 -252

4.1.2 Kalor Pelarutan NaOH


v (ml) / M
No Bahan (gr) T (°C)
1 Akuades didalam kalorimeter 20 ml 29
2 NaOH padat 2g -
3 Campuran NaOH dan akuades 20 g 33

4.1.3 Kalor Reaksi Antara Larutan NaOH dan larutan HCl


No Bahan v (ml) T (°C) mol Q (J) ∆Hn (J/mol)
1 NaOH 20 29 0,04 1211,28 7518
2 HCl 20 30 0,04 -1512 7518
3 NaCl 20 36 0,04 300,72 7518

4.2 Pembahasan
Termokimia adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara energi panas
dan energi kimia. Termokimia mencakup kalor yang diserap atau dilepaskan dalam
han yang digunareaksi kimia, sumber perubahan fase, atau dalam pengenceran suatu
larutan. Didalam ilmu kimia, sumber perubahan energi tambahan yang penting
berasal dari kalor yang diberikan atau diambil dari isinya membentuk sistem. Jadi
kalor dapat diukur secara tidak langsung dengan cara mengukur kerja.
Perubahan kalor dapat diamati pada tekanan konstan dan sistem yang
diamati menyangkut cair-padat sehingga perubahan volume dapat diabaikan.
Akibatnya kerja yang bersangkutan dengan sistem dapat pula diabaikan (P∆V = 0).
Oleh karena itu, perubahan entalpi (∆H) sama dengan perubahan energi dalam (∆U).
Perubahan energi dapat terjadi dalam suatu sistem maupun lingkungan. Sistem dapat
berupa gas, uap air, dan uap dalam kontak dengan cairan.
Percobaan kelima ini akan melaksanakan 3 percobaan, yaitu penentuan
tetapan kalorimeter, kalor pelarutan NaOH, dan kalor reaksi antara larutan NaOH dan
larutan HCl. Percobaan ini menggunakan kalorimeter yang digunakan untuk
mengukur jumlah kalor yang diserap atau dilepas. Percobaan ini juga memerlukan
termometer. Termometer digunakan untuk mengukur suhu awal dan suhu campuran.
Percobaan pertama yaitu mencari tetapan kalorimeter. Bahan yang
digunakan adalah akuades, akuades yang dipanaskan dan alat yang dibutuhkan adalah
kalorimeter , termometer, gelas beaker dan bunsen. Langkah pertama yaitu
menyaipakan 20 mL akuades dan dimasukan kedalam kalorimeter serta diukur
suhunya sebagai T1. Langkah kedua adalah memanaskan akuades sampai suhu 65oC.
Suhu air yang menunjuk 65oC sebagai T2. Langkah ketiga yaitu mencampur akuades
panas ke dalam kaloimeter dan diaduk. Suhu saat pencampura diukur dan dicatat
yang konstan. Suhu tersebut dicatat sebagai suhu campuran yaitu Tc. Langkah-
langkah diatas digunakan untuk mencari jumlah kalor atau Q. Q1 yaitu kalor akuades
dalam kalorimeter, Q2 merupakan kalor akuades yang dipanas dan Q3 merupakan
panas reaksi hasil dari campuran kedua akuades. Q3 akan memudahkan kita mencari
K atau tetapankalorimeter. K bersatuan Joule per Kelvin sesuai dengan rumusnya
yaitu Q3 dibagi suhu campuran dikurangi suhu awal akuades yang di kalorimeter. Q1
yang dihasilakn dari percobaan yaitu + 1008 J, Q2 -2016 J dan Q3 -3040 J. Hasil
percobaan diatas dapat disimpulkan yaitu percobaan satu merupakan reaksi
eksotermis dimana ditandai dengan hasil akhir reaksi yang mempunyai kalor negatif
dan mengalami kenaikan suhu.
Percobaan kedua merupakan kalor pelarutan NaOH. Bahan yang dibutuhkan
untuk percobaan ini adalah NaOH padat dan akuades serta alat yang dibutuhkan
adalah kalorimeter dan termometer. Langkah pertama yaitu menimbang NaOH
sebanyak 2 gram dan mengukur akuades sebanyak 20 ml. Akuades dimasukan ke
kalorimeter dan diukur suhunya sebagai T1. NaOH damasukan ke dalam kalorimeter
dan diukur suhunya sebagai Tc yaitu suhu campuran. Suhu campuran dari reaksi yang
dilakukan menunjukan angka 33oC sehingga dapat disimpulkan bahwa percobaan dua
termasuk reaksi eksotermis.
Percobaan ketiga adalah kalor reaksi antara larutan NaOH dan larutan HCl.
Langkah pertama yaitu mengkur NaOH 2M sebanyak 20 ml dan HCl 2M sebanyak
20 ml. Larutan HCl di masukan ke dalam kalorimeter dan diukur suhunya sebagai T1.
Suhu NaOH juga diukur sebagai T2. Langkah selanjutnya yaitu memasukan larutan
NaOH dimasukan ke larutan HCl dan diaduk dengan cepat. Suhu saat pencampuran
diukur dan ditulis sebagai Tc. Tc digunakan untuk mencari hasil kalor dari reaksi
setiap bahan dan kalor hasil reaksi akhir. Q1 menghasilkan kalor sebanyak + 1128,28
J, Q2 sebanyak -1512 J dan Q3 sebanyak + 300,72 J. Q3 merupakan kalor antara
larutan NaOH dan larutan HCl. Kalor-kalor diatas dapat kita gunakan untuk mencari
perubahan entalpi netralisasi karena reaksi antara NaOH dan HCl termasuk reaksi
asam basa. Q3 yang positif akan menghasilkan ∆Hn yang positif juga karena rumus
untuk mencari entalpi tersebut adalah Q3 yang dibagi dengan jumlah mol hasil dari
reaksi antara NaOH dan HCl yaitu NaCl. Perubahan entalpi yang positif menunjukan
bahawa reaksi diatas merupakan reaksi endotermis.
V. Penutup
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari pratikum termokimia adalah :
1. Termokimia adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara energi panas
dan energi kimia.
2. Percobaan satu dan dua merupakan teaksi eksotermis karena kalor
yangdihasilkan bernilai negatif dan mengalami kenaikan suhu.
3. Percobaan ketiga merupakan reaksi endotermis karena perubahan entalpi
yang dihasilkan bernilai positf.
5.2 Saran
Saran untuk pratikum selanjutnya adalah kalorimeter ditutup saat akuades
atau larutan lain yang dimasukan agar suhu yang dihasilkan sesuai. Kalorimeter yang
terbuka dan suhunya diukur akan menghasilkan hasil yang berbeda. Hasil tersebut
akan menyebabkan hasil akhir pratikum kurang benar.
DAFTAR PUSTAKA

Alberty, dkk. 1992. Kimia Fisika 1. Jakarta : Erlangga.


Atkins. 1994. Kimia Fisika II. Jakarta : Erlangga.
Braddy. 1999. Kimia Universitas : Asas dan Struktur Jilid I. Jakarta : Binarupa
Aksara
Chang. 2004. Kimia Dasar Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Epinur, dkk . 2011. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Jambi : Universitas Jambi
Keenan. 1984. Kimia Untuk Universitas Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Sciencelab. 20013. MSDS. Akuades. www.sciencelab.com (di akses pada tanggal 20
Oktober 2017).
Sciencelab. 20013. MSDS. Asam Klorida. www.sciencelab.com (di akses pada
tanggal 20 Oktober 2017).
Sciencelab. 20013. MSDS. Sodium Hidroksida. www. sciencelab.com (di akses pada
tanggal 20 Oktober 2017).
Suwandi. 1995. Kimia Fisika. Jakarta : Bina Akasara.
Syukri. 1999. Kimia Dasar. Bandung : ITB.
LAMPIRAN

Penentuan tetapan kalorimeter


T1 = 29oC = 302 oC
T2 = 65oC = 338oC
Tc = 41oC = 314oC
Vair = 20 ml
Ρair = mair / vair
Mair = Ρair x vair
Mair = 1 x 20 = 20 g
Q1 = mair x Cair x (Tc-T1)
Q1 = mair x Cair x (Tc-T1)
Q1 = 20 x 4,2 x (41 - 29)

Q1 = 20 x 4,2x 12

Q1 = 1008 J

Q2 = -(mair x Cair x (T2-Tc))

Q2 = -(20 x 4,2 x (65 - 41)

Q2 = -(84 x 24)

Q2 = - 2016 J
Q1 = -(84 x 24)
Q3 = Q2 – Q1

Q3 = -2016 - 1008

Q3 = - 3024 J
-

K = Q3 / (Tc – T1)

K = -3024 / (314- 302)


K = - 252 J /K

Kalor pelarutan NaOH

Massa NaOH = 2 gr

Mol NaOH = Massa NaOH / Mr NaOH

Mol NaOH = 2/ 40 = 0,05 mol

Vlarutan = 20 ml

Massa larutan = ρair x vlarutan

Massa larutan = 1 x 20 = 20 gr

Tc = 36oC

NaOH (s) →NaOH (aq)

m 0,05 mol

r -0,05 mol + 0,05 mol

s 0 0,05 mol

Kalor reaksi antara larutan NaOH dan laerutan HCl

V Hcl = 20 ml = 0,02

MHCl = 2M

T1 = 30oC

Mol HCl = M x V

Mol HCl = 2 x 0,02 = 0,04 mol

VNaOH = 20 ml = 0,02 l

T2 = 29oC

MnaOH = 2M

Mol NaOH = M x V

Mol NaOH = 2 x 0,02 = 0,04 mol


NaOH (aq) + HCl (aq) →NaCl (aq) + H2O (l)

m 0,04mol 0,04 mol

r -0,04 mol -0,04 mol + 0,04 mol∆Hn+0,04


= mol
s 0 0 0,04 mol 0,04 mol

Q1 = mlarutan x Cair x (Tc-T2)

Q1 = 41,2 x 4,2 x (36 - 29)

Q1 = 1211,28 J

Q2 = K (Tc-T1)

Q2 = -252 (36- 30)

Q2 = -1512 J

Q3 = -(Q1 + Q2)

Q3 = -(1211,28 - 1512)

Q3 = + 300,72 J

∆Hn = Q3 / mol NaCl

∆Hn = +300,72 / 0,04

∆Hn = +7518 J/mol