Anda di halaman 1dari 28

Analisis Masalah dan Learning Issue

Skenario A Blok 21

Nama : Monica Trifitriana


Nim : 04011381320042
Kelas : B

Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya
I. Analisis Masalah
1.1. Sejak satu tahun terakhir dia sering lupa meletakkan benda, sering
ketinggalan belanjaan di pasar, dan sering lupa jalan pulang ke rumah.
1.1.1. Apa penyebab dan bagaimana mekanisme sering lupa meletakkan benda,
ketinggalan belanjaan, dan sering lupa jalan pulang?
DiawaliAdanya:
1. Faktorusia (Elasitasarterimenurun)
2. FaktorPenyakit yang diderita
DM danhipertensi:
 Resistensi Insulin penurunansintesis NO Fungsi vasodilator
dindingarterimenurun(Elasitasarterimenurun)
 Hiperglikemiaterbentuknyaplakpadadindingarteridanpengerasandindi
ngarteri (Arterosklerosis)
TahananvaskulermeningkatPeningkatantekanandarah
(hipertensi)terlepasnyaplak-plak yang menyebabkanterjadinyaoklusi
di pembdarahkecil di
otaksuplaidarahkeotakmenurunKematiandarisel-sel neuron di

otakTerbentuknyaInfarkLakunarpadalobus temporalis kiri

Padakasus: Lupanyameletakkanbenda, ketinggalanbelanjaan di


pasardanlupapulangkerumah. Hal
inidiakibatkanadanyagangguanmemorieksplisit (deklaratif) dan recent
memory yang berkaitandenganhipotalamusdan media lobus
temporalis.
Memorieksplisitdibagi 2, yaitu memori episodic dan memori semantic.
Memori episodic menunjuk keingatan tentang pengalaman atau kejadian
khusus. Memori semantic menunjuk pada proses belajardan recall.

Akibat terbentuknya Infark pada lobus temporal mengakibatkan Penderita


jadicepatlupadalamhalmengingat.Inilah yang
membuatpenderitalupameletakanbendasampailupapulangkerumah.

1.2.Analisis Aspek Klinis


1.2.1. Bagaimana cara penegakkan diagnosis beserta pemeriksaan penunjang yang
diperlukan?
Penegakkan Diagnosis:
 Riwayat medis umum
Infeksi kronis, gangguan endokrin, diabetes mellitus, neoplasma, kebiasaan
merokok, penyakit jantung, penyakit kolagen, hipertensi, hiperlipidemia, dan
aterosklerosis.
 Riwayat Neurologis
- Etiologi demensia
- Gangguan serebrovaskuler, trauma kapitis, infeksi SSP, epilepsi, tumor
serebri, dan hidrosefalus
 Riwayat Gangguan Kognisi
- Gangguan memori, gangguan orientasi, gangguan berbahasa/komunikasi,
gangguan fungsi eksekutif, gangguan praksis, dan visuospasial.
- Aktivitas harian: pekerjaan, mengatur keuangan, mempersiapkan keperluan
harian, melaksanakan hobi, dan mengikuti aktivitas sosial.
 Riwayat gangguan Perilaku dan Kepribadian
Riwayat depresi, skizofrenia, terutama tipe paranoid
 Riwayat Intoksikasi
Alumunium, air raksa, pestisida, insektisida, dan lem; alkoholisme, dan
merokok, serta pemakaian kronis obat antidepressan dan narkotika,
 Riwayat Keluarga
Demensia, gangguan psikiatri, depresi, penyakit parkinson, sindroma down
dan retardasi mental

PEMERIKSAAN FISIK
 Pemeriksaan fisik umum
 Pemeriksaan neurologis

PEMERIKSAAN NEUROPSIKOLOGI
 Evaluasi memori, orientasi, bahasa, kalkulasi, praksis, visuospasial, dan
visuoperseptual
 Mini Mental State Examination (MMSE)
 Clock Drawing Test (CDT)
 Activity of Daily Living (ADL)
 Instrumental Activity of Daily Living (IADL)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Pencitraan
Dengan adanya fasilitas pemeriksaan CT scan otak atau MRI dapat
dipastikan adanya perdarahan atau infark (tunggal atau multipel), besar
serta lokasinya. Juga dapat disingkirkan kemungkinan gangguan struktur
lain yang dapat memberikan gambaran mirip dengan DVa, misalnya
neoplasma.Positron Emission Tomography (PET) dan Single Photon
Emission Computerized Tomography (SPECT)
 Laboratorium
Digunakan untuk menentukan penyebab atau faktor risiko yang
mengakibatkan timbulnya stroke dan demensia. Pemeriksaan darah tepi,
laju endap darah (LED), kadar glukosa, glycosylated Hb, tes serologi
untuk sifilis, HIV, kolesterol, trigliserida, fungsi tiroid, profil koagulasi,
kadar asam urat, lupus antikoagulan, antibodi antikardiolipin dan lain
sebagainya yang dianggap perlu.
 Lain-lain Foto Rontgen dada, EKG, ekokardiografi, EEG, pemeriksaan
Doppler, potensial cetusan atau angiografi
Diagnosis demensiaditegakkanmelaluiduatahap, pertamamenegakkan diagnosis
demensia, keduamencari proses vaskular yang mendasari.
Terdapatbeberapakriteriadiagnostikuntukmenegakkan diagnosis DVa, yaitu:
a. Diagnostic and statictical manual of mental disorders edisikeempat (DSM-
IV),
b. Pedomanpenggolongandan diagnosis gangguanjiwa (PPDGJ) III,
c. International clasification of diseases (ICD-10),
d. The state of California Alzheimer’s disease diagnostic and treatment centers
(ADDTC)
e. National institute of neurological disorders and stroke and the association
internationale pour la recherche et l’enseignement en neurosciences (NINDS-
AIREN).

Terdapat beberapa kriteria diagnostik yang melibatkan tes kognitif dan neurofisiologi
pasien yang digunakan untuk diagnosis demensia vaskular. Diantaranya adalah:
1. Kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, fourth
edition, text revision (DSM-IV-TR). Kriteria ini mempunyai sensitivitias yang
baik tetapi spesifitas yang rendah. Rumusan dari kriteria diagnostik DSM-IV-TR
adalah seperti berikut:
a. Adanyadefisitkognitifmultipleks yang
dicirikanolehgangguanmemoridansatuataulebihdarigangguankognitifberikutin
i
1) afasia (gangguanberbahasa)
2) apraksia (gangguankemampuanuntukmengerjakanaktivitasmotorik,
sementarafungsimotorik normal),
3) agnosia
(tidakdapatmengenalataumengidentifikasikanbendawalaupaunfungsisens
oriknya normal)
4) gangguandalamfungsieksekutif (merancang, mengorganisasikan,
dayaabstraksi, membuaturutan).
b. Defisitkognitifpadakriteria
yangmenyebabkangangguanfungsisosialdanokupasional yang jelas.
c. Tandadangejalaneurologikfokal (refleksfisiologikmeningkat,
reflekspatologikpositif, paralisispseudobulbar, gangguanlangkah,
kelumpuhananggotagerak) ataubuktilaboratoriumdanradiologik yang
membuktikanadanyagangguanperedarandarahotak (GPDO),
misalinfarkmultipleks yang melibatkankorteksdansubkorteks, yang
dapatmenjelaskankaitannyadenganmunculnyagangguan.
d. Defisit yang ada tidak terjadi selama berlangsungnya delirium.

2. Berdasarkan PPDGJ-III
Kriteriadiagnostikumum
 Adanyapenrunankemampuan, baikdlmdayaingat,
maupundayapikirseseorgsehinggamengganggukegiatansehari-hari
 Tidakadaggnkesadaran, kecualibilabertumpangtindihdengandelirium
 Gejaladanhendayatersebut harussudahnyatauntuksetidak-tidaknya 6 bulan
Kriteriadiagnostikkhusus :
Demensiavaskular
 Terdapatnyagejala dementia
 Hendayafungsikognitifbiasanyatidakmerata (mungkinterdapathilangnyada
yaingat, hendayaintelek, dantandaneurologisfokal). Dayatilikdiri (insight)
dandayanilai (judgment) secararelatiftetapbaik
 Suatu onset yang mendadakatau deteriorasi yang bertahap,
disertaiadanya gejalaneurologisfokal ,meningkatkankemungkinan
diagnosis dementia vaskuler.

3. Skor iskemik Hachinski

Riwayat dan gejala Skor


Awitan mendadak 2
Deteriorasi bertahap 1
Perjalanan klinis fluktuatif 2
Kebingungan malam hari 1
Kepribadian relatif terganggu 1
Depresi 1
Keluhan somatik 1
Emosi labil 1
Riwayat hipertensi 1
Riwayat penyakit serebrovaskular 2
Arteriosklerosis penyerta 13 1
Keluhan neurologi fokal 2
Gejala neurologis fokal 2

Skor ini berguna untuk membedakan demensia alzheimer dengan


demensia vaskular. Bila skor ≥ 7 : demensia vaskular. Skor <4 : penyakit
alzheimer.

4. Kriteria the National Institute of Neurological Disorders and Stroke-


Association International pour la Recherché at L'Enseignement en
Neurosciences (NINDS-AIREN)9.
1. Kriteria untuk diagnosis probable vascular dementia:
A. Demensia
Didefinisikan dengan penurunan kognitif dan
dimanifestasikan dengan kemunduran memori dan dua atau lebih domain
kognitif (orientasi, atensi, bahasa, fungsi visuospasial, fungsi
eksekutif, kontrol motor, praksis), ditemukan dengan pemeriksaan
klinis dan tes neuropsikologi, defisit harus cukup berat sehingga
mengganggu aktivitas harian dan tidak disebablan oleh efek stroke saja.
Kriteria eksklusi yaitu kasus dengan penurunan kesadaran, delirium,
psikosis, aphasia berat atau kemunduran sensorimotor major. Juga
gangguan sistemik atau penyakit lain yang menyebabkan defisit memori
dan kognisi.

B. Penyakit serebrovaskular
Adanya tanda fokal pada pemeriksaan neurologi seperti
hemiparesis, kelemahan fasial bawah, tanda Babinski, defisit sensori,
hemianopia, dan disartria yang konsisten dengan stroke (dengan atau tanpa
riwayat stroke) dan bukti penyakit serebrovaskular yang relevan dengan
pencitraan otak (CT Scan atau MRI) seperti infark pembuluh darah
multipel atau infark strategi single (girus angular, thalamus, basal
forebrain), lakuna ganglia basal multipel dan substansia alba atau lesi
substansia alba periventrikular yang ekstensif, atau kombinasi dari yang di
atas.

C. Hubungan antara dua kelainan di atas


- Awitan demensia 3 bulan pasca stroke
- Deteriorasi fungsi kognitif mendadak atau progresi defisit
kognitif yang fluktuasi atau stepwise

2. Gambaran klinis konsisten dengan diagnosis probable vascular dementia


A. Adanya gangguan langkah dini (langkah kecil “marche a petits pas”,
atau langkah magnetik, apraksi-ataxic atau Parkinson)
B. Riwayat unsteadiness dan jatuh tanpa sebab
C. Urgensi dan frekuensi miksi dini serta keluhan berkemih yang lain
bukan disebabkan oleh kelainan urologi
D. Pseudobulbar palsy
E. Perubahan personaliti dan suasana hati, abulia, depresi,
inkontinensi emosi, atau defisit subkortikal lain seperti retardasi
psikomotor dan fungsi eksekutif abnormal.

3. Gambaran klinis yang tidak mendukung demensia vaskular


A. Awitan dini defisit memori dan perburukan memori dan
fungsi kognitif lain seperti bahasa (aphasia sensori transkortikal),
ketrampilan motor (apraksia) dan persepri (agnosia) yang progresif
tanpa disertai lesi fokal otak yang sesuai pada pencitraan
B. Tidak ada konsekuensi neurologi fokal selain dari gangguan kognitif
C. Tidak ada kerusakan serebrovaskular pada CT Scan atau MRI otak

4. Diagnosis klinikal untuk possible vescular dementia


A. Adanya demensia dengan tanda neurologi fokal pada pasien
tanpa pencitraan otak/tiada hubungan antara demensia dengan stroke.
B. Pasien dengan defisit kognitif yang variasi dan bukti penyakit
serebrovaskular yang relevan

5. Kriteria untuk diagnosis definite vascular dementia


A. Kriteria klinis untuk probable vascular dementia
B. Bukti histopatologi penyakit serebrovaskular dari biopsi atau autopsi
C. Tidak ada neurofibrillary tangles dan plak neuritik
D. Tidak ada kelainan patologi atau klinikal yang dapat menyebabkan
demensia

1.2.2. Bagaimana patofisiologi pada kasus?


GDS 240 mg/dl
Riwayat DM danHipertensi Kolestrol total 260 mg%

Resistensi Insulin HiperglikemiadanPeningkata


nkolestrol
Sintesis NO menurun
Timbulplakdanpengerasandindingpe
mbuluhdaraharteri (arterosklerosis)
Vasodilatasipembuluhdarahmenurun

Elasitasdindingarterimenurun Faktorusia (>50 tahun)

TahananVaskulermeningkat

Tekanandarahmeningkat

Terlepasnyaplak

Terdapatoklusipadapembuluhdaraharterikecil (a. Lentikulostriata)

Lupawaktumakandanmandi
Suplaidarahkeotakmenurun
Lupameletakkanbarang
KematianSel neuron

Lupabelanjaan di pasar
Kematiansel neuron di otak Kelemahanseparuhbadanka
Lupajalanpulangkerumah nan

GangguanMemori InfarkLakunar di lobus temporalis kiri Gangguan di capsulainterna

Gangguanemosi Mudahmarahdantersinggung

MMSE 15/30 DemensiaVaskular

1.2.3. Bagaimana tatalaksana, pencegahan dan edukasi diagnosis pada kasus?


Pencegahan:
1. Penderita hipertensi, diabetes melitus, hiperlipidemia harus diberikan
pengobatan secara optimal dan dianjurkan untuk berhenti merokok serta
membatasi asupan alkhohol.
2. Dianjurkanuntuk mengubah pola hidupnya menjadi gaya hidup yang
sehat.
3. Faktor risiko non-aterogenik seperti atrium fibrilasi dan stenosis arteri
karotid dapat diperbaiki, Pada stenosis yang berat (> 70%) dapat
dilakukan carotid endarterectomy.
4. Warfarin sangat bermanfaat untuk menurunkan risiko pada penderita
stroke dengan atrium fibrilasi dibandingkan pemberian aspirin.
5. Mereka yang mengalami TIA atau stroke non-hemoragik dapat
diberikan anti platelet untuk menurunkan risiko.
6. Mereka yang tidak berhasil dengan pemberian aspirin dapat diberikan obat
anti platelet lainnya seperti ticlopidine

Penatalaksanaan:
Tujuan penatalaksanaan demensia vaskular adalah:
• Mencegah terjadinya serangan stroke baru
• Menjaga dan memaksimalkan fungsi saat ini
• Mengurangi gangguan tingkah laku
• Meringankan beban pengasuh
• Menunda progresifitas ke tingkat selanjutnya

Penatalaksanaan terdiri dari non-medikamentosa dan medikamentosa:


1. Non-Medikamentosa
a. Memperbaiki memori
The Heart and Stroke Foundation of Canada mengusulkan beberapa cara
untuk mengatasi defisit memori dengan lebih baik:
 Membawa nota untuk mencatat nama, tanggal, dan tugas yang perlu
dilakukan.
 Melatih otak dengan mengingat kembali acara sepanjang hari sebelum tidur.
Ini dapat membina kapasiti memori
 Menjauhi distraksi seperti televisi atau radio ketika coba memahami pesan
atau instruksi panjang.
 Tidak tergesa-gesa mengerjakan sesuatu hal baru. Coba merencana sebelum
melakukannya.
 Banyak bersabar. Marah hanya akan menyebabkan pasien lebih sukar untuk
mengingat sesuatu. Belajar teknik relaksasi juga berkesan.

B. Diet
Penelitian di Rotterdam mendapati terdapat peningkatan resiko demensia
vaskular berhubungan dengan konsumsi lemak total. Asam folat, vitamin B6 dan
vitamin B12 yang rendah juga berhubungan dengan peningkatan homosisteine
yang merupakan faktor resiko stroke.

2. Medikamentosa
a. Mencegah demensia vaskular memburuk
Progresifitas demensia vaskular dapat diperlambat jika faktor resiko
vaskular seperti hipertensi, hiperkolesterolemia dan diabetes diobati. Agen anti
platlet berguna untuk mencegah stroke berulang. Pada demensia vaskular,
aspirin mempunyai efek positif pada defisit kognitif. Agen antiplatelet yang lain
adalah tioclodipine dan clopidogrel.
• Aspirin
Mencegah platelet-aggregating thromboxane A2 dengan memblokir aksi
prostaglandin sintetase seterusnya mencegah sintesis prostaglandin
• Tioclodipine
Digunakan untuk pasien yang tidak toleransi terhadap terapi aspirin
atau gagal dengan terapi aspirin.
• Clopidogrel bisulfate
Obat antiplatlet yang menginhibisi ikatan ADP ke reseptor platlet
secara direk. Agen hemorheologik meningkatkan kualiti darah dengan
menurunkan viskositi, meningkatkan fleksibiliti eritrosit, menginhibisi
agregasi platlet dan formasi trombus serta supresi adhesi leukosit.
• Pentoxifylline dan ergoid mesylate (Hydergine)
Dapat meningkatkan aliran darah otak. Dalam satu penelitian yang
melibatkan 29 pusat di Eropa, didapatkan perbaikan intelektual dan fungsi
kognitif dalam waktu 9 bulan. Di European Pentoxifylline Multi-Infarct
Dementia Study, pengobatan dengan pentoxifylline didapati berguna untuk
pasien demensia multi-infark.

b. Memperbaiki fungsi kognitif dan simptom perilaku


Obat untuk penyakit Alzheimer yang memperbaiki fungsi kognitif dan gejala
perilaku dapat juga digunakan untuk pasien demensia vaskular. Obat-obat
demensia adalah seperti berikut:
Edukasi:
1) Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari
2) Melakukankegiatan yang dapatmembuat mental kita sehat dan aktif
 Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
 Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki
persamaan minat atau hobi
3) Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untu ktetaprelaksdalam kehidupan
sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.
4) Adanya peran keluarga untuk mengingatkan dalam pemberian obat dan membuatkan
catatan

II. Learning Issues


Demensia

Demensia adalah suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual progresif yang


menyebabkan deteriorasi kognisi dan fungsional, sehingga mengakibatkan gangguan
fungsi sosial, pekerjaan dan
aktivitas sehari-hari (Asosiasi
Alzheimer Indonesia,2003).

Demensia merupakan salah


satu penyakit yang paling
sering terjadi pada lanjut
usia. Di negara-negara barat,
demensia vaskular (DVa)
menduduki urutan kedua
terbanyak setelah penyakit
Alzheimer. Tetapi karena
DVa merupakan tipe
demensia yang terbanyak
pada beberapa negara Asia
dengan populasi penduduk
yang besar maka kemungkinan DVa ini merupakan tipe demensia yang terbanyak di
dunia. DVa juga merupakan bentuk demensia yang dapat dicegah sehingga
mempunyai peranan yang besar dalam menurunkan angka kejadian demensia dan
perbaikan kualitas hidup usia lanjut. Dalam arti kata luas, semua demensia yang
diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah serebral dapat disebut sebagai DVa. Istilah
DVa menggantikan istilah demensia multi infark karena infark multipel bukan satu-
satunya penyebab demensia tipe ini. Infark tunggal di lokasi tertentu, episode
hipotensi, leukoaraiosis, infark inkomplit dan perdarahan juga dapat menyebabkan
kelainan kognitif.

Saat ini istilah DVa digunakan untuk sindrom demensia yang terjadi sebagai
konsekuensi dari lesi hipoksia, iskemia atau perdarahan di otak. Prevalensi DVa
bervariasi antar negara, tetapi prevalensi terbesar ditemukan di negara maju. Di
Kanada insiden rate pada usia ≥65 tahun besarnya 2,52 per 1000 sedangkan di Jepang
prevalensi DVa besarnya 4,8%. Prevalensi DVa akan semakin meningkat dengan
meningkatnya usia seseorang, dan lebih sering dijumpai pada laki-laki. Sebuah
penelitian di Swedia menunjukkan risiko terjadinya DVa pada laki-laki besarnya
34,5% dan perempuan 19,4%. The European Community Concerted Action on
Epidemiology and Prevention of Dementia mendapatkan prevalensi berkisar dari
1,5/100 wanita usia 75-79 tahun di Inggris hingga 16,3/100 laki-laki usia di atas 80
tahun di Itali.
1. Etiologi
 Dapat disebabkan oleh
berbagai keadaan
 Sebagian reversibel
 Dapat terjadi karena berbagai
proses di otak:
 Gangguan serebrovaskuler
 Infeksi susunan saraf pusat
(SSP)
 Defisiensi vitamin
 Gangguan metabolik
 Proses penuaan yang abnormal
 Sebagian besar ditemukan pada usia lanjut

2. Jenis-jenisDemensia
Berdasarkan etiologi dan reversibilitas:
 Reversibel/potensial reversibel:
Demensia
vaskuler,
Demensia akibat
hidrosefalus,
Demensia akibat
kelainan
psikiatri,
Demensia akibat
penyakit umum
berat, Demensia
akibat
intoksikasi,
Demensia akibat
defisiensi vit
B12, Demensia
akibat gangguan/penyakit metabolik misalnya hipertiroid/hipotiroid.
 Irreversibel:
Demensia alzheimer, demensia akibat infeksi (HIV), demensia akibat trauma
kapitis, demensia akibat penyakit Parkinson, demensia akibat penyakit
Huntington, demensia akibat penyakit Pick, demensia akibat penyakit
Creutzfeld Jacob
Frekuensi tertinggi: demensia Alzheimer (50-55% dari seluruh demensia)
Asia (Singapura, Jepang, dan India): demensia vaskuler > demensia alzheirmer.

F 00 Demensia pada penyakit Alzheimer


F00.0 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan onset dini
F00.1 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan Onset Lambat
F00.2 Demensia pada penyakit Alzheimer dengan, tipe tidak khas atau tipe
campuran
F00.9 Demensia pada penyakit Alzheimer YTT (Yang Tidak Tergolongkan)

F 01 Demensia Vaskular
F01.0 Demensia Vaskular Onset akut
F01.1 Demensia Vaskular Multi-Infark
F01.2 Demensia Vaskular Sub Kortikal
F01.3 Demensia Vaskular campuran kortikal dan subkortikal
F01.8 Demensia Vaskular lainnya
F01.9 Demensia Vaskular YTT

F02 Demensia pada penyakit lain


F02.0 Demensia pada penyakit PICK
F02.1 Demensia pada penyakit Creutzfeldt-Jakob
F02.2 Demensia pada penyakit Huntington
F02.3 Demensia pada penyakit parkinson
F02.4 Demensia pada penyakit HIV
F02.8 Demensia pada penyakit lain YDT –YDK (Yang Di-Tentukan-Yang Di-
Klasifikasikan ditempat lain)
F03 Demensia YTT
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan demensia pada F00-F03
sebagaiberikut :
1. .X0 Tanpa gejala tambahan
2. .X1 Gejala lain, terutama waham
3. .X2 Halusinasi
4. .X3 Depresi
5. .X4 Campuran lain

Demensia Vaskuler Demensia Alzheimer

Perjalanan Awitan mendadak/berkembang Awitan tidak jelas


penyakit secara stepwise, kemunduran berkembang secara
kognisi berkatian dengan stroke progresif perlahan-lahan

Riwayat Faktor Hipertensi, DM, gangguan Riwayat keluarga


Resiko kardioserebrovaskuler lainnya demensia, cedera kepala,
APOE alel

Gejala/keluhan Gangguan Gangguan daya ingat


psikomotor/perlambatan jangka pendek

Gangguan atensi Kesulitan menemukan


kata

Disfungsi kemampuan eksekusi Kemunduran visuospasial

Daya ingat keseluruhan lebih Daya ingat dan orientasi


baik menurun/jelek

Sulit menyusun kalimat Sulit memahami kalimat


dan mengingat nama

Lebih cenderung apatis, depresif, Lebih cenderung waham


emosi labil, halusinasi, delirium dan insigt buruk

Adanya kelainan neurologis Tidak ada kelainan


fokal neurologis fokal
3. Patofisiologi
Patologi dari penyakit vaskuler dan perubahan-perubahan kognisi telah diteliti.
Berbagai perubahan makroskopik dan mikroskopik diobservasi. Beberapa
penelitian telah berhasil menunjukkan lokasi dari kecenderungan lesi patologis,
yaitu bilateral dan melibatkan pembuluh-pembuluh darah besar ( arteri serebri
anterior dan arteri serebri posterior). Penelitian-penelitian lain mendemonstrasikan
keberadaan lakuna-lakuna di otak misalnya di bagian anterolateral dan medial
thalamus, yang dihubungkan dengan defisit neuropsikologi yang berat. Beberapa
lokasi strategis termasuk substansia alba bagian frontal atau basal dari forebrain,
basal ganglia, genu dari kapsula interna hippocampus, mamillary bodies, otak
tengah dan pons.Pada analisis mikroskopik perubahan - perubahan tipe Alzheimer
(neurofibrillary tangles dan plak senile) didapatkan juga sehingga akan
merumitkan gambaran. Istilah demensia campuran digunakan ketika baik
perubahan vaskuler dan degenerasi memberikan kontribusi pada penurunan
kognisi

Mekanisme patoisiologi dimana patologi vaskuler menyebabkan kerusakan


kognisi adalah belum jelas. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dalam kenyataannya
beberapa patologi vaskuler yang berbeda dapat menyebabkan kerusakan kognisi,
termasuk trombosis otak emboli jantung, dan perdarahan.Peran dari abnormalitas
substansia alba sebagai penyebab disfungsi kognisi telah diketahui. Suatu
penelitian terbaru tentang patologi substansia alba pada 40 kasus dengan demensia
vaskuler dikelilingi infark dan substansia alba tanpa infark

Infarklakunar
Lakunar adalah infark kecil, diameter 2-15 mm, disebabkan kelainan pada small
penetrating arteries di daerah diencephalon, batang otakdan sub kortik alakibat
dari hipertensi. Pada sepertiga kasus, infark lakunar bersifata simptomatik.
Apabila menimbulkan gejala, dapat terjadi gangguan sensorik, transient ischaemic
attack, hemiparesis atau ataksia. Bila jumlah lakunar bertambah maka akan timbul
sindrom demensia, sering disertai pseudobulbar palsy. Pada derajat yang berat
terjadi lacunar state. CT scan otak menunjukkan hipodensitas multiple dengan
ukuran kecil, dapat jugat idak tampak pada CT scan otak karena ukurannya yang
kecil atau terletak di daerah batang otak. Magnetic resonance imaging (MRI) otak
merupakan pemeriksaan penunjang yang lebih akurat untuk menunjukkan adanya
lakunar terutama di daerah batang otak (pons).
4. Penegakkan Diagnosis
ANAMNESIS
 Riwayat medis umum
Infeksi kronis, gangguan endokrin, diabetes mellitus, neoplasma, kebiasaan
merokok, penyakit jantung, penyakit kolagen, hipertensi, hiperlipidemia, dan
aterosklerosis.
 Riwayat Neurologis
- Etiologi demensia
- Gangguan serebrovaskuler, trauma kapitis, infeksi SSP, epilepsi, tumor
serebri, dan hidrosefalus
 Riwayat Gangguan Kognisi
- Gangguan memori, gangguan orientasi, gangguan berbahasa/komunikasi,
gangguan fungsi eksekutif, gangguan praksis, dan visuospasial.
- Aktivitas harian: pekerjaan, mengatur keuangan, mempersiapkan keperluan
harian, melaksanakan hobi, dan mengikuti aktivitas sosial.
 Riwayat gangguan Perilaku dan Kepribadian
Riwayat depresi, skizofrenia, terutama tipe paranoid
 Riwayat Intoksikasi
Alumunium, air raksa, pestisida, insektisida, dan lem; alkoholisme, dan
merokok, serta pemakaian kronis obat antidepressan dan narkotika,
 Riwayat Keluarga
Demensia, gangguan psikiatri, depresi, penyakit parkinson, sindroma down
dan retardasi mental

PEMERIKSAAN FISIK
 Pemeriksaan fisik umum
 Pemeriksaan neurologis

PEMERIKSAAN NEUROPSIKOLOGI
 Evaluasi memori, orientasi, bahasa, kalkulasi, praksis, visuospasial, dan
visuoperseptual
 Mini Mental State Examination (MMSE)
 Clock Drawing Test (CDT)
 Activity of Daily Living (ADL)
 Instrumental Activity of Daily Living (IADL)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Pemeriksaan laboratorium
Pencitraan otak : Computerized Tomography (CT) atau Magnetic Resonance,
Positron Emission Tomography (PET) dan Single Photon Emission
Computerized Tomography (SPECT)
 Pemeriksaan EEG
 Pemeriksaan Genetika

5. Diagnosis Banding
a. Demensia reversibel
 Alkoholisme
 Gangguan psikiatri
 “normal pressure hydrocephalus”
 Demensia vaskuler
b. Demensia irreversibel
 Demensia alzheimer
 Pick’s disesase
 Parkinson’s disease dementia (pdd)
 Demensia terkait aids

6. Tatalakana
Tujuan:
 Mempertahankan kualitas hidup dengan memanfaatkan kemampuan yang ada
secara optimal
 Menghambat progresivitas penyakit
 Mengobati gangguan lain yang menyertai demensia
 Membantu keluarga untuk menghadapi keadaan penyakitnya secara realistis
dan memberikan informasi cara perawatan yang tepat
PENATALAKSANAAN FARMAKOLOGIS
 Demensia reversibel → untuk pengobatan kausal
 Demensia alzheimer → menghentikan progresivitas penyakit dan
mempertahankan kualitas hidup
Pengobatan simtomatis:
 Golongan penghambat asetilkolinesterasi (seperti donepezil hidroklorida,
rivastigmin dan galantamin),
 golongan reseptor NMDA seperti memantin

Pengobatan dengan disease modifying agents:


 Obat golongan antiinflamasi nonsteroid
 Antioksidan
 Neurotropik
 Obat yang bekerja pada beta amiloid, protein tau, dan presenilin
 Vaksin untuk demensia alzheirmer → masih penelitian

PENATALAKSANAAN NON FARMAKOLOGIS


Ditujukan untuk keluarga, lingkungan, dan penderita
Tujuan:
 Menetapkan program aktivitas harian penderita
 Orientasi realitas
 Modifikasi perilaku
 Memberikan informasi dan pelatihan yang benar pada keluarga, pengasuh dan
penderita
Program harian penderita:
 Kegiatan harian teratur dan sistematis, meliputi latihan fisik untuk memacu
aktivitas fisik dan otak yang baik (brain gym)
 Acupan gizi berimbang, cukup serat, mengandung antioksidan, mudah
dicerna, penyajian menarik dan praktis.
 Mencegah/mengelola faktor risiko yang dapat memperberat penyakit,
misalnya: hipertensi, ganguan vaskuler, diabetes, dan merokok
 Melaksanakan hobi dan aktivitas sosial sesuai dengan kemampuan
 Melaksankan “LUPA” (Latih, Ulang, Perhatikan, dan Asosisasi)
 Tingkatkan aktivitas saat siang hari, tempatkan di ruangan yang
mendapatkan cahaya cukup

Orientasi realitas:
 Penderita diingatkan akan waktu dan tempat
 Beri tanda khusus untuk tempat tertentu, misalnya kamar mandi
 Pemberian stimulasi melalui latihan/permainan, misalnya permainan
monopoli, kartu, scrabble, mengisi teka teki silang, sudoku dan lain-lain →
memberi manfaat pada predemensia (MCI)
 Menciptkan lingkungan yang familiar, aman dan tenang.
 Hindari keadaan yang membingungkan dan menimbulkan stres.
 Berikan keleluasaan bergerak.

Modifikasi perilaku:
 Gangguan perilaku berupa agitasi, agresivitas, wandering, dan disinhibis
seksual
 Observasi perilaku penderita dan mencari faktor pencetusnya
 Memberikan informasi yang benar mengenai penyakit pada keluarga dan
pengasuh
 Membuat rencana pola asuh/perawatan penderita dengan melibatkan seluruh
anggota keluarga maupun pengasuh

 Kesejahteraan keluarga dan pengasuh perlu diperhatikan


 Keluarga dan pengasuh harus bekerjasama dalam merawat penderita
 Pengasuh diberi pelatihan dalam penanganan penderita terutama untuk
mengatasi gangguan perilaku dan inkontinens
 Pengasuh diberi waktu istirahat dan kesempatan untuk berkomunikasi
dengan pengasuh lain

7. Komplikasi
PenyakitKardiovaskular
a. Gangguan perilaku: wandering, delusi, halusinasi, judgement yang buruk
b. Depresi
c. Sering terjatuh dan abnormalitas dalam berjalan
d. Pneumonia aspirasi
e. Syndrome of delayed posthypoxic leukoencephalopathy (DPHL)

8. AspekMedikolegal
Kehilangan kemampuan mengurus keuangan sehari-hari, mengemudi, dan
membuat keputusan hukum → perlu pengampunan terbatas maupun penuh
berdasarkan keputusan pengadilan.
menunjukkan adanya:
1. Patologi fokal meliputi daerah infark luas dan sempit pada substansia alba
2. Patologi difus substansia alba yang melibatkan rarefaction perifokal yang
DaftarPustaka
Leys D, Parnetti L, Pasquier F. Vascular dementia. In: Fisher M, Bogousslavsky J, editors.
Current review of cerebrovascular disease. 3th ed. Philadelphia: Current Medicine Inc;
1999. p. 137- 47.

Looi JCL, Sachder PS. Differentiation of vascular dementia from AD on neuropsychological


tests.Neurology 1999; 53: 670-80.

Multi-infarct dementia [monograph on CD-Room].Bowler JV, Hachinski VC.Neurobase; 1999.

Roman GC, TatemichiTK, ErkinjunttiT, Cummings JL, Masdeu JC, Garcia JH, et al. Vascular
dementia: diagnostic criteria for research studies. Report of the NINDS-AIREN
International Workshop.Neurology 1993; 43: 250-60.

Brust, J.C.M. (2008). Current Diagnosis & Treatment: Neurology. McGraw-Hill Companies, Inc.
Singapore.

Dewanto, G. dkk (2009).PanduanPraktis Diagnosis


danTatalaksanaPenyakitSaraf.PenerbitBukuKedokteran EGC. Jakarta. Hal 170-184

Dorsey, J., White, M., Barston, S. (2007 December). Vascular Dementia: Signs, Symptoms,
Treatment, and Support. Diunduhdarihttp://helpguide.org/elder/vasculardementia.htm