Anda di halaman 1dari 9

18

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya

terhadapbahaya yang akan ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan

hidup.Mekanisme imunitas alami merupakan mekanisme fisiologik, imunitas

nonspesifik berupa komponen normal tubuh yang selalu ditemukan pada

individusehat, dan siap mencegah mikroba masuk kedalam tubuh dan dengan

cepat menyingkirkanmikroba tersebut (Baratawidjaja, 2006).

Pada infeksi malaria, sistem imun terpajan terhadap berbagai stadium parasit

dan menstimulasi baik mekanisme imun humoral maupun seluler.Pertahanan

inang yang bekerja langsung atau secara tidak langsungpadareplikasi parasitdapat

merusak atau membunuh sel yang terinfeksi(Malaguarnera &Musumeci,

2002).Imunitas terhadap infeksi malaria sangat kompleks, yaitu melibatkan

imunitas humoral yang diperantarai oleh antibodi spesifik dan imunitas seluler

yang diperankan oleh komponen seluler dari sistem imun tubuh(Perlmann &

Marita, 2002).

Plasmodium falciparum merupakan penyebab malariapaling

berbahayadibandingkan Plasmodium lainsepertiP. vivax, P. malariae, dan P.

ovale,karena menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi(Harijantoet

al.,2009; Depkes, 2003).Infeksi P. falciparum sering menyebabkan

komplikasipada beberapa organ misalnyaotak, paru, ginjaldan

peritonium(Armiyanti et al., 2007).

Dalam tubuh inang (manusia) P. falciparummengalami dua fase

perkembangan yaitu faseeksoeritrositik(hepar) dan faseeritrositik. Perkembangan


19

P.falciparum pada fase eksoeritrositik(hepar)saat terjadi infeksi,antigen

parasitmemicu aktivasi limfositT (seluler)sebagai pengendali utama sistem

kekebalan tubuhmengaktifkansel T helper(CD4+) dan Sel T

sitotoksik(CD8+)(Baratawidjaja,2006). SelThelper(CD4+)mengaktifkanTh-

1mensekresi sitokin proinflamasi(TNF-α,TNF-β,IL-1, IL-8, IL-12, dan IFN-γ)

mengaktifkan imun seluler, serta Th-2mensekresi sitokin anti-inflamasi (IL-4,IL-

5, IL-6, IL-10) mengaktifkan imun humoral.Sel T sitotoksik(CD8+)akan

mengenali dan mengeliminasi parasit pada stadiumpre-eritrositik atau disebut

juga fasehepatositik, dengan bantuan molekul MHC/HLA kelas I. Molekul

MHC/HLA kelas I akan berikatan dengan antigen parasit pada permukaan

sel(Abbas et al., 1994). Sel T yang teraktivasi baik melalui imunisasi maupun

terpacu oleh parasit malaria akan mensekresi limfokin. Substansi limfokin

tersebut akan mengaktivasi sel-sel efektor, seperti makrofag. Makrofag sebagai sel

pertahanan dapat melakukan aktivitasnya dengan berbagai cara seperti fagositosis

dan destruksi mikroorganisme. Makrofag sebagaisel penyaji antigen, mensekresi

enzim dan substansi biologis yang lain,serta mengontrol pertumbuhan sel tumor

(Supargiyono, 2005).

PerkembanganP.falciparum di dalam sel darah merah fase eritrositik,akan

mengekspresikan protein P. falciparumErythrocyte Membrane-1 (Pf-

EMP-1) dan berbagai jenis protein lainnya HRP-1, Pf-EMP-2 (MESA) yang

terpusat pada knobs yang berasal dari parasit dan permukaan sel darah merah

terinfeksi parasit. Protein Pf-EMP-1 merupakan antigen yang terekspresi dalam

berbagai tipe, sebagai suatu cara bagi parasit untuk tetap bisa melekat

(adhesi)pada permukaan sel endotel pembuluh darah sebagai reseptornya, yaitu

CD 36,CD31, ICAM-1, ELAM-1 (E-selektin), VCAM-1, trombospondin, asam


20

hialuronat, chondroitin sulfat (CSA).Ikatan antaraPf-EMP-1 dengan molekul

adhesi, menyebabkan eritrosit yang terinfeksi melekat pada kapiler organ-organ

tubuh, yang dapat menimbulkan gangguan aliran darah lokal. Gangguan sirkulasi

yang berat akan menyebabkan iskemia dan hipoksia, dengan hasil akhir kegagalan

organ. Sifat inilah yang menjadikan Pf-EMP-1sebagai protein virulens dan

berperan penting dalam patogenesis malaria(Harijanto, 2009).

Pada fase eritrositik, eritrosit terinfeksi parasit yang pecah sewaktu proses

skizogoni mengeluarkan berbagai toksin seperti glycosylphospatidylinositols

(GPI), hemazosin, atau mungkin antigen parasit lain seperti MSP-1, MSP-2,RAP-

1(Wijayanti et al., 1997). Toksin tersebut akan memicumakrofag dan limfosit T

helper-1, menghasilkan berbagai sitokin proinflamasi (TNF-α, IL-1, IL-6, IL-8,

IL-12, dan IFN-γ) dalam jumlah banyak, yang akan menimbulkan gangguan

metabolisme sel, selanjutnya sitokin tersebut dapat memicu enzim inducible nitric

oxide synthase(iNOS), pada sel endotel vaskuler untuk menghasilkan

NO(Baratawidjaya, 2006).

Overproduksi sitokin proinflamasi dan NOyang tinggi akan meningkatkan

ekspresi molekul adhesi pada endotel, sehingga meningkatkan sitoadherens dan

sekuesterisasiparasit, diduga pula dapat mengganggu fungsi sel serta fungsi organ

tertentu. Pengeluaran mediator sebenarnya bertujuan untuk membunuh parasit,

namun karena sifat radikal bebas yang tidak sfesifik dapat menyebabkan

kerusakan pada jaringan sekitarnya termasuk apoptosis sel endotel (Armiyanti et

al., 2007).

Overproduksi radikal bebas pada infeksi malaria menyebabkan keadaan stres

oksidatif. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan peroksidasi lipid serum
21

pada infeksi P. falciparum, yang prosesnya melalui mekanisme peningkatan

produksi ROS,dan ketersediaan peroksidan yang meningkat dalam bentuk

hemoglobin dan Fe bebas sebagai akibat hemolisis. Peningkatan radikal bebas

tersebut salah satunya berasal dari netrofil.Netrofil berusaha mengeliminasi

parasit dengan cara fagositosis, dan melepaskan radikal bebas serta enzim-enzim

proteolitik.

Kemampuan fagositosis dan pengeluaran radikal bebas oleh netrofil,diinduksi

adanya antibodi yang mengopsonisasi parasit dan adanya sitokin-sitokin seperti

IFN-γ, TNF-α, IL-1β, dan granulocyte macrophage-coilony stimulating

factor(GM-CSF).Dengan adanya keterlibatan stres oksidatif di dalam

patomekanisme malaria dengan komplikasi, maka dalam penatalaksanaan malaria

tidak cukup hanya dengan pemberian obat malaria saja, namun perlu dibarengi

dengan pemberian terapi adjuvant, salah satunya adalah dengan pemberian

antioksidan, guna mencegah dan menghambat timbulnya komplikasi yang lebih

berat(Armiyanti et al., 2007).

Salah satu sumberantioksidan yang sangat potensial adalahP.conoideus Lam,

atau yang lebih dikenal buah merah.Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat

Papua, buah merah ini digunakan sebagai makanan yang dikaitkan dengan

upacara adat dan sebagai obat tradisional. I Made Budi (2003), dalam

penelitiannya mengungkapkan buah merah mempunyai khasiat dalam

menyembuhkan berbagai macam penyakit, misalnya mencegah penyakit mata,

cacingan, penyakit kulit, kanker, malaria dan banyak lagi jenis penyakit lainnya.

Buah merah mengandung senyawa antioksidan yang sangat tinggi meliputi

karotenoid (12.000 ppm), β-karoten (700 ppm), tokoferol (11.000 ppm), danα-

tokoferol (500 ppm). Secara umum buah merah sebagai antioksidan dapat
22

berperan dalam melawan efek radikal bebas dengan cara menghambat peroksidasi

lipid, sehingga dinding eritrosit menjadi lebih kuat dan tidak mudah ruptur, dan

mengurangi penyebaranPlasmodium atau menurunkan derajat parasitemia

(Tjahyani & Khiong, 2010).Selain itu mengkonsumsi β-karoten 30-60mg/hari

akan meningkatkan imunitas dan juga dapat meningkatkan stamina karena

kandungan kalorinya yang tinggi biasanya mencapai 400 kilo kalori/100g untuk

menambah energi (As adi, 2011).

Plasmodium bergheimerupakan haemoprotozoajenis parasit malaria yang

dapat menginfeksi dan menyebabkan malaria pada mencit. Infeksi P.berghei dapat

menampilkan gejala malaria cerebral mirip dengan malaria cerebral pada manusia

akibat infeksi P. falciparum. Plasmodium berghei banyak digunakan dalam

penelitian pengembangan biologi parasit malaria pada manusia, karena sudah

tersedianya teknologi pembiakan secarain vitro dan pemurnianpada tahapan siklus

hidup, serta pengetahuan pada susunan genomnya(Sundari et al., 1997).

Interferon gamma(IFN-γ)merupakan salah satu sitokin yang disekresi T

helper meresponimun seluler(Th1),yang sangat berperan aktif melawaninfeksi

parasitbaik pada stadium hepatosit maupun stadium eritrosit (Baratawidjaja,

2006).Interferon gamma (IFN-γ) memacu sekresi TNF-α untuk mengaktifkan

fagosit dan juga meningkatkan daya bunuh netrofil(Harijanto, 2009).Pada

saatterjadi infeksi parasit, Th1 mensekresi IFN-γyang merupakan salah satu

sitokin proinflamasi. Kadar IFN-γyang tinggi/berlebihan dapat merusak sel

endotel, bahkan dapat menguntungkan pertumbuhan parasit karena meningkatkan

sitoadherens (melalui peningkatan molekul adhesi pada endotel).Interferon

gamma (IFN-γ)mempunyai efek biologis metabolik seperti

hipoglikemia,menimbulkan pireksia, dan memicu reaksi radang (Harijanto,


23

2000).Oksida nitrrit (NO)dihasilkan makrofag melalui aktifasi sitokin IFN-γdan

TNF-α untuk membunuh parasit bila terjadi infeksi pada stadium

eritrosit.SintesisNO secara terus menerus mempertahankan tonus vaskuler, namun

pada kadar yang tinggiNOdapat berikatan dengan radikal bebas

H2O2membentukpereoksinitrityang toksik bagi sel,sehingga

menimbulkanvasodilatasi berlebihan yang dapat mengakibatkan hipotensi pada

malaria berat (Harijanto, 2000).

Buah merah (P. conoideus Lam) memiliki kandungan senyawa aktif kadar

tinggi sebagai antioksidan dan zat-zat gizi yang sangat bermanfaat. Antioksidan

bermanfaat untuk meningkatkan stamina dan aktivitas sel limfosit T helper, yang

berperan dalam mengaktifkan imunitas seluler dan humoral.T helper merespon

imun seluler (Th1) mensekresi sitokinIFN-γ, yang berperan aktif melawan infeksi

parasit baik pada stadium hepatosit maupun stadium eritrosit.Aktifasi sitokin IFN-

γdan TNF-αmemicu makrofag mensekresiNO,untuk mengeliminasi dan

membunuh eritrosit berparasit di dalam pembuluh darahbila terjadi infeksi, serta

mempertahankan tonus vaskuler.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penelitiberkeinginan untuk

melakukan penelitiandengan judul ”Pengaruh pemberian ekstrak etanol buah

merah (P.conoideus Lam),terhadap kadar IFN-γ dan kadar NOserum darah mencit

Swissyang diinfeksi P.berghei.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latarbelakang penelitian, rumusanmasalahdalam

penelitian iniadalah:
24

1. Apakah pemberian ekstrak etanol buah merah (P. conoideus

Lam),dapatmenurunkanIFN-γ pada mencitSwissyang diinfeksi P.berghei?

2. Apakah pemberian ekstrak etanol buah merah(P. conoideus

Lam),dapatmenurunkan kadarNOserumdarahmencit

SwissyangdiinfeksiP.berghei ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuiefek

pemberianekstrak etanol buah merahpada sistem imun.

2. Tujuan khusus

Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :

a. Mengetahui efek ekstrak etanol buah merah terhadap perubahankadarIFN-

γpada mencitSwissyang diinfeksiP.berghei.

b. Mengetahui efek ekstrak etanol buah merah terhadap

perubahankadarNOserumdarahmencit Swissyang diinfeksiP.berghei.

D. Keaslian Penelitian

1. Wahyuniari (2006),penelitian tentangpengaruh pemberian minyak buah merah

(P.conoideus Lam) pada respon imun seluler mencit setelah diinfeksi Listeria

monocytogenesmenjelaskan bahwa, aktivitas fagositosis makrofag peritoneal

dan aktivitas proliferasi limfosit limfa meningkat.Dalam penelitian ini,hewan

coba yang digunakan adalah mencit galur Balb/c betina sebanyak 60 ekor,

umur 6-8 minggu, berat badan 20-30g.

2. Penelitian Budi dan Paimin (2004) menyatakan

bahwa,P.conoideusLammengandung antioksidan tinggi yang sangat


25

bermanfaat untuk peningkatkan aktivitas sel-sel limfosit T helper. Diketahui

bahwa sel limfosit T helper berperan dalam mengaktifkan imunitas seluler dan

humoral, untuk mengeliminasi eritrosit berparasit di dalam pembuluh darah,

sehingga hal ini mencegah terjadinya eritrosit berparasit masuk keorgan-organ

dalam untuk membentuk sitoadherensi, sekuestrasi, dan rosetting.

3. Penelitian Geraldine (2006), tentang pengaruh pemberian minyak buah merah

(P.conoideusLam) sebelum dan selama Infeksi P. berghei terhadapsel leukosit

mononuklear mencit Swiss.Dijelaskan bahwa minyak buah merah

(P.conoideus Lam)meningkatkan persentase sel mononuklear kelompok

perlakuan secara bermakna sebelum infeksi,namun hal ini tidak terjadi selama

infeksi.

4.Penelitian efektivitas buah merah terhadap penyakit malaria pada manusia,

dengan cara menilai berat dan gambaran histologis limfamencit Swissyang

diinfeksi P. berghei, telah dilakukan Angrieni (2008).Hasil penelitian

menunjukkan bahwa, pemberian minyak buah merah 0,05ml/hari selama tujuh

hari menghasilkan perbedaan yang nyata pada gambaran limfa yang diamati

secara mikroskopis, namun tidak dapat menurunkan secara nyata berat

limfamencit Swissyang diinfeksiP. berghei.

Pada penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu, terutama

tujuanpenelitian yaitutentang pengaruh pemberianekstrak etanol buah

merahterhadapINF-γdan NOserum darah mencit Swissyang diinfeksi P.berghei.


26

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membuktikan secara ilmiah, bahwabuah

merah (P.conoideus Lam)meningkatkan sistem imun dan memiliki

efekpencegahanberbagai macam penyakit,khususnya penyakitmalaria berat

(malaria serebral). Dengan demikianbuah merah (P.conoideus Lam)dapat

dibudidayakan dan digunakansebagai salah satu tanaman obat alternatif.