Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KULIAH LAPANGAN EKOLOGI HEWAN

“PENGENALAN ALAT dan PENGUKURAN FAKTOR LINGKUNGAN “

OLEH:

KELOMPOK IV KELAS B

ANGGOTA : 1. THORIQ ALFATH (1610422044)


2. RATNA YUNITA (1610421035)
3. LINA JUWAIRIYAH (1610422012)
4. APRIMAWITA (1610422048)
5. AFRILLIA SAFITRI (1610422050)

ASISTEN : RANDY MAYANDRA

LABORATORIUM PENDIDIKAN IV

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG, 2018
I . PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik atau interaksi antara makhluk

hidup dengan lingkungannya, makhluk hidup dengan makhluk hidup lain, dan

lingkungan dengan lingkungan lain. Unit utama ekologi adalah ekosistem. Ekosistem

merupakan bagian dari lingkungan, ekosistem memiliki komponen-komponen

tertentu yang memiliki fungsi oleh karena itu disebut sebagai suatu system.

Komponen-komponen tersebut antara lain abiotik, biotik, fisika, kimiawi, dan

sebagainya. Contoh faktor biotik adalah makhluk hidup baik itu manusia, hewan,

ataupun tumbuhan. Contoh faktor abiotik yaitu suhu, kelembaban, iklim, curah

hujan, dan sebagainya (Kimball, 1983)

Faktor lingkungan abiotik secara garis besarnya dapat dibagi atas faktor

fisika dan faktor kimia. Faktor fisika anntara lain ialah suhu, kadar air, porositas,

dan tekstur tanah. Faktor kimia antara lain adalah salinitas, pH, kadar organik tanah,

dan unsur-unsur mineral tanah. Faktor lingkungan abiotik sangat menentukan

struktur komunitas hewan-hewan yang terdapat di suatu habitat (Suin, 1997).

Faktor lingkungan biotik bagi organisme tanah adalah organisme lain yang

juga terdapat dihabitatnya seperti mikroflora, tumbuh-tumbuhan, dan golongan

hewan lainnya. Pengukuran faktor fisika-kimia tanah dapat dilakukan langsung di

lapangan dan ada pula yang hanya dapat diukur di laboratorium. Untuk pengukuran

faktor fisika kimia tanah dilaboratorium maka dilakukan pengambilan contoh tanah

dan dibawa ke laboratorium (Suin, 1997).

Dalam ekosistem akuatik, air merupakan komponen ekosistem yang

terpenting. Pengetahuan kuantitas dan kualitas air merupakan salah satu dasar dalam

mempelajari suatu ekosistem akuatik. Air yang tersebar di alam semesta ini tidak

pernah terdapat dalam bentuk murni, namun bukan berarti bahwa semua air sudah
tercemar. Misalnya, walaupun di daerah pegunungan atau hutan yang terpencil

dengan udara yang bersih dan bebas dari pencemaran, air hujan yang turun di atasnya

selalu mengandung bahan-bahan terlarut, seperti CO2, O2, dan N2, serta bahan-

bahan tersuspensi, misalnya debu dan partikel-partikel lainnya yang terbawa air

hujan dan atmosfer (Jamili dan Muksin, 2003).

Dalam kegiatan praktikum Ekologi, pengumpulan data banyak melibatkan

pengukuran. Pengukuran cuplikan tersebut biasanya melibatkan alat-alat tertentu.

Supaya alat yang kita gunakan dapat mengukur dengan benar, sehingga diperoleh

data yang representatif, maka alat yang digunakan harus dikenali dan diketahui

prosedur operasinya. Alat - alat yang digunakan dalam ekologi mempunyai fungsi

dan cara kerja yang berbeda. Oleh karena itu perlu adanya pengenalan alat-alat yang

meliputi fungsi atau kegunaan alat, cara pemakaian dan prinsip kerja. Sehingga

ketika praktikum di lapangan mahasiswa mampu menggunakan alat-alat dengan

benar dan tepat. Kesesuaian dan cara pemakaian alat akan sangat berpengaruh pada

data yang diambil (Wirakusumah, 2003).

Prosedur operasional dari alat-alat yang digunakanan sesungguhnya bisa kita

pelajari secara manual yang selalu disertakan dalam alat tersebut. Dengan

mempelajari manual tersebut, diharapkan data yang diperoleh bisa lebih akurat dan

dapat dipertanggungjawabkan sehingga mencerminkan kondisi yang akurat

(Kimball, 1983).

Berdasarkan teori diatas perlu diadakannya praktikum lebih lanjut mengenai

pengenalan alat dan faktor lingkungan agar praktikan lebih memahami fungsi serta

kegunaan dari masing-masing alat dan faktor lingkungan yang mempengaruhi

pertumbuhan organisme.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan diadakannya praktikum ini adalah untuk mengetahui alat-alat yang

digunakan dalam ruang lingkup ekologi hewan beserta fungsi dan cara kegunaannya.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik

antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu

tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup

yang saling mempengaruhi. Komponen-komponen pembentuk ekosistem adalah

komponen hidup (biotik) dan komponen tak hidup (abiotik). Kedua komponen

tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang

teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan,

tumbuhan air, plankton yang terapung di air sebagai komponen biotik, sedangkan

yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang

terlarut dalam air (Heddy, 1986).

Makhluk hidup dapat melangsungkan hidupnya jika makhluk hidup tersebut

mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi

lingkungan dapat berupa suhu, cahaya, temperatur dan lain sebagainya. Faktor-faktor

ini juga merupakan komponen abiotik dalam ekosistem. Abiotik atau komponen tak

hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat

tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar

komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya (Kimball, 1983).

Habitat merupakan tempat hidupnya atau tempat makhluk hidup tumbuh dan

berkembang. Organisme ada yang hidup di daratan dan ada pula di perairan,

organisme yang hidup di daratan, keadaan habitatnya ditentukan oleh faktor fisika

kimia tanah dan iklim. Adapun organisme yang hidup di perairan, keadaan

habitatnya ditentukan oleh dasar perairan dan faktor fisika kimianya serta iklim

(Wirakusumah, 2003).

Faktor lingkungan abiotik secara garis besar dapat dibagi atas faktor fisika

dan faktor kimia. Faktor fisika antara lain ialah suhu, kadar air, porositas, dan tekstur
tanah. Faktor kimia antara lain adalah salinitas, pH, kadar organik tanah, dan unsur-

unsur mineral tanah. Faktor lingkungan abiotik sangat menentukan struktur

komunitas hewan-hewan yang terdapat di suatu habitat (Suin, 1997).

Proses biologi dipengaruhi suhu. Suhu udara sangat besar pengaruhnya

terhadap kehidupan organisme daratan, karena suhu udara merupakan faktor

pembatas bagi kehidupan. Pengukuran suhu udara dilakukan dengan menggunakan

thermometer air raksa, termometer maksimum minimum dan termograf. Prinsip kerja

dari alat – alat tersebut yaitu adanya pemuaian karena terjadinya kenaikan suhu

(Campbell, 2004).

Temperatur dan kelembaban umumnya penting dalam lingkungan daratan.

Interaksi antara temperatur dan kelembaban, seperti pada khususnya interaksi

kebanyakan faktor, tergantung pada nilai nisbi dan juga nilai mutlak setiap faktor.

Temperatur memberikan efek membatasi yang lebih hebat lagi terhadap organisme

apabila keadaan kelembaban adalah ekstrim, yakni apabila keadaan tadi sangat tinggi

atau sangat rendah daripada apabila keadaan demikian itu adalah sedang-sedang saja

(Odum, 1996).

Kelembapan udara merupakan jumlah uap air yang terdapat dalam udara

yang dinyatakan dalam ukuran berat uap air (dalam garam) per volume udara (dalam

m3). Suhu dan tekanan udara sangat berpengaruh terhadap kelembapan udara, maka

kelembapan udara yang diukur dinyatakan sebagai kelembapan relatif. Kelembapan

relatif diukur dengan menggunakan psychometer atau hygrometer. Prinsip kerja alat

tersebut adalah membandingkan suhu udara pada keadaan saat pengukuran dengan

suhu udara pada saat pengukuran yang kelembapan udaranya jenuh (Suin, 1997).

Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun

beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun. Penguapan air juga termasuk faktor

lingkungan. Adanya uap air di udara disebabkan karena menguapnya air. Besarnya

penguapan air dipengaruhi oleh suhu, angin, dan kelembapan udara. Untuk
mengukur penguapan air digunakan evaporimeter piche. Alat ini sangat sederhana,

hanya berupa satu tabung gelas berskala yang diisi dengan air serta ditutup dengan

kertas saring dan digantungkan terbalik (Campbell, 2004).

Tanah didefinisikan sebagai medium alami untuk pertumbuhan tanaman yang

tersusun atas mineral, bahan organik, dan organisme hidup. Apabila pelapukan fisik

batuan disebabkan oleh perubahan temperatur dan dekomposisi kimia hasilnya

memberikan sumbangan yang cukup banyak dalam pembentukan tanah. Kegiatan

biologis seperti pertumbuhan akar dan metabolisme mikroba dalam tanah berperan

dalam membentuk tekstur dan kesuburan tanah. Contoh tanah dapat diambil

menggunakan bor tanah (Subba, 1994).

Dalam studi ekologi organisme tanah, pengukuran faktor lingkugan abiotik

penting dilakukan karena besarnya pengaruh faktor abiotik itu terhadap keberadaan

dan kepadatan populasi kelompok organisme ini. Dengan dilakukannya pengukuran

faktor lingkungan abiotik, maka akan dapat diketahui faktor yang besar pengaruhnya

terhadap keberadaan dan kepadatan populasi organisme yang teliti. Selain itu

pengukuran faktor lingkuingan abiotik tanah akan sangat menolong dalam

perencanaan pembudidayaannya (Campbell, 2004).

Cahaya memainkan peranan penting dalam penyebaran, orientasi, dan

pembungaan tumbuhan. Di dalam hutan tropika, cahaya merupakan faktor pembatas

dan jumlah cahaya yang menembus melalui sudut hutan tampak menentukan lapisan

atau tingkatan yang terbentuk oleh pepohonannya. Keadaan ini mencerminkan

kebutuhan tumbuhan akan ketenggangan terhadap jumlah cahaya yang berbeda-beda

di dalam hutan (Ewusie, 1990).

Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim

makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam

suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu. Iklim juga merupakan adalah kondisi

rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang. Studi tentang iklim dipelajari dalam
meteorologi. Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi.

Terdapat beberapa klasifikasi iklim di bumi ini yang ditentukan oleh letak geografis.

Secara umum kita dapat menyebutnya sebagai iklim tropis, lintang menengah dan

lintang tinggi. Ilmu yang mempelajari tentang iklim adalah klimatologi. (Campbell,

2004).

Pengukuran kualitas air dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama

adalah pengukuran kualitas air dengan parameter fisika dan kimia (suhu, O2 terlarut,

CO2 bebas, pH, konduktivitas, kecerahan, alkalinitas ), sedangkan yang kedua adalah

pengukuran kualitas air dengan parameter biologi (plankton dan benthos) (Sihotang,

2006).

Pola temparatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti

intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya,

ketinggihan geografis dan juga oleh faktor kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari

pepohonan yang tumbuh di tepi. Di samping itu pola temperatur perairan dapat di

pengaruhi oleh faktor-faktor anthropogen (faktor yang di akibatkan oleh aktivitas

manusia) seperti limbah panas yang berasal dari air pendingin pabrik, penggundulan

DAS yang menyebabkan hilangnya perlindungan, sehingga badan air terkena cahaya

matahari secara langsung (Barus, 2003).

Kecerahan suatu perairan menentukan sejauh mana cahaya matahari dapat

menembus suatu perairan dan sampai kedalaman berapa proses fotosintesis dapat

berlangsung sempurna. Kecerahan yang mendukung adalah apabila pinggan secchi

disk mencapai 20-40 cm dari permukaan. (Syukur, 2002).


III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Ekologi Hewan tentang Pengenalan Alat dan Pengukuran Faktor

Lingkungan diilaksanakan pada hari Minggu, 18 Februari 2018 pukul 09.00 WIB

sampai selesai di Laboratorium Pendidikan IV, Jurusan Biologi, Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah camera trap, radiotelemetri,

binokuler, GPS, kompas, pipet tetes, botol air, jarum suntik, tabung ukur 100 ml,

erlenmeyer 250 ml, refraktometer., bor tanah, tull green, petak kuadrat, pitfall trap,

soil moisture meter, soil termometer, net plankton, lamotte water, keeping seicchi,

ekcman dredge, surber net, saringan bertingkat, light/lux meter, anemometer, dan

termometer maksimum minimum. Bahan yang digunakan adalah aquades, larutan

MnSO4, KOH / KI, amilum, tiosulfat, NaOH, formalin 40%, alkohol 70% dan 96%.

3.3 Cara Kerja

Praktikum ini dilakukan dengan metoda rolling (bergantian). Praktikan dibagi

menjadi sembilan kelompok besar, terdapat sembilan posko dimana pada masing-

masing posko terdapat alat dan pengukuran faktor lingkungan yang akan dijelaskan

kegunaannya oleh masing-masing asisten yang ada pada posko tersebut. Dikenali

nama dan bentuk alat-alat yang digunakan. Dipelajari prinsip dan cara kerja alat-alat

tersebut, Dipahami cara-cara penggunaan alat-alat tersebut. Alat –alat tersebut

didokumentasikan dan informasi yang diperoleh dicatat pada laporan sementara.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Ekologi Hewan Besar

Alat-alat yang digunakan untuk penelitian hewan besar di lingkungannya antara lain :

4.1.1 Camera Trap

Camera Trap merupakan salah satu metoda

untuk mengamati hewan besar dan bukan

untuk menangkap. Tujuan dari metoda ini

adalah untuk mengidentifikasi hewan-hewan

yang hidup pada suatu daerah tertentu.

Sehingga dapat diketahui keadaan lingkungan


Gambar 1. Camera Trap
yang cocok terhadap hewan tersebut. Juga

dapat diamati tingkah makan dan interaksinya dengan hewan lainnya.Camera trap

ini biasanya dipasang pada phon yang lurus dan ditutupi atau disamarkan sehingga

hewan-hewan yang lewat tidak mengetahui lokasi kamera tersebut. Camera trap

diikatkan pada pohon menggunakan tali sling atau tali rem sepeda motor, agar ikatan

tersebut tidak mudah lepas sehingga keberhasilan metoda ini lebih besar.

Pada camera trap terdapat sensor infrared untuk mendeteksi objek yang akan

difoto dan kamera untuk menangkap gambar hewan tersebut. Kemudian pada

camera trap terdapat berbagai tombol-tombol yang digunakan untuk mengatur cara

kerja dari camera trap yang dibutuhkan untuk pengamatan tersebut. Prinsip kerja dari

camera trap ini adalah menangkap gambar hewan tersebut dalam setiap interval

waktu yang telah ditentukan atau menangkap banyak gambar dalam satu kali klip

maupun mengambil video sesuai durasi yang telah ditentukan. Sebelum pemasangan

camera trap, dibagian atas camera trap di bawah pnutupnya dipasang antiliner untuk

menyerap penguapan.
Pada metode camera trap ini dilakukan pengecekan satu kali dua minggu

sampai satu kali satu bulan. Apabila camera ini menangkap video maka durasi

videonya adalah satu menit dan apabila foto, dalam satu kali pemakaian camera trap

mampu mencapai 1000 foto dalam satu bulan (Kottelat, 1993)

4.1.2 Radiotelemetri (Radiotransmitter)

Radiotelemetri adalah salah satu alat yang

digunakan untuk mendeteksi keberadaan dari

hewan mamalia berukuran besar. Alat ini biasa

digunakan dalam mempelajari ekologi hewan

khususnya mempelajari mengenai tingkah laku Gambar 2. Radiotelemetri


hewan atau kajian etologi. Alat ini terdiri dari

berbagai komponen, yaitu radio pengatur

frekuensi, antena untuk mendeteksi sinyal,

handsfree untuk mendengarkan frekuensi yang

ada pada transmitter di tubuh hewan, dan


Gambar 3. Transmitter
transmitter sebagai pemancar sinyal. Prinsip

kerja dari alat ini adalah, pada transmitter

terdapat frekuensi tertentu yang kemudian

diatur pada radio sesuai dengan frekuensi pada

transmitter. Antena befungsi untuk mendeteksi

sinyal, antena ini akan berfungsi dengan baik Gambar 4. Antena


apabila tidak ada halangan di depannya. Lalu

praktikan harus memasang handsfree untuk

mendengarkan sinyal dari hewan tersebut.

Gambar 5. Handsfree
4.2 Auditori Sensus

Alat-alat yang digunakan dalam metode auditori sensus pada aspek ekologi ini

adalah

4.2.1 GPS (Global Position System)

Salah satu alat yang digunakan untuk auditori

sensus adalah GPS. GPS ini berguna untuk

mengetahui informasi mengenai ketinggian

wilayah, petunjuk arah,serta koordinat dimana

hewan yang melakukan auditori sensus

terdapat. Sehingga peneliti dapat mengetahui Gambar 6. GPS

keadaan lingkungan (ketinggian, koordinat) yang ditinggali hewan tersebut. Alat ini

berbentuk seperti ponsel atau handphone, memiliki tombol on-off dan tombol

navigasi serta tombol menu. Pada layar apabila dihidupkan akan terdapat data

tentang penunjuk ketinggian, kompas sebagai penjuk arahnya, serta koordinat. GPS

terhubung langsung dengan satelit yang terdapat diluar angkasa.

Menurut Odum (1971), GPS tidak dapat digunakan pada hutan yang memiliki

kanopi pohon yang sangat rapat. GPS ini terhubung langsung dengan satelit buatan

Amerika serikat untuk mempermudah penjelajah atau peneliti mengetahui kordinat

tempat berdiri serta ketinggian suatu tempat dari permukaan laut.

GPS adalah singkatan dari Global Position System yang merupakan

sistem untuk menentukan posisi dan navigasi secara global dengan menggunakan

satelit. Sistem yang pertama kali dikembangkan oleh Departemen Pertahanan

Amerika ini digunakan untuk kepentingan militer maupun sipil (survei dan

pemetaan). Sistem GPS, yang nama aslinya adalah NAVSTAR GPS

(Navigation Satellite Timing and Ranging Global Positioning System), mempunyai

tiga segmen yaitu satelit, pengontrol, dan penerima / pengguna. Satelit GPS yang

mengorbit bumi, dengan orbit dan kedudukan yang tetap (koordinatnya pasti),
seluruhnya berjumlah 24 buah dimana 21 buah aktif bekerja dan 3 buah

sisanya adalah cadangan (Azhar, 2004).

4.2.2 Binokuler

Teropong binokuler merupakan salah satu alat

yang digunakan dalam metode auditori sensus.

Prinsip kerja dari teropong ini adalah melihat

objek-objek yang jauh secara jelas. Sehingga

peneliti dapat mengamati kelompok hewan Gambar 7. Teropong Binokuler


khusunya primata dari jarak jauh agar tidak menganggu primata tersebut. Teropong

ini biasa juga digunakan dalam metode digiscopping pada burung.

4.2.3 Kompas

Salah satu alat yang digunakan untuk auditori

sensus adalah kompas. Kompas digunakan

untuk menghitung berapa derajat jarak hewan

yang didengar dengan arah utara yang

ditunjukkan kompas. Caranya tentukan arah

utara. Dengar darimana sumber suara. Setelah Gambar 8. Kompas

mengetahui arahnya, hitung berapa derajat jaraknya dari titik pusat kompas tadi,

kemudian dicatat. Kemudian ukur jarak tempat kita berada dengan sumber suara

dengan alat ukur kirometer dan dicatat. Apabila ada sumber suara lainnya, maka

dihitung seperti tadi. Apabila jarak antara sumber suara 1 dengan sumber suara 2

lebih dari 50 m maka berkemungkinan besar hewan itu beda kerabat/keluarga. Dan

itu adalah cara mengetahui persebarannya dalam satu ekosistem.


4.3 BOD (Biologycal Oxygen Demand)/Metoda Winkler

BOD (Biologycal Oxygen Demand) adalah

kadar oksigen yang terlarut dalam perairan.

Metoda Winkler adalah suatu metoda untuk

mengukur kadar oksigen terlarut pada perairan.

Ini merupakan metoda yang cukup penting

sebab oksigen merupakan salah satu faktor Gambar 9. Sampel air yang
sudah ditambahkan 1 ml
pembatas bagi kehidupan organisme. Alat yang
MnSO4, 1 ml H2SO4 dan 1 ml
digunakan untuk metoda ini adalah pipet tetes KOHKI

yang digunakan untuk memindahkan cairan

dengan volume kecil,botol digunakan sebagai

alat pengambilan dan penyimpana air yang

akan diukur BOD nya. Jarum suntik digunakan

untuk mengambil larutan dengan volume kecil.


Gambar 10. Sampel air dititrasi
Senyawa kimia yang digunakan yaitu MnSO4, dengan Tiosulfat
KOHKI, amilum, dan tiosulfat. Cara

mengkurnya yaitu dengan mengambil 300 ml

air sebagai sampel kemudian tambahkan 1 ml

KOHKI dan dihomogenkan, selanjutnya

tambahkan 1 ml H2SO4 dan dihomogenkan

kembali, ditambahkan 1 ml MnSO4 dan Gambar 11. Sampel air yang


dititrasi dengan tiosulfat setelah
dihomogenkan. Diambil 100 ml air yang penambahan amilum
telah dihomogenkan tersebut diletakkan pada tabung erlenmeyer ditambahkan 1 ml

tiosulfat dan dihomogenkan. Terakhir tambahkan 5 ml amilum hingga warnanya

berubah menjadi bening. Prinsip kerjanya dihitung berapa ml tiosulfat yang

digunakan untuk mengubah warnanya menjadi bening dan masukkan kedalam rumus

:
DO (Ppm O2) = mL titrasi x N titrasi x 8 x 1000
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙−2
mL sampel ( )
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙

BOD = DO0-DO5

Keterangan : DO0 = DO awal yang diukur

DO5 = DO yang diukur pada hari ke-5

Metoda titrasi dengan cara Winkler secara umum banyak digunakan untuk

menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya dengan menggunakan titrasi

iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2

dan Na0H - KI, sehingga akan terjadi endapan Mn02. Dengan menambahkan H2SO4

atau HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan membebaskan

molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan

ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S203)

danmenggunakan indikator larutan amilum (Salmi,2005).

4.4 CO2

Untuk menentukan adanya kadar CO2 dalam air,

diperlukan alat-alat seperti jarum suntik, pipet

tetes, botol sampel,enlemeyer, gelas ukur 100ml,

larutan PP dan larutan NaOH. Untuk menguji

adanya CO2 dalam air, pertama botol sampel diisi

dengan air hingga penuh dan tidak ada gelembung Gambar 5. Titrasi CO2

udara, pengisian botol tersebut dalam keadaan miring lalu tutup botol sampel di

dalam air untuk mencegah ada nya gelembung. Kemudian air yang telah diambil tadi

diukur sebanyak 100ml dengan gelas ukur dan dipindahkan ke enlemeyer.

Selanjutnya diteteskan larutan PP sebanyak 10 tetes, jika air tidak mengalami

perubahan warna maka air tersebut mengandung Co2. Selanjutnya air dititrasi

menggunakan larutan NaoH dan menimbulkan warna ungu. Dicatat berapa ml titran
yang terpakai untuk mentitrasi air. Kadar CO2 dalam air dapat ditentukan dengan

rumus :

ml titran x n tintran x 44000


PPM CO2 = ml sampel

Dari praktikum ini daidapatkan data sebagi berikut

V titran = 0,15 ml

N titran= 0,02

V sampel = 100ml
0,15 ml x 0,02 M x 44000
PPM CO2 = = 1, 32
100 ml

Karbondioksida bebas (CO2) merupakan salah satu gas respirasi yang penting

bagi sistem perairan, kandungan karbondioksida bebas dipengaruhi oleh kandungan

bahan organik terurai, agilasi suhu, pH, dan aktivitas fotosintesis. Sumber CO2 bebas

berasal dari proses pembangunan bahan organik oleh jasad renik dan respirasi

organisme (Soesono, 1970), dan menurut Widjadja (1975) karbondioksida bebas

dalam perairan berasal dari hasil penguraian bahan-bahan organik oleh bakteri

dekomposer atau mikroorganisme, naiknya CO2 selalu diiringi oleh turunya kadar

O2 terlarut yang diperlukan bagi pernafasan hewan-hewan air. Dengan demikian

walaupun CO2 belum mencapai kadar tinggi yang mematikan, hewan-hewan air

sudah mati karena kekurangan O2. Kadar CO2 yang dikehendaki oleh ikan adalah

tidak lebih dari 12 ppm dengan kandungan O2 terendah adalah 2 ppm (Asmawi,

1983).

Istilah karbondioksida bebas digunakan untuk menjelaskan CO2 yang terlarut

dalam air, selain yang berada dalam bentuk terikat sebagai ion bikarbonat ( HCO3)

dan ion karbonat ( CO32-). Karbondioksida bebas (CO2) bebas menggambarkan

keberadaan gas CO2 di perairan yang membentuk keseimbangan dengan CO2 di

atmosfer. Nilai CO2 yang terukur biasanya berupa CO2 bebas. Perairan tawar alami
hampir tidak memiliki pH > 9 sehingga tidak ditemukan karbon dalam bentuk

karbonat. Pada air tanah, kandungan karbonat biasanya sekitar 10 mg/L karena sifat

tanah yang cenderung alkalis. Perairan yang memiliki kadar sodium tinggi

mengandung karbonat sekitar 50 mg/L. Perairan tawar alami yang memiliki pH 7 – 8

biasanya mengandung ion karbonat < 500 mg/L dan hampir tidak pernah kurang dari

25 mg/L. Ion ini mendominasi sekitar 60 – 90% bentuk karbon organik total di

perairan (McNeeley, 1979 dalam Effendi, 2003). Kandungan Karbondioksida bebas

(CO2) dalam suatu perairan maksimal 20 ppm (Swingle, 1968).

4.5 Sampling Serangga Tanah

4.5.1 Tullgren

Tullgren adalah suatu alat berbentuk kerucut

dengan lubang pada bagian alasnya dan sedikit

lubsng pada bagian ujung yang runcing. Adapun

cara penggunaan alat ini yaitu ketika kita sudah

mendapatkan sampel tanah yang diinginkan


Gambar. 12 Tullgren
dengan menggunakan bor tanah masukkan tanah

tersebut kedalam tullgren, selanjutnya letakkan lampu pada bagian atas tullgren

sebagai pencahayaan agar hewan-hewan yang terdapat di tanah berpindah ke bagian

bawah. Karena pada umumnya hewan-hewan yang hidup di dalam tanah tidak suka

dengan keadaan yang terang. Pada bagian bawah tullgren sediakan wadah yang telah

berisi formalin sebagai tempat penampungan hewan yang keluar dari tullgren.

4.5.2 Bor Tanah

Bor tanah adalah alat yang digunakan untuk

mengabil sampel tanah didmana didalam tanah

ini terdapat serangga tanah yang akan kita jadikan

objek pengamatan. Cara penggunaanya sangat

Gambar. 13 Bor Tanah


mudah. Bor tanah ditancapkan ke dalam tanah 5-7 cm lalu ditarik hingga tanah ikut

terangkat. Hasil dari alat ini berupa tanah yang padat dimana didalamnya akan kita

peroleh hewan yang kita jadikan objek pengamatan.

4.6. Pitfall Trap Dan Fisika Tanah

4.6.1 Soil Termometer

Termometer adalah alat untuk mengukur suhu

dalam tanah. Biasanya terdapat termometer

untuk masing-masing kedalaman tanahnya.

Prinsip kerja termometer tanah hampir sama

dengan termometer biasa, hanya bentuk Gambar. 14 Soil Termometer


dan panjangnya berbeda. Pengukuran

suhu tanah lebih teliti daripada suhu udara.

Perubahannya lambat sesuai dengan sifat kerapatan tanah yang lebih besar

daripada udara. Sampai kedalaman 20 cm digunakan termometer air raksa dalam

tabung gelas dengan bola ditempatkan pada kedalaman yang diinginkan. Ciri-ciri

dari termometer tanah adalah pada bagian skala dilengkungkan. Hal ini dibuat untuk

memudahkan dalam pembacaan termometer dan menghindari kesalahan paralaks.

Pembacaan dilakukan dengan mengangkat termometer dari dalam tabung logam,

kemudian dibaca. Adanya parafin memperlambat perubahansuhu ketika termometer

terbaca di udara.Termometer tanah pada kedua kedalaman ini bilameruapakan suatu

kapiler yang panjang dari mulaipermukaan tanah, mudah sekali patah apabila

tanahbergerak turun atau pecah karena kekeringan (Abidin, 1987).

4.6.2 Soil Moisture Meter

Prinsip kerja dari Soil Moisture Meter adalah

dengan menancapkan ujung alat ke tanah yang

Gambar. 15 Soil Moisture


Meter
ingin diukur, kemudian tekan tombol dengan lama untuk mengukur pH tanah dan

dengan tidak menekan tombol untuk mengukur kelembapan tanah dan diihat

penunjuk pada soil tester. Nilai yang di atas menunjukkan nilai pH tanah 1-14 dan

nilai yang di bawah menunjukkan nilai kelembapan tanah (dalam %).

Soil Moisture Meter adalah alat praktikum yang digunakan untuk mengukur

pH dan kelembaban tanah.Mekanisme dan prinsip kerja dari alat ini adalahlogam

sensitif yang terdapat di ujung alat tersebut menangkap partikel-partikel air yang

terdapat didalam tanah sehingga dapat mengetahui kadar kelembaban serta pH yang

terkandung didalam partikel-partikel air tersebut (Abidin, 1987).

4.6.3 Pitfall Trap

Dalam aplikasinya, metoda ini bersifat pasif


dimana seorang peneliti harus menunggu
kedatangan dari hewan hingga terperangkap.
Prinsipnya metoda ini adalah jebakan berupa
lubang yang dikombinasikan dengan dinding
pengarah ke jebakan tersebut dan jika hewan
masuk jebakan, hewan tersebut tidak dapat
keluar. Peralatan yang dibutukan adalah wadah Gambar. 16 Pitfall Trap
seperti kaleng, tongkat, terpal atau plastik, sabun atau oli. Awalnya dibuat beberapa
lubang jebakan dengan kedalaman ± 30 cm dan dimasukkan kaleng yang telah
diolesi oli, sabun atau minyak. Tujuannya, hewan yang jatuh kedalam kaleng akan
langsung terperangkap dan akan sulit untuk melakukan perlawanan atau melarikan
diri sehingga memberikan seorang peneliti peluang yang besar untuk hasil tangkapan
yang lebih baik. Terpal atau plastik dipasang disekitar jebakan menyerupai dinding
pengarah untuk mengontrol dan mengarahkan gerakan hewan menuju jebakan yang
diikatkan pada sebuah pancang dengan tali (Abidin, 1987).
Hewan yang tertangkap dapat dilakukan pengoleksian dengan
mengeluarkannya dari jebakan. Keuntungannya hewan yang terperangkap tidak mati
dan aman karena tidak menggunakan bahan dan alat yang berbahaya serta tidak
membutuhkan pengawasan ekstra. Walaupun demikian, tetap dilakukan pengamatan
setiap 1x1 jam sebagai antisipasi dimana jika ada hewan terperangkap dapat
langsung dikoleksi dan dilakukan pengamatan. Perangkap ini bukan hanya dapat
digunakan untuk amphibian dan reptil tetapi juga bisa dipakai untuk hewan mamalia
kecil (Campbell, 2004).
4.7 Sampling Plankton
4.7.1 Net Plankton

Net plankton memiliki fungsi untuk menyaring

air serta plankton yang berada didalamnya

secara horizontal dan vertikal dengan

menggunakan bot. Net plankton digunakan

pada arus air yang tenang karena biasanya

plankton berada pada air yang tenang. Gambar. 17 Net Plankton


Plankton net merupakan jaring dengan mesh

size yang disesuaikan dengan plakton. Penggunaan jaring plakton selain praktis juga

sampel yang diperoleh cukup banyak. Jaring plankton net biasa terbuat dari nilon,

umumnya berbentuk kerucut dengan berbagai ukuran, tetapi rata-rata panjang jaring

adalah 4-5 kali diameter mulutnya. Jaring berfungsi untuk menyaring air serta

plakton yang berada didalamnya. Karena itu plakton yang tertangkap sangat

bergantung pada ukuran mesh size, maka ukuran mesh size yang digunakan harus

disesuaikan dengan jenis atau ukuran plankton yang akan diamati. Ukuran plakton

yag relatif besar (terutama zooplankton) menggunakan jaring No.0 atau No.3,

sedangkan yang lebih untuk plankton yang lebih kecil menggunakan No.15 atau

No.20. untuk perairan dangkal didaerah tropis, Wickstead menganjurkan mesh size

dengan ukuran 30-50 µm untuk fitoplankton dan zooplankton kecil. Sedangkan

untuk mezooplakton yang lebih besar digunakan ukuran mesh size 150-175 µm

(Alaydrus, IS. 2013).


Menurut Barus (2003) bagian akhir ujung jating terdapat bucket alat penampung

plankton yang terkumpul. Alat penampung ini biasanya berbentuk tabung yang

mudah dicopot dari tabungnya. Prinsipnya bucket harus memenuhi syarat:

1. Dapat dengan mudah dioperasikan dilaut

2. Tidak menampung air terlalu banyak.

Metode pengambilan sampel menggunakan plankton net terbagi atas dua cara

tergantung pada tujuan yang diiginkan, biasanya dibedakan atas :

1. Sampling Secara Horizontal: Metoda pengambilan plankton secara horizontal


ini dimaksudkan untuk mengetahui sebaran plankton horizontal.. Plankton net

pada suatu titik di laut, ditarik kapal menuju ke titik lain, penganbilan sampel

seiring pergerakan kapal secara perlahan (±2 knot), plankton net ditarik untuk

jarak dan waktu tertentu (biasanya ± 5-8 menit). Jumlah air tersaring

diperoleh dari angka pada flowmeter atau dengan mengalikan jarak diantara

dua titik tersebut dengan diameter plankton net. Flowmeter untuk

peningkatan ketelitian. Dengan cara horozontal sampel terbatas pada satu

lapisan saja.

2. Sampling Secara Vertikal: Merupakan cara termudah untuk mengambil


sampel dari seluruh kolom air (coposite sample). Ketika kapal berhenti,

plankton net diturunkan sampai ke kedalaman yang diinginkan dengan

pemberat dibawahnya. Setelah itu plankton net ditariknya keatas dengan

kecepatan konstan. Untuk mesh size halus digunakan kecepatan 0,5 m/detik

untuk mata jaring kasar 1,0 m/detik.

3. Sampling Secara Miring (Obelique): jaring diturunkan perlahan ketika kapal


bergerak perlahan (±2 knot). Besar sudut kawat dengan garis vertikal ± 45˚,

setelah mencapai kedalaman yang diinginkan plankton net ditarik secara

perlahan dengan posisi sudut yang sama. Sampel yang didapat merupakan
plankton yang terperangkap dari berbagai lapisan air. Kelemahan metode ini

adalah waktu yang dibutuhkan relatif lama.

4.7.2 Keping secchi


Keping seechi adalah alat yang digunakan untuk

mengukur tingkat kekeruhan air. Keping seechi

merupakan suatu alat berbentuk lempengan yang

dilengkap dengan tali berukuran lebih dari 10 m.

Cara penggunaannya yaitu dengan melemparkan

keping seechi pada kedalaman tertentu di perairan Gambar. 18 Keping secchi


hingga alat tersebut tidak tampak lagi.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Barus (2003) bahwa Kecerahan merupakan

ukuran transparansi perairan yang ditentukan secara visual dengan menggunakan

secchi disk atau keping secchi. Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan.

Di samping itu, nilai kecerahan juga sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu

pengukuran, padatan tersuspensi dan ketelitian orang yang melakukan pengukuran.

Pengukuran kecerahan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah. Kecerahan

merupakan parameter fisika yang penting karena berkaitan erat dengan aktivitas

fotosintesis dari alga dan mikrofita.

4.8. Sampling Bentoz


4.8.1 Saringan bertingkat

Saringan bertingkat adalah alat yang digunakan

untuk menyaring organisme air yang berbentuk

mikro maupun makro. Saringan bertingkat

Gambar. 19 Saringan
bertingkat
sesuai degan namanya memiliki dua tingkat saringan, saringan yang pertama

memiliki jaring-jaring yang agak besar sehingga organisme air yang berukuran besar

dapat tersaring sedangkan organisme air yang berukuran mikro akan tersaring

dengan saringan yang ada dibawahnya yang meiliki jaring rapat-rapat.

4.8.2 Surber Net

Alat yang berukuran 25cm x 40cm ini

merupakan alat untuk mengambil sampel

(benthos) pada daerah yang berarus air kuat dan

dasar perairan berpasir halus (sedikit

berlumpur).Untuk penggunaan jala surber, jala


Gambar. 20 Surber Net
tersebut diletakkan dengan bagian mulut jala

melawan arus aliran air, dan daerah yang dibatasi oleh alat ini dibersihkan

(diaduk) sehingga benthos yang melekat pada dasar perairan dapat hanyut dan

tertangkap oleh jala.

4.8.3 Ekman Dredge

Ekman Dredge adalah alat yang digunakan

untuk menangkap organisme air yang berada di

laut. Prinsip kerja dari alat ini adalah kaitkan

pengait sehingga perangkap terbuka lalu di

masukkan ke dalam air laut, setelah beberapa

Gambar. 21 Ekman Dredge


menit jatuhkan pemberat dan pengait akan terlepas sehingga perangkap tertutup.

Menurut Irwan (2003) berdasarkan ukuran dan cara operasional, ada dua jenis

grab sampler yaitu grab sampler berukuran kecil dan besar.

 Grab sampler yang berukuran kecil dapat digunakan dan dioperasionalkan

dengan mudah, hanya dengan menggunakan boat kecil alat ini dapat

diturunkan dan dinaikkan dengan tangan. Pengambilan sampel sedimen

dengan alat ini dapat dilakukan oleh satu orang dengan cara

menrunkannyasecara perlahan dari atas boat agar supaya posisi grab tetap

berdiri sewaktu sampai padapermukaan dasar perairan. Pada saat penurunan

alat, arah dan kecepatan arus harus diperhitungkan supaya alat tetap konstant

pada posisi titik sampling.

 Grab Sampler yang berukuran besar memerlukan peralatan tambahan lainnya

seperti winch (kerekan) yang sudah terpasang pada boat/kapal survey

berukuran besar. Alat ini menggunakan satu atau dua rahang/jepitan untuk

menyekop sedimen. Grab diturunkan dengan posisi rahang/jepitan terbuka

sampai mencapai dasar perairan dan sewaktu diangkat keatas rahang ini

tertutup dan sample sedimen akan terambil.

4.9 Faktor Fisika Umum

4.9.1 Termometer Maxium Minimum (Suhu Udara)

Bagian-bagian thermometer yaitu, reservoir dan

pipa kapiler berisi air raksa / alkohol. Satuan

termometer ˚C, satuan ukur termometer ˚C, dan

ketelitiannya 0,5 oC. Prinsip kerja dari

thermometer adalah memuai ruang zat cair.


Gambar. 22 Termometer
Maximum Minimum
Fungsi alat ini adalah mengukur suhu udara

Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu (derajat panas

atau dingin) suatu benda. Termometer menggunakan zat yang mudah berubah sifat

akibat perubahan suhu (sifat termometrik benda). Termometer memiliki dua elemen

penting, yaitu sensor suhu dimana beberapa perubahan fisik terjadi dengan suhu,

ditambah beberapa cara mengkonversi perubahan fisik ke dalam nilai numeric

biasanya menggunakan gelas kaca. Cara kerja alat ini yaitu kenaikan suhu akan

mempengaruhi reservoir sehingga air raksa mengembang dan panjang kolom air

raksa dalam tabung bertambah. Sebaliknya jika suhu turun, air raksa mengkerut dan

kolom air raksa akan memendek (Ewusie,1990).

Cara menggunakannya adalah termometer digantung diluar ruangan, ditunggu

selama 1 jam, suhu udara dibaca pada skala termometer dengan ketelitian pembacaan

0,1 oC. Mata pengamat harus tegak lurus terhadap kolom air raksa. Pengamatan

dilakukan 3 kali sehari, yaitu pada pukul 07.00, 13.00 atau 14.00, dan 18.00 (Heddy,

1986).

4.9.2 Lux meter

Lux Meter adalah alat yang digunakan untuk

mengukur intesitas cahaya. Berbentuk seperti

telephon rumah yang memiliki kabel dan

genggaman.

Lux Meter, alat yang digunakan

untuk mengukur besarnya intensitas cahaya Gambar. 23 Lux Meter


di suatu tempat. Besarnya intensitas cahaya ini perlu untuk diketahui karena pada

dasarnya manusia juga memerlukan penerangan yang cukup. Untuk

mengetahui besarnya intensitas cahaya ini maka diperlukan sebuah sensor

yang cukup peka dan linier terhadap cahaya. Sehingga cahaya yang

diterima oleh sensor dapat diukur dan ditampilkan pada sebuah tampilan digital.

Pada tombol range ada yang dinamakan kisaran pengukuran. Terdapat 3 kisaran

pengukauran yaitu 2000, 20.000, 50.000 (lux). Hal tersebut menunjukan kisaran

angka (batasan pengukuran) yang digunakan pada pengukuran (Heddy, 1986).

Memilih 2000 lux, hanya dapat dilakukan pengukuran pada kisaran

cahaya kurang dari 2000 lux. Memilih 20.000 lux, berarti pengukuran hanya

dapat dilakukan pada kisaran 2000 sampai 19990 (lux). Memilih 50.000

lux, berarti pengukuran dapat dilakukan pada kisaran 20.000 sampai dengan

50.000 lux. Jika Ingin mengukur tingkat kekuatan cahaya alami lebih baik baik

menggunakan pilihan 2000 lux agar hasil pengukuran yang terbaca lebih

akurat. Spesifikasi ini, tergantung kecangihan alat Apabila dalam pengukuran

menggunakan range 0-1999 maka dalam pembacaan pada layar panel di kalikan 1

lux. Bila menggunakan range 2000-19990 dalam membaca hasil pada layar panel

dikalikan 10 lux. Bila menggunakan range 20.000 sampai 50.000 dalam membaca

hasil dikalikan 100 lux. Cara menggunakan lux meter ini hanya dengan

mengarahkannya pada sinar matahari dan lihat intensitasnya berapa angka yang

tertera pada layar hasil digitalnya (Ewusie,1990).

4.9.3 Sling Psychometer

Sling Psychometer adalah adalah alat yang

digunakan untuk mengukur kelembapan udara.

Memiliki gagang atau pegangan untuk memutar

termometer yang ada pada ujung nya. Cara

Gambar. 24 Sling Psychometer


penggunaanya di putarkan selama beberapa menit dan di lihat tinggi kelebapan pada

termometernya.

Bagian-bagian dari psychometer meliputi : termometer bola basah,

termometer bola kering dan pegangan. Satuan alat oC. Satuan ukur persen (%).

Ketelitian 0,2 oC. Prinsip Kerja berdasarkan hukum termodinamika. Fungsi

: mengukur kelembaban nisbi udara sesaat (Ewusie,1990).

Psychometer tipe sling merupakan gabungan dari termometer bola kering dan

bola basah dan pengaliran udaranya dengan diputar. Pada Psychometer tipe sling,

Termometer bola kering akan menunjukkan suhu udara, sedangkan pada termometer

bola basah harus menguapkan air dulu. Oleh karena untuk menguapkan air tersebut

dibutuhkan panas yang diserap dari bola basah sehingga suhu yang ditunjukkan oleh

termometer bola basah menjadi lebih rendah dari termometer bola kering. Makin

kering udara makin banyak panas yang diambil sehingga makin rendah pula suhu

yang ditunjukkan oleh termometer bola basah. Sling psychometer merupakan alat

ukur parameter suhu bola basah dan suhu bola kering, yang digunakan pada

kecepatan udara 2,5 m/s (Irwan, 2003).

Cara kerja alat ini adalah alat ini akan di putar sebanyak 10 kali kekiri dan 10

kali kekanan untuk menciptakan angin sendiri. Dalam pemutarannya harus konstan

dengan kecepatan putaran 4 putaran per detik. Kemudian baca angka yang terdapat

pada termometer basah dan keringnya (Heddy, 1986).

4.9.4 Anemometer

Anenmometer berfungsi untuk mengukur arus

angin. Alat ini berbentuk seperti kipas angin yang

memiliki beberapa baling-baling. Prinsip kerja

dari alat ini yaitu diletakan pada arah datangnya

angin lalu akan di simpan berapa kecepatan

anginnya. Gambar. 25 Anemometer


Anemometer adalah alat peng-ukur kecepatan angin yang banyak dipakai

dalam bidang Meteorologi dan Geofisika atau stasiun prakiraan cuaca. Nama alat ini

berasal dari kata Yunani anemos yang berarti angin. Perancang pertama dari alat ini

adalah Leon Battista Alberti pada tahun 1450. Selain mengukur kecepatan angin, alat

ini juga dapat mengukur besarnya tekanan angin itu. Satuan meteorologi dari

kecepatan angin adalah Knots (Skala Beaufort). Sedangkan satuan meteorologi dari

arah angin adalah 0o – 360o serta arah mata angin (Heddy, 1986).

Cara penggunaan Anemometer harus ditempatkan di daerah terbuka, pada

saat tertiup angin, baling-baling yang terdapat pada anemometer akan bergerak

sesuai arah angin dan di dalamnya terdapat alat pencacah yang akan menghitung

kecepatan angin dan lalu hasilnya akan dicocokkan dengan Skala Beaufort.
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan yaitu.

1. Faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan organisme dapat berupa

faktor iklim, faktor tanah, dan faktor perairan.

2. Faktor iklim dapat berupa suhu (dapat diukur dengan termometer), intensitas

cahaya (dapat diukur dengan lux meter), kelembaban udara (dapat diukur

dengan sling psychrometer), kecepatan angin (dapat diukur dengan

anemometer).

3. Faktor tanah dapat berupa sebaran organisme di tanah (dapat diukur dengan

menggunakan bor tanah), pH tanah (dapat diukur dengan pH meter), suhu

tanah (dapat diukur dengan termometer tanah).

4. Faktor perairan dapat berupa suhu air (dapat diukur dengan termometer),

kekeruhan air (dapat diukur dengan keping secchi), badan partikulat (dapat

diukur dengan metode gravimetric), pH (dapat diukur dengan pH meter),

kadar oksigen terlarut (dapat diukur dengan metode winkler), dan kadar

karbondioksida dalam air (dapat diukur dengan metode titrasi NaOH).

5.2 Saran

Adapun saran untuk praktikan selanjutnya agar lebih serius dalam mendengarkan

penyampaian fungsi serta penggunaan berbagai alat dalam ruang lingkup ekologi

hewan agar tujuan praktikum dapat tercapai.


DAFTAR PUSTAKA

Azhar. 2004. Penentuan Posisi Dengan GPS Dan Aplikasinya. Jakarta : Pradaya.

Abidin. Z. 1987. Dasar-dasar ilmu tanah. Bandung : Angkasa.

Alaydrus, IS. 2013. Pengenalan Alat-Alat Praktikum Ekologi Terrestrial. Jakarta:

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Barus, T. A, 2003. Pengantar Limnologi. Medan : Jurusan Biologi FMIPA USU.

Campbell, Neil A. 2004. Biologi campbell edisi kelima jilid III. Jakarta: Penerbit

Erlangga.

Ewusie, J. Y., 1990. Ekologi Tropika. Bandung : ITB.

Heddy, Suwasono. 1986. Pengantar Ekologi. Jakarta : CV Rajawali.

Irwan, DZ. 2003. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekologi Komunitas dan

Lingkungan. Jakarta : Bumi Aksara

Jamili, Muksin. 2003. Penuntun praktikum dasar-dasar ekologi. Kendari: FMIPA

Unhalu.

Kimball, John W. 1983. Bilogi Jilid 2 Edisi ke 6.Jakarta : Erlangga.

Kottelat, M,.A.J. Whitten, S.N. Kartikasari and S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater

Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus Edition (HK) Ltd.

Indonesia.

Odum, E.P. 1996. Dasar-Dasar Ekologi Edisi ketiga . Yogjakarta : Gajah mada

University Press.

Salmi. 2005. Jurnal Oksigen Terlarut (DO) Dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD)
Sebagai Salah Satu
Indikator.http://adesuherman09.student.ipb.ac.id/files/2011/12/Jurnal-BOD-
indonesia.pdf. diakses tanggal 18 Feb 2018.

Sihotang,C. dan Efawani. 2006. Penuntun Praktikum Limnologi. Pekanbaru :

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UR.


Subba, N. S., 1994, Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Jakarta :

Universitas Indonesia.

Suin, N. M., 1997, Ekologi Hewan Tanah. Jakarta : Bumi Aksara.

Syukur, A., 2002. Kualitas Air dan Struktur Komunitas Phytoplankton di Waduk

Uwai. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.

Pekanbaru. 51 hal.

Wardhana, Wisnu. 2003. Teknik Sampling, Pengawetan, dan Anilisis Plankton.

Jakarta: Departemen Biologi FMIPA-UI.

Wirakusumah, S., 2003, Dasar-dasar Ekologi :Menopang Pengetahuan Ilmu-ilmu

Lingkungan. Jakarta : UI Press.