Anda di halaman 1dari 15

MODUL PROJECT

PEMELIHARAAN KONTROL LUBE OIL COOLER

DISUSUN OLEH:
Dimas Rianto Utomo
M. Ali Susanto
Nurul Auliya

PROGRAM STUDI PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK


JURUSAN TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia mendorong terjadinya
peningkatan kebutuhan akan energi listrik. Perkembangan sektor industri di
Indonesia juga meningkatkan kebutuhan daya listrik. Daya listrik terjual pada
konsumen di sektor rumah tangga pada tahun 2011 sebesar 65.111.571,80 MWh
meningkat sebesar 23.570.559 pada tahun 2015 MWh dari tahun 2011 hingga
tahun 2015 sedangkan pemakaian listrik pada sektor industri meningkat sebesar
9.353.569 MWh [1]. Untuk itu dalam memenuhi kebutuhan listrik para konsumen,
terdapat beberapa perusahaan di bidang energi yang menjadi produsen daya listrik
yang besar dan waktu yang relatif singkat untuk para konsumen.
Pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) di PT. PJB UP Muara Tawar
merupakan pembangkit listrik yang memanfaatkan bahan bakar gas dan/atau
minyak sebagai sumber energi awal. Komponen utama sebuah PLTGU adalah
diantaranya Kompresor Gas, Ruang Bakar, Turbin Gas, HRSG, Turbin Uap dan
Kondenser. Selain komponen utama tersebut, terdapat pula komponen pendukung
yang membantu sistem unit pada PLTG seperti Sistem Pendingin, Sistem
Pelumasan, Sistem Bahan Bakar, Sistem Kelistrikan, Sistem Hidrolik[2].
Kemudian semua komponen tersebut terintegrasi menjadi satu kesatuan sistem
unit yang bekerja untuk dapat menghasilkan listrik.
Bagi sebuah pembangkit listrik, sistem pelumasan turbin sangat
diperlukan. Fungsi utama minyak pelumas adalah sebagai pelumas pada bearing
agar tidak terjadi kontak langsung antara bearing dengan poros. Siklus sistem
pelumasan pada turbin gas adalah siklus tertutup, yaitu pelumas yang telah
digunakan didinginkan kembali menggunakan lube oil cooler sebelum masuk
kedalam turbin. Apabila pada kondisi operasional didapatkan bahwa temperatur
oli keluar lube oil cooler masih cukup tinggi maka hal ini dapat menyebabkan
turbin gas shut down. Selain itu juga mengakibatkan effectiveness perpindahan
panas menurun[3]. Maka dari itu diperlukan pengendalian sistem minyak pelumas
yang terpadu dengan antarmuka yang mudah antara sistem dengan operator.

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada modul ini sebagai berikut :
1. Bagaimana cara mendeteksi temperatur minyak pelumas dan
proteksinya?
2. Bagaimana cara mendeteksi kandungan uap pelumas pada tangki
pelumas dan proteksinya?
3. Bagaimana cara mendeteksi level minyak pelumas dan proteksinya?
4. Bagaimana cara mengintegrasikan sistem kontrol Lube Oil Cooler
dengan sebuah HMI agar mudah dilihat oleh operator?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari pembuatan project ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan gambaran tentang kerja dari Lube Oil Cooler.
2. Menerapkan proses pemeliharaan kontrol pada Lube Oil Cooler sesuai
SOP yang berlaku di Pembangkit Listrik.
3. Mengintegrasikan sistem Lube Oil Cooler dengan perangkat lunak
HMI Labview.

1.4. Manfaat Penelitian


Penelitian ini ditinjau dari tujuannya memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Memperdalam pengetahuan dibidang Teknik Mesin dan ilmu-ilmu
yang terkait khususnya dalam konversi energi.
2. Dapat dipakai sebagai bahan landasan untuk penelitian selanjutnya.

1.5. Batasan Masalah


Pada modul ini akan membahas proteksi pada cooling tower dengan
mengukur temperatur minyak pelumas, kandungan uap minyak dan level pelumas
pada tangki dengan output berupa motor fan, servomotor dan buzzer.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pemeliharaan
2.1.1 Pengertian Pemeliharaan,
Pemeliharaan adalah suatu kegiatan untuk memelihara atau
menjaga fasilitas/peralatan pabrik dan mengadakan perbaikan atau
penggantian yang diperlukan agar terdapat suatu pengadaan operasi
produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan[4].
Pengoperasian mesin dikatakan optimal apabila nilai downtime-nya
minimum. Untuk dapat menjamin pengoperasian mesin yang optimal,
diperlukan suatu sistem perawatan dan pemeliharaan mesin yang tepat.
Sistem perawatan mesin yang tepat merupakan sistem perawatan yang
dapat memberikan jadwal perawatan dengan minimum dowtime sehingga
memberikan total biaya yang minimum juga.

2.1.2 Jenis-Jenis Pemeliharaan


a. Preventive Maintanance
Pekerjaan pemeliharaan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya
kerusakan atau cara pemeliharaan yang direncanakan untuk pencegahan
(preventive)[5].

b. Corrective Maintanance
Pekerjaan pemeliharaan yang dilakukan untuk memperbaiki dan
meningkatkan kondisi fasilitas sehingga mencapai standart yang dapat
diterima[5].

c. Pemeliharaan Berjalan
Pemeliharaan yang dilakukan pada saat mesin/peralatan dalam
keadaan bekerja[5].

d. Predictive Maintenance
Predictive maintenance dilakukan untuk mengetahui terjadinya
perubahan atau kelainan dalam kondisi fisik maupun fungsi dari sistem
pemeliharaan[5].

e. Breakdown Maintenance
Cara perawatan yang direncanakan untuk memperbaiki kerusakan.
Pekerjaan perawatan ini dilakukan setelah terjadi kerusakan dan untuk
memperbaikinya harus disiapkan suku cadang, material, alat-alat, dan
tenaga kerjanya[5].
2.2. PLTG dan PLTGU
PLTGU terdiri dari dua siklus yaitu siklus tertutup (siklus gas) dan siklus
terbuka (siklus uap)[6]. Prinsip kerja pembangkit listrik tenaga gas ialah berawal
dari udara yang masuk ke kompresor untuk dinaikkan tekannannya, kemudian
udara tersebut dialirkan ke ruang bakar dan dicampur dengan bahan bakar,
kemudian campuran gas dibakar dan dialirkan ke turbin untuk mengalami
ekspansi pada sudu turbin dan memutar poros[7]. Dalam pengoperasian turbin
gas, gas buang sisa pembakaran yang keluar mempunyai suhu yang relatif tinggi.
Sehingga jika dibuang langsung ke atmosfer merupakan kerugian energi. Oleh
karena itu, panas hasil buangan turbin gas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai
sumber panas ketel uap yang dalam hal ini disebut Heat Recovery Steam
Generator (HRSG),Pembangkit Listrik Tenaga Gas memiliki beberapa komponen
utama dalam proses menghasilkan energi listrik, antara lain Turbin Gas,
Combuster, Kompresor, dan Generator[8].

2.3. Sistem Pelumas Turbin


Yang pertama adalah mengurangi gesekan, gesekan langsung antara dua
permukaan bagian-bagian mesin yang bergerak. Dengan adanya lapisan pelumas
diantara dua permukaan benda tadi, maka gesekan tidak menjadi langsung, tetapi
didasari/dialasi oleh lapisan minyak pelumas sehingga dapat mengurangi tahanan
gesek atau perlawanan gerak. Hasil yang diperoleh, dengan adanya lapisan
minyak pelumas saat adanya gerakan untuk saat akan bergerak berputar (star)
lebih kecil, panas yang timbul akibat gesekan juga berkurang, pada akhirnya akan
mengurangi biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan alat tersebut. Dengan
adanya lapisan pelumas maka gesekan yang ditimbulkan pada bagianbagian mesin
akan berkurang sehingga keausan yang terjadi akan dapat berkurang.
Yang kedua adalah mengurangi keausan, berkurangnya keausan akan memperoleh
keuntungan ganda antara lain, mencegah biaya yang tinggi dari penggantian suku
cadang (spare part) yang aus. Disamping itu juga mencegah kerugian yang
diakibatkan oleh terhentinya proses produksi akibat kerusakan yang dialami oleh
peralatan bersangkutan yang memerlukan waktu dan biaya perbaikan.
Yang ketiga mengurangi panas, panas merupakan hasil kerja dari gesekan
ataupun adanya sistem kerja pada suhu tinggi seperti kerja motor bakar dan lain
sebagainya. Untuk memelihara suhu yang dikehendaki sekitar bagian-bagian
mesin yang dilumasi tersebut, maka panas yang terjadi dapat diserap oleh minyak
pelumas dan batasan jumlah panas yang diserap bergantung kepada kemampuan
dan proses pelumasan yang digunakan. Dengan sistem pelumasan sirkulasi, maka
panas yang diserap oleh minyak pelumas dibawa kesuatu sistem pendingin dan
kembali lagi ke dalam sistem pelumasan pada suhu yang lebih rendah sesuai
dengan yang diinginkan. Panas dalam kotak transmisi atau dalam kotak roda gigi,
sebagian besar diteruskan ke dinding melalui minyak pelumas yang ada di
dalamnya.
Yang keempat mencegah karat, pada beberapa kondisi dalam sistem pelumasan
seperti adanya udara yang mengandung uap air, adanya debu dan kotoran yang
melekat,
sehingga akan terjadi oksidasi disekitar bagianbagian mesin dan akibat dari semua
itu akan menimbukan proses pengkaratan dari peralatan terutama pada bagian-
bagian yang langsung berhubungan dengan udara luar. Dengan adanya pelumas
atau gemuk maka bagianbagian mesin atau permukaan logam tersebut
terlindungi dari pengaruh proses pengkaratan tersebut.

2.4. Lube Oil Cooler


Lube oil cooler memiliki prinsip yang sama dengan cooling tower pada
umumnya. Lube oil cooler merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk
menurunkan suhu aliran minyak pelumas dengan cara mengekstraksi panas dari
minyak dan mengemisikannya ke atmosfir. Lube oil cooler menggunakan
penguapan dimana sebagian air diuapkan ke aliran udara yang bergerak dan
kemudian dibuang ke atmosfir[9]. Fungsi utamanya adalah sebagai alat untuk
mendinginkan oil dengan cara dikontakkan langsung dengan udara secara
konveksi paksa menggunakan fan/kipas[3]. Konstruksi cooling tower terdiri dari
system pemipaan dengan banyak nozzle, fan/blower, bak penampung, three-way,
valve casing, dsb.

2.5. Instrumen yang Digunakan di PLTG


2.5.1. Thermokopel
Termokopel merupakan sebuah instrumentasi pendeteksi suhu atau temperatur.
Termokopel pada proses ini berfungsi sebagai pendeteksi temperatur pada
stack/exhaust keluaran dari turbin gas. Termokopel berupa tranduser yang
mendeteksi temperatur mengubahnya kebesaran listrik yaitu tegangan. Kemudian
mengirim sinyal tersebut ke thermocontroller menerima sinyal tersebut dalam
besaran temperatur.
2.5.2. Penggunaan Temokopel
Termokopel paling cocok digunakan untuk mengukur rentang suhu yang luas,
hingga 2300°C. Sebaliknya, kurang cocok untuk pengukuran dimana perbedaan
suhu yang kecil harus diukur dengan akurasi tingkat tinggi, contohnya rentang
suhu 0-100 °C dengan keakuratan 0.1°C. Untuk aplikasi ini, Termistor dan RTD
lebih cocok.
Gambar 5 Instrument Termokopel
2.5.3. Prinsip Kerja
Ketika suhu elemen RTD meningkat, maka resistansi elemen tersebut juga akan
meningkat. Dengan kata lain, kenaikan suhu logam yang menjadi elemen resistor
RTD berbanding lurus dengan resistansinya. elemen RTD biasanya ditentukan
sesuai dengan resistansi mereka dalam ohm pada nol derajat celcius (0⁰ C).
Spesifikasi RTD yang paling umum adalah 100 Ω (RTD PT100), yang berarti
bahwa pada suhu 0⁰ C, elemen RTD harus menunjukkan nilai resistansi 100
Ω{Lestari, 2015 #15}.
2.6. SOLENOID VALVE
Solenoid Valve adalah komponen elektrikal yang berfungsi untuk menggerakkan
valve udara bertekanan untuk menggerakkan valve mekanik. Solenoid valve
menggunakan tegangan kerja DC, yaitu : 12 Volt, 24 Volt, 48 Volt dan 110 VDC.

Gambar 2.12. (a) Solenoid Valve pada saat inlet on

Gambar 2.12. (b) Solenoid Valve pada saat inlet off


Pada gambar di atas, terlihat sebuah solenoid valve actuator memiliki dua inlet
yaitu inlet on dan inlet off. Berikut sistem kerjanya, yaitu :
a) pada saat coil magnet teraliri arus (on), maka solenoid valve tertarik menuju
coil magnet dan inlet hole terbuka dan udara tekan masuk menekan batang
actuator menggerakkan valve actuator on.
b) pada saat coil magnet tidak teraliri arus (off), maka solenoid valve terdorong
menjauh dari coil magnet karena adanya pegas pembalik dan outlet hole terbuka
dan udara tekan masuk menekan batang actuator menggerakkan valve actuator
off.
Sistem coil magnetic pada solenoid valve ini sama seperti relay. Solenoid valve
hanya mempunyai 2 kondisi, yaitu energized (kondisi on) dan de-energized
(kondisi off). Solenoid valve membutuhkan tekanan angin untuk bekerja
menggerakkan valve actuator yang nilai tekanannya disesuaikan dengan jenis
actuator valve tersebut. Responsibilitas jenis valve type solenoid ini sangat cepat.
Sehingga sangat cocok digunakan pada sistem kontrol yang membutuhkan
kecepatan reaksi tinggi.
Solenoid valve digunakan untuk mengendalikan hidrolik, pneumatik, dan aliran
air. Solenoid valve ini cocok digunakan untuk aliran dalam satu arah saja dengan
tekanan yang diberikan pada bagian atas dari piringan saluran{Jukandi, 2013
#16}.
Force Draft Radiator
Semua menara pendingin bekerja dengan prinsip evaporasi air. Pada evaporasi air,
baik panas dan perpindahan massa terjadi, dan air menjadi dingin. Tingkat
penguapan meningkat dengan meningkatnya kecepatan udara. Dalam kasus
menara pendingin kami menyebutnya draft udara. Draft udara ini dibuat oleh
sistem mekanik kipas yang digerakkan daya di bagian atas menara pendingin
dengan menggunakan blower. Air panas disemprotkan ke menara dengan
menggunakan nosel semprot yang dirancang khusus. Penguapan adalah fenomena
alami. Air akan menguap sampai udara yang bersentuhan dengan itu menjadi
jenuh dengan uap air. Penguapan tidak bisa lebih dari titik jenuh udara. Jadi
penguapan total akan tergantung pada kapasitas menahan kelembaban udara, yang
tergantung pada kelembaban. Ketika air panas disemprotkan dari atas menara
pendingin melalui nosel kami dan udara dibuat untuk menghubungi dari daerah di
sekitar setiap nosel. Perjalanan udara dan air dalam arah arus co ke bawah ke
baskom. Selama perjalanan ini, udara mendingin air ke suhu yang diinginkan, dan
melarikan diri melalui louver di pintu keluar atas{Murugaveni, 2015 #17}.
2.7 Instrumen yang Digunakan Dalam Project
a) LM 35
Sensor suhu LM35 adalah komponen elektronika yang memiliki fungsi
untuk mengubah besaran suhu menjadi besaran listrik dalam bentuk
tegangan. Sensor Suhu LM35 yang dipakai dalam penelitian ini berupa
komponen elektronika elektronika yang diproduksi oleh National
Semiconductor.
Gambar LM35
Secara prinsip sensor akan melakukan penginderaan pada saat perubahan
suhu setiap suhu 1 ºC akan menunjukan tegangan sebesar 10 mV. Pada
penempatannya LM35 dapat ditempelkan dengan perekat atau
dapat pula disemen pada permukaan akan tetapi suhunya akan sedikit
berkurang sekitar 0,01 ºC karena terserap pada suhu permukaan tersebut.
Dengan cara seperti ini diharapkan selisih antara suhu udara dan suhu
permukaan dapat dideteksi oleh sensor LM35 sama dengan suhu
disekitarnya, jika suhu udara disekitarnya jauh lebih tinggi atau jauh lebih
rendah dari suhu permukaan, maka LM35 berada pada suhu permukaan
dan suhu udara disekitarnya{Utomo, 2011 #18}.
b) Servo Motor
Motor servo pada dasarnya adalah motor dc dengan kualifikasi khusus
yang sesuai dengan aplikasi “sevosing” didalam teknik kontrol. Motor
servo merupakan motor yang diatur dan dikontrol menggunakan pulsa.
Motor standard ini memiliki tiga posisi yaitu posisi 0o, posisi 90o, dan
posisi 180o. Poros motor servo biasanya dihubungkan dengan suatu
mekanisme sehingga dapat membuat / mengontrol pergerakan roda depan
pada sebuah mobil mainan. Pada saat poros pada posisi 0o, maka roda
mobil mainan akan bergerakan kekiri, jika posisi poros pada 90o, maka
roda depan mobil maianan akan lurus, sedangkan jika posisi 180o, maka
roda depan mobil akan berbelok kekanan{Purwanto, 2009 #19}.
Gambar Pemberian Pulsa Untuk Perputaran Motor Servo.
c) Cooling Fan DC
Kipas angin DC atau Cooling Fan DC berfungsi untuk mengatur kecepatan
aliran udara. Bagian utama penyusun fan DC adalah motor DC. Prinsip
kerja motor pada fan DC pada dasarnya adalah sama dengan prinsip kerja
motor DC umumnya{Agung, 2014 #20}.
d) Relay
Relay adalah sebuah saklar yang dikendalikan oleh arus. Relay memiliki
sebuah kumparan tegangan rendah yang dililitkan pada sebuah inti dan
arus nominal yang harus dipenuhi output rangkaian pendriver atau
pengemudinya. Arus yang digunakan pada rangkaian adalah arus
DC{Agung, 2014 #20}.
e) Motor DC
Motor DC digunakan pada banyak aplikasi karena relatif mudah dalam
pengendaliannya. Kecepatan motor DC dapat diatur dan semua motor DC
putarannya dapat dibalik. Komponen utama dari motor DC adalah
komutator, sikat (brushes), dan magnet. Prinsip kerja motor DC berdasar
pada penghantar yang membawa arus ditempatkan dalam suatu medan
magnet. Penghantar akan mengalami gaya dapat dijelaskan pada sebuah
kawat berarus yang dihubungkan pada kutub magnet utara dan
selatan.Arah gaya dapat ditentukan dengan menggunakan kaidah tangan
kiri{Lidiawatia, 2013 #21}

Gambar Motor DC.


f) Buzzer
Buzzer adalah sebuah komponen elektronika yang berfungsi untuk
mengubah getaran listrik menjadi getaran suara. Pada dasarnya prinsip
kerja buzzer hampir sama dengan loud speaker, jadi buzzer juga terdiri
dari kumparan yang terpasang pada diafragma dan kemudian kumparan
tersebut dialiri arus sehingga menjadi elektromagnet, kumparan tadi akan
tertarik ke dalam atau keluar, tergantung dari arah arus dan polaritas
magnetnya, karena kumparan dipasang pada diafragma maka setiap
gerakan kumparan akan menggerakkan diafragma secara bolakbalik
sehingga membuat udara bergetar yang akan menghasilkan suara{Pratama,
2012 #22}.
g) Arduino Uno
Pada Arduino terdapat dua buah jenis pin, yaitu analog dan digital. Pin
digital memiliki dua buah nilai yang dapat ditulis kepadanya yaitu High(1)
dan Low(0). Logika high maksudnya ialah 5 Volt dikirim ke pin baik itu
oleh mikrokontroler atau dari komponen. Low berarti pin tersebut
bertegangan 0 Volt. Dari logika ini, dapat membayangkan perumpamaan:
start/stop, siap/tidak siap, on/off{Supegina, 2012 #23}.

Gambar Arduino Uno.


BAB 3

METODOLOGI

FLOW CHART

START

OIL PUMP ON

FAN 1 dan FAN 2 OFF

MEMBACA
TEMPERATUR OIL

T OIL < 70 dan >


60

FAN 1 ON MEMBUKA COOLER VALVE

T OIL < 70˚

FAN 2 ON

OIL MENUJU
BEARING

SELESAI
WIRING

CODING

int nilai;
int pinsuhu = A1;
int motor1 = 2;
int motor2 = 3;
#include <Servo.h>
Servo servo;

void setup()
{
servo.attach(4);
servo.write(0);
delay(1000);
pinMode (motor1, OUTPUT);
pinMode (motor2, OUTPUT);
digitalWrite (motor1, LOW);
digitalWrite (motor2, LOW);
Serial.begin(9600);
}
void loop()
{
nilai = analogRead(pinsuhu);
float suhu = ( nilai/1024.0)*5000;
float cel = suhu/10;

Serial.print("TEMPRATURE = ");
Serial.print(cel);
Serial.print("*C ");
Serial.print(nilai);
Serial.println();
delay(1000);

if (cel > 100){


(servo.write(170));
digitalWrite (motor1, LOW);}
else {(servo.write(0));
digitalWrite (motor1, HIGH);}

if (cel > 110){


digitalWrite (motor2, LOW);}
else {digitalWrite (motor2, HIGH);}

[1] D. J. K. Listrikan, "Statistik Ketenagalistrikan 2015Dimas45678," K. E. d.


S. D. Mineral, Ed., ed, 2016.
[2] S. D. N. Rosady and B. A. Dwiyantoro, "Re-Design Lube Oil Cooler pada
Turbin Gas dengan Analisa Termodinamika dan Perpindahan Panas,"
JURNAL TEKNIK POMITS, vol. 3, 2014.
[3] Y. Handoyo, "Analisis Performa Cooling Tower LCT 400 Pada P.T. XYZ,
Tambun Bekasi," Jurnal Imiah Teknik Mesin, vol. 3, 2015.
[4] S. Assauri, Manajemen Produksi dan Operasi Edisi Revisi 2008. Jakarta:
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2008.
[5] W. E. Pudji and F. Ilma, "PERENCANAAN PEMELIHARAAN MESIN
DENGAN MENGGUNAKAN METODE MARKOV CHAIN UNTUK
MENGURANGI BIAYA PEMELIHARAAN DI PT. PHILIPS
INDONESIA," Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi
(SNAST) Periode III, 2012.
[6] R. Kurniawan and MulfiHazwi, "Analisa Performa Pembangkit Listrik
Tenaga Gas Uap (PLTGU) Sicanang Belawan " Jurnal e-Dinamis, vol. 10,
2014.
[7] L. N. Imansyah, R. S. Wibowo, and Soedibyo, "Kajian Potensi Kerugian
Akibat Penggunaan BBM pada PLTG dan PLTGU di Sistem Jawa Bali "
Jurnal Teknik Pomits, vol. 3, 2014.
[8] Y. N. Pamungkas, "Analisa Perbandingan Unjuk Kerja Siklus Brayton
pada Dini Hari dan Siang Hari di PLTG Unit 1 PT Indonesia Power UBP
Grati," Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta2014.
[9] S. Johanes, "Karakteristik Menara Pendingin Dengan Bahan Isian Ijuk "
2010.